Month: October 2014

Karya KBM1: Merajalelanya Korupsi, Islam Bertindak

Posted on Updated on




Penulis: Wahdiyat Salim      @sk_mate

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-1

Korupsi (Gholul merupakan bentuk korupsi yang sangat popular di masa Rasulullah saw.) adalah penggelapan harta public atau mengambil barang atau hak yang bukan miliknya yang berarti itu melanggar syari’at islam,  Indonesia  adalah negara tertinggi ke tiga yang memiliki kasus korupsi yang  di lakukan oleh para pemimpin-pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya, pada dasarnya pemimpin tersebut adalah orang-orang yang bisa di katakan sangat pintar akan tetapi sebagian  dari para pemimpin  tersebut tidak  banyak mengerti  tentang  syari’at-syari’at islam atau hukum-hukum yang terkandung dalam alqur’an dan al hadist. Dalam hadist di jelaskanحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِIbn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim).Bahwasannya setiap manusia adalah seorang pemimpin, yang disesuaikan pada keadaan atau posisi manusianya dan akan di mintai pertanggung jawaban atas ke pemimpinanannya. Sepertihalnya para pemimpin Negara baik presiden,gubenur,bupati,kepala desa bahkan perangkat desa seperti ketua rukun tetangga (RT) sebagai kepala Negara yang bertanggung jawab atas rakyat yang di pimpinnya. Pada dasarnya setiap manusia adalah  pemimpin yang harus memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

Tanggung jawab seorang pemimpin rakyat  yang dimaksudkan bukan semata-mata melaksakan tugas saja setelah itu selesai tanpa memperhatikan dampak yang di pimpinnya, akan tetapi juga harus membawa masyarakat menuju kesejahteraan, perdamaian dan juga kemslahatan hidup. Bisa di implementasikan pada cerita seorang pengembala yang mengembala peliharaan hewannya yaitu seekor kambing, di mana pengambala tersebut merawat kambing tersebut yang tiap harinya di carikan makan dan di mandikan sekiranya kambing tersebut badannya kelihatan kotor, yang di lakukan pengambala tersebut hanyalah  untuk mencapai kesejahteraan hewan peliharannya. Perlu di ingat, bahwa manusia berbeda dengan hewan, manusia mempunyai akal fikiran dan juga budi pekerti yang di berikan allah SAW untuk mengembala dirinya sendiri.

Adanya penjelasan di atas, mengapa di Negara kita, Negara Indonesia para pemimpinnya banyak melakukan pelanggaran atas kepemimpinannya, contohnya saja pemimpin melakukan korupsi, kasus seperti itu adalah bentuk tidak tanggung jawabnya atas kepemimpinannya yang sebelumnya sudah di beri ke percayaan atas kepemimpinannya untuk memimpin rakyatnya. Hal seperti itu sangatlah tidak memberikan kesejahteraan yang dipimpinnya, apa lagi terhadap rakyat yang sekiranya kurang mampu.

Hadis-hadis tentang ghulul berikut dinilai mewakili kajian tematik tentang korupsi. Hadis pertama terdapat dalam shahih Bukhari, kitab al-Jihad wa al-sair, nomor 2845:

Ali ibn Abdillah telah menceritakan hadis kepada kami. Sufyan telah menceritakan kepada kami. Dari Amr, dari Salim ibn Abi Al-Ja’di, dari Abdullah ibn Umar berkata: bahwa pada rombongan Rasulullah saw. .. Ada seorang bernama Kirkirah yang mati di medan perang. Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari).

Hadis kedua dalam Shahih Muslim, kitab al-Iman, Nomor 165:

Zuhair ibn Harb talah menceritakan hadis kepadaku, Hasyim ibn Al-Qasim telah menceritakan hadis kepada kami, Iqrimah ibn Amr telah menceritakan hadis kepada kami. Ia berkata simak al Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepadaku. Ia berkata Abdullah ibn Abbas telah menceritakan kepadaku. Umar ibn Al-Khattab menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: ketika terjadi perang Khaibar beberapa sahabat Nabi berkata: “si Fulan mati syahid, si Fulan mati syahid. Hingga mereka berpapasan dengan seseorang. Mereka pun berkata: si Fulan mati syahid. Kemudian

Rasulullah saw. bersabda: Tidak begitu. Sungguh aku melihatnya di dalam neraka karena burdah (selimut atau aba’ah) mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai ibn al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” Maka aku keluar dan menyerukan kepada manusia: ingatlah, sesungguhnya tidak masuk surga selain orang-orang yang beriman”. (H.R. Muslim).

Dua hadis di atas menjelaskan tentang peristiwa ghulul/korupsi di medan perang khaibar. Seorang pejuang yang gagah berani dan kemudian mati di medan perang, belum dapat dijamin bahwa ia syahid dan masuk surga. Ternyata setelah diinvestigasi (dilacak) secara cermat dan jujur, orang tersebut terlibat ghulul, mengambil selimut atau mantel dan itu menjadikannya mati sia-sia, kemudian masuk neraka. Dalam konteks kekinian, seorang pejabat atau pegawai publik (terkait urusan orang banyak) yang telah berjuang mati-matian dalam tugasnya, tetapi jika ditemukan kasus-kasus terkait “ketidakbersihan”, kecurangan, penyalahgunaan jabatan, korupsi dan suap maka citra yang selama ini dibangun menjadi tercemar dan nasibnya pun terancam neraka dalam arti yang luas.

Banyak sekali kasus korupsi atau suap yang menimpa pejabat publik Indonesia mulai dari kasus-kasus kecil hingga kasus besar. Beberapa tindakan berikut dapat dikategorikan sebagai ghulul, misalnya: pejabat/ pegawai yang menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan

pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang me-mark up (menggelembungkan) biaya pembelian dari yang seharusnya, pegawai parkir yang tidak menyerahkan seluruh pendapatan parkir kepada yang berwenang, petugas pajak yang kongkalikong dengan wajib pajak dan mengajari bagaimana memperkecil tagihan pajak sembari menerima “hadiah” dari wajib pajak tersebut, pejabat yang tidak mengembalikan sarana dinas (kendaraan, rumah dan lain-lain) setelah tidak menjabat lagi. Bahkan, sering kali diberitakan seorang pejabat/pegawai ketika masih menjabat dikenal bersih, ternyata setelah berakhir masa tugas, diketahui telah menggelapkan kekayaan negara atau publik.

www.nu.or.id

 

 

tiap sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak benar itu haram. Seperti mencuri, merampas, mengambil tanpa hak atau menggunakan tanpa ijin. Dan sesuatu yang haram tidak akan membawa kebaikan. Jika dimakan akan tumbuh menjadi tenaga dan fikiran jahat. Jika tumbuh menjadi daging akan menjadi bahan bakar api neraka.
Kullu lakhmin nabata min kharoomin fannaaru aulaa bihi
Artinya: Tiap daging yang tumbuh dari barang haram maka nerakalah yang lebih patut baginya. (HR. at-Tirmidzi)

 

Bisa kita lihat atau kita dengar berita tentang kasus korupsi tidak hanya satu atau dua saja yang melakukan tindakan korupsi,akan tetapi banyak sekali para pemimpin Negara yang melakukan koropsi, dan sebagaian besar mereka yang melakukan korupsi adalah beragama islam. Sebenarnya apa yang ada di fikiran para koruptor-koruptor tersebut………????. Untuk itu kita sebagai orang islam yang berhaluan ahlusunnah wal jama’ah harus bisa mencegah kasus yang melanggar syari’at islam, setidaknya bisa memberikan pelajaran bisa berupa seminar tentang kasus tersebut dari penyebab,dampak,hukuman,dan penyegahan terhadap tindakan korupsi kepada orang islam khususnya para generasi muda ahlusunnah wal jama’ah atau nahdhotul ulama’. Sebenarnya sudah sering kita ketahui seminar-seminar tentang kenegaraan contohnya seperti merajalelanya korupsi di Negara kita ini. Saya sendiri pernah menjumpai kegiatan seminar tentang korupsi yang di adakan oleh pemuda NU (nahdhotul ulama’) yaitu IPNU (ikatan pelajar putra nahdhotul ulama’) dan IPPNU (ikatan pelajar putri nahdhotul ulama’).

 

 

 

1.Penyebab terjadinya korupsi:

a.   Ingin memperkaya diri (to be rich)

Kurang atau tidak menerima apa adanya yang telah di berikan allah SAW kepada umatnya di sebut juga tidak qona’ah.

Ayat tentang “Mensyukuri Nikmat”

Artinya :Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim:7)

Arti ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SAW telah memperingatkan kita semua  untuk mensyukuri nikmat Allah, tanpa kita sadari bahwa Allah telah memberi kita nikmat yang tak terkira, contohnya saja kita diberi kenikmatan berupa rasa kantuk, Nah dengan kita mempunyai rasa kantuk kita akan tau kapan waktunya mengistirahatkan tubuh kita. Sebaliknya, jika mengingkari nikmat yang di berikan Allah SAW akan di adzab oleh Allah yang sangat pedih. Sudah pasti para koruptor tidak bisa mensyukuri nikmat allah dan selalu kurang dengan apa yng telah di milikinya.

 

 

b.   Ingin mengejar jabatan tertinggi

Dengan ambisi yang sangat tinggi,keiinginan para koroptor menghalalkan berbagai cara untuk bisa mencapai jabatan yang diinginkan,dengan cara mengkeruk uang Negara. Bisa jadi uangnya bisa di buat kampanye pada pemilihan umum.

c.    Menuruti kebutuhan keluarga dengan nilai yang cukup tinggi(selalu mementingkan keluarga dari pada rakyatnya )

Biasanya para koruptor selalu mementingkan keluaragnya (utamanya istri or suaminya) tanpa memperhatikan rakyatnya, uang Negara yang semestinya di peruntukkan untuk rakyat malah di pergunakan untuk keluarganya yang sekiranya itu adalah bernilai tinggi. Tindakan seperti itu akan sangat menyengsarakan rakyat yang di pimpinnya.

d.  kurangnya           IMTAQ (iman dan taqwa)

pribahasa mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu akan lumpur”.pada dasarnya para koruptor mempunyai banyak ilmu,akan tetapi dia tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, sehingga dia bisa di kalahkan oleh nafsu yang tinggi, seperti pribahasa di atas bahwasannya orang yang hanya memilki ilmu saja tanpa di dasari syari’at agama islam maka orang tersebut akan di butakan oleh nafsu.
www.nu.or.id

 

 

SALAH SATU CONTOH TINDAK KORUPTOR

 

KASUS FATHANAH

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan kepada Ahmad Fathanah. Putusan itu dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (4/11/2013) malam.

“Memutuskan pidana 14 tahun dan denda 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar dengan mengganti kurungan 6 bulan penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango.

Hakim menilai Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHPidana. Juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan kedua, Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Fathanah dianggap terbukti menerima uang Rp 1,3 miliar dari Direktur PT Indoguna Utama terkait kepengurusan kuota impor daging sapi. Hakim menjelaskan, Fathanah awalnya mempertemukan teman dekatnya yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi dan Direktur Utama PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman.

Dalam pertemuan itu, Maria meminta Luthfi membantu memuluskan agar Menteri Pertanian Suswono memberikan rekomendasi agar PT Indoguna Utama mendapat tambahan kuota daging sapi sebanyak 8.000 ton.

Luthfi kemudian menyanggupi akan mempertemukan Maria dengan Suswono. Kemudian Fathanah meminta agar disediakan akomodasi untuk pertemuan di Medan. Atas permintaan Fathanah, Maria memberikan Rp 300 juta.

Fathanah juga menelepon Luthfi untuk menanyakan kapan akan mempertemukan Maria dan Suswono. Fathanah menyampaikan bahwa Maria akan memberikan fee sebesar Rp 5.000 per kilogram daging apabila berhasil memberikan tambahan kuota sebanyak 8.000 ton sehingga total fee yang akan diterima Rp 40 miliar.

Selain telah menerima Rp 300 juta, Fathanah juga telah menerima Rp 1 miliar dari Maria untuk kelancaran pengurusan penambahan kuota impor daging sapi.

Hakim Djoko Subagyo menambahkan bahwa Fathanah terbukti melakukan perbuatan tindak pidana korupsi bersama Luthfi selaku penyelenggara negara.

Pencucian uang

Fathanah terbukti membayarkan, mentransfer, membelanjakan, dan menukarkan mata uang dengan menggunakan dua rekeningnya dan uang tunai dengan seluruh transaksi mencapai Rp 38,709 miliar pada Januari 2011-2013.

Namun, Fathanah tidak terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan ketiga, Pasal 5 UU nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam memutuskan perkara ini terjadi dissenting opinion atau berbeda pendapat antara dua hakim anggota. Hakim menilai jaksa Penuntut Umum KPK tidak berwenang menuntut pencucian uang.

Vonis Fathanah lebih rendah dari tuntutan Jaksa yaitu 17,5 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan penjara untuk tindak pidana. Sementara itu, dalam kasus tindak pidana pencucian uang, Fathanah didenda Rp 1 miliar subsider 1 tahun 6 bulan kurungan.

 

Please like & share:

Karya KBM1: Aku Yang Lupa

Posted on

Penulis: Reza Siianeukbunda       @Eza_AB

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-2

Tulisan ini murni saya coba untuk diikut sertakan dalam kontes blog yang bertema : Muslim Anti Korupsi. Saya menambahkan judul yaitu “Aku Yang Lupa”.

 

Tikus Sorban

 

Alkisah. Didalam suatu perkampungan muslim, tinggallah seorang Lelaki paruh baya yang bekerja disebuah Rumah Besar sebagai tukang kebun namun memiliki hati yang sangat baik dan juga seorang Penganut Islam yang benar. Sorban di kepala selalu ia kenakan saat ia bekerja meskipun itu telah usang. Sang majikan yang kaya raya ini akhirnya pada suatu hari bertanya pada Abdullah :

 

Majikan : “Wahai Abdullah, bisa kah kamu datang kepadaku ? ada yang ingin aku bicarakan!”

Abdullah : “Baik Tuan, saya selesaikan tugas saya dahulu Tuan.”

Majikan : “Sudah, lupakan saja itu sejenak. Saya hanya ingin berbicara kepadamu!”

Abdullah : “Baiklah Tuan”

 

Bergegas Abdullah datang menghampiri Majikannya sembari berkata :

 

Abdullah : “Maaf Tuan, apa yang hendak anda bicarakan Tuan ? Adakah kekurangan saya sehingga saya engkau panggil ya Tuan ?”

Majikan : (sambil Tertawa) “Hahaha. Tidak Abdullah! Sejak saya bertemu kamu, saya selalu heran mengapa kamu selalu menggunakan sorban ? Bukankah itu sorban yang usang ? Apakah Upah yang saya berikan padamu tidak cukup membantumu membelikan sebuah sorban yang lebih Indah dan Putih ?”

Abdullah : “Tidak Tuan. Karna yang saya miliki ini merupakan peninggalan Ibu saya. Hanya ini harta yang ia wariskan kepada saya Tuan. Beliau berpesan jika saya kaya nanti sorban ini yang tetap harus saya kenakan. Begitu juga saya dengar Aswaja dari Ustad di Masjid kita”

Majikan : “Baiklah jika begitu. Semoga saja seperti itu”

 

Hari demi hari, Bulan demi bulan dan Tahun demi tahun sehingga datang satu hari dimana Majikan mengajak Abdullah untuk ikut politik yang diadakan oleh Raja yang mempunyai negeri yang tak jauh dari perkampungan tempat Abdullah menetap.

 

Abdullah : “Tidak Tuan. Saya tidak bisa menjadi seperti itu. Saya belum mahir dalam berpolitik”

Majikan : “sudahlah. dengan ke ramah tamahan mu itu, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu hanya perlu yakin kalau kamu bisa memimpin negri ini.”

 

Abdullah dengan tekat yang kuat setelah dorongan daripada Majikannya mulai memberanikan diri unjuk gigi dalam mengikuti pemilihan Mentri Raja tersebut. Selang bulan demi bulan Abdullah yang rendah hati ini giat mengikuti politik tersebut. Namun pekerjaannya sebagai tukang kebun tidaklah ia tinggalkan sehingga menjadi nilai lebih dari masyarakat yang memilihnya.

 

Akhirnya tiba hari dimana pemilihan Mentri Raja tersebut dimulai. Dari pagi hingga menjelang siang ratusan warga sudah mendengar orasi dari para calon Mentri Raja dan mulai memberikan suara sehingga sore pada saat pengumuman pemilihan Mentri Raja tersebut diumbarkan kepada seluruh khalayak yang ikut serta dan hasilnya diketahui bahwa Abdullah seorang paruh baya yang hari-hari bekerja sebagai tukang kebun muncul sebagai nama yang dipilih terbanyak oleh masyarakat tersebut. Dan Raja langsung mengenakan baju yang akan dikenakan oleh Mentri Raja yang baru ini.

 

Tahun pertama masa pemerintahan Mentri Raja Abdullah, warga mengakui prestasinya diseluruh pelosok juga sangat mengakui kemakmuran yang dilakukan oleh Mentri Raja ini. Beberapa proyek besar diikutinya sungguh memiliki hasil yang memuaskan.

Waktu demi waktu ternyata sesuatu mulai merubah sesosok Mentri yang bernama Abdullah ini. Setelah memiliki pengawal dan istana, ia sudah mulai mementingkan diri pribadi daripada masyarakat yang pernah memilihnya. Seperti kacang lupa pada kulitnya, mungkin ini sebuah kiasan yang cocok dengan Abdullah. Seiring waktu yang telah membuatnya memiliki harta yang segudang, ia mulai meninggalkan sorban usang yang dikenakan tersebut. Salah seorang pengawal sempat mencoba memberanikan diri bertanya kepada Abdullah :

Pengawal : “Tuan, hari ini engkau terlihat berbeda”
Abdullah : “itulah saya pengawal. Saya telah melepaskan yang memberatkan kepala saya sejak saya miskin dulu!”
Pengawal : “Mengapa engkau lepaskan ya tuanku ? bukankah dulu itu yang selalu kau banggakan?”
Abdullah : “Sudahlah. Ini urusan saya bukan urusan kamu hai pengawal. Kalau kamu tidak ingin bekerja lagi dengan saya, pulanglah kamu ke negri asalmu”
Pengawal : “Tidak tuan. Saya tetap akan mengabdi kepadamu Tuan!”
Abdullah : “Baguslah kalau kamu sadar!”

Keangkuhan atas prestasinya yang terus meningkat kini terlihat dihati masyarakat. Banyak rakyat mulai sengsara atas sifat yang telah menjadi-jadi. Sampai ada proyek pembangunan tembok sebuah perkampungan, ia jadikan alat untuk menimbun kekayaan yang dia miliki saat ini. Warga yang tau namun tidak berani mengakui kesalahan Abdullah kepada Raja karna pengawal Abdullah langsung menghakimi warga jika mengadu hal tersebut kepada Raja.

Hal itu terus terjadi dengan proyek-proyek yang diberikan kepada Abdullah. Raja yang sudah tua tentunya tidak tau akan hal ini. Sampai suatu hari seorang pemuda yang tak lain adalah anak majikannya dahulu mengetahui hal ini dan berkata kepada Ayahnya :

Pemuda : “Ayah. Sesuatu telah terjadi”
Ayah : “Apa itu anakku ? katakanlah kepadaku !”
Pemuda : “Ingatkah engkau ayah akan seseorang yang pernah bekerja kepada kita dahulu ?”
Ayah : “Apakah itu Mentri Abdullah yanjg kau maksud anakku ?”
Pemuda : “Ayah benar. Ia kini telah berubah. Sorban yang ia banggakan sewaktu ia bekerja dengan kita kini telah ia lepaskan dan banyak proyek-proyek yang ia tangani banyak ia ambil untungnya. Dan saat aku bertanya kepada masyarakat yang bekerja didalam proyeknya, mereka sudah banyak yang mengalami kesengsaraan.”
Ayah : “wahai anakku! Jika itu memang terjadi, ajaklah aku untuk bertemu dengan Abdullah.”
Pemuda : “Baiklah ayahku. Ikutlah ke Istana Abdullah”

Keesokan harinya mereka berdua melakukan perjalanan menemui tukang kebun yang mereka banggakan itu. Namun, pada saat mereka sudah tiba di depan istana, penjaga bertanya :

Penjaga : “Anda siapa tuan ? dan apa yang anda lakukan disini ?”
Pemuda : “Saya dan ayah saya ingin bertemu dengan tuan anda wahai pengaja. Katakan saja kami adalah majikan tempat ia bekerja dulu!”
Penjaga : (langsung mengambil telepon dan menghubungi Abdullah) “Ia baik tuan. Akan saya sampaikan” (seraya menutup telpon dan berkata kepada Pemuda) “Tuanku menerima kalian sebagai tamunya. Mari ikuti saya”

Pemuda dan Ayahnya langsung mengikuti langkah penjaga yang mengantarkan mereka kepada ruang tempat dimana Abdullah sering mengadakan rapat penting. Saat mereka duduk, terdengarlah suara dari belakang mereka :

“Apakah kau terkejut Tuan Abu ? Inilah hasil kerja kerasku selama ini.” gumam Abdullah. Seraya itu juga mereka menoreh ke belakang dan Abu majikannya Abdullah dulu berkata :

“Aku tidak terkejut dengan kekuatanmu dalam bekerja. yang aku terkejut adlah sikapmu yang telah berubah ditambah sorban yang dulu kau banggakan sudah tak kau kenakan lagi. Ada apa wahai Abdullah ?”

Abdullah : “Ini bukan urusanmu Tuan Abu! Aku yang sudah besar ini, sudah tidak perlu sorban busuk yang usang itu”.
Abu : “bukankah itu pesan ibumu wahai Abdullah?”
Abdullah : (dengan nada marah) “sudah, pulang saja kau Abu. Aku tak ingin mendegar celotehmu!”. (Sambil berteriak)  “Pengawal, Pengawal, ambil dan seret mereka!. saya ingin beristirahat. “
Abu : “Baik Abdullah. Saya akan pergi tanpa perlu kau seret seperti ini. Tapi ingatlah! Sorban itu yang membuatmu menjadi seperti ini dan sifat keramah tamahanmu!”

Mendengar perkataan itu, Abu dan anaknya langsung pergi meninggalkan Abdullah. Mereka kembali ke asalnya. Namun diperjalanan Abu berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, Aku bersedih hati saat mendengar Abdullah yang sudah berubah. Ia melupakan sorban dan mulai melakukan tindakan mengambil yang bukan haknya itu membuatku kecewa. Ini semua salahku mengajaknya untuk ikut berpolitik. Aku kira ia benar seseorang yang patut dibanggakan”. sang anak menjawab : “Ini bukan salahmu wahai ayahku. Hanya saja Tahta dan Harta yang sudah menggelapkan hatinya sehingga ia berani berbuat seperti itu.”

Hari demi hari perbuatan Abdullah sudah semakin menjadi. Namun saat ini sudah mulai terdengar di Istana Raja. Spontan Raja terkaget saat mendengar hal tersebut. Sehingga Raja melakukan rapat tertutup dengan Mentri lainnya untuk melakukan Tes demi melihat langsung bagaimana sistem yang dikerjakan Abdullah tersebut. Dan tibalah rapat besar yang Abdullah pada saat itu tidak tau kalau rapat itu adalah kesengajaan Raja untuk memberikan tugas besar membangun Perumahan untuk keluarga pengawal Raja yang baru dibelakang Istana Raja. Raja juga sengaja menunjuk Abdullah sebagai ketua pelaksana kegiatan tersebut. Alih-alih seorang professional, ia menerima tanpa mengetahui apa yang direncanakan oleh Raja dan Mentri lainnya kepadanya.

Hari pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada Abdullah kini dimulai. Seperti biasa, Abdullah segera menggunakan strategi yang biasa ia gunakan. Pekerja yang biasa bekerja sama dengan Abdullah mulai diajak untuk mengambil setengah dari anggaran yang diperlukan untuk membangun perumahan itu. Sayangnya kali ini salah seorang pekerja yang ia ajak adalah suruhan raja untuk memata-matai pergerakan Abdullah. Dan saat itu juga ketika rapat strategi, konsep pekerja Abdullah diambil oleh salah seorang mata-mata Raja. Tanpa diketahui oleh Abdullah, Raja datang mencoba menghampiri Abdullah seolah ingin melihat perkembangan kinerja Abdullah sebagai salah satu mentri kepercayaan Raja. Saat Raja bertanya mengenai anggaran proyek itu, ternyata Abdullah memperlihatkan anggaran palsu yang sudah ia rencanakan mengelabui Raja. Raja yang sudah mengetahui itu langsung menyuruh pengawalnya untuk menangkap Abdullah. Seraya itu juga abdullah berkata :

“Ada apa ini ? Apa yang engkau lakukan kepadaku Raja?”

Raja langsung menyuruh pengawal membawa Abdullah dan beberapa pekerja pengikutnya untuk dibawa ke pengadilan Raja.

Satu hari kemudian, tiba dimana sidang Abdullah dan hakim yang sudah siap sedia untuk menuntut Abdullah atas tuduhan yang terbukti ia lakukan. Abdullah pertama mengelak. Namun ketika ia mendapat bukti nyata ia kini tidak dapat mengelak dan mengakui kesalahannya. Bak nasi yang sudah menjadi bubur, ia tak dapat berbuat apa-apa hanya menunggu hukuman mati yang akan dilaksanakannya beberapa hari lagi.

Kini, disela-sela menunggu hari eksekusi untuk Abdullah, ia hanya bisa menanti diam dipenjara. Namun, hal aneh terjadi ketika malam Abdullah selalu bermimpi ia bertemu dengan kakek-kakek yang memakai sorban putih yang selalu tersenyum saat melihat Abdullah. Ketika Abdullah selalu ingin mendekat, kakek itu selalu pergi dan menjatuhkan sorban putih. Mimpi itu terus kian menjadi dan akhirnya Abdullah terbangun ditengah malam terakhirnya, ia baru sadar bahwa kakek didalam mimpinya itu adalah malaikat yang mengantarkan sorban putih miliknya yang telah lama ia buang. Dan yang anehnya adalah, sorban miliknya itu ada disamping ia merebahkan badannya ketika ia terlelap tidur. Langsung saja Abdullah menangis dan berdoa kepada Allah untuk meminta maaf sambil mengenakan sorban usangnya itu.

Hari eksekusipun tiba dan waktunya Abdullah mengikuti proses eksekusi terhadap tindakan korupsinya itu. Saat ditanyai apa hal terakhir yang ingin dikatakan, ia menjawab kepada semua masyarakat yang melihatnya :
“Hal yang ingin aku katakan adalah tolong maafkan aku atas perbuatanku mengambil hak-hak kalian. Dan aku memberikan Istanaku untuk kalian tinggal wahai wargaku yang pernah memilihku menjadi mentri. Dan sampaikan kepada majikanku dulu, aku baru sadar, kalau sorban inilah yang menjagaku. Beliau benar, aku adalah orang yang lupa akan janjiku kepada ibuku untuk memakai sorban ini.”

Dan eksekusi dimulai, Abdullah tetap menjalani proses itu. Kepalanya dipenggal dan dikubur dikuburan tak jauh dari Istana Raja.

Teman-teman MUSIKANEGRI. MasyaAllah. Allah saja pernah berkata bahwa didalam hak yang kita dapati saja ada hak orang lain yang wajib kita berikan bukan mengambil hak orang tersebut. Itu adalah ganjaran untuk orang-orang yang durhaka kepada Allah.

Please like & share:

Karya KBM1: Pendidikan Anti-Korupsi Sejak Dalam Rahim

Posted on

Penulis: Taufiqurrohman Huri     @taufiqslow

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-3

Sungguh ironis, Indonesia sebagai negara yang mayoritas warganya muslim mengidap gejala korupsi yang tinggi. Sebagaimana hasil penelitian TI pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat ke-56 sebagai negara terkorupdiantara 174 di dunia. Hal itu amat menyeskkan, islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran ternyata belum bisa memberi dampak nasional terhadap kebersihan institusi di negara kita. Apalagi bila melihat sosok-sosok koruptor di media yang merupakan warga muslim juga. Betapa malunya kita sebagai warga muslim indonesia.

Korupsi yang sudah menjadi-jadi di negara tentu harus mendapatkan perhatian serius oleh seluruh rakyat kita. Terutama kaum muslim. Dominasi jumlah penduduk, juga membuat angka keterwakilan di pemerintahan juga didominasi muslim. Meskipun bukan berarti kemudian memandang sebelah mata yang beragama lain, namun sepatutnya orang islam bisa menjadi sponsor sebagai duta antikorupsi, tidak malah sebaliknya.

Ada beragam cara yang ditempuh untuk mengatasi hal tersebut, baik yang sudah dijalankan maupun yang masih dalam tahap wacana. Solusi tindak tegas dan hukum berat koruptor, kampanye besar-besaran maupun diklat seringkali menjadi solusi yang ramai dibicarakan. Upaya pemberantasan semacam itu harus terus diupayakan hinga optimal agar pelaku dan tindak korupsi bis asemakin berkurang. Hanya saja upaya jangka panjang juga harus diperhatikan. Mau tidak mau menyiapkan generasi depan yang jijik dengan korupsi adalah mutlak adanya, sebab merekalah penentu nasib bangsa ini selanjutnya di kemudian hari.

Solusi jangka panjang; dimulai sejak dalam kandungan

Tayangan perihal pengusutan kasus korupsi tiap hari menghiasi media televisi nasional. Hal tersebut mengakibatkan istilah korupsi semakin populer termasuk pada kalangan anak-anak. Kata-kata korupsi tidak menjadi kata yang asing di telinga mereka, meski belum tentu tahu akan maknanya. Maka sepatutnya sebagai orang tua muslim kita mau untuk menyikapi hal itu, salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman anak sejak dini tentang bahaya laten korupsi. Pendidikan anti korupsi merupakan langkah kongkrit yang sangat tepat untuk direalisasikan. Bukan dimulai sejak dini, remaja maupun saat perguruan tinggi lagi, tetapi harus dimulai sejak dalam kandungan. Yah, sejak masih dalam rahim anak.

Pada saat hamil ayah dan ibu harus berhati-hati dalam .jangan sampai sari makanan yang diserap janin berasal dari uang haram. Hal tersebut sangatlah penting untuk menanamkan sifat jujur dan hati-hati dalam mencari nafkah untuk keluarga. Juga karena saripati makanan ibu akan diserap dan akan membentuk tubuh anak. Apa jadinya bila tubuh anak dilahirkan dari saripati makanan yang tidak halal asal-usulnya.

Sesulit apapun orang tua dalam menafkahi keluarga, khususnya anak, jangan sampai menjadi alasan untuk menghalalalkan tindakan korupsi. Begitupun apabila dia berada dalam lingkaran korupsi,baik skala besar seprti pemerintahan maupun skala kecil seperti sekolahan, orang tua harus pandai meletakkan posisi agar ikut terjerat di dalamnya

Selanjutnya ketika anak masih kecil, orang tua harus benar-benar mewaspadai asal-usul uang yang dipakai untuk anaknya. Selain itu orang tua harus memperlihatkan tindakan positif kepada anak sebab pada usia tersebut anak akan merekam dalam akalnya sehingga apa yang dilakukan oleh orang tuanya akan dianggap sebagai batasan kebenaran.

Pada saat anak masuk sekolah tingkatdasar, maka pendidikan anti-korupsi mulai ditanamkan secara gamblang kepada anak. Orang tua perlu mndampingi di depan televisi pada saat melihat berita kasus korupsi, untuk kemudian diberi selipan nasehat kepada anak tentang kejinya tindak korupsi. Anak juga harus ibisakan jujur, tentang penggunaan uang saku, perihal uang kembalian setelah ia disuruh membeli di toko sebelah. Sesekali menceritakan kepada anak tentang mulianya jujur dan

Pada saat mulai masuk sekolah tingkat pertama,orang tua harus memberi contoh yang kongkret. Mulai berjalannya logika anak membuat orang tua harus memahami bahwa dia tidak patut menasehati ketika belum melakukan. Jangan sampai orang tua kemudian memberi contoh buruk yang biasanya dilakukan, semisal: melakukan segala cara agar anaknya masuk di SLTP unggulan di kotanya. Bibit korupsi

Kemudian pada saat masuk di bangku SLTA, anak mulai memahami fakta-fakta sekitar dan mulai penasaran dengan hal-hal baru. Pada saat itu orang tua harus mulai memahami bahwa anak mulai butuh pengakuan. Ketika kita adalah seorang yang beruntung secara ekonomi, maka kita harus melatih mengerem gaya hidup anak dalam ranah sewajarnya. Hal itu sangat berpengaruh agar anak tidak terbiasa dengan keglamouran. Namun ketika kita adalah seorang yang kurang beruntung, jangan sampai kita kemudian memberi contoh sikap tidak neriman kita di depan anak, karena hal tersebut bisa menimbulkan sikap tamak pada anak. Hal itu akan secara tidak langsung menggiring anak pada pemahaman bahwa ukuran berhasil adalahbanyaknya harta, materialistik. Ketika akan mengurus SIM, orang tua jangan sampai mensponsori anak untuk mengurusnya lewat jalan makelar.

Saat masuk diperguruan tinggi dan anak mulai mengenal dunia organisasi pyur politik, sepatutnya orang tua bisa memberi pendampingan sedikit-sedikit. Anak harus mulai dipengaruhi dengan idealisme, untuk berani jujur dan tanpa menyerah. Anak diharapkan tidak terjebak sistem lingkaran korupsi kampus, dengan tanpa harus pergi meninggalkan organisasi itu yang nota bene akan menambah soft skill anak.

Tibalah saat anak tidak menjadi anak lagi. Ketika sudah akan mulai berkiprah di dunia kerja, orang tua harus mendorong sifat gentleman pada anak. Sepatutnya anak tidak dibiarkan menempuh jalur sogok menyogok pada saat akan masuk dalam perusahaan tertentu. Orang tua memberi pengertian anak, di usia setengah matang tersebut, bahwa hidup itu tidak hanya persoalan berhasil atau tidaknya saja, tetapi juga soal baagaimana proses mendapatkannya. Tuhan tidak pernah tidur, selalu mengetahui apa yang dikerjakan hambaNya. Orang tua juga tidak dengan mudahnya memasukkan anak pada lembaga/perusahaan secara inkonstitusi, apalagi bila tidak kompeten. Mungkin maksud orang tua membantu, tetapi sejatinya bila hal ini dilakukan sama saja menjerumuskan anak pada bahaya laten KKN.

Penutup

Manusia yang dalam posisi sadar akal dan hatinya tentu aka sangat mengutuk tindak korupsi. Karena jelas tindakan yang terkandung di dalamnya ketidakjujuran, pecurian, ketidakadilan ini merugikan banyak pihak. Namun terkadang ketidakberdayaan mentalnya untuk menghadapi tindak yang sudah mengakar di lingkungannya, seringkali membuat larut dan hilang kesadaran nurani. Meskipun dia ahli agama sekalipun. Maka pendidikanlah satu-satunya alat yang bisa membentuk apa yang disebut mental anti korupsi, yakni sebuah kesadaran dan keberanian yang kuat bahwa korupsi itu harus diberantas.

Sedangkan, pendidikan yang paling berpengaruh terhadap anak adalah dari orang tuanya. Frekuensi orang tua terhadap anak melebihi lingkungan sekolah dan masyarakat. Maka tanpa peran orang tua mustahil pendidikan anti-korupsi akan bisa terwujud dengan maksimal.

Model contoh-contoh pendidikan anti-korupsi yang telah paparkan tadi hanya potret sebagian saja. Variasi korupsi amat banyak macamnya di lingkungan kita. Orang tua harus jeli agar tidak mempraktekkan tindak tersebut, lebih-lebih di depan anak. Semua upaya itu tidak lain demi masa depan anak sendiri juga bangsa negara dan agama kita. Akan sampai kapan lagi, Indonesia negara mayoritas muslim ini akan menjadi jawara korupsi di jagat. Yah, semoga saja semua pihak, lebih-lebih orang tua setelah membaca tulisan sederhana ini, mau betindak serius demi penanggulangan korupsi di negara kita.amin. wallahu alam

Semoga

Please like & share:

Karya KBM1: Berantas akar Korupsi dari Rumah

Posted on

Penulis: Ummi Ayezza  (Erni Ekowati)       @ummiayezza

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-4

Kalo lihat,baca berita di TV hanya ngelus dada aja, berita korupsi ngga habis-habis.bahkan yang terakhir yang membuat saya dan keluarga memutuskan “puasa TV” karena berita korupsi dan pembunuhan terus lalu lalang setiap hari. Hati jadi “sumpek” “cupet”, jadi mikir negatif ke oknum-oknum pemerintah,partai politik,DPR padahal saya sendiri yakin masih sangat banyak yang benar-benar menjalankan tugasnya secara amanah.

Sebagai ibu rumah tangga dan sosialpreneur (wirausaha memanfaatkan sosial media) meski sudah puasa TV tetap masih bisa baca berita, alhamdulillah sekarang bisa memilah kapan memang mau baca kapan tidak. Beberapa kasus saya amati dan tarik benang merahnya bisa jadi muncul lahirnya korupsi para bapak-bapak adalah dari tuntutan dirumah, tuntutan para istri dan anak-anaknya?

kok bisa begitu ?

bapak-bapak bekerja untuk siapa sih ?

 

ilustrasi nih ya pak/bu

Rincian diatas sesuai kondisi normal. dan insyallah dari kacamata ibu rumah tangga yang tiap bulan jadi menteri keuangan dirumah sudah lumayan longgar 😀

 

ya luar biasa, misal tas bisa diatas 500rb, sementara saya tahu sendiri bagaimana perjuangan untuk mendapatkan dana 500rb segar itu, tiap hari mantengin laptop, tiap hari update sana sini, moto sana sini.  ya itu saya..

kemaren terakhir geleng-geleng ketika baca artis “A, B,C” beli tas hingga 500jt.. keren.. salut.. bisa ya merelakan dana 500jt untuk 1tas kata suami saya

“ya ummi belum ada di level mereka, coba kalo ada dilingkungan mereka bisa aja sama”

bener juga, mungkin begitu juga endingnya, cuman dari sekarang saya terus meminta pada ALLOH agar jangan dilenakan dunia…

kembali ke si bapak ,

kalo dari catatan hitungan diatas, sisa gajian 420rb, sementara belanja ibu-ibu untuk 1tas aja sudah 500rb, belum baju, belum perhiasan, belum pernik-pernik lucu.

loh, emang mbaknya ngga suka belanja ?

korupsi sumbernya dari rumah bukan hanya dari istri saja, ada faktor tuntutan anak-anak juga,karena kemajuan teknologi dan iklan yang membabi buta, anak-anak sekarang keren-keren, pegangannya sudah tablet,ipad, mainannya ngga lagi engklek, congklak, gobaksodor, boy-boy-an, kelereng. namun sudah game-game keren, bahkan sudah update di sosial media, pegang BB untuk sekedar curhat dengan temannya, mainan kakaotalk untuk ketemu sama artis favoritnya di korea dan banyak alasan lain lagi untuk exis …

ini kalo smua bapak di indonesia mampu, monggo ngga masalah,

tahun kemarin juga saya dengan sangat berat hati menghentikan beasiswa ke anak yatim, saya tahu ibunya sangat membutuhkan dana tersebut, namun saya lihat gaya hidup anaknya subhanallah keren abizzz top markotop… HPnya type terbaru yang menurut saya MAHAL, pernah saya ajak ngobrol ringan (karena ketika memberi beasiswa saya pesan tidak mau memberi tahukan ke yang bersangkutan dari siapa beasiswa tersebut) jadi ketika kita ngobrol dia dengan ceria cerita tiap harinya yang dilakukan, pergaulannya, apa yang barusan dibeli. astagfirullah, saya langsung curhat ke ustadzah,apakah boleh menghentikan niat baik kita ke beliaunya, dan dijawab ustadzah boleh kalo memang diberikan ke orang lain lebih maslahat dan manfaat.

ada juga cerita dari sekolah mama, ada muridnya yang ngga pernah masuk kelas, ibunya info kalo tidak ada uang untuk bayar sekolah makanya anaknya tidak mau sekolah jadi bekerja, karena sekolah merasa urgent untuk masa depan anak tersebut jadinya membantu anak tersebut dan memberinya beasiswa,ada perubahan ? ada diawal-awal anak tersebut rajin masuk, dan ketika masuk guru-guru melihat tentengan anak tersebut, HP dengan edisi terbaru yang ibu guru disana bilang “saya aja ngga tahu cara menghidupkannya” ditenteng kemana-mana. sepulang sekolah dia asyik telpon-telpon ria pake HP tersebut.

ya ini, memang tidak jamak, tapi sudah sangat biasa, bukan dikota saja tapi sudah merambah ke desa-desa. dan memang tidak bisa dipungkiri masih banyak yang memang butuh biaya sekolah dan wajib kita bantu.

ada cerita sederhana dari rumah saya, anak saya nomor 2 Azzam, tiba-tiba pegang uang banyak, padahal tadi cerita kalo uang sakunya sudah dibelikan mainan dan kue jadi habis, ummi tanya “uang siapa mas ?” mas azzam hanya senyum-senyum saja trus bilang mau beli jajan lagi. ummi pegangin dan tanya terus, “uang dari mana ?” sampai akhirnya dia ngaku, uang dari celengan ummi dirumah.

ibu, semangattt berantas korupsi dari rumah yuk…dimulai dari kita sendiri, yaa kita para ibu-ibu yang hobi belanja ini.. termasuk saya…dan dimulai dari menumbuhkan sikap jujur ke anak-anak, semangat kerja keras kalo membutuhkan sesuatu…

semangat berantas korupsi dari rumah… siapppp !!!!!

sidoarjo, 25 November 2013

@ppmAswaja

 

 

 

ini kacamata saya sebagai ibu rumah tangga, setuju monggo tidak monggo, tulisan ini saya tulis di blog saya sebagai catatan saya juga untuk jadi warning saya hari ini dan kemudian hari.

 

tentu untuk keluarga, ya istri ya anak-anak..

 

si bapak penghasilannya 5 juta perbulan, penghasilan 5juta apalagi dikota saya sidoarjo sudah cukup untuk hidup sejahtera. bicara disertai data, hyuk kita ambil asumsi hitungan pengeluaran seperti berikut untuk 1keluarga 1 istri dan 2 anak :

– Zakat, infaq, sedekah : 500rb

– Tabungan : 500rb

– sekolah anak-anak yg lumayan anggap aja SPP @250rbx2 : 500rb

– uang saku anak plus jajan : 2000 X 2anak x 20hari : 80rb

– Belanja bulanan makan perhari rata-rata 30.000 , 30 hari jadinya 900.000

– listrik 150.000 , PDAM 80.000 , Internet + Telpon rumah 175.000, pulsa 200.000 bulatkan kurang lebih 650rb

– Belanja per2 Bulanan sabun,bedak,kosmetik,parfum pel2an dll : 500rb/2 : 250rb

– cicilan rumah : 1jt

– tabungan refresing : 200rb

– masih ada sisa 420rb

 

apalagi kalo dibumbui dengan bersyukur.. wah insyallah lebih dari cukup hasil si bapak yang dibawa kerumah. cuman.. kenyataan dilapangan … dampak sosial media, dampak televisi, dampak berbagai informasi yang bebas berlalu lalang yang bisa didapat mudah dengan sekali klik dalam genggaman.

keinginan untuk belanja ibu-ibu semakin tinggi, ya monggo kalo ibu-ibu punya penghasilan sendiri dan tidak mengutak-atik hitungan pengeluaran dari gaji si bapak, lapar mata kayak apapun boleh, tapi yang jadi penyakit, semangat belanja tidak diiringi dengan semangat menambah pendapatan.

yang ada keluar rengekan “pah, kapan bonus itu keluar, mama besok mau arisan nih, malu dong pake baju itu-itu melulu…” atau gini “pah.. insentifnya ngga turun-turun, nih mamah dah ditagih aja sama bu “A” karena cicilan tas mama nunggak” dan kalo sudah karena pengaruh sosial ini, baju dan tas yang dibeli bukan harga wajar lagi… harga luar biasa menurut saya.

 

 

 

dannn bagaimana reaksi si bapak ?

pertama diam, kedua diam, ketiga mikir juga tuh…

dan cari jalan biar istrinya ngga merengekkk terus..

dan kalo cara bagus sih ngga papa, yang ditakutkan ya segala cara itulah yang ending-endingnya bisa jadi korupsi.

 

dan defisit berapa tuh tiap bulan, dan …

kalo kejadian terus menerus, tiap bulan kebiasaan belanja tidak berhenti bisa jadi BOM WAKTU ….

dan kalo istrinya dah ditagih utang sana sini kiri kanan, apa si suami tega.. ?

sebenarnya “ngga mau” , tapi karena tuntutan yang semakin menghimpit pilihan terakhir untuk korupsi tidak terbendung lagi…dan memenuhi berita-berita dari mulut ke mulut bahkan dari saluran TV ke saluran TV yang lainnya..

 

ya saya juga wanita normal bu, sama dengan ibu-ibu juga.. suka belanja, sama …tanya tuh suami saya ? 😀

cuman saya malu jika harus minta suami terus, jadinya muter otak untuk cari penghasilan yang bisa memenuhi keinginan saya untuk belanja buku, karena favorit saya buku..hehee hyuk ibu-ibu berpenghasilan hyuk, ngga harus ninggalin rumah, banyak kok cara berpenghasilan, ngga harus terus merengek suami juga 😀

 

 

saya pernah bekerja di Badan Amal Zakat salah satu BUMN, ketika kami menyerahkan guliran bantuan modal kerja kami sangat miris ketika ada beberapa kasus yang seret pembayarannya, kami coba telusuri kemana dana yang sedianya untuk modal kerja, ternyata untuk memenuhi keinginan anaknya beli HP, astagfirullah, mengurut dada dalam-dalam.

 

 

 

 

astagfirullah, saya kasih tahu dengan keras. meskipun itu uang Ummi dan insyallah ummi tetap iklash kalo diambil tapi caranya itu yang salah, itu sama dengan mencuri dan bibit korupsi. naudzubillahimindalik

 

 

bismillahirahmanirahim

manjadda wajadda

Please like & share:

Karya KBM1: Korupsi… Oh, Korupsi… Nasibmu Kini

Posted on

Penulis: Hayatika Ukiyanus      @QuikQuit

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-5

Alkisah di suatu negeri, raja hendak mengadakan perayaan kerajaan. Seluruh rakyat diwajibkan memberikan sebelanga susu sebagai minuman pada acara jamuan. Banyak  rakyat yang tidak rela, namun karena itu titah sang raja tak seorang pun berani menentangnya.

Pada hari yang ditentukan, pada punggawa raja menyiapkan sebuah gentong raksasa. Gentong itu ditelakkan di taman depan istana. Setiap rakyat yang menjadi warga negeri tersebut harus memasukkan sebelanga susu ke dalam gentong raksasa itu. Para punggawa istana juga mendata agar tidak ada rakyat yang tidak membawa belangga susu.

Ternyata ada seorang rakyat yang ingin berbuat curang. Dia tidak rela memberikan susu sebagai minuman di pesta perayaan kerajaan. Dia berniat mengisi belanga miliknya dengan air biasa. Dia berpikir bahwa susu segentong raksasa tidak akan berpengaruh jika hanya dicampur sebelanga air miliknya. Mulailah dia membawa belanga berisi air ke tempat gentong raksasa di taman istana. Para punggawa tidak akan tau karena belanga terbuat dari tanah liat yang tidak tembus pandang. Seorang rakyat tersebut langsung memasukkan air ke gentong raksasa, lalu bersegera pulang.

Setelah mengecek bahwa setiap warga telah memasukkan susu ke gentong raksasa, para punggawa menutup gentong tersebut. Keesokan harinya para punggawa hendak memberikan gentong raksasa kepada pelayan dapur istana untuk disiapkan sebagai jamuan pesta. Tapi mereka sangat terkejut saat membuka penutupnya. Para punggawa dan pelayan istana itu tercengang melihat isi gentong raksasa. Bukan air susu yang ada dalam gentong tersebut, melainkan air tawar bening yang sama dengan air kolam istana.

Syahdan, tidak hanya satu orang yang berbuat curang dengan mengisi belanganya dengan air tawar, tapi setiap rakyat melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama berpikir bahwa satu belanga air tawar tidak akan mempengaruhi segentong raksasa susu. Dan mereka berpikir dirinya akan terlepas dari kesahalan karena orang banyak lah yang akan menutupi kesalahannya.

**

Kisah tersebut adalah cerita yang pernah saya baca saat masih kanak-kanak. Pesan moralnya jelas, bahwa kerusakan yang besar bisa jadi diawali dari perilaku kita yang kecil. Bahayanya kita merasa aman dari kesalahan yang kita anggap kecil tersebut. Atau kita merasa kesalahan yang sengaja kita lakukan tidak akan berpengaruh apa-apa; tidak akan berpengaruh pada kehidupan kita apalagi kehidupan banyak orang.

Apa pengaruhnya mengambil keuntungan sekian ratus milyar dari dana negara yang APBNnya mencapai ribuan trilyun?? Seperti juga apa pengaruhnya menerima uang seratus ribu dari calon kepala daerah sedang dana kampanye mereka ratusan juta? Lalu pemikiran ini tidak hanya berhenti pada satu orang melainkan menjadi wabah pada setiap orang. Maka lihatlah pelaku kasus korupsi korupsi jumlahnya bertambah setiap hari. Bahkan jika foto mereka yang sudah terbukti korupsi dan dinyatakan bersalah di jajar di lembaran kertas, jumlahnya bisa menyaingi jumlah foto caleg DPD pada pemilu 2004. Belum lagi mereka yang masih bsa menutupi kejahatan korupsinya.

Padahal kita ingat bagaimana kisah masa kecil seorang ulama besar Asy Syafi’i, saat ibunya meninggalkan beliau sendiri di beranda rumah. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang saat itu masih bayi lalu menangis. Seorang tetangga yang iba melihat Syafi’i kecil menangis serta merta menyusuinya. Mengetahui bayinya disusui orang lain, ibu imam Syafi’i segera merebut anaknya dan membawa kedalam rumah. Ibu sang imam mengguncang-guncangkan dan mengocok perut anaknya dengan keras hingga semua cairan di perutnya muntah keluar. Seorang keluarga mempertanyakan apa yang dilakukannya, lalu si ibu menjawab: “Aku hanya khawatir perempuan tadi memakan makanan yang subhat kemudian air susunya terminum oleh anakku.” Subahanallah!

Pertanyaannya: apa pengaruh susu dari perempuan yang memakan makanan subhat bagi kehidupan sang anak?  (Namun paling tidak kita punya gambaran bagaimana seorang ibu menjaga makanan yang sampai ke perut anaknya sehingga si anak tumbuh sebagai penghafal Al Quran pada usia tujuh tahun).

Kembali pada bahasan kita bahwa sesuatu yang besar tidak bisa lepas dari pengaruh sesuatu yang kecil. Begitupun pada fenomena korupsi yang semakin menggurita. Dan seyogyanya kita tidak perlu tercengang dengan ulah pejabat A yang melakukan tindakan korupsi senilai sepuluh milyar, pejabat B dengan nilai enam trilyun, pejabat C dengan jumlah yang lebih besar dan sebagainya. Yang seharusnya ditelaah tidak melulu dari nominal yang mereka gelapkan atau jumlah potensi kerugian negara, tapi dari perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai aturan. Hemat saya, jumlah itu menyesuaikan dimana seseorang itu berada, semakin besar dia dikelilingi pusaran uang semakin besar pula jumlah nominal yang bisa dia dapatkan. Perbedaannya seseorang mau melakukannya atau tidak.

Tentu saja tindakan korupsi itu bisa dilakukan setiap orang. Tak peduli seorang pejabat negara, pejabat daerah, atau masyarakat biasa. Korupsi bukan lagi dominasi orang-orang pemegang kekuasaan atau pemangku jabatan tertentu. Ini tentang kesadaran perilaku, sebuah kontruksi mental.

Saya contohkan pada pensubsidian BBM (Bahan Bakar Minyak, bukan BlackBerry Mesenger  ^_^ ), pengurangan/pengalihan subsidi BBM disinyalir selain bakal semakin melumpuhkan perekonomian rakyat kecil juga berpotensi menjadi ‘kue’ yang lebih besar di kalangan mafia anggaran. Maka bagaimanapun masyarakat diedukasi tentang dampak positif pengalihan subsidi ini, mereka akan mengeluarkan statemen: “ujung-ujungnya pasti dikorupsi.” Apakah statemen ini salah? Tidak juga, karena mungkin statemen itu benar. Tapi yang butuh dicermati, saat BBM mendapat subsidi dari dana negara apakah tidak ada perilaku korupsi? Lihat dimana bus dimodifikasi sebagai wadah penampung BBM bersubsidi lalu dijual dengan harga non-subsidi. Lihat ketika penjual bensin eceran menahan barang dagangannya beberapa hari sebelum harga bensin resmi dinaikkan sehingga bensin menjadi barang langka di pasaran. Lihat bagaimana pemilik mobil-mobil high-class  ‘memaksa diri’ turut menghabiskan dana negara dengan menjejalkan premium bersubsidi yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menengah kebawah ke mesin mobilnya.

So, siapa mereka?  Pejabat pemerintah? Anggota DPR? Kepala Daerah? Bukan! Mereka tidak harus pejabat di pemerintahan, tidak harus punya wewenang pengelolaan anggaran negara, mereka sama seperti kita, dan bisa jadi mereka adalah diri kita sendiri.

Contoh lain pada subsidi dana pendidikan. Pemangkasan dana bantuan sekolah dari seratus juta menjadi sekian puluh juta tentu merupakan perilaku keji yang tidak bertanggung jawab oleh pejabat Kementrian Pendidikan yang berwenang. Itu jelas sebagai tindak pidana korupsi. Tapi bagaimana dengan penyalahgunaan dana operasional oleh oknum-oknum di sekolah-sekolah daerah? Jika seorang guru mengisi absen kegiatan pelatihan hanya untuk mendapatkan uang akomodasi lalu pergi meninggalkan tempat, apakah tu bukan wujud korupsi?

Menghadapi perilaku korupsi yang sudah sedemikian meluas, sedemikian mengakar, dan sedemikian rumit, banyak pakar yang kemudian mewacanakan perubahan sistem, baik sistem pemerintahan, sistem administrasi, sistem pengawasan, dan berbagai sistem yang lain. Bagi saya, perubahan yang paling utama, sangat urgent, dan harus segera dilakukan adalah perbaikan mental. Karena sistem hanyalah sebuah medium, dan mental adalah mesin yang menggerakkan perilaku manusia.

Setiap dari kita yang harus merekontruksi pemikiran bahwa hal kecil yang kita lakukan akan berpengaruh besar pada kehidupan kita dan kehidupan banyak orang. Tidak peduli berapapun nominal dan keuntungan yang kita dapatkan yang tidak semestinya atau melalui jalan yang salah akan menjadi bumerang di waktu yang akan datang. Dan kita harus rela menghapus pernyataan “jika aku tidak ambil pun akan diambil orang lain” dari mental kita, karena sama seperti sikap buruk sikap baik pun berpotensi menyebar pada orang lain. Toh walaupun orang lain masih melakukan korupsi saat kita memilih menahan diri, kita tidak akan rugi.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula” (QS. 99 : 7-8).

Semoga kita umat muslim termasuk orang-orang yang terlindungi dari perilaku-perilaku korupsi sekecil apapun dan dimanapun kita berada.

Please like & share:

Karya KBM1: Menuju Generasi Muslim Anti KORUPSI

Posted on

Penulis: Fitri Mutmainnah      @hyunrikhj

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-6

Korupsi… mungkin kata ini tak asing lagi ditelinga kita bahkan telah menjadi santapan penglihatan dan pendengaran kita setiap hari.  Tindakan korupsi ini telah mengakar dan tumbuh berkembang di negara kita dan yang lebih miris dan menyedihkan  lagi kebanyakan dari pelaku korupsi ini merupakan kaum muslim yang notabenenya melarang perbuatan tersebut karena merupakan perilaku tercela.

 

Koruptor sama halnya dengan pencuri, namun kata koruptor lebih terkenal untuk kalangan elit/pejabat. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh transparency.org, sebuah badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup dan Indonesia berada  dalam peringkat ke-5 negara terkorup sedangkan dalam tingkat  Asia-Pasifik negara kita berada dalam peringkat pertama. Nyatanya hasil survey tersebut sangat menyedihkan jika kita selami. Mengapa demikian? Kita tahu bersama indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia, namun apa yang terjadi malah sebaliknya indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia bahkan menjadi no. 1 di asia pasifk.. na’udzubillahi min dzalik.

 

Lantas apa yang menyebabkan  hal itu semua bisa terjadi? apa ini semua salah dari pemerintah  yang acuh tak acuh dalam mengatasinya atau pribadi itu sendiri yang  pura-pura tidak tahu selalu mencuri uang yang bukan haknya??  Lalu solusi apa yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan generasi anti korupsi?? Sungguh ini merupakan pertanyaan yang  besar buat  kita sebagai bangsa  indonesia  yang mayoritas warganya kaum muslim.

 

Sebagai pribadi alangkah bijaknya bila sebelum menyalahkan orang lain kita dapat terlebih dahulu berkaca seperti apa pribadi kita, kita tidak bisa menaruh kesalahan sepenuhnya kepada pemerintah. Sebab tindakan korupsi merupakan suatu tindakan yang berasal dari pribadi itu sendiri bukan dari pemerintahnya.

 

Jika melihat pemimpin kita saat ini, sangat jauh berbeda dengan para pemimpin terdahulu. Mengapa demikian?? Jawabannya adalah para pemimpin dahulu mengerti dan paham atas amanah yang mereka diberikan, apapun tindakan yg mereka lakukan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan AsSunnah, mereka tahu segala apa yang mereka lakukan di dunia akn dipertanggungjawabkan di Akhirat kelak.

 

Lalu bagamana dengan pemimpin kita saat ini?? Sungguh setetes airpun tak sampai jika dibandingkan dengan para pemimpin terdahulu Ini disebabkan pemimpin kita saat ini sangat jauh dan tidak lagi berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Amanah yang diberikan  tidak lebih dari sebuah kesempatan untuk memperkaya diri mereka, tak peduli dengan masyarakatnya. Ibadah tidak lebih dari  pengguguran dari sebuah kewajiban yang harusnya menjadi kebutuhan seorang muslim. Dan inilah indikasi  bahwa bangsa kita telah jauh dari pedoman hidupnya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Di dalam Al-Quran telah jelas pelarangan sifat khianat dalam surah  Al-Anfal ayat 27, Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda  “Tidak sempurna agama seseorang, kalau dia tidak bisa menjaga dan memelihara “amanah”.

Menjadi Pemimpin Berarti Menjalankan Amanah. Dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

 

Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

artinya:

Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah, SAW telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya.”

 

Membahas masalah ini, saya terkenang oleh sebuah pemimpin di masa lampau yang berhasil menciptakan kesejahteraan untuk masyarakatnya. Ialah sosok Umar Bin Abdul aziz bin Marwan bin Hakam, yang dilahirkan pada tahun 61 H dari rahim seorang perempuan bernama Laila Binti ‘Asim bin Umar bin Khattab RA. Seorang pemimpin yang berakhlak mulia yang rela menahan laparnya demi memenuhi kebutuhan masyaraktnya. Predikat Kemewahan dibuang dalam kehidupannya. Harta-hartanya dibawanya ke baitulmal kemudian beliau hidup seperti rakyat biasa Aset pemerintahan digunakan seperlunya saja, diluar dari masalah kedinasan beliau tidak memakai aset pemerintah. Keadilan dan  kesejahteraan  merata dan tidak ada yang mau  menerima sedekah karena hidup mereka menjadi makmur. Sebelum diangkat menjadi Khalifah, kekayaannya berjumlah 400 ribu dinar. Setelah wafat, kekayaannya justru berkurang sehingga hanya menjadi 400 dinar.

 

walaupun beliau memerintah hanya 2 tahun lamanya namun beliau telah mampu mengubah sistem pemerintahan ke arah yang diridlai Allah SWT. Subhanallah  sungguh cerita yang sangat mengagungkan.

 

Benarlah  adanya perkataan Rasulullah jika kita merujuk pada masa kekkhalifahan umar bin abdul aziz yaitu : “apabila pemegang amanah ini dapat melaksanakan amanahnya dengan baik, maka dunia akan damai dan sejahtera.

 

Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan arus korupsi ini dan menghasilkan generasi muslim anti korupsi. 

 

1.      Kembali kepada Al-qur’an dan As-Sunnah

Tentu Solusi utamanya kembali berpegang teguh pada Al-Quran dan  As Sunnah sebagai pedoman dalam bertindak dalam menjalani hidup ini. Selalu menghadirkan rasa takut bahwa pengawasan Allah selalu meliputi kehidupan kita.

 

2.      Memperbaiki diri sendiri

untuk melakukan perbaikan tidak serta merta langsung merujuk pada negara tersebut melainkan dimulai dari diri pribadi sendiri. Maka langkah pertama yang harus di lakukan adalah membersihkan diri sendiri. Menjauhkan diri dari tindakan korupsi sekecil apa pun, karena dari yang kecil itu lama-lama menjadi besar.

 

3.      Memperbaiki ahkak dalam keluarga

Menanamkan budaya antikorupsi sejak dari lini terkecil  yang baik kepada . Orang tua yang korupsi, pasti akan menghasilkan anak-anak berakhlak buruk karena diberi makan dari hasil korupsi. Bangunan yang baik ialah bangunan  yang mempunyai pondasi yang kokoh dan  kuat. Begitupula jika kita ingin menghasilkan generasi yang baik jauh dari korup maka hal pertama yang harus dilakukan  sebagai orang tua adalah memperbaiki akhlak kita sesuai dengan tuntunan  Al-Quran dan As-Sunnah. Maka Insya Allah dengan izinNya kita dapat mencapai predikat muslim anti korupsi.

 

4.      Berkaca pada Pemimpin-pemimpin jujur

Menjadikan pemimpin-pemimpin jujur sebagai suri teladan untuk dicontoh perilaku mereka dalam keseharian contohnya khalifah Umar bin Abdul Aziz.

 

    5.    Hukuman

Kembali kepada Al-qur’an berarti kembali pada hukum-hukum Allah. Dalam Al-Qur’an telah jelas menjelaskan bahwa pelaku pencuri akan dihukum Qisos hukuman potong jari/tangan agar dapat memberikan efek jera.  Hukuman untuk pencuri sudah pasti korupsi.

 

Saya ingin mengutip sebuah hadist “  Dari Abu Barzah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Tidak akan bergeser kedua kaki anak adam pada hari kiamat  sebelum ditanya tentang 4 perkara:

Tentang Umurnya untuk apa dia habiskan?

Masa mudanya untuk apa ia gunakan?

Hartanya darimana ia peroleh & kemana ia belanjakan?

Dan ilmu apa yang telah ia amalkan?

( HR. Tirmidzi)

 

Semoga dari solusi diatas dapat membuahkan generasi-generasi muslim anti korupsi yang selalu menghadirkan rasa khauf  pada Rabbnya dalam setiap detik nafasnya.

 

——–Selamat Mencoba ———-

Please like & share:

Karya KBM1: Menyemai Bibit, Menumbuhkan Karakter

Posted on

Penulis: Totok      @Thoie

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-7

Korupsi: Bibit yang disemai

Korupsi  bagi  bangsa  kita  menjelma  menjadi  musuh  bersama  yang  harus  diberantas keberadaannya. Sebuah  lembaga  bernama  KPK  (Komisi  Pemberantasan  Korupsi) menjadi wasilah  bagi  upaya  segenap  elemen bangsa untuk  dapat menghapuskan  praktik haram ini dari tanah air tercinta. Satu per satu musuh dalam selimut yang mengatasnamakan ‘perwakilan’ dan ‘abdi’ rakyat pun merasakan akibat dari perbuatan lalai mereka. Mereka harus rela melepas semua kejayaan yang telah lama dirintis hanya karena ‘khilaf’ dan gelap mata dengan kekuasaan dan harta. Karena perbuatan yang mereka lakukan, popularitas mereka meningkat dengan pesat dalam waktu sekejap. Namun sayangnya, ketenaran yang didapatkan bukan merupakan buah dari hasil karya produktif yang mereka persembahkan untuk bangsa Indonesia, melainkan sebuah aib yang mencoreng nama baik pribadi dan keluarga atas hasil kerja koruptif mereka.
Korupsi  bisa  diibaratkan  seperti  kematian.  Siapapun,  kapanpun,  dan  dimanapun seseorang  dapat  melakukannya.  Perbuatan  haram  ini  bisa  dilakukan  oleh  semua  orang  dari berbagai kalangan, baik muda maupun tua, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, bahkan muslim atau  non-muslim,  dan  tak  jarang  dilakukan  oleh  tokoh  agama  dan  orang-orang  yang berpendidikan tinggi. Mengapa semua kalangan dapat berbuat korup? Jawabannya ialah karena terdapat akses untuk dapat melakukannya. Jalan yang tersedia berkolaborasi dengan niat dan hasrat yang sudah terpendam dalam hati seseorang sehingga tertuang dalam aksi nyata yang amat merugikan orang banyak.
Pada hakikatnya, korupsi merupakan sebuah perbuatan yang berawal dari penambahan hak bagi pribadi kita di luar dari hak yang seharusnya kita dapatkan. Oleh sebab itu, dapat dilihat antara hasil yang hendak dicapai akan mengalami sinkronisasi dengan cara yang dilakukan pula. Seseorang yang hendak melakukan korupsi dalam sebuah proyek pembangunan infrasturktur di suatu daerah misalnya, ia akan melakukan tahapan-tahapan yang menghalalkan segala cara untuk dapat meraih keuntungan pribadi dari proyek tersebut. Biasanya ia melakukan lobby dengan pejabat  yang  bertanggungjawab  atas  proyek  tersebut. Tak jarang proses tawar-menawar antar kedua belah pihak terjadi dengan berbagai mahar yang disyaratkan pejabat ‘korup’ tersebut dan harus dipenuhi oleh pemilik kepentingan dalam proyek tersebut.
Dalam skala kecil, seringkali praktik korupsi ini kita acuhkan dan bahkan terkesan adanya pembiaran. Seringkali kita berpikir bahwa dampak dari perbuatan kecil yang kita lakukan tidak akan berimbas apapun, kalaupun ada tidak lebih besar dari perbuatan tersebut. Namun bila ditelisik lebih mendalam, hal ini yang merupakan pangkal dari berbagai perbuatan korup  yang jelas merugikan orang lain.
Ibarat menyemai bibit agar tumbuh menjadi sebuah tanaman, kita pun menyemai potensi untuk melakukan perbuatan korup yang terus terpelihara dan terjaga kelestariannya di dalam diri kita. Agar menjadi tanaman yang subur, tentu bibit yang disemai juga harus melihat kondisi eksternalnya, seperti keadaan tanah, cuaca, dan hama yang mengganggu. Apabila lingkungan eksternalnya tidak mendukung bibit tersebut untuk tumbuh menjadi tanaman, maka matilah bibit yang kita tanam. Begitu juga dengan bibit korupsi yang berupa potensi yang terpelihara di dalam diri. Potensi tersebut terus tumbuh mengikuti berbagai perkembangan yang ada di lingkungan sekitar. Apabila lingkungan dari seseorang mendukung untuk melakukan perilaku koruptif, maka dapat dipastikan perilaku tersebut akan tumbuh subur dan dapat dikatakan sistemik. Namun, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung untuk berperilaku korup, maka potensi buruk yang sudah tersemai di dalam diri seseorang tersebut dapat diminimalisir bahkan dapat dihilangkan.

Pembentukan Karakter Muslim anti-Korupsi

Sebagai agama dengan jumlah pemeluk mayoritas di Indonesia, Islam semestinya memberikan jalan keluar atas maraknya tindak pidana korupsi di negeri ini. Dengan misi rahmatan lil ‘alamiin, Islam diarahkan untuk menjadi ujung tombak terciptanya masyarakat yang jujur, adil, dan sejahtera. Banyak hal  yang bisa dijadikan  rujukan dalam bertindak sebagai seorang  muslim  untuk  mencapai  misi  tersebut. Islam  di  dalam  Al-Qur’an memang  tidak menjelaskan secara spesifik mengenai korupsi dan pencegahannya. Akan tetapi, dengan prinsip moralitas dan etika, Islam sangat menjunjung tinggi segala sesuatu yang berdasarkan tujuan untuk kemaslahatan ummat. Hal ini disebabkan karena korupsi memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai seorang muslim, karakter keislaman kita tidaklah hanya sebatas ibadah yang bersifat ritual. Menjadi muslim yang berkarakter juga bisa dilihat pada nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang menuntut adanya transparansi dan kejujuran. Selanjutnya, integritas sebagai seorang muslim pun dipertaruhkan tatkala harus berhadapan langsung dengan realitas lingkungan yang penuh dengan intrik. Ritual ibadah secara vertikal (kepada Allah) akan terlihat efeknya  tatkala  seorang  muslim  berinteraksi  dengan  lingkungan  sosialnya. Apabila  ia  dapat menerapkan idealisme sebagai muslim dalam realitas sosial yang ada, maka proses pembentukan karakter yang dilakukan dalam kepribadiannya dapat dikatakan berhasil. Apabila telah berhasil membentuk kepribadian sebagai muslim, tentu ia akan taat pada hukum Allah, hukum negara, dan jenis hukum lain di lingkungan sekitarnya.
Memang tidak mudah untuk menjadi seorang muslim yang memiliki karakter. Berbagai tantangan dan kebutuhan hidup senantiasa mendorong seorang muslim untuk mengesampingkan aturan Allah. Namun, hal tersebut jelas bukan sesuatu yang tidak ada solusinya. Ada beberapa jalan keluar untuk mencoba menjadi muslim yang bersih, jujur, dan berakhlak mulia.

1.  Batasan dalam ukuran kekerabatan dan persahabatan

Ukuran kekerabatan dan persahabatan seseorang sering melewati batas. Biasanya dilakukan dengan menggunakan barang atau fasilitas milik teman dekatnya tanpa seizin dan sepengetahuan pemiliknya karena merasa sudah terbiasa hidup bersama. Ini adalah solidaritas  yang salah dipersepsikan. Apabila terus dipertahankan dalam sebuah hubungan kekerabatan, maka akan berdampak buruk bagi masing-masing individu secara moral dan akhlak. Ibarat menyemai bibit, hubungan tersebut telah melindungi caloncalon pemakan hak orang lain yang bermotif kekeluargaan dan persahabatan. Sedekat apapun  kita  dengan  seseorang,  semestinya  terdapat pula batasan-batasan yang mengandung nilai-nilai moral dan etika.

2.  Hindari pikiran profit oriented

Dalam dunia usaha memang hal ini dianjurkan. Akan tetapi, apabila diterapkan dalam setiap instrumen yang mendukung kehidupan kita bisa menjadi sebuah boomerang. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa kasus korupsi yang melibatkan para pejabat di negara kita ini. Jabatan strategis yang dimiliki menjadi batu loncatan untuk meraih  keuntungan  sebesar-besarnya, baik individual maupun kelompok. Yang patut disoroti pula ialah kebanyakan dari  mereka adalah seorang muslim. Namun, karakter keislamannya tidak terdapat di dalam diri mereka karena sudah asyik bermain dalam “lingkaran setan”. Mereka paham Islam secara konseptual. Namun, secara praktik mereka harus mengesampingkan semua konsep Islam yang sudah lama dipelajari karena tergiur dengan jabatan dan uang.

3.  Senantiasa tepat waktu

Hal ini biasa dianggap sepele oleh kita sebagai seorang muslim dalam kehidupan keseharian kita. Selama ini, korupsi lebih diidentikkan dengan uang dan barang. Akan tetapi  yang  bisa  menjadi  tolak  ukur  sederhana  namun  fundamental  ialah  waktu. Mengulur-ulur waktu bahkan hampir menjadi budaya di setiap organisasi dan institusi (bahkan yang bercorak Islam). Tentu budaya seperti ini bukan merupakan budaya yang tidak baik  bagi  kemajuan  bangsa  kita. Sudah semestinya budaya tepat waktu menjadi bagian dalam keseharian kita. Menghindarkan diri dari sikap leha-leha, terlalu santai, dan menganggap semuanya dengan  remeh, merupakan kunci bagi perkembagan dan kemajuan bangsa kita ke depan. Melalui Islam, ajaran untuk tepat waktu bisa kita telaah melalui shalat wajib lima waktu. Semua waktu shalat  sudah ditentukan waktunya dan tidak boleh ada yang mengurangi apalagi melebihkan (tanpa ada udzur syar’i). Bagi seorang muslim, ajaran ini bisa menjadi bahan pembelajaran untuk membentuk pribadi yang berkarakter yang menghindarkan diri dari perbuatan koruptif.

Kesimpulan

Dengan berbagai permasalahan korupsi di negeri kita ini, sudah semestinya kita introspeksi diri. Sebagai muslim hendaknya tidak hanya sekedar identitas, assesoris, dan ibadah ritual belaka. Akan tetapi sudah saatnya menjadi muslim yang berkarakter tangguh dan kuat akan godaan duniawi yang bukan hak pribadi kita. Prinsip-prinsip berhubungan sosial dengan sesama manusia hendaknya mengenal batasan antara yang hak dan yang bathil. Hendaknya memisahkan wilayah atau tempat mencari keuntungan dengan wilayah atau tempat melakukan sebuah pengabdian. Dan yang tidak kalah penting ialah jangan menganggap sepele perbuatan yang dapat menyebabkan  kemunduran  bagi  diri  kita,  contoh  kecilnya ialah  mengulur-ulur  waktu. Bersegeralah untuk melakukan sebuah kebaikan, meskipun kecil nilainya di hadapan manusia. Dengan demikian, ketangguhan mental akan tumbuh dalam diri seorang muslim dengan bibit yang dipupuk hal-hal positif tersebut. Dan Insya Allah di masa yang akan datang, Indonesia bisa lepas dari penyakit yang meresahkan semua kalangan, yaitu korupsi.

Please like & share:

Karya KBM1: Ngaku Muslim, Seharusnya Tidak Korupsi

Posted on

Penulis: Ayu Yulia Yang       @ayuyuliayang

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-8

           Manusia memang diciptakan hakikatnya selalu merasa tak puas dengan sesuatu yang sudah dimiliki. Tidak menampik. Selalu merasa kekurangan. Berkecukupan tetapi seakan masih dalam keterpurukan. Jabatan selalu menjadi hal yang mengagumkan. Munafik, bila bertutur tidak dalam perkataan. Segala macam cara mencoba dilakukan. Termasuk menjalankan beragam proyek menguntungkan.

Salah satunya dari sekian banyak, proyek pembangunan negara, berciri khas pengajuan dana hingga ratusan, milyaran bahkan trilyunan. Terlebih mendekati pemilihan umum. Namun, tidak sebanding dengan hasil dinikmati masyarakat luas. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK ) mengungkapkan bahwa transaksi perbankan tunai yang mencurigakan meningkat 125 persen menjelang Pemilu 2014 maupun sejumlah pemilihan kepala daerah ( pilkada ). Temuan berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 2005 hingga 2012 lalu. Penelitian difokuskan terhadap caleg atau calon kepala daerah yang namanya pernah dilaporkan memiliki transaksi mencurigakan.

Ditambah, masih menjadi perbincangan hangat bahwa akan adanya kebijakan pemerintah pusat mobil murah yang berembel untuk rakyat. Hal demikian menjadi timbulnya pro kontra dari beragam kalangan. Utamanya kalangan menengah ke bawah. Tentunya sudah kerapkali tidak merasakan imbas yang beralasan dari, untuk dan oleh rakyat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang nyaman, aman, dan murah. Transportasi disediakan oleh pemerintah. Dengan demikian, persoalan polusi udara maupun kemacetan lalu lintas dapat diminimalkan. Diprediksi kebijakan mobil murah hanya akan membuat jalan-jalan di kota besar semakin padat merayap sehingga sangat bertentangan dengan upaya pembenahan kemacetan di Jakarta. Apalagi hadirnya mobil murah tersebut sebagai akibat pembebasan pajak PPnBM untuk mobil. Mobil murah akan menyedot banyak BBM ( Bahan Bakar Minyak ) yang notabene disubsidi oleh negara dan akan semakin membebani anggaran.

Belum lagi, permasalahan yang prioritas pula dengan angka kecelakaan terus saja semakin meningkat khususnya di lingkungan perkotaan besar. Lebih dari 27 ribu jiwa melayang dan diatas angka 72 persen mayoritas pengguna sepeda motor. Kerugian sosial akibat kecelakaan dan buruknya transportasi publik mencapai 217 triliun pertahun.

Tanda tanya besar kembali mencuat ke permukaan. Lagi – lagi anggaran kembali dikeluarkan. Pemerintah memperbanyak mobil pribadi. Mobil dinas pun dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Sementara, bukti laporan keuangan dianggap jelas dan bahkan mendapatkan penghargaan ketujuh kalinya sebagai Wajar Tanpa Pengecualian ( WTP ). Akan tetapi, dinilai tranparansi estimasi anggaran belum memenuhi kriteria kerakyatan.

Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme pun berkepanjangan tanpa usai. Para koruptor menikmati fasilitas nan mewah laksana istana di dalam penjara. Justru, rakyat dibebani dengan beragam melambungnya harga berbagai kebutuhan dan menikmati kesengsaraan kemiskinan bukan kesejahteraan. Tapi, sama saja, ketika menjadi rakyat kecil, berada di bawah, seolah berpikir akan kesejahteraan dan perubahan. Namun, jikalau jabatan dalam genggaman, memperkaya diri. Dibutakan oleh materi duniawi. Sebenarnya mengambil hak orang lain, bagi yang beragama Islam sudah melanggar perintahNya. Telah dituliskan dalam QS. Al Maidah ayat 38 bahwa “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya ( sebaga i) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Secara tersirat, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme diartikan mencuri karena merampas hak yang bukan miliknya. Baik secara sembunyi – sembunyi ataupun terang – terangan.

Tak jarang pula, masyarakat yang dikategorikan mampu, iri dan bahkan berebut hak warga miskin. Mengumpulkan materi bukan haknya dengan penuh kebanggaan. Pamer dan riya akan materi pribadi. Iri dapat dikatakan syirik karena sama saja tidak mempercayai adanya Allah SWT. Syirik telah diriwayatkan dalam QS. An Nisa ayat 48 berisi “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain ( syirik ) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka ia sungguh telah berbuat dosa yang besar. ”  Sementara, kata riya’ diambil dari kata ru’yah dan yang dimaksud adalah menampakkan amal sholeh atau ibadah kepada orang – orang dengan tujuan agar mendapat pujian atau dilihat manusia agar memuji pelakunya. Riya tidak disukai olehNya karena sudah tertulis jelas dalam QS. Al Kahfi ayat 110 yaitu “ Katakanlah: “ Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “ Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa ”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. ”

Mengaku generasi muslim tapi tak segan melakukan itu semua tanpa merasa bersalah dan seolah dibenarkan perilakunya. Setiap hari menjalankan perintahNya dan memahami isiNya namun tetap saja dijalankan. Sumpah serapah seakan hanya menjadi permainan. Ngaku Muslim, Seharusnya Tidak Korupsi.

Please like & share:

Karya KBM1: Nak, Janjimu Itulah Yang Sangat Ibu Hargai

Posted on

Penulis: Nur Azizah       @enuazizah

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-9

Saya pernah menjadi seorang siswa, dan Alhamdulillah sekarang  menjadi seorang Guru. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, saya memiliki seorang guru yang acapkali memulai ujian dengan menyuruh para muridnya untuk menulis sumpah di atas kertas ujiannnya. “Demi Allah Saya tidak akan menyontek“. Itulah kalimat yang bagi saya sangat menohok. Janji dengan Rabb kita.

Begitupun ketika saya duduk di bangku universitas. Seorang dosen menyuruh  untuk menulis siapa nama-nama yang duduk di samping kanan, kiri, depan, dan belakang, menulis janji “Saya berjanji tidak akan menyontek” kemudian tanda tangan. Dan janji tersebut masuk ke dalam penilaian oleh Dosen. Jika yang melanggar, tidak akan lulus matakuliahnya.

Itulah, sebuah janji antara kita dengan Rabb. Hanya sebagian kecil pertanggungjawaban kepada Guru atau Dosen. Sepenuhnya pertanggungjawaban hanya kepada Rabb.

Sekolah lulus dengan nilai besar namun diperoleh dari menyontek. Menyontek dari seseorang yang menjaga jawabannya, bukankah itu termasuk mengambil hak orang lain? Lulus dengan hasil bagus namun menyontek. Dari nilai lulus tersebut kita melanjutkan ke   sekolah lebih tinggi, kemudian melamar pekerjaan dengan hasil kelulusan sekolah tersebut. Bukankah itu menjadi sebuah keburukan yang terus menerus menurun?

Ya, bisa jadi itulah awal korupsi. Membiarkan berlarut-larut. Mengambil nilai dengan mencuri-curi waktu dari guru yang lengah. Menginginkan yang bagus dengan cara instan. Apa bedanya dengan korupsi, bukan? Wajar saja korupsi itu hal yang biasa, banyak dicaci, namun banyak pula yang melakukan.

Sekolah itu tempat peradaban sikap, bukan sekedar ilmu. Ketika mental-mental korupsi muncul dalam diri seseorang bukankah sekolah pun acapkali dikaitkan dengan perilakunya? Terlebih mengaitkan dengan tugas guru sebagai “pendidik”. Lalu apa yang saya lakukan sekarang sebagai seorang guru? Berbekal pengalaman yang minim. Mengajar 5 bulan di sekolah swasta sebagai guru honorer, dan pengalaman 1 tahun mengajar di pelosok Aceh sebagai guru kontrak mengajarkan saya secara langsung di lapangan. Saya kembali menerapkan apa yang pernah diterapkan oleh Guru dan Dosen saya. Setiap kali ujian tulis, saya menyuruh para murid untuk menulis “Demi Allah Saya Tidak Akan Menyontek“. Apa konsekuensinya bagi yang ketahuan? Langsung NOL, dan otomatis diakhir semester mereka-merekalah yang memiliki nilai di bawah ketuntasan. Murid yang tergolong pintar pun jika ketahuan menyontek, ya tidak lulus. Banyak yang protes, namun saya balik bertanya “Apakah kamu pernah menyontek saat ujian dengan ibu?“. Dia pun tersenyum malu.

Sering saya berkata, “Nak, ibu senang banget kalo kalian jujur. Lebih senang dibandingkan nilai kalian besar tapi nyontek. Lebih senang lagi  jujur dan  nilainya bagus, hehe. Tapi Janji kalian, sumpah kalian itu yang sangat ibu hargai.” Inilah salah satu cara saya sebagai pendidik untuk melawan korupsi agar tak berakar dan menjalar. Sebuah langkah sederhana yang semoga dapat berdampak besar pada mental para murid.

Jua, ketika berbicara pendidikan, kejujuran, dan agama saya teringat dengan tiga serangkai tokoh besar NU yang memiliki keteladanan khususnya dalam bidang pendidikan, salah satu bidang yang sangat penting dalam menempa mental, ilmu, dan tingkah laku. Yaitu,  KH. Hasyim Asy‘ari, K.H. Abdul Wahab Hasbullah, dan K.H. Bisri Syansuri. Tokoh-tokoh yang begitu semangatnya menerapkan pendidikan modern namun tetap memegang syari’at Islam bagi para umat muslim di  Indonesia. Itulah yang seharusnya terjadi sekarang. Mendirikan sekolah-sekolah yang dapat melahirkan jiwa santun, kuat, cerdas, jujur, dan amanah. Hingga lahirlah para cendikiawan yang anti korupsi.

Terakhir, bukan hanya dengan tindakan langsung dan ucapan untuk melawan korupsi. Kritikan tajam melalui media tulis seperti buku dan blog pun dapat dijadikan alat melawan korupsi, karena terkadang tulisan lebih tajam dari ucapan. Mungkin ini salah satu tujuan diadakannya lomba Blog oleh PPM Aswaja, mengupas tajam korupsi yang mengakar dan mengukuhkan kembali bahwa Muslim itu Anti Korupsi!

Please like & share:

Karya KBM1: Korupsi Adalah Perbuatan Khianat

Posted on

Penulis: Syams Siddiq       @SyamsXid

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-10

Korupsi merupakan perbuatan yang saat ini sangat meresahkan, karena terjadi hampir di semua lapisan pemerintahan, baik atas maupun bawah. Banyak kalangan merasa khawatir akan ancaman korupsi karena akan semakin menyengsarakan rakyat. Semua orang, termasuk anak sekolah dasarpun sudah tahu apa itu korupsi. Itu menandakan betapa terkenalnya tindakan korupsi. Dan hal itu pula menandakan jika para koruptor sudah semakin berani unjuk gigi. Mereka sudah tidak takut lagi terhadap semua aturan yang ada demi memenuhi ambisinya.
Korupsi itu tidak sesimpel yang di pikirkan, karena bukan hanya sekedar menerima suap atau menggelapkan uang Negara, tetapi merupakan tindakan pengkhianatan terhadap Allah SWT, negara dan bangsa dan juga dirinya sendiri. Jika melakukannya, maka akan merusak Negara dan bangsa karena menyengsarakan rakyat yang ada di dalamnya. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang melakukan kerusakan dan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh orang lain.
Bukankah mereka yang bergelut didunia pemerintahan berjuang untuk memajukan negara dan bangsa, jika sebaliknya, nasionalisme yang ada dalam dirinya perlu dipertanyakan. Apalagi jika dia adalah seorang muslim, maka jati dirinya sebagai seorang muslim yang taat kepada Allah SWT sangat diragukan. Karena mereka adalah orang-orang terpilih yang dipercaya dan dianggap mampu mengemban tugas itu sesuai dengan janji jabatannya kepada Negara yang disaksikan oleh para saksi dan Allah SWT.
Dalam Al-Qur’an :
“dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.”(Al-Israa :34)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Al-Anfaal:27 )

Dalam Hadits :
“Setiap pengkhianat memiliki bendera pada bagian belakangnya nanti pada hari kiamat, yang akan ditinggikan (bendera tersebut) sesuai dengan kadar pengkhianatan yang dilakukan, Ingatlah tiada seorang pengkhianat melebihi pengkhiantan seorang pemimpin masyarakat.” (HR Muslim)
Pengkhianatan terhadap negara dan bangsa bukan hanya menjual rahasia ke negara lain atau bersekongkol dengan Negara lain untuk menjatuhkannya, tetapi merusak dari dalam pun termasuk. Sangat wajar jika negara lain ingin menghancurkan negara, bangsa dan rakyat Indonesia, tetapi jika anak negerinya sendiri? Sehingga sangat wajar jika banyak orang yang meminta pelaku korupsi di hukum seberat-beratnya, bahkan ada yang berpendapat jika harus diusir dari Indonesia atau di beri hukuman mati.
Menghancurkan perlahan-lahan melalui tindakan korupsi oleh anak negeri sangat menyakitkan bagi negara, karena merekalah penjaga sesungguhnya yang diberi amanat. Jika bukan anak negeri sendiri, lalu siapa yang harus menjaga dan mengurus negeri ini? Dan tidak terhitung berapa orang Muslim yang sudah terlibat di dalamnya! Apakah perjuangan nenek moyang kita untuk kemerdekaan tidak ada artinya? Mungkin lebih baik tersiksa di jajah oleh bangsa lain daripada menderita oleh saudara sendiri.
Sebagai seorang Muslim seharusnya mereka tahu jika menjaga dan mengurus negara merupakan ibadah dan termasuk dari jihad yang harus dilakukan. Jihad berupa kesabaran melawan berbagai godaan nafsu yang dapat merugikan negara sehingga tidak berlebih-lebihan. Sehingga dalam hati hanya tertanam semua yang dilakukan untuk negara adalah ibadah kepada Allah dan akan berjuang untuk melaksanankan amanat tersebut.
Dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah : 218)
Apakah meyakinkan hati karena Allah itu semudah menulis atau mengucapkan? Tidak. Karena hal itu butuh proses, yaitu dengan sering mengingat-Nya dengan mendekatkan diri sedekat-dekatnya. Sekuat apapun keyakinan, jika jauh dari Allah SWT maka lama-lama akan pudar. Dan hal itulah yang terjadi saat ini, seandainya mereka dekat dengan Tuhannya, mereka akan merasakan takut karena akan terus merasa diawasi segala perbuatan yang di lakukannya di dunia.
Dalam Al-Qur’an :
“dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (Al-Baqarah : 40)
“Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.” (Ar-Rahman : 46)

Dalam Hadits :
“ Sesungguhnya ahli neraka yang paling ringan siksanya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang diletakkan dibawah kedua telapak kakinya dua bara api yang menyebabkan otaknya mendidih.(Meskipun demikian) ia memandang bahwa tidak ada seorangpun yang siksanya lebih dahsyat daripada dirinya, sungguh dia adalah yang paling ringan siksanya diantara mereka.” ( HR. Bukhari-Muslim)
Banyak pihak yang berjuang habis-habisan dengan segenap  jiwa raganya memberantas korupsi demi melindungi negeri ini, tetapi hal tersebut tak juga menyurutkan tindakan korupsi. Dari hari ke-hari semakin banyak yang ditangkap dan semakin banyak juga yang melakukannya. Hal itu tentunya berada pada inti hatinya yang telah tertutup.
Sebagai seorang muslim, jangan pernah memandang remeh perbuatan korupsi karena semakin diremehkan suatu dosa maka akan berubah menjadi dosa besar. Semakin sering melakukan korupsi semakin dia menginjak-injak hukum yang ada di negaranya dan juga peringatan Tuhan-nya.
Mari bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kita semua terhindar dari siksa sebagai seorang pengkhianat dan pendosa ulung karena melakukan tindak korupsi. Tetapi dengan mendekatkan diri, kita bisa menambah beban timbangan kebaikan kita nanti. Bersyukurlah orang-orang yang diberi kepercayaan, karena jika dia melaksanankan tugasnya sebagaimana mestinya, maka dia adalah seorang ahli syurga.
Adapun beberapa cara mudah yang bisa kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, agar terhindar dari korupsi, diantaranya:
Selalu mengingat Allah dalam kegiatan sehari-hari, misal selalu mengucapkan do’a setiap akan melakukan kegiatan.
Tidak melewatkan  sembahyang , jika waktunya padat tidak masalah karena banyak keringanan untuk melakukannya, baik di jama maupun qashar. Yang pasti tidak boleh tidak sembahyang.
Selalu menyadarkan diri kalau kita hanya makhluk ciptaan. Tidak lebih.
Selalu mengingatkan diri “ apa yang akan kita bawa ketika meninggal nanti”. Dan penyesalan selalu diakhir.
Selalu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan terjemahnya 1 surat perhari, jika tidak bisa minimal 5-10 ayat. Karena hal itu akan membuat kita mengetahui ilmu-ilmu, peringatan, larangan dan balasan berbuat baik maupun buruk dari Allah SWT.
Sering-seringlah menggunakan waktu luang untuk membaca buku-buku yang berisi hadits atau buku-buku agama.
Sering-seringlah bertanya kepada para ulama ketika tidak mengetahui suatu perkara, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam buku bacaan agama.
Jika memiliki waktu lebih, pergunakanlah untuk melakukan shalat-shalat sunat atau berkumpul di suatu majlis keagamaan.
Selalu menepati janji apapun itu, jika tidak bisa, maka biasakanlah meminta maaf.

Itulah cara-cara mudah yang pastinya semua muslim bisa lakukan. Kendala utamanya hanyalah memulai, mari kita mulai lakukan demi perbaikan diri kita. Karena tujuan utama dari cara-cara tersebut adalah agar selalu mengingat dan takut kepada Allah SWT. Karena saat kita meninggal dan menerima hukuman yang berat, kita tidak akan pernah bisa mengulang waktu!
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua dalam memperbaiki diri. Saya menulis ini bukan karena telah menjadi manusia yang paling sempurna, paling alim, paling tinggi ilmu agamanya, tetapi untuk mengajak bersama-sama saling mengingatkan sebagai sesama muslim agar bisa membangun negeri ini menjadi syurga dunia. Karena siapalah saya, tidak ada bedanya dengan manusia yang lain yang tak bisa luput dari dosa. Tetapi dengan saling mengingatkan untuk memperbaiki diri maka kita akan saling menyayangi dan membuat negeri ini penuh dengan senyuman. Karena jika individu mampu memperbaiki diri maka negeri inipun akan lebih baik. Dan InsyaAllah pebuatan buruk termasuk korupsi sedikit demi sedikit bisa hilang dari negeri kita tercinta.

Mohon maaf jika dalam tulisan ini ada kata-kata yang tidak berkenan ataupun tidak pantas, karena saya hanyalah seorang manusia dan tentunya jauh dari kesempurnaan. Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Saya tidak akan menutup tulisan ini dengan ber-hamdallah, biarlah waktu yang akan menutupnya karena saya berharap tulisan ini bisa bermanfaat selama bumi ini masih berputar. Terima Kasih.

Please like & share: