Month: November 2014

Pengumuman: Event Baru KBM3

Posted on Updated on

Mendaftar sekarang

Kontes Blog Muslim Ke-3

“Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa”

banner1493344094692194115_o

Periode: 10 November 2014 – 20 Januari 2015

 

A. LATAR BELAKANG

Kontes Blog Muslim ke-3 ini memilih tema “Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa” dengan dilatarbelakangi oleh keperihatinan atas moral generasi muda baik berusia remaja ataupun dewasa yang rusak dan menjadikannya tidak siap dapat berkompetisi di masa mendatang seperti keberadaan AFTA dan sejenisnya.

Kerusakan moral nampak di depan kita dan memerlukan uluran saran kita untuk perbaikannya dalam bentuk tulisan yang dapat dijadikan masukan kepada lembaga-lembaga terkait untuk rencana dan tindakan perbaikan.

Remaja usia SMP ataupun SMA yang melakukan pergaulan bebas, berpacaran berlebihan hingga hamil muda yang menyebabkan masa depan mereka suram, remaja sulit menerima nasihat orang tuanya, remaja putus sekolah dan kehilangan mimpinya, pelajar melakukan tawuran, remaja dan pemuda mengkonsumsi narkoba, remaja yang putus asa, remaja yang harus berurusan dengan penjara, serta remaja yang bertindak semau-maunya tanpa mempedulikan aturan dan norma masyarakat dan bangsa Indonesia yang penuh sopan santun dan toleransi.

 

B. TUJUAN

Kontes ini mengharapkan ide atau masukan berbentuk tulisan dalam blog yang berisi contoh peristiwa kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat, penyebab kerusakan moral, usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait.

 

C. IMPLEMENTASI KONTES

Kontes blog muslim ke-3 ini memperbaiki tatacara kontes blog sebelumnya yang mana peserta pada kali diminta mendaftar sebagai member dan mendaftarkan materinya di web penyelenggara www.kontesblogmuslim.com selanjutnya peserta diberikan periode waktu untuk memperkenalkan idenya melalui social media. Panitia akan melakukan penilaian dari materi dan effort sosialisasi ide yang dilakukan peserta.

 

Jadawal

 

D. PERATURAN KONTES BLOG MUSLIM Ke-3:

1. Pemahaman Event

Peserta diminta membaca terlebih dahulu keseluruhan artikel halaman ini untuk memahami secara keseluruhan latar belakang, tujuan, peraturan, dan persyaratan Kontes Blog Muslim ke-3 ini

 

2. Pendaftaran Peserta

a. Peserta harus mendaftar terlebih dulu di http://www.kontesblogmuslim.com/wp-login.php?action=register . Pendaftaran dapat dilakukan sejak tanggal 10 November 2014.

b. Password akan otomatis dikirimkan ke email peserta

c. Peserta diminta login dengan username dan password yang telah dikirimkan untuk melakukan update informasi di menu “Profile”:

  • Password
  • Mengisi kolom “Biographical Info” dengan setidaknya:
    • Nomor KTP
    • Alamat lengkap sesuai KTP
    • Status aktivitas (wirausaha/ karyawan/ mahasiswa)
    • Bidang / jurusan aktivitas
    • Rekening bank
    • Akun Twitter
    • Akun Facebook

 

3. Penulisan Materi Blog

a. Memilih menu “Add New Post”

b. Mengisi form judul dengan diawali teks‘[Karya KBM3]’ diikuti oleh judul blog

c. Mengisi Materi Blog melalui form dengan perangkat tulisan yang telah disediakan termasuk mengirimkan link Youtube sebagai acuan.

d. Peserta wajib memasukkan daftar link berikut di 2 spasi setelah tulisannya paling bawah:

e. Peserta wajib memilih “Categories” di bagian kanan dengan “Kirim Karya KBM3”

f. Peserta wajib mengisi kolom tags dengan:

  • ‘Indonesia Mercusuar Dunia, Kontes blog muslim, Lomba blog’, Judul blog
  • ‘Final’, bila peserta meminta panitia untuk mempercepat seleksi dari jadwal seharusnya dengan konsekuensi materi blognya tidak bisa direvisi kembali

g. Peserta dapat menyimpannya sebagai draft dengan mengklik menu “Save Draft” atau melihat preview-nya.

 

4. Pengiriman Materi Blog

a. Bila materi blog sudah siap diikutsertakan lomba, maka silakan mengklik menu “Submit for Review” sehingga materi akan terdaftar di panitia

b. Secara jadwal panitia akan mulai melakukan seleksi materi blog tahap ke-1 mulai tanggal 21 s/d 31 Januari 2015

c. Peserta dapat meminta panitia untuk mempercepat seleksi materi blognya dengan cara menambahkan di kolom tag dengan kata ‘Final’

d. Materi yang terseleksi dan lolos di tahap awal akan muncul sebagai artikel di web www.kontesblogmuslim.com

 

5. Proses Sosialisasi Materi Blog

a. Peserta diharapkan melakukan sosialisasi masukan/ ide yang ditulis pada blognya dan telah lolos pada tahap ke-1 atau sudah tayang di web www.kontesblogmuslim.com

b. Caranya dengan mengklik judul artikel blog dan melakukan sharing dengan tombol social media yang telah sediakan, antara lain Facebook, Twitter, Google+, komentar dan interaksi komentar, dll

c. Jumlah sosialisasi yang dilakukan, sebagaimana tercantum di sebelah kanan tombol social media pada artiel blog, akan menyumbangkan 10% point untuk seleksi tahap ke-2.

d. Periode sosialisasi dapat dilakukan oleh peserta mulai artikel tayang di web www.kontesblogmuslim.com atau secara jadwal pada tanggal 1 Februari 2015 dan akan berakhir pada 7 Februari 2015

 

6. Penilaian

Panitia akan memulai penilaian pada tanggal 8 Februari 2015

 

 

E. PERSYARATAN LOMBA

1. Peserta wajib menceritakan contoh peristiwa kerusakan moral remaja dan pemuda di sekitarnya, menjelaskan kemungkinan penyebab-penyebab kerusakan moral tersebut, dan memberikan usulan kemungkinan-kemungkinan perbaikan yang dapat dilakukan atas kerusakan moral tersebut.

2. Tulisan harus asli dan tidak menjiplak dari tulisan lain, panitia akan melakukan pengecekan terhadap keseluruhan artikel tulisan, bila terbukti tulisan tersebut adalah hasil menjiplak, maka panitia akan mendiskualifikasi dengan menurunkan artikel tersebut dari web www.kontesblogmuslim.com

3. Peserta diperbolehkan mengutip suatu pendapat untuk memperkuat tulisannya dengan menampilkan sumber penulis dan alamat webnya

4. Email peserta akan didaftarkan ke milis diskusi peserta Kontes Blog Muslim untuk menjalin silaturahmi para peserta

5. Hasil tulisan blogger menjadi hak atau milik panitia sepenuhnya selanjutnya panitia berhak untuk mengelola, menerbitkan dan menggunakan tulisan tersebut untuk kepentingan lainnya tanpa persetujuan dari peserta atau penulis terlebih dahulu

6. Mengirimkan materi blog dengan tatacara di atas diartikan bahwa peserta mengikuti peraturan dan persyaratan kompetisi ini di mana ketentuan dan keputusan panitia tidak dapat diganggu gugat

7. Kompetisi web blog ini terbuka untuk umum.

 

 

F. HADIAH

Hadiah pada event Kontes Blog Muslim ke-3 ini adalah:

  • Pemenang I memperoleh Rp. 1.500.000
  • Pemenang II memperoleh Rp. 1.250.000
  • Pemenang III memperoleh Rp. 1.000.000
  • Pemenang Hiburan ke-1 s/d ke-10 masing-masing memperoleh Rp. 100.000
  • Peserta 10 besar terbaik masing-masing memperoleh Qur’an Ekslusif
  • Peserta yang masuk dalam seleksi 20 karya terbaik akan diberikan sertifikat

Keterangan: hadiah kemungkinan akan ditingkatkan dan diumumkan pada masa kompetisi

 

 

G. PERIODE LOMBA

10 November 2014 s/d 20 Januari 2015: Pendaftaran dan Pengiriman Materi Blog

21 – 31Januari 2015 : Seleksi artikel atau Penilaian tahap ke-1

1 – 7 Februari 2015 : Sosialisasi ide oleh para peserta

8 – 22 Februari 2015 : Penilaian tahap ke-2 oleh juri dari PPM Aswaja

23 Februari – 7 Maret 2015 : Penilaian tahap ke-3 oleh dewan juri utama

8 – 15 Maret 2015 : Pengumuman pemenang

15 – 22 Maret 2015 : Penyerahan hadiah lomba

 

 

H. KONTAK PENYELENGGARA

Penyelenggara event Kontes Blog Muslim ke-3 ini dapat dihubungi melalui email ppm.aswaja@gmail.com atau dapat mengetahui profil kami di www.ppmaswaja.org.

 

I. JURI

Dewan seleksi awal dan penilaian tahap 2 :

Dewan Juri Penilaian Final:

  • Abdul Manan (Chairman at Federation of Independent Media Workers Union)

 

J. PENDUKUNG ACARA

Please like & share:

Karya KBM2: Pengajian Dakwah Budaya Walisongo: Renungan Bersama Sosio-Kemasyarakatan Indonesia

Posted on Updated on

Penulis: Yose Rizal Triarto @yrtriarto

Predikat : Juara Ke-1

Pengajian Dakwah Budaya Walisongo: Renungan Bersama Sosio-Kemasyarakatan Indonesia

Video Cak Nun & Kiai Kanjeng Memukau Banyak Penonton (The Muslim News Awards for Excellence 2005).

A. Pendahuluan
Agaknya akan berlebihan apabila sebuah tulisan singkat dalam blog akan mampu mengubah dan memberi dampak dalam kondisi sosio-masyarakat Indonesia saat ini. Apalagi dengan mengangkat tema tentang Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah. Namun demikian paling tidak apa yang menjadi keprihatinan bersama atas kondisi masyarakat Indonesia dan dekadensi moral yang terjadi saat ini dan masukan solusinya dapat dengan baik tersampaikan.

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata “ilmu” dan kata “Islam”. Sehingga menjadi “ilmu dakwah” dan Ilmu Islam atau ad-dakwah al-Islamiyah.[1]

Satu persoalan penting yang banyak melanda masyarakat modern saat ini baik di kota maupun di desa adalah apa yang disebut sebagai existential vacuum-kekosongan eksistensi, yang ditandai dengan kebosanan dan pengkaburan tujuan hidup. Masyarakat dunia modern kini tengah mengalami pendegradasian atas nilai-nilai kemanusiawiannya. Dalam berbagai aktifitas yang serba materialistis, mereka mengalami kejenuhan. Modernitas menjadi sejenis kepribadian yang dingin, kaku, tanpa arah, dan tidak manusiawi (dehumanized).[2]

Tidak mudah pula mengharmonisasikan sebuah bangsa yang multietnik, yang terdapat di dalamnya beragam etnik, bahasa, suku dan agama. Diperlukan juga sikap yang luar biasa bijaksana yang disertai dengan rasa identitas tentang jati diri dan pesatuan dalam masyarakat Indonesia. Konflik antar agama dan keyakinan bahkan sampai berujung anarkis dan memakan korban sudah berkali-kali sudah terjadi.[3]

Sementara jika membaca Ensklopedia Islam setebal tujuh jilid terbitan Ikhtiar Baru Ban Hoeve dan mencari informasi tentang Wali Songo, niscaya tidak akan pernah ditemukan sedikitpun mengenainya. Sebaliknya, di dalam Ensiklopedia Islam tersebut justru akan ditemukan kisah tiga serangkai Haji asal Sumatera Barat H Miskin, H Piabang dan H Sumanik, sebagai pembawa ajaran Islam ke wilayah Sumatera Barat pada tahun 1803 M.

Bila benar demikian yang dituliskan oleh sejarawan Agus Sunyoto dalam buku “Atlas Wali Songo” maka 20 tahun ke depan Walisongo dipastikan akan tersingkir dari percaturan akademis karena keberadaan mereka tidak lagi “legitimate” dalam Ensiklopedia Islam. Walisongo akan terlempar dari ranah sejarah dan tinggal mengisi ruang hampa sebagai cerita mitos dan dongeng pengantar tidur belaka.[4]

Di lain pihak akhir-akhir ini ada sekelompok orang yang mengaku bermanhaj salaf, secara tiba-tiba dan membabi buta menuduh Walisongo adalah penyebar kesyirikanm penganjur bid’ah (sesat), pengagum takhayul dan khurafat. Sehingga mereka berkesimpulan pendek bahwa Walisongo telah gagal dalam berdakwah dan tak patut untuk dijadikan teladan.[5]

Mari kita mempelajari secara perlahan-lahan tentang dakwah Walisongo dan korelasinya dalam masa lalu dan masa kini masyarakat Indonesia.

B. Napak Tilas Dakwah Nusantara Walisongo
Menurut catatan Dinasi Tang China pada waktu abad ke-6 M jumlah orang Islam di nusantara (Indonesia) hanya kisaran ribuan orang. Dengan klasifikasi yang beragama Islam hanya orang Arab, Persia dan China. Para penduduk pribumi tidak ada yang mau memeluk Islam.

Bukti sejarah kedua, Marco Polo singgah ke Indonesia pada tahun 1200-an M. Dalam catatannya, komposisi umat beragama di nusantara masih sama persis dengan catatan Dinasti Tang; orang Indonesia tetap tidak mau memeluk agama Islam.

Bukti sejarah ketiga, dalam catatan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1433 M, tetap hanya orang asing yang memeluk agama Islam. Jadi kalau kita kalkulasikan ketiga catatan tersebut, sudah lebih dari 8 abad agama Islam tidak diterima orang Indonesia. Agama Islam hanya dipeluk segelintir orang asing.

Dalam sumber lain disebutkan pula bahwa sebenarnya Islam masuk Nusantara sejak zaman Rasulullah. Yakni berdasarkan literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Kemudian Marco Polo menyebutkan, saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H/1292 M, telah banyak orang Arab menyebarkan Islam. Begitu pula Ibnu Bathuthah, pengembara muslim, yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H/1345 M menuliskan bahwa Aceh telah tersebar madzhab Syafi’i. Tapi baru abad 9 H (abad 15 M) penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Massa itu adalah masa dakwah Walisongo.

Para sejarawan dunia angkat tanggan saat diminta menerangkan bagaimana Walisongo bisa melakukan mission impossible saat itu: membalikkan keadaan dalam waktu kurang dari 50 tahun, padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa nusantara selalu menolak agama Islam.

Berbeda dengan dakwah Islam di Asia Barat, Afrika dan Eropa yang dilakukan dengan penaklukan, Walisongo berdakwah dengan cara damai. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Dakwah mereka adalah dakwah kultural.

Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Hal ini dijelaskan, baik semua atau sebagian, dalam banyak sekali tulisan seputar Walisongo dan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Misalnya dalam Târikhul-Auliyâ’ karya KH Bisri Mustofa; Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia karya KH Saifuddin Zuhri; Sekitar Walisanga karya Solihin Salam; Kisah Para Wali karya Hariwijaya; dan Kisah Wali Songo: Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid MA.

Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut. Budaya dan tradisi lokal itu oleh Walisongo tidak dianggap “musuh agama” yang harus dibasmi. Bahkan budaya dan tradisi lokal itu mereka jadikan “teman akrab” dan media dakwah agama, selama tidak ada larangan dalam nash syariat.

Pertama-tama, Walisongo belajar bahasa lokal, memperhatikan kebudayaan dan adat, serta kesenangan dan kebutuhan masyarakat. Lalu berusaha menarik simpati mereka. Karena masyarakat Jawa sangat menyukai kesenian, maka Walisongo menarik perhatian dengan kesenian, diantaranya dengan menciptakan tembang-tembang keislaman berbahasa Jawa, gamelan dan pertunjukan wayang dengan lakon islami. Setelah penduduk tertarik, meraka diajak membaca syahadat, diajari wudhu, shalat, dan sebagainya.

Walisongo sangat peka dalam beradaptasi, caranya menanamkan akidah dan syariat sangat memperhatikan kondisi masyarakat. Misalnya, kebiasaan berkumpul dan kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian keluarga tidak diharamkan, tapi diisi dengan pembacaan tahlil, doa, dan sedekah. Bahkan Sunan Ampel, yang dikenal sangat hati-hati, menyebut shalat dengan “sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang) dan menamai tempat ibadah dengan “langgar” mirip kata sanggar.

Bangunan masjid dan langgar pun dibuat bercorak Jawa dengan genteng bertingkat-tingkat, bahkan masjid Kudus dilengkapi menara dan gapura bercorak Hindu. Selain itu, untuk mendidik calon-calon dai, Walisongo mendirikan pesantren-pesantren yang menurut sebagian sejarawan mirip padepokan-padepokan orang Hindu dan Budha untuk mendidik cantrik dan calon pemimpin agama.

Para sejarawan dunia sepakat bahwa cara pendekatan dakwah melalui kebudayaanlah yang membuat sukses besar. Namun demikian mungkin ada benarnya bahwa pendekatan dakwah dengan kebudayaan itu hanyalah bungkus luarnya saja. Yang benar-benar berbeda dan telah sukses dalam menyebarkan agama Islam saat itu adalah isi dari dakwah Walisongo.

C. Memahami Isi Dakwah Budaya Walisongo
Sebagian pihak mempermasalahkan metode dakwah Walisongo tersebut. Sebagian mempertanyakan kesesuaiannya dengan dalil syar’i. Sebagian lagi bahkan berani menyalahkan peninggalan para ulama-wali itu. Hal ini terutama dilakukan kaum modernis yang dipengaruhi pemikiran Wahabi yang kaku.

Bila mau berpikir dengan jernih dan bijak, metode dakwah Walisongo tidak selayaknya dipertanyakan. Walisongo menyebarkan agama Islam meniru persis “bungkus” dan “isi” yang dahulu dilakukan Rasulullah SAW. Benar-benar menjiplak mutlak metode dakwahnya kanjeng nabi. Pasalnya, kondisinya hampir serupa, Walisongo kala itu adalah alim ulama “satu-satunya”.

Dahulu Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya orang yang berada di jalan yang benar pada masanya. Istrinya sendiri, sahabat Abu Bakar, sahabat Umar, sahabat Utsman, dan calon mantunya Ali pun pada saat itu tersesat semua. Tetapi berkat ruh dakwah yang penuh kasih sayang, banyak orang akhirnya mengikuti risalah yang dibawa kanjeng nabi. Dengan dilandasi perasaan yang tulus, Nabi Muhammad SAW sangat amat sabar menerangi orang-orang yang tersesat di jamannya. Meski kepalanya dilumuri kotoran, meski mukanya diludahi, bahkan berkali-kali hendak dibunuh, kanjeng nabi selalu tersenyum memaafkan.

Walisongo mencontoh akhlak kanjeng nabi sama persis. Walisongo berdakwah dengan penuh kasih sayang. Pernah suatu hari ada penduduk desa bertanya hukumnya selametan rumah dengan menaruh sesajen di sudut kamar. Tanpa terkesan menggurui dan menunjukkan kesalahan, sunan tersebut berkata, “Boleh, malah sebaiknya jumlahnya 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya.”

Pernah juga ada murid salah satu anggota Walisongo yang ragu pada konsep tauhid. “Tuhan kok jumlahnya satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang tidak terurus?” Sunan yang ditanya hanya tertawa mendengarnya, lalu minta ditemani nonton pagelaran wayang kulit.

Singkat cerita, sunan tersebut berkata pada muridnya, “Bagus ya cerita wayangnya…” Si murid pun menjawab dengan penuh semangat tentang keseruan lakok wayang malam itu. “Oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya ada dua atau empat orang?” tanya sunan tersebut. Si murid langsung menjawab, “Justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan.”

Sang guru hanya tersenyum dan mengangguk-angguk mendengar jawaban polos tersebut. Seketika itu pula si murid beristighfar dan mengaku sudah mengerti konsep tauhid. Begitulah “isi” dakwah Walisongo; mengutamakan perasaan orang lain.

Kalau kita cermati bersama, betapa gaya berdakwah para Walisongo tersebut sangat mirip dengan gaya dakwah kanjeng nabi. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana bisa? Hal tersebut bisa terjadi karena ada manual book cara berdakwah, yaitu Surat An-Nahl ayat ke-125. Ud’u ilaa sabiili Rabbika bilhikmati walmau’izhatil hasanati wajaadilhum billatii hiya ahsan. Inna Rabbaka Huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilihi wa Huwa a’alamu bilmuhtadiin. Terjemahannya kira-kira: Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui mereka yang mendapat petunjuk.

Menurut ulama ahlussunnah wal jama’ah, tafsir ayat dakwah tersebut adalah seperti berikut: Potongan kalimat awal, ud’u ilaa sabiili Rabbika, yang terjemahannya adalah “Ajaklah ke jalan Tuhanmu”, tidak memiliki objek. Hal tersebut karena Gusti Allah berfirman menggunakan pola kalimat sastra. Siapa yang diajak? Tentunya orang-orang yang belum di jalan Tuhan. Misalnya, ajaklah ke Jakarta, ya berarti orang yang diajak adalah orang-orang yang belum di Jakarta.

Dakwah artinya adalah “mengajak”, bukan perintah apalagi memerintah. Jadi cara berdakwah yang betul adalah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Apabila harus berdebat, pendakwah harus menggunakan cara membantah yang lebih baik. Sifat “lebih baik” di sini bisa diartikan lebih sopan, lebih lembut, dan dengan kasih sayang. Sekali lagi, apabila harus berdebat, jangan ditafsirkan secara terjemahan bahasa Indonesia apa adanya. Bisa kacau balau.

Para pendakwah justru harus menghindari perdebatan. Bukannya tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ada ustadz yang mengajak debat para pendeta, biksu, orang atheis, dan sebagainya. Jelas itu “ngawur”. Berdakwah tidak boleh berlandaskan hawa nafsu. Harus ditikari ilmu, diselimuti rasa kasih sayang, dan berangkat dari niat yang tulus.

Apalagi ayat dakwah tersebut ditutup dengan kalimat penegasan bahwa hanya Tuhan yang mengetahui kebenaran sejati. Hanya Dialah yang tahu hambaNya yang masih tersesat dan hambaNya yang sudah mendapatkan petunjuk Firman. Artinya Firman tersebut sudah merupakan peringatan untuk para pendakwah jangan merasa sok suci, apalagi menganggap objek dakwah sebagai orang-orang yang tersesat. Anggaplah objek dakwah sebagai sesama manusia yang sama-sama menuju jalanNya.

D. Refleksi Sosio-Kemasyarakatan Kekinian Indonesia
Fakta sejarah memberikan gambaran kepada kita bahwa Islam hadir ke bumi pertiwi tidak dengan penumbangan kekuasaan maupun agresi militer ataupun jalan-jalan pemaksaan lainnya, namun melalui jalan damai yaitu akulturasi budaya. Secara cerdas Walisongo menginisiasi pencerdasan dan pembangunan masyarakat secara kultural dan dari sanalah penyebaran Islam dilakukan.

Sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana menyikapi perbedaan. Bahkan kita melihat wayag sekalipun yang notabene berasal dari ajaran animisme yang sangat kontras dengan ajaran Islam dapat digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan Islam setelah dilakukan modifikasi terlebih dahulu. Para penyebar agama Islam di tanah air dahulu mencoba menggali dan memahami adat istiadat dan khazanah budaya yang ada terlebih dahulu untuk kemudian dimanfaatkan untuk berdakwah.

Pelajaran lainnya adalah bagaimana misi keagamaan yang diemban para wali disertai dengan kerja-kerja sosial sehingga menghasilkan sebuah kerja relijius yang lebih membumi dan mampu diterima dengan basis penerimaan yang kuat. Upaya mereka dengan membangun pusat-pusat pendidikan dan penggerak ekonomi merupakan buktinya.

Menurut pakar sejarah nusantara Agus Sunyoto menyatakan kunci keberhasilan dakwah Walisongo adalah penghargaan yang tinggi terhadap kebudayaan pribumi. Sekarang cara ini dilanjutkan NU dengan tidak menghilangkan tradisi lokal. Selain memelihara tradisi lokal, NU bahkan menggunakan resistensi kebudayaan tersebut untuk melawan kolonialisme. Di masa penjajahan, KH Hasyim Asy’ari mengharamkan seikerei sebagai tanda hormat kepada kaisar Jepang karena dianggap syirik.

Hingga kini mayoritas pesantren juga masih kuat mempertahankan tradisi mereka. Lembaga pendidikan Islam tertua nusantara ini umumnya sangat selektif terhadap berbagai pengaruh global, termasuk cara-cara pendidikan model barat. Sangat disayangkan saat ini banyak masyarakat Indonesia modern yang mudah menjauh dari lokalitas kebudayaan lokal. Padahal kekayaan budaya nusantara tak kalah unggul dan kerap gaya hidup serapan luar hanya menguntungkan pihak tertentu saja.

Kondisi sosio-kemasyarakatan Indonesia saat ini tengah mengalami keprihatinan atas makin berkembangnya pengaruh negatif globalisasi di mana-mana. Sebagai contoh pada tahun 2012, Monash University bekerjasama dengan UIN Malang meneliti tentang pesantren. Bagaimana mungkin pesantren masih bisa berjalan di era globalisasi sekarang, dimana sekolah-sekolah sudah bertaraf internasional. Mengaji di pondok pesantren masih menggunakan bahasa lokal, padahal sekolah-sekolah sekarang sudah memasuki era bahasa Inggris. Kemudian kalau dahulu nama-nama anak masih bermuatan lokal, namanya Sumaji, Marsono, Choirul, Joko, Siti, Marpuah, dst. Begitu reformasi tahun 1999, nama-nama di Indonesia berubah menjadi nama ke-barat-barat-an seperti Kevin, Clara, dll. Nama-nama barat pelan-pelan menjadi juara di nusantara, bahkan kita mungkin malu jika nama kita terdengar kampungan. Era globalisasi merubah semua, termasuk kearifan lokal.

Pada kenyataannya dengan semakin majunya teknologi, penggunaan bahasa asing dan makin meningkatnya jumlah masyarakat yang mampu mengenyam pendidikan tinggi bahkan beberapa sudah banyak yang mampu diterima bekerja di luar negeri tidak menghapus kenyataan bahwa kondisi masyarakat Inonesia yang saat ini tengah dalam dekadensi moral.

Ketika pada jaman dahulu Walisongo melakukan penyebaran dakwah yang konstruktif dalam tataran lokal nusantara, maka pada saat ini tantangannya adalah bagaimana menuju masyarakat Indoneia yang harmonis, toleran dan pluralis namun tetap memegang nilai-nilai dan kearifan budaya lokal nusantara di tengah pusaran arus globalisasi yang cenderung menyeret orang menjadi tidak peduli dan apatis pada sesamanya.

Bahwa kehancuran peradaban dan moral manusia di zaman modern ini bukan semata-mata karena peradaban modern itu tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritualitas dan transedental manusia, tetapi juga karena kesalahan manusia dalam memanfaatkan (menggunakan) dan memandang modernitas itu sendiri. Hal lain yang menyebabkan modernitas itu dangkal dan naif adalah ia berusaha memotong akar-akar tradisional yang sebenarnya merupakan “ibu” yang melahirkan peradaban modern itu sendiri.

Relevansi dakwah Walisongo dalam masa modernisme memang belum selesai. Sebab pada kenyataannya meski modernisme banyak membawa jasa, tetapi tidak sedikit menabur ‘dosa’. Misalnya modernisme sangat berkaitan erat dengan pembangunan. Banyak orang mendefinisikan pembangunan sebagai ‘mengantarkan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern’. Pembangunan bukan saja pertumbuhan ekonomi; tetapi juga transformasi sosial. Bersamaan dengan modernisasi dan kemakmuran, pembangunan juga membawa apa yang disebut oleh sosiolog Lyman dengan the Seven Deadly Sins, tujuh dosa maut: ketidakpedulian, nafsu, angkara murka, kesombongan, iri hati, lahap dan kerakusan.

Di sinilah kembali diperlukan dakwah-dakwah budaya dan teladan-teladan hidup yang mewarisi nilai-nilai dan semangat Walisongo: modernitas dan segala aspek perbedaan yang menyertai lapisan masyarakat Indonesia saat ini dipahami bukan sebagai halangan atau musuh yang harus dibasmi melainkan sebagai sebuah peluang dan tantangan untuk melawan bentuk-bentuk ketidakpedulian sosial dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang harmonis, toleran dan pluralis, dengan penuh kasih sayang.

D. Penutup
Metode memang penting namun demikian terlebih penting lagi adalah isi dan tujuan dakwah tersebut. Dakwah yang dibarengi dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan konstruktif dan memadukan berbagai media seperti seni, budaya dan teknologi dapat diajukan sebagai salah satu solusi untuk membendung dekadensi moral dalam masyarakat modern saat ini.

Aktifitas relijius sudah sepatutnya jugalah memiliki implikasi positif bagi tatanan sosial masyarakat bukan sekedar upaya propaganda jargon-jargon kosong semata bahkan malah berujung pada konflik atau bahkan kekerasan terhadap sesama. Walisongo dan para penyebar agama Islam pada masa lalu di nusantara telah membuktikan bahwa ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin dan dapat menjadi harapan dalam memberbaiki dan membangun masyarakat.

Hal ini menjadi pelajaran bagi segenap elemen bangsa bahwa perbedaan keyakinan agama di antara kita tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama menjalin harmonisasi dalam melaksanakan pembangunan. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Menjadi teladan hidup dan berdakwah teduh dan cinta tanah air dengan memulai banyak membaca, meluruskan niat, makin mendekatkan diri dan meminta pertolongan kapadaNya sesungguhnya adalah panggilan untuk kita bersama.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-2 PPM ASWAJA “Walisongo & Teladan Sukses Berdakwah”.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Dakwah dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Dakwah
[2]. Menimbang Gagasan Pribumisasi Islam: Upaya Menuju Masyarakat Islam Indonesia yang Harmonis, Toleran dan Pluralis dalam http://www.gusdurian.net/id/article/kajian/Menimbang-Gagasan-Pribumisasi/
[3]. Wali Songo, Wayang dan Toleransi Beragama yang Konstruktif dalam http://news.detik.com/read/2011/03/01/111429/1581856/471/wali-songo-wayang-dan-toleransi-beragama-yang-konstruktif
[4]. Menggugat (Kembali) Keberadaan Wali Songo dalam http://m.kompasiana.com/post/read/578662/3/menggugat-kembali-keberadaan-wali-songo.html
[5]. Walisongo Adalah Penerus Dakwah Rasulullah SAW dalam https://m.facebook.com/permalink.php?id=557700220929725&story_fbid=577543395612074

Please like & share:

Karya KBM2: Membaca Sejarah Walisongo; Sebuah Teladan Dakwah

Posted on

Penulis: Ziyadatul Khairoh @Zyadahkhairoh

Predikat : Juara Ke-2

Sebenarnya apakah “Dakwah” itu? Mengapa saat kamu mengetik term Dakwah di kolom search engine, muncul ratusan, ribuan, bahkan jutaan temuan yang berkaitan dengan kata “Dakwah”?

HAKIKAT DAKWAH
Secara etimologis “Da’i” adalah bentuk isim fa’il dari “da’a” yang berarti orang yang mengajak atau orang yang berdakwah. Secara terminologis “Da’i” adalah setiap muslim yang berakal, baligh dan telah mukallaf yang berkewajiban dakwah. Dengan kata lain “Da’i” adalah orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada orang lain (mad’u).

Islam sungguh tidak pernah mengajarkan dakwah secara kasar yang bahkan mengancam keutuhan umat manusia dengan pemaksaan yang egosentris. Islam adalah agama yang damai, sebagaimana metode dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah yang beliau lakukan secara halus dan perlahan dalam arti orang terdekat yang beliau sentuh hatinya. Beliau tidak serta merta mengajak secara terang-terangan, berpidato di atas mimbar mengajak masyarakat agar mau menjadikan Islam sebagai sandaran kehidupan, mengingat saat itu Islam baru tumbuh.

Dalam peperangan Rasulullah tidak pernah memulai pertumpahan darah terlebih dahulu. Kekalahan yang terjadi pada Kafir Quraisy adalah semata karena Rasulullah bersama barisan Sahabat memperjuangkan serta membela Islam secara tegas dan terhormat.

Dewasa ini banyak muslim yang gagal dalam misi dakwahnya disebabkan kurangnya pengetahuan muslim akan ilmu, akhlak, dan metode praktis dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Kegagalan ini tentu berdampak buruk terhadap citra muslim, bahkan citra Islam itu sendiri. Seperti maraknya aksi teror bom yang dilakukan oleh tidak sedikit umat Islam yang mengusung konsep dakwah Jihad Fi Sabilillah. Mereka terlalu dangkal menyelami Islam, sehingga bukan perdamaian dan kemaslahatan yang dicapai, akan tetapi perpecahan, kehancuran, dan penistaan terhadap agama.

Tidak hanya aksi teror, sebagian umat Islam saat ini sering kali terlibat dalam jual-beli agama. Dari persoalan politik yang mengatasnamakan Islam, memasang tarif dalam berceramah yang sudah jelas melanggar kode etik dakwah, sampai perdukunan yang menggunakan modus dakwah Islam. Semua itu telah jelas menodai wajah Islam di hadapan dunia secara luas.

Tentang kewajiban berdakwah, Allah menegaskan di dalam Alqur’an:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imran : 104),

Juga sebuah hadits Nabi:
من رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ. ( وراه صحيح مسلم)

Artinya: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan (mencegah kemungkaran dengan hati) itu adalah pertanda selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

Setiap Muslim adalah Da’i dalam arti luas. Pada eksistensinya, terdapat tanggung jawab moral yang wajib ditunaikan, yaitu menyelamatkan saudaranya dari kemunkaran yang akan berakibat buruk terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dakwah Islam akan berjalan dengan mulus jika Da’i ber-taslim (mengambil—jalan—selamat dengan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya) yaitu meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW secara total serta diimbangi tawakkal kepada Allah SWT.

WALISONGO

Walisongo adalah majelis dakwah yang fokus dalam rangka menyebarkan agama Islam pada abad 14 Masehi. Wilayah penting di pesisir utara Pulau Jawa yang menjadi tempat bermulanya dakwah yakni Cirebon di Jawa Barat, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur menjadi indikator penting bahwa penyebar agama Islam di tanah Jawa ini adalah orang-orang pendatang dari luar yang datang untuk berdagang sekaligus menjalankan misi utamanya, yaitu menyebarkan ajaran agama Islam. Walisongo dikatakan sebagai majelis dakwah adalah karena ia merupakan jaringan keluarga yang beranggotakan sembilan orang ulama yang diperkirakan berdarah Samarkand di Asia Tengah.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2012) menyebutkan anggota Walisongo adalah: 1. Sunan Ampel. 2. Sunan Giri. 3. Sunan Bonang. 4. Sunan Kalijaga. 5. Sunan Gunung Jati. 6. Sunan Drajat. 7. Syaikh Siti Jenar. 8. Sunan Kudus. 9. Sunan Muria. 10. Raden Patah. Beragam versi yang ada sebenarnya tidak menjadi masalah karena sebenarnya para wali yang ada merupakan satu majelis keluarga dan relasi antara guru-murid. Adapun rinciannya yakni: 1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim yang inskripsi makamnya menunjuk angka 1419 Masehi sebagai angka tahun kewafatannya) 2. Sunan Ampel atau nama asli Raden Ali Rahmatullah putera Syaikh Ibrahim as-Samarkandi. 3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim putera Sunan Ampel. 4. Sunan Drajat atau Raden Qasim putera Sunan Ampel. 5. Sunan Kudus putera Raden Usman Haji suami Dewi Ruhil puteri Nyai Ageng Malaka puteri Sunan Ampel atau beliau adalah cicit Sunan Ampel. 6. Sunan Giri murid Sunan Ampel, saudara seperguruan dengan Sunan Bonang. 7. Sunan Kalijaga murid Sunan Bonang. 8. Sunan Muria atau Raden Umar Said putera Sunan kalijaga. 9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah putera Sultan Hud seorang yang berkuasa di negara Bani Israil hasil pernikahannya dari Nyai Rara Santang, seorang keturunan keraton Pajajaran. 10. Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Datuk Abdul jalil mertua Sunan kalijaga. 11. Raden Patah putera Prabu Wijaya, Raja Majapahit terakhir, murid sekaligus menantu Sunan Ampel.

ISLAM DI INDONESIA SEBELUM WALISONGO

Agama Islam sebenarnya telah berkembang jauh sebelum hadirnya jaringan dakwah Walisongo. Situs makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah di dusun Leran Gresik menjadi bukti tertua arkeologi petilasan Islam di Nusantara merujuk pada kronogram 1082 M./475 H.

Agama Islam ketika itu tidak berkembang dengan baik karena pemerintahan daerah masih dalam kendali kuat Kerajaan Majapahit sampai pada akhirnya Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran (antara tahun 1401 sampai 1405 Masehi) akibat perang saudara, perebutan kekuasaan yang sengit, dan armada yang melemah, Islam lalu menggeliat dalam kuasa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

PARA WALI DAN PRINSIP DAKWAHNYA

Islam mulai mempunyai ruang yang relatif luas di tengah melemahnya Kerajaan Majapahit kendati kondisi masyarakatnya berwatak keras, egosentris, dan memuja roh-roh leluhur mereka dengan menggunakan persembahan sesajen. Kehidupan sosio-religi yang demikian kemudian secara perlahan diislamisasi oleh Maulana Malik Ibrahim dan para wali yang lain dengan corak dakwah yang santun dan membumi.

Menggunakan prinsip dakwah al-Muhafazhah ‘ala al-Qadiim ash-Shalih wa al-Akhdu bil Jadidi al-Ashlah (Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) para wali ‘menyelami’ terlebih dahulu kepercayaan asli masyarakat Indonesia yang saat itu masih dalam kepercayaan animisme dan dinamisme; suatu kerpecayaan dengan memuja roh para leluhur dan benda-benda tua. Para wali juga melibatkan diri dalam berbagai macam praktik kebudayaan yang sangat mengakar kuat, sekalipun hal itu sudah jelas sangat berseberangan dengan syariat Islam.

Kendati demikian produk dakwah Walisongo—hingga saat ini—tak dapat dipungkiri telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang amat menghargai perbedaan, stabil di tengah goncangan krisis kemanusiaan, tidak radikal, tidak juga liberal, melainkan moderat. Dapatkah kita bayangkan, bagaimana tanpa sentuhan dakwah Walisongo di Indonesia ini? Sebuah negara yang terletak di jalur perdagangan internasional, yang tentunya mudah terpengaruh oleh beragam kepercayaan dan ideologi.

GERAKAN DAKWAH PARA WALI

Sejarah mencatat bahwa Walisongo telah menggerakkan dakwahnya di berbagai aspek dalam masyarakat ketika itu yaitu melalui politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan kesenian.

POLITIK

Sebelum melangkah lebih jauh para wali terlebih dahulu mendekati keluarga kerajaan, hal ini dilakukan agar syariat Islam lebih leluasa disampaikan menggunakan kekuasaan. Seperti Sunan Ampel yang menikahkan murid-muridnya dengan putri-putri penguasa Majapahit. Sunan Ampel sendiri menikah dengan putri Arya Teja, seorang bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembu Sura raja Surabaya ketika itu. Selain melalui pernikahan, yang dilakukan Sunan Ampel adalah menyamaratakan kelas dalam masyarakat dengan kebijakan-kebijakan politis; bahwa yang kaya harus menghargai yang miskin, yang tua menyayangi yang muda, berbagi, dan berempati, dengan tanpa menyinggung unsur SARA. Pendekatan tersebut memungkinkan dakwah Islam lebih mendapat wilayah yang luas serta perhatian besar dari masyarakat bawah.

PENDIDIKAN

Para wali juga membangun masjid sebagai pusat pendidikan dan kajian Islam. Di dalamnya dengan dipimpin para wali telah banyak berbagai macam persoalan masyarakat dapat dipecahkan dengan baik melalui aturan tegas syariat Islam. Tidak hanya itu, masyarakat kecil yang buta aksara—mengingat pada masa itu “pendidikan” hanya dapat dinikmati oleh para keluarga kerajaan—juga dapat menyentuh dunia pendidikan melalui belajar membaca Alqur’an dan aksara Jawa. Forum diskusi, konsultasi dan penyuluhan dibuka secara luas tanpa pandang bulu. Kala itu masjid umpama sebuah Search Engine yang dapat menjawab berbagai problematika masyarakat, artinya setiap persoalan yang terjadi di masyarakat selalu mendapat jawaban dan terselesaikan dengan baik setelah melakukan konsultasi musyawarah dengan para wali yang pusatnya di masjid.

Sunan Ampel yang sangat fokus pada dakwah melalui pendidikan kala itu membangun pesantren untuk tempat belajar. Pesantren yang terletak di Ampel Denta tersebut telah melahirkan wali-wali baru yang kemudian oleh Sunan Ampel dikirim ke daerah lain untuk menyebarkan agama islam, dan menjadi cikal-bakal pesantren-pesantren di tanah Jawa hingga saat ini.

EKONOMI

Para wali datang ke tanah Jawa dan mendiami pesisir pantai utara pulau Jawa dengan aktifitas utama berdagang. Perdagangan mereka yang berpegang pada prinsip ekonomi dalam syariat Islam telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat pribumi. Secara otomatis, setelah model perdagangan syar’i ditampilkan, masyarakat mulai giat menyejahterakan dirinya; bergerak dalam perdagangan yang sama. Di samping perdagangan para wali menyentuh sektor pertanian sebagai lahan ekonomis, terbukti dengan keahlian Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Kalijaga dalam membuat kerajinan alat-alat pertanian yang tentu sangat menyokong bagi pertanian masyarakat. Begitupun dengan Sunan Giri yang kala itu mengajarkan ilmu jual-beli terhadap masyarakat Kediri sebagai jalur dakwahnya.

SOSIAL-BUDAYA

Penanaman sikap tolong-menolong dan solidaritas sosial juga tidak luput dari perhatian para wali. Sikap fleksibel dan santun mereka terhadap siapa saja telah membuka jalan jalinan persaudaraan masyarakat menjadi luas sehingga segala persoalan tidak lagi menjadi sulit untuk diselesaikan. Sunan Drajat yang aktif dalam gerakan ini telah mewariskan keahliannya dalam tata cara membuat rumah dan membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk memikul orang semisal Tandu. Kita pikirkan bagaimana filosofi dari keduanya!

KESENIAN

Seni sebagai alat hiburan menjadi sarana yang tidak kalah efektifnya bagi keberlangsungan dakwah Walisongo. Bahkan melalui kesenian syariat Islam dapat tersampaikan dengan menawan dan lebih membumi di tengah masyarakat. Masyarakat Jawa yang saat itu masih beragama Kapitayan (sebuah agama kuno penduduk Nusantara yang tumbuh sejak zaman Paleolithikum, Messolithikum, Megalithikum, sampai Perunggu dan Besi) serta dalam pengaruh kuat kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana mulai mengenal Islam dari Sunan Kalijaga yang “menyusupi” lakon wayang carangannya dengan ajaran Tauhid serta Akhlak-Tasawuf.

Sunan Kalijaga yang kemudian jejaknya dilanjutkan oleh Sunan Bonang juga memperkenalkan Islam kepada masyarakat melalui gubahan tembang dan permainan musik. Strategi dakwah yang kreatif ini pun menjadikan ajaran Islam semakin realistis di tengah masyarakat awam tersebut.

Di antara tembang-tembang gubahan Sunan Kalijaga yang masyhur di kalangan masyarakat Jawa adalah tembang Ilir-ilir, sebagai berikut:

Lir-ilir lir-ilir tandhure wis sumilir/ sing ijo royo-royo/ tak sengguh penganten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotiro/ dodotiro dodotiro/ kumitir bedah ing pinggir/ dondomana jlumantana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ yo surako surak hore//

STRATEGI DAKWAH WALISONGO

Kesuksesan Walisongo dalam menjalankan dakwahnya bukan serta merta sukses tanpa proses panjang dan perencanaan besar dalam kerangka filosofis. Peleburan diri mereka dengan budaya dan karakter masyarakat Jawa adalah implementasi konkrit dari falsafah dasar Iqra’; wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad dalam kontemplasinya di Gua Hira. Iqra’ yang bukan saja perintah membaca tulisan, akan tetapi lebih dari itu, yakni membaca dan menganalisa alam raya dan keadaan serta situasi tertentu di sekelilingnya, telah menginspirasi seorang Muhammad untuk mengubah gaya hidup jahiliyah yang telah mengakar kuat di tanah Makkah pada gaya hidup yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal tersebut kemudian diteladani oleh para wali yang hendak menyebarkan agama Islam di Nusantara. Sebenarnya banyak hal yang dapat diteladani dari konsep dakwah Walisongo, antara lain:

Lemah Lembut dan Toleransi

Dakwah adalah sesuatu yang berkenaan dengan hati dan jiwa, sebab itu ia adalah sesuatu yang sangat sensitif dan terikat dengan emosional seseorang. Para wali telah menyampaikan pesan dakwahnya dengan cara yang lemah lembut dan toleran terhadap budaya yang telah kuat mengakar di tanah jawa sehingga dapat menyentuh sanubari terdalam mereka yaitu hati dan pembenaran akalnya.

Tidak Mempersulit

Agama Islam datang dengan perangkat aturan yang ringan dan meringankan. Dalam konteks hukum syari’at seorang Da’i harus membimbing Mad’u kepada aturan hukum yang ideal, yang tidak memberatkan Mad’u dan tidak terlalu meringankannya. Oleh sebab itu dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah para wali mempermudah proses penyampaian

Bertanggung Jawab

Da’i, dalam kapasitasnya harus menerima konsekuensi atas setiap perkataan dan perbuatannya di hadapan Mad’u. Seorang Da’i tidak boleh berkata sesuatu yang tidak diketahuinya. Ia harus jujur terhadap apa saja yang belum diketahuinya. Oleh sebab itu Da’i juga harus berwawasan luas dalam merespon berbagai persoalan yang terjadi di tengah lingkungan Mad’u.
Konsep dakwah Walisongo yang telah menyentuh setiap aspek dalam masyarakat yaitu politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan kesenian menunjukkan bahwa setiap anggota dakwah bergerak di bidangnya masing-masing sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Artinya anggota dakwah yang ahli di bidang pendidikan tidak intervensi pada bidang kesenian, dan begitu seterusnya.

Menyesuaikan Kondisi Psiko-Sosial Objek Dakwah

Dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya, seorang Da’i harus paham terhadap gejala-gejala yang terjadi di tengah masyarakatnya. Ia harus menganalisa bahasa keadaan yang tengah disampaikan oleh Mad’u terhadap Da’i. Dalam hal ini sangat tepat jika kita bercermin pada model dakwah Raden Sahid atau Sunan Kalijaga dalam menyampaikan misi dakwahnya. Model dakwah melalui kesenian yang beliau terapkan adalah disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ketika itu sangat menyukai kesenian berupa pertunjukan wayang, tembang, dan pantun. Dakwah ini dilakukan Sunan Kalijaga dengan kemampuan seninya agar masyarakat dengan mudah menerima pesan dakwah Islam yang hendak beliau sampaikan. Dengan meneladani metode dakwah Sunan Kalijaga kita lalu paham bahwa dalam berdakwah harus menyelami ‘dunia’ Mad’u, menyelaraskan syariat Islam dengan hal-hal yang dekat dengan Mad’u.

Mengutamakan Proses (Tahapan)

Seorang Da’i juga harus mengutamakan proses (tahapan) dalam berdakwah. Artinya tidak terburu-buru memperoleh hasil berdakwahnya. Yang pertama dilakukannya adalah mendekati Mad’u secara halus, berempati dengan setiap problem yang terjadi pada Mad’u, baru setelah itu menyampaikan pesan dakwah-praktisnya. Para wali tidak lantas mengajak masyarakat untuk berdiskusi masalah akidah. Sebab hal ini akan menggoyahkan keyakinan mereka. Yang mereka lakukan adalah merefleksikan makna syahadat dan implementasinya. Menjabarkan ide-ide mendasar dalam Islam, makna shalat, puasa, zakat, dan haji, produk ijtihad (ilmu fiqh), dst.

TANTANGAN DAKWAH DI ERA MODERN

Dewasa ini universalitas agama Islam sedang dalam tantangan besar. Umat Islam tengah diuji identitas keislamannya. Beragamnya produk budaya dalam setiap lapisan waktu telah memperumit jalan dakwah umat islam, baik dakwah di luar tubuh umat Islam maupun dakwah di dalam tubuh umat Islam sendiri. Terlebih saat zaman telah bergantung pada kepentingan kekuasaan dan teknologi, seperti saat ini.

Adapun langkah konkret berdakwah di abad millenium ini sebenarnya—secara garis besar—tidak jauh beda dengan strategi dakwah para wali terdahulu. Hanya saja cakupan dakwah saat ini jauh lebih luas. Artinya dakwah tidak semata dilakukan dalam situasi tatap muka antara Da’i dan Mad’u, tetapi dalam situasi yang tak terbatas pada dimensi ruang dan waktu; melalui berbagai macam media seperti media cetak dan media elektronik. Pengetahuan agama yang mendalam dikombinasikan dengan penguasaan teknologi akan menentukan kualitas dakwah seseorang, inilah yang menjadi catatan!

LALU…?

Pertanyaan penting, lantas mengapa dakwah para wali jauh lebih sukses daripada dakwah muslim modern—di Indonesia—saat ini? Ada satu hal yang menjadi pembeda dalam gerakan dakwah para wali dan gerakan dakwah di era modern; yaitu ukuran kemantapan niat. Tulus semata membela agama Islam karena Allah, ataukah semata dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi?

buku-buku pendukung tulisan ini:

Munir, M. 2003. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana.

Saputra, Wahidin. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Rajawali Press.

Sunyoto, Agus. 2012. Atlas Walisongo. Depok: Pustaka IIMaN

Chodjim, Achmad. 2013. Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat. Jakarta: Serambi.

Baharun, Muhammad. 2012. Islam Idealitas Islam Realitas. Jakarta: Gema Insani Press.

Azra, Azyumardi.1994. Jaringan ulama: Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta: Mizan.

sumber foto: www.google.com

Please like & share:

Karya KBM2: Teladan Dakwah :: Sunan Kudus Tidak Menyembelih Sapi Saat Idul Adha

Posted on

Penulis: fadlil sangaji @fadlilsangaji

Predikat : Juara Ke-3

Ngobrol sama mamas saya yang berasal dari Undaan Kudus, beliau bercerita bagaimana hebatnya Sunan Kudus dalam berdakwah mengajak masyarakat pada jamannya untuk memeluk agama tauhid, Islam. Fatwa Sunan Kudus sampai saat ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Undaan untuk tidak menyembelih sapi pada saat Idul Adha, termasuk di kampung mamas saya. Mengapa bisa begitu??

Wilayah undaan didalem garis putih
Fatwa Sunan Kudus pada saat Idul Adha adalah agar tidak menyembelih sapi sebagai hewan qurban. Ini aneh aneh nya Sunan Kudus memberikan fatwa yang sesuai dengan kondisi pada masyarakat dan pada saat itu. Tidak menyembelih sapi tidak berarti tidak melaksanakan qurban. Sapi yang biasa diqurbankan di daerah lain tidak menjadi hewan qurban di Kasunanan Kudus. Hewan sapi digantikan dengan kerbau.
Pada saat itu kondisi masyarakat Kudus menganut agama Hindu yang men-suci-kan hewan sapi. Sehingga apabila sapi sapi itu menjadi hewan yang diqurbankan maka umat Hindu akan merasa dilecehkan. Jika tetap dilanjutkan menyembelih sapi Sunan Kudus ber ijtihad tujuan dakwah Islam kepada masyarakat tidak akan pernah tercapai.
Hasil dari fatwa tersebut sesuai dengan tujuan diutusnya Sunan Kudus untuk berdakwah di daerah tersebut. Raja kudus yang tadinya beragama Hindu menjadi simpatik dengan cara dakwah Sunan Kudus. Raja mulai mempelajari Islam melalui sunan Kudus kemudian memeluk Islam. Jika Raja sudah memeluk Islam sebagai agama, maka rakyat pun banyak yang mempelajari dan kemudian mengikuti jejak sang raja memeluk agama Islam.
Sampai saat ini pun tidak ada larangan untuk menyembelih sapi di Undaan, silahkan. Tapi masyarakat Islam di daerah tersebut lebih happy dengan fatwa sayyid nya di daerah tersebut.
Nah looh,, kekuasaan apakah yang dimiliki oleh Sunan Kudus sehingga berfatwa seperti itu. Melarang untuk menyembelih sapi sebagai hewan qurban. Apakah terdapat larangan dari Rasulullah saw dan para sahabat yang melarang untuk menyembelih sapi untuk berqurban??
Berikutnya sepanjang sepengetahuan saya yang cekak ini, kerbau tidak ada di tanah arab mekah,, jika Anda menemukan hadist atau cerita kerbau ada di tanah mekah pada jaman Rasulullah, mohon mengisikan komentar dibawah dan saya bersedia merubah isi postingan ini.
Jadi, bolehkah ulama ber-ijtihad menghasilkan fatwa yang hukumnya tidak ada pada jaman Rasulullah… it has been done dude,, oleh Sunan Kudus, dan ijtihad tersebut berhasil menyentuh hati masyarakat untuk mengenal Islam.
Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari sejarah ulama diatas :
1. Islam rahmatan lil alamin.
2. Syariat hukum Islam dapat diterapkan sampai akhir jaman.
3. Syariat hukum Islam dapat diterapkan pada setiap tempat.
4. Syariat hukum Islam dapat diterapkan sesuai dengan kondisi masing masing daerah dengan syarat tidak menyimpang. Islam dapat berakulturasi dengan budaya setempat. Namun Siapa yang tahu tentang syariat hukum Islam tidak lain adalah ulama. Pengetahuan dan ilmu ulama sebagai guru agama dalam kehidupan masyarakat.
Dari poin nomor 4 diatas dapat ditarik kesimpulan lagi :
1. Pentingnya ulama dalam kehidupan kita, sebagai guru dalam membimbing menuju ridha Allah. Apa si tujuan hidup ini?
2. Pentingnya mengkaji agama melalui ulama, karena pewaris Rasulullah saw adalah ulama, sesuai hadits berikut :
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu),
Ulama yang bagaimana yang dapat dijadikan guru untuk mengkaji agama, yang tentu saja nasab keilmuannya sampai kepada Rasulullah saw, artinya ulama tersebut berguru kepada guru yang berguru kepada guru yang gurunya teruss berguru sampai kepada sahabat rasulullah saw. Jadi jika memungkinkan, silakan selidiki nasab ilmu ustad atau guru agama Anda hehehee..
Tips untuk mencari guru agama atau guru kehidupan dapat Anda simak dalam kajian Habib Novel Alaydrus dibawah.. Isi kajian habib Novel memberitahukan cara mencari guru dengan beberapa amalan zikir ulama dahulu, sehingga insyaAllah Allah yang akan mempertemukan Anda dengan ulama yang sesuai.
Masjid dengan arsitektur berakulturasi Islam Hindu dan Jawa,,, *menurut aye si… *sumber foto google image hehe..

Please like & share:

Karya KBM2: Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia

Posted on

Penulis: Ficri Pebriyana @FicriPebriyana

Predikat : Terfavorit Ke-1

Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia – Mendengar kata-kata walisongo teringat lagi saat jaman dulu ketika penyebaran agama Islam di Indonesia, sungguh hebatnya para wali ini memperjuangkan dan menyebarkan agama Islam di tanah air Indonesia hingga menjadikan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim (Islam) terbanyak diseluruh dunia, dan apakah Anda tau apa dan siapa saja tokoh walisongo tersebut ? Mari kita bahas apa dan siapa saja tokoh walisongo yang terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia beserta dakwah walisongo yang sukses mengajarkan Islam di Indonesia.
Apa Itu Walisongo ?
Walisongo adalah sebuah majelis dakwah yang didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim), pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). Arti lain walisongo dalam Bahasa Jawa songo berasal dari kata sanga yang artinya sembilan, jadi bisa diartikan walisongo adalah jumlah wali yang ada sembilan, sedangkan dalam Bahasa Arab songo atau sanga berasal dari kata tsana yang artinya mulia dan bisa diartikan sebagai wali yang mulia.

Era walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara dan digantikan dengan kebudayaan Islam di Indonesia. Walisongomerupakan simbol penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di daerah Jawa. Banya tokoh-tokoh selain para walisongo yang membantu dalam membangun Islam di tanah Jawa ini, namun para walisongo yang paling berperan besar dalam membangun kerajaan Islam ditanah Jawa ini.
Siapa Saja Nama Para Walisongo ?
Ketahuilah bahwa walisongo ini berjumlah sembilan orang, dan para wali ini telah menyebarluaskan Agama Islam dan Dakwah Islam diseluruh tanah air Indonesia, siapa sajakah nama para wali yang telah menyebarkan Agama Islam dan Dakwah Islam di Indonesia ? Berikut adalah nama para wali yang berjumlah sembilan orang :
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

sumber: jamaluddinab.blogspot.com
Sunan Gresik merupakan salah satu tokoh walisongo yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali paling senior diantara para wali lainnya. Sunan Gresik merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14, dan wafat pada tahun 1419. Makamnya berada di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)

sumber: kolom-biografi.blogspot.com
Sunan Ampel merupakan salah satu tokoh walisongo yang paling besar jasanya dalam perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Ampel adalah bapak dari para wali, dari dakwah yang disampaikan oleh Sunan Ampel menghasilkan para pendakwah baru di tanah Jawa. Sunan Ampel merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Ampel lahir di Champa, pada tahun 1401, dan wafat pada tahun 1481 di Demak. Dimakamkan di sebelah barat Mesjid Ampel, Surabaya.
3. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)

sumber: kisahislamiah.blogspot.com
Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan Gresik. Sunan Bonang belajar agama di pesantren ayahnya Ampel Denta, dan beliau berdakwah di Kediri yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, disanan Sunan Bonang mendirikan sebuah Masjid Sangkal Daha. Sunan Bonang merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Bonang lahir di Tuban, pada tahun 1465 M, dan wafat pada tahun 1525 dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.
4. Sunan Drajat (Raden Qasim)

sumber: id.wikipedia.org
Sunan Drajat adalah anak dari Sunan Ampel yang berarti cucu dari Sunan Gresik. Sunan Drajat dikenal dengan kegiatan sosialnya, Sunan Drajat mempelopori penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat berdakwah kepada masyarakat kebanyakan dan beliau menekankan kedermawanan, kerja keras, dan kemakmuran masyarakat. Selain itu, Sunan Drajat juga dikenal sangat cerdas, beliau lebih mengusahakan kesejahteraan rakyatnya lalu setelah itu memberikan pemahaman mengenai ajaran Islam. Sunan Drajat merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Drajat lahir di Ampel, pada tahun 1470 M, dan wafat di Sedayu Gresik pada tahun 1522.
5. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)

sumber: id.wikipedia.org
Sunan Kudus adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Sunan Kudu merupakan keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad Saw. Sunan Kudus lahir di Al-Quds, Palestina, pada tahun 9 September 1400 M, dan wafat pada tahun 5 Mei 1550 M. Sunan Kudus dimakamkan di Masjid Menara Kudus, Kauman, Kudus, Jawa Tengah.
6. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)

sumber: id.wikipedia.org
Sunan Giri merupakan salah satu tokoh walisongo yang mendirikan kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri membangun sebuah Pesantren Giri disebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas. Dalam Bahasa Jawa Giri berarti Gunung, sejak itulah beliau dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri lahir di Blambangan, pada tahun 1442, dan wafat pada tahun 1506 M dimakamkan diatas bukit didaerah Dusun Giri Gajah, Desa Giri, Kecamatan Kebomas.
7. Sunan Kalijaga (Raden Said)

sumber: danyalmim.wordpress.com
Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh walisongo yang sangat lekat dengan Muslim di tanah Jawa, dan beliau terkenal dengan kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke tradisi Jawa. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai salah satu sarana berdakwah, seperti wayang kulit dan tembang suluk. Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1450, dan wafat pada tahun 1513 dimakamkan di Desa Kadilangu, Demak. Makam Sunan Kalijaga masih sering diziarahi banyak orang.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)

sumber: www.parapsikologi.com
Sunan Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Nama Sunan Meria berasal dari salah satu nama gunung yaitu Gunung Muria yang terletak di daerah kota Kudus, Jawa Tengah. Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak. Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah. Sunan Muria lahir pada abad ke-15 M, dan wafat pada tahun 1551 makamnya menyatu dengan Masjid Suna Muria disalah satu puncak Gunung Muria.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

sumber: www.belfend.web.id
Sunan Gunung Jati merupakan salah satu tokoh walisongo yang banyak berjasa menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat, beliau masih keturunan dari Raja Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati berdakwah di Kota Cirebon dan menjadi pemerintahaan kota Cirebon yang sesudahnya menjadi Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati lahir di Kairo, Mesir pada tahun 1448, dan wafat pada tahun 19 September 1568 dimakamkan di Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat.

Lalu Bagaimana Dakwah Walisongo Yang Sukses Ajarkan Islam di Indonesia ?
Dari kesembilan tokoh walisongo diatas, mereka memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat Indonesia khususnya tanah Jawa hingga sukses mengajak masyarakat Indonesia memeluk agama Islam hingga saat ini. Masing-masing tokoh walisongo memiliki cara yang unik dalam penyabaran Islam pada setiap dakwah yang dilakukannya. Dakwah Islam menyebar sampai ke luar Nusantara di China yaitu Katon, Sumatra, dan Kalingga sejak abad I Hijriyah (644-656 M). Dibawah ini merupakan cara dakwah yang disampaikan oleh tiap-tiap tokoh walisongo dalam penyebaran Islam di tanah Jawa :
1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
Dalam berdakwah Sunan Gresik ini menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Qur’an :
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An Nahl:125)
Di tanah Jawa, Sunan Gresik ini tidak hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu saja, tetapi Sunan Gresik juga harus bersabar terhadap mereka yang tidak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat. Sunan Gresik juga meluruskan Iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan sifat yang musyrik. Selain itu Sunan Gresik juga penolong seorang fakir miskin dan dihormati oleh para pangeran dan para sulatan, hal ini menunjukan betapa hebatnya perjuanagn beliau ketika menyebarkan Islam dan menolong masyarakat yang ada didekatnya, bukan hanya kalangan atas yang memiliki banyak harta melainkan juga kepada golongan bawah yaitu kaum fakir miskin. Sunan Gresik ini membantu siapa saja yang ada didekatnya dan berdakwah kepada mereka yang tujuannya menyebarkan Islam di tanah Jawa ini.

Selain itu Sunan Gresik menggunakan wayang sebagai salah satu media penyampaian dakwahnya kepada masyarakat Indonesia, wayang yang digunakan oleh Sunan Gresik merupakan wayang kulit dalam memainkan wayang Sunan Gresik ini memasukan beberapa nilai-nilai moral dan akidah kepada masyarakat setempat. Nila moral dan akidah yang disampaikan melalui pagelaran wayang kulit tersebut tentunya diambil dari nilai-nilai ke Islaman.

Sunan Gresik juga mengajarkan nilai-nilai kesabaran, keadilan, tanggung jawab, dan etika yang baik yang dilakukan dalam kehidupan sehari-harinya dan disampaikan kepada masyarakat melalui dakwahnya. Sehingga dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gresik ini mudah sekali di terima, dipahami, dan dilakukan dalam kehipudan bermasyarakat.
2. Sunan Ampel (Raden Rahmat)
Pada saat itu Sunan Ampel dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati, dari pernikahannya beliau dikaruniai beberapa putra dan putri dianataranya yang menjadi penerus dari Sunan Ampel yaitu Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Pada hari yang sudah ditentukan mereka pergi ke sebuah daerah di Surabaya yang disebut sebagai Ampeldenta.

Dalam perjalanan menuju Surabaya, Sunan Ampel berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya, dakwah yang pertama dilakukan oleh Sunan Ampel ini sangat unik, beliau hanya membuat sebuah kerajinan yang dibentuk menjadi sebuah kipas yang berasal dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan dari anyaman rotan. Kipas yang telah dibuat oleh Sunan Ampel ini dibagikan secara gratis kepada penduduk setempat, para penduduk hanya menukarnya dengan kalimat syahadat.

Penduduk yang sudah menerima kipas itu tentu sangat senang, apalagi setelah mereka mengetahui kipas tersbut bukan semabarang kipas, akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata memiliki daya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit seperti demam dan batuk. Dengan cara ini, banyak sekali orang yang berdatangan kepada Sunan Ampel untuk mendapatkan kipas tersebut. Pada saat inilah Sunan Ampel memperkenalkan keindahan agama Islam kepada masyarakat setempat sesuai dengan kemampuan pemahaman mereka.
3. Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)
Dalam berdakwah Sunan Bonang sering menggunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, alat kesenian itu seperti gamelan yang disebut dengan Bonang. Bonang tersebut merupakan sejenis kuningan yang ditunjolkan pada bagian tengahnya, jika tonjolan tersebut di pukul dengan kayu lunak maka akan timbul suara merdu yang terdengan di telinga penduduk setempat.

Saat itu Sunan Bonang membunyikan alat kesenian tersebut dan diiringi dengan tembang-tembang yang berisikan ajaran Islam. Penduduk setempat yang mendengarkan tembang tersebut penasaran dengan suara ini, setelah itu penduduk setempat masuk kedalam sebuah masjid yang dimana didalamnya ada Sunan Bonang yang sedang membunyikan alat kesenian Bonang tersebut. Dengan cara ini sedikit-sedikit merebut rasa simpati penduduk, dan saat itulah Sunan Bonang menajarkan dan menyebarkan Islam kepada penduduk setempat.
4. Sunan Drajat (Raden Qasim)
Dalam berdakwah menyebarkan agama Islam Sunan Drajat ini mengabil sebuah jalan lurus yang tidak berliku-liku. Agama harus diamalkan dengan lurus dan benar sesuai dengan ajaran Nabi dan tidak ada sedikitpun perubahan atau dicampur dengan adat dan kepercayaan lama. Sunan Drajat juga menggunakan kesenian rakyat sebagai alat dakwahnya.

Dakwah yang disampaikan oleh Sunan Drajat ini bersumber dari, Al Qur’an, Sunnah, Ijma’, Qiyas, Ajaran Guru dan pendidik seperti Sunan Ampel atau orang tuanya, Ajaran dan pemikiran atau paham yang telah tersebar luas di masyarakat, Tradisi di masyarakat setempat yang telah ada yang sesuai ajaran Islam, dan Fatwa Sunan Drajad sendiri.
5. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq)
Sunan Kudus adalah seorang tokoh yang kuat serta gagah berani, dengan keberaniannya itu menjadikan Sunan Kudus sebagai panglima perang. Dalam menyampaikan dakwahnya sunan kudus ini memberikan sebuah ceramah atau bercerita kepada penduduk setempat mengenai sapi seekor sapi.

Pada saat itu Sunan Kudus membeli seekor sapi, sapi tersebut berasal dari India, kemudian sapi itu di ikat didepan rumahnya. Rakyat kudus yang saat itu sebagian besar beragama Hindu penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Sunan Kudus dengan sapi yang dibelinya itu. Dalam pandangan Hindu sapi ini merupakan hewan suci yang katanya merupakan kendaraan yang dipakai oleh para dewa, menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para dewa. Lalu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus ?

Setelah penduduk setempat berdatangan semakin banyak dan berkumpul didepan rumah Sunan Kudus, beliaupun langsung keluar dari dalam rumahnya dan berkata “Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai, saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab di waktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya, hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.”

Mendengat cerita tersebut masyarakat Hindu terkagum-kagum, dan menyangka bahwa Sunan Kudus adalah titisan Dewa Wisnu yang akhirnya penduduk Hindu ini bersedia mendengarkan ceramah dari Sunan Kudus. Pada saat itu Sunan Kudu menceritakan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat surat Al-Baqarah yang artinya Sapi. Penduduk Hindu ini menjadi semakin ingin tahu lebih banyak mengenai ajaran Islam, maka dari itu penduduk Hindu terus berdatangan setiap harinya untuk mendengarkan dakwah dari Sunan Kudus.
6. Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin)
Sunan Giri menyampaikan dakwahnya sambil berlayar, beliau menyiarkan agama Islam kepada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di tanah air Nusantara ini. Penyampaian dakwah Sunan Giri ini menggunakan wayang kulit pada saat peresmian Masjid Demak, dalam peresmian ini Sunan Kalijaga mengusulkan peresmian Masjid Demak diiringi dengan pertunjukan wayang kulit, namun wayang kulit yang digunakan Sunan Kalijaga ini ditolak dan tidak disetujui oleh Sunan Giri, karena wayang kulit yang digunakan oleh Sunan Kalijaga ini berbentuk manusia dan dalam ajaran Islam yang bergambar manusia itu haram hukumnya.

Pada saat itu Sunan Giri mengusulkan agar peresmian Masjid Demak ini diresmikan pada hari jum’at sekaligus melaksanakan shalat jum’at berjamaah. Setelah itu Sunan Kalijaga mengubah wayang kulitnya menjadi berbeda lagi dan tidak bisa dikatakan sebagai gambar manusia lagi, dan akhirnya Sunan Giri ini menjadikan wayang kulit ini sebagai media menyampaikan dakwah.
7. Sunan Kalijaga (Raden Said)
Sunan Kalijaga dalam menyampaikan dakwahnya kepada penduduk setempat tidak jauh beda seperti yang dilakukan oleh sahabat sekaligus gurunya. Beliau menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk memudahkan dalam penyampaian dakwah kepada penduduk setempat. Sunan Kalijaga merupakan wali paling kreatif dalam menerapkan ajaran Islam kepada masyarakat. Seni pewayangan yang semula kental dengan warna Hindu-India, oleh Sunan Kalijaga diubah menjadi sendi yang penuh dengan nuasa Islami.

Sunan Kalijaga juga mahir dalam mengolah kesenian lokal, sehingga menjadi sebuah hiburan yang sangat menarik untuk ditonton oleh penduduk setempat. Pada saat itulah Sunan Kalijaga ini menyampaikan dakwah yang bernuasa Islami ini kepada penduduk setempat melalui media kesenian.
8. Sunan Muria (Raden Umar Said)
Dalam penyampaian dakwahnya Sunan Muria ini menggunakan cara yang halus, dakwah yang Sunan Muria ini disampaikan lebih utamanya kepada Masyarakat Pedesaan, Pedagang, Nelayan, dan Rakyat Jelata. Beliaulah satu-satunya wali yang mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Pada saat itu Sunan Muria membangun dilereng gunung Muria, dan karena itulah gelar Sunan Muria diberikan oleh penduduk setempat.
9. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
Dalam menyapaikan dakwahnya Sunan Gunung Jati ini menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Beliau mencoba mendekati masyarakat dengan membangun jalan yang menghubungkan antara wilayah satu dengan yang lainnya. Dalam dakwahnya beliau tidak bekerja sendirian, beliau ikut bermusyawarah di Masjid Demak dengan tokoh wali lainnya, bahkan beliau juga membantu dalam pembangunan Masjid Demak tersebut.

Pada tahun 1479 beliau berkunjung ke China, di China Sunan Gunung Jati ini membuka praktek pengobatan, dan banyak masyarakat China yang datang untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, pada kesempatan inilah Sunan Gunung Jati menyampaikan dakwahnya kepada penduduk China.

Bagaimana Bentuk Penyebaran Islam Oleh Walisongo ?
Bentuk penyebaran Islam yang dilakukan oleh walisongo dibagi menjadi bebrapa bagian, seperti Perdagangan, Pendidikan, Pernikahan, Dakwah, Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan. Untuk pembahasannya silahkan simak dibawah ini :
1. Perdagangan
Dalam hal penyebaran agama Islam, perdagangan merupakan salah satu bentuk dari penyebaran Islam di wilayah Nusantara ini yang dilakukan oleh para walisongo. Dalam penyebarannya, pedagang Islam menjual produknya kepada pedagang lainnya atau menjualnya kepada penduduk didaerah itu sendiri. Pada saat berdagan, orang-orang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat saling berhubungan atau saling berinteraksi dengan penduduk Indonesia. Saat itulah mereka berhasil menarik penduduk setempat untuk menganut agama Islam.
2. Pendidikan
Penyebaran agama Islam yang melalui pendidikan yaitu dengan melalui lembaga pesantren atau pondok pesantren, pesantren ini merupakan perguruan khusus agama Islam. Penyebaran agam Islam melalui pondok pesantren ini merupakan penyebaran melalui perguruan Islam. Perguruan pesantren ini mendidik para santri dari berbagai macam daerah, setelah tamat mereka mendirikan pesantren baru di masing-masing daerahnya dengan begitu agama Islam berkembang dan menyebar ke seluruh Indonesia dengan cepat.
3. Pernikahan
Jika seseorang yang beragama Islam menikah dengan seseorang dari agama lain, maka diharuskan agama lain masuk menjadi agama Islam. Contohnya, seorang pria dari bangsa Arab dan merupakan raja, menikah dengan seorang wanita Indonesia yang beragama Islam, maka si pria tersebut diajak masuk Islam. Jika seorang raja masuk Islam maka prajuritnya akan mengikuti rajanya. Dengan ini perkembangan Islam sangat cepat.
4. Dakwah
Dakwah merupakan salah satu penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para walisongo di daerah Jawa, menyebarkan agama Islam melalui dakwah juga sering dilakukan oleh para juru dakwah (mubaligh), dengan dakwah dapat mengajak penduduk untuk masuk ke agama Islam dengan cepat.
5. Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan
Akulturasi merupakan gabungan dari dua kebudayaan yang ada didalam suatu lingkungan masyarakat, dalam penyebaran agama Islam akulturasi ini terjadi didaerah yang memiliki adat tertentu. Biasanya akulturasi antara ajaran Islam dan kebudayaan masyarakat ini terjadi pada setiap doa-doa upacara adat, kelahiran, perkawinan dan lain sebagainya tergantung dari adat masing-masing daerah.

Dari kelima bentuk penyebaran agama Islam yang diatas, hingga saat ini masih kental dilakukan oleh masyarakat di wilayah Indonesia, dan tentunya kelima bentuk penyebaran agama Islam tersebut bertahan hingga samapai saat ini dan tidak pernah ada perubahan sama sekali, sunggguh besar perjuangan walisongo untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Indonesia khususnya di pulau Jawa. Hingga menjadikan negara Indonesia menjadi negara paling banyak yang penduduknya beragama Islam.

Sekian artikel mengenai Dakwah Walisongo Sukses Ajarkan Islam di Indonesia. Kurang lebihnya mohon maaf.
Semoga Bermanfaat…

Please like & share:

Karya KBM2: Dakwah Ala Sunan Kalijaga

Posted on

Penulis: edo setya @edosetya

Predikat : Terfavorit Ke-2

Lagi gan, masih live posting dari Tegal. Kali ini ane mau nge-bahas tentang metode dakwah dari salah satu tokoh Islam favorit ane sambil ditemenin sama sebotol teh dan setumpuk berkas……..

Yup, sesuai judul gan yaitu Sunan Kalijaga. Terlahir dengan nama Raden Said, Sunan Kalijaga muda sudah mengerti ketimpangan sosial di sekitar lingkungannya. Perbedaan ekonomi yang sangat jauh antara si miskin dan si kaya. Inisiatif pribadi, Raden Said menjadi perampok orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan ke orang-orang miskin. Robin Hood-nya Indonesia sih kalo ane bilang. Ato mungkin Robin Hood lah yang meniru Raden Said?

Kiri Sunan Kalijaga, kanan Robin Hood
Ane beberin dikit cerita awal mulanya Raden Said bergelar Sunan Kalijaga. Bertemu dengan kakek-kakek yang mempunyai tongkat emas dan ingin merampok tongkat tersebut dan dibagikan kepada orang-orang miskin. Namun saat hendak merampok, Raden Said dinasihati bahwa cara beliau dalam membantu orang adalah salah. Allah hanya menerima amal dari perbuatan yang baik. Akhirnya Raden Said sadar bahwa cara yang beliau tempuh selama ini adalah salah. Beliau lalu bertanya kepada kakek tersebut dan menanyakan namanya.
namaku Sunan Bonang anak muda…!
Raden Said terkejut dan langsung meminta Sunan Bonang untuk menjadi gurunya. Setelah lulus Raden Said mengganti namanya menjadi Sunan Kalijaga (jreng jreng jreeeeng).
Saat itu pengaruh Kerajaan Majapahit sangatlah kental. Sebagian penganut agama di Pulau Jawa mayoritas adalah agama Hindu. Dalam metode dakwahnya, Sunan Kalijaga menyebarkan agama dengan penuh kelembutan. Beliau memakai kebudayaan setempat untuk mengajarkan Agama Islam. Salah satunya dengan wayang dan Perang Bharatayudha-nya.

bhenco.wordpress.com
Perang Bharatayudha mengisahkan tentang Keluarga Kurawa yang berjumlah seratus orang dan berwatak jahat melawan Keluarga Pandhawa yang berjumlah lima orang dan berwatak baik. Tapi ini bukan di family 100 ya, bukan. Ini perang. This is a war! Absolutely war! Jadi jangan samakan dengan top survei ya. Hehehe. Pertempuran ini dimenangkan oleh Keluarga Pandhawa. Logikanya, mengapa lima lawan seratus bisa menang lima? Maksud Sunan Kalijaga adalah berapapun jumlah kejahatan di dunia ini dapat ditaklukan dengan kebaikan berapapun jumlahnya. Sunan Kalijaga mengajak masyarakat yang menonton pagelaran ini supaya berbuat baik walaupun dimulai dengan yang sedikit. Di sela-sela cerita beliau menyelipkan macapat yaitu lagu khas Jawa dengan berisi ayat-ayat Al-Quran.
Tau Prabu Yudhistira? Dia anak tertua dari Pandawa. Dikisahkan mempunyai Jimat Kalimusada yang jika diperdengarkan, maka musuhnya akan langsung mati. Taukah kamu isi dari Jimat tersebut? Yup, dua kalimat Syahadat. Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa dua kalimat Syahadat dapat menghindarkan kita dari keburukan.

Mengapa Sunan kalijaga memilih metode dakwah dengan jalur seni kebudayaan lokal? Supaya masyarakat sekitar tidak kaget saat. Masyarakat pada umumnya tidak senang kepada orang yang langsung mengubah kebudayaan setempat oleh karenanya, Sunan kalijaga memasukkan unsur Islam dikesenian setempat supaya masyarakat bisa menerima ajaran Islam dengan perdamaian.

Nah lalu apa hubungannya metode dakwah Sunan Kalijaga dengan masa sekarang? Saat ini adalah masa Internet mendunia. Smartphone, tablet, dan modem sudah gampang di cari dimana-mana. Istilahnya Dunia ada di genggaman. Karena kebudayaan sekarang seperti itu maka metode dakwah Sunan Kalijaga bisa di praktekan misalnya menulis blog artikel tentang Islam, membuat video tentang teladan Rasul dan diunggah di Youtube. Serta menulis dan men-share informasi informasi lainnya seperti di www.cyberdakwah.com (Media Islam Terdepan) atau www.muslimedianews.com (Voice of Moslem) atau www.nu.or.id (Website resmi Nahdlatul Ulama) sehingga umat bisa mengakses situs tersebut kapanpun dan dimanapun.

Menurut ane, itu keren. Berdakwah dengan Internet seperti www.habiblutfi.net (Dakwah teduh dan cinta tanah air) atau bahkan bisa streaming seperti disini www.streamingislami.com (Streaming dakwah Islam terlengkap) bisa menambah keimanan juga loh. Nunggu bis jemputan, nunggu istri selesai masak atau nunggu pesenan makanan datang, bisa tuh sambil streaming. Dengan mengikuti metode dan teladan dari Sunan Kalijaga insya Allah dakwah kita akan diterima oleh masyarakat dan dapat menata kehidupan khususnya di Negara Republik Indonesia.

Please like & share:

Karya KBM2: Dakwah Brilian Sunan Kalijaga

Posted on

Penulis: Prima @nisaprimaa

Predikat : Terfavorit Ke-3

Ketika saya masih kecil, sekitar umur 8-9 tahun, saya dibelikan sebuah buku oleh bapak, yang berjudul “Kisah Walisongo, Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa”. Ya, waktu itu sedang senggang karena liburan sekolah. Jujur, saya sudah lupa sama sekali buku itu beli di mana. Yang saya ingat, saya memilih sendiri buku itu. Tadinya saya memilih buku cerita biasa, tetapi atas rekomendasi bapak, akhirnya saya memilih buku tersebut.

Di sini, saya membaca kisah Sembilan Wali Songo yang merupakan tokoh-tokoh hebat yang sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Dari kesembilan tokoh tersebut, salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah kisah tentang Sunan Kalijaga yang juga merupakan murid dari tokoh Wali Songo yang lain, Sunan Bonang. Mau tahu bagaimana menariknya kisah mengenai Sunan Kalijaga? Yuk, kita simak sama-sama! 🙂

1. Pertolongan Rahasia
Menurut buku Babat Tanah Jawa, nama asli beliau adalah Raden Said atau Jaka Setiya. Orang menyebutnya sebagai Sunan Kalijaga. Raden Said adalah putra seorang Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Menurut catatan silsilah, Raden Said ini merupakan keturunan Adipati Tuban yang pertama, yaitu Rangga Lawe atau Aria Adikara yang kemudian berputra Aria Teja I yang berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta, ayah Raden Said.
Aria Teja I dan II ini masih memeluk agama Hindu, sedangkan Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah memeluk agama Islam. Maka sudah selayaknya jika sejak kecil Raden Said sudah mendapat gemblengan dan didikan ilmu-ilmu Islam oleh orang tua beliau yang menyerahkannya kepada guru agama Kadipaten.
Sedari kecil, Raden Said ini sudah terlihat bahwa dia adalah calon yang berjiwa luhur. Dia adalah seorang yang selalu taat kepada agama dan berbakti kepada kedua orang tua serta kepada orang-orang lemah. Dia mempunyai sifat dan sikap yang welas asih.
Maka dari itulah beliau merasa iba dan tak sampai hati melihat rakyatnya banyak yang menderita. Memang pada masa itu, Majapahit sedang mengalami kemunduran akibat perang saudara yang berlarut-larut. Sifat para pembesar banyak yang tidak normal lagi, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan kesempitan pemerintahan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.
Rakyat yang sudah banyak menjadi korban, masih juga diperas dengan pembayaran pajak yang sangat tinggi. padahal penyetoran ke pemerintah pusat tidaklah seberapa. Bahkan seringkali pajak upeti tersebut tertahan di rumah pejabat itu sendiri. Apalagi sewaktu musim kemarau panjang, tentu saja tidak ada hasil panen, maka betapa rakyat jelata sewaktu itu semakin menderita. Raden Said tahu persis akan situasi dan kondisi rakyat di kala itu karena beliau lebih suka bergaul dengan masyarakat kebanyakan, walaupun beliau seorang putra bangsawan.
Pada suatu hari, Raden Said mengajukan pertanyaan kepada Ramandanya tentang keadaan rakyat Tuban, dengan maksud agar Ramandanya mau berbuat sesuatu untuk menghilangkan penderitaan rakyat. Rupanya, apa yang diaturkan oleh Raden Said itu bertentangan dengan hati nurani Ramandanya. Merah padam wajah Ramandanya menahan amarah, seraya berkata, “Said, kamu masih kanak-kanak, jangan terlalu mencampuri urusan kepemerintahan! Ketahuilah…. Bahwa Ramandamu ini hanyalah pejabat bawahan, tidak dapat menolak tugas yang dibebankan!”
Raden Said memaklumi perasaan ayahnya, maka beliau pun tidak berani berkata-kata lagi. Sesaat kemudian, Raden Said menunduk dan meminta diri dari hadapan Ramandanya yang masih tampak kesal.
Setiap malam, Raden Said biasanya memanfaatkan waktu dengan membaca Al Quran di rumah. Namun, setelah percakapan dengan Ramandanya, beliau Nampak sering keluar rumah. Saat-saat itulah beliau menyibukkan diri membongkar gudang kadipaten untuk mengambil bahan makanan dan dibagi-bagikan kepada rakyat yang dirasanya pantas untuk diberi bagian. Dengan cara diam-diam pada malam hari itulah Raden Said menaruh bahan makanan di muka pintu depan rumah-rumah rakyat. Demikianlah siasat Raden said sehingga rakyat tidak pernah tahu siapa orang yang menaruh bahan makanan di muka pintu rumah mereka. Hal ini tentu saja membuat rakyat menjadi terkejut sekaligus juga merasa senang karena mereka memang membutuhkan barang-barang tersebut.
2. Raden Said Diusir Orang Tuanya
Malam-malam berikutnya, seperti biasa Raden Said tetap melaksanakan kegiatannya mengambil barang-barang gudang untuk dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin. Penjaga gudang kadipaten menjadi terkejut dan heran, setelah mengetahui barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat Kerajaan Majapahit setiap hari semakin berkurang, padahal tidak pernah diambil.
Penjaga gudang itu berpendapat, mungkin ada pencuri yang tidak diketahui masuk ke gudang itu. Dia berencana melaporkan kejadian itu kepada sang adipati, tetapi masih berpikir dua kali. Jangan-jangan malah dia sendiri yang malah tertuduh sebagai pencurinya, karena tidak ada bukti siapa pencurinya.
Pada suatu malam dengan sengaja penjaga gudang mengintai dari kejauhan untuk mengetahui siapa gerangan si pencuri tersebut. Penjaga gudang itu sangat terkejut setelah tahu bahwa si pencuri adalah putra Adipati sendiri, yaitu Raden Said.
Awalnya penjaga gudang itu merasa kebingungan, tetapi apa boleh buat, daripada dia sendiri yang mendapat hukuman dari Adipati, maka terpaksa dia menangkap Raden Said.
Raden Said beserta barang-barang bukti yang dibawanya, dihadapkan kepada Adipati. Tentu saja sang Adipati sangat marah melihat anaknya mencoreng nama keluarga dengan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan. Raden Said mendapat hukuman cambuk dengan rotan sebanyak seratus kali di kedua tangannya.
Setelah bebas dari hukuman, Raden Said masih juga belum kapok. Kegiatannya malam hari tersebut dilanjutkannya di luar lingkungan istana kadipaten. Beliau berpakaian serba hitam dan memakai topeng khusus di wajahnya, lalu merampok orang-orang kaya di kadipaten. Yang menjadi incarannya adalah orang kaya bakhil dan pejabat yang curang.
Hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Dan tidak seberapa lama berjalan, akhirnya kegiatan Raden Said diketahui oleh seorang pimpinan perampok lain. Maka pimpinan perampok itu meniru Raden Said dalam berpakain serba hitam dan bertopeng persis miik Raden Said.
Pada suatu malam terdengar jeritan para penduduka yang rumahnya didatangi kawanan perampok. Mendengar suara jeritan itu, dengan cepat Raden Said meloncat mendatangi tempat kejadian tersebut dengan maksud untuk menolong. Melihat kedatangan Raden Said yang bertopeng, kawan perampok segera bertebaran melarikan diri.
Ketika Raden Said mendobrak pintu sebuah rumah, di satu kamar nampak seorang berpakaian seperti dirinya dan bertopeng yang serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya ia baru saja selesai memperkosa seorang gadis di dalam kamar itu.
Sebelum Raden Said bergerak untuk menangkapnya, pimpinan perampok itupun sudah lebih dahulu kabur. Saat itu pula pemuda dari kampong lain mengepung rumah tersebut dan gadis yang diperkosa perampok tadi telah bangkit dan memegang tangan Raden Said dengan eratnya. Raden Said yang sedang dalam kebingungan itu ditangkap oleh pemuda dan dibawa ke rumah kepala desa setempat.
Setelah mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, kepala desa tiba-tiba bengong karena terkejut dan tidak percaya. Ternyata perampok itu adalah Raden Said putra adipati junjungannya sendiri. Seketika itu pula masyarakat menjadi rebut karena perampok dan pemerkosa itu putra adipatinya sendiri.
Kepala desa menjadi serba salah, terpaksa menutup-nutupi cela junjungannya. Tanpa diketahui masyarakat, kepala desa itu membawa Raden Said ke istana kadipaten. Mengetahui hal itu, Adipati menjadi lebih marah kepada Raden Said, anaknya sendiri. Dia tidak boleh kembali ke istana kadipaten sebelum dapat menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten dengan ayat-ayat Al Quran yang sering dibacanya.
Mendengar kata-kata orang tuanya, Raden Said hatinya menjadi hancur luluh karena harus menerima akibat yang tak pernah disangka-sangkanya. Dengan wajah menunduk, Raden Said meninggalkan istana Kadipaten Tuban dan pergi mengembara tanpa arah tujuan.
3. Bertemunya Raden Said dengan Sunan Bonang
Raden Said yang diusir oleh orang tuanya itu kini terus berjalan dan berjalan mengembara sehingga pada akhirnya sampai di hutan Jati Wangi. Di hutan itulah beliau memutuskan untuk tinggal dan meneruskan kegiatannya yaitu merampok para hartawan yang kikir dan hasil rampokan tersebut tidak dimakan atau untuk bersenang-senang, melainkan dibagi-bagikan kepada fakir miskin di desa sekitar hutan itu.
Selama melaksanakan perbuatannya tersebut, Raden Said (Brandal Lokajaya) melihat seorang lelaki tua berjubah putih sedang berjalan dengan tongkat di hutan yang dikuasainya. Orang tua bertongkat itu adalah Sunan Bonang. Sedangkan Raden Said sendiri belum mengetahui tentang Sunan Bonang. Karena itulah, Raden Said bertekad untuk menjadikan Sunan Bonang sebagai mangsanya. Raden Said dibuat penasaran dengan gagang tongkatnya yang Nampak berkilauan. Dalam hati, Raden Said yakin bahwa gagang tongkat itu pasti terbuat dari emas.
Setelah orang berjubah putih itu semakin dekat jalannya, dengan kepandaian ilmu silat Raden Saidmelompat menghalangi perjalanannya seraya berkata, “Hai orang tua Bangka! Kalau engkau masih sayang nyawamu, serahkanlah tongkat itu kepadaku!”
Orang berjubah putih itu tersenyum arif dan ramah tamah. Dengan suara lembut, dia berkata, ”Anak muda, bergunakah tongkat ini bagimu, sehingga Engkau nampaknya sungguh-sungguh memintanya?”
“Tentu saja berguna bagiku,” sahut Raden Said.
“Untuk apa orang semuda dirimu akan menggunakan tongkat?,” tanya orang berjubah putih.
Raden Said menyahut dengan geram, “Hai orang tua jangan banyak berbelit! Cepat serahkan saja tongkatmu yang bergagang emas itu, agar dapat segera kujual dan uangnya kubagi-bagikan kepada fakir miskin.”
Mendengar perkataan Raden Said itu, orang berjubah putih alias Sunan Bonang tadi menjawab, “ Niatmu memang baik sekali, Engkau hendak menolong orang-orang fakir miskin. Tetapi sayang sekali jalan yang Engkau tempuh sangat bertentangan dengan kebaikan niatmu itu sendiri. Kalau benar-benar Engkau ingin menolong fakir miskin, janganlah bersedekah dari hasil yang haram. Karena Allah tidak akan menerima sedekah seseorang dari hasil yang haram, maka sia-sialah amal kebaikanmu itu.”
Lain halnya dengan Raden Said yang mata, hati, dan angan-angannya sudah terpaku oleh gemerlapnya emas, ucapan-ucapan Sunan Bonang yang berupa nasihat itu sama sekali tidak menyentuh jiwanya.
Karena itulah tiba-tiba saja Raden Said segera merebut tongkat tadi dan Sunan Bonang pun jatuh tersungkur ke tanah. Dengan seksama, Raden Said mengamati tongkat itu. Gagang tongkat yang tadinya tampak terbuat dari emas, ternyata berubah sebagaimana aslinya yaitu hanya kayu biasa.
Pelan-pelan Sunan Bonang bangun dari tempatnya terjatuh. Dengan menitikkan air mata, ia berdiri kembali setelah dibantu oleh Raden Said. Raden Said tertegun keheranan dan tiba-tiba berkata, “Jangan khawatir Pak Tua, ini tongkatmu kukembalikan.”
“Saya tidak menangisi tongkat yang Engkau ambil itu, tetapi lihatlah di genggaman tanganku ini terdapat makhluk Allah yang tak bersalah berupa rumput,” jawab Sunan Bonang sambil menunjukkan rumput dalam genggamannya. “Aku menyesal dan merasa berdosa, tanpa sengaja berbuat dzalim karena mencabut rumput ini dengan sia-sia, kecuali kuperuntukkan makanan ternak, akan terbebas dari dosa,” tambahnya.
Rupanya Raden Said mulai menyadari. Dia mendengarkan ucapan-ucapan Sunan Bonang dengan menundukkan kepala.
“Kenapa Engkau berlaku sekejam ini terhadap sesama?,” Tanya Sunan Bonang lagi.
“Maafkan aku Pak Tua, semua itu kulakukan karena menginginkan harta dan kubagi-bagikan kepada fakir miskin,” sahut Raden Said.
“Kalau benar-benar demikian keinginanmu, itulah harta halal dan ambillah semuanya!,” ujar Sunan Bonang sambil menunjuk ke sebuah pohon aren di dekatnya.
Seketika itu juga, batang, daun, dan buah aren tadi berubah menjadi emas. Semuanya tampak gemerlap keemas-emasan.
Melihat itu, Raden Said tercengang, kemudian mendekati dan memanjatnya. Baru sampai di pertengahan dia memanjat, tiba-tiba buah-buah aren yang berwujud emas itupun berguguran mengenai kepalanya. Raden Said pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Sesaat setelah Raden Said sadar dari pingsannya, barulah ia mengerti bahwa orang berjubah putih yang baru saja dihadapinya itu bukannya orang sembarangan, melainkan orang berilmu tinggi dari golongan ulama’ atau Waliyullah.
Saat itu pula Raden Said berubah ingin berguru kepadanya. Pandangannya tertuju di sekitar tempat itu. Namun, orang tua yang berjubah putih tadi sudah tidak nampak lagi. Maka dari itulah Raden Said segera bangkit dan kebingungan berusaha untuk mencari di mana orang itu berada. Tak lama kemudian dari kejauhan nampaklah orang berjubah putih tadi dalam keadaan berjalan dengan tenangnya.
Dengan susah payah dan napas yang kembang kempis, Raden Said baru dapat menyusul Sunan Bonang ketika sampai di tepian sungai. Di hadapan Sunan Bonang, Raden Said bertekuk lutut seraya memohon maaf dan menyatakan ingin menjadi muridnya.
“Menjadi muridku?,” Tanya Sunan Bonang. “Apa yang dapat kau harapkan dariku? Apakah Engkau hanya ingin belajar menciptakan emas?”
“Tidak, saya benar-benar ingin belajar dan memperdalam ilmu-ilmu agama kepada Tuan,” jawab Raden Said.
Sunan Bonang terdiam sambil menatap wajah Raden Said untuk mengetahui kebenarannya dan kemudian menarik napas panjang. “Baiklah. Kalau Engkau sungguh-sungguh tungguilah tongkatku ini sampai aku kembali kesini,” kata Sunan Bonang seraya menancapkan tongkatnya di tepi sungai itu.
Raden Said menyatakan kesanggupannya, dan Sunan Bonang pun melanjutkan perjalanannya. Raden Said yang duduk bersila menghadap tongkat itu. Kedua matanya terebelalak keheranan karena menyaksikan Sunan Bonang menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air seolah-olah berjalan di atas tanah saja. Melihat semua kenyataan itu, Raden Said semakin mantap tekadnya untuk berguru kepada Sunan Bonang.
Pada satu riwayat diceritakan bahwa Sunan Bonang terlupa kepada Raden Said yang sedang menunggui tongkatnya di tepi sungai itu. Setelah beberapa bulan kemudian, Sunan Bonang baru teringat kembali pada Raden Said. Maka Sunan Bonang pun ingin segera memastikan apakah Raden Said benar-benar setia menunggu tongkatnya atau tidak.
Sunan Bonang terkejut menyaksikan hal yang tak pernah disangka-sangkanya itu. Ternyata Raden Said benar-benar setia menunggui tongkatnya. Karena sudah berbulan-bulan, bahkan ada yang mengatakan bertahun-tahun, Raden Said duduk bersila seperti bersemedi, sampai banyak akar semak belukar yang menjalari tubuhnya.
Karena tidak dapat dibangunkan dengan cara biasa, maka Sunan Bonang mengumandangkan adzan di telinga Raden Said. Setelah Raden Said terbangun, kemudian ia dibawa ke tempat tinggal Sunan Bonang di Tuban.
Di sanalah Raden Said digembleng dan diberi berbagai macam ilmu pengetahuan agama oleh Sunan Bonang. Dengan kesungguhan yang didorong keluhuran cita-citanya, akhirnya Raden Said dapat mewarisi seluruh ilmu dari Sunan Bonang.
Setelah dianggap cukup belajar di situ, Raden Said dianjurkan oleh Sunan Bonang agar meneruskan pelajarannya ke Sunan Ampel. Lalu kemudian dilanjutkan belajar lagi kepada Syaikh Sutabaris di Palembang.
Dengan demikian, akhirnya Raden Said meraih keberhasilan yang memuaskan. Beliau menjadi ulama besar dan termasuk anggota Wali Sanga. Di dalam Wali Sanga, beliau banyak disebut “Sunan Kalijaga” artinya orang yang menjaga kali (Jawa: sungai).
-o-o-o-
Setelah membaca kisah tentang Sunan Kalijaga ini saya kagum dengan pengaruh beliau yang sangat luar biasa di tanah Jawa. Beliau adalah ulama jenius yang strategi dakwahnya sangat matang supaya benar-benar diterima masyarakat Jawa. Beliau merupakan salah satu anggota Wali Songo yang lihai dalam menyelami kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, beliau sangat akrab dengan orang di segala lapisan masyarakat, dari kalangan atas sampai kalangan rakyat jelata. Tak hanya itu, beliau juga lebih suka memposisikan diri sebagai rakyat jelata yang ditunjukkan dengan pakaian yang sederhana daripada jubah.
Beliau juga merupakan orang yang amat merakyat baik dari pergaulan sehari-hari maupun dari cara berdakwahnya. Jika sebagian besar para wali berdakwah dengan mengajar di pondok pesantren yang mereka dirikan sendiri, maka Sunan Kalijaga lebih suka berdakwah dengan berkeliling ke daerah-daerah. Oleh karena itu, beliau terkenal dengan nama Syaikh Malaya yang berarti mubaligh yang menyiarkan agama dengan cara mengembara.
Beliau benar-benar memanfaatkan kegemaran masyarakat sebagai media dakwahnya, antara lain wayang kulit, tembang, dan gamelan. Kesenian tersebut diisi dengan muatan Islam sehingga lebih mengena di masyarakat dan memudahkannya untuk mengajak mereka untuk masuk ke agama Islam. Dari daerah satu ke daerah lainnya, Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit dengan mengenalkan dirinya dengan memakai nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat, beliau memperkenalkan diri sebagai Ki Sida Brangti. Di daerah Tegal, beliau terkenal dengan julukan Ki Dalang Bengkok sedangkan di Purbalingga, masyarakat memanggilnya Ki Dalang Kumendung. Ini merupakan siasat Sunan Kalijaga, supaya lebih dekat dengan masyarakat sebagai bagian dari mereka.
Dalam berdakwah, beliau tidak serta-merta menentang kepercayaan lama dan adat istiadat masyarakat. Beliau melakukan pendekatan kepada masyarakat awam dengan cara yang halus sehingga dengan senang hati mereka menerima kehadirannya. Kesenian masyarakat yang dimanfaatkan sebagai alat berdakwan ternyata membawa keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa saat itu hampir seluruhnya bisa menerima dakwahnya untuk dapat mengenal Islam.
Beliau adalah mubaligh sekaligus ahli seni, ahli filsafat, sekaligus budayawan yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban negeri Indonesia sampai saat ini. Beliau menciptakan berbagai macam karya dan kesenian Islami yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat dan bahkan sudah diakui sebagai warisan budaya Indonesia, seperti:
1. Dalam seni berpakaian, beliau adalah orang pertama yang merupakan pencipta baju taqwa yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar menyamping dan dilengkapi dengan rangkaian keris dan lain sebagainya. Sampai sekarang baju ini masih tetap digemari oleh masyarakat tanah Jawa.
2. Dalam seni suara, beliau adalah pencipta tembang Dandang Gula dan Dang Gula Semarangan.
3. Beliau lah yang menciptakan seni ukir bermotif dedaunan berbeda dengan jaman sebelumnya di mana seni ukir hanya bermotifkan manusia dan binatang saja. Kemudian beliau juga menciptakan gayor (tempat penggantungan gamelan, dan bentuk ornament lainnya yang sekarang mendapat julukan sebagai seni ukir nasional.
4. Beliau merupakan orang yang pertama kali mempunyai gagasan untuk menciptakan bedug di masjid untuk memanggil orang untuk salat berjamaah.

5. Beliau adalah pemrakarsa Grebeg Maulud, yang pada mulanya terlaksana saat pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi S.A.W.

6. Sunan Kalijagalah yang menciptakan Gong Sekaten, yang berarti Gong Syahadataini, yang bermakna Dua Kalimat Syahadat. Gong Sekaten ini mempunyai falsafah di mana suara setiap alat gamelan yang menyatu diartikan: “Di sana…, di sini…., di situ mumpung masih ada waktu, yaitu mumpung masih diberi kesempatan hidup, berkumpullah dan cepat-cepat masuk agama Islam, kalau sudah mati biar tidak termasuk orang yang merugi.”
7. Bentuk wayang sebelum Sunan Kalijaga adalah bergambar manusia. Karena gambar tersebut haram hukumnya, maka Sunan Kalijaga membuat kreasi baru. Bentuk wayang diubah mirip karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang. Satu lukisan untuk satu wayang, sedangkan di jaman sebelumnya, satu lukisan untuk satu adegan.

Karena beliau sangat banyak peranannya dalam dunia dakwah di tanah Jawa ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa beliau adalah salah satu ulama besar yang pernah ada. Beliau selalu memikirkan strategi dakwah yang pas untuk dikenalkan ke masyarakat sehingga mereka mau menerimanya dengan baik. Hal ini menjadi contoh yang baik bagi ulama-ulama masa kini untuk memikirkan bagaimana cara dakwah yang brilian namun tepat agar masyarakat jaman sekarang mau menerimanya. Beliau merupakan sosok teladan bagi umat Islam di Jawa agar tetap merendah, menolong sesama manusia yang membutuhkan dengan ikhlas, dan terus berkarya demi kemajuan bangsa. Yuk, sebagai generasi muda Islam, mari kita senantiasa melestarikan karya-karya beliau sehingga tidak punah tergerus jaman dan bisa menjadikan negara ini menjadi Indonesia Mercusuar Dunia terutama dalam hal dakwah Islam. Semoga dengan karya beliau yang tetap terjaga akan membuat umat Islam di Jawa selalu istiqomah menjadi golongan Ahlussunnah wal jamaah. Dan, semoga beliau selalu dalam lindungan Allah, dan semoga hasil-hasil karyanya tetap menjadi amal jariyah. Amin.

keywords: Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia
sumber:
Syamsuri, Baidlowi. 1995. Kisah WaliSongo, Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Surabaya: Appollo.

Please like & share:

Karya KBM2: Kisah Dakwah Walisongo: Awal Dari Sebuah Akhir

Posted on

Penulis: bagustris @bagus_tris

Predikat : Terfavorit Ke-4

Kisah dakwah walisongo tidak hanya mengubah tatanan hidup Indonesia, tapi mengubah tatanan dunia. Indonesia yang awalnya negara Hindu-Budha, beralih tidak hanya negara menjadi negara mayoritas muslim, namun menjadi negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Bandingkan hal ini dengan China, yang lebih dulu mengenal Islam, atau negara-negara berbasis umat hindu-budha yang lain seperti Myanmar, Nepal, Korea atau Jepang. Kisah dakwah Islam di negara-negara tersebut cenderung stagnan dan tidak mengalami peningkatan dakwah berarti. Malah di beberapa kasus, terjadi penolakan dan pertikaian antara masyarakat lokal dengan para da’i dan umat Islam.

Masjid Demak Peninggalan Walisongo (Sumber: Wikipedia)

Tulisan ini mengupas kisah dakwah walisongo yang mengubah tatanan dunia. Dakwah walisongo merupakan awal tonggak keberhasilan dakwah di pulau Jawa dan tanah air, sekaligus mengakhiri dominasi kerajaan – kerajaan Hindu – Budha di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai mercusuar dunia. Dakwah wali songo tidak bersifat destruktif, merusak dan memaksa pemeluk agama sebelumnya untuk memeluk islam, tapi lebih pada pendekatan secara harmonis kultural ke sendi-sendi kehidupan masyarakat.
“Walisongo”
Banyak yang menyangsikan kebenaran kisah dakwah walisongo. Namun, adanya makam para wali tersebut merupakan bukti sejarah yang kuat. Di sisi lain, keberadaan para wali tersebut juga disebutkan dalam babad tanah jawi, kitab rujukan sejarah jawa yang berisi sejarah kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di Jawa hingga masuknya agama Islam.

Babad Tanah Jawi, salah satu manuskrip yang menyebutkan adanya ‘walisongo’

Meskipun ada perdebatan darimana sebenarnya walisongo tersebut berasal, apakah dari Hadramaut (Yaman), Gujarat (India) ataukah dari kawasan China, yang penting hasil dakwah para wali tersebut bisa kita rasakan hingga saat ini. Karakter Islam Indonesia sebagai Islam yang mayoritas bermadzab Imam Syafi’i Ahlusunnah Wal Jamaah memperkuat teori masuknya Islam ke Indonesia ini dibawa oleh para saudagar dari timur tengah daripada dari Gujarat (India) ataupun China. Bagaimanapun, darimana datangnya para wali tersebut, yang perlu dikaji adalah bagaimana proses masuknya para wali tersebut ke Indonesia sehingga tidak mendapat pertentangan dari penduduk asli, sebaliknya mereka mendapat sambutan hangat untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Masuk secara damai, Bukan dengan kekerasan
Para wali masuk ke Indonesia dan tanah Jawa khususnya dengan halus, bukan dengan jalan kekerasan seperti para penjajah. Mereka awalnya berdagang seperti yang dilakukan Rasulullah, kemudian mereka menjalin hubungan dengan para penduduk pribumi. Diantara mereka, banyak yang melakukan pernikahan dengan penduduk pribumi untuk tujuan dakwah, agar Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat Jawa.

Dari beberapa perkawinan para da’i dengan masyarakat tersebut, ada yang menikah dengan putri bangsawan dan raja. Dengan menikahi putri bangsawan dan para Raja, maka akselerasi Islam di tanah Jawa berkembang secara cepat. Disinilah terlihat perlunya strategi dakwah Islam yang cerdas dilakukan oleh para wali tersebut. Menikahi seorang putri bangsawan atau raja tidak hanya mengislamkan satu atau doa orang saja, tapi memberi implikasi ekonomi dan kekuasaan politik yang besar dan tentunya berimbas pada dakwah Islam agar lebih mudah diterima masyarakat pribumi.
Kesederhanaan dalam berdakwah
Islam adalah agama yang mudah dan sederhana. Untuk menjadi pemeluk agama Islam hanya perlu mengucapkan dua kalimat syahadat, selesai. Kesederhanaan dua kalimat yang ringan di lisan namun berat timbangannya di akhirat kelak ini dibawa oleh para wali ketika mendakwahkan Islam. Dari proses perdagangan, berlanjut ke perkawinan, akhirnya para wali mulai mendirikan madrasah – madrasah Islam, sekolah untuk belajar Islam secara lebih intensif. Madrasah – madrasah tersebut pun dibangun di tempat yang sederhana seperti surau dan masjid, dan metode penyampaiannya pun dengan cara sederhana pula sehingga rakyat kecil mudah memahami Islam.

Mereka, para wali, tidak serta merta melarang adat dan budaya masyarakat, meski hal itu dilarang dalam Islam. Perlahan – lahan namun pasti, para wali mulai mengalihkan kebiasaan masyarakat seperti memberi sesaji di kuburan dan pohon-pohon dengan menggantinya menjadi tasyakuran di masjid – masjid. Sesuatu pemikiran yang sederhana, daripada makanan tersebut mubadzir kenapa tidak kita makan sendiri di masjid?

Kepada mereka yang belum melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh pun para wali menyikapinya dengan bijak dan sederhana. Diantara para wali tersebut merupakan para sufi yang mengajarkan tassawuf melalui kehidupan yang sederhana. Tak hanya itu saja, mereka para wali dengan pandainya mengemas Islam dengan kemasan yang menarik hingga seakan-akan sama sekali tidak bertentangan dengan kehidupan masyarakat saat itu. Salah satu contohnya adalah adanya dialog antara Sunan Ampel dan Sunan Giri dengan Prabu Kertawijaya yang menghasilkan kebebasan kepada rakyatnya untuk memeluk agama baru, agama Islam [1].
Dakwah Secara Profesional
Banyak literatur yang mengatakan, bahwa para wali memang diutus untuk mengemban misi dakwah secara profesional [2]. Mereka diutus oleh raja di negerinya untuk membentangkan Islam ke penjuru dunia lain karena saat itu kekhalifahan Islam sedang mencapai puncaknya di benua mereka. Mereka para wali yang diutus itu adalah para ahli strategi mengatur negara, ahli pengobatan/tabib, ahli perang yang juga memiliki keahlian berdagang. Maka tak heran, ketika sampai di Indonesia mereka dengan mudahnya ‘menaklukkan’ penduduk pribumi maupun para bangsawan lokal. Dakwah yang mereka lakukan memang dilakukan dengan cara yang bersih, elegan dan dan Islami.

Para wali menggunakan keahliannya dalam berdakwah secara profesional. Umumnya, tempat dakwah mereka dulu adalah kawasan maksiat dan angker yang dihuni jin-jin yang menyesatkan manusia. Dengan kemampuan yang mereka miliki, para wali memerangi khurofat dan taghut (sesembahan selain Allah) dan mengajak manusia untuk menyembah Allah. Kawasan Ample, Giri, Kudus merupakan sebagian contoh kawasan yang kini berubah menjadi sentra Islam.

Profesional dakwah para wali terlihat dari peninggalan mereka yang masih bisa temui hingga kini. Tembang Lir-ilir, wayang, arsitektur masjid, seni gamelan dan karya budaya-sastra lain merupakan bukti kepiawaian mereka dalam mengemban misi dakwah secara professional. Adanya Islam di Indonesia tidak mematikan budaya lokal dan asli Indonesia, namun justru memperkaya budaya Indonesia dan mewarnainya dengan kebudayaan Islam.

Ampel Denta, gerbang menuju makam dan masjid Sunan Ampel

Perbedaan Adalah Rahmat
Sejak zaman para wali, pun hingga masa kini, bahkan sejak zaman para Nabi dan Sahabat, perbedaan dalam berdakwah selalu ada. Sang Nabi, ketika mengutus Muadz dan Abu Musa ke Yaman berpesan,
“Mudahkanlah (urusan) dan jangan dipersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (tidak tertarik) dan bekerja samalah kalian berdua dan jangan berselisih.”
Beliau baginda Rasulullah berpesan untuk memudahkan dakwah, memberi kabar gembira pada masyarakat serta bekerja-sama dan tidak berselisih. Perbedaan dalam berdakwah akan selalu ada, dan bergantung pada penyikapan dai sebagai pendakwah. Banyak kisah sahabat Rasulullah yang berbeda pendapat, namun mereka tetap bersatu, misalnya ketika sahabat berbeda pendapat tentang menyikapi perintah Rasulullah untuk shalat di tempat Bani Quraidhah. Begitu juga ketika Utsman bin Affan berbeda pendapat dengan Ibnu Mas’ud tentang shalat di Mina pada musim haji, di-qashar atau disempurnakan. Pun demikian dengan para Wali yang pernah berbeda pendapat dan terbagi dalam dua golongan besar: Abangan dan Putihan, Aliran Tuban dan Aliran Giri.

Alkisah, dalam sebuah musyawarah wali, Sunan Ampel sebagai pimpinan majelis wali saat itu mengusulkan untuk membuang adat Jawa seperti slametan kematian, namun Sunan Kali Jaga selaku wakil dari aliran abangan Tuban mengusulkan untuk tidak membuangnya, melainkan memasukkan unsur Islam dalam adat tersebut. Sunan Ampel mewakili golongan putih mengajukan keberatannya karena dikhawatirkan terjadi bid’ah di kemudian hari. Namun mayoritas majelis menyetujui pendapat sunan Kali Jaga tersebut.

Demikianlah Islam, ketika terjadi perbedaan dan sudah dimusyawarahkan, maka hasil musyawarah tersebut harus diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak dengan menjaga agar usaha dakwah selalu dalam rambu-rambu ajaran Islam.

Dakwah walisongo adalah awal dari sebuah akhir. Akhir dari masa-masa keterpurukan peradaban Indonesia dan awal kebangkitan peradaban Islam di Indonesia untuk menjadi mercusuar dunia. Usaha dakwah tersebut perlu kita lanjutkan untuk membangun peradaban dunia, peradaban yang fondasinya sudah ditancapkan begitu kuatnya oleh para wali di tanah air kita. Dakwah ini belum berakhir, dan dakwah ini harus dilanjutkan.

Please like & share:

Karya KBM2: Mari Dakwahkan Islam

Posted on

Penulis: harry supandi @harry_supandi

Predikat : Terfavorit Ke-5

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Malam ini saya mencoba menuliskan artikel mengenai Tablig Islam, dengan harapan agar bisa membuka hati kita untuk senantiasa bersyukur akan hidayah yang telah Allah berikan kepada kita terutama nikmat Iman dan Islam.

Apa Iman dan Islam itu?
Harus kita sadari bersama bahwa Agama Islam yang kita anut, bukanlah semata-mata Agama Keturunan dari orang tua kita, melainkan benar-benar Keyakinan kita Bahwa Sesungguhnya Agama disisi Allah Swt Hanyalah Islam.
Dalam surat Ali Imran dijelaskan ,
Allah ta’ala juga berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)
Ada pula yang memberi terjemahan, ” Sesungguhnya agama yang diterima atau diridhoi Allah hanyalah Islam. Ada berbagai macam tafsir, tergantung ulama atau ahli tafsir mana yang menterjemahkannya. Namun kebanyakan diartikan , ” Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, “.
Terlepas dari makna yang sebenarnya, bagaimanapun ayat ini menjadi pusat rujukan dan referensi umat Islam dan juga non Islam dalam melihat sumber- sumber pandangan Islam dalam memaknai toleransi beragama dan juga pandangan umat Islam terhadap keberagaman. Ayat Ini menjadi dasar keyakinan umat Islam dalam memposisikan agamanya terhadap agama lainya.
ISLAM ( berasal dari kata Aslamu – Aslim ) merupakan Agama Keselamatan. artinya Islam akan membawa kita menuju Keselamatan Baik di Dunia maupun di Akherat kelak.

Dalam Suatu hadist diceritakan Pada Suatu hari malaikat jibril datang menemui Rasulullah saw, kemudian ia berkata :
“Hai,Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”
Malaikat jibril membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,
”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”. …
( HR.MUSLIM)
Kita Bersyukur bahwa Islam masuk ke Negeri ini dan diperkenalkan oleh Para Wali yang biasa kita kenal sebagai WALISONGO.
Apa WaliSongo itu?
Walisongo adalah perintis awal dakwah Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, yang dipelopori Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil mengajak murid-murid untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara sejak abad ke-14.
Walisongo yang terkenal dan Masyhur terdiri dari sembilan wali, yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

Perkataan wali sendiri berasal dari bahasa Arab. Wala atau Waliya yang berarti qaraba yaitu dekat, yang berperan melanjutkan misi kenabian. Dalam Al-Qur’an istilah ini dipakai dengan pengertian kerabat, teman atau pelindung. Al-Qur’an menjelaskan: “Allah pelindung (waliyu) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung (auliya) mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 257).

Selanjutnya kata songo menunjukkan angka hitungan Jawa yang berarti sembilan, angka bilangan magis Jawa yang diambil dari kata Ja yang memiliki nilai tiga dan wa yang bernilai enam. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata songo berasal dari kata sana yang diambil dari bahasa Arab, tsana’(mulia) sepadan dengan mahmud (terpuji). Pendapat ini didukung oleh sebuah kitab yang meriwayatkan kehidupan dan hal ihwal para wali di jawa yang disusun oleh Sunan Giri II.
Ajaran yang diajarkan oleh Wali Songo adalah Islam dengan manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, dengan beraneka ragam Strategi dakwah keteladanan yang efektif sesuai peradaban masyarakat pada saat itu.

Apa Strategi Dakwah Walisongo?
Strategi dakwah yang digunakan Walisongo adalah Penerapan Strategi yang dikembangkan para sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Aliran teologinya menggunakan teologi Asy’ariyah, sedangkan aliran sufistiknya mengarah pada ajaran para Mursyid Thariqah Wali Songo, di antara Mursyidnya adalah Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Al-Hasani, Junaid Al-Baghdadi dan lain-lain.

Strategi yang dilakukan Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat lembu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil bagai pengantin itu kemudian diikat di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan secara istimewa dan aneh itu. Sesudah mereka datang dan berkumpul di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini praktis dan strategis untuk menarik minat masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang keramat Hindu.

Terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang keras dan gigih menentang dakwah Islamiyah, para wali menerapkan metode al-mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantah dengan jalan yang sebaik-baiknya). Mereka diperlakukan secara personal, dan dihubungi secara istimewa, langsung, bertemu pribadi sambil diberikan keterangan, pemahaman dan perenungan (tadzkir) tentang Islam. Cara ini dilakukan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel ketika berdakwah kepada Pembesar Hindu dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, Pembesar Hindu itu masuk Islam bersama istri dan seluruh penduduk negeri yang dipimpinnya. Strategi itu dipergunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah mengajak Pembesar Hindu di Semarang. Mulanya terjadi perdebatan seru, tetapi perdebatan itu kemudian berakhir dengan rasa tunduk Sang bangsawan itu untuk masuk Islam. Kejadian mengharukan ketika bangsawan itu rela melepaskan jabatan dan rela meninggalkan harta dan keluarga untuk bergabung dalam dakwah Sunan Kalijaga.
Beberapa wali bahkan telah membuktikan diri sebagai kepala daerah seperti misalnya Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kudus yang berkuasa di daerah-daerah di sekitar kediaman mereka. Kekuatan diplomasi dan kemampuan dalam berhujjah atas kekuatan pemerintahan Majapahit yang sedang berkuasa ditunjukkan oleh Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Majagung. Alhasil, Prabu Brawijaya I (Raja yang sedang berkuasa di Majapahit saat itu) memberi izin kepada mereka untuk memilih daerah-daerah yang disukai sebagai tempat tinggal. Di kawasan baru tersebut mereka diberi kebebasan mengembangkan agama, menjadi imam dan bahkan kepala daerah masyarakat setempat.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, Strategi yang digunakan oleh Walisongo dalam berdakwah ada tiga macam, yaitu:
1. Al-Hikmah (kebijaksanaan) : Al-Hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u (objek dakwah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kudus.
2. Al-Mau’izha Al-Hasanah (nasihat yang baik) : memberi nasihat dengan kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluh hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh para wali.
3. Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan (berbantah-bantah dengan jalan sebaik-baiknya) : tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut. sebagaimana dakwah Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga kepada Bangsawan Hindu.
Strategi-Strategi tersebut sejalan dengan Firman Allah SWT :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(An-Nahl : 125).

Apa Jejak Walisongo?
Jejak yang ditinggalkan Walisongo itu terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan-tulisan para murid dan ahli waris Wali Songo. Baik berupa buku sejarah, nasab, silsilah, suluk, babad, manaqib dan lain-lain yang menggambarkan hakikat aliran tasawuf dan dakwah yang mereka anut dan kembangkan.

Banyak sekali Jejak Peninggalan para wali, salah satunya adalah Masjid Agung Demak – Jawa Tengah.

Masjid ini merupakan salah satu jejak sejarah penyebaran ajaran Islam di nusantara. Pada masa lampau, masjid ini diyakini sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi para Walisongo.

Masjid Agung Demak berlokasi di Kauman – Desa Gelagah Wangi, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan masjid ini tahun 1466 hingga 1477 M.

Masjid ini terakhir mengalami renovasi pada tahun 1987 dengan bantuan dana dari APBN dan dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) karena mengakui keberadaan Masjid Agung Demak sebagai monumen bagi masyarakat muslim yang memiliki arsitektur unik sesuai dengan dinamika zamannya.

Bentuk bangunan atap masjid berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit.Bangunan masjid terbuat dari kayu jati berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh 4 buah tiang kayu besar (soko tatal atau soko guru) yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo.Keseluruhan bangunan ditopang 128 soko, empat di antaranya soko guru yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Jumlah tiang penyangga masjid 50 buah yang terdiri dari 28 penyangga serambi dan 34 tiang penyangga tatak rambat, sedang tiang keliling sebanyak 16 buah.

Menurut kisah bahwa tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Salah satu soko guru, hasil karya Sunan Kalijaga tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, melainkan dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

KISAH DAN TELADAN DAKWAH WALISONGO
1. SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM : KISAH BERAS DAN PASIR
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah anggota wali songo urutan pertama. Beliau menyiarkan Islam ke tanah Jawa sambil berdagang. Bagai kunang-kunang besar yang memanggul cahaya, Maulana Malik Ibrahim datang menerangi tanah Jawa dengan Islam.
Suatu hari dalam perjalanan dakwah ke sebuah dusun yang diberkahi dengan tanah subur, Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik orang kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir.
Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Halaman rumahnya luas. Di sana tersusun berkarung-karung beras hasil pertanian. Rupanya Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si empunya rumah yang tak lain adalah salah seorang muridnya. Ia ingin menasihati muridnya agar meninggalkan sifat jelek itu.
Orang kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Syekh Malik. Dihidangkanlah jamuan yang baik bagi Syekh Malik. Sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.
“Tuan, saya lapar sekali, bisakah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik beras yang bertumpuk di halaman.
“Mana beras? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang kaya itu.
Pengemis tua tertunduk sedih. Ia pun beranjak pergi dengan langkah gontai. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Syekh Malik. Ternyata apa yang digunjingkan orang tentang kekikiran muridnya ini benar adanya. Syekh Malik bergumam dalam hati, dan iapun berdo’a. Pembicaraan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali.
Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu.
“Celaka tuan, celaka! Saya tadi mengecek beras, ternyata beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga. Ternyata tuan, semua beras yang ada di sini telah menjadi pasir!” Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.
Orang kaya itu kaget, segera ia beranjak dari duduknya, dihampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu. Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Ia pun bersimpuh menangis.
Syekh Malik lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis?” Syekh Malik menyindir muridnya yang kikir itu.
“Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa!” Si murid meratap bersimpuh di kaki Syekh Malik.
Syekh Malik tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Syekh Malik lagi.
Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Malik ia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Ia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin ia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.
Syekh Malik kembali berdo’a, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Hidayah dan kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.
Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Ia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi ia menolak pengemis yang datang. Bahkan ia mendirikan mushalla dan majelis pengajian serta fasilitas ibadah lainnya.
2. SUNAN GIRI

Anak-anak di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama di pedesaan, sampai kini masih ada yang bermain jelungan, terutama ketika bulan sedang purnama. Jelungan atau Jitungan adalah sejenis permainan anak-anak, sejumlah anak dibagi dalam dua kelompok: kelompok pemburu dan kelompok yang diburu. Anak yang diburu, yang berhasil menyentuh sebatang pohon, berarti selamat dari pengejaran.
Permainan sederhana ini konon diciptakan oleh Sunan Giri, salah seorang dari walisongo, sembilan muballigh penyebar agama islam di tanah Jawa. Di balik permainan itu terselip makna yang dalam tentang ajaran tauhid dan tawakkal kepada Allah SWT untuk mencapai pegangan dalam Jelungan, yang bisa diartikan sebagai keselamatan dalam hidup, tidaklah mudah.
Pegangan itu adalah Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Jika belum memegang-Nya, berarti belum tawakkal dan bertauhid kepada-Nya, karena kita akan terus diburu oleh iblis. Selain Jelungan, Sunan Giri juga menciptakan permainan anak-anak seperti Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Kendi Gerit, dan sebagainya. Permainan-permainan ini biasanya diiringi nyanyian yang mendidik anak-anak mengenal sang pencipta dan agamanya.

Lir – ilir , Instrumen Lagu Jawa

Dalam ranah yang lebih luas, Sunan Giri dikenal sebagai muballig yang banyak mendidik sejumlah kader Dai penyebar agama islam, dari tanah Jawa sampai Maluku. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai negarawan. Tata pemerintahan kerajaan Demak dirancang oleh Sunan Giri. Ia adalah penasihat Raden Patah, Sultan pertama kerajaan islam Demak.
Sunan Giri yang nama kecilnya Raden Paku alias Muhammad Ainul Yaqin, pernah mengalami peristiwa besar saat ia baru saja lahir. Ayahnya adalah Syekh Wali Lanang, alias Maulana Salam, muballigh keturunan Maulana Ishak dari Samudra Pasai, Aceh. Wali Lanang diambil menantu oleh Prabu Blambangan, belakangan ia di usir dari Istana, karena dianggap lancang karena berani mengajak sang mertua yang masih memeluk agama Hindu untuk memeluk islam.
Menjelang saat kelahirannya pada tahun 1442 M, kerajaan Blambangan di Banyuwangi dilanda malapataka kelaparan dan wabah penyakit, sehingga sang Ibu Roro Sibodi melahirkannya dalam kepedihan, begitu lahir sang bayi dituding sebagai biang keladi malapetaka. Apa boleh buat, para pejabat kerajaan Blambangan pun segera melarung sang jabang bayi merah dengan menghanyutkan di selat Bali.
Bayi mungil itu di taruh di sebuah peti kecil lalu dihanyutkan di laut lepas. Tapi berkat pertolongan Allah SWT, peti yang terombang ambing itu sama sekali tidak terbalik atau tenggelam – sampai sebuah kapal niaga yang tengah berlayar ke Bali menabraknya. Anehnya, bukan peti itu yang terpental, tapi kapal besar itulah yang hampir karam, dan peti berisi bayi itu nangkring di atas kapal.
Ajaib kapal itu tidak bisa dikemudikan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali, hingga akhirnya Nakhoda memutuskan kembali ke Gresik. Justru setelah haluan diputar kearah Gresik, kapal itu berjalan lancar dan berlayar lebih cepat. Padahal perjalanan ke arah Gresik berarti melawan arus laut. Sampai di Gresik, sang bayi diambil oleh Nyai Ageng Pinatih, saudagar kaya pemilik kapal yang kemudian mengasuhnya sebagai anak angkat, dan diberi nama Joko Samudro.
Setelah dewasa, Joko Samudro, berguru ke Ampel di Surabaya, kepada seorang kiai besar yang juga muballig, yang dikenal sebagai Sunan Ampel. Ketika itu usianya baru 11 tahun. Setelah dewasa, Joko Samudro mendapat nama baru: Sunan Giri. Ada seorang pemuda lain, yang ketika itu bersama Joko Samudro berguru di pesantren Sunan Ampel. Dibelakang hari dikenal sebagai Sunan Bonang.
Di pesantren inilah derajat kewalian Sunan Giri tampak disaksikan langsung oleh gurunya, Sunan Ampel. Suatu malam, menjelang subuh, Sunan Ampel yang tengah mengambil air wudlu menyaksikan semburat cahaya dari tempat tidur para santri. Ternyata cahaya itu memancar dari wajah Sunan Giri. Diam-diam Sunan Ampel mengikat ujung sarung Sunan Giri. Pagi harinya, dalam pengajian, tahulah Sunan Ampel bahwa santri yang bercahaya itu tiada lain adalah Joko Samudro.
Kebijaksanaan sebagai seorang yang alim juga sudah nampak saat ia masih muda. Dalam pelayaran niaga ke Kalimantan, barang dagangan Ibunya yang seharusnya dijual malah dibagi-bagikan kepada penduduk. Orang kepercayaan Nyai Pinatih, yang mendampingi Joko Samudro, tentu saja kaget. Raden, bukankah barang-barang ini seharusnya kita perdagangkan? Tanyanya heran. Joko Samudro menjawab enteng: ya, tapi saya belum melihat ibu berzakat. Saya membagikan barang ini sebagai zakat untuk membersihkan harta Ibu.
Sebaliknya Joko Samudro malah memerintahkan awak kapal mengisi sejumlah karung dengan batu dan pasir agar kapal bisa seimbang dengan beratnya muatan. Sesampainya di Gresik tentu saja Ibunya naik pitam. Tapi anehnya, sang Ibu tak menemukan batu dan pasir . karung-karung itu berubah menjadi barang dagangan yang ketika itu memang dicari di Kalimantan, seperti rotan dan rempah-rempah.
Perjalanan Joko Samudro sebagai Waliyullah sarat dengan kisah-kisah karamah. Dibelakang hari, nama besarnya sebagai Sunan Giri dan kedalaman ilmunya, mendorong Syekh Siti Jenar berguru kepadanya. Tapi permintaan itu ditolak, karena khawatir Siti Jenar akan menyalahgunakannya. Siti Jenar konon menyamar sebagai seekor burung gagak lalu masuk ke ruang pengajian Sunan Giri yang tengah mengajar santri-santrinya.
Tapi Siti Jenar masih saja gagal mengikuti pengajian karena diketahui oleh Sunan Giri. Siti Jenar lalu mengubah diri menjadi seekor cacing dan menyusup kedalam tanah tempat Sunan Giri duduk bersila. Begitulah yang terekam dalam “Walisongo”, buku berbahasa Jawa karangan R. Tanoyo, yang bercerita mengenai para wali di tanah Jawa.
Ketika kerajaan Majapahit mendekati keruntuhan, Prabu Girindrawardhana sempat terlibat konflik dengan Sunan Giri. Celakanya dua Senopatinya, Lembusuro dan Kebohardjo, gagal membunuh Sunan Giri ketika sang hendak mengambil air wudu` untuk shalat Isya`. Apa boleh buat, sang Prabu pun segera mengerahkan bala tentaranya ke Giri.
Tapi ketika pasukan Majapahit sampai di kaki bukit Giri, yang tidak terlalu jauh dari Kedaton Giri, sawah dan ladang disekitarnya berubah menjadi hutan lebat. Maka pasukan Majapahitpun terkurung selama berhari-hari tanpa bantuan logistik dari luar. Akibatnya banyak prajurit yang mati kelaparan. Itulah antara lain salah satu karomah Sunan Giri lewat doa-doanya.
Namun akhirnya Sunan Giri tidak sampai hati. Ia lalu kembali berdoa, dan tak lama kemudian mata air yang selama itu kering mendadak mengucur, sementara pepohinan pun berubah. Pasukan Majapahit pun seperti dibangkitkan semangatnya. Tapi mereka tetap saja bermaksud melanjutkan penyerbuan ke Kedaton Giri.
Dengan mata batinnya, Sunan Giri dapat mengetahui gerak gerik pasukan Majapahit, seketika ia melemparkan pena yang sedang ia gunakan untuk menulis. Tiba-tiba pena itu berubah menjadi keris yang melayang-layang menyerang pasukan tentara Majapahit. Keris itu kemudian diberi nama “Kala Munyeng”. Tak cukup dengan itu, Sunan Giri juga menyebarkan pasir yang berubah menjadi Lebah yang membuyarkan pasukan Majapahit.
Angsa dan Naga
Ada pula cerita lain. Pernah pada suatu waktu Sunan Giri ditantang oleh begawan Minta semeru untuk main tebak-tebakan. Sebelum sampai di pesantren Sunan Giri, Brahmana yang sangat sakti itu mengubur dua ekor angsa di puncak sebuah bukit. Sesampainya di pesantren Giri, sang begawan bertanya apa yang dia kubur di bukit itu.
“Dua ekor naga”, jawab Sunan Giri mantap. Begawan Mintasmeru tersenyum menang, tapi setelah keduanya naik ke puncak bukit dan menggali, ternyata dari dalam lubang itu meluncur dua ekor naga yang langsung menyerang begawan Mintasemeru. Merasa tak berkutik, Mintasemeru pun bertobat lalu memeluk agama Islam.
Keluasan ilmu Sunan Giri diakui lewat gelar yang disandangnya: Sultan Abdul Faqih, sebagai salah seorang tokoh Walisongo, ia mempunyai sejumlah santri yang dibelakang hari berhasil menjadi kyai bahkan wali. Bahkan dua anaknya mencapai gelar Sunan Giri II dan Sunan Giri III. Riwayat dan prestasinya terekam dalam naskah bertahun 1621 dan dikutip oleh ilmuwan Belanda, B. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies (1955).
Dalam naskah itu ketokohan dan keluasan ilmu dan pengaruh Sunan Giri disederajatkan dengan posisi seorang Paus dalam agama Katolik. Maksudnya Sunan Giri diakui sebagai ulama besar, di mana kharisma, ilmu dan karamahnya sangat luas – sekalipun pada masanya juga hidup wali-wali yang lain. Pengakuan ini setidaknya menjadi gambaran nyata bagaimana tanah Jawa, yang waktu itu dijajah oleh bangsa Portugis, sangat menghormati Sunan Giri.
Sampai saat ini jejak Sunan Giri masih bisa kita temui di Gresik Jawa Timur berupa komplek makam yang selalu ramai diziarahi. Hampir setiap hari berduyun-duyun para peziarah memenuhi komplek makam sang wali. Mereka dengan sabar antri, sebab makam Sunan Giri berada dalam sebuah ruang berpintu kecil yang hanya mampu memuat sekitar 10 – 15 orang saja. Datang dari jauh berdesakan untuk bertemu dengan sang wali yang sangat besar jasanya dalam bertabligh menyampaikan agama Allah.
KESIMPULAN :

Bahwa Penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Walisongo adalah dengan Suri Tauladan dan Akhlaq yang Baik seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukan dengan paksaan ataupun pemberian materi, makanan, mie instan, obat-obatan, dll dan bukan pula dengan merayu pemuda/pemudi untuk dinikahi agar bisa diajak masuk ke agamanya.

“Tidak Ada Paksaan dalam Memeluk Agama Islam”. Jadi sangat jelas bahwa Dakwah yang telah dilakukan oleh para wali bisa kita terapkan didalam Syiar dan Dakwah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

Wassalamu alaikum Warahmatullah wabarakatuh..

Please like & share:

Karya KBM2: Dakwah Bukan Dagang Kata dan Wajah

Posted on

Penulis: Rauhiyatul @jay_Bq

Predikat : Terfavorit Ke-6

Kata dakwah, tidaklah asing ditelinga muslim. Secara etimologis, kata dakwah bisa disimpulkan dengan arti memanggil. Sedangkan secara terminologis bisa dimaknai sebagai usaha mengajak manusia, walaupun tidak seagama dengan cara yang bijaksana, sesuai dengan tata cara dan ajaran islam, agar tercipta kehidupan yang teratur, damai dan sejahtera.

Jika berbicara tentang dakwah, maka yang pertama kali teringat adalah dakwahnya Rasulullah SAW dalam syiar agama islam. Sejarah meriwayatkan bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan ajaran islam dengan dakwah yang begitu santun namun tegas. Karenanya lah islam mampu diterima dengan baik dalam hati yang dipenuhi rahmat.

sumber foto disini

Setelah Rasulullah dan para sahabat tiada, perjuangan dakwah islam kemudian dilanjutkan oleh wali Allah. Karena tiada lagi nabi sesudah Rasulullah Muhammad SAW, maka Wali adalah pewaris para nabi.

Sejarah penyebaran islam di tanah Jawa, juga tidak lepas dari peran para wali. Sekian dari wali yang andilnya dalam menyebar cikal bakal islam, adalah para wali songo. Mereka sukses dengan kesabaran luar biasa berdakwah di bumi nusantara.

sumber foto disini

Bukan hal yang mudah, membawa ajaran islam dalam masyarakat yang sudah punya budaya. Namun para wali adalah pakar yang menjelaskan makna dakwah. Mereka menanamkan pengertian kata dakwah dalam setiap kata, tindakan bahkan pikiran. Islam yang damai pun mampu membaur dalam tatanan masyarakat yang sudah begitu kental pengaruh hindu-budha.

Sebagai riwayat dalam hikayat Sunan Muria dan Sunan Drajat dalam berdakwah, yaitu melalui pendekatan seni lokal. Salah satunya adalah seni suluk. Petuah dan wejangan akhlakul karimah disisipi dalam bait-bait yang di dendangkan. Tekhnik dakwah secara langsung juga menjadi pilihan beberapa Sunan, namun tidak meninggalkan prinsip kebersahajaan dalam berdakwah.

Perjuangan Wali Songo membumikan agama Allah di tanah Jawa, kini menjadi sejarah yang melegenda. Peninggalan-peninggalan bersejarah seperti Menara Kudus dan Masjid Agung Demak menjadi pengingat, pernah ada orang-orang mulia di tanah Jawa, yang berjuang dengan kesabaran luar biasa, untuk menyebarkan islam.

sumber foto disini
Jika ada yang mengatakan, bahwa kemampuan se luar biasa para wali sembilan dalam berdakwah, sulit bisa disamai da’i yang hanya manusia biasa, rasanya keliru. Sejak awal islam datang, ajaran islam menanamkan dengan tegas tentang akhlak. Bagaimana mendidik manusia bersikap sebaik-baiknya terhadap diri, sekitar dan kepada penciptanya.

Dalam al-qur’an di surah An-Nahl ayat 125, Allah berfirman yang artinya, Serulah manusia kepada Tuhanmu dengan jalan yang baik dan bantahlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat ini ditegaskan anjuran berdakwah, menyeru dengan jalan kebaikan. Penuh hikmah. Artinya berdakwah dengan cara-cara yang dianggap bijaksana. Pendakwah mestinya bisa menyesuaikan diri dengan orang yang di dakwahinya.

Ilmu dan hikmah menjadi dua senjata tidak terpisahkan dalam hal ini. Pengajaran yang diharapkan juga adalah yang terbaik, seperti nasihat, kisah-kisah ataupun riwayat para pendahulu. Sedangkan bantahan yang baik, adalah menyangkal sebuah kekeliruan dengan sanggahan yang lembut, tidak kasar sehingga mampu menerangi hati. Perkataan ajakan ataupun bantahan seharusnya dilandasi dengan dasar yang kuat.

Tidaklah dibenarkan untuk mengkafirkan seseorang, mendahului Allah. Karena sesungguhnya tugas berdakwah hanyalah menyampaikan kemudian mengajak, seperti yang diajarkan dalam Al-qur’an. Allah adalah satu-satunya yang berhak dan tahu siapa orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang tidak.

Bisa jadi, seseorang yang mati-matian membenci islam, tahu-tahu mendapat hidayah dan bertobat. Bahkan derajad takwanya jauh diatas muslim rata-rata, karena keinginannya mendapat pengampunan.
Dakwah dengan paksaan bukanlah yang diharapkan.

sumber foto disini
Jaman terus berganti. Berkat perjuangan pejuang islam, maka islam dengan sukses menjadi ruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tapi seyogyanya dakwah belumlah usai. Mengapa? Karena dakwah sesungguhnya terus mengikuti manusia seiring jaman. Dakwah sesungguhnya adalah partikel kehidupan yang diperlukan. Kebutuhan muslim terhadap muslim lainnya dan manusia umumnya.

Apalagi melihat perkembangan dewasa ini, dimana kebebasan yang digadang-gadang menjadi kelewatan. Kerusakan akhlak mengakar bahkan sampai ke usia kanak-kanak. Mengajak, mempertahankan dan mencegah kerusakan akhlak. Sungguh bukan tugas yang mudah.

Sebagaimana dakwahnya para wali, dakwah bukan sekedar wara-wiri di depan jamaah dengan pesona yang membuat hati klepek-klepek, terutama para ibu. Dakwah sepantasnya tidaklah dipandang dari sedapnya kata yang disusun, karisma dan wajah yang membuai. Dakwah yang diharapkan adalah dakwah yang sesungguhnya, sebagaimana di contohkan Rasulullah, sahabat dan para wali.

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya, teladan Rasulullah, sahabat dan para wali adalah contoh paling baik untuk tetap membumikan agama Allah. Meneladani segala sikap, perilaku dan perkataan yang diadopsi langsung dari Al-qur’an, adalah dakwah yang paling manjur, dan setiap muslim bisa melakukannya.

Please like & share: