Month: December 2014

[Karya KBM3] Jangan Salahkan Kami Jika Moral Kami Bejad

Posted on Updated on

Tawuran Pelajar
Tawuran Pelajar (Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg)

Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu Engkau gunakan senjata untuk memporak-porandakan bangsa tersebut. Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, Hancurkanlah Moral Generasi Muda bangsa tersebut.

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa. Ditangan merekalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa ini akan diberikan. Suka tidak suka, mau tidak mau, senang tidak senang, ditangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana mereka kelak.

Bila seperti itu adanya, sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku orang tua, guru, dan masyarakat untuk menyiapkan generasi penerus yang kuat, bermental juang tinggi, berkepribadian teguh, berwawasan kebangsaan serta yang terpenting dari itu semua adalah berakhlak mulia. Kita selaku “kaum tua” harus memberi dan menjadi contoh yang baik bagi mereka, memberikan pendidikan moral yang baik bagi mereka sehingga kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang kita idam-idamkan.

Namun bila kita sebagai “kaum tua” justru sebaliknya. Kita berikan kepada mereka contoh yang buruk, kita pertontonkan kepada mereka akhlak yang tercela. Bukan tidak mungkin mereka kelak akan jauh lebih buruk dari apa yang kita contohkan dan perlihatkan kepada mereka sekarang ini. Generasi penerus adalah sebuah kertas putih, kitalah yang akan menentukan tulisan-tulisan apa yang akan ada diatas kertas putih tersebut. Dan sudah seharusnya sebagai “kaum tua” kita wajib memberikan contoh yang baik kepada mereka.

Siswi Hamil
Siswi Hamil (Sumber: http://kaltim.tribunnews.com/foto/berita/2012/11/6/hamil.jpg)

Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tanamkanlah nilai dan moral kepada anak sedini mungkin.

Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang dimulai dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba. Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak seronok. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak seronok bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak seronok tersebut.

Bukankah sering kita jumpai para remaja putri menggunakan pakaian tidak seronok bahkan sudah menjadi tren tersendiri. Mereka tidak segan dan malu lagi untuk memakai celana hot pant, rok mini bahkan mereka dengan bangga memamerkan itu semua menggunakan motor matic keliling komplek. Bukankah mereka punya orang tua? Apakah orang tua mereka tidak tahu hal tersebut? Ya, benar mereka punya orang tua, hanya saja para orang tua malah justru menganggap yang seperti itu adalah wajar dan tren.

Remaja berpakaian tidak seronok
Remaja berpakaian tidak seronok (Sumber: http://sidaknews.com/eval45-content/uploads/2014/04/cabe-cabean-drag.jpg)

Selanjutnya, dari pakaian yang tidak seronok itu kemudian muncul fenomena berikutnya yaitu pergaulan bebas. Bukankah dengan enteng orang tua mengijinkan anaknya untuk keluar malam saat ini? Bukankah dengan mudah akan kita jumpai pada malam hari di flyover atau dijalan tembusan yang gelap para pemuda dan pemudi sedang asyik berduaan? Ya, fenomena pergaulan bebas seperti sudah menjadi wabah yang penyebarannya sulit sekali dihentikan. Dan itu semua bermula dari kurangnya pengawasan orang tua ditambah dengan acuhnya masyarakat sehingga dua suplemen ini menjadikan wabah pergaulan bebas menular dengan cepat. Jadi jangan salahkan remaja jika pakaian dan perilaku mereka tidak seronok.

Pergaulan bebas tidak melulu diartikan dengan free sex atau hamil diluar nikah. Tapi lebih dari itu, pergaulan bebas adalah memberikan kebebasan secara berlebihan dengan generasi muda sedangkan mereka tidak memiliki pemahaman tentang resiko dan bahaya atas segala tindakan yang mereka lakukan. Disinilah peran keluarga sangat penting dalam menanamkan nilai moral dan agama kepada anak-anaknya sebelum mereka diberikan kebebasan untuk menyerap nilai dan moral dari komunitasnya.

Pemuda Mabuk-Mabukan
Pemuda Mabuk-Mabukan (Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-RyVHwhHqvXY/UsXga6d0ZnI/AAAAAAAAAfo/U8fSqmczZjc/s1600/akibat-kenakalan-remaja.jpg)

Masyarakat harus memberi contoh yang baik serta peduli dengan penyimpangan perilaku generasi muda.

Selain sebagai pendidikan kedua setelah keluarga, lingkungan dan masyarakat memiliki andil yang besar dalam mendidik para generasi muda. Lunturnya nilai moral remaja tidak bisa dilepaskan dari buruknya peran serta lingkungan dan masyarakat dalam fungsi pengawasan dan pembinaan. Masyarakat yang acuh tak acuh terhadap perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan tersebut akan menjadi legitimasi dan legalitas terhadap perilaku menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ini bukan tidak mungkin akan ditiru oleh para generasi penerus mereka.

Sering kita jumpai di masyarakat dimana minuman keras dan narkoba adalah sebuah budaya. Dimana setiap kali ada hajatan atau pesta maka tidak lengkap rasanya bila tidak ada minuman keras. Bukankah perilaku dan budaya seperti itu terekam oleh para generasi penerus kita. Bukan tidak mungkin mereka akan mencontoh atau bahkan ikut serta dalam pesta minuman keras tersebut.

Beberapa hari lalu bahkan sampai sekarang ini, kita disuguhi dengan budaya mabuk yang berakhir dengan maut. Budaya dari sebuah komunitas masyarakat yang menjadikan minuman keras sebagai pelengkap pesta. Minuman keras dan mabuk yang dilumrahkan oleh masyarakat secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi mentalitas remaja dan kaum muda. Mereka setiap hari disuguhi minuman keras, diberi tontonan mabuk-mabukan secara tidak langsung akan menganggap bahwa minuman keras dan mabuk-mabukan adalah hal yang biasa. Jadi jangan salahkan pemuda jika mereka mabuk-mabukan juga.

Menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dan ideal untuk perkembangan mentalitas dan moralitas pemuda memang tidaklah mudah. Namun setidaknya jangan tunjukkan dan contohkan perilaku yang buruk dihadapan mereka. Peran serta masyarakat dalam pengawasan perilaku menyimpang di lingkungan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang moral para pemuda. Kegiatan yang positif seperti karang taruna dan remaja masjid perlu kembali digalakkan untuk mengarahkan dan mendidik mentalitas serta moralitas pemuda.

Kegembiraan Pergi Mengaji
Kegembiraan Pergi Mengaji (Sumber: http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/09/img_32581.jpeg)

Agama adalah benteng terakhir.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah benteng terakhir dalam mencegah lunturnya moralitas dan mentalitas generasi muda. Pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini dan berkesinambungan secara langsung akan membangun mental dan moral generasi muda. Generasi muda yang dididik dengan baik keagamaannya akan memiliki “rem”, setidaknya penghambat, untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, bila generasi mudah tidak ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang baik dan berkesinambungan maka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan akan semakin besar. Padahal kita semua tahu bahwa nilai-nilai keagamaan selalu mengajarkan hal baik dan selaras dengan pembangunan moralitas serta mentalitas.

Sebagai benteng terakhir, agama memang memegang peranan penting dalam mencegah degradasi moral dan mental. Untuk itu perlu peran serta tokoh agama dalam pembinaan keagamaan di lingkungan. Selain itu juga, perlu difasilitasi berbagai kegiatan sosial keagamaan yang menyasar para pemuda sebagai motor utamanya seperti Ikatan Remaja Masjid, Kelompok Pengajian Remaja, dan Karang Taruna agar generasi muda merasa diayomi dan diberikan saluran positif untuk berkumpul dan bertukar pikiran baik sesama remaja maupun remaja dan “kaum tua”. Bila remaja mendapatkan saluran yang positif serta ditanamkan nilai-nilai yang baik secara keagamaan, keadaan ini tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Ikatan Remaja Masjid
Ikatan Remaja Masjid (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_7rLlPO3eSCo/TSlPKnOK73I/AAAAAAAAAA8/NFjdpwpEq2c/s1600/26309_1303632429390_1187853443_30717108_7011455_n.jpg)

Pada akhirnya, kerusakan moral generasi muda yang terjadi sekarang ini harus dimaknai sebagai rusaknya peran orang tua, masyarakat, serta tokoh agama dalam menciptakan lingkungan perkembangan moral dan mental yang positif. Kita tidak dapat serta merta menyalahkan para generasi muda serta kenakalan mereka karena dibalik itu semua ada peran serta kita dalam mendukung terjadinya kenakalan tersebut. Kita harus lebih peduli, mengayomi, mendengar serta memberikan eksistensi kepada generasi muda untuk menyalurkan pemikiran, hobi serta minat bakat mereka selama semua itu adalah hal positif.

Sudah menjadi keharusan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada pemuda. Tidak hanya itu, pemberian sanksi sosial juga diperlukan untuk menjadi pelajaran bagi pemuda lainnya agar tidak melakukan penyimpangan yang sama. Bagaimanapun juga, sanksi sosial jauh lebih hebat dampaknya daripada sanksi hukum. Bila seluruh lapisan masyarakat aktif dalam melakukan pencegahan, diharapkan perilaku menyimpang pemuda dapat berkurang secara signifikan.

Penyaringan informasi juga perlu dilakukan agar dampak negatif era informasi dapat ditekan. Untuk itu perlu peran serta Pemerintah untuk membuat regulasi dan aturan perundang-undangan yang mampu melindungi generasi muda dalam mengakses informasi baik melalui koran, radio, televisi, handphone maupun internet. Dan kembali, pengawasan dari orang tua dan masyarakat penting untuk memastikan informasi yang diakses berdampak positif bagi perkembangan moral dan mental generasi muda.

Indonesia Berakhlak dan Maju
Indonesia Berakhlak dan Maju (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-l670IMKgozs/TeBvCNBiaVI/AAAAAAAAA-Q/SoSpCpQd4WU/s1600/1.jpg)

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa

Generasi muda (remaja dan pemuda) adalah aset utama sebuah bangsa dalam menentukan masa depannya. Rusaknya moral dan mental generasi muda berarti rusak pula suatu bangsa. Baik moral dan mental generasi muda berarti baik pula suatu bangsa. Moral dan mental generasi muda sebagai modal bangsa dalam pembangunan.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Jangan Salahkan Kami Jika Moral Kami Bejad

Posted on Updated on

Tawuran Pelajar
Tawuran Pelajar (Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg)

Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu Engkau gunakan senjata untuk memporak-porandakan bangsa tersebut. Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, Hancurkanlah Moral Generasi Muda bangsa tersebut.

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa. Ditangan merekalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa ini akan diberikan. Suka tidak suka, mau tidak mau, senang tidak senang, ditangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana mereka kelak.

Bila seperti itu adanya, sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku orang tua, guru, dan masyarakat untuk menyiapkan generasi penerus yang kuat, bermental juang tinggi, berkepribadian teguh, berwawasan kebangsaan serta yang terpenting dari itu semua adalah berakhlak mulia. Kita selaku “kaum tua” harus memberi dan menjadi contoh yang baik bagi mereka, memberikan pendidikan moral yang baik bagi mereka sehingga kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang kita idam-idamkan.

Namun bila kita sebagai “kaum tua” justru sebaliknya. Kita berikan kepada mereka contoh yang buruk, kita pertontonkan kepada mereka akhlak yang tercela. Bukan tidak mungkin mereka kelak akan jauh lebih buruk dari apa yang kita contohkan dan perlihatkan kepada mereka sekarang ini. Generasi penerus adalah sebuah kertas putih, kitalah yang akan menentukan tulisan-tulisan apa yang akan ada diatas kertas putih tersebut. Dan sudah seharusnya sebagai “kaum tua” kita wajib memberikan contoh yang baik kepada mereka.

Siswi Hamil
Siswi Hamil (Sumber: http://kaltim.tribunnews.com/foto/berita/2012/11/6/hamil.jpg)

Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tanamkanlah nilai dan moral kepada anak sedini mungkin.

Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang dimulai dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba. Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak seronok. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak seronok bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak seronok tersebut.

Bukankah sering kita jumpai para remaja putri menggunakan pakaian tidak seronok bahkan sudah menjadi tren tersendiri. Mereka tidak segan dan malu lagi untuk memakai celana hot pant, rok mini bahkan mereka dengan bangga memamerkan itu semua menggunakan motor matic keliling komplek. Bukankah mereka punya orang tua? Apakah orang tua mereka tidak tahu hal tersebut? Ya, benar mereka punya orang tua, hanya saja para orang tua malah justru menganggap yang seperti itu adalah wajar dan tren.

Remaja berpakaian tidak seronok
Remaja berpakaian tidak seronok (Sumber: http://sidaknews.com/eval45-content/uploads/2014/04/cabe-cabean-drag.jpg)

Selanjutnya, dari pakaian yang tidak seronok itu kemudian muncul fenomena berikutnya yaitu pergaulan bebas. Bukankah dengan enteng orang tua mengijinkan anaknya untuk keluar malam saat ini? Bukankah dengan mudah akan kita jumpai pada malam hari di flyover atau dijalan tembusan yang gelap para pemuda dan pemudi sedang asyik berduaan? Ya, fenomena pergaulan bebas seperti sudah menjadi wabah yang penyebarannya sulit sekali dihentikan. Dan itu semua bermula dari kurangnya pengawasan orang tua ditambah dengan acuhnya masyarakat sehingga dua suplemen ini menjadikan wabah pergaulan bebas menular dengan cepat. Jadi jangan salahkan remaja jika pakaian dan perilaku mereka tidak seronok.

Pergaulan bebas tidak melulu diartikan dengan free sex atau hamil diluar nikah. Tapi lebih dari itu, pergaulan bebas adalah memberikan kebebasan secara berlebihan dengan generasi muda sedangkan mereka tidak memiliki pemahaman tentang resiko dan bahaya atas segala tindakan yang mereka lakukan. Disinilah peran keluarga sangat penting dalam menanamkan nilai moral dan agama kepada anak-anaknya sebelum mereka diberikan kebebasan untuk menyerap nilai dan moral dari komunitasnya.

Pemuda Mabuk-Mabukan
Pemuda Mabuk-Mabukan (Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-RyVHwhHqvXY/UsXga6d0ZnI/AAAAAAAAAfo/U8fSqmczZjc/s1600/akibat-kenakalan-remaja.jpg)

Masyarakat harus memberi contoh yang baik serta peduli dengan penyimpangan perilaku generasi muda.

Selain sebagai pendidikan kedua setelah keluarga, lingkungan dan masyarakat memiliki andil yang besar dalam mendidik para generasi muda. Lunturnya nilai moral remaja tidak bisa dilepaskan dari buruknya peran serta lingkungan dan masyarakat dalam fungsi pengawasan dan pembinaan. Masyarakat yang acuh tak acuh terhadap perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan tersebut akan menjadi legitimasi dan legalitas terhadap perilaku menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ini bukan tidak mungkin akan ditiru oleh para generasi penerus mereka.

Sering kita jumpai di masyarakat dimana minuman keras dan narkoba adalah sebuah budaya. Dimana setiap kali ada hajatan atau pesta maka tidak lengkap rasanya bila tidak ada minuman keras. Bukankah perilaku dan budaya seperti itu terekam oleh para generasi penerus kita. Bukan tidak mungkin mereka akan mencontoh atau bahkan ikut serta dalam pesta minuman keras tersebut.

Beberapa hari lalu bahkan sampai sekarang ini, kita disuguhi dengan budaya mabuk yang berakhir dengan maut. Budaya dari sebuah komunitas masyarakat yang menjadikan minuman keras sebagai pelengkap pesta. Minuman keras dan mabuk yang dilumrahkan oleh masyarakat secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi mentalitas remaja dan kaum muda. Mereka setiap hari disuguhi minuman keras, diberi tontonan mabuk-mabukan secara tidak langsung akan menganggap bahwa minuman keras dan mabuk-mabukan adalah hal yang biasa. Jadi jangan salahkan pemuda jika mereka mabuk-mabukan juga.

Menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dan ideal untuk perkembangan mentalitas dan moralitas pemuda memang tidaklah mudah. Namun setidaknya jangan tunjukkan dan contohkan perilaku yang buruk dihadapan mereka. Peran serta masyarakat dalam pengawasan perilaku menyimpang di lingkungan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang moral para pemuda. Kegiatan yang positif seperti karang taruna dan remaja masjid perlu kembali digalakkan untuk mengarahkan dan mendidik mentalitas serta moralitas pemuda.

Kegembiraan Pergi Mengaji
Kegembiraan Pergi Mengaji (Sumber: http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/09/img_32581.jpeg)

Agama adalah benteng terakhir.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah benteng terakhir dalam mencegah lunturnya moralitas dan mentalitas generasi muda. Pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini dan berkesinambungan secara langsung akan membangun mental dan moral generasi muda. Generasi muda yang dididik dengan baik keagamaannya akan memiliki “rem”, setidaknya penghambat, untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, bila generasi mudah tidak ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang baik dan berkesinambungan maka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan akan semakin besar. Padahal kita semua tahu bahwa nilai-nilai keagamaan selalu mengajarkan hal baik dan selaras dengan pembangunan moralitas serta mentalitas.

Sebagai benteng terakhir, agama memang memegang peranan penting dalam mencegah degradasi moral dan mental. Untuk itu perlu peran serta tokoh agama dalam pembinaan keagamaan di lingkungan. Selain itu juga, perlu difasilitasi berbagai kegiatan sosial keagamaan yang menyasar para pemuda sebagai motor utamanya seperti Ikatan Remaja Masjid, Kelompok Pengajian Remaja, dan Karang Taruna agar generasi muda merasa diayomi dan diberikan saluran positif untuk berkumpul dan bertukar pikiran baik sesama remaja maupun remaja dan “kaum tua”. Bila remaja mendapatkan saluran yang positif serta ditanamkan nilai-nilai yang baik secara keagamaan, keadaan ini tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Ikatan Remaja Masjid
Ikatan Remaja Masjid (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_7rLlPO3eSCo/TSlPKnOK73I/AAAAAAAAAA8/NFjdpwpEq2c/s1600/26309_1303632429390_1187853443_30717108_7011455_n.jpg)

Pada akhirnya, kerusakan moral generasi muda yang terjadi sekarang ini harus dimaknai sebagai rusaknya peran orang tua, masyarakat, serta tokoh agama dalam menciptakan lingkungan perkembangan moral dan mental yang positif. Kita tidak dapat serta merta menyalahkan para generasi muda serta kenakalan mereka karena dibalik itu semua ada peran serta kita dalam mendukung terjadinya kenakalan tersebut. Kita harus lebih peduli, mengayomi, mendengar serta memberikan eksistensi kepada generasi muda untuk menyalurkan pemikiran, hobi serta minat bakat mereka selama semua itu adalah hal positif.

Sudah menjadi keharusan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada pemuda. Tidak hanya itu, pemberian sanksi sosial juga diperlukan untuk menjadi pelajaran bagi pemuda lainnya agar tidak melakukan penyimpangan yang sama. Bagaimanapun juga, sanksi sosial jauh lebih hebat dampaknya daripada sanksi hukum. Bila seluruh lapisan masyarakat aktif dalam melakukan pencegahan, diharapkan perilaku menyimpang pemuda dapat berkurang secara signifikan.

Penyaringan informasi juga perlu dilakukan agar dampak negatif era informasi dapat ditekan. Untuk itu perlu peran serta Pemerintah untuk membuat regulasi dan aturan perundang-undangan yang mampu melindungi generasi muda dalam mengakses informasi baik melalui koran, radio, televisi, handphone maupun internet. Dan kembali, pengawasan dari orang tua dan masyarakat penting untuk memastikan informasi yang diakses berdampak positif bagi perkembangan moral dan mental generasi muda.

Indonesia Berakhlak dan Maju
Indonesia Berakhlak dan Maju (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-l670IMKgozs/TeBvCNBiaVI/AAAAAAAAA-Q/SoSpCpQd4WU/s1600/1.jpg)

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa

Generasi muda (remaja dan pemuda) adalah aset utama sebuah bangsa dalam menentukan masa depannya. Rusaknya moral dan mental generasi muda berarti rusak pula suatu bangsa. Baik moral dan mental generasi muda berarti baik pula suatu bangsa. Moral dan mental generasi muda sebagai modal bangsa dalam pembangunan.

Please like & share:

[Karya KBM3] Sungguh Aneh Pemuda Di Negeriku Ini

Posted on Updated on

SUNGGUH ANEH PEMUDA DI NEGERIKU INI
Sungguh aneh pemuda di negeriku ini . sebagian dari mereka berkoar-koar akan sebuah kebenaran , akan tetapi dia tidak dapat bercermin bagaimana akan dirinya sendiri. Dia selalu mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan, akan tetapi dia masih saja dan selalu berbuat keburukan. Selama saya menjadi mahasiswa , sangat banyak peristiwa-peristiwa seperti itu yang saya temukan. Mereka selalu berdiskusi mengenai agama dan tuhan akan tetapi mereka tidak dapat membuka mata akan situasi yang terjadi pada saat itu, mereka terus asyik berdiskusi padahal pada saat itu suara adzan telah berkumandang. Mereka terus asyik berdebat satu sama lain hingga hari semakin gelap dan melalaikan shalat. Sebenarnya ada apa dengan pemuda di negeri ini ? mengapa mereka terus saja menyampaikan kebaikan padahal diri mereka saja tidak dapat melakukannya. Mereka ibarat orang buta yang sedang membawa senter, mereka selalu membawa sebuah penerangan namun itu akan sia-sia saja, karena mata mereka sendiri masih buta, mata mereka masih di butakan oleh kegelapan dari diri mereka sendiri. Tidak malukah mereka yang mengaku sebagai kakak senior harus di tegur oleh saya sebagai juniornya dalam satu naungan atap? Saya menegur mereka sehingga mereka harus berhenti dalam berdiskusi. Sungguh celakalah orang-orang yang seperti itu yang hanya ingin mendapat apresiasi dari orang lain karena ucapannya saja tapi tidak dengan perbuatan yang mereka lakukan. Menurut saya tidak usahlah berkoar-koar untuk memperbaiki diri orang lain, jika diri sendiri masih saja berada dalam keburukan. Dan alangkah lebih bagusnya bila diri sendirilah yang terlebih dahulu di perbaiki, setelah sudah baik barulah diri orang lain yang kita ajak untuk menuju kebaikan. Itu lebih bagus karena orang lain sudah bisa melihat bukti dari ucapan kita, yaitu diri kita sendiri. Dan tentunya mereka akan senang mendengarnya dan mengapresiasi bukan hanya karena ucapan kita tetapi juga karena kelakuan yang telah kita aplikasikan di dalam kehidupan kita.

Peristiwa lain yang saya temukan mengenai perilaku para pemuda saat ini ialah ketika saya hendak membeli sebuah makanan di tempat saya biasa makan. Dan pada saat itu makanan yang mau saya beli ingin saya bungkus saja ke rumah. entah mengapa pada saat itu saya tidak ingin memakannya di tempat itu. Akan tetapi pada saat ingin membelinya mengapa ada antrian yang cukup panjang? Dengan hati sedikit kecewa saya harus ikut di dalam antrian untuk membuktikan bahwa saya adalah masyarakat yang patuh terhadap peraturan. Akan tetapi mengapa ada seorang pemuda yang baru saja tiba dan terus menerobos kedepan tanpa ikut pada antrian? Mengapa dia tidak malu pada sikapnya dan terus saja melanggar peraturan yang di tetapkan? Mengapa dia tidak malu dengan wajahnya yang melihat orang tua mau ikut untuk mengantri? sedangkan dia yang masih merasa sebagai pemuda tidak mau melakukannya. Sehingga banyak orang yang menegurnya akan tetapi dia tidak peduli akan hal itu,dia hanya mengutamakan keegoisan dirinya saja,tanpa pernah memikirkan diri orang lain. Apakah seperti ini sikap pemuda saat ini? Sungguh aneh pemuda di negeriku ini.lihatlah kebiasaan-kebiasaan orang lain di negara-negara mereka yang telah maju,mereka selalu tertib apalagi dalam hal antrian,makanya mereka dapat maju karena mereka disiplin dalam melakukan segala sesuatu. saya bukan mau membangga-banggakan negara orang akan tetapi jika hal yang mereka lakukan itu baik dan benar, kenapa tidak jika kita mencontohnya.

Dalam peristiwa lain ketika saya duduk di semester tiga. Pada saat itu saya melihat teman-teman seperjuangan saya tidak memiliki kemampuan yang memadai yang kelak ketika mereka menjadi seorang sarjana mereka ingin menjadi seorang pendidik. Saya merasa prihatin dengan kondisi mereka pada saat itu, saya merasa bersalah apabila tidak dapat membantu mereka dan membimbing mereka agar menjadi lebih baik lagi. Untuk itu saya membantu mereka dengan membentuk suatu kelompok belajar, agar mereka dapat mengerti pelajaran yang di terangkan oleh dosen, agar mereka memahami konsep-konsep dasar meterinya, agar mereka dapat menemukan jati diri mereka sendiri, dan tentunya agar mereka dapat mewujudkan cita-cita mereka untuk menjadi seorang pendidik yang ideal. Dan Alhamdulillah sebagian dari mereka ingin bergabung dan berusaha untuk memperbaiki diri, sementara yang lainnya masih bermasa bodoh dan lebih mengutamakan keegoisan diri mereka sendiri. Mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini berfikir bahwa saya adalah yang paling sempurna , saya adalah yang terbaik di antara semua. Anggapan-anggapan itu adalah sebuah kesalahan. Karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini begitupun juga dengan diri saya. Bahkan di dalam lingkungan perkuliahanpun saya bukanlah yang terbaik di antara semua, akan tetapi saya dapat dengan mudah menyerap materi yang di sampaikan oleh dosen, dan tidak pernah merasa gugup dalam ujian-ujian yang saya jalani selama perkuliahan. saya adalah orang yang mengerti perasaan orang lain untuk ingin lebih baik lagi. Dan yang pastinya saya adalah orang yang mau melakukan sebuah tindakan agar teman-teman saya dapat menjadi lebih baik lagi. Menurut saya percuma kita menjadi yang terbaik namun kita tidak dapat membantu teman-teman yang lain untuk menjadi orang terbaik selanjutnya . percuma kita menjadi orang yang tercerdas akan tetapi kita tidak bisa ikut mencerdaskan orang lain. Dan yang paling keji ketika kita mempunyai ilmu akan tetapi kita tidak mau membaginya dengan orang-orang di sekitar kita. Dan pada peristiwa ini saya ingin membahas mengenai mereka yang menyatakan ingin memperbaiki diri mereka, yang menyatakan ingin membuat diri mereka menjadi lebih baik lagi. Awalnya semua berjalan dengan baik, mereka ingin megikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh dan akan menaati semua peraturan yang telah kami buat bersama-sama, akan tetapi mengapa dalam satu minggu pertama, selalu saja ada yang terlambat bahkan tidak datang dengan berbagai alasan yang mereka utarakan, ada yang mengatakan makan dulu, ada yang mengatakan nunggu satu sama lain, ada yang mengatakan rumahnya jauh, bahkan yang lebih parahnya lagi ada yang membantah peraturan yang telah di tetapkan dengan dalih mengapa harus di permasalahkan hal yang sekecil ini? .tanpa dia sadari dia adalah orang yang paling rugi karena telah mengatakan hal tersebut. Jika hal sekecil itu saja dia tidak bisa melakukannya, bagaimana dengan hal yang besar? Orang yang cerdas tidak akan pernah mau memberikannya sebuah amanah yang besar jika amanah yang kecil seperti itu saja tidak sanggup ia lakukan. Yang membuat saya kecewa, mengapa mereka melanggar peraturan yang mereka buat sendiri? Mengapa mereka mau menjilat ludah yang telah mereka buang ? saya merasa sangat kecewa dengan perilaku mereka pada saat itu, apalagi alasan-alasan mereka yang sangat tidak rasional untuk keterlambatan. Sebenarnya diri mereka sendirilah yang membuat keterlambatan itu, mengapa mereka harus menyalahkan orang lain? Mengapa mereka seoalah-olah tidak bersalah sama sekali ? dari kejadian itu saja dapat terlihat bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak di siplin, mereka adalah orang-orang yang tidak konsisten dengan perkataannya, dan mereka adalah orang-orang yang tidak dapat di berikan suatu amanah karena mereka tidak dapat bertanggung jawab terhadap amanah tersebut, bahkan kepada diri mereka sendiri. Dan pada saat itulah saya memberi ketegasan kepada mereka untuk serius dan konsisten akan apa yang mereka ucapkan. Dan jangan pernah berharap apalagi bergantung terus kepada orang lain ,karena apabila orang lain tersebut telah tiada, siapa lagi yang bisa mereka harapkan? Mestinya mereka dapat memotivasi diri mereka sendiri, mestinya mereka bisa menyadarkan diri mereka sendiri, dan mestinya mereka dapat membuat diri mereka sukses dengan jerih payah dari usaha mereka sendiri bukan dari usaha orang lain. Sebenarnya itu semua pasti bisa mereka lakukan karena mereka telah dewasa dan bisa berfikir jernih akan hal itu. Toh mereka juga yang akan mendapat untung ruginya, karena itu semua berasal dari diri mereka masing-masing. Jangan hanya karena tidak di siplin cita-cita itu tidak dapat tercapai. Jangan hanya karena ketidak disiplinan itu semuanya jadi hancur berantakan. Ingat sebuah batu yang besar dapat terlihat oleh mata sehingga kita bisa berhati-hati kepadanya, akan tetapi sebuah batu yang kecil dapat membuat kita terjatuh saat berjalan, itu semua karena kita tidak melihat batu yang kecil itu, kita hanya menyepelekannya sehingga dialah yang berhasil membuat kita terjatuh, kita hanya terfokus akan masalah yang besar dan mengabaikan yang kecil. Sungguh aneh para pemuda di negeri ku ini.

Inikah karakter-karakter para pemuda di negeri ku? Apakah ini para generasi penerus bangsa yang selalu di harapkan? Jika anda memiliki salah satu sifat buruk di atas ataupun sifat buruk yang lainnya yang tidak sempat saya ceritakan. Ayolah, ayo kita bersama-sama mengubah sifat buruk tersebut menjadi suatu sifat yang baik yang dapat bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita, marilah kita bersama-sama membangun dan memajukan bangsa ini dengan segala upaya dan kekuatan yang kita miliki. Memang untuk menjadi yang terbaik membutuhkan proses yang panjang dan cukup sulit untuk di wujudkan akan tetapi untuk menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin bukanlah hal yang sulit, Jika anda memiliki keinginan untuk meraih kesuksesan, janganlah anda memperjuangkannya hanya dengan persentasi 100% apalagi dengan usaha hanya 50% saja, tapi perjuangkanlah itu dengan usaha maksimal anda hingga mencapai persentasi 200%, perjuangkanlah itu dengan usaha dua kali lipat, otomatis keinginan anda untuk mencapai nilai sempurna sebesar 100% tersebut dapat anda capai. marilah kita bersama-sama menunjukkan kepada dunia bahwa inilah pemuda Indonesia yang sebenarnya, pemuda yang dapat di andalkan dan di banggakan oleh bangsa ini, pemuda yang dapat berkiprah di bidang apapun yang bernilai baik dan tersohor namanya di kalangan internasional. Marilah bersama-sama kita merubah persepsi orang-orang di luar sana bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tertinggal dan salah satu bangsa yang terbelakang. Marilah kita menunjukkan kepada mereka bahwa pemuda Indonesia juga bisa berkiprah di kancah internasional.

SALAM PEMUDA INDONESIA

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Tawaran Revolusi Kurikulum Pendidikan “Pesantren Friendly”

Posted on Updated on

Salatiga | 27 Desember 2014

Pengertian Kurikulum

Menurut Wikipedia, pengertian kurikulum adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan (Wikipedia, 2014).

Sedangkan pengertian kurikulum menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Deskripsi Masalah

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ # فَاِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَرَنِ يَقْتَدِى
جا تاكون سوڠكا ووڠ سجي تاكونا كنچاني # كرنا سأتمني كونچا مانوت كڠ ڠنچاني

Syair di atas bisa dijadikan pedoman dalam melihat fenomena sosial yang tengah berlangsung di sekitar kita. Sebagaimana istilah Zoon Politicon yang telah mashur di kalangan akademisi, syair tersebut juga memberikan isyarat bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan berkelompok. Hanya saja syair di atas memberikan penjelasan yang lebih rinci, yaitu berkelompok berdasarkan karakternya masing-masing.

Syair di atas bisa dijelaskan ke dalam sebuah ilustrasi berikut: Seseorang yang suka menonton bola pergi ke warung kopi, di sana ada beberapa kelompok orang yang sedang ngopi. Salah satu kelompok hobi menonton bola, kelompok lain hobi main kartu. Maka, yang kemungkinan dipilih adalah kelompok yang hobi menonton bola.

Karakter ibarat magnet yang memiliki gaya tarik terhadap pemiliknya. Orang yang hobi mabuk-mabukan akan cenderung berkumpul dengan pemabuk, orang yang hobi otak-atik blog akan suka berkumpul dengan para Blogger, orang yang berfaham Aswaja akan berkumpul dengan orang yang sefaham dengannya.

Lalu apa hubungannya karakter dengan kurikulum pendidikan?

Kurikulum pendidikan nasional yang diberlakukan selama ini cenderung menitikberatkan pada ranah kognitif. Meskipun pada rumusan kurikulum disertakan embel-embel pendidikan karakter, namun pada pelaksanaannya, guru-guru banyak yang mengabaikan masalah karakter. Hal ini bisa dilihat dari standar yang digunakan untuk kenaikan kelas cenderung mengacu pada nilai kognitif saja. Meskipun siswa memiliki karakter buruk, jika nilai kognitifnya bagus akan sulit untuk dibiarkan tidak naik kelas. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis di beberapa sekolah.

Ketika kurikulum yang diberlakukan cenderung memaksa anak didik untuk mengasah daya kognisi sebagai acuan pendidikan nasional, maka siswa dan orang tua siswa akan berlomba-lomba memenuhi tuntutan tersebut. Hal ini bisa dilihat banyaknya siswa yang mengikuti program bimbel yang tersebar di seantero Nusantara. Hal yang demikian ini, cenderung mengabaikan karakter.

Siswa-siswi yang memiliki pola pikir kognitif oriented akan berkumpul dengan siswa dan siswi yang memiliki pola pikir yang sama. Dia akan canggung apabila berkumpul dengan siswa-siswi yang memiliki karakter oriented sebagaimana yang diajarkan di dunia pesantren.

Siswa-siswi yang dididik dengan pola kognitif oriented akan tumbuh menjadi pribadi yang serba mengandalkan logika. Hal ini pernah terjadi pada sekumpulan mahasiswa yang mengandalkan logika dalam memaknai tawadlu’ dan barokah. Mereka menganggap bahwa tidak ada hubungan antara barokah dari tawadlu’ kepada guru terhadap pencapaian hasil study. Pada akhirnya, mereka menganggap bahwa kitab Ta’limul Muta’alim sangat tidak rasional dan tidak bisa dijadikan acuan dalam menuntut ilmu.

Pola pendidikan kognitif oriented bisa membuat siswa mengalami degradasi moral apabila siswa tersebut tidak mendapatkan pendidikan agama yang cukup di luar satuan pendidikan tempat dia menuntut ilmu.

Masalah Sosial

Seiring berkembangnya dunia pendidikan, saat ini tersedia banyak lembaga pendidikan yang berlomba-lomba meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai inovasinya. Disamping pendidikan formal yang di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Departemen Agama, ada lembaga non formal yang ikut menyemarakkan hiruk pikuk dunia pendidikan. Ditambah lagi kontribusi para Blogger yang ikut menyumbangkan beragam literasi yang bisa diakses secara mudah dan murah. hal ini menambah gairah semangat pendidikan di Indonesia.

Kemunculan inovasi-inovasi pendidikan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, namun juga menimbulkan dampak negatif. Diantaranya adalah:

  1. Komersialisasi Pendidikan, hal ini biasa dilakukan oleh beberapa oknum pengelola lembaga pendidikan ataupun lembaga bimbel yang memiliki karakter provit oriented
  2. Monopoli pendidikan, inovasi pendidikan juga membawa dampak pada adanya monopoli pendidikan. Pengelola pendidikan yang tidak memiliki karakter pesantren cenderung berusaha memonopoli pendidikan dengan aturan-aturan yang kaku dan memaksa peserta didik.
  3. Penyempitan makna pendidikan, meskipun secara umum, kita bisa melihat perbedaan orang yang miliki pendidikan dengan orang yang tidak memiliki pendidikan, namun pada kenyataannya, orang yang dianggap berpendidikan adalah orang yang menempuh pendidikan pada jalur formal saja. Jalur pesantren belum begitu diakui oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Degradasi Moral

Pacaran
Pemuda pacaran di Taman Bendosari – Salatiga | @radarsemarang

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pendidikan yang memiliki pola kognitif oriented cenderung mengabaikan karakter. Pengabaian pada sisi pendidikan karakter tersebut mengakibatkan timbulya degradasi moral. Diantaranya degradasi moral yang terjadi adalah:

  1. Terjadinya sex bebas, hal ini sekan sudah menjadi rahasia umum. Pemuda-pemudi pacaran adalah hal yang dianggap biasa oleh masyarakat. Bahkan! Di kurikulum 2013 ada materi khusus membahas masalah etika berpacaran Padahal, pacaran sangat berpotensi menimbulkan terjadinya sex pra nikah.
  2. Mabuk-mabukan. Beberapa anak-anak usia sekolah biasa melakukan mabuk-mabukkan, bahkan saat jam sekolah masih berlangsung.
  3. Hilangnya rasa hormat kepada guru. Setelah menjamurnya berbagai perangkat sosial media, anak-anak didik cenderung kehilangan rasa hormatnya kepada guru. Mereka sering berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang biasa digunakan dengan teman-temannya.

Sebenarnya masih banyak hal mengenai degradasi moral para pemuda di sekitar lingkungan tempat tinggal penulis. Namun, kita tak perlu mencari kesalahan lebih banyak kalau tidak bisa mencari solusinya. Jadi, beberapa masalah yang ditimbulkan dari penerapan kurikulum berpola kognitif oriented hanya disampaikan sebagian. Selanjutnya pembahasan mengenai Tawaran Revolusi Pendidikan Nasional.

Kerangka Kurikulum “Pesantren Friendly”

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِفَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Masalah yang perlu dibenahi terlebih dahulu oleh bangsa Indonesia adalah masalah moral. Untuk membenahi masalah tersebut, kita memerlukan ahlinya. Pakar ataupun ahli di bidang moral bukanlah seorang sarjana, magister, ataupun profesor lulusan dari pendidikan formal yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara intens. Tidak! Bukan mereka. Namun, beliaulah yang bisa memahai ruhani anak didik.

Sebagaimana yang pernah didawuhkan oleh Syaikina  Abdullah Faqih (Langitan – Allah Yarham), bahwa tugas pendidik yang pokok adalah menjadi syaikut ta’lim, syaikhut tarbiyyah, dan syaikhut tartiyah. Jika para pendidik di Indonesia dapat menerapkan ketiganya, Insya Allah pendidikan moral akan terlaksana dengan baik.

Rumusan Kurikulum “Pesantren Friendly”

Ngaji
Ngaji kitab kuning
  1. Materi pelajaran dipecah menjadi dua bagian, yaitu pelajaran umum dan agama.
  2. Pelajaran umum diserahkan pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah, guru pendidikan umum diambil dari sekolah formal
  3. Pendidikan agama diserahkan kepada pesantren, guru agama diambil dari pesantren. Guru agama minimal lulusan Wustho di pondok pesantren meskipun tidak memiliki ijazah formal.
  4. Rancangan kurikulum lebih lengkap harus dirapatkan oleh pemerintah dengan jajaran dewan pesantren

Sekian tulisan ini saya buat. apabila ada kekurangan dan kesalahan, saya mohon maaf.

 

Referensi: wikipedia.org

sumberahli.com

Sumber gambar:

radarsemarang.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Generasi Muda Untuk Masa Depan Bangsa

Posted on Updated on

Assalamualaikum Wr. Wb.

Syekh Mustofa Al-Ghalayaini pernah berkata didalam syairnya:

اِنَّ فىِ يَدِ السُّبَّانِ اَمْرَ اْلاُمَّةِ وَفىِ اَقْدَامِهَا حَيَاتَهَا

“Sesungguhnya di tangan pemudalah letaknya suatu ummat, dan di kaki merekalah terdapat kehidupan ummat”

Mungkin kalian akan berfikir bagaimana seandainya bangsa ini mempunyai generasi-generasi muda yang berbakat dengan potensi-potensi yang dimiliki dan mempunyai karakter sebagai seorang generasi yang CITIUS artinya lebih cepat dalam belajar dan beradaptasi, ALTIUS artinya mampu berprestasi melebihi yang lain, dan FORTIUS artinya kuat dan mampu untuk bersaing. Dengan karakter-karakter yang demikian generasi muda diharapkan dapat menjadi penerus perjuangan pemimpin dan penggerak bangsa di masa depan. Presiden kita yang pertama Ir. Soekarno pernah mengatakan “BERI AKU 10 PEMUDA NISCAYA AKAN KUGUNCANGKAN DUNIA” begitulah seorang pemimpin bangsa mengatakan dengan tegas bahwa generasi muda mempunyai pengaruh sangat besar dalam untuk membentuk bangsa ini di masa yang akan datang.

Generasi muda merupakan bibit dari suatu bangsa yang harus dididik dan dibangun segala potensinya agar kelak bisa mengembangkan bangsanya serta menjadikan lebih baik dari sebelumnya. Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang berbeda, namun karakteristik yang baik harus dikembangkan dan dilatih melalui usaha-usaha sadar yaitu pembelajaran, baik pembelajaran secara formal, nonformal, informal maupun pelajaran-pelajaran yang diambil berdasarkan pengalaman. Seseorang yang dapat  belajar dari pengalaman merupakan orang yang hebat, karena tidak mudah belajar dari pengalaman, banyak orang yang tidak peka dengan kejadian-kejadian yang pernah dialami sehingga tidak dapat mengambil pelajaran dari kejadian yang dialaminya, padahal pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup “experience the best teacher”.

Generasi muda berkarakter baik akan senantiasa disegani dan dihormati orang lain sehingga ucapannya bisa diterima dengan baik oleh orang lain. Dengan karakter yang baik seseorang akan dapat dipercaya untuk memimpin. Pada dasarnya semua manusia memiliki sifat kepemimpinan, tetapi tidak semua orang dapat menunjukkannya secara dominan. Seseorang yang memimpin bukan hanya mejadi sebuah kunci dari suatu kelompok atau menjadi orang yang paling dipercayai untuk mengendalikan suatu kelompok, tapi memimpin berarti juga seseorang dapat mengendalikan dirinya sendiri agar menjadi lebih baik. Memimpin untuk diri sendiri ternyata tidaklah mudah, yang utama dan yang paling utama adalah membiasakan diri hidup disiplin dan cerdas emosional, artinya dapat mengendalikan emosi, karena seperti yang disabdakan oleh nabi Muhammad SAW. hal yang terberat dalam hidup ini adalah melawan hawa nafsu.

Di era Globalisasi ini, banyak generasi muda yang sering mengalami penyimpangan sosial dan tidak mempunyai moral seperti mabuk-mabukan, berjudi, tawuran, menggunakan narkoba, melakukan seks bebas dan lain sebagainya. Kita sebagai generasi muda yang islami harus berfikir rasionalistis agar umat islam ini menjadi lebih baik dan lebih mulia dihadapan Allah SWT dan tidak menjadi jelek di hadapan Allah. Karena moral generasi muda sebagai modal bangsa untuk mencapai tujuan yang akan mengharumkan nama bangsa ini. Belajar dari pengalaman dulu saya pernah sowan (bertamu) ke pondok AN-NUR di Malang. Setelah berbincang-bincang cukup lama sama salah satu Gus disana dan kemudian Gus tersebut mengatakan kepada saya الأَدَابُ فَوْقَ اْلعِلْمِ “Tata krama (moral) itu lebih tinggi daripada ilmu” Karena itu dengan moral yang miliki kita bisa menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang berakhlakul karimah dan sebagai penerus estafet perjuangan terhadap agama islam.

Beberapa contoh kenakalan pada seorang remaja yang sering terjadi dimasyarakat:

  1. Membentuk kelompok-kelompok yang cenderung kearah tindakan destruktif, misalnya kelompok tawuran, pemerasan, dll.
  2. Memakai dan masuk kedalam jaringan pemakaian dan pengedaran obat-obatan terlarang.
  3. Melakukan tindakan-tindakan indisipliner di sekolah, di rumah, dan di tempat-tempat umum, misalnya sering tidak masuk sekolah, tidak patuh kepada orang tua, melakukan tindakan coret-coret atau perusakan di tempat-tempat umum.
  4. Mengebut di jalanan, yaitu mengendarai sepeda motor atau mobil di tengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan di atas batas maksimal yang banyak dilakukan oleh seorang remaja.
  5. Berhubungan seksual dan seks bebas dikalangan remaja yang statusnya belum menikah
  6. Melakukan tindakan kriminal yang seperti mencuri.

Kenakalan generasi muda penerus bangsa di era modern ini sudah melebihi batas yang sewajarnya. Fakta yang terjadi ini tidak dapat dipungkiri lagi, anda bisa melihat begitu banyaknya anak dibawah umur yang juga ikut-ikutan melakukan tindakan kriminal. Semua hal yang terjadi ini karena adanya faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Dasar-dasar agama yang kurang melekat pada diri mereka
  2. Kurangnya perhatian dan pengawasan dari orang tua
  3. Kebebasan yang berlebihan yang diberikan kepada mereka
  4. Peran dari perkembangan IPTEK yang berdampak negatif
  5. Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat
  6. Bergaul dengan teman yang karakternya tidak baik
  7. Permasalahan yang dipendam dan tidak mau diungkapkan
  8. Perubahan Sosial Budaya yang Begitu Cepat

Beberapa tips dan cara untuk mengatasi dan mencegah kenakalan remaja, yaitu:

  • Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini
  • Menanamkan Tauhid dan Aqidah yang Benar kepada Anak
  • Mendidik Anak dengan Berbagai Adab dan Akhlaq yang Mulia
  • Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, handphone, jejaring sosial dll.
  • Memberikan pembelajaran tentang hal-hal yang positif dan negatif serta bagaimana dampaknya

Kenakalan remaja adalah suatu proses yang menunjukkan penyimpangan tingkah laku atau pelanggaran terhadap norma-norma yang ada. Oleh karena itu perlu adanya pengawasan, perhatian, pendidikan, pembinaan untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh remaja. Semoga artikel yang anda baca ini dapat bermanfaat dan memberikan dampak positif untuk generasi muda penerus bangsa.

Salam “GENERASI MUDA UNTUK MASA DEPAN BANGSA”

Please like & share:

Karya KBM3 : Pendidikanku Menentukan Masa Depanku

Posted on Updated on

Aku adalah seseorang yang tinggal jauh di pelosok desa, jarak dan waktu tidak menghalangiku untuk pergi sekolah, tidak masalah bagiku seberapa jauh jarak dari rumah ke sekolah dan seberapa lama waktu yang Aku buang hanya untuk pergi ke sekolah. Aku memang tak mempunyai kendaraan seperti mobil, motor, bahkan sepedapun Aku tak punya, setiap hari Aku berjalan kaki ke sekolah demi mendapatkan ilmu yang Aku cari. Aku tidak putus asa dengan hal itu semua, tidak dapat seorangpun menghentikan langkahku untuk mencari ilmu.

Hadist Nabi : “Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya belajar semata-mata bagi Allah itu merupakan kebaikan, dan mempelajari ilmu merupakan tasbih, dan membahasnya merupakan jihad, dan mencarinya merupakan ibadah, dan mengajarkannya merupakan sedekah sedangkan menggunakannya bagi orang yang membutuhkannya merupakan Qurbah (pedekatan diri kepada Allah)”.

 

Pendidikanku Menentukan Masa Depanku

Setiap pergi ke sekolah Aku diberi uang tidak lebih dari Rp.1.000 bahkan terkadang Aku tak membawa uang saat pergi ke sekolah, tidak hanya itu saja setiap pergi ke sekolah Aku selalu menantang maut menyebrangi sungai dengan jembatan yang sudah rusak, Aku hanya bergantung kepada seutas tali sebagai peganganku untuk sampai ke seberang sana, entah apa jadinya jika tanganku tak kuat menahan lelah ini ketika menyeberangi sungai yang luas ini, mungkin Aku akan terbawa oleh arus dan tenggelam. Tetapi, semangatku dalam mencari ilmu tak mudah terpatahkan oleh hal kecil seperti itu.

Pendidikanku Menentukan Masa Depanku

Artinya : Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu (HR. Thabrani).

Namun, Aku merasa aneh dengan mereka yang hidup di kota, yang hidupnya selalu terpenuhi, yang setiap sekolah diantarkan naik mobil dan naik motor oleh orangtuanya, dan yang selalu di beri uang lebih dari Rp.10.000 setiap harinya, mereka tak memanfaatkannya dengan baik, padahal orang tua mereka bekerja demi bisa memberinya uang setiap hari dan berharap uang tersebut bisa bermanfaat untuk sekolahnya, tapi apa yang salah dengan negeri ini ? Aku melihat mereka tak begitu menghargai apa yang sudah mereka miliki, uang untuk sekolahpun mereka gunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti merokok, tidak masuk sekolah tetapi malah pergi ke warnet untuk bermain game online, lebih parahnya lagi mereka gunakan untuk membeli minuman keras, padahal minuman keras itu dilarang oleh Allah, yang telah dijelaskan pada ayat berikut :

 

Pendidikanku Menentukan Masa Depanku

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al-Maidah : 90-91).

 

Pendidikanku Menentukan Masa Depanku

Aku melihat mereka menggunakan seragam sekolah, tas, dan sepatu yang bagus, lantas Aku berpikir bahwa mereka adalah orang yang berpendidikan yang hidupnya lebih enak dibandingkan denganku. Mereka menjadi seperti itu apa karena orang tua mereka yang mengajarkannya ? atau negeri ini yang tidak memiliki peraturan ? Aku rasa tidak. Orang tua mana yang menginginkan anaknya seperti itu, dan negeri mana yang tidak memiliki peraturan. Ya, diri merekalah yang salah, mereka tak mengetahui bagaimana cara mensyukuri apa yang telah mereka miliki, sehingga mereka tenggelam dalam kebahagiaan mereka tanpa memandang kedepan untuk menentukan masa depan mereka.

Terkadang Aku berpikir ingin seperti mereka, pergi dan pulang sekolah selalu di antar oleh orang tua, uang untuk sekolah diberikan lebih dari cukup. Namun, Aku tak ingin salah jalan seperti mereka, Aku ingin di antar sekolah oleh orang tua karena Aku tak ingin jatuh di tengah jalan saat akan menggapai cita-cita, dan Aku ingin diberi uang lebih untuk menabung agar masa depanku lebih berwarna.

Tetapi, tidak semua masa depan itu berwarna indah seperti pelangi, beberapa siswa/siswi mengalami masa yang buruk akibat pergaulan bebas, masa depan mereka tidak terlihat jelas dengan apa yang mereka sudah lakukan saat ini, pendidikanpun mereka tinggalkan. Mereka berpikir bahwa mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi, padahal di dunia ini masih ada banyak orang sepertiku, bahkan ada yang tidak bisa sekolah. Aku bersyukur dengan menjadi seperti ini, tidak memiliki apa-apa tetapi ilmu yang Aku pelajari di sekolah sangatlah bermanfaat untukku.

Sungguh, Aku tak mengerti dengan semuanya, negeriku belum sepenuhnya bersatu, Aku ingin mengubahnya menjadi satu dengan pendidikanku yang menentukan masa depanku dan masa depan bangsaku di tentukan oleh generasiku.

 

Please like & share:

Karya KBM 3 : Ketergantungan Pembentukan Karakter dan Moral Anak terhadap Lingkungan Keluarga

Posted on Updated on

Ketergantungan Pembentukan Karakter dan Moral Anak terhadap Lingkungan Keluarga

            Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini banyak hal yang memicu keprihatinan terhadap generasi muda. Mulai dari tayangan televisi dan berita di media massa bahwa semakin banyaknya perilaku menyimpang yang dilakukan oleh generasi-generasi muda atau para remaja. Beberapa contoh yang bisa diambil adalah meningkatnya  angka kriminalitas, tawuran antar pelajar, miras, narkoba, free sex remaja, dan masih banyak kasus lainnya.

Kondisi tersebut semakin memperkuat asumsi bahwa kerusakan genaerasi-generasi muda atau remaja akan semakin parah dari hari ke hari.

Mungkin di lingkungan tempat saya tinggal sekarang, tindakan tersebut sangat jarang terjadi. Namun, apabila saya melihat di televisi atau media massa lainnya. Kerusakan moral yang sedang terjadi pada generasi-generasi muda semakin parah. Terkadang saya sulit percaya dengan pemberitaan di televisi, dimana ada seorang anak dengan teganya membunuh kedua orang tuanya hanya karena menginginkan sebuah ponsel baru atau sepeda motor. Atau ada beberapa anak yang menyiksa teman mereka sendiri hanya karena ingin terlihat hebat. Dan bahkan ada beberapa anak melakukan free sex tanpa memikirkan apa yang sedang mereka lakukan. Sungguh hal yang tidak pernah terpikir bahkan hal yang sangat di luar imajinasi kita.

Saya seorang anak, yang mungkin bisa dikatakan hanya sampai 10 tahun tinggal sepenuhnya dengan orang tua saya. Ketika saya kelas 5 Sekolah Dasar, saya telah berpisah dengan kedua orang tua saya. Saya hanya tinggal dengan kakak. Bertemu dan mendapat bimbingan orang tua hanya sedikit. Hal tersebut berlanjut sampai saya melanjutkan study ke Universitas. Saya hanya betemu orang tua beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu pertahun. Bimbingan dari orang tau hanya sedikit. Namun, saya dan saudara-saudara saya selalu saling menyayangi, saling menjaga, dan saling menghormati satu sama lain walaupun jauh dari orang tua kami karena orang tua saya tidak pernah sekalipun memperlihatkan ketidak harmonisan atau bahkan bertengkar di depan anak-anaknya. Tidak terlintas kekerasan dalam pikiran saya. Saya hanya mengetahui kekerasan dari luar keluarga saya.

Jadi intinya, setiap anak akan berkembang sesuai dengan apa yang di lihat dalam sebuah keluarga. Apabila anak melihat atau bahkan merasakan kekerasan dalam keluarga akan berdampak sangat negatif dengan fsikis bahkan moral sang anak tersebut yang pada akhirnya akan tumbuh menjadi generasi-generasi muda. Keluaga adalah factor utama yang membentuk kepribadian dan moral seorang anak.

Memang banyak factor lain yang juga sebagai pemicu atas pembentukan moral tersebut. diantaranya :

  • lingkungan juga meruapakan factor yang tidak kalah pentingnya. Dimana lingkungan itu mengajarkan atau memperlihatkan suasana yang memang merusak moral. Dekatnya lingkungan dengan tempat-tempat maksiat.
  • Media massa merupakan hal yang memang harus banyak pembelajaran atau harus mendapat perhatian yang lebih untuk di berikan kepada generasi-generasi muda serta dalam penggunaannya harus didampingi. Karena kemajuan teknologi yang begitu pesat, yang tidak disertai kontrol budaya yang beradab turut menjerumuskan generasi muda pada hal-hal yang negatif. Banyak informasi dan tayangan-tayangan yang negatif mudah diakses oleh generasi muda yang sebenarnya tidak pantas untuk usia mereka.
  • dangkalnya pengetahuan agama dan hilangnya tokoh panutan. Semakin acuh tak acuhnya tanggung jawab orangtua, lingkungan masyarakat, pemangku adat, para pejabat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru seringkali dilecehkan. Tontonan telah menjadi tuntunan, sementara yang seharusnya menjadi tuntunan justru menjadi tontonan yang disepelekan.

 

Namun, itu semua harus bergantung pada kondisi dalam sebuah keluarga. Karena keluarga adalah pihak intern yang paling diutamakan dalam pembentukan karakter kepribadian atau moral seorang anak, factor lainnya hanya sebagai pembantu atau pelengkap dari pembentukan moral tersebut.

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Moral “Amburadul” Penerus Bangsa, Siapa Salah?

Posted on Updated on

Moral adalah perbuatan atau ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.
Apabila yang dilakukan itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya, agama dan pendidikan. Baik buruknya nilai moral seseorang ditentukan bukan dalam konteks besaran nilai, melainkan dengan penuturan secara lifetouch terhadap masyarakat sekitar.

Dahul, Indonesia pertiwi ini adalah bangsa besar yang memiliki nama besar di sejagat raya oleh sebab tingginya budipekerti yang amat luhur dijunjung oleh para pendiri bangsa. Kala itu, moral dalam berinteraksi antar sesama sangatlah halus dan menjadi tauladan bagi seluruh unsur penduduk negeri, tidak ada batasan dalam penerapan moral mulia terhadap priyai maupun jelata, terhadap pemangku kekuasaan ataupun rakuaynya. Berkat adanya moral yang baik itu pulalah indonesia mengklaimkan diri menyandang adat ketimuran yang secara tidak langsung sesuai dengan amanah al-quran dan hadits.

Kini, era modernisasi dunia menjadikan moral baik itu seakan bagaikan kata yang amat sangat langka. Seharusnya menjaga dan meneruskan hal tersebut, justru Indonesia dihadapkan oleh para penerusnya yang haus akan kekuasaan duniawi sehingga mengesampingkan tatanan cara berinteraksi dengan baik.
Kerusakan moral yang dialami oleh bangsa sebesar Indonesia ini adalah bukan perkara yang semudah membalikkan telapak tangan dalam mengentaskannya. Sudah banyak doktrin negatif yang merasuk pada setiap deri anak bangsa, tidak mengenal usia, jabatan, kedudukan bahkan tak sama sekali mengenal ajaran leluhurnya yang amat berbudi. Indonesia telah dijajah oleh kemerosotan akhlak, indonesia telah ditindas oleh kemunduran budi pekerti, Indonesia telah dirasuki oleh krisis moral. Yang menjadikannya lebih ironis adalah dilakukan oleh penerus bangsanya sendiri bukan oleh bangsa lain. Padahal, tidak sepatutunya negara yang memiliki tagline “baldatun thoyyibatun wa rabbun gofhur” ini menjadi sedemikian mirisnya, namun kekuasaan Allah tetap lah berlaku. Tapi, apakah gerangan yang mendasari adanya krisis moral dalam kalangan penerus bangsa kita ini? Mari kita kupas bersama melalui opini pribadi saya dengan berlandaskan akal serta menukil dari beberapa pernyataan para pemerhati moral dan pemerhati lainnya.

1. Kerusakan moral oleh karena kurangnya pendidikan agama.
Agama adalah hal yang kapabilitasnya sebagai pengukur kadar iman dan taqwa setiap manusia, jika agamanya dijalankan sesuai dengan syariat yang diajarkan maka amalannya pun akan sesuai dengan moral kebathinan serta moral lahiriah. moral yang dipondsi oleh agama tidak akan mungkin menjadi produk manusia non unggulan, sebalilnya moral yang tak berazazkan oleh landasan agama, dialah yang merusak tatanan moral para penerus bangsa.
Kehausan dalam mengejar sukses duniawi tidak dibarengi dengan keseimbangan menggapai ukhrowi. Para pemuda, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun tak pelak lepas dari pengejaran gelar, jabatan, kedudukan serta kehormatan dipandangan manusia. Dengan mengesampingkan moral dan pemikiran morall, mereka akan terus dan terus menggerus isi negeri ini dengan perbuatan yang non moraltik. Terjadi kerusuhan antar pelajar yang yak diketahui asal muasal penyebabnya, perebutan kekuasaan para parlementer yang saling mengklaim dirinya benar, bahkan yang lebih miris adalah pergaulan bebas para usia sekolah yang mengakibatkan putusnya cita-cita berjuta anak bangsa.
Usia sekolah adalah waktu yang relatif dengan sensitifitas lingkungan, jika para anak sekolah tidak dipagari dengan pendidikan agama yang kokoh, jangan lagi kita pernah berharap bahwa mereka adalah penerus bangsa yang akan sukses. Keterpurukan morall yang sering dialami oleh para usia sekolah sebenarnya masih mampu ditanggulangi oleh cepatnya respon penanggung jawaban objek tersebut. Hal yang paling utama adalah didikan, bimbingan serta teladan dari orang tua masing-masing yang kemudian bekerjasama dengan pengajaran oleh para guru dengan mendidik secara etika dan penuh moraltif sehingga pada akhirnya pemerintah selaku penanggung jawab penerus bangsa akan membantu dengan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh para penerus bangsa agar kelak bangsa ini tidak memiliki penerus yang miskin akan moral kepribadian.

Lain halnya dengan para cendekiawan negara serta dewasa, anak usia sekolah adalah masa pencarian jati diri mereka sehingga tiada yang berhak dari saiapapun untuk menjudge bahwa moral mereka hancur karena ulah mereka sendiri.
Cobalah kita merenungi sejenak tentang apa dan bagaimana para petinggi negeri dalam mencontohkan moral yang baik terhadap benih pemimpin masa depan bangsa. Apakah dengan perebutan kekuasaan kursi jabatan, ataukah dengan saling asah, saling asih serta saling asuh untun memberikan contoh yang baik? Sayangnya, egoisme para petinggi negara seakan tidak tersentuh oleh mata hati mereka, padahal mereka adalah icon dari kelengkapan suatu negara, namun apa yang mereka tontonkan kepada seluruh masyarakat termasuk anak usia sekolah adalah jauh dari segi moral agamis maupun moral prilaku. MasyaAllah.

Dengan itu dapat kita klaim bahwa bobroknya moral para penerus bangsa oleh sebab didikan “mata” yang tak terpuji dari para petinggi bangsa saat ini. Sehingga wajar lah saja penerus bangsa kita menjadi kelimpungan terhadap moral, oleh sebab sistem balas dendam kekuasaan yang masuk dalam kategori REVOLUSI MENTAL. Karena perpindahan suatu prilaki dari yang lebih tinggi menuju para penerus.

2. Tolak Ukur Moral Bangsa Dari Masa Ke Masa.
Era perjuangan adalah era dimana moral para rakyat indonesia sedang dalam keadaan moral yang paling mulia, sehingga tercapainya kemerdekaan indonesia dari tangan para penjajahan. Pada saat itu pulalah nama indonesia terangkat oleh tingginya moral luhur terhadap sesama, tiada mengenal musuh diantara mereka, bersama-sama mempertahankan moral demi kokohnya pertahanan negara. Tak dipungkiri, tokoh sekaliber Bapak Soekarno presiden pertama menjadi tauladan dalam kehidupan masyarakat indonesia saat itu bukan hanya dalam hal gelora perjuangannya, ataupun dalam hal keteguhannya mempertahankan indonesia tpai juga dalam hal moral tata krama kepada siapa saja dengan penuturan moral yang baik. Sehingga, berkat baiknya moral pemimpin indonesia pada saat itu menjadikan Indonesia negara yang ramah.

Lain masa perjuangan lain pula masa transisi kekuasaan, pada masa setelah kejayaan moral indonesia yang dicontohkan pemimpin negara ini, indonesia selanjutnya terjatuh oleh kemilau dunia sehingga adab, akhlak dan pekerti bukanlah yang paling ditonjolkan melainkan pangku kekuasaan yang memihak pada penguasa. Apakah sebabnya? Yah, kemunduran moral para penerus bangsa sudah tergambar sejak masa perpindahak kekuasaan negeri ini.

Dan saat ini serta masa esok yang akan datang sudahlah jelas keadaan moral para penerus bangsa tercinta ini. Indonesia yang tercatat sebagai penduduk muslim terbesar didunia seharusnya menjadi pusat pembelajaran ilmu serta pengamalan moral etika yang baik dalam segala hal. Tingginya angka kriminalotas tindakan korupsi adalah salah satu bukti dari buruknya moral dalam berkewarganegaraan. Bahkan, banyak kalangan yang menilai bahwa indonesia adalah lumbungnya para pemasok narkoba. Yah, narkoba. Setan satu inilah yang menjadikan anak bangsa tercabik angannya hanya karena kurangnya penerapan moral dalam keseharian pergaulannya.
Ayolah, buktikan pada dunia bahwa indonesia memiliki penerus bangsa yang berkualitas, indonesia memiliki calon pemimpin bangsa yang berintegritas, dan kita buktikan pada dunia bahwa masyarakat indonesia memiliki adab moral yang morallitas dengan keanggunan berprilaku serta berkata dan beri’tikad.

3. Siapa Yang Bertanhgung Jawab Atas Bobroknya Moral Bangsa.
Tidak akan terjadi kekrisisan moral jika penyelenggara negara benar-benar memperhatikan aspek pendidikan yang mendasar pada agama dan etika. Dalam hal ini, saya tidak mengkambing hitamkan pemerintahan. Namun, titik temu atas kelimpangan moral yang terjadi dalam diri anak bangsa adalah oleh karena beberapa kebijakan yang dikeluarkan banyak yang tidak mengutamakan dasar agama dan kesejahteraan.
Pemerintah, adalah “terdakwa” utama dengan terjadinya krisis segala bidang termasuk krisis moral dikalangan pelajar maupun masyarakat luas. Hal demikian harus kita tujukan kepada pemerintah dengan dalih negara dan seisinya adalah tanggung jawab dan hak negara dan karena negara dikelola oleh pemerintah, maka sudah sepatutnya pemerintah harus bertanggung jawab pula akan terjadinya krisis moral yang masih tetap berlanjut. Pemerintah jangan hanya mempertontonkan “dagelan” yang seolah-olah peduli terhadap rakyat namun sebaliknya hanya mementingkan satu kelompok tertentu. Masalah moral adalah masalah serius, melebihi dari perkara century, melebihi perkara hukum ITE atau bahkan melebihi sekali dari pentingnya hubungan bilateral antar negara. Indonesia akan maju dikemudian hari jika krisis moral yang menjangkit penerus banhsa dapat dibumi hanguskan dari tanah air beta ini.

Kemudian mereka yang bertanggung jawab adalah tenaga pengajar dan kedua orang tua, mengapa mereka harus bertanggung jawab? Logikanya adalah, mereka semua sebagai guru utama dalam berkembangnya pengetahuan seseorang sekaligus pembentuk moral. Karena moral yang pertama terbentuk adalah dari lingkup keluarga dan sekolah yang memiliki andil penuh dalam menggonjleng peserta didik para penerus bangsa agar jangan sampai ada lagi para penerus bangsa ini yang bobrok akan moral bermasyarakat maupun bernegara. Moral yang dibangun melalui pondasi keluarga dan tiang sekolah tidak akan sempurna jika tidak disanggah dengan pengetahuan ilmu akhlak, sehingga perlunya para orang tua dan tenaga pengajar tidak membiarkan para penerus bangsa terperosok kedalam jurang moral yang nista. Begitu beratnya salah satu tugas para orang tua dan guru-guru kita ini.
Tapi, bagaimana jika memang pada akhirnya kemerosotan moral adalaj oleh sebab kenakalan para penerus bangsa yang tidak menginginkan ketekunan dalam bergaul, keselarasan dalam bersahabat dan keseimbangan dalam menentukan sebuah akar masalah. Hal ini bisa membuat para remaja penerua bangsa berpikir secara autodidak sehingga menimbulkan penyimpangan moral yang pasti tidak diinginkan oleh siapapun. Maka dari itu, tanggung jawab besar membersihkan kemerosotan moral dari negeri ini sangatlah berliku, ditambah dengan semakin menjamurnya sesuatu yang tidak sesuai dengan stigma ketimuran yang kita anut sejak lama

4. Pemecahan Masalah Moral
Sipa sangka moral tak dapat diperbaharui, moral yang sistem kendalinya ada dalam ‘cpu’ otak manusia bisa diperbaharui dengan berbagai faktor alam dan lahiriah. Adapun cara dalam menanggulangi kemerosotan moral yang bisa kota lakukan dalam konteks berpedoman pada asas negara kita yakni hukum. Bukan cambuk, bukan hukuman penjara maupun hukuman mati yang mampu membumi hanguskan kemerosotan moral ditengah kita.

Remaja adalah menjadi penyumbang terbesar dalam hal kemerosotan moral, mengingat usia remaja adalah usianya darah muda sedang bergelora. Gengsi dan arogansi lah yang menjadikan remaja terperosok kedalam jurang keterpurukan morall, tauran, pacaran, sampai hubungan intim diluar nikah menjadi sasaran empuk jika moral mereka tidak dibina sejak saat ini. Dalam belajar pelajaran disekolah, kita sering sekali menemukan diskusi antar kelompok yang didalamnya untuk memecahkan suatu soal perkara yang diberikan oleh sang guru. Jika para remaja dijejali dengan pendidikan etika dan moral lebih dari pendidikan basis yang diterpakan disekolah, bukan hal mustahil jika mereka akan terbebas dari moral yang tak beradab.
Siapa yang mampu menjamin bahwa dia yang rajin ibadah akan memiliki moral yang baik, dan siapa pula yang bisa menjamin bahwa mereka yang suka tauran memiliki moral buruk. Sebagaimana kita tahu bahwa moral adalah perbuatan atau perkataan dan niat yang secara bersamaan dilakukan tanpa meninggalkan satu sama lainnya sehingga tercipta sebuah hasil usaha yang bisa dinilai sebagai moral baik ataupun sebaliknya. Maka dari itu, Pendidikan etika dan moral sangat dibutuhkan untuk diajarkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu mata pelajaran dasar layaknya matematika, kimia , fisika dan lain sebagainya.

Dengan memperbanyak kegiatan beragama dalam keseharian juga mampu mengurangi kemerosotan moral pada penerus bangsa. Dahulu, kita sering mendengar istilah Ikatan Remaja Masjid, Rohis dan lainnya. Semua itu adalah wadah para remaja dahulu dalam memerangi moral buruk, dengan bergabung di organisasi tersebut para remaja seakan menjadi pecinta sholat, pecinta pengajian dan pecinta al-quran. Kini, sangat mengkhawatirkan. Ditengah derasnya persaingan tekgnologi yang diciptakan oleh sebagian besar para yahudi menjadikan para remaja kebanyakan tidak lagi datang ke pengajian, tidak lagi rajin bersembahyang, tidak ada lagi kemeriahan dalam keorganisasian masjid-masjid yang ada. Kini yang ada adalah jenis kemerosotan moral yang memprihatinkan. Contohnya, ketika datang waktu shalat bulan adzan yang dikumandangkan apalagi bergegas ke masjid atau musholla melainkan update status di jejaring sosial seakan dia adalah remaja yang rajin shalat, padahal yang demikian adalah remaja yang rajin update waktu shalat tanpa mengerjakan shalat itu. MasyaAllah.
Kemajuan tekhnologi jangan sampai menjadi alasan merosotnya moral anak bangsa, kecanggihan tekhnologi seharusnya digunakan untuk saling memperbaiki diri, sudah sebagaimana kita mampu mengambil sisi positif dari kemajuan dunia ini. Sudah sejauh mana kita fahami makna sesungguhnya pada kecanggihan tekhnologi. Inilah mengapa kita harus membangkitkan kembali kegiatan keagamaan dalam keseharian khususnya pada tingkatan remaja usia sekolah. Pesantren kilat setiap jumat pagi, jumat bersih dan kegiatan agama lainnya yang dahulu ada untuk perbaikan moral namun sekarang hampir tergerus oleh kesalah pahaman dalam kemajuan sehingga mengakibatkan merosotnya moral penerus bangsa indonesia.

Kemudian keseimbangan budaya yang semakin terjungkal tajam, budaya bangsa sendiri seakan tidak tahu entah kemana. Namun budaya asing seakan mudah welcome terhadap para penerus bangsa. Masih ingatkah kita pada budaya sesungguhnya milik bangsa ini? Atau kita sudah “menjual”nya dengan selalu menghadirkan budaya asing dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Presiden kita saat ini mengajarkan pentingnya memperkenalkan budaya indonesia ke mancanegara melalui pidato resminya di konferensi dengan negara-negara sahabat menggunakan bahasa indonesia. Secara tidak langsung, budaya juga ikut andil dalam merosotnya moral anak bangsa, remaja pemuda-pemudi saat ini lebih senang dengan mengenakan pakaian khas barat yang mempertontonkan lekuk tubuh atau bahkan sama sekali memperlihatkan aurat kepada mereka yang bukan muhrim. Hingga sampai kepada budaya kumpul kebo yang dianut dari barat smapai kepada penerus bangsa kita. Padahal, kita memiliki badan manajemen izin dalam pemerintahan. Alangkah baiknya budaya yang tidak sesuai dengan tatanan moral bangsa ini dilarang di negeri kita tercinta indonesia, namun kembali lagi jawabnya pasti HAK ASASI MANUSIA.

Kadang atas nama hak asasi lah kebudayaan, kebijakan dan keputusan asing yang masuk kedalam indonesia dan bebas berkeliaran di indonesia. Jika kita sadari setidaknya sudah sekian banyak pelanggaran moral yang dilakukan oleh penerus bangsa adalah karena adanya kebijakan yang mengatas dasarkan hak asasi manusia.

Kesimpulannya pada empat poin diatas adalah, moral yang sekan bagaikan momok bagi bangsa manapun, karena tidak sedikit banhsa yang terkenal adalah bangsa yang moralnya luhur dan bangsa yang bermoral adalah bangsa yang mau menegakkan peraturan tanpa mengesampingkan hal apapun sehingga banhsa itu menjadi harum di mata dunia.

Sementara dengan kemerosotan moral yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa, ada baiknya kita bersama-sama memperbaiki moral yang baik demi penerus bangsa yang baik pula. Jika diagram segitiga berkata untuk memulihkan moral buruk suatu bangsa adalah tingkatannya pertama yaitu PEMERINTAH kemudian pada tingkatan kedua adalah GURU dan ORANG TUA lalu pada tingkatan ketiga adalah DIRI SENDIRI , MASYARAKAT dan PERGAULAN.

Semoga apa yang saya utarakan pendapat dalam menyikapi kemerosotan moral penerus bangsa ini dapat dijadikan kebaikan apabila didalamnya memang baik dan bisa dimaklumi dan mohon dimaafkan apabila didalamnya ada hal yang kurang berkenan.

Alhamdulillahi wallahu A’lam

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Moral Orangtua, Moral Anak: Bagaimana Mengurangi Dampak Broken Home?

Posted on Updated on

Sebut saja namanya Anggi (nama samaran, 17 tahun) yang saat diwawancarai sedang hamil. Lagi-lagi, masalah rumah tangga yang memicunya lari ke pergaulan bebas. Kisah kelamnya berawal dari perceraian ayah dan ibunya. (Jawa Pos, 11/2/2012).

KISAH Anggi tersebut hanyalah salah satu kasus yang kerap kali muncul akibat dari hilangnya mata rantai pernikahan yang sukses. Sehingga melahirkan suatu rumah tangga yang rusak atau broken home. Memang tidak semua perceraian yang ditempuh oleh pasangan orangtua berujung pada rusaknya moral anak-anaknya. Namun begitu, umumnya memang selalu berujung pada penyimpangan ataupun kenakalan.

Tetapi, apakah kemudian kita harus menyalahkan hukum yang memperbolehkan perceraian? Di mana hal itu diakomodir dalam agama Islam? Jawabannya tentu saja tidak, jika pun ada orang-orang yang menyalahkan begitu, tidak lain hanya karena kedangkalan ilmu. Karena perceraian itu sendiri diatur bukan untuk main-main, syarat dan ketentuannya cukup ketat, dan tidak menjadi hak mutlak pihak laki-laki, dalam kondisi tertentu pihak perempuan bisa mengajukan penjatuhan talak. Dan kalau syaratnya sudah cukup, mau tidak mau suami harus menjatuhkan talaknya.

Namun fakta di lapangan, seringkali kasus kawin cerai itu dilakukan oleh pasangan-pasangan yang secara dasar pengetahuan minim dan sebabnya seringkali karena permasalahan moral dari orangtua itu sendiri. Contoh kasus karena perselingkuhan, perjudian, dan aneka perbuatan yang secara moral memang tidak dibenarkan. Dan tidak jarang, tidak hanya salah satunya saja, tetapi baik si suami atau si istri sama-sama bertindak tidak sesuai, dan akhirnya selalu anak-anak yang menjadi taruhan, yang tidak pernah terpikirkan.

Tidak hanya masalah seks bebas, namun juga menjurus pada narkoba, minuman keras, pencurian, dan tindakan tidak bermoral lainnya. Dan hal yang menyedihkannya, mereka terkadang melakukan tindakan semacam itu karena mencontoh moral orangtuanya sendiri yang tidak benar. Maka memang tidak salah kata pepatah, “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya” dan moral orangtua memang seringkali menjadi role model moral anaknya.

Hal itu masuk akal karena pendidikan dan guru pertama anak manusia adalah rumah dan orangtuanya. Kalau yang dari dalam dan terdekat saja sudah rusak, seringkali sistem pendidikan di luar yakni pihak sekolah ataupun madrasah itu sendiri sulit untuk melakukan kontrol terhadap anak-anak. Padahal seharusnya rumah bisa menentramkan ibaratnya surga, yang kita kenal dengan istilah baiti jannati.

Menurut A.M. Saefudin (1985) melalui esainya bertajuk Konsep Pendidikan Agama: Sebuah Pendekatan Integratif Inovatif dalam 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, menguraikan bahwa pendidikan dalam proses interaksi sosialnya selalu berkaitan dengan perilaku moral, antara pendidik dan yang dididiknya (h. 244). Itu pun dapat berlaku dalam institusi pendidikan paling awal bernama keluarga. Orangtua bisa diibaratkan sebagai guru, dan anak-anak adalah muridnya. Peran sentral orangtua bahkan disinggung oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” [HR. Malik, Ahmad, Bukhari, dan Muslim]

Barangkali tidak banyak anak-anak dari pasangan muslim yang bercerai kemudian memilih pindah agama, namun hadis tersebut dapat diibaratkan terkait moral ataupun perilaku. Karena kita sadari pula, bagaimana akhlak orang Yahudi menurut Al-Qur’an?

TETAPI, seperti dikatakan diawal, kita tidak mungkin mencegah suatu pasangan yang memang secara akal sehat tidak mungkin melanjutkan bahtera rumah tangga. Karena kadangkala yang kita benci adalah yang terbaik bagi kita. Maka yang utama adalah kerelaan dan ketahudirian dari pasangan suami istri sebagai orangtua. Bukankah tidak ada istilah bekas anak?

Maka, sekalipun suatu pasutri itu bercerai, seharusnya mereka memperhatikan tanggungjawabnya terhadap amanah, yakni anak-anak mereka. PASTIKAN bahwa anak-anak tetap dalam kontrol baik secara moral perilaku termasuk secara psikologis kejiwaan, ruhaninya. Agar, sekalipun kenyataan pahit yang mereka terima, yakni berakhirnya hubungan suami istri keduaorangtuanya, maka ia akan bersikap dewasa menghadapinya. Karena memang, broken home bukanlah akhir dari segalanya bagi anak-anak, jika saja orangtua bisa lebih bijak tidak mementingkan kepentingannya masing-masing.

Nah, karena kita tahu bahwa anak-anak dan remaja itu kematangan sikap dan perasaannya masih labil, terkadang kita tidak bisa menyalahkan begitu saja setiap penyimpangan yang mereka lakukan, sebab seperti dikatakan, anak-anak dan remaja itu makhluk peniru. Dan orangtua adalah contoh paling dekat yang dapat mereka ikuti. Tidak jarang, untuk kasus kecil saja, seperti kebiasaan merokok pada anak-anak, umumnya karena salah satu orangtuanya juga perokok. Maka dari itu, orang-orang dewasa yang terdekat dan bersentuhan dengan anak-anak ataupun remaja harus lebih peduli dengan mereka. Memberi peluang agar mereka dapat didengar pendapatnya serta dihargai kehadirannya. Dan ajaklah mereka untuk mengkaji kasus-kasus dan mencoba bagaimana penyelesaian atas suatu problem tersebut. Pendampingan memang perlu. Baik dalam kondisi rumah tangga yang tanpa perceraian ataupun dengan perceraian. Sebagaimana pentingnya pendidikan seks, hal terkait pernikahan dan perceraian pun penting!

Di lain pihak, institusi pendidikan seperti sekolah dan madrasah khususnya harus memaksimalkan peran serta guru bimbingan dan konseling, atau jika tidak semua guru  seharusnya memiliki kepedulian dan kesadaran pentingnya hubungan psikologis, selain hubungan akademis. Karena anak-anak yang melakukan kenakalan itu seringkali karena ingin diketahui ataupun disadari eksistensinya oleh orang lain, baik guru, terlebih orangtua. Karena bagaimanapun, orang semakin tinggi ilmunya atau pengetahuannya harus semakin bagus akhlaknya. Di sinilah pendidikan budipekerti harus diterapkan, dan dalam kasus pendidikan agama, materi pernikahan harus pula disertai studi kasus materi perceraian yang menyoal dampak-dampak broken home agar anak-anak memiliki pandangan yang siap dan matang soal seperti itu, agar mereka tidak terlalu galau karena memiliki ilmu untuk berpikir dan bertindak.

Nah, ustad-ustad di pengajian yang umumnya laki-laki itu pun harus fair dalam memberikan materi soal percerian kepada jemaah baik laki-laki maupun perempuan, agar tetap mengedepankan kepentingan anak-anak, dan sebisa mungkin mengupayakan agar suatu pernikahan sukses sampai akhir hayat. Karena kasus-kasus moral remaja sekarang tidak lepas dari moral orangtua, dan kadang tidak luput dari moral para pemuka agamanya, yang perlu juga mendapatkan perhatian.

KEPEDULIAN masyarakat juga harus ada terkait permasalahan rumah tangga yang broken home. Ini terkait stigma buruk dari masyarakat terhadap anak-anak broken home, tidak jarang masyarakat malah menjatuhkan mental anak-anak sehingga moralnya goyah. Seharusnya masyarakat memberikan dukungan dengan membentuk suatu kehidupan madani yang mengusung perikehidupan yang penuh semangat positif, bukan malah sebaliknya.

Sekalipun masalah kenakalan remaja saat ini belum dapat diminimalkan secara maksimal atau bahkan dihilangkan, kita bisa memulai dengan meminimalkan diri masing-masing, khususnya orang dewasa agar tidak melakukan kenakalan moral. Sebab seorang muslim itu memang tidak lepas dari akhlak. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun ditugaskan oleh Allah “untuk menyempurnakan akhlak” [HR. Bukhari], dan Al-Qur’an sudah mengabarkan pada kita bahwa beliau shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, uswatun hasanah, teladan yang baik yang dapat kita ikuti termasuk dalam hal mendidikan anak-anak maupun membina rumah tangga surgawi. Masalahnya, apakah kita semuanya punya kemauan untuk menyelami samudra ilmu dan mengambil mutiara-mutiara kehidupan-Nya tidak?

Marilah kita mulai membina rumah tangga sebagai ujung tombak kebangkitan suatu negeri, serta mendidik anak-anak dengan baik. Dan bagi rekan remaja putra maupun putri di mana pun berada, yakinlah bahwa keputusan pahit orangtua kalian untuk bercerai bukanlah akhir dari segalanya. Kalian bisa menjadi yang paling mulia dengan takwa. Tetaplah berbuat baik dan berbakti sepatutnya pada orangtua. Akhirul kalam, mari kita tutup bahasan ini dengan bersama-sama merenungkan hadis nabi yang mulia ini:

“Muslim yang paling sempurna imannya adalah yang perilakunya paling baik.” [HR. Tirmidzi]

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Krisis Moral Pemuda Awal Kehancuran Bangsa

Posted on Updated on

A.Pendahuluan

“Berikan saya 10 pemuda untuk merubah bangsa ini”petikan singkat dari proklamator bangsa bapak Sukarno yang penuh makna ini,memberikan kesan tersendiri sungguh pentingnya peranan pemuda bagi bangsa ini.Pemuda yang manakah yang dimaksud sang proklamator kita ini? yang pasti bukan pemuda yang meliki moral yang rusak atau pesakitan seperti pemakai narkoba, pergaulan bebas, tawuran dan sebagainya.Pemuda yang dijadikan harapan bangsa kini telah hancur dikarena moralitasnya yang semakin parah.Masalah moral para pemuda ini lebih berbahaya daripada krisis ekonomi sekalipun dikarenakan para pemuda yang akan menjadi penerus bangsa ini.Jangan sampai negara ini menjadi negara yang pesakitan dikarenakan tidak memiliki pemuda yang berkualitas.

B. Faktor-faktor penyebab krisis moral pemuda

1. Lemahnya pendidikan Agama
Agama Islam kunci dasar untuk memperbaiki moral, Al-quran dan hadist merupakan petunjuk jalan yang lurus bagi setiap muslim.Ketika jaman pra- Islam kondisi masrakat Arab pada masa itu mengalami krisis moral yang sangat kronis, dimana pada masa itu masyarakat Arab melakukan kemaksiatan secara terang-terangan,mabuk-mabukan dan perzinaan menjadi tradisi yang mendarah daging.Tapi agama Islam dapat merubahnya menjadi masyarakat yang bermoral mulia.Kita lihat kondisi pemuda Indonesia sekarang tidak beda jauh dengan masyarakat Arab pada jaman jahiliah disebabkan kurangnya pendidikan agama Islam.Mari kita bandingkan pada zaman Rasullah saw,banyak sekali prestasi yang dilakukan oleh para pemuda Islam dalam meperjuangkan agama Islam.Kita bisa ngambil teladan dari sahabat Rasullah saw yang bernama Usamah bin zaid R.A, beliau menjadi panglima perang muslim melawan pasukan Romawi pada usia 19 tahun,usia yang sangat muda dalam tugas yang begitu berat dalam memimpin pasukan muslim.Beliau bisa di jadikan motivasi bagi para pemuda Indonesia
2.Faktor keluarga
Pendidikan dasar yang pertama di dapat oleh anak berasal dari orang tua sendiri. Pendidikan dasar seorang anak adalah pembentukan karakter anak, dimana orang tua itu sendirilah yang dapat menciptakan karakter anak .Ada peribahasa mengakatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” sifat seorang anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya sendiri.Dalam mendidik anak, orang tua harus menjadi teladan bagi anak itu sendiri.Kita ambil contoh seorang ayah menyuruh anaknya untuk salat,tapi Ayah sendiri tidak salat , bagaimana anak tersebut mau menuruti perkataan ayahnya sedangkan ayahnya saja tidak melaksanakan salat.Kita bisa mengambil contoh dari Rasullah saw, bagaimana Rasullah saw pernah memerintahkan Husein ra untuk memuntahkan makanan dari hasil sedekah, disitu bisa kita lihat bagaimana Rasulllah saw menjaga keluarganya dari makanan yang tidak halal.

3.Faktor lingkungan
Faktor lingkungan sangat berpengaruh ketika anak tersebut menginjak remaja maka pergaulan harus di perhatikan.Usia remaja teman sangat berpengaruh terhadap kelakuan anak tersebut, maka kita sebagai orang tua wajib mengawasi
tempat lingkungan anak kita bergaul. Coba kita ingat kisah nabi Luth as yang dimana seluruh penduduk suatu negeri melakukan kemaksiatan berupa prilaku menyimpang homoseksual, sehingga negeri Sodom diberi azab yang sangat pedih.Kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu dimana lingkungan yang rusak sangat berdampat negatif terhadap perilaku remaja.

C.Pencegahan terhadap perilaku negatif remaja

1.Perkuat pendidikan agama
Pendidikan agama kunci dari meperbaiki moral, karena dalam agama Islam terdapat aturan yang mengatur mana yang haram maupun yang halal semua sudah ada dalam Al-quran dan hadist.Dasar utama dari moral yang baik adalah agama.
2.Adanya komunikasi yang baik dalam keluarga
Peranan keluarga begitu penting dalam menjadikan anak memilki moral yang baik. Orang tua harus menjadi mentor yang baik terhadap anak, orang tua ibarat kompas sebagai penunjuk jalan benar bagi anak.
3.Memilih teman yang baik dan beriman
Teman yang baik adalah teman yang selalu mengingatkan kita ketika melakukan kesalahan dan memberikan bimbingan yang baik.Cerminan seseorang bisa dilihat dari temanya sendiri, seorang penjudi tidak mungkin berteman baik dengan seorang ustad, ibarat air dan minyak tidak bisa disatukan.Jadi pilihlah teman yang bisa menyelamatkan dunia akhirat.

www.muslimmedianews.com
Www.cyberdakwah.com
Www.pis-ktb.com

Please like & share: