KBM1

Karya KBM1: Muslim Anti Korupsi

Posted on

Penulis: Akang Rizky @rizky_rifa

Predikat: Pemenang Hadiah Juara Ke-1

Pada postingan kali ini, gue mau membahas tentang “muslim anti korupsi”. Dan yang membuat postingan ini spesial adalah karena sebentar lagi kita akan menyambut hari anti korupsi sedunia pada tanggal 9 Desember 2013. mudah-mudahan postingan kali ini bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa … cekidot…:)

“KO-RUP-SI”, sepertinya kosa kata yang satu ini sudah tidak asing lagi, bahkan sudah menjadi bahasan yang wajib hampir di seluruh media masa, baik itu televisi, koran, majalah, di tambah lagi keisengan beberapa musisi Indonesia yang menjadikan korupsi sebagai tema lagunya. Sudah barang tentu bagi mereka yang belum faham definisi korupsi, akan bertanya-tanya, “apa sih korupsi itu?, bumbu masakan yaa?” bukan-bukan, kalo itu namanya terasi.

Bukan ini yang gue maksud korupsi

Terus korupsi itu apa kang?

Setelah menelusuri kamus bahasa Indonesia milik tetangga sebelah, akhirnya ditemukan pencerahan bahwa yang di maksud dengan korupsi itu adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. bahasa kerennya adalah “perampok profesional di keramaian tanpa beban” dan bahasa super gaulnya adalah “maling berpendidikan yang galau di tinggal kekasih”…haha

Oke-oke sekarang kita mulai serius tapi gak usah serius-serius banget yaah, santai aja laah. siapin dulu alat tulisnya sob..:)

Tau kah anda bahwa korupsi termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime)?

Gak tau tuh, kok bisa kang?

Yaa iya lah bisa. Soalnya, korupsi itu merupakan tindakan yang enggak hanya berdampak pada ekonomi tetapi juga sosial masyarakat, sob. Di banyak negara termasuk Indonesia, korupsi di nilai sangat mengganggu sistem perekonomian dan pemerintahan, sehingga dapat menimbulkan galau tingkat nasional, banyak ketidakadilan dan meruntuhkan kewibawaan pemerintah. Korupsi juga dapat menghancurkan seluruh sendi bermasyarakat dan bernegara kita. Yang lebih mengerikan lagi, korupsi menjadi penyebab kemiskinan yang utama. Yaa..yang U-TA-MA. fantastis kan? -__-”
untuk info lebih lanjut tentang dampak korupsi bisa download pdf nya disini (bilang aja males ngetik..:P)

Gara-gara korupsi

Emang pelaku korupsi itu siapa sih kang?

Pelaku korupsi itu tidak memandang jenis kelamin, suku, budaya, agama, ras dan kegantengan. semua yang namanya manusia (kecuali binatang) punya kesempatan untuk melakukan korupsi kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Mirip-mirip pelayanan jasa pengiriman barang laah. Fenomena yang terjadi belakangan ini cukup cetar membahana sob, pasalnya mayoritas pelaku korupsi banyak melibatkan pemerintah sebagai pemegang kendali kuasa. Tidak tanggung-tanggung, pemuka agamapun turut andil dalam kasus korupsi ini.

Aapaaah Pemuka agamaaaa?!!

Yeee…gak usah selebay itu juga kalee…Yaaps mereka yang menjadikan agama sebagai topeng di muka. eeh..eeh salah , maksudnya mereka yang keliatannya ngerti soal agama pun masih tergiur untuk melakukan tindakan korupsi. Sebut saja korupsi pengadaan Al-Qur’an, juga korupsi import daging sapi glonggongan. jelas banget mereka ngerti agama.

Gue sendiri pernah denger cerita tentang korupsi yang terjadi di tempat kerja gue yang berlokasi di cilegon. Gue punya temen, dan temen gue itu punya temen lagi. sebut saja dia Panjul. Tanpa di sangka ternyata si Panjul itu melakukan tidakan korupsi sob. Enggak gede banget sih, tapi yang namanya korupsi udah jelas ngerugiin pihak tertentu dalam kasus ini perusahaan. Gue enggak tau si Panjul ini ngerti agama atau enggak, tapi gue yakin si Panjul ini tau kalau tindakan yang dia lakukan itu adalah tindakan yang enggak jujur dan enggak amanah.

Ceritanya, ada banyak pengendara sepeda motor yang ingin memasukan motornya ke dalam wilayah pabrik. Jadi setiap motor tuh sebenernya gak boleh masuk wilayah pabrik kecuali ada kartu pass dan pembuatan kartu pass saat itu hanya dikhususkan bagi mereka yang jabatannya Foremen ke atas.
Nah karena bikin kartu pass itu serada ribet dan lama, si Panjul punya inisiatif yang serada-rada. Dengan jabatan yang di milikinya, secara serta merta dia memungut upeti kepada mereka yang ingin membuat kartu pass dengan alasan agar pengurusannya cepat dan enggak bertele-tele. otomatis dong ada aja orang yang kesel di mintain upeti. maka laporlah orang tersebut kepada pihak atasan. Dan kabar buruknya, si Panjul itu di pecat secara tidak terhormat. tragis banget yah??

Si Panjul dan mereka yang melakukan korupsi pasti menyadari dong, bahwa tindakannya itu hanya untuk memperkaya diri dan kelompoknya doang. dengan sengaja mereka mengabaikan rambu-rambu hukum dan agama serta merampas hak yang seharusnya orang lain rasakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Emang agama enggak ngebahas masalah korupsi kang?
Emang sih, kata “Korupsi” enggak ada dalam kitab suci manapun, tapi hakikat dari korupsi jelas di bahas di dalam agama. Pasti semua agama menentang kebohongan, keserakahan, kemunafikan dan pencurian yang terdapat dalam tindakan korupsi. Semua agama menjunjung tinggi kejujuran terlebih lagi agama islam sob. Sebab kejujuran dalam agama islam adalah kemuliaan dari beberapa kemuliaan yang menjadi pondasi prilaku beragama. Nabi Muhammad sallahu’alaihi wassalam pun sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, udah di gelari oleh masyarakat sekitar sebagai Al-Amin.

Emang Al-Amin apaan kang?

Yang jelas Al-Amin yang dimaksud bukan nama mamang batagor yah. Al-Amin adalah gelar buat orang yang dapat dipercaya, jujur dan setia. meskipun orang-orang quraisy pada waktu itu mendustakan kenabian Muhammad sallahu”alaihi wassalam tapi enggak ada satupun yang mendustakan kejujuran, amanah dan kebenaran beliau sob. Bahkan abu jahal , manusia yang jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah sallahu’alaihi wassalam pun pernah ngomong “kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa.”

Setelah peristiwa tersebut Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kami mengetahui bahwasannya apa yang mereka katakan kepadamu itu menyedihkan hatimu. akan tetapi, janganlah bersedih, karena mereka sebenarnya tidak mendustakan kamu, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Allah. (QS:Al-An’am :33)

Rasulullah sebagai suri tauladan umat islam bahkan umat manusia udah banyak menyampaikan hadist yang isinya perintah agar semua orang selalu bersikap jujur dan amanah.

Dari Ibnu Mas’ud ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda: “sesungguhnya shidq (kejujuran) itu membawa kepada kebaikan, Dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah swt sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah swt sebagai pendusta” (Mutafaqun ‘Alaih)

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”. (Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan)

Dan hadist yang ini pasti semua udah tau.

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam yaitu:
1. Apabila dia berkata selalu berdusta.
2. Apabila dia berjanji tidak ditepati.
3. Apabila diberi amanat selalu khianat.
(HR: Bukhori dan muslim)

Bila kita melihat hadist diatas menjadi jelas banget, bahwa seorang Muslim itu harusnya tidak melakukan dan anti terhadap tindakan korupsi. Sebab korupsi sendiri adalah tindakan yang sangat-sangat tidak amanah dan tidak jujur.
Hadist diatas pun oleh para sahabat-sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam dijadikan sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan beragama, bernegara dan bermasyarakat. salah satunya Umar Ibn Khathtab.ra. Elo tau kan Umar ibn Khathab.ra?
Beliau itu adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar.ra. Sebagai khalifah, beliau rela tersengat terik panas matahari hanya demi menjaga amanah sob.

Emang gimana ceritanya kang?

Begini ceritanya, Suatu ketika sahabat Utsman ibn Affan sedang beristirahat didalam rumahnya dalam cuaca yang sangat panas sampai untapun terpaksa berteduh dibawah bayangan masjid. tidak lama kemudian datanglah pria separuh baya terhuyung-huyung menutupi mukanya. tanpa menghiraukan hamburan debu, orang itu berlari menembus tengah hari yang panasnya mengeringkan semak belukar. Utsman ibn Affan mengintai dari jendela rumahnya. Dia heran, siapakah laki-laki yang menantang matahari sendirian, sementara di jalan tidak seorangpun yang berani keluar dari tempat berteduh? Utsman menyangka, lelaki itu orang asing yang sedang ditimpa kesusahan. Tidak lama kemudian, lelaki itupun muncul kembali dengan menuntun seekor sapi pada tali kekangnya. Tanpa beranjak dari jendela Ustman memanggil orang asing itu agar berlindung dari sengatan panas di rumahnya. Dan mengenai kesusahannya, Ustman akan menolongnya. Maka alangkah kagetnya Ustman ibn Affan sesudah lelaki itu melintasi halaman rumahnya. ternyata dia adalah Amirul Mu’minin, Khalifah Umar Ibn Khathtab.
Dengan serta merta Ustman keluar dan bertanya., “Dari mana engkau wahai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, “Engkau lihat sendiri bukan, aku sedang menyeret sapi?”. “Milik siapa itu?” tanya Ustman tambah terkejut, sebab biasanya Umar tidak merisaukan harta bendanya. ” Ini salah satu sapi sedekah kepunyaan anak-anak yatim yang tiba-tiba lepas dari kandangnya dan lari kejalanan, jadi aku mengejarnya dan Alhamdulillah dapat aku tangkap” Utsman tersentak ” Tidakkah ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan itu? dan bukankah engkau seorang khalifah?” Umar memotong tegas, “Siapakah yang bersedia menebus dosaku di hari perhitungan kelak? Maukah orang itu memikul tangung jawabku dihadapan Tuhan? kekuasaan adalah amanat saudaraku bukan kehormatan.”
Utsman menyarankan agar Umar beristirahat dahulu menunggu cuaca agak redup. Umar hanya menjawab ,” Kembalilah ketempatmu bernaung wahai saudaraku. Biarlah ku selesaikan kewajibanku.”
Dengan terseok-seok, Umar melanjutkan perjalanannya di ikuti tatapan mata Ustman yang membasah. Utsman bergumam, “Engkau merupakan cermin bagaimana seharusnya seorang pemimpin negara berbuat, dan hal itu pasti membuat berat para khalifah sesudahmu.” [1]

Dari kisah diatas dapat diambil pelajaran bahwa seorang pemimpin itu seharusnya menjadikan jabatan sebagai amanah yang di jalani semaksimal mungkin bukan diperebutkan untuk mengais rejeki dan mencari popularitas demi kehormatan. sebab segala tindak perbuatan kita akan dipertangungjawabkan kelak di akhirat.
Emang sih sulit menjadi pemimpin semisal Umar ibn Khathab di zaman sekarang ini, tapi bukan berarti kita mengesampingkan nilai-nilai luhur yang udah di contohin oleh Rasulullah sallahu’alaihi wassalam dan para sahabatnya kan?. walaupun kita enggak bisa menjadi pemimpin semisal Rasulullah sallahu’alaihi wassalam dan para sahabatnya, setidaknya kita membenci tindakan yang tidak amanah serta menanamkan didalam diri sebagai muslim yang anti terhadap tidakan korupsi. mudah-mudahan dengan begitu kita bisa menjaga diri sendiri dan keluarga dari tidakan yang dilarang didalam agama.

Emang sulit yaa kang menghilangkan korupsi di muka bumi?
Untuk melenyapkan korupsi dari peradaban umat manusia itu tidak semudah membalikan telapak tangan juga enggak segampang masak air panas. tapi setinggi-tingginya tupai melompai pasti akan jatuh juga kan? (Emang gak nyambung). begitu juga korupsi pasti ada penyebab dan solusi untuk mengatasinya, ibarat penyakit pasti ada obatnya.
Ada beberapa aspek utama korupsi sehingga bila tidak kunjung diperbaiki maka korupsi akan terus menjamur dan tidak akan pernah selesai ceritanya kayak film laga Kian Santang.

Aspek utamanya apa tuh kang?
Gue bakalan ngejelasin aspek terpenting yang menyebabkan korupsi bisa merajalela. selidik punya selidik ternyata ada 4 macam aspek terpenting itu. diataranya aspek politik, hukum, ekonomi dan keagamaan. aspek itulah yang menjadi hal terpenting penyebab korupsi merajalela dan ceritanya terus menerus bersambung.

Aspek Politik
Kita dapat melihat sendiri fenomena yang terjadi di ranah perpolitikan akhir-akhir ini. Sebut saja pencalonan gubernur. Enggak sedikit dana yang dikeluarkan untuk kapanye menarik simpatisan masyarakat. Dari menyebarkan spanduk, poster, pawai, kaos, sampe celana dalem juga dibagiin (yang ini becanda). Mereka juga enggak lupa membagikan uang untuk orang-orang yang di minta partisi pasi suaranya. Dana yang dikeluarkan jelas gede banget buat orang kere kayak gue gini. Hal yang begini ini yang menjadikan alasan mereka setelah terpilih untuk mengembalikan modal yang udah dikucurkan dengan mencari keuntungan mengunakan jabatan yang di embannya.
solusi yang harus dilakukan oleh pemerintah sebagai otoritas tertinggi adalah dengan mengatur sistem kampanye agar tidak mengeluarkan dana yang besar. itu doang sih yang gue tau, mungkin lo punya pendapat lain.

Aspek Hukum
Lo tau kan, hingga saat ini hukuman bagi koruptor enggak sedikitpun menimbulkan efek jera ? faktor ini juga menjadi alasan terpenting kenapa korupsi enggak pernah berakhir di bumi Indonesia kayak film laga gajah mada.
salah satu solusinya, yaa dengan diterapkannya hukuman yang berat bagi pelaku korupsi misalnya potong tangan sesuai dengan syariat islam.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Al- Maidah : 38)

Ekonomi
Faktor ini juga gak bisa di pandang sebelah mata loh. Kalo lo liat pegawai negeri sipil yang jabatannya menengah kesamping. Penghasilan yang mereka peroleh jelas masih dibawah kebutuhan dasar ekonomi keluarganya. hal ini nih yang menjadi pemicu tindakan korupsi walaupun dalam skala yang relatif kecil, misalnya menerima suap dari pengusaha untuk pengadaan barang dan jasa atau berpura-pura melakukan study banding keluar kota padahal sebagian besar dananya digunakan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya.
Solusinya adalah dengan meningkatkan gaji atau mengizinkan dan memberi pelatihan pegawai negeri sipil untuk mendirikan usaha milik pribadi biar bisa menunjang ekonomi keluarganya.

Keagamaan
Nilai-nilai keagamaan yang mulai pudar bahkan hilang menjadi pemicu tindakan korupsi. kebanyakan pelaku korupsi tahu bahwa mencuri itu dilarang dalam agama tapi karena jarangnya mereka bersentuhan dengan siraman rohani, menyebabkan hilangnya kesadaran mereka akan larangan tersebut.
Solusinya adalah dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan secara berkesinambungan sehingga menjadi acara rutin yang wajib untuk di ikuti oleh setiap otoritas pengendali kuasa serta terdapat sangsi bila ada yang tidak hadir. Bagi mereka yang beragama islam sekiranya perlu untuk dibekali nilai-nilai tambahan seperti tasawuf agar hati mereka tetap dalam kondisi ingat kepada Allah dalam situasi apapun. Sebab banyak juga dari mereka yang solat namun hati mereka lupa untuk mengingat Allah bahkan menjadi pelaku korupsi kelas kakap di ranah pemerintahan tanah air ku tercinta Indonesia raya Merdeka..!! :D. Misalnya dalam kasus korupsi import daging sapi dan pengadaan Al-Qur’an yang melibatkan petinggi beragama islam. Mudah-mudahan dengan nilai-nilai tasawuf setidaknya mereka akan berfikir seribu kali untuk melakukan tindakan korupsi. Aamiin…Allaahumma Aamiin…

Harapan gue, solusi diatas itu dilakukan secara serentak dan berkeseinambungan, Insya Allah negara kita akan terbebas dari virus korupsi. sebab Allah berfirman:
Allah Tidak Akan Merubah Nasib Suatu Kaum Sebelum Kaum Itu Merubahnya Sendiri. (QS Ar-ra’d ayat 11)
Wallahu’alam bishowab.

Oke cukup sekian pembahasan tentang muslm anti korupsinya. Jangan lupa, kunjungi website NU di sini, Add juga facebooknya di sini, dan yang terakhir, jangan lupa follow akun twitternya @ppmAswaja, sekaligus folow akun twitter gue juga yaah @rizky_rifa..:)

Artikel ini gue persembahkan buat ikutan lomba blog yang diselenggarakan oleh PPM Aswaja . Mau ikutan? Klik banner dibawah ini aja! atau bisa search di google dengan keyword: Muslim, Islam, Aswaja, Anti Korupsi. Oh iya, sebelum posting artikel, perhatikan Rulesnya yah…Sekiaaaaan…:)

_______________________________________________________________________________
[1] Al-Barabbasi, Nasiruddin; Kisah Kisah Islam Anti Korupsi; PT Mizan Publika; Bandung; 2009; hal. 58

Please like & share:

Karya KBM1: Aswaja Anti Korupsi

Posted on

Penulis: Harry Supandi @harry_supandi

Predikat: Pemenang Hadiah Juara Ke-2

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (ASWAJA) merupakan ajaran yang mengikuti semua yang telah di contohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya
Kata al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin (Khalifah Abu Bakar RA, ‘Umar bin Khattabb RA, ‘Utsman bin ‘Affan RAdan ‘Ali bin Abi Thalib RA) yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat pada mereka semua).
“Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al-jama’ah”. (Hadits riwayat Timidzi, dan di shahihkan oleh Hakim dan al-Dzahabi).
Karena itu, sebenarnya Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan-diamalkan oleh para sahabat. Ketika Rasulullah SAW menerangkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, dengan tegas Nabi SAW menyatakan bahwa yang benar adalah mereka yang tetap berpedoman pada apa saja yang diperbuat oleh Nabi SAW dan para sahabatnya pada waktu itu (ma ana ‘alaihi al-yaum wa ashabi).

MUSLIM ASWAJA ANTI KORUPSI

ASWAJA sangat tegas mengharamkan korupsi dalam bentuk apapun ( ghulul/menyembunyikan, gratifikasi/Hadiah,Risywah ( suap ), Suht ( memperoleh Harta Haram ), Khana ( khianat/tidak bisa memegang janji/penyalahgunaan kewenangan / Amanat yang telah diberikan) dan Syariqo ( mencuri barang ).

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”
(Q.S. Al Imran [3] : 161)
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.”
(Q.S. Al Baqarah [2] : 188)

Dua ayat di atas memang tidak secara spesifik berbicara tentang tindak pidana korupsi, tetapi menjelaskan tentang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan, seperti yang terjadi pada tindak pidana korupsi. Korupsi pada hakikatnya juga mengambil harta orang lain dengan berbagai cara yang tidak dibenarkan. Ayat pertama menjelaskan salah satu contoh mengambil harta orang lain tanpa hak, yaitu penggelapan harta rampasan perang. Kalau diamati kasus-kasus korupsi yang diberitakan oleh berbagai media, maka penggelapan adalah sebagai salah satu dari bentuk korupsi. Ayat ini menjelaskan betapa buruknya perbuatan ini, dengan menyatakan bahwa perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang nabi yang mempunyai kepribadian yang mulia, bersifat amanah dan terpelihara dari berbuat yang buruk. Kemudian buruknya perbuatan ini dipertegas dengan hukuman yang ditetapkan Allah bagi pelaku penggelapan nanti di hari kiamat. Mereka akan dipermalukan dengan memanggul barang yang mereka gelapkan itu, agar perbuatan yang dahulu mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi itu diketahui oleh orang banyak , sehingga aibnya terbuka, yang membuat semakin pedihnya azab. Kemudian Allah menegaskan bahwa tidak ada satu perbuatanpun yang akan luput dari pembalasan.
Selanjutnya, pada ayat yang kedua dijelaskan larangan memakan harta orang lain secara batil. Larangan ini menunjukkan pada hukum haram. Artinya, haram memakan/mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan syari’at, seperti riba, risywah/suap/gratifikasi, penggelapan, korupsi, pencurian, perampokan, penipuan dan lain sebagainya. Kemudian Allah secara khusus menyebutkan tentang (larangan) penyuapan terhadap hakim, agar hakim memutus dengan tidak adil, yaitu memenangkan pihak yang menyuap
Kata kunci dalam ayat ini adalah yaghul (al-ghal,al-ghuluul), berarti khianat. Pengertian asalnya adalah mengambil sesuatu dengan cara sembunyi-sembunyi (penggelapan/korupsi, pencurian). Kata ini banyak dipakai untuk penggelapan atau pengkhianatan terkait harta rampasan perang sebelum dibagikan. Tetapi, sebenarnya menurut bahasa kata ini dipakai untuk pengkhianatan secara umum.
Di awal ayat ini Allah menegaskan bahwa tidaklah mungkin seorang Nabi, yang Allah telah memelihara mereka dari segala perilaku tidak terpuji (ma’shuum), berkhianat dalam urusan harta rampasan perang, seperti yang dikhawatirkan oleh segolongan pasukan pemanah pada perang Uhud yang melanggar perintah Nabi Saw, dengan meninggalkan posisi mereka, ketika melihat tanda-tanda kekalahan pasukan musuh di awal-awal peperangan, karena khawatir tidak akan mendapatkan harta rampasan perang, karena akan dimonopoli oleh pasukan lain yang ada di depan kalau mereka tidak mengambilnya sendiri. Terkait hal ini diriwayatkan bahwa Rasul menegur mereka dengan mengatakan, “Apakah kalian mengira kami akan berkhianat dan tidak akan membagi-bagikan ghanimah kepada kalian?”
Dengan demikian, awal ayat ini menjawab keragu-raguan segolongan sahabat Nabi dan sekaligus memberi penegasan bahwa: Dalam keadaan bagaimanapun tidak mungkin seorang Nabi manapun berkhianat, termasuk dalam pembagian harta rampasan perang, karena salah satu sifat mutlak nabi itu adalah amanah. Karena Nabi adalah contoh teladan utama bagi umatnya, maka umatnya pun semestinya tidak wajar melakukan pengkhianatan, berupa penggelapan, korupsi, risywah dan lain sebagainya.
Dalam lanjutan ayat dijelaskan akibat hukum bagi para pengkhianat yang melakukan penggelapan/korupsi, yaitu:

Siapa saja yang melakukan penggelapan, pada hari kiamat akan datang dengan membawa apa yang digelapkan/dikorupsinya itu. Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang khutbah nabi yang menjelaskan hukuman akhirat yang akan diterima oleh orang yang melakukan penggelapan/korupsi dengan dipermalukan di hadapan Allah, yaitu dengan memikul barang yang digelapkannya, seperti unta, kuda, pakaian, emas dan perak. Dalam keadaan sulit itu, mereka berteriak minta tolong kepada Rasul dengan mengatakan: “Ya Rasulullah tolonglah aku!” Aku (Rasul) akan menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah untukmu, karena aku telah menyampaikan kepadamu (tentang haramnya perbuatan itu).” Ada yang memahaminya dalam arti hakikat, bahwa mereka benar-benar memikul barang-barang yang digelapkan atau dikorupsinya. Orang itu sangat malu dan tersiksa dengan beban yang dipikulnya itu, karena semua mata tertuju kepadanya. Dan ada yang memahaminya sebagai suatu perumpamaan, dalam arti bahwa para pelaku akan membawa dosa akibat perbuatannya itu, seperti orang yang memikul barang-barang yang digelapkannya, sehingga ia sangat kepayahan, dan tidak seorangpun mau menolongnya. Lalu ia menuju orang yang diharapkan bisa menolongnya, dalam hal ini Rasul, tetapi perkiraannya salah, karena Rasulpun tidak mau menolongnya. Sementara itu, Abu Muslim al-Asfihani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Ityaan/ya’tiy pada ayat ini adalah, bahwa Allah mengetahui benar perbuatan mereka dan akan menyingkapkan lebar-lebar. Artinya, walaupun perbuatan penggelapan dan seumpamanya itu dilakukan dengan sangat tersembunyi, sehingga mungkin tidak seorangpun yang tahu, tetapi itu akan diketahui oleh Allah. Kelak, di hari kiamat Allah akan menampakkan perbuatan itu kepada pelakunya.

Kemudian setiap diri akan diberi balasan terhadap apa yang dikerjakannya dengan (pembalasan) yang setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. Pembicaraan mengenai pembalasan ini bersifat umum untuk semua perbuatan, walaupun konteks pembicaraan di awal terkait dengan pelaku penggelapan. Hal ini merupakan penegasan pembalasan itu adalah pasti untuk semua perbuatan dosa yang dilakukan, baik kecil maupun besar, seperti yang dinyatakan oleh firman Allah dalam Q.S. Al Kahfi (18) : 49.

Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain secara batil. Artinya mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak diizinkan oleh aturan syari’at. Di dalam ayat ini digunakan lafaz amwaalakum/harta kamu. Ini menurut para mufassir mengandung beberapa makna, yaitu; bahwa pada dasarnya umat adalah satu dalam menjalin kerja sama, dan harta itu diperoleh dari hasil interaksi antara satu dengan yang lain. Di samping itu harta itu juga semestinya memiliki fungsi sosial, dimana sebagian dari yang dimiliki oleh seseorang adalah juga merupakan milik orang lain. Dengan demikian, menghormati harta orang lain pada hakikatnya menghormati harta sendiri. Begitu juga sebaliknya.
Larangan di dalam ayat ini adalah memakan harta orang lain dengan cara batil. Menurut Ali Ash-Shaabuuni, yang dimaksud al-baathil secara terminologi adalah, harta yang haram, seperti harta yang didapat dengan jalan merampok, mencuri, berjudi dan riba. Sementara itu al-Maraghi menyebutkan bahwa yang termasuk kepada al-baathil itu adalah riba, risywah/suap/gratifikasi, harta zakat yang diambil oleh orang yang tidak berhak, hasil penjualan jimat dan seumpamanya, gashab manfaat, misalnya mempekerjakan orang tanpa diberi upah, atau memberi upah yang tidak pantas, penipuan dan pemerasan, upah melakukan ibadah.
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa seseorang dilarang mencari kekayaan dan penghidupan dengan cara-cara yang dilarang oleh syari’at, karena hal itu akan merugikan orang lain.
Dan janganlah kamu menyuap/menyogok hakim atau dengan memberikan keterangan yang palsu dengan maksud bisa menguasai harta yang bukan milikmu. Artinya, janganlah kamu meminta bantuan hakim untuk mengambil harta orang lain dengan cara batil, karena perbuatan itu hukumnya haram dan berdosa.
Larangan membawa perkara harta ini kepada hakim itu adalah karena tujuannya tidak benar, yaitu agar bisa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, seperti berbohong, sumpah dan kesaksian palsu, dan lain sebagainya. Padahal kamu (hatimu) tahu dan sadar betul bahwa perbuatanmu itu adalah salah dan berdosa. Meminta bantuan hakim untuk mendapatkan pembenaran formal, tidak akan mengubah hukum di sisi Allah, karena putusan hakim, pada dasarnya sama sekali tidak bisa mengubah yang haram jadi halal atau sebaliknya. Hakim hanya bisa memberikan keputusan berdasarkan fakta-fakta lahiriah yang ada di persidangan. Bila hakim memutuskan seseorang menang di pengadilan berdasarkan fakta di persidangan, sedangkan sebenarnya itu bukan haknya, maka putusan pengadilan tidak bisa menghalalkan yang haram itu. Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan beberapa perawi lain dari Ummu Salamah, disebutkan bahwa ketika dua orang yang bersengketa tentang satu objek harta datang kepada Nabi, Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian; dan kalian mengadukan sesuatu kepada saya. Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih pintar dalam memberikan argumentasi dari yang lain, lalu aku memutus sesuai dengan keterangan yang aku dengar. Siapa yang aku putuskan baginya sesuatu dari hak saudaranya, lalu ia mengambilnya, berarti aku telah memberikan kepadanya sepotong api neraka.” Mendengarkan penjelasan Nabi ini, maka kedua orang itu menangis, lalu yang satu berkata kepada saudaranya: “Kepunyaanku terserah kepada temanku ini.” Kemudian Rasul berkata kepada keduanya: “Pergilah kalian, capailah tujuan dengan cara yang benar. Lakukanlah undian, dan sesudah itu hendaklah kalian saling memaafkan.”
Ayat dan hadits ini, menjadi panduan yang berharga bagi orang yang beriman dalam masalah hukum yang menyangkut hak/harta, menjadi siapapun dia, apakah hakim, pembela, penggugat, ataupun tergugat. Para hakim dituntut memutus secara benar, jangan pernah mau disogok dan ditekan, para pembela jangan hanya berfikir yang penting kliennya menang, para penggugat dan tergugat, jangan pernah mau menggugat dan mengambil yang bukan haknya.

Kesimpulan
▪ Korupsi adalah salah satu bentuk dari memakan/mengambil harta orang lain dengan cara batil yang diharamkan oleh Islam. Karena itu pelakunya akan mendapatkan hukuman di dunia dan diakhirat. Di akhirat nanti para koruptor akan dipertontonkan memanggul barang hasil korupsinya, tidak seorangpun bisa menolongnya.
▪ Seorang muslim semestinya tidak akan melakukan korupsi, karena perbuatan itu merupakan khianat, lawan dari amanah–yang seharusnya menjadi sifat yang melekat dengan seorang muslim–. Selain itu, di dalam dua sumber ajaran Islam telah dijelaskan keburukan perbuatan korupsi itu dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku dalam kehidupan di dunia ataupun di akhirat.
▪ Maraknya korupsi di negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan dan harus segera diberantas. Semua pihak harus berpartisipasi untuk pemberantasan ini.
▪ Memahami dan mengamalkan ajaran Islam adalah jalan keluar dari persoalan ini, karena apabila setiap muslim betul-betul yakin akan ajaran agamanya tentu ia akan mematuhinya dan takut melanggarnya.
Hakim yang paling jujur dan tidak bisa disuap di dunia ini adalah hati nurani. Nabi memerintahkan kita minta fatwa kepada hati nurani (istafti qalbak). Karena itu, setiap kita harus bertanya kepada hati nurani masing-masing. Apabila hati kita tenang melakukan sesuatu dan kita tidak takut orang lain tahu tandanya perbuatan itu baik. Tetapi jika hati kita was-was dan takut/khawatir kalau ada yang tahu, tandanya itu tidak baik. Bagi yang telah terlanjur, bertaubatlah. Mohon ampun kepada Allah, dan kembalikanlah hak orang yang berpindah kepada kita dengan cara yang tidak benar.

Artikel terkait :

Media dakwah Islam terdepan

MARI PERBAIKI BERSAMA [ MENGATASI KORUPSI ]
Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Korupsi berawal dari ketidakjujuran, menyembunyikan, penyimpangan, ketidaksesuaian dengan prosedur ataupun memperoleh sesuatu yang bukan haknya.

Bagi seorang pedagang, korupsi berupa memberatkan timbangan ( Q.S Al Mutoffifin ), bagi seorang guru korupsi bisa berupa ketidaksesuaian pada waktu mengajar, bagi seorang siswa korupsi bisa berupa menyontek, membolos, bahkan berbohong pada guru, bagi seorang karyawan korupsi berupa bermalas-malasan saat bekerja, memperpanjang waktu istirahat, lembur yang tidak efektif, sedangkan bagi seorang Pejabat, Korupsi biasanya berupa penyalahgunaan Dana APBD/APBN, Penerimaan Suap, Penerimaan Gratifikasi, dll.

BAGAIMANA CARA MENGATASI KORUPSI..??

1. PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BAGI SISWA

Pendidikan Karakter Bangsa bagi siswa adalah langkah tepat yang untuk diterapkan dalam menanamkan Akhlaq, perilaku atau sikap yang baik dan berkarakter bangsa. Remaja dan Pemuda adalah generasi bangsa yang akan meneruskan perjuangan negeri ini, sudah sepantasnya mendapatkan pendidikan Karakter Bangsa.

Kita harus sadari bahwa korupsi diawali dengan ketidakjujuran pada saat dibangku sekolah. Prinsip menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai ternyata dialami saat sekolah yaitu keinginan mendapatkan nilai yang bagus walau caranya dengan menyontek teman, membawa kertas contekan, dsb. Hal ini Jelas bahwa telah menjadi budaya siswa pada saat ujian. Mereka takut jika Nilainya jelek / tidak naik kelas, Tetapi tidak takut kepada Allah atas perbuatan curangnya tersebut. Sadarlah, Bahwa Hal ini adalah “Menipu Diri Sendiri” dan merupakan pelaku “Korupsi”.

Harus diyakini, bahwa siswa yang gemar menyontek biasanya banyak menemui kesulitan pada saat Fase pasca kelulusan. Hilangnya rasa Percaya Diri, Selalu mengandalkan Orang lain, tidak kreatif, pasif, Minder, Bahkan dia merasa bahwa dirinya tidak bisa bersaing dengan orang lain pada saat melamar pekerjaan. Sungguh Sangat menyedihkan jika hal ini terjadi pada anak didik kita.
18 PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA :

1. Religius
a. Pengertian
Religius adalah Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Makna
Nilai religius ini harus kita terapkan pada diri kita dan peserta didik, agar dalam kehidupan sehari-hari sikap dan kelakuan kita tetap berlandaskan pada agama yang kita anut serta dapat menjunjung tinggi rasa toleransi dengan penganut agama lain serta dapat menghasilkan kehidupan yang harmonis dan rukun.
c. Contoh
Kita selaku umat muslim senantiasa melakukan hal yang diperintahkan agama, seperti melaksanakan solat, memberi zakat, melaksanakan saum, dll. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh agama, seperti mencuri, berzina, mabuk, berbohong, dll.
2. Jujur
a. Pengertian
Jujur adalah Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan perbuatan.
b. Makna
Nilai jujur ini sangat berpengaruh terhadap hubungan social. Karena sikap jujur akan membangun hubungan kepercayaan seseorang terhadap kita. Apabila seseorang sudah percaya pada kita, maka mudah untuk kita membangun kerjasama dengannya.
c. Contoh
Kita sebagai mahasiswa apabila berlaku dan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari tentunya akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain, baik dari teman atau dosen. Sehingga mudah bagi kita untuk bekerjasama dengan orang lain. Dan kita senantiasa diberikan kepercayaan sebuah pekerjaan yang penting karena sikap jujur kita.

3. Toleransi
a. Pengertian
Toleransi adalah Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
b. Makna
Nilai toleransi ini menjunjung tinggi rasa tenggang rasa antar sesama agama, suku, etnis, dll demi keberlangsungan kehidupan yang harmonis dan rukun.
c. Contoh
Apabila ada teman kita yang bukan dari etnis kita atau suku yang sama dengan kita, janganlah kita mengucilkannya. Senantiasa kita harus bersahabat dengan siapapun dan saling toleransi. Hal itu akan membantu kita untuk membangun sebuah kehidupan yang tentram.
4. Disiplin
a. Pengertian
Disiplin adalah Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku.
b. Makna
Nilai disiplin ini merupakan sikap patuh kita terhadap peraturan atau aturan yang berlaku di lingkungan sekitar kita.
c. Contoh
Sebagai mahasiswa yang memberlakukan nilai kedisiplinan yang tinggi, sebaiknya kita sehari-hari datang tepat waktu ke kampus, kemudian mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkannya tepat waktu.
5. Kerja Keras
a. Pengertian
Kerja keras adalah Perilaku yang menunjukan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
b. Makna
Nilai kerja keras ini mengandung arti usaha kita dalam mencapai suatu tujuan atau pencapaian suatu pekerjaan yang diharapkan hasilnya baik dan memuaskan.
c. Contoh
Dalam menghadapi ulangan atau tes, untuk mendapatkan nilai yang maksimal dan memuaskan perlu melakukan kerja keras untuk mendapatkan keinginan tersebut, yakni dengan belajar yang tekun.
6. Kreatif
a. Pengertian
Kreatif adalah Cara berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
b. Makna
Nilai kreatif ini mengandung arti pengungkapan ide-ide kita terhadap suatu cara atau suatu pekerjaan yang menghasilkan inovasi baru.
c. Contoh
Seorang guru harus memiliki sifat kreatif untuk membantunya dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Kreatif dalam strategi pembelajaran yang digunakan, atau metode pembelajaran, atau cara ia mengajar, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
7. Mandiri
a. Pengertian
Mandiri adalah Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas- tugas.
b. Makna
Nilai mandiri ini menunjukkan perbuatan dan sikap seseorang dalam mengerjakan sesuatu tidak tergantung pada bantuan orang lain. Akan tetapi bergantung pada kemampuan diri sendiri.
c. Contoh
Apabila seorang mahasiswa diberikan tugas, hendaklah dikerjakan sendiri tanpa harus menunggu bantuan dari orang lain.
8. Demokratis
a. Pengertian
Demokratis adalah Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

b. Makna
Nilai demokratis ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena akan menghasilkan keseimbangan antara hak dan kewajiban seorang individu dengan individu lain.
c. Contoh
Dalam pemilihan ketua kelompok dapat dilakukan dengan cara demokrasi, yaitu memilih beberapa calon untuk dipilih menjadi ketua dari suara pemilih yang terbanyak.
9. Rasa Ingin Tahu
a. Pengertian
Rasa ingin tahu adalah Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.
b. Makna
Nilai rasa ingin tahu ini merupakan cerminan keaktifan seseorang dalam mempelajari sesuatu untuk menambah pengetahuan atau pemahaman seseorang.
c. Contoh
Sebelum melaksanakan pembelajaran, seorang mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu akan mempelajari materi yang akan diajarkan sehingga dalam pembelajaran nanti ia hanya mendiskusikannya saja dengan teman-teman atau dosennya.
10. Semangat Kebangsaan
a. Pengertian
Semangat kebangsaan adalah Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
b. Makna
Nilai ini sangat menjunjung tinggi rasa cinta pada tanah air serta menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
c. Contoh
Seorang pelajar rela menjadi seorang TNI dengan tujuan untuk menjaga wilayah-wilayah di Indonesia.
11. Cinta Tanah Air
a. Pengertian
Cinta tanah air adalah Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan rasa kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
b. Makna
Nilai ini tidak jauh berbeda dengan nilai semangat kebangsaan. Nilai ini lebih mementinkan kepentingan negara dibandingkan kepentingan kelompok atau pribadi.
c. Contoh
Kita dapat menerapkan cinta tanah air kita dengan cara membuat prestasi dalam berbagai bidang akademik atau olahraga demi membanggakan negara.
12. Menghargai Prestasi
a. Pengertian
Menghargai prestasi adalah Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
b. Makna
Nilai ini perlu kita terapkan dalam kehidupan akademik kita, karena dengan menghargai prestasi kita dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain agar dapat maju dan berkembang.
c. Contoh
Apabila kita melihat teman kita mendapatkan prestasi, kita sebaiknya memberi selamat dan berusaha untuk bisa seperti dirinya.
13. Bersahabat/Komunikatif
Bersahabat adalah Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Maka, Saya menghimbau kepada seluruh Siswa “JANGAN BIASAKAN MENYONTEK, KARENA AKAN MERUSAK AKHLAQ DAN JIWA KITA, PERCAYALAH PADA DIRI SENDIRI, DAN BERPEGANG TEGUHLAH KEPADA SYARIAT ISLAM, BERTAQWALAH KEPADA ALLAH, NISCAYA ALLAH SWT AKAN MEMBERIKAN JALAN KELUAR DARI SETIAP PERMASALAHAN ”

2. PEJABAT DIANJURKAN BERPUASA SENIN – KAMIS.

Puasa merupakan Benteng Diri akan Segala Hawa Nafsu. Baik nafsu Syahwat, Amarah, Serakah, Gila kedudukan, Gila Harta dsb. Puasa ibarat Sekolah yang dapat meluluskan Seseorang kepada Derajad Taqwa. Dengan Berpuasa akan sangat mendekatkan Manusia kepada Allah swt, sehingga orang yang berpuasa akan merasa Malu jika harus berbohong kepada Allah. Tidak akan makan/minum di siang hari walaupun ditempat yang sepi, didalam Goa, di kamar, atau dimanapun. Mereka Malu kepada Allah swt karena mereka merasa Allah Maha Melihat dan selalu memperhatikannya.

Dengan berpuasa, Pejabat akan merasa terbiasa untuk menahan diri, tidak mengambil harta yang bukan haknya, bersikap Qonaah ( merasa cukup ) sehingga tidak seperti “GURITA” ( Dengan Tangannya yang banyak bisa ambil apa saja yang dia suka ). Dan diharapkan para pejabat Konsisten antara Kata dan perbuatannya, tidak seperti “KEPITING” ( Matanya melihat ke depan, tetapi berjalannya Malah ke samping / inilah gambaran orang munafik ). Namun Kita bisa belajar dari seekor “KUPU-KUPU” ( Berawal dari seekor ulat yang menjijikkan dan dijauhi oleh makhluk lain, sehingga membuat Ulat itu berdoa memohon kepada Allah swt agar bisa disukai sesamanya. akhirnya Ulat tsb menjalankan Puasa menahan diri, sehingga menjadi kepompong dan terjadilah proses Metamorfosis menjadi Seekor “Kupu-Kupu” yang disukai karena keindahan sayapnya bahkan disukai oleh anak-kecil ) .

Kita bisa belajar dari apa yang ada disekeliling kita. Bahwa Allah Swt memberikan petunjuk kepada kita semua untuk ber-Tafakur ( berfikir, Merenung, Memahami Ayat-ayat Allah ) di muka bumi dan di langit.

3. PEMERINTAH MENGELUARKAN HUKUMAN SEBERAT MUNGKIN BAGI PARA KORUPTOR.

Amanah yang diberikan Pemerintah kepada pada Pejabat seharusnya dipegang teguh dan dilaksanakan sesuai dengan Prosedur atau aturan yang ada. Banyak sekali kasus korupsi di negara kita yang seakan-akan sudah menjadi hal biasa, tidak ada rasa Malu, tidak ada rasa takut pada Allah, tidak ada rasa menyesal, malah masih bisa tersenyum ketika wartawan mewawancarainya di media. Sungguh Sangat ironis dan menyedihkan. Jika Sudah demikian, Pemerintah harus menindak tegas para koruptor dengan hukuman yang seberat-beratnya, prinsipnya agar memberikan efek jera dan tidak timbul lagi koruptor-koruptor lain. mereka akan berpikir seribu kali untuk melakukan korupsi.

Artikel Terkait :
INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

BAHAYA / HUKUMAN PERBUATAN GHULUL (KORUPSI)
Dari ‘Adiy bin ‘Amirah Al Kindi radhiyallâhu’ anhu berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))، قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مِنْ الْأَنْصَارِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ، قَالَ: ((وَمَا لَكَ؟))، قَالَ: سَمِعْتُكَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: ((وَأَنَا أَقُولُهُ الْآنَ، مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْهُ انْتَهَى))
“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan),
lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu,
maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”.
(‘Adiy) berkata : Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
seolah-olah aku melihatnya, lalu dia berkata,”Wahai Rasûlullâh, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.”
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya,”Ada apa gerangan?”
Dia menjawab,”Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya perkataan di atas, Pen.).”
Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun berkata,”Aku katakan sekarang, (bahwa) barangsiapa di antara kalian
yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya),
sedikit maupun banyak.
Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya.
Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh.”

Pelaku ghulul (korupsi) akan dibelenggu, atau ia akan membawa hasil korupsinya pada hari Kiamat, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat ke-161 surat Ali Imran dan hadits ‘Adiy bin ‘Amirah radhiyallâhu’ anhu di atas. Dan dalam hadits Abu Humaid as Sa’idi radhiyallâhu’ anhu, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((… وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ …))
“Demi (Allâh), yang jiwaku berada di tanganNya. Tidaklah seseorang mengambil sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jjika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara..

Perbuatan korupsi menjadi penyebab kehinaan dan siksa api neraka pada hari Kiamat.
Dalam hadits Ubadah bin ash Shamit radhiyallâhu’ anhu, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((… فَإِنَّ الْغُلُولَ عَارٌ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشَنَارٌ وَنَارٌ))
“…(karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya

Allâh tidak menerima shadaqah seseorang dari harta ghulul (korupsi), sebagaimana dalam sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

((لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ))
“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan shadaqah tidak diterima dari harta ghulul (korupsi)”

Harta hasil korupsi adalah haram, sehingga ia menjadi salah satu penyebab yang dapat menghalangi terkabulnya do’a, sebagaimana dipahami dari sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

((أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ))
“Wahai manusia, sesungguhnya Allâh itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allâh memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Allâh perintahkan kepada para rasul. Allâh berfirman,”Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dia (Allâh) juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rizkikan kepada kamu,” kemudian beliau (Rasûlullâh) shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang lama bersafar, berpakaian kusut dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): “Ya Rabb…, ya Rabb…,” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Maka, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”

Orang yang mati dalam keadaan membawa harta ghulul (korupsi), ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga.
Hal itu dapat dipahami dari sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

((مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ))
“Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang

Artikel Terkait :
INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

HUKUM SYARI’AT TENTANG KORUPSI
Sangat jelas, perbuatan korupsi dilarang oleh syari’at, baik dalam Kitabullâh (al Qur`an) maupun hadits-hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Di dalam Kitabullâh, di antaranya adalah firman Allâh Ta’âla :
“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang).Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu),maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …(Qs. Ali Imran/3: 161)

Dalam ayat tersebut Allâh Ta’âla mengeluarkan pernyataan bahwa, semua nabi Allâh terbebas dari sifat khianat, di antaranya dalam urusan rampasan perang.
Menurut penjelasan Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhu, ayat ini diturunkan pada saat (setelah) perang Badar, orang-orang kehilangan sepotong kain tebal hasil rampasan perang. Lalu sebagian mereka, yakni kaum munafik mengatakan, bahwa mungkin Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengambilnya. Maka Allâh Ta’âla menurunkan ayat ini untuk menunjukkan jika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam terbebas dari tuduhan tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullâh menambahkan, pernyataan dalam ayat tersebut merupakan pensucian diri Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari segala bentuk khianat dalam penunaian amanah, pembagian rampasan perang, maupun dalam urusan lainnya Hal itu, karena berkhianat dalam urusan apapun merupakan perbuatan dosa besar. Semua nabi Allâh ma’shum (terjaga) dari perbuatan seperti itu.
Mengenai besarnya dosa perbuatan ini, dapat kita pahami dari ancaman yang terdapat dalam ayat di atas, yaitu ketika Allâh mengatakan : “Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …”

Ibnu Katsir rahimahullâh mengatakan,”Di dalamnya terdapat ancaman yang amat keras.”Selain itu, perbuatan korupsi (ghulul) ini termasuk dalam kategori memakan harta manusia dengan cara batil yang diharamkan Allâh Ta’âla, sebagaimana dalam firmanNya:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil,dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa,padahal kamu mengetahui” (Qs. al Baqarah/2:188)

Juga firmanNya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”(Qs. an Nisâ`/4 : 29)

Adapun larangan berbuat ghulul (korupsi) yang datang dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka hadits-hadits yang menunjukkan larangan ini sangat banyak, di antaranya hadits dari ‘Adiy bin ‘Amirah radhiyallâhu’ anhu dan hadits Buraidah radhiyallâhu’ anhu di atas.

Artikel Terkait :

INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

WASPADALAH….PELUANG TERJADI KORUPSI
Setiap tugas apapun, terutama yang berurusan dengan harta, seperti seorang yang mendapat amanah memegang perbendaharaan negara, penjaga baitul mâl atau yang lainnya, terdapat peluang bagi seseorang yang berniat buruk untuk melakukan ghulul (korupsi), padahal dia sudah memperoleh upah yang telah ditetapkan untuknya
Telah disebutkan dalam hadits yang telah lalu, yaitu sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yang artinya : Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah harta ghulul (korupsi).

Ketika pengumpulan zakat mâl (harta)

Seseorang yang diberi tugas mengumpulkan zakat mâl oleh seorang pemimpin negeri, jika tidak jujur, sangat mungkin ia mengambil sesuatu dari hasil (zakat mâl) yang telah dikumpulkannya, dan tidak menyerahkannya kepada pemimpin yang menugaskannya. Atau dia mengaku yang dia ambil adalah sesuatu yang dihadiahkan kepadanya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi pada masa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau memperingatkan dengan keras kepada petugas yang mendapat amanah mengumpulkan zakat mâl tersebut dengan mengatakan:
((أَفَلَا قَعَدْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ فَنَظَرْتَ أَيُهْدَى لَكَ أَمْ لَا))
“Tidakkah kamu duduk saja di rumah bapak-ibumu, lalu lihatlah, apakah kamu akan diberi hadiah (oleh orang lain) atau tidak?”
Kemudian pada malam harinya selepas shalat Isya’ Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berceramah (untuk memperingatkan perbuatan ghulul kepada khalayak). Di antara isi penjelasan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
((فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَغُلُّ أَحَدُكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا جَاءَ بِهِ لَهُ رُغَاءٌ وَإِنْ كَانَتْ بَقَرَةً جَاءَ بِهَا لَهَا خُوَارٌ وَإِنْ كَانَتْ شَاةً جَاءَ بِهَا تَيْعَرُ))
“(Maka) Demi (Allâh), yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Tidaklah seseorang dari kalian mengambil (mengkorupsi) sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara…
Hadiah untuk petugas, dengan tanpa sepengetahuan dan izin pemimpin atau yang menugaskannya
Dalam hal ini, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
((هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ))
“Hadiah untuk para petugas adalah ghulul”.

Please like & share:

Karya KBM1: Pendidikan Anti Korupsi Sejak Usia Dini

Posted on

Penulis: Diah Kusumastuti @d3kusumastuti

Predikat: Pemenang Hadiah Juara Ke-3

Sebagai warga negara Indonesia, saya sangat prihatin menyaksikan berita di berbagai media massa yang hampir setiap hari membahas tentang korupsi. Semakin hari semakin banyak kasus korupsi yang terungkap oleh pihak yang berwenang (dalam hal ini dan saat ini adalah KPK). Itu semua yang sudah terungkap. Saya yakin masih banyak kasus korupsi yang belum tersentuh hukum. Karena nampaknya korupsi sudah mengakar di negeri ini, atau mungkin sudah menjadi budaya hingga ke seluruh negeri?

Sebagai ibu dari seorang anak balita, saya sangat miris menyaksikan berbagai degradasi moral yang terjadi saat ini, di negara ini. Terutama yang berkaitan dengan masalah korupsi. Saya takut, bagaimana lingkungan anak saya nantinya bila telah dewasa, apakah akan sama seperti sekarang? Ataukah lebih parah? Dan mampukah anak saya kelak melawan arus itu?

Untuk melawan ketakutan saya sendiri tersebut, saya bertekad untuk memberikan pondasi terbaik bagi anak saya, agar kelak ia tak akan sampai terjerumus ke lingkaran korupsi. Dan akan lebih baik lagi jika kelak ia menjadi bagian dari orang-orang yang mampu memberantas korupsi.

Menurut saya, pondasi itu harus berawal dari dalam rumah. Karena, bila anak telah memiliki pondasi yang baik dan kuat dari dalam rumah (lingkungan terkecilnya) maka ia akan mampu membawa dirinya ke dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Ia tak akan mudah terombang-ambing oleh arus yang menyesatkan karena pondasinya telah kuat. Lalu, apakah pondasi yang saya maksud? Pondasi yang saya berikan adalah pendidikan yang baik di dalam rumah. Pendidikan tersebut mencakup pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan di usia dini yang berhubungan dengan larangan korupsi antara lain menyangkut kejujuran/larangan berdusta, kebenaran, larangan mencuri, dan lain-lain.

Menanamkan Sifat Jujur
Anak saya masih usia balita, jadi menurut saya ini adalah kesempatan yang tak boleh terlewat. Karena pendidikan yang diberikan kepada anak pada saat usia dini akan sangat berpengaruh kuat bagi masa depannya. Di usia balita, kemampuan anak dalam menyerap berbagai hal di sekitarnya sangat cepat, dan akan sangat membekas di kemudian hari. Contohnya, bila ia dididik untuk terbiasa bekata jujur, maka insya Allah kelak ia akan tumbuh menjadi orang yang terbiasa berkata jujur dan memilih kebenaran.

Tekad tersebut sudah mulai saya wujudkan dalam mendidik anak saya dalam keseharian. Saya memulainya dari diri saya sendiri (yang nantinya akan ditiru anak, insya Allah). Misalnya, saya tak akan berbohong hanya karena alasan agar dia diam dari tangisnya. Lebih baik saya berikan alasan yang mudah dia terima, agar dia mengerti dan terbiasa dengan kejujuran.

Misalnya saja waktu dia pilek, lalu dia minta es krim. Saya tak akan mengatakan bahwa di dalam es krim tersebut ada ulatnya atau apalah yang membuat dia takut, sehingga dia benar-benar takut lalu tak memintanya lagi. Tapi, saya akan jelaskan bahwa bila makan es krim, pileknya akan bertambah parah, dia akan lebih lama sakit dan tak kunjung bisa menikmati es krim kembali. Atau bila berada dalam kegelapan, saya tak akan menakut-nakuti dengan berbagai kebohongan, karena hanya akan membuat pemahaman yang salah pada anak, selain kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah merasa resah dan cemas.

Bila kita sebagai orangtua terbiasa jujur kepada anak, secara otomatis dia akan menirunya. Apalagi di usia balita. Karena, anak balita adalah peniru sejati. Dia akan mudah menirukan apa saja yang ia tangkap dari sekelilingnya, entah itu kata-kata, perbuatan, atau bahkan juga sikap-sikap diam kita.

Ada yang mengatakan bahwa kebiasaan itu membentuk karakter. Saya sangat setuju akan hal itu. Dari kebiasaan sehari-hari, akan terbentuk karakter yang kuat pada anak. Dan lambat laun, karakter itu akan mewujudkan sebuah sifat. Begitu pula dengan kebiasaan berkata dan bersikap jujur, hal itu akan membentuk karakter anak menjadi jujur, dan kelak insya Allah akan mewujudkan sifatnya yang suka kejujuran dan memihak pada kebenaran.

Kasih Sayang dari Orangtua
Mendidik anak dengan penuh kasih sayang itu sangat penting. Karena dengan kasih sayang, hubungan antara anak dengan orangtua akan semakin erat. Tanpa sadar, alam bawah sadar anak akan selalu terpaut pada orangtuanya, menjadikannya teladan dengan sepenuh hati. Demikian halnya bila orangtua mengajarkan kebaikan-kebaikan dengan kasih sayang, maka anak pun akan melakukan hal-hal baik dan benar dengan rasa cinta. Bukan karena takut atau hanya demi menuruti perintah orangtua.

Sebaliknya, jika kita mendidik anak dengan kekerasan, meskipun yang diajarkan adalah tentang kebenaran, suatu saat efeknya akan lain. Bisa saja kelak si anak melakukan pemberontakan batin, karena dahulu dia tidak ikhlas melakukan perintah orangtuanya, karena terpaksa. Dampaknya, dia akan melampiaskan keterbelengguannya di masa kecil dengan bertindak sesuai keinginannya. Kalau sudah begitu, bisa saja ia akan mengambil jalan yang salah demi kepuasannya. Seperti berbuat korupsi.

Membiasakan Anak untuk Qana’ah
Qana’ah (merasa cukup dan ridha dengan pemberian rezeki dari Allah) itu penting dibiasakan kepada anak. Diharapkan, dengan pembiasaan bersikap seperti itu sejak dini akan terus terjaga hingga dewasa. Menjadi sangat penting karena dengan sifat itu seseorang akan selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, besar atau kecil. Sehingga dia tak akan mudah menginginkan nikmat/rezeki yang diterima orang lain. Dia akan jauh dari sifat iri dan dengki, hingga mungkin melakukan apapun dengan segala cara untuk mendapatkan seperti apa yang dimiliki orang lain.

Sifat iri dan dengki seperti itulah yang menjadi salah satu sebab seseorang melakukan korupsi. Dia ingin dengan mudah mendapatkan uang/materi tanpa bersusah payah terlebih dahulu.

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya.” (HSR Muslim (no. 1054).

Mendidik Anak Menurut Syari’at Islam
Syari’at Islam itu luas, tidak hanya mencakup hukum pidana-perdata. Tetapi juga menyangkut akhlaq. Maka selain anak harus kita didik mengenai hukum mencuri, berbohong, shalat, dan sebagainya, mereka juga harus kita biasakan untuk hormat kepada orangtua, menghormati hak orang lain, berkasih sayang dengan mereka, dan lain-lain. Semua itu sudah ada panduannya dalam syari’at agama Islam yang sempurna (Al-Qur’an dan Al-Hadits).

Mendidik anak mengenai syari’at (hukum-hukum Islam) bisa dilakukan sejak anak masih kecil. Mengenalkan makna ayat-ayat Allah kepada anak memang tak mudah, namun anak akan bisa menerimanya tergantung bagaimana kita menyampaikannya sesuai dengan tahap perkembangan umurnya. Seperti kepada anak saya yang masih balita, belum perlu saya sampaikan isi dan makna suatu ayat Al-Qur’an kepadanya. Cukup saya berikan pengertiannya saja. Misalnya dilarang mencuri, karena Allah membencinya. Bisa disampaikan ketika sambil bermain, bahwa dia tidak boleh membawa mainan temannya ketika pulang, karena itu bukan miliknya. Kalau mengambil yang bukan miliknya berarti mencuri, dan akan dibenci oleh Allah. Atau bisa juga disampaikan melalui dongeng-dongeng/cerita-cerita baik dari buku atau kita buat sendiri.

Mendidik anak mengenai syari’at Islam juga berarti mengajarkan anak bahwa segala perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah. Selain itu tanamkan pada jiwa anak bahwa segala perbuatannya selalu diawasi oleh Allah.

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan larangan korupsi adalah sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33)

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (QS. An-Nisa’: 50)

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: “Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-A’raf: 37)

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”
(QS. An-Nahl: 105)

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?”
(QS. Al-Ankabut: 68)

“Dan janganlah kamu makan harta diantara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 188)

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

Semoga, dimulai dari lingkungan yang terkecil yaitu rumah, akan terbentuk pribadi-pribadi yang suka kejujuran dan siap membela kebenaran. Sehingga meskipun lingkungan mengajaknya (memberikan celah) untuk melakukan korupsi, ia tidak akan tergiur dan terlena oleh kesempatan yang menyesatkan tersebut. Yang dapat memasukkannya ke dalam siksa api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Saya membayangkan, jika para ibu melakukan pendidikan yang baik dan benar kepada anak-anaknya di rumah, terutama membiasakan berkata dan berlaku jujur, saya optimis, suatu saat negeri ini akan bersih dari korupsi. Meski saya pun menyadari, 20 atau 30 tahun mendatang ketika anak saya telah dewasa, tantangannya akan jauh lebih berat. Seperti yang kita lihat di masa-masa yang telah terlewat, korupsi kian hari kian menggila di negeri ini. Namun harapan itu selalu ada.

Dan semoga, saya termasuk salah satu ibu yang dapat mengambil bagian itu, dan terus istiqamah mendidik anak-anak dengan baik dan benar hingga kelak mereka dewasa. Aamiin.

Please like & share:

Karya KBM1: Belajar Kejujuran (Terpaksa Korupsi)

Posted on

Penulis: Bagustris @bagus_tris

Predikat: Pemenang Hadiah Terfavorit Ke-1

Akhirnya, setelah berkoar-koar tentang Para Pencuri Gaji, Korupsi Telah Mendarah Daging, Anti Korupsi: Belajar Kejujuran dari Pengemudi Taksi, toh akhirnya kita terpaksa harus korupsi juga. Ironis memang, tapi kalau tidak korupsi, kita tidak akan mendapatkan hak-hak kita. Sistem-lah yang memaksa kita untuk korupsi. Ketika mengurus dokumen adminstrasi di pemerintahan seperti KTP, Paspor, ketika mengajukan SIM, ketika ditilang, atau membuat laporan pertanggung-jawaban bagi pegawai pemerintah.

Dalam kaitan korupsi secara luas, yakni KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), dua perkara bisa kita cegah yakni korupsi dan nepotisme, namun untuk kolusi, kadang kita harus melakukannya untuk mendapatkan hak-hak kita.

Deklarasi Anti Korupsi parpol yang sebatas di mulut saja

Praktik kolusi yang terpaksa kita lakukan biasanya berkenaan dengan pengurusan dokumen administrasi pemerintahan seperti dalam pembuatan akta kelahiran, ktp, surat nikah, SIM dan paspor. Kadang tak sungkan-sungkan, oknum pegawai negeri dengan terang-terangan meminta uang pelicin, padahal hal tersebut tidak ada dalam aturan resminya. Jika kita tidak membayar uang tersebut, maka dokumen administrasi seperti KTP tidak diberikan. Saya pernah mengalami hal ini, oknum aparat desa dengan cara halus meminta uang sebagai tebusan KTP saya. Begitu juga dalam pengurusan SIM, jika kita mengikuti prosesur resmi, cenderung untuk tidak lulus ujian SIM. Walhasil, terpaksa kita memanfaatkan jalur pintas dengan membayar uang pelicin kepada oknum polisi. Saya juga melakukan hal yang sama.

Saat mahasiswa, saya mulai mengenal birokrasi kampus dan pemerintahan yang ribet. Untuk mengajukan dana penelitian, kita diharuskan membuat anggaran dana yang terpaksa harus di mark up. Jika tidak di mark up, konon katanya anggaran yang disetujui lebih kecil, jadi anggaran tersebut di naikkan dulu, toh nanti yang disetujui juga lebih rendah. Belajar me-mark up anggaran dana ini bahkan sudah diajarkan pada pengurus organisasi semisal OSIS di tingkat SMA, mungkin juga mulai SMP. Jadi, sejak kecil kita sudah dididik untuk korupsi. Sistem di negara kita-lah yang salah dalam mendidik warganya.

Bila anggaran dana penelitian disetujui, dalam beberapa bulan kita akan diminta laporan pertanggung jawabannya (LPJ). Padahal penelitian baru saja dimulai, terpaksa lagi kita harus merekayasa neraca keuangan penelitian supaya seimbang (balance sheet). Bila ditulis dengan jujur, hampir tidak mungkin membuat neraca keuangan yang seimbang (pemasukan=pengeluaran), namun sistem lah yang memaksa kita seperti itu. Pun, kita terpaksa harus berbohong dalam menulis laporan LPJ tersebut dengan merekayasa data dan anggaran yang terpakai dengan alasan yang sama: kalau tidak direkayasa, tahun depan kemungkinan penelitian kita tidak akan disetujui.

Di negara maju seperti Jepang, perjalanan dinas akan diganti oleh pemerintah yang mencakup uang transportasi, makan, hotel dan lain-lain dengan menunjukkan struk atau bukti pembayaran. Tak jarang, uang ganti tersebut melebihi dari jumlah uang sebenarnya yang kita keluarkan, jadi kita tidak perlu melakukan mark up untuk mendapatkan dana lebih besar.

Dalam pengurusan dokumen administrasi yang lain, hampir di semua lini kita dipaksa untuk melakukan kolusi. Misalnya dalam pendirian sekolah atau lembaga pendidikan, organisasi, madrasah, tempat ibadah dan sejenisnya, kita dipaksa untuk mengeluarkan sejumlah uang agar pendirian lembaga tersebut disetujui oleh pemerintah. Setelah lembaga tersebut berdiri, untuk mendapatkan bantuan dana dari pemerintah yang seharusnya menjadi hak lembaga tersebut pun kita juga harus mengeluarkan uang. Taruhlah jika sebuah madrasah seharusnya mendapatkan bantuan pemerintah 10 juta setiap bulannya, maka 10% dari bantuan tersebut masuk (pada calo) proses untuk mendapatkan bantuan tersebut (dipotong setelah bantuan didapatkan).

Praktik KKN ini lebih parah terjadi pada birokrasi hukum di negeri kita. Tak sedikit para hakim, pengacara, dan jaksa yang terseret kasus korupsi, padahal seharusnya merekalah yang menjadi panutan penegakan hukum. Di tingkat bawah, misalnya di kantor imigrasi, praktek KKN ini menjelma dalam pelayanan yang mereka berikan seperti dalam pemilihan paspor yang hanya melayani tipe 48 halaman (padahal kita hanya butuh tipe 24 halaman, dan harganya jauh lebih murah) ataupun pembelian map untuk aplikasi paspor yang harganya hampir dua puluh ribu rupiah (padahal harga map sesungguhnya tak lebih dari seribu rupiah). Akhirnya dengan terpaksa kita menuruti alur tersebut, bahkan tak jarang kita juga harus melakukan kolusi agar aplikasi paspor kita disetujui atau dipercepat.

Dalam praktek bernegara yang katanya menganut faham demokrasi ini, di pemilihan kepala desa di sebuah kabupaten, total dana KKN untuk menyogok warganya bernilai 1 triliun. Uang sebanyak itu hanya berputar mungkin dalam satu hari saja. Ya mau bagaimana lagi, kalau tidak disogok, masyarakat kita tidak mau menyoblos untun pilihan kepala desa / lurah. Di tingkat yang lebih tinggi, pemilu /pemilihan bupati, gubernur, anggota DPR/MPR, atau mungkin presiden, tentu nilai KKNnya lebih besar.

Gejala KKN di negeri kita sudah pada tahap akut sampai kita dididik untuk melakukan korupsi semenjak kecil. Mau tak mau, kita harus melakukan korupsi (lebih khusus lagi kolusi) untuk mendapatkan hak-hak kita. Jika tidak korupsi, hak kita terampas. Siapa yang salah? Sistem lah yang salah, sistem negara kita yang sudah membudayakan korupsi di semua aspek kehidupan masyarakat. Rasulullah SAW sebagai panutan umat islam di Indonesia yang sebagain besar berhaluan ahlus sunnah waljamaah pernah bersabda,
Allah melaknat orang yang menyogok (risywah), penerima sogok, dan perantara keduanya (calo).
Ya Rasulullah, maafkanlah kami yang mengabaikan pesanmu. Kami terpaksa menyogok untuk mendapatkan hak-hak kami. Ya Allah, ampunilah hambamu ini. Jangan engkau laknat karena kami menyogok, Ampunilah kami ya Rabb.
Epilog
Meski terkadang kita harus melakukan KKN demi mendapatkan hak-hak kita, namun sebisa mungkin kita menghindarinya. Dan bila terpaksa dan sudah melakukannya, yang bisa kita lakukan hanyalah memohon ampunan Allah dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Mari menjadi muslim yang baik, muslim yang taat pada perintah agama dan kita tunjukkan bahwa Islam benar-benar rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Mari menjadi Muslim Anti Korupsi.

Please like & share:

Karya KBM1: Kasus Korupsi Di Indonesia Menodai Sucinya Nama Islam

Posted on

Penulis: Waluyo @waluyo_rsd

Predikat: Pemenang Hadiah Terfavorit Ke-2

Tinggihnya kasus korupsi yang terjadi di Negara Indonesia mau tidak mau ikut menodai sucinya nama agama islam juga. Bagaimana tidak coba, Indonesia adalah negara dengan penduduk penganut agama islam yang jumlahnya paling banyak di dunia. Sudah pasti kebanyakan orang awam akan melihat akhlak Bangsa Indonesia adalah cerminan dari keyakinan dari agama yang dianutnya tersebut.

Padahal secara perhitungan kita bisa bilang, karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, maka secara otomatis yang memangku jabatan di negara ini adalah mayoritas muslim juga, dan bila para pemangku jabatan tersebut banyak yang melakukan tindakan korupsi, sudah pasti tentu oknumnya juga mayoritas muslim.

Saya kasih perbandingannya: misal di negara X penduduknya mayoritas non-muslim, otomatis para pejabatnya adalah non-muslim, bila terjadi kasus korupsi,,, ya pelakunya non-muslim juga dong.

Jadi di sini saya kurang setuju bila ada yang mengatakan bahwa banyaknya kasus korupsi di Indonesia dikarenakan agama islam kurang benar untuk menangani urusan korupsi. (Biasanya yang suka mengeluarkan statement ini adalah non-muslim yang suka debat di grup / forum-forum bebas di internet.)

Tapi apa daya, fakta-fakta yang terjadi di lapangan memang sangat memalukan dan merusak citra muslim. Khususnya di Indonesia, ada koruptor yang kesehariannya kelihatan alim taat beragama, ada koruptor yang memakai hijab, ada koruptor muallaf, ada koruptor yang justru dari Partai Islam, bahkan yang lebih lucu lagi ada koruptor yang memiliki gelar di depan namanya HAJI. Dan bila mereka dalam menjalankan aksinya secara bersama-sama, istilah yang digunakan untuk menyebutnya pun menjadi KORUPSI BERJAMAAH ckckck…

Kasus Korupsi Di Seluruh Dunia, Negara Islam Vs. Sekuler

Kalau melihat bukti dari sumber sini, negara yang memperoleh peringkat bersih dari korupsi adalah negara yang non-muslim (sekuler). Lima besar negara-negara terbersih dari korupsi sejagat di tempati oleh Finlandia, Islandia, Singapura, New Zealand, dan Denmark.

Sedangkan dari negara-negara agama tidak ada satupun yang berhasil masuk dalam peringkat sepuluh besar. Libya dan Iran cuma di peringkat 105. Sedangkan Arab Saudi diperingkat 70. Indonesia sendiri jeblok diperingkat 130.

Lagi-lagi bertambah satu lagi bukti yang seakan-akan menyatakan bahwa islam itu kurang becus menangani kasus korupsi bila dibanding dengan negara sekuler.

Ok, sebenarnya sejauh apa dan bagaimana sih pandangan islam tentang kasus ini kok negara islam bisa banyak yang korupsinya?

Pandangan Islam Tentang Korupsi

Perlu diketahui sebelumnya bahwa antara Islam dan Muslim itu beda pengertiannya. Islam adalah nama agama yang isinya aturan-aturan dan lain sebagainya, sedangkan Muslim adalah orang yang menganut agama islam.

Jadi yang kuasa untuk melaksanakan korupsi atau tidak itu adalah tindakan orang muslim. Sedangkan dalam aturan islam sendiri sebetulnya dengan tegas telah melarang perbuatan itu. Gak percaya? Berikut adalah bukti-buktinya:

#1. Firman Allah SWT Dalam Surat An-Nisa Ayat 58

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Memang Allah tidak langsung melarang korupsi dengan ayat ini, akan tetapi jika disimak makna “korupsi” yaitu melakukan pengkhianatan terhadap amanah rakyat (publik), dan Rasulullah Muhammad S.A.W juga bersabda dalam sebuah hadist, yang maknanya lebih kurang sbb. “amanah akan dimintai pertanggung jawaban tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti”.

#2. Firman Allah Dalam Surat An-Nisa Ayat 29

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu [287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Disamping itu, istilah “korupsi” sering diterjemahkan sebagai “tindakan memakan harta (hak) orang lain secara melawan hukum (bathil).

#3. H.R. Bukhari
Berikan hak-hak rakyat, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap penguasa mengenai hak-hak rakyat.

#4. H.R. Al-Hakim
Allah memberi laknat kepada pemberi suap, penerima suap dan perantara diantara keduanya.

Dengan demikian jelaslah dalam ajaran agama islam bahwa yang namanya tindakan korupsi dan suap-menyuap adalah HARAM dan sama sekali dilarang dan mendapat ancaman yang sangat berat nantinya di yaumil akhir bagi pelakunya.

Tidak hanya di situ saja. Dalam kisah pada masa khalifah, ada juga kok pemimpin muslim yang beber-bener menjalani hukum islam yang sangat patut untuk dijadikan teladan jiwa kemimpinannya, Beliau adalah Umar Bin Aziz.

Kisah-Kisah Pemimpin Muslim Umar bin Abdul Aziz Yang Patut Diteladani
#1. Umar Bin Abdul Aziz Anti Nepotisme.
Pada suatu hari Umar ditunjuk untuk menjadi khalifah menggantikan saudaranya. Penunjukkan itu didasarkan pada surat wasiat yang dibuat oleh saudaranya, yang merupakan Khalifah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Aziz.

Nama Umar kemudian diumumkan sebagai khalifah baru. Tetapi, Umar kemudian menolak pembaiatan dirinya. “Saudara-saudara sekalian, sekarang saya batalkan pembaiatan ini, dan silakan memilih sendiri siapa yang kalian anggap pantas menjadi Khalifah,” ucap dia.

Umar berniat mengembalikan cara pengangkatan khalifah sesuai dengan cara yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan pemilihan, bukan diwariskan secara turun temurun di satu generasi saja. Namun demikian, sebagian besar rakyat tetap memilih Umar menjabat sebagai Khalifah. Akhirnya Umar tidak bisa menolak keinginan rakyat untuk memintanya menjadi khalifah.

#2. Umar Bin Abdul Aziz Menolak Fasilitas Kendaraan Dinas Kekhalifahan.
Setelah Umar resmi diangkat menjadi khalifah, kemudian beliau dikasih seekor kuda guna untuk kendaraan dalam menjalankan tugas kekhalifahannya.

Namun Umar menolak dan tetap menggunakan kuda pribadinya. Bahkan Umar justru menyuruh kuda dinasnya untuk dijual kemudian uangnya untuk kas baitul mal.

#3. Umar Bin Aziz Tidak Korupsi Waktu.
Pengangatan Umar adalah tepat bersamaan dengan waktu pemakaman Khalifah Sulaiman. Karena ngantuk dari semalaman belum tidur gara-gara mengurus proses pemakaman, Khalifah Umar pulang ke rumah bermaksud ingin istirahat sebentar.

Tiba-tiba anak Umar, Abdul Malik menegurnya, “Apakah engkau akan beristirahat sebelum hak orang-orang yang didzalimi dikembalikan?”

Umar menjawab, ” saya ingin tidur sebentar dan setelah tiba waktu dzuhur nanti, saya akan berjamaah dengan orang-orang dan akan saya kembalikan hak orang-orang yang telah didzalimi,” kata Umar.

“Apakah ada yang dapat menjamin bahwa engkau masih hidup hingga waktu dzuhur tiba, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdul Malik lagi.

Mendengar perkataan putranya, Umar kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya hilang seketika karena peringatan dari putranya kemudian kembali ke istana untuk bekerja kembali.

#4. Umar Tidak Menggunakan Fasilitas Negara Untuk Keperluan Pribadi.
Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.
”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.
”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

************************

Sangat sulit memang untuk menemukan seorang pemimpin seperti Beliau di zaman sekarang. Apalagi di Indonesia yang kasus korupsinya seperti sudah mengakar dan membudaya.

Lantas apa dan bagaimana dong untuk mengatasi korupsi di Indonesia yang sudah sedemikian parahnya.

Solusi Untuk Indonesia

Mari Perbaiki Bersama
Menurut saya, dalam hal ini Indonesia itu terbagi dalam tiga golongan:
▪ Golongan pertama adalah golongan yang patuh pada agama dan takut dengan Allah.
Golongan ini bisa dipastikan tidak akan melakukan korupsi karena sudah tau bahwa Allah selalu mengawasi dan bila itu terjadi akan mendapat dosa dan balasan yang sangat berat di akherat kelak. Masalahnya adalah golongan ini jumlahnya sangat sedikit sekali.


▪ Golongan kedua adalah golongan yang tidak patuh pada agama dan tidak begitu takut pada Allah ( karena mungkin cuma islam KTP, ateis atau agnostik ) tapi sadar akan hukum negara. Golongan ini tidak mau korupsi karena dia tau bahwa korupsi itu merampas hak orang lain, tidak bermoral. Golongan ini tidak mau menyuap karena dia sadar bahwa dengan suapan akan mengakibatkan tidak optimalnya hukum berjalan yang kemudian akan mengakibatkan keadaan menjadi kacau. Golongan ini saya perkirakan juga sangat sedikit sekali jumlahnya.
▪ Golongan yang terakhir adalah golongan yang tidak patuh pada agama dan tidak takut pada Allah serta tidak pula sadar hukum. Golongan ini lah yang mempunyai potensi untuk melakukan tindakan korupsi. Kabar buruknya adalah golongan ini sangat banyak jumlahnya.
Untuk menangani tiga golongan tersebut sekaligus, ada dua cara yang harus dilakukan secara bersamaan. Yaitu: Tingkatkan Ketegasan Hukum Negara pada koruptor dan cara yang satunya adalah dengan Pendekatan Agama, ini mengingat juga bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup religius dan merupakan populasi muslim terbesar di dunia.

1. Meningkatkan Ketegasan Hukum Negara / Law Enforcement
Bisa dibilang korupsi itu adalah sebuah kriminal besar karena menyangkut kerugian orang lain bahkan negara. Sudah sepantasnya lah pemerintah memberikan hukuman yang sangat berat untuk kasus ini. Sebuah hukuman yang bisa membuat efek jera pada pelakunya, hukuman yang bisa membuat takut untuk mencobanya.

Sejauh sepengetahuan saya, dalam islam hukuman bagi pencuri adalah potong tangan. Sedangkan hukuman bagi koruptor adalah berdasarkan keputusan hakim. Jadi apabila jumlah korupsinya sedikit, hukumannya akan lebih ringan. Namun, bila jumlah korupsinya banyak, hakim boleh memberikan hukuman mati sekalian. Meskipun Indonesia bukan negara islam, tapi ayo dong tegakkan hukum setegak-tegaknya jangan mau kalah sama negara sekuler.

2. Pendekatan Agama
1. Memang benar bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah seperti kita mampir minum saja, hanya sebentar dan yang penting kehidupan kita di akherat sana yang sifatnya kekal. Namun perlu diketahui juga, untuk mencapai tujuan akherat sana ( surga ), kuncinya adalah di dunia ini. Dunia ini adalah tempat kita mencari bekal untuk hidup di sana.

2. Sudah sepantasnya kita sebagai Muslim Aswaja ( Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ) yang taat pada agama Islam harus mencontoh akhlak Umar Bin Abdul Aziz seperti kisah di atas. Bahwa kehidupan beragama itu tidak melulu cuma ibadah vertikal kepada sang pencipta, Tapi sebenarnya Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat sesuatu yang baik pada sesama manusia dan pada lingkungan, Habluminallah dan Habluminannas. Artinya kita sebagai Muslim harus juga peduli dan peka akan isu korupsi sebagai sesuatu yang melanggar agama yang harus diperangi bersama.

3. Mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, anak, dan keluarga kita bangun karakter dan kesadaran Takut Kepada Allah. Bahwa senantiasa Allah mengawasi kita, sekecil apapun perbuatan kita akan diperhitungkan di akherat kelak.

Pengalaman Saya Pribadi Yang berhubungan Langsung Dengan Praktek Korupsi Dan Suap-Menyuap
Sebenarnya efek kerugian dari korupsi dan suap-menyuap itu bisa dirasakan secara langsung di dunia ini tanpa harus menunggu hari penghitungan di akherat kelak.
Meskipun saya perantau dan tiap Idul Fitri pasti pulang kampung untuk silahturrahmi dengan orang tua dan sanak saudara, tapi KTP saya sudah KTP Jakarta. Jadi setiap ada pemilihan Presiden, Gubernur dan pemilihan lainnya aku tercatat sebagai warga Jakarta.

Namun entah bagaimana ceritanya waktu pemilihan Kepala Desa di kampungku kemarin aku bisa mendapatkan undangan pencoblosan. Karena rumah salah satu calon KADES dekat dengan rumahku dan dia teman baik bapakku, serta para tim suksesnya adalah teman-temanku, aku di telpon untuk pulang setidaknya pada hari H-nya dengan iming-iming ganti ongkos pulang-pergi sebanyak 3 kali lipat.

Ternyata benar sesampainya di rumah, tim sukses langsung menyodori saya beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah sambil berucap dengan sangat sopan minta tolong diterima dan bersedia nyoblos calon si A. Awalnya saya ragu menerimanya, tapi berhubung tim sukses masih saudara dekat saya dan bapak juga berbisik, “Sudah terima saja dari pada kamu kelihatan sok suci dan kelihatan tidak mendukung si A justru mendukung Si B, ntar saudara dan tetangga-tetangga malah memusuhi kamu.” akhirnya saya terima juga dengan terpaksa dan duitnya tidak saya gunakan sepenuhnya untuk kepentingan pribadi.

Di kampung saya antara pemilihan Presiden dengan pemilihan Kepala Desa itu lebih ramai dan lebih disenangi pemilihan Kepala Desa. Suasananya benar-benar pesta rakyat. Di hari-hari kampanye Kedua calon ( kebetulan pada waktu itu cuma dua ) bersaing dan berlomba-lomba merebut hati warga dengan mengadakan pesta makan, minum dan rokok gratis di rumah masing-masing calon hampir tiap malam. Warganya entah itu tua, muda, lelaki, perempuan semua bebas untuk menikmatinya bahkan dilayani dengan baik.

Di hari H-nya yang seharusnya sudah hari tenang justru lebih parah lagi. Pagi-pagi sekali sebelum warga berangkat ke lapangan desa untuk mencoblos, terjadi serangan fajar. Kedua calon sama-sama membagikan sogokan berupa amplop berisi uang sebesar lima puluh ribu rupiah. Bagi warga yang kelihatan tidak fanatik dan netral kemungkinan bisa mendapatkan dua amplop, dari sana-sini calon A dan calon B. Bahkan undangan pencoblosan pun bisa diperjual-belikan, harganya mahal tergantung penawaran.

Usai penghitungan suara, calon si A kalah. Entah karena setres atau apa, seorang tim sukses menceritakan kepada saya dan membongkar sebuah rahasia. Sebenanya gaji seorang kepala desa di kampung kita itu sangat sedikit, hanya dikasih beberapa hektar sawah milik desa dan bila masa jabatannya berakhir sawah tersebut harus dikembalikan lagi untuk dikasih ke kepala desa yang baru. Kalau dihitung-hitung gajinya itu tidak cukup untuk mengembalikan semua modal yang sudah dikeluarkan pada saat kampanye. Namun nanti kepala desa tersebut menyiasatinya dengan korupsi. Bila ada bantuan dari pemerintah pusat, bantuan tersebut tidak disalurkan sepenuhnya kepada warga tapi sebagian dikorup. Nah loh siapa yang rugi ? Semuanya !!!
▪ Untuk calon yang kalah jelas rugi besar.
▪ Untuk warga, sogokan lima puluh ribu itu tidak sebanding dengan masa jabatan Kepala Desa selama 8 tahun ( masa jabatan Kepala Desa di kampung saya 8 tahun ). Bayangkan saja, selama itu berapa banyak bantuan dari pemerintah pusat yang akan dikorup? Raskin, BLT, dll. Belum lagi kalau ada warga yang ingin bikin KTP atau surat apapun yang mengharuskan minta tanda tangan dari Kepala Desa. Kalau gak ada “uang rokok” pasti akan dilama-lamain.
▪ Untuk calon yang menang, lagi sibuk memikirkan cara korupsi untuk balik modal eh ada segerombolan warga demo menagih janji-janji pada saat kampanye. Korupsi dengan niatan untuk balikin modal pun itu sudah terhitung dosa !!!
Begitulah sedikit tentang pengetahuan, opini dan pengalaman saya tentang Anti Korupsi. Apabila ada salah kata, saya mohon maaf dan mohon bersedia untuk mengoreksi di kolom komentar di bawah ini. Terimakasih.

Please like & share:

Karya KBM1: Islam Solusi Hakiki untuk Pemberantasan Korupsi!

Posted on Updated on

Penulis: Arie Pratama @ItsAriePratama

Predikat: Pemenang Hadiah Terfavorit Ke-3

Pertama-tama Saya ingin menyampaikan alhamdulillah wa syukurilah kepada Allah SWT atas segala nikmatnya, juga kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW atas segala petunjuknya sampai saat ini dan semoga kita semua termasuk umat Rasulullah SAW yang selalu menghindar dari hal-hal yang Allah SWT dan Rasulullah SAW larang untuk dilakukan, yaitu salah satu hal tersebut adalah korupsi.

Mendengar kata korupsi pasti tidak asing lagi ditelinga kita, korupsi merupakan salah satu perbuatan dzalim dengan cara memakan/mengambil harta atau hak orang lain dengan cara batil yang diharamkan oleh Islam.

Dinegara yang menurut survey yang dilakukan oleh transparency.org (tahun 2012) sebuah badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup, yaitu salah satunya terdapat negara Indonesia yang berada di urutan ke-5 dengan negara yang mempunyai banyak kasus memalukan yaitu korupsi. Mengapa negara yang dibilang kaya akan sumber alam dan hayati ini menjadi negara yang mempunyai reputasi yang sangat rendah dalam 3 hal yaitu Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Berikut ini Saya akan mencoba untuk berbagi nasihat untuk semua umat muslim (termasuk juga Saya pribadi) dan yang lainnya di dunia ini khususnya Indonesia, semoga kita selalu terjauhkan dari hal buruk yang dapat menjerumuskan ke kita kadalam neraka yang tentu kita hindari dan tentu cita-cita kita semenjak kecil jika ditanyakan “Aku ingin masuk syurga?”, lalu apakah kalian lupa dengan cita-citamu dulu itu, bukankah itu cita-cita tertinggi setiap muslim sejati? Tentu iya.

Jauhkan Diri Kalian dari Pemikiran yang Salah!

Pernahkah kalian berfikir bahwasannya sudah banyak pemahaman-pemahaman yang salah pada akhir zaman ini, ya banyak sekali pemahaman yang merupakan salah satu tujuan zionis laknatullah untuk menghancurkan moral dan pemikiran umat muslim khususnya di Indonesia yang dimana tercatat sebagai negara muslim terbesar pertama di dunia dengan jumlah 182,570,000 orang, namun tampaknya itu tidak membuat Indonesia menjadi negara yang makmur dalam segi perekonomian, sosial, dan lainnya.

Mengapa demikian? Karena banyak faktor yang mempengaruhi kemakmuran suatu negara salah satunya adalah tingkat kriminalitas dan tindak pidana yang rendah, nah sudahkah Indonesia seperti itu? Tampaknya belum, karena korupsi masih merajalela dimana-mana, gak pejabat, petinggi negara, mereka sudah hilang logikanya hanya untuk materi semata.

Mengapa kita harus menjauhkan diri kita dari hal pemahaman seperti: liberalisme, sukelerisme, dan pluralisme. Allah SWT berfirman dalam ayat berikut ini:
“Dan bila dikatakan kepada mereka: ”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (Q.S. Al-Baqarah: 11-12)
Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwasannya kita sebagai manusia yang Allah SWT ciptakan di muka bumi ini hendaklah menyadar diri bahwasannya dunia ini untuk ajang kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan dan mengharapkan pahala dari-Nya karena itulah yang dapat membawa kita kedalam syurga-Nya yang kekal nan abadi. Jadi jauhkanlah diri kita dari segala bentuk pemahaman seperti itu yang membuat kita tanpa sadar menghilangkan nilai-nilai Islam yang sebenarnya mutlak berlaku untuk setiap umat muslim di dunia.

Mulai Dari Hal Kecil dalam Diri Kita Pribadi

Korupsi nampaknya menjadi sebuah kebiasaan diri seorang yang sudah berwenang dan menganggap dirinya berkuasa untuk melakukan segala hal termasuk tidak malu melakukan tindak korupsi, mulailah dari hal terkecil, misalnya janganlah ajarkan anank-anak kita untuk mengambil hak temannya yang lain, walaupun mereka ingin itu mereka wajib kita ajarkan tata krama untuk meminta izin kepada temannya tersebut.

“Sesungguhnya sifat malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Al-Bukhari)

Untuk kalangan remaja yang bisa kita biasakan adalah belajarlah untuk jujur dalam segala hal termasuk kepada kedua orangtua. Jangan pernah sekali-kali kalian membohonginya karena fikirkanlah itu akan menyakiti hati mereka yang sudah membesarkan kalian dengan kasih sayang mereka yang begitu tulus, lihatlah diluar sana masih banyak bayi-bayi yang kurang beruntung dan tidak mendapatkan kasih sayangnya. Seperti dijelaskan pada hadits berikut ini:

“Kamu harus berkata jujur (benar), karena sesungguhnya ia bersama kebajikan dan keduanya adalah dalam surga.” (HR. Ahmad)

Untuk para orang dewasa terutama pemimpin-pemimpin kita di negara ini, hendaklah kalian bersifat amanah, dan mempunyai rasa malu akan segala hal yang buruk yang kalian kerjakan dan janganlah kalian bangga akan harta yang kalian punya karena semua itu akan kembali kepada Allah SWT. Hanya amalmulah yang akan melekat dan membawamu ke syurga-Nya. Berikut ini ada hadits tentang amanah pada diri seseorang:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An Nisa’: 58)

Al-Qur’an Sebagai Pedoman Kita

Apakah yang salah dengan negara ini? Apakah kita kurang untuk mengkaji Al-Qur’an dimana didalamnya terdapat segala macam ilmu dan solusi dari berbagai masalah atau problematika yang ada di negara ini, Rasulullah menerima wahyu pertamanya atas perantara Jibril a.s. yaitu “Bacalah!”. Dari wahyu pertama yang Allah SWT turunkan melalui malaikat Jibril a.s. kepada Rasulullah SAW sudah banyak menjelaskan bahwa kita sebagai umat Rasulullah yg Insya Allah di Ridhoi Allah itu di haruskan untuk membaca, karena dengan membaca itulah kita dapat mengetahui segala apa yang belum pernah kita ketahui sebelumnya, dalam hal ini kita sebagai umat muslim tentulah wajib hukumnya membaca Al-Qur’an yang dimana Al-Qur’an merupakan segala sumber ilmu dari segala hal yang ada dimuka bumi ini bahkan setelahnya.

Lalu apa hubungan Al-Qur’an dengan korupsi, tentu jelas ada hubungan yang kebanyakan orang tidak ketahui, ya hubungannya sudah jelas bahwasannya barang siapa saja yang membaca Al-Qur’an pastilah dia akan berfikir dan Insya Allah hatinya akan terimani dengan baik dengan torehan ilmu dan hikmah yang ada dalam Al-Qur’an. Seperti dijelaskan pada ayat berikut ini:
“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Q.S. Al Imran: 161)

Dari ayat tersebut maka dapat diambil kesimpulan dan hikmahnya yaitu betapa buruknya perbuatan berkhianat (korupsi), dengan menyatakan bahwa perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang nabi yang mempunyai kepribadian yang sangat mulia, amanah, dan terhindarkan dari segala sifat buruk. Kemudian buruknya perbuatan ini dipertegas dengan hukuman yang ditetapkan Allah SWT bagi pelaku penggelapan nanti di hari kiamat. Mereka akan dipermalukan dengan memanggul barang yang mereka gelapkan itu, agar perbuatan yang dahulu mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi itu diketahui oleh orang banyak, sehingga aibnya terbuka dan membuat semakin pedihnya azab bagi orang tersebut. Kemudian Allah menegaskan bahwa tidak ada satu perbuatanpun yang akan luput dari pembalasan di hari pembalasan kelak.

Ikuti Cara Hidup Rasulullah SAW

Rasulullah SAW merupakan sosok pemuda yang di idam-idamkan oleh para kaum muslim di muka bumi ini, akhlak beliau yang sungguh bercahaya layaknya berlian, dan perilakunya yang selalu menjadi contoh baik untuk banyak umat sejak dulu hingga sekarang, maka sudah sepatutnya kita sebagai umat beliau Rasulullah SAW harus mengikuti apa yang beliau ajarkan dan sunnahkan. Semoga kita semua termasuk golongan Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan syafa’atnya nanti. Aamiin…

Ikhwan wa akhwat fillah, seluruh saudaraku semuslim dan tanah air yang INSYA ALLAH dicintai selalu oleh Allah SWT, kita tahu bahwasannya salah satu sifat utama seorang muslim yang sejati yaitu mempunyai sifat ittiba’ (mengikuti) apa saja yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita semua, baik itu dalam hal ibadahnya, akhlak beliau, aqidahnya, cara beliau mensyiarkan islam, berdakwah, dan lain sebagainya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat ke-7, sebagai berikut:
“Dan apa saja yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian, maka ambillah (laksanakanlah), dan apa saja yang kalian di larang untuk mengerjakannya, maka berhentilah (tinggalkanlah)! ” (Q.S. Al-Hasyr: 7)

Makna ayat tersebut di atas dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya sebagai berikut: “Yakni, apa pun yang kalian diperintahkan untuk melakukannya, maka lakukanlah (kerjakanlah)! Dan apapun yang kalian dilarang untuk mengerjakannya, maka jauhilah! Karena sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya memerintahkan dengan kebaikan, dan hanya melarang kalian dari kejelekan.”

Dari firman Allah SWT yang terdapat dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat ke-7, dan juga dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya yang sudah dijelaskan diatas, sesungguhnya kita sebagai muslim memang sudah seharusnya mengikuti apapun yang Rasulullah SAW ajarkan kepada kita karena memang beliau yang memang Allah SWT utus kepada umat muslim untuk menegakkan tauhid dan memperbaiki akhlak setiap muslim.

Nah bagaimana kita mau mengikuti apa yang Rasulullah SAW ajarkan jika kita saja tidak mengenal jauh tentang historis riwayat hidup beliau selama berdakwah maupun sejak beliau kecil. Memang Rasulullah SAW dilahirkan sebagai Nabi, dan pasti kebanyakan kita berfikir “Tidak mungkin kita sesempurna beliau” bukan kesempurnaan yang kita cari dimuka bumi ini, namun mencoba untuk selalu lebih sempurna dari apa yang sudah kita lakukan di hari kemarin dan apa salahnya kita mengikuti orang yang memang sebenar-benarnya akhlak dan perilakunya, kita sebagai muslim pasti sudah meyakini bahwa beliau utusan Allah SWT dalam 2 kalimat syahadat, lalu mengapa diantara kita masih banyak mengikuti orang-orang yang sesungguhnya sama sekali tidak lebih hebat dari baginda Nabi besar Muhammad SAW.

Maka muslim yang sejati merupakan muslim yang memiliki cita-cita untuk dapat berjumpa dengan Rasulullah SAW dan juga dapat mengikuti pribadi dan akhlaknya yang luar biasa hebatnya. Mari kita didik anak-anak kita, adik kita, saudara, teman, sahabat, maupun orang lain untuk selalu senantiasa mengikuti apa yang Rasulullah SAW ajarkan dalam berbagai hal dan bidang, juga dalam hal ini bidang politik dan ekonomi dimana sudah jelas bahwasannya beliau tidak sama sekali mengajarkan umatnya untuk bertindak keji dan korup dan menyengsarakan rakyat banyak. Sepandai-pandainya kalian menutupi keburukan, maka pada akhirnya akan terbongkar juga semua keburukan kalian. #ThinkBeforeAct

Bersyukur, Dengan Apapun yang Allah SWT Berikan

Sulit tampaknya untuk manusia untuk bersyukur dan menerima apa yang sudah dia dapatkan apalagi jika sedikit dan kurang mencukupi, maka sesungguhnya itu adalah mainset yang salah untuk muslim. Percayalah bahwa Allah SWT mempunyai rencana yang paling terbaik kepada kita, jika kita terus beribadah dengan ta’at kepada-Nya dan senantiasa untuk mengkuti koridor Islam dengan menjauhkan hal negatif termasuk dengan korupsi mengambil hak orang lain, yang sama saja memakan bangkai saudara kalian sendiri.

Korupsi memang salah satunya diakibatkan ketidakpuasan atau juga tidak bersyukurnya manusia atas apa yang sudah Allah SWT berikan, dan masih ingin yang lebih lagi, dan diberikan yang lebih maka ia masih saja belum puas ingin yang lebih lagi, sepertinya sudah menjadi sifat manusia yaitu selalu ingin yang lebih. Banyak sekali keuntungan jika kita mempunyai rasa bersyukur, seperti dijelaskan pada ayat berikut:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat Ku), maka sesungguhnya azab Ku sangat pedih.”(Q.S. Ibrahim: 7)
Bersyukur dapat menambah nikmat yang akan Allah SWT berikan kepadamu, yang Allah persiapkan untuk kamu dan percayalah bahwa nikmat Allah SWT itu lebih jauh memberi berkah dibanding kamu melakukan hal-hal seperti korupsi yang Allah SWT sungguh melaknat orang seperti itu, dan siksa Allah SWT untuk orang seperti itu amatlah pedih.
Mulailah bersyukur dengan cara bersedekah, janganlah kalian memperkaya diri kalian karena sesungguhnya umat mukmin itu ibaratkan satu kesatuan tubuh yang dimana jika satu sakit maka semua anggota pun akan merasakan sakitnya. Sedikit perumpamaan, jika seseorang terkena luka di kakinya lalu semua anggota tubuh langsung merespon untuk memngobati sakitnya agar reda, terutama tangan kita yang langsung memberikan bantuannya untuk membalut luka itu. Maka itulah seharusnya sifat yang ada pada mukmin yang sejati, langsung cekatan membantu mukmin yang lain (yang dalam kesusahan).

Ciptakan Generasi Rabbani

Dan yang terakhir Saya ingin memberikan sedikit nasihat kepada seluruh muslimin di seluruh dunia, khususnya di Indonesia dan terlebih khususnya Kamu! Ya, Kamu yang lagi baca artikel ini, ayo coba mulai sekarang kita rubah pola fikir kita untuk kedepannya untuk memperbaiki sistem negara ini agar lebih baik lagi, dan tentunya berdoa yang juga sangat penting, karena senjata paling ampuh seorang muslim adalah do’a namun setelah kita melakukan beberapa ikhtiar atau usaha kita terhadap hal tersebut tentunya.

Korupsi nampaknya jadi hal yang tidak lagi ditakuti oleh siapapun bahkan seorang anggota perwakilan rakyat, pejabat tinggi negara, dan lainnya seolah-olah mereka buta dengan sebuah materi semata yang bernama “uang”. Semua seolah sudah menjadi budaya atau adat untuk mereka yang melakukannya, dan berharap tindakan korupsi yang mereka lakukan tidak terlihat dan terdeteksi oleh siapapun.

Kalau kalian memang bener-bener muslim sejati, yang gak Cuma status agama di KTP doang maka sudah seharusnya kalian mengerti bahwa kita di dunia ini tidak hanya berhubungan dengan sesama manusia, namun juga kepada Allah SWT dimana Allah dengan salah satu kemahaannya yaitu Maha Melihat, akan melihat setiap apapun yang kalian semua lakukan di dunia ini, lalu sekuat-kuatnya iman maka takutlah kepada Allah SWT, malulah kalian yang sudah diciptakan dengan sempurna di dunia ini namun mengisi segala aktifitas kalian dengan tiada guna dan berusaha untuk menjadi kesempurnaan dalam hal ibadah ataupun yang lainnya.

Kita harus mulai semua ini dari diri kita sendiri, bagaimana caranya, ya seperti yang al-fakir sebutkan sebelumnya di atas, pelajarilah Al-Qur’an, hadits, sunnah, selalu bersyukur dengan apapun yang kalian dapatkan dengan cara yang baik, jauhkan dari pemikiran negatif, dan yang paling terpenting ya memang dari diri pribadi kita, karena masalah semua ada di diri kita sendiri hanya kita yang bisa mengontrol segalanya, dengan cara apa? Ibadahnya diperbanyak, kaji Al-Qur’an, ikuti para ulama-ulama Islam.
Sesungguhnya akhlak seorang mukmin yang beriman itu dilihat dari ibadahnya karena itu menunjukkan seberapa ta’at dan cinta kepada sang pencipta Allah SWT.
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’:103)

Please like & share:

Karya KBM1: Merajalelanya Korupsi, Islam Bertindak

Posted on Updated on




Penulis: Wahdiyat Salim      @sk_mate

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-1

Korupsi (Gholul merupakan bentuk korupsi yang sangat popular di masa Rasulullah saw.) adalah penggelapan harta public atau mengambil barang atau hak yang bukan miliknya yang berarti itu melanggar syari’at islam,  Indonesia  adalah negara tertinggi ke tiga yang memiliki kasus korupsi yang  di lakukan oleh para pemimpin-pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya, pada dasarnya pemimpin tersebut adalah orang-orang yang bisa di katakan sangat pintar akan tetapi sebagian  dari para pemimpin  tersebut tidak  banyak mengerti  tentang  syari’at-syari’at islam atau hukum-hukum yang terkandung dalam alqur’an dan al hadist. Dalam hadist di jelaskanحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِIbn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim).Bahwasannya setiap manusia adalah seorang pemimpin, yang disesuaikan pada keadaan atau posisi manusianya dan akan di mintai pertanggung jawaban atas ke pemimpinanannya. Sepertihalnya para pemimpin Negara baik presiden,gubenur,bupati,kepala desa bahkan perangkat desa seperti ketua rukun tetangga (RT) sebagai kepala Negara yang bertanggung jawab atas rakyat yang di pimpinnya. Pada dasarnya setiap manusia adalah  pemimpin yang harus memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

Tanggung jawab seorang pemimpin rakyat  yang dimaksudkan bukan semata-mata melaksakan tugas saja setelah itu selesai tanpa memperhatikan dampak yang di pimpinnya, akan tetapi juga harus membawa masyarakat menuju kesejahteraan, perdamaian dan juga kemslahatan hidup. Bisa di implementasikan pada cerita seorang pengembala yang mengembala peliharaan hewannya yaitu seekor kambing, di mana pengambala tersebut merawat kambing tersebut yang tiap harinya di carikan makan dan di mandikan sekiranya kambing tersebut badannya kelihatan kotor, yang di lakukan pengambala tersebut hanyalah  untuk mencapai kesejahteraan hewan peliharannya. Perlu di ingat, bahwa manusia berbeda dengan hewan, manusia mempunyai akal fikiran dan juga budi pekerti yang di berikan allah SAW untuk mengembala dirinya sendiri.

Adanya penjelasan di atas, mengapa di Negara kita, Negara Indonesia para pemimpinnya banyak melakukan pelanggaran atas kepemimpinannya, contohnya saja pemimpin melakukan korupsi, kasus seperti itu adalah bentuk tidak tanggung jawabnya atas kepemimpinannya yang sebelumnya sudah di beri ke percayaan atas kepemimpinannya untuk memimpin rakyatnya. Hal seperti itu sangatlah tidak memberikan kesejahteraan yang dipimpinnya, apa lagi terhadap rakyat yang sekiranya kurang mampu.

Hadis-hadis tentang ghulul berikut dinilai mewakili kajian tematik tentang korupsi. Hadis pertama terdapat dalam shahih Bukhari, kitab al-Jihad wa al-sair, nomor 2845:

Ali ibn Abdillah telah menceritakan hadis kepada kami. Sufyan telah menceritakan kepada kami. Dari Amr, dari Salim ibn Abi Al-Ja’di, dari Abdullah ibn Umar berkata: bahwa pada rombongan Rasulullah saw. .. Ada seorang bernama Kirkirah yang mati di medan perang. Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari).

Hadis kedua dalam Shahih Muslim, kitab al-Iman, Nomor 165:

Zuhair ibn Harb talah menceritakan hadis kepadaku, Hasyim ibn Al-Qasim telah menceritakan hadis kepada kami, Iqrimah ibn Amr telah menceritakan hadis kepada kami. Ia berkata simak al Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepadaku. Ia berkata Abdullah ibn Abbas telah menceritakan kepadaku. Umar ibn Al-Khattab menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: ketika terjadi perang Khaibar beberapa sahabat Nabi berkata: “si Fulan mati syahid, si Fulan mati syahid. Hingga mereka berpapasan dengan seseorang. Mereka pun berkata: si Fulan mati syahid. Kemudian

Rasulullah saw. bersabda: Tidak begitu. Sungguh aku melihatnya di dalam neraka karena burdah (selimut atau aba’ah) mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai ibn al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” Maka aku keluar dan menyerukan kepada manusia: ingatlah, sesungguhnya tidak masuk surga selain orang-orang yang beriman”. (H.R. Muslim).

Dua hadis di atas menjelaskan tentang peristiwa ghulul/korupsi di medan perang khaibar. Seorang pejuang yang gagah berani dan kemudian mati di medan perang, belum dapat dijamin bahwa ia syahid dan masuk surga. Ternyata setelah diinvestigasi (dilacak) secara cermat dan jujur, orang tersebut terlibat ghulul, mengambil selimut atau mantel dan itu menjadikannya mati sia-sia, kemudian masuk neraka. Dalam konteks kekinian, seorang pejabat atau pegawai publik (terkait urusan orang banyak) yang telah berjuang mati-matian dalam tugasnya, tetapi jika ditemukan kasus-kasus terkait “ketidakbersihan”, kecurangan, penyalahgunaan jabatan, korupsi dan suap maka citra yang selama ini dibangun menjadi tercemar dan nasibnya pun terancam neraka dalam arti yang luas.

Banyak sekali kasus korupsi atau suap yang menimpa pejabat publik Indonesia mulai dari kasus-kasus kecil hingga kasus besar. Beberapa tindakan berikut dapat dikategorikan sebagai ghulul, misalnya: pejabat/ pegawai yang menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan

pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang me-mark up (menggelembungkan) biaya pembelian dari yang seharusnya, pegawai parkir yang tidak menyerahkan seluruh pendapatan parkir kepada yang berwenang, petugas pajak yang kongkalikong dengan wajib pajak dan mengajari bagaimana memperkecil tagihan pajak sembari menerima “hadiah” dari wajib pajak tersebut, pejabat yang tidak mengembalikan sarana dinas (kendaraan, rumah dan lain-lain) setelah tidak menjabat lagi. Bahkan, sering kali diberitakan seorang pejabat/pegawai ketika masih menjabat dikenal bersih, ternyata setelah berakhir masa tugas, diketahui telah menggelapkan kekayaan negara atau publik.

www.nu.or.id

 

 

tiap sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak benar itu haram. Seperti mencuri, merampas, mengambil tanpa hak atau menggunakan tanpa ijin. Dan sesuatu yang haram tidak akan membawa kebaikan. Jika dimakan akan tumbuh menjadi tenaga dan fikiran jahat. Jika tumbuh menjadi daging akan menjadi bahan bakar api neraka.
Kullu lakhmin nabata min kharoomin fannaaru aulaa bihi
Artinya: Tiap daging yang tumbuh dari barang haram maka nerakalah yang lebih patut baginya. (HR. at-Tirmidzi)

 

Bisa kita lihat atau kita dengar berita tentang kasus korupsi tidak hanya satu atau dua saja yang melakukan tindakan korupsi,akan tetapi banyak sekali para pemimpin Negara yang melakukan koropsi, dan sebagaian besar mereka yang melakukan korupsi adalah beragama islam. Sebenarnya apa yang ada di fikiran para koruptor-koruptor tersebut………????. Untuk itu kita sebagai orang islam yang berhaluan ahlusunnah wal jama’ah harus bisa mencegah kasus yang melanggar syari’at islam, setidaknya bisa memberikan pelajaran bisa berupa seminar tentang kasus tersebut dari penyebab,dampak,hukuman,dan penyegahan terhadap tindakan korupsi kepada orang islam khususnya para generasi muda ahlusunnah wal jama’ah atau nahdhotul ulama’. Sebenarnya sudah sering kita ketahui seminar-seminar tentang kenegaraan contohnya seperti merajalelanya korupsi di Negara kita ini. Saya sendiri pernah menjumpai kegiatan seminar tentang korupsi yang di adakan oleh pemuda NU (nahdhotul ulama’) yaitu IPNU (ikatan pelajar putra nahdhotul ulama’) dan IPPNU (ikatan pelajar putri nahdhotul ulama’).

 

 

 

1.Penyebab terjadinya korupsi:

a.   Ingin memperkaya diri (to be rich)

Kurang atau tidak menerima apa adanya yang telah di berikan allah SAW kepada umatnya di sebut juga tidak qona’ah.

Ayat tentang “Mensyukuri Nikmat”

Artinya :Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim:7)

Arti ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SAW telah memperingatkan kita semua  untuk mensyukuri nikmat Allah, tanpa kita sadari bahwa Allah telah memberi kita nikmat yang tak terkira, contohnya saja kita diberi kenikmatan berupa rasa kantuk, Nah dengan kita mempunyai rasa kantuk kita akan tau kapan waktunya mengistirahatkan tubuh kita. Sebaliknya, jika mengingkari nikmat yang di berikan Allah SAW akan di adzab oleh Allah yang sangat pedih. Sudah pasti para koruptor tidak bisa mensyukuri nikmat allah dan selalu kurang dengan apa yng telah di milikinya.

 

 

b.   Ingin mengejar jabatan tertinggi

Dengan ambisi yang sangat tinggi,keiinginan para koroptor menghalalkan berbagai cara untuk bisa mencapai jabatan yang diinginkan,dengan cara mengkeruk uang Negara. Bisa jadi uangnya bisa di buat kampanye pada pemilihan umum.

c.    Menuruti kebutuhan keluarga dengan nilai yang cukup tinggi(selalu mementingkan keluarga dari pada rakyatnya )

Biasanya para koruptor selalu mementingkan keluaragnya (utamanya istri or suaminya) tanpa memperhatikan rakyatnya, uang Negara yang semestinya di peruntukkan untuk rakyat malah di pergunakan untuk keluarganya yang sekiranya itu adalah bernilai tinggi. Tindakan seperti itu akan sangat menyengsarakan rakyat yang di pimpinnya.

d.  kurangnya           IMTAQ (iman dan taqwa)

pribahasa mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu akan lumpur”.pada dasarnya para koruptor mempunyai banyak ilmu,akan tetapi dia tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, sehingga dia bisa di kalahkan oleh nafsu yang tinggi, seperti pribahasa di atas bahwasannya orang yang hanya memilki ilmu saja tanpa di dasari syari’at agama islam maka orang tersebut akan di butakan oleh nafsu.
www.nu.or.id

 

 

SALAH SATU CONTOH TINDAK KORUPTOR

 

KASUS FATHANAH

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan kepada Ahmad Fathanah. Putusan itu dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (4/11/2013) malam.

“Memutuskan pidana 14 tahun dan denda 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar dengan mengganti kurungan 6 bulan penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango.

Hakim menilai Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHPidana. Juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan kedua, Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Fathanah dianggap terbukti menerima uang Rp 1,3 miliar dari Direktur PT Indoguna Utama terkait kepengurusan kuota impor daging sapi. Hakim menjelaskan, Fathanah awalnya mempertemukan teman dekatnya yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi dan Direktur Utama PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman.

Dalam pertemuan itu, Maria meminta Luthfi membantu memuluskan agar Menteri Pertanian Suswono memberikan rekomendasi agar PT Indoguna Utama mendapat tambahan kuota daging sapi sebanyak 8.000 ton.

Luthfi kemudian menyanggupi akan mempertemukan Maria dengan Suswono. Kemudian Fathanah meminta agar disediakan akomodasi untuk pertemuan di Medan. Atas permintaan Fathanah, Maria memberikan Rp 300 juta.

Fathanah juga menelepon Luthfi untuk menanyakan kapan akan mempertemukan Maria dan Suswono. Fathanah menyampaikan bahwa Maria akan memberikan fee sebesar Rp 5.000 per kilogram daging apabila berhasil memberikan tambahan kuota sebanyak 8.000 ton sehingga total fee yang akan diterima Rp 40 miliar.

Selain telah menerima Rp 300 juta, Fathanah juga telah menerima Rp 1 miliar dari Maria untuk kelancaran pengurusan penambahan kuota impor daging sapi.

Hakim Djoko Subagyo menambahkan bahwa Fathanah terbukti melakukan perbuatan tindak pidana korupsi bersama Luthfi selaku penyelenggara negara.

Pencucian uang

Fathanah terbukti membayarkan, mentransfer, membelanjakan, dan menukarkan mata uang dengan menggunakan dua rekeningnya dan uang tunai dengan seluruh transaksi mencapai Rp 38,709 miliar pada Januari 2011-2013.

Namun, Fathanah tidak terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan ketiga, Pasal 5 UU nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam memutuskan perkara ini terjadi dissenting opinion atau berbeda pendapat antara dua hakim anggota. Hakim menilai jaksa Penuntut Umum KPK tidak berwenang menuntut pencucian uang.

Vonis Fathanah lebih rendah dari tuntutan Jaksa yaitu 17,5 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan penjara untuk tindak pidana. Sementara itu, dalam kasus tindak pidana pencucian uang, Fathanah didenda Rp 1 miliar subsider 1 tahun 6 bulan kurungan.

 

Please like & share:

Karya KBM1: Aku Yang Lupa

Posted on

Penulis: Reza Siianeukbunda       @Eza_AB

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-2

Tulisan ini murni saya coba untuk diikut sertakan dalam kontes blog yang bertema : Muslim Anti Korupsi. Saya menambahkan judul yaitu “Aku Yang Lupa”.

 

Tikus Sorban

 

Alkisah. Didalam suatu perkampungan muslim, tinggallah seorang Lelaki paruh baya yang bekerja disebuah Rumah Besar sebagai tukang kebun namun memiliki hati yang sangat baik dan juga seorang Penganut Islam yang benar. Sorban di kepala selalu ia kenakan saat ia bekerja meskipun itu telah usang. Sang majikan yang kaya raya ini akhirnya pada suatu hari bertanya pada Abdullah :

 

Majikan : “Wahai Abdullah, bisa kah kamu datang kepadaku ? ada yang ingin aku bicarakan!”

Abdullah : “Baik Tuan, saya selesaikan tugas saya dahulu Tuan.”

Majikan : “Sudah, lupakan saja itu sejenak. Saya hanya ingin berbicara kepadamu!”

Abdullah : “Baiklah Tuan”

 

Bergegas Abdullah datang menghampiri Majikannya sembari berkata :

 

Abdullah : “Maaf Tuan, apa yang hendak anda bicarakan Tuan ? Adakah kekurangan saya sehingga saya engkau panggil ya Tuan ?”

Majikan : (sambil Tertawa) “Hahaha. Tidak Abdullah! Sejak saya bertemu kamu, saya selalu heran mengapa kamu selalu menggunakan sorban ? Bukankah itu sorban yang usang ? Apakah Upah yang saya berikan padamu tidak cukup membantumu membelikan sebuah sorban yang lebih Indah dan Putih ?”

Abdullah : “Tidak Tuan. Karna yang saya miliki ini merupakan peninggalan Ibu saya. Hanya ini harta yang ia wariskan kepada saya Tuan. Beliau berpesan jika saya kaya nanti sorban ini yang tetap harus saya kenakan. Begitu juga saya dengar Aswaja dari Ustad di Masjid kita”

Majikan : “Baiklah jika begitu. Semoga saja seperti itu”

 

Hari demi hari, Bulan demi bulan dan Tahun demi tahun sehingga datang satu hari dimana Majikan mengajak Abdullah untuk ikut politik yang diadakan oleh Raja yang mempunyai negeri yang tak jauh dari perkampungan tempat Abdullah menetap.

 

Abdullah : “Tidak Tuan. Saya tidak bisa menjadi seperti itu. Saya belum mahir dalam berpolitik”

Majikan : “sudahlah. dengan ke ramah tamahan mu itu, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu hanya perlu yakin kalau kamu bisa memimpin negri ini.”

 

Abdullah dengan tekat yang kuat setelah dorongan daripada Majikannya mulai memberanikan diri unjuk gigi dalam mengikuti pemilihan Mentri Raja tersebut. Selang bulan demi bulan Abdullah yang rendah hati ini giat mengikuti politik tersebut. Namun pekerjaannya sebagai tukang kebun tidaklah ia tinggalkan sehingga menjadi nilai lebih dari masyarakat yang memilihnya.

 

Akhirnya tiba hari dimana pemilihan Mentri Raja tersebut dimulai. Dari pagi hingga menjelang siang ratusan warga sudah mendengar orasi dari para calon Mentri Raja dan mulai memberikan suara sehingga sore pada saat pengumuman pemilihan Mentri Raja tersebut diumbarkan kepada seluruh khalayak yang ikut serta dan hasilnya diketahui bahwa Abdullah seorang paruh baya yang hari-hari bekerja sebagai tukang kebun muncul sebagai nama yang dipilih terbanyak oleh masyarakat tersebut. Dan Raja langsung mengenakan baju yang akan dikenakan oleh Mentri Raja yang baru ini.

 

Tahun pertama masa pemerintahan Mentri Raja Abdullah, warga mengakui prestasinya diseluruh pelosok juga sangat mengakui kemakmuran yang dilakukan oleh Mentri Raja ini. Beberapa proyek besar diikutinya sungguh memiliki hasil yang memuaskan.

Waktu demi waktu ternyata sesuatu mulai merubah sesosok Mentri yang bernama Abdullah ini. Setelah memiliki pengawal dan istana, ia sudah mulai mementingkan diri pribadi daripada masyarakat yang pernah memilihnya. Seperti kacang lupa pada kulitnya, mungkin ini sebuah kiasan yang cocok dengan Abdullah. Seiring waktu yang telah membuatnya memiliki harta yang segudang, ia mulai meninggalkan sorban usang yang dikenakan tersebut. Salah seorang pengawal sempat mencoba memberanikan diri bertanya kepada Abdullah :

Pengawal : “Tuan, hari ini engkau terlihat berbeda”
Abdullah : “itulah saya pengawal. Saya telah melepaskan yang memberatkan kepala saya sejak saya miskin dulu!”
Pengawal : “Mengapa engkau lepaskan ya tuanku ? bukankah dulu itu yang selalu kau banggakan?”
Abdullah : “Sudahlah. Ini urusan saya bukan urusan kamu hai pengawal. Kalau kamu tidak ingin bekerja lagi dengan saya, pulanglah kamu ke negri asalmu”
Pengawal : “Tidak tuan. Saya tetap akan mengabdi kepadamu Tuan!”
Abdullah : “Baguslah kalau kamu sadar!”

Keangkuhan atas prestasinya yang terus meningkat kini terlihat dihati masyarakat. Banyak rakyat mulai sengsara atas sifat yang telah menjadi-jadi. Sampai ada proyek pembangunan tembok sebuah perkampungan, ia jadikan alat untuk menimbun kekayaan yang dia miliki saat ini. Warga yang tau namun tidak berani mengakui kesalahan Abdullah kepada Raja karna pengawal Abdullah langsung menghakimi warga jika mengadu hal tersebut kepada Raja.

Hal itu terus terjadi dengan proyek-proyek yang diberikan kepada Abdullah. Raja yang sudah tua tentunya tidak tau akan hal ini. Sampai suatu hari seorang pemuda yang tak lain adalah anak majikannya dahulu mengetahui hal ini dan berkata kepada Ayahnya :

Pemuda : “Ayah. Sesuatu telah terjadi”
Ayah : “Apa itu anakku ? katakanlah kepadaku !”
Pemuda : “Ingatkah engkau ayah akan seseorang yang pernah bekerja kepada kita dahulu ?”
Ayah : “Apakah itu Mentri Abdullah yanjg kau maksud anakku ?”
Pemuda : “Ayah benar. Ia kini telah berubah. Sorban yang ia banggakan sewaktu ia bekerja dengan kita kini telah ia lepaskan dan banyak proyek-proyek yang ia tangani banyak ia ambil untungnya. Dan saat aku bertanya kepada masyarakat yang bekerja didalam proyeknya, mereka sudah banyak yang mengalami kesengsaraan.”
Ayah : “wahai anakku! Jika itu memang terjadi, ajaklah aku untuk bertemu dengan Abdullah.”
Pemuda : “Baiklah ayahku. Ikutlah ke Istana Abdullah”

Keesokan harinya mereka berdua melakukan perjalanan menemui tukang kebun yang mereka banggakan itu. Namun, pada saat mereka sudah tiba di depan istana, penjaga bertanya :

Penjaga : “Anda siapa tuan ? dan apa yang anda lakukan disini ?”
Pemuda : “Saya dan ayah saya ingin bertemu dengan tuan anda wahai pengaja. Katakan saja kami adalah majikan tempat ia bekerja dulu!”
Penjaga : (langsung mengambil telepon dan menghubungi Abdullah) “Ia baik tuan. Akan saya sampaikan” (seraya menutup telpon dan berkata kepada Pemuda) “Tuanku menerima kalian sebagai tamunya. Mari ikuti saya”

Pemuda dan Ayahnya langsung mengikuti langkah penjaga yang mengantarkan mereka kepada ruang tempat dimana Abdullah sering mengadakan rapat penting. Saat mereka duduk, terdengarlah suara dari belakang mereka :

“Apakah kau terkejut Tuan Abu ? Inilah hasil kerja kerasku selama ini.” gumam Abdullah. Seraya itu juga mereka menoreh ke belakang dan Abu majikannya Abdullah dulu berkata :

“Aku tidak terkejut dengan kekuatanmu dalam bekerja. yang aku terkejut adlah sikapmu yang telah berubah ditambah sorban yang dulu kau banggakan sudah tak kau kenakan lagi. Ada apa wahai Abdullah ?”

Abdullah : “Ini bukan urusanmu Tuan Abu! Aku yang sudah besar ini, sudah tidak perlu sorban busuk yang usang itu”.
Abu : “bukankah itu pesan ibumu wahai Abdullah?”
Abdullah : (dengan nada marah) “sudah, pulang saja kau Abu. Aku tak ingin mendegar celotehmu!”. (Sambil berteriak)  “Pengawal, Pengawal, ambil dan seret mereka!. saya ingin beristirahat. “
Abu : “Baik Abdullah. Saya akan pergi tanpa perlu kau seret seperti ini. Tapi ingatlah! Sorban itu yang membuatmu menjadi seperti ini dan sifat keramah tamahanmu!”

Mendengar perkataan itu, Abu dan anaknya langsung pergi meninggalkan Abdullah. Mereka kembali ke asalnya. Namun diperjalanan Abu berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, Aku bersedih hati saat mendengar Abdullah yang sudah berubah. Ia melupakan sorban dan mulai melakukan tindakan mengambil yang bukan haknya itu membuatku kecewa. Ini semua salahku mengajaknya untuk ikut berpolitik. Aku kira ia benar seseorang yang patut dibanggakan”. sang anak menjawab : “Ini bukan salahmu wahai ayahku. Hanya saja Tahta dan Harta yang sudah menggelapkan hatinya sehingga ia berani berbuat seperti itu.”

Hari demi hari perbuatan Abdullah sudah semakin menjadi. Namun saat ini sudah mulai terdengar di Istana Raja. Spontan Raja terkaget saat mendengar hal tersebut. Sehingga Raja melakukan rapat tertutup dengan Mentri lainnya untuk melakukan Tes demi melihat langsung bagaimana sistem yang dikerjakan Abdullah tersebut. Dan tibalah rapat besar yang Abdullah pada saat itu tidak tau kalau rapat itu adalah kesengajaan Raja untuk memberikan tugas besar membangun Perumahan untuk keluarga pengawal Raja yang baru dibelakang Istana Raja. Raja juga sengaja menunjuk Abdullah sebagai ketua pelaksana kegiatan tersebut. Alih-alih seorang professional, ia menerima tanpa mengetahui apa yang direncanakan oleh Raja dan Mentri lainnya kepadanya.

Hari pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada Abdullah kini dimulai. Seperti biasa, Abdullah segera menggunakan strategi yang biasa ia gunakan. Pekerja yang biasa bekerja sama dengan Abdullah mulai diajak untuk mengambil setengah dari anggaran yang diperlukan untuk membangun perumahan itu. Sayangnya kali ini salah seorang pekerja yang ia ajak adalah suruhan raja untuk memata-matai pergerakan Abdullah. Dan saat itu juga ketika rapat strategi, konsep pekerja Abdullah diambil oleh salah seorang mata-mata Raja. Tanpa diketahui oleh Abdullah, Raja datang mencoba menghampiri Abdullah seolah ingin melihat perkembangan kinerja Abdullah sebagai salah satu mentri kepercayaan Raja. Saat Raja bertanya mengenai anggaran proyek itu, ternyata Abdullah memperlihatkan anggaran palsu yang sudah ia rencanakan mengelabui Raja. Raja yang sudah mengetahui itu langsung menyuruh pengawalnya untuk menangkap Abdullah. Seraya itu juga abdullah berkata :

“Ada apa ini ? Apa yang engkau lakukan kepadaku Raja?”

Raja langsung menyuruh pengawal membawa Abdullah dan beberapa pekerja pengikutnya untuk dibawa ke pengadilan Raja.

Satu hari kemudian, tiba dimana sidang Abdullah dan hakim yang sudah siap sedia untuk menuntut Abdullah atas tuduhan yang terbukti ia lakukan. Abdullah pertama mengelak. Namun ketika ia mendapat bukti nyata ia kini tidak dapat mengelak dan mengakui kesalahannya. Bak nasi yang sudah menjadi bubur, ia tak dapat berbuat apa-apa hanya menunggu hukuman mati yang akan dilaksanakannya beberapa hari lagi.

Kini, disela-sela menunggu hari eksekusi untuk Abdullah, ia hanya bisa menanti diam dipenjara. Namun, hal aneh terjadi ketika malam Abdullah selalu bermimpi ia bertemu dengan kakek-kakek yang memakai sorban putih yang selalu tersenyum saat melihat Abdullah. Ketika Abdullah selalu ingin mendekat, kakek itu selalu pergi dan menjatuhkan sorban putih. Mimpi itu terus kian menjadi dan akhirnya Abdullah terbangun ditengah malam terakhirnya, ia baru sadar bahwa kakek didalam mimpinya itu adalah malaikat yang mengantarkan sorban putih miliknya yang telah lama ia buang. Dan yang anehnya adalah, sorban miliknya itu ada disamping ia merebahkan badannya ketika ia terlelap tidur. Langsung saja Abdullah menangis dan berdoa kepada Allah untuk meminta maaf sambil mengenakan sorban usangnya itu.

Hari eksekusipun tiba dan waktunya Abdullah mengikuti proses eksekusi terhadap tindakan korupsinya itu. Saat ditanyai apa hal terakhir yang ingin dikatakan, ia menjawab kepada semua masyarakat yang melihatnya :
“Hal yang ingin aku katakan adalah tolong maafkan aku atas perbuatanku mengambil hak-hak kalian. Dan aku memberikan Istanaku untuk kalian tinggal wahai wargaku yang pernah memilihku menjadi mentri. Dan sampaikan kepada majikanku dulu, aku baru sadar, kalau sorban inilah yang menjagaku. Beliau benar, aku adalah orang yang lupa akan janjiku kepada ibuku untuk memakai sorban ini.”

Dan eksekusi dimulai, Abdullah tetap menjalani proses itu. Kepalanya dipenggal dan dikubur dikuburan tak jauh dari Istana Raja.

Teman-teman MUSIKANEGRI. MasyaAllah. Allah saja pernah berkata bahwa didalam hak yang kita dapati saja ada hak orang lain yang wajib kita berikan bukan mengambil hak orang tersebut. Itu adalah ganjaran untuk orang-orang yang durhaka kepada Allah.

Please like & share:

Karya KBM1: Pendidikan Anti-Korupsi Sejak Dalam Rahim

Posted on

Penulis: Taufiqurrohman Huri     @taufiqslow

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-3

Sungguh ironis, Indonesia sebagai negara yang mayoritas warganya muslim mengidap gejala korupsi yang tinggi. Sebagaimana hasil penelitian TI pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat ke-56 sebagai negara terkorupdiantara 174 di dunia. Hal itu amat menyeskkan, islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kejujuran ternyata belum bisa memberi dampak nasional terhadap kebersihan institusi di negara kita. Apalagi bila melihat sosok-sosok koruptor di media yang merupakan warga muslim juga. Betapa malunya kita sebagai warga muslim indonesia.

Korupsi yang sudah menjadi-jadi di negara tentu harus mendapatkan perhatian serius oleh seluruh rakyat kita. Terutama kaum muslim. Dominasi jumlah penduduk, juga membuat angka keterwakilan di pemerintahan juga didominasi muslim. Meskipun bukan berarti kemudian memandang sebelah mata yang beragama lain, namun sepatutnya orang islam bisa menjadi sponsor sebagai duta antikorupsi, tidak malah sebaliknya.

Ada beragam cara yang ditempuh untuk mengatasi hal tersebut, baik yang sudah dijalankan maupun yang masih dalam tahap wacana. Solusi tindak tegas dan hukum berat koruptor, kampanye besar-besaran maupun diklat seringkali menjadi solusi yang ramai dibicarakan. Upaya pemberantasan semacam itu harus terus diupayakan hinga optimal agar pelaku dan tindak korupsi bis asemakin berkurang. Hanya saja upaya jangka panjang juga harus diperhatikan. Mau tidak mau menyiapkan generasi depan yang jijik dengan korupsi adalah mutlak adanya, sebab merekalah penentu nasib bangsa ini selanjutnya di kemudian hari.

Solusi jangka panjang; dimulai sejak dalam kandungan

Tayangan perihal pengusutan kasus korupsi tiap hari menghiasi media televisi nasional. Hal tersebut mengakibatkan istilah korupsi semakin populer termasuk pada kalangan anak-anak. Kata-kata korupsi tidak menjadi kata yang asing di telinga mereka, meski belum tentu tahu akan maknanya. Maka sepatutnya sebagai orang tua muslim kita mau untuk menyikapi hal itu, salah satunya adalah dengan memberikan pemahaman anak sejak dini tentang bahaya laten korupsi. Pendidikan anti korupsi merupakan langkah kongkrit yang sangat tepat untuk direalisasikan. Bukan dimulai sejak dini, remaja maupun saat perguruan tinggi lagi, tetapi harus dimulai sejak dalam kandungan. Yah, sejak masih dalam rahim anak.

Pada saat hamil ayah dan ibu harus berhati-hati dalam .jangan sampai sari makanan yang diserap janin berasal dari uang haram. Hal tersebut sangatlah penting untuk menanamkan sifat jujur dan hati-hati dalam mencari nafkah untuk keluarga. Juga karena saripati makanan ibu akan diserap dan akan membentuk tubuh anak. Apa jadinya bila tubuh anak dilahirkan dari saripati makanan yang tidak halal asal-usulnya.

Sesulit apapun orang tua dalam menafkahi keluarga, khususnya anak, jangan sampai menjadi alasan untuk menghalalalkan tindakan korupsi. Begitupun apabila dia berada dalam lingkaran korupsi,baik skala besar seprti pemerintahan maupun skala kecil seperti sekolahan, orang tua harus pandai meletakkan posisi agar ikut terjerat di dalamnya

Selanjutnya ketika anak masih kecil, orang tua harus benar-benar mewaspadai asal-usul uang yang dipakai untuk anaknya. Selain itu orang tua harus memperlihatkan tindakan positif kepada anak sebab pada usia tersebut anak akan merekam dalam akalnya sehingga apa yang dilakukan oleh orang tuanya akan dianggap sebagai batasan kebenaran.

Pada saat anak masuk sekolah tingkatdasar, maka pendidikan anti-korupsi mulai ditanamkan secara gamblang kepada anak. Orang tua perlu mndampingi di depan televisi pada saat melihat berita kasus korupsi, untuk kemudian diberi selipan nasehat kepada anak tentang kejinya tindak korupsi. Anak juga harus ibisakan jujur, tentang penggunaan uang saku, perihal uang kembalian setelah ia disuruh membeli di toko sebelah. Sesekali menceritakan kepada anak tentang mulianya jujur dan

Pada saat mulai masuk sekolah tingkat pertama,orang tua harus memberi contoh yang kongkret. Mulai berjalannya logika anak membuat orang tua harus memahami bahwa dia tidak patut menasehati ketika belum melakukan. Jangan sampai orang tua kemudian memberi contoh buruk yang biasanya dilakukan, semisal: melakukan segala cara agar anaknya masuk di SLTP unggulan di kotanya. Bibit korupsi

Kemudian pada saat masuk di bangku SLTA, anak mulai memahami fakta-fakta sekitar dan mulai penasaran dengan hal-hal baru. Pada saat itu orang tua harus mulai memahami bahwa anak mulai butuh pengakuan. Ketika kita adalah seorang yang beruntung secara ekonomi, maka kita harus melatih mengerem gaya hidup anak dalam ranah sewajarnya. Hal itu sangat berpengaruh agar anak tidak terbiasa dengan keglamouran. Namun ketika kita adalah seorang yang kurang beruntung, jangan sampai kita kemudian memberi contoh sikap tidak neriman kita di depan anak, karena hal tersebut bisa menimbulkan sikap tamak pada anak. Hal itu akan secara tidak langsung menggiring anak pada pemahaman bahwa ukuran berhasil adalahbanyaknya harta, materialistik. Ketika akan mengurus SIM, orang tua jangan sampai mensponsori anak untuk mengurusnya lewat jalan makelar.

Saat masuk diperguruan tinggi dan anak mulai mengenal dunia organisasi pyur politik, sepatutnya orang tua bisa memberi pendampingan sedikit-sedikit. Anak harus mulai dipengaruhi dengan idealisme, untuk berani jujur dan tanpa menyerah. Anak diharapkan tidak terjebak sistem lingkaran korupsi kampus, dengan tanpa harus pergi meninggalkan organisasi itu yang nota bene akan menambah soft skill anak.

Tibalah saat anak tidak menjadi anak lagi. Ketika sudah akan mulai berkiprah di dunia kerja, orang tua harus mendorong sifat gentleman pada anak. Sepatutnya anak tidak dibiarkan menempuh jalur sogok menyogok pada saat akan masuk dalam perusahaan tertentu. Orang tua memberi pengertian anak, di usia setengah matang tersebut, bahwa hidup itu tidak hanya persoalan berhasil atau tidaknya saja, tetapi juga soal baagaimana proses mendapatkannya. Tuhan tidak pernah tidur, selalu mengetahui apa yang dikerjakan hambaNya. Orang tua juga tidak dengan mudahnya memasukkan anak pada lembaga/perusahaan secara inkonstitusi, apalagi bila tidak kompeten. Mungkin maksud orang tua membantu, tetapi sejatinya bila hal ini dilakukan sama saja menjerumuskan anak pada bahaya laten KKN.

Penutup

Manusia yang dalam posisi sadar akal dan hatinya tentu aka sangat mengutuk tindak korupsi. Karena jelas tindakan yang terkandung di dalamnya ketidakjujuran, pecurian, ketidakadilan ini merugikan banyak pihak. Namun terkadang ketidakberdayaan mentalnya untuk menghadapi tindak yang sudah mengakar di lingkungannya, seringkali membuat larut dan hilang kesadaran nurani. Meskipun dia ahli agama sekalipun. Maka pendidikanlah satu-satunya alat yang bisa membentuk apa yang disebut mental anti korupsi, yakni sebuah kesadaran dan keberanian yang kuat bahwa korupsi itu harus diberantas.

Sedangkan, pendidikan yang paling berpengaruh terhadap anak adalah dari orang tuanya. Frekuensi orang tua terhadap anak melebihi lingkungan sekolah dan masyarakat. Maka tanpa peran orang tua mustahil pendidikan anti-korupsi akan bisa terwujud dengan maksimal.

Model contoh-contoh pendidikan anti-korupsi yang telah paparkan tadi hanya potret sebagian saja. Variasi korupsi amat banyak macamnya di lingkungan kita. Orang tua harus jeli agar tidak mempraktekkan tindak tersebut, lebih-lebih di depan anak. Semua upaya itu tidak lain demi masa depan anak sendiri juga bangsa negara dan agama kita. Akan sampai kapan lagi, Indonesia negara mayoritas muslim ini akan menjadi jawara korupsi di jagat. Yah, semoga saja semua pihak, lebih-lebih orang tua setelah membaca tulisan sederhana ini, mau betindak serius demi penanggulangan korupsi di negara kita.amin. wallahu alam

Semoga

Please like & share:

Karya KBM1: Berantas akar Korupsi dari Rumah

Posted on

Penulis: Ummi Ayezza  (Erni Ekowati)       @ummiayezza

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-4

Kalo lihat,baca berita di TV hanya ngelus dada aja, berita korupsi ngga habis-habis.bahkan yang terakhir yang membuat saya dan keluarga memutuskan “puasa TV” karena berita korupsi dan pembunuhan terus lalu lalang setiap hari. Hati jadi “sumpek” “cupet”, jadi mikir negatif ke oknum-oknum pemerintah,partai politik,DPR padahal saya sendiri yakin masih sangat banyak yang benar-benar menjalankan tugasnya secara amanah.

Sebagai ibu rumah tangga dan sosialpreneur (wirausaha memanfaatkan sosial media) meski sudah puasa TV tetap masih bisa baca berita, alhamdulillah sekarang bisa memilah kapan memang mau baca kapan tidak. Beberapa kasus saya amati dan tarik benang merahnya bisa jadi muncul lahirnya korupsi para bapak-bapak adalah dari tuntutan dirumah, tuntutan para istri dan anak-anaknya?

kok bisa begitu ?

bapak-bapak bekerja untuk siapa sih ?

 

ilustrasi nih ya pak/bu

Rincian diatas sesuai kondisi normal. dan insyallah dari kacamata ibu rumah tangga yang tiap bulan jadi menteri keuangan dirumah sudah lumayan longgar 😀

 

ya luar biasa, misal tas bisa diatas 500rb, sementara saya tahu sendiri bagaimana perjuangan untuk mendapatkan dana 500rb segar itu, tiap hari mantengin laptop, tiap hari update sana sini, moto sana sini.  ya itu saya..

kemaren terakhir geleng-geleng ketika baca artis “A, B,C” beli tas hingga 500jt.. keren.. salut.. bisa ya merelakan dana 500jt untuk 1tas kata suami saya

“ya ummi belum ada di level mereka, coba kalo ada dilingkungan mereka bisa aja sama”

bener juga, mungkin begitu juga endingnya, cuman dari sekarang saya terus meminta pada ALLOH agar jangan dilenakan dunia…

kembali ke si bapak ,

kalo dari catatan hitungan diatas, sisa gajian 420rb, sementara belanja ibu-ibu untuk 1tas aja sudah 500rb, belum baju, belum perhiasan, belum pernik-pernik lucu.

loh, emang mbaknya ngga suka belanja ?

korupsi sumbernya dari rumah bukan hanya dari istri saja, ada faktor tuntutan anak-anak juga,karena kemajuan teknologi dan iklan yang membabi buta, anak-anak sekarang keren-keren, pegangannya sudah tablet,ipad, mainannya ngga lagi engklek, congklak, gobaksodor, boy-boy-an, kelereng. namun sudah game-game keren, bahkan sudah update di sosial media, pegang BB untuk sekedar curhat dengan temannya, mainan kakaotalk untuk ketemu sama artis favoritnya di korea dan banyak alasan lain lagi untuk exis …

ini kalo smua bapak di indonesia mampu, monggo ngga masalah,

tahun kemarin juga saya dengan sangat berat hati menghentikan beasiswa ke anak yatim, saya tahu ibunya sangat membutuhkan dana tersebut, namun saya lihat gaya hidup anaknya subhanallah keren abizzz top markotop… HPnya type terbaru yang menurut saya MAHAL, pernah saya ajak ngobrol ringan (karena ketika memberi beasiswa saya pesan tidak mau memberi tahukan ke yang bersangkutan dari siapa beasiswa tersebut) jadi ketika kita ngobrol dia dengan ceria cerita tiap harinya yang dilakukan, pergaulannya, apa yang barusan dibeli. astagfirullah, saya langsung curhat ke ustadzah,apakah boleh menghentikan niat baik kita ke beliaunya, dan dijawab ustadzah boleh kalo memang diberikan ke orang lain lebih maslahat dan manfaat.

ada juga cerita dari sekolah mama, ada muridnya yang ngga pernah masuk kelas, ibunya info kalo tidak ada uang untuk bayar sekolah makanya anaknya tidak mau sekolah jadi bekerja, karena sekolah merasa urgent untuk masa depan anak tersebut jadinya membantu anak tersebut dan memberinya beasiswa,ada perubahan ? ada diawal-awal anak tersebut rajin masuk, dan ketika masuk guru-guru melihat tentengan anak tersebut, HP dengan edisi terbaru yang ibu guru disana bilang “saya aja ngga tahu cara menghidupkannya” ditenteng kemana-mana. sepulang sekolah dia asyik telpon-telpon ria pake HP tersebut.

ya ini, memang tidak jamak, tapi sudah sangat biasa, bukan dikota saja tapi sudah merambah ke desa-desa. dan memang tidak bisa dipungkiri masih banyak yang memang butuh biaya sekolah dan wajib kita bantu.

ada cerita sederhana dari rumah saya, anak saya nomor 2 Azzam, tiba-tiba pegang uang banyak, padahal tadi cerita kalo uang sakunya sudah dibelikan mainan dan kue jadi habis, ummi tanya “uang siapa mas ?” mas azzam hanya senyum-senyum saja trus bilang mau beli jajan lagi. ummi pegangin dan tanya terus, “uang dari mana ?” sampai akhirnya dia ngaku, uang dari celengan ummi dirumah.

ibu, semangattt berantas korupsi dari rumah yuk…dimulai dari kita sendiri, yaa kita para ibu-ibu yang hobi belanja ini.. termasuk saya…dan dimulai dari menumbuhkan sikap jujur ke anak-anak, semangat kerja keras kalo membutuhkan sesuatu…

semangat berantas korupsi dari rumah… siapppp !!!!!

sidoarjo, 25 November 2013

@ppmAswaja

 

 

 

ini kacamata saya sebagai ibu rumah tangga, setuju monggo tidak monggo, tulisan ini saya tulis di blog saya sebagai catatan saya juga untuk jadi warning saya hari ini dan kemudian hari.

 

tentu untuk keluarga, ya istri ya anak-anak..

 

si bapak penghasilannya 5 juta perbulan, penghasilan 5juta apalagi dikota saya sidoarjo sudah cukup untuk hidup sejahtera. bicara disertai data, hyuk kita ambil asumsi hitungan pengeluaran seperti berikut untuk 1keluarga 1 istri dan 2 anak :

– Zakat, infaq, sedekah : 500rb

– Tabungan : 500rb

– sekolah anak-anak yg lumayan anggap aja SPP @250rbx2 : 500rb

– uang saku anak plus jajan : 2000 X 2anak x 20hari : 80rb

– Belanja bulanan makan perhari rata-rata 30.000 , 30 hari jadinya 900.000

– listrik 150.000 , PDAM 80.000 , Internet + Telpon rumah 175.000, pulsa 200.000 bulatkan kurang lebih 650rb

– Belanja per2 Bulanan sabun,bedak,kosmetik,parfum pel2an dll : 500rb/2 : 250rb

– cicilan rumah : 1jt

– tabungan refresing : 200rb

– masih ada sisa 420rb

 

apalagi kalo dibumbui dengan bersyukur.. wah insyallah lebih dari cukup hasil si bapak yang dibawa kerumah. cuman.. kenyataan dilapangan … dampak sosial media, dampak televisi, dampak berbagai informasi yang bebas berlalu lalang yang bisa didapat mudah dengan sekali klik dalam genggaman.

keinginan untuk belanja ibu-ibu semakin tinggi, ya monggo kalo ibu-ibu punya penghasilan sendiri dan tidak mengutak-atik hitungan pengeluaran dari gaji si bapak, lapar mata kayak apapun boleh, tapi yang jadi penyakit, semangat belanja tidak diiringi dengan semangat menambah pendapatan.

yang ada keluar rengekan “pah, kapan bonus itu keluar, mama besok mau arisan nih, malu dong pake baju itu-itu melulu…” atau gini “pah.. insentifnya ngga turun-turun, nih mamah dah ditagih aja sama bu “A” karena cicilan tas mama nunggak” dan kalo sudah karena pengaruh sosial ini, baju dan tas yang dibeli bukan harga wajar lagi… harga luar biasa menurut saya.

 

 

 

dannn bagaimana reaksi si bapak ?

pertama diam, kedua diam, ketiga mikir juga tuh…

dan cari jalan biar istrinya ngga merengekkk terus..

dan kalo cara bagus sih ngga papa, yang ditakutkan ya segala cara itulah yang ending-endingnya bisa jadi korupsi.

 

dan defisit berapa tuh tiap bulan, dan …

kalo kejadian terus menerus, tiap bulan kebiasaan belanja tidak berhenti bisa jadi BOM WAKTU ….

dan kalo istrinya dah ditagih utang sana sini kiri kanan, apa si suami tega.. ?

sebenarnya “ngga mau” , tapi karena tuntutan yang semakin menghimpit pilihan terakhir untuk korupsi tidak terbendung lagi…dan memenuhi berita-berita dari mulut ke mulut bahkan dari saluran TV ke saluran TV yang lainnya..

 

ya saya juga wanita normal bu, sama dengan ibu-ibu juga.. suka belanja, sama …tanya tuh suami saya ? 😀

cuman saya malu jika harus minta suami terus, jadinya muter otak untuk cari penghasilan yang bisa memenuhi keinginan saya untuk belanja buku, karena favorit saya buku..hehee hyuk ibu-ibu berpenghasilan hyuk, ngga harus ninggalin rumah, banyak kok cara berpenghasilan, ngga harus terus merengek suami juga 😀

 

 

saya pernah bekerja di Badan Amal Zakat salah satu BUMN, ketika kami menyerahkan guliran bantuan modal kerja kami sangat miris ketika ada beberapa kasus yang seret pembayarannya, kami coba telusuri kemana dana yang sedianya untuk modal kerja, ternyata untuk memenuhi keinginan anaknya beli HP, astagfirullah, mengurut dada dalam-dalam.

 

 

 

 

astagfirullah, saya kasih tahu dengan keras. meskipun itu uang Ummi dan insyallah ummi tetap iklash kalo diambil tapi caranya itu yang salah, itu sama dengan mencuri dan bibit korupsi. naudzubillahimindalik

 

 

bismillahirahmanirahim

manjadda wajadda

Please like & share: