Lolos Seleksi Ke-2

[Karya KBM3] Degradasi Moral Remaja sebagai Penerus Bangsa

Posted on Updated on

DEGRADASI MORAL REMAJA SEBAGAI PENERUS BANGSA

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi,tubuh,minat,pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. (Hurlock,1998)

Sesuai keterangan Hurlock yang di kutip dari http://konselingpejambon.blogspot.com/2012/10/agenda-kegiatan-pik-r-tentang-miras-dan.html masa remaja merupakan masa transisi yaitu suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang matang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan  ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988)di kutip dari http://guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com/.  Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Pada kisaran usia ini banyak orang yang mengatakan para remaja ini mengalami masa-masa “Labil”, kelabilan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi remaja ini di tandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa di jawab secara rasional oleh diri mereka sendiri. Memang pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul secara alamiah terkadang sering sekali mengganggu kehidupan kita sebagai remaja pemula, bahkan saya sendiri sewaktu duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama juga pernah merasa terganggu dengan pertanyaan yang secara autodidak muncul begitu saja, pertanyaan saya cukup klasik pada waktu itu yaitu tentang “siapa sebenarnya diriku ini dan apa tujuanku hidup di dunia ini ?” dan guru psikologi saya waktu itu menjawab dengan singkat “hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Jawaban itu sentak membuat saya merasa bingung dan tak bisa saya terima dengan akal sehat, bagi saya mana mungkin  menunggu jawaban yang belum pasti, saya ingin jawaban yang pasti dan sesuai dengan keinginan hati saya.

Sama  halnya dengan  remaja-remaja lain pada umumnya, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui jawaban yang pasti dan akan merasa tertantang apabila mereka di hadapkan oleh sesuatu yang baru. “ingin coba-coba” merupakan suatu bentuk pembuktian dari adanya rasa keingintahuan kuat akan jawaban terhadap pertanyaan yang telah menyelubungi diri mereka.

Kata “ingin coba-coba” terkesan memberikan nilai negative oleh kebanyakan orang terutama bagi remaja itu sendiri,  apabila  terlanjur melakukannya mereka dapat terjebak dan terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Keingintahuan yang di dasari dengan kata “coba-coba” inilah yang sering kali memperkenalkan para remaja yang biasa di sebut sebagai anak ABG  (Anak Baru Gedhe) ini mengikuti tindakan dan perbuatan teman atau orang lain yang tidak layak untuk di jadikan contoh dan panutan bagi diri mereka.

Sejatinya dapat lah kita lihat fenomena-fenomena ganjal yang sering terungkap pada sebuah media massa maupun social yang memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan social yang sering di lakukan oleh para remaja di era globalisasi ini, dari perbuatan yang masih bisa di maklumi sampai perbuatan criminal yang  melanggar hokum agama dan Negara. Perbuatan yang masih dapat di maklumi oleh sebagian orang  Seperti halnya membolos sekolah, dan kebut-kebutan di jalan raya sementara perbuatan yang melanggar norma sampai di luar batas kewajaran masyarakat seperti : menonton video porno, melakukan hubungan pra nikah atau free sex, paccaran yang berlebihan,penyalagunaan narkotika, tawuran dan membentuk kelompok geng motor.

Saat di Tanya apa yang melatar belakangi para remaja melakukan tindakan yang kurang beretika di mata masyarakat di era globalisasi semacam ini?

Banyak faktor yang melatarbelakangi kemerosotan moral remaja di zaman modern seperti sekarang ini. Seperti halnya:

  1. Factor Internal
  2. Psikologi Pribadi

 

mental remaja yang masih tergolong labil yang didukung keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan. Contoh nyata dari kasus ini adalah minum-minuman beralkohol dan pemakaian obat-obatan terlarang atau Narkotika, kebanyakan remaja mengira dengan meminum alkohol dan Narkotika dapat memberikan sensasi yang berbeda, saat mengkonsumsinya tubuh akan terasa ringan,rileks dan nyaman seketika. Tanpa mereka tau secara pasti pengaruh buruk yang telah di dapatkan setelah mengkonsumsi dua racun mematikan itu. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.  Sedangkan Menurut Smith & Anderson (dalam Fagan,2006),  kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

 

  1. Keluarga

Rasulullah bersabda:

  1. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan perilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.Begitupun dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

 

 

Factor Eksternal

  1. Lingkungan Masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana. Karena lingkungan adalah  suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.

Pengaruh lingkungan memberikan porsi tersendiri terhadap pola tingkah laku remaja, meskipun tidak serta merta  secara total langsung merubah perilakunya akan tetapi lambat laun pola tingkah laku remaja akan terbawa arus lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh dalam sebuah lingkungan masyarakatnya suka pergi ke klub malam atau diskotik dengan pakaian yang minim dan kurang beretika

  1. Teman Pergaulan

Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya. (dikutip dari: http://rururudididi.blogspot.com/ dan olahan pemikiran penulis )

Terkadang dalam dunia pergaulan remaja di era globalisasi kini sering menonjolkan adanya rasa solidaritas antar sesama anggota yang mengenal prinsip “sakit satu sakit semua” yang bermakna siapa pun yang berani menyakiti anggota kelompok mereka, maka satu kelompok berhak untuk membalasnya. Prinsip inilah yang menjadikan kelompok atau geng menjadi bringas dan bertindak semaunya hingga melanggar hukum. Contoh nyata dari kasus ini adalah terbentuknya geng motor dan tawuran remaja yang sering kali melanggar norma-norma sosial dan ketertiban umum yang ada di masyarakat daerah setempat. Kadang saking kejamnya mereka sampai membawa senjata tajam untuk melukai lawan mereka.

  1. Pengaruh Media dan Westernisasi

Kemajuan teknologi yang semakin pesat di era globalisasi seperti sekarang ini tanpa adanya filter yang memadai, memberi kemudahan bagi para remaja untuk mengakses segala macam bentuk informasi baik berupa tulisan,gambar,video maupun film secara bebas dan instan. Bukannya melarang atau membatasi perkembangan teknologi yang ada, namun adanya kecanggihan teknologi ini sering kali memberikan dampak psikologi yang kurang baik bagi para remaja untuk bisa meniru adegan-adegan tidak beretika yang pernah di lihat sebelumya pada dunia nyata. Di tambah lagi pengaruh budaya barat yang menyebabkan para generasi muda bangsa ini menjadi tidak mengenal tata krama dan sopan santun dalam berbusana. Tidak hanya itu berkembangnya faham feminisme di dunia barat mengakibatkan pola tingkah laku remaja berubah menjadi hedonisme.

 

BERIKUT ADALAH SOLUSI YANG BISA DI TERAPKAN UNTUK MENGATASI KERUSAKAN MORAL REMAJA

 

  1.       Membentuk Lingkungan yang Baik.

Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang  mempengaruhi perilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang baik (dari segi akhlak dan iman), memilih teman yang dekat dengan sang Khalik (Tuhan), menghindari tempat-tempat maksiat yang berdekatan dengan tempat tinggal. dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal yang negative akan sedikit berkurang.

 

  1. Pembinaan dalam Keluarga.

Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak terlebih lagi terhadap seorang anak perempuan, dimana dalam dunia pergaulan di zaman modern pembinaan dan penanaman nilai agama sangat di perlukan sebagai bentuk pertahanan dari godaan kerusakan akidah dan akhlaq, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad yang artinya:

-Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga. (di kutip: http://www.piss-ktb.com/2014/07/3238-nafaqoh-orang-tua-ketika-anaknya.html)

jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, tempat berlindung bagi seorang anak dalam mencurahkan semua masalah yang tengah membelitnya. Sejatinya keluarga bisa memberikan bekal pendidikan moral yang baik dan menjadi suri tauladan terbaik bagi anak mereka sebelum di lepas di lingkungan yang bebas. Memberikan contoh awal  seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

 

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, dalam sekolahlah pendidikan karakter remaja di tanamkan dengan baik. Interkasi antara seorang guru dan murid akan terjalin secara harmonis, dan dari tempat inilah pemantapan psikologi,karakter dan kepemimpinan seorang remaja akan terbentuk secara efektif melalui kegiatan sekolah ataupun ekstrakulikuler untuk penyaluran bakat dan perbaikan diri remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.

(dikutip: http://rururudididi.blogspot.com dan olahan pemikiran penulis )

 

  1. Pendalaman Agama

Dalam sendi-sendi kehidupan yang tidak hanya bisa mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) namun, Penanaman dan pendalaman nilai-nilai agama harus senantiasa di tanamkan dalam diri remaja, hal ini berhubungan dengan tindakan dan perilaku motorik remaja dalam bergaul. Apabila penanaman nilai agama lemah maka akan mudah untuk terpengaruh ke dalam dunia hitam. Penanaman nilai-nilai agama dapat di terapkan dalam segala bidang kehidupan seperti: keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Pada masa remaja dengan rentang usia 12- 18 tahun, yang kebanyakan waktu mereka di habiskan belajar dan kegiatan di sekolah, memerlukan adanya sarana untuk peningkatan iman dan taqwa (IMTAQ)  untuk membentengi diri mereka dari kemaksiatan. Yang bisa di tempuh dengan beberapa cara seperti:

  1. Aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang kerohanian agama
  2. Senantiasa mendatangi tempat ibadah atau masjid untuk menjalankan ibadah
  3. Sering melakukan kajian dalam beberapa aktivitas di sekolah.

Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS. Al-isra’ : 9
Artinya : Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (di kutip: http://kajianislammoderen.blogspot.com/2010/03/peranan-dakwah-sekolah-dalam-mengatasi.html)

Dengan memperkuat penanaman agama dalam diri seorang remaja di harapkan tidak terjerumus dalam penyimpangan sosial yang sering kali di lakukan oleh remaja di zaman modern sekarang ini.

Remaja sejatinya merupakan asset penggerak bangsa yang akan memegang tanduk kepemimpinan  negara ini  di masa yang akan datang. Sesungguhnya Allah berfirman dalam Alquran

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya: “Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yg akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Sumber: http://www.muslimedianews.com/2015/01/islam-nusantara-tuhan-menggunakan-kata.html)
menjadi seorang “Khalifah” itu lah sebutan remaja sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. Dan  itulah sebabnya para kaum muda ini mendapat tiga predikat penting yaitu sebagai agent of change, social controll, dan iron stock, sudah sepantasnya moral dan perilaku para remaja ini senantiasa di jaga demi terwujudnya suatu bangsa yang tentram,sejahtera dan bermartabat. Dimana akhlak,IMTAQ dan IPTEQ  dapat selaras dengan kehidupan, maka cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945 akan terealisasi dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110). Ayat di atas sangat jelas menyiratkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik di dunia. Karena umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya senantiasa berbuat terbaik bagi dirinya, lingkungannya, dan sesama. (dikutip dari:http://cyberdakwah.com/2013/06/menanamkan-akhlakul-karimah-pada remaja-islam/).

 

Dalam sejarah kemerdekaan negara Republik Indonesia, remaja atau pemuda telah ikut andil dalam menciptakan sebuah cita-cita bangsa, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Teks sumpah pemuda menjadi bukti eksistensi pemuda Indonesia. Demikianlah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928 dan sudah memasuki usia 86 tahun. Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa suatu bangsa menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.

Peran pemuda menduduki posisi penting dalam perkembangan suatu bangsa, merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang. Merealisasikan mimpi dan cita-cita bangsa yang belum terwujud saat ini, dan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan bermartabat sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

REFERENSI

  1. konselingpejambon.blogspot.com
  2. guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com
  3. blogspot.com/
  4. piss-ktb.com
  5. blogspot.com
  6. cyberdakwah.com
  7. muslimedianews.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita!

Posted on Updated on

Assalamu’alaikum sahabat, tidak terasa kita telah berada pada awal tahun 2015 ini. Dan tak terasa pula, kita telah melewati tahun demi tahun dengan banyak hal. Di sepanjang tahun 2014 kemarin, hal yang pasti kita alami adalah hal yang baik dan hal buruk. Jika kita mendapat kebaikan, maka kita akan bersenang. Tapi jika mendapat keburukan, maka kita akan bersedih dan terkadang merana.

Datangnya kebaikan atau keburukan kepada kita, tidak melulu soal takdir. Terkadang, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita lakukan. Ya, apa yang kita panen, adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dan pastinya, ketika kita menanam kebaikan, maka buah kebaikanlah yang akan kita petik. Namun celakanya, jika bibit keburukan yang kita tanam, maka buah keburukan pula yang akan kita rasakan.

Salah atau benar pada kita adalah hal yang manusiawi. Contohnya termasuk salah dalam menanam keburukan tadi. Namun akhir-akhir ini, kita tidak menyadari bahwa porsi kesalahan yang kita lakukan adalah lebih besar dibanding kebaikan yang kita kerjakan. Dan terkadang kita pun tidak menyadari jika kita sedang melakukan kesalahan-kesalahan besar.

Salah satu kesalahan besar kita sebagai manusia yang bermoral adalah, bersikap acuh tak acuh terhadap kerusakan moral-moral generasi penerus kita sendiri. Dan bahkan kita bersikap acuh pula terhadap “mereka” yang menjadi penyebab rusaknya moral bangsa tersebut.

Mereka berkeliaran di sekitar kita, kita malah cuek-cuek bebek. Mereka meracuni anak-anak, saudara dan keluarga kita, kita juga masih saja tak peduli. Ketika mereka telah membunuh orang-orang kita, barulah kita mulai menyesal. Tapi, tetap saja dengan penyesalan yang sesaat. Sesaat di sini dalam artian hanya menyesal saat itu juga, dan hanya mengecam “mereka” saat itu juga. Tapi setelah itu, kita menjadi bebek kembali.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka kita juga akan mereka jadikan sebagai target berikutnya. Bukan hanya saya ataupun Anda, tapi semuanya termasuk saudara dan keluarga kita tercinta. Dan akibatnya dapat dipastikan “mereka” akan membinasakan kita!. Itu bisa saja terjadi jika kita tidak segera bertindak.

Pertanyaan besar yang pertama adalah siapakah mereka?

Tak lain dan tak bukan mereka adalah minuman keras dan keluarganya yang sama-sama haram. Merekalah yang telah membunuh karakter bangsa dan merubahnya dengan karakter jahiliah kembali, yang identik dengan khamr. Naudzu billah..

Telah banyak kerugian yang ditimbulkan akibat minuman-minuman haram tersebut. Dan kerugian terbesarnya adalah runtuhnya moral serta ahlak anak-anak ibu pertiwi, yang mereka semua adalah keluarga besar kita sendiri.

Selepas penjajahan yang dilakukan belanda, aset terbesar yang dimiliki bangsa ini adalah ahlak baik dari penghuninya. Dengan ahlak yang baik, menjadikan bangsa ini bisa bersatu dari ujung papua sampai ujung sumatra. Dengan demikian, persatuan itu merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir para penjajah dari tanah ini.

Namun sayang sungguh sayang, senjata persatuan tersebut mulai dirusak oleh berbagai minuman yang haram. Bagaimana tidak, dekadensi moral akibat miras telah membuat banyak benih-benih perpecahan di sana-sini. Contohnya: tawuran antar pelajar, antar kampung, antar suku, agama atau kelompok-kelompok tertentu. Yang pasti benih-benih perpecahan tersebut akan tumbuh besar jika tidak segera dibasmi.

Berita perkelahian, pembunuhan, serta perlakuan kriminal lainnya, seolah menjadi santapan kita di pagi, siang, sore dan malam hari. Itu semua akibat apa? Ya akibat ulah buruk dari miras yang telah mencuci otak peminumnya hingga seperti binatang.

Minuman keras tidak bisa dipandang sepele lagi. Sebab minuman setan itu telah memberikan kerugian besar terhadap bangsa ini. Bahkan belakangan banyak nyawa melayang akibat miras oplosan. Astaghfiruwlah..

Masih diperjual belikannya miras, tentu akan membuat semakin banyak lagi yang akan menjadi pecandunya. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa miras telah menjadi minuman faforit bagi banyak kalangan dan profesi. Dari orang kaya sampai orang miskin, muda atau tua, bahkan wanita pun kini banyak yang menenggak miras. PNS, aparat keamanan, kepala desa, pelajar dan para pejabatnya pun banyak yang menjadi budak dari minuman haram ini. Dengan demikian, akibat yang ditimbulkan pastilah semakin besar lagi.

Kini, kita telah dikelilingi oleh miras, dan orang-orang yang suka terhadap miras-miras itu. Dan bisa jadi, miras telah masuk kedalam lingkungan keluarga kita.

Saya tidak ingin mengambil contoh dari siapa-siapa. Saya hanya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa adik pertama saya telah menjadi korban dari buruknya miras. Sebenarnya sangat malu saya menceritakannya di sini. Tapi untuk meyakinkan kepada Anda bahwa dampak dari miras sangatlah buruk, maka saya rela membuka aib ini.

Sedikit saya ceritakan bahwa dulu adik saya itu sama seperti adik-adik saya yang lainnya. Bisa dibilang ia adalah anak yang baik, paling tidak untuk orang seisi rumah ini. Tapi semuanya berubah ketika ia telah mengenal yang namanya miras. Perubahan yang terjadi sangatlah drastis hingga ia berubah total menjadi anak yang “jahat”. Saya berani mengatakan ia “jahat”, karena ia telah berani membangkang kepada kedua orang tua saya.

Apapun yang orang tua saya katakan, ia tidak peduli. Ia menjadi acuh tak acuh semau-maunya sendiri. Tidak punya tata krama lagi, dan tidak pernah bersikap sopan santun kepada semua orang di rumah ini. Bicaranya menjadi kasar kepada siapa pun. Mudah tersinggung, dan sering sekali marah jika ada sedikit saja yang menyinggungnya. Semua harus sangat berhati-hati ketika akan bicara dengannya. Tapi, dia sendiri tidak mau berfikir terlebih dahulu jika ia akan bicara.

Ketika ia marah, kata-kata kotor adalah hal yang biasa ia ucapkan kepada kami, termasuk kepada orang tua saya. Bahkan lebih parahnya lagi, ia pernah akan menebas bapak saya dengan parang, dan pernah pula akan membanting meja ke muka ibu saya. Ia sering cekcok dan berselisih kepada banyak orang. Tidak kakak-kakaknya, adik-adiknya, orang tuanya, sepupunya, malahan kakeknya yang sudah tua pun ia pernah musuhi. Apa lagi orang lain, sering sekali ia terlibat perkelahian.

Adik saya itu ketika mabuk, pasti marah-marah saat pulang. Semua orang menjadi cemas dan hawatir dengan kelakuannya. Apa lagi ibu saya yang menderita jantung lemah, sering sekali sakit setelah adik saya mengamuk. Sekarang adik saya itu ibarat beban berat bagi keluarga, dan bagi kedua orang tua saya. Tidak mau bekerja, apa lagi ibadah. Padahal dulunya ia sering ke masjid dan ke surau. Tapi kini hanya keluyuran kerjanya.

Sering minta uang kepada orang tua, tapi tidak mau sedikit pun membantu orang tua untuk bekerja. Di rumah hanya tidur, bangun siang langsung makan, setelah itu keluyuran lagi siang dan malam. Semua orang di rumah ini merasa tidak nyaman lagi tinggal jika masih bersama dia. Tapi apalah daya, bagaimana pun dia juga bagian dari keluarga ini.

Segala upaya telah kami lakukan untuk menjadikannya orang baik kembali. Termasuk menasehati, membujuk, dan mengajaknya ke tempat-tempat kebaikan seperti ke Masjid dan Surau. Tapi, itu semua seolah tidak ada gunanya.

Nasehat orang tua, bagaikan api yang masuk di telinganya, yang iapun harus mengeluarkan lagi api itu melalui mulutnya. Demi Allah ibu saya sangat sedih, sangat susah atas sikap adik saya itu. Ibu saya sampai sering menangis dibuatnya. Dan sampai sekarang ia tetap belum berubah. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berahir.

Sebenarnya saya sangat sedih. Tapi orang tua saya jauh lebih sedih dan menderita. Di usia yang sudah tua, selain harus memberi makan kepada 5 orang anak, mereka juga harus menanggung rasa sakit yang sering terjadi akibat ulah adik saya itu.

Belum lagi rasa malu, yang tidak tau lagi harus disimpan di mana. Yang jelas, miras sangat merugikan. Tidak hanya bagi peminumnya, tapi juga bagi orang-orang yang tidak pernah menyentuhnya.

Sahabat, adik saya hanyalah sedikit cerita dari kerusakan moral yang ditimbulkan oleh miras. Di luar sana, pastilah banyak kisah-kisah nyata lainnya yang lebih buruk lagi.

Dalam kasus ini, saya juga tidak mau menyalahkan sepenuhnya kepada adik saya, mengapa ia sampai meminum miras. Karena jika saya logikakan selain dari bujukan teman, ya karena miras itu masih ada. Coba kalau tidak ada, apa mungkin ia masih meminumnya?

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah miras, ya kita harus berantas dari akar-akarnya. Akarnya di mana? Pabrik-pabrik, produsen, serta pengimpor miras; Itulah akarnya. Jika mereka tidak ada, maka tidak akan ada juga yang menjual miras. Otomatis tidak ada pula yang akan mengkonsumsinya bukan?

Tapi jangan salah paham dulu. Pabrik dan produsen yang saya maksud ini bukan pabrik alkohol lo ya, karena pabrik alkohol itu untuk keperluan medis. Sedangkan yang saya maksud adalah, pabrik miras yang telah mencampur alkohol dan bahan-bahan lainnya untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

Nah, kemudian bagaimana cara memberantas pabriknya? Inilah caranya…

1. Persatuan dari Masyarakat

Untuk memberantas pabrik miras, memang bukanlah hal mudah. Kita juga tidak bisa seenaknya begitu saja melakukannya sendiri. Ini negara hukum, jadi main hakim sendiri adalah hal yang melanggar hukum. Dan tentu, jika melanggar kita bisa duduk berkeringat di meja hijau setelah itu.

Oleh karenanya hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah bersatu. Ya, bersatu untuk menyuarakan “TIDAK UNTUK MIRAS“. Bersatu untuk menyuarakan TUTUP PABRIK-PABRIK MIRAS, dan adili para produsen, distributor serta penjual yang masih melanggar.

Suara tersebut bisa kita wujudkan melalui tulisan di internet, seperti yang saya lakukan kali ini. Kita bisa meramaikan jagat internet dengan tulisan-tulisan tentang bahaya miras, dan juga ajakan untuk sama-sama menolak beredarnya miras di Negara ini.

Kita bisa menyebarkan tulisan-tulisan itu di forum-forum, dan juga ke berbagai media sosial agar banyak yang membacanya, dan agar semakin banyak yang sadar bahwa miras adalah minuman yang merugikan. Selain itu diharapkan juga agar pemerintah terbuka pikirannya, bahwa mayoritas rakyat tidak menginginkan miras lagi.

Bukan hanya di internet saja, tapi kita bisa melakukan demo damai di jalan-jalan untuk menentang berdirinya pabrik miras. Baik pabrik kecil atau pun yang besar, semuanya harus dihapus sampai ke sudut negeri ini. Untuk mewujudkan itu, sekali lagi dibutuhkan persatuan yang kuat dari rakyat kita.

2. Desak pemerintah untuk membuat undang-undang anti miras yang jelas

Selama ini, masih diproduksi dan diedarkannya minuman beralkohol adalah akibat dari ketidakjelasan hukum yang mengatur tentang miras tersebut. Hukum-hukum yang dibuat tidak tegas sehingga produsen dan penjual masih saja beraksi.

Lihatlah “Keppres No 3 tahun 1997” tentang miras. Pada Bab III tentang produksi peredaran dan penjualan, Bag 1 menyebutkan, “Produksi minuman beralkohol di dalam negeri hanya dapat diselenggarakan berdasarkan izin menteri perindustrian dan perdagangan…dst”

Wah, berarti bagi yang mengantongi izin, bisa memproduksi miras ya? Dan dengan izin itu, berarti malah akan mempertahankan pabrik miras kan? (sambil garuk-garuk kepala)

Pada pasal 4 bagian 1 “Dilarang mengedarkan dan atau menjual minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 2 di tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu lainnya yang ditetapkan oleh gubernur kepala daerah tingkat I setelah mendengar pertimbangan bupati/wali kota madya kepala daerah tingkat II”.

“Horee.. berarti kalau saya ingin minum, ya langsung aja ke tempat yang telah disebutin pak presiden. Dijamin aman kok.. 😉 (kata pecandu yang kegirangan)

Sahabat, lihatlah sepenggal keputusan-keputusan lucu yang dibuat tersebut. Makanya jangan bertanya-tanya lagi, mengapa sampai sekarang miras masih ada. Bahkan “Perpres No 74 tahun 2013” pun tidak banyak mengalami perubahan.

Kalau produsen oplosan kecil-kecilan digrebek habis-habisan, mengapa produsen minuman alkohol besar tidak? Apakah cuman masalah izin?

Padahal, efek buruknya pun kurang lebih sama. Lha wong sama-sama dari alkohol, ya jelas sama-sama memabukkan. Ingat, berapa pun kandungan alkoholnya, tetap saja kalau haram walau setetes tetap haram!!!

Oleh karena itu agar miras dapat diberantas, kita harus meminta kepada pemerintah untuk memberantasnya. Dan untuk itu, kita harus mendesak pemerintah agar bertindak tegas terhadap permasalahan miras, dengan membuat undang-undang yang tegas pula.

Tentu, untuk mewujudkan semua itu kita harus menanamkan poin pertama, yaitu persatuan dari masyarakat. Saya yakin, jika mayoritas rakyat menolak miras, maka pemerintah akan mengabulkan keinginan kita.

Sahabat, saya ingatkan lagi bahwa sampai saat ini telah banyak nyawa melayang akibat miras. Sudah terbukti bahwa miras telah mencicil rakyat ini satu demi satu, hingga banyak menimbulkan kehancuran.

Jika seperti ini terus, apakah negara ini bisa menjadi maju kalau generasi muda yang menjadi ujung tombak di masa depan telah dibuat tumpul? Sepertinya masih sangat jauh impian dan harapan kita.

Bahkan, jika perpecahan dan kerusuhan akibat miras masih terus terjadi, maka dihawatirkan Indonesia Raya, bisa saja lenyap dari peta dunia ini. Dan setelah itu, nasib kita semua pasti akan menjadi terpuruk.

Sahabat, jawablah dengan tegas pertanyaan terakhir ini. Apakah kita yang akan memberantas miras, atau menunggu miras yang akan membinasakan kita? Pilihlah jawabannya, dan berikan jawaban tegas Anda melalui komentar. Wassalam…

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Referensi :

1. KEPPRES NOMOR 3 TAHUN 1997
TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL : http://hukum.unsrat.ac.id/pres/keppres_3_1997.htm

2. Miras sampah Masyarakat : http://helmijuni.blogspot.com/2013/05/miras-sampah-masyarakat.html

Please like & share:

[Karya KBM3] Supermen: Langkah Strategis untuk Membentuk Moral Generasi Muda yang Tanggung Sekaligus untuk Meningkatkan Eksistensi Kader Dakwah Islam Di Era Globalisasi

Posted on Updated on

Arus globalisasi telah merubah tatanan kehidupan dalam berbagai aspek. Salah satunya dari segi gaya hidup (life style). Globalisasi pula telah menjadi sebuah fenomena yang tak terelakkan (Scholte, 2001). Ciri yang mencolok dari globalisasi adalah terjadinya sebuah serangan budaya (cultural attack) yang dapat merubah pemikiran dan moral seseorang.

            Sasaran utama “korban” globalisasi adalah para pemuda. Mengapa harus pemuda? Karena merekalah yang nantinya akan menggantikan posisi-posisi yang sekarang dipegang oleh generasi tua. Dengan adanya pengaruh globalisasi yang tidak tersaring akan membentuk karakter pemuda yang tidak peduli, tidak memiliki moral yang baik, senang berfoya-foya, glamour, dan melakukan aktivitas lain yang sebenarnya kurang memberikan dampak baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Intinya, menginginkan para pemuda untuk tidak berpikir kritis dan analitis lagi sekaligus merusak moralnya.

            Kita bisa melihatnya sendiri, begitu banyak kasus yang pelakunya adalah generasi muda. Ada yang sudah berani meminum minuman keras dengan bebas. Ada yang sudah mulai mengkonsumsi narkoba dengan leluasa. Ada yang bangga dengan aksi tawuran yang dilakukan. Bahkan, seks bebas merupakan hal yang biasa dan lumrah dilakukan. Sungguh miris sekali rasanya jika melihat dan menyaksikan polemik seperti demikian.

            Peran media massa baik itu elektronik dan non-elektronik pun turut memberikan sumbangsih dalam hal bergesernya pola pemikiran dan moral pemuda. Ada media yang dengan sengaja menyebarkan issue untuk misi tertentu. Sayangnya, terkadang masih ada pemuda yang dengan langsung menelan mentah-mentah apa yang diberitakan media tanpa melakukan check and re-check. Padahal, seharusnya kita dapat lebih mencermati dan menganalisis terhadap apapun yang kita baca dan pelajari. Tidak sedikit media massa yang bekerja sama dengan pihak tertentu untuk menyebarkan doktrin dan pemikiran sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme (sepilis).

            Hal seperti di atas menjadikan pemikiran dan moral para pemuda menjadi “dangkal.” Mereka akan dengan mudah “mengamini” apa yang belum jelas kebenarannya. Maka yang terjadi adalah degradasi semangat dari para pemuda untuk berpikir kritis dan analitis terhadap berbagai polemik. Jika hal ini terjadi kepada para pemuda–apalagi kader dakwah islam muda– akan celakalah. Pemikiran mereka akan terpengaruh, dan mereka mulai malas berjuang untuk bangsa dan menyiarkan agama islam.

            Untuk itu, perlu adanya sebuah solusi yang diberikan. Atas latar belakang permasalahan di atas, munculah sebuah gagasan yang terus mengusik pemikiran saya. Saya menawarkan sebuah solusi untuk membentuk moral generasi muda yang tangguh sekaligus meningkatkan eksistensi kader dakwah islam muda di era globalisasi melalui SUPERMEN.           

            SUPERMEN merupakan kepanjangan dari Super Mentoring. Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu mentoring. Menurut Ruswandi & Adeyasa (2007) mentoring merupakan salah satu sarana tarbiyah islamiyah (pembinaan islami) yang di dalamnya ada proses belajar dan orientasinya adalah pembentukan karakter dan kepribadian islami peserta mentoring. Dari pernyataan tersebut mentoring menjadi media yang tepat untuk membentuk karakter dan moral kader dakwah islam muda yang tangguh yang senantiasa senang dalam mempelajari agama Islam.

            Menurut Ridwansyah (2009) mentoring sebenarnya adalah proses untuk “akselerasi kedewasaan”. Kedewasaan di sini sangatlah luas. Bisa jadi, kedewasaan dalam memahami Islam, kedewasaan dalam berilmu sesuai pilihan kompetensinya, kedewasaan dalam mensikapi masalah, kedewasaan dalam memilih keputusan, bahkan kedewasaan dalam bergaul—mengenal karakter manusia. Pernyataan tersebut menambah bukti bahwa mentoring memberikan dampak yang luarbiasa untuk membangun kedewasaan manusia dalam berbagai aspek. Maka sudah sepantasnyalah program ini terus terlaksana.

            Sedangkan menurut Wijayanto (2008) menyebutkan bahwa mentoring adalah sebuah grup diskusi terfokus, yang didalamnya terdapat interaksi- relasi antar insan, ada aspek manusiawi, serta hubungan interpersonal. Mentoring pula adalah proses “percepatan kedewasaan”, karena dengan mentoring, kita akan memperbesar “kapasitas berkomunitas” kita dalam memahami bahwa karakter manusia itu beragam, mampu menangani konflik komunikasi, hingga mampu bekerjasama walaupun terdapat perbedaan prinsip di satu sisi.

            Jika memperhatikan dan membandingkan antara definisi mentoring di atas, dapat diketahui persamaan dari tiap mentoring adalah sama-sama berkehendak untuk membentuk, mengarahkan dan membimbing seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik (berkarakter dan bermoral Islami). Diperkuat oleh pernyataan Fahrudin (2004) bahwa dalam hidup ini kita memerlukan seorang mentor. Dalam mentoringlah kita akan memiliki mentor yang selalu menasihati dan memantau kita. Bagi orang yang tidak mempunyai mentor, maka tidak ada forum lingkaran yang akan terus memantau dan menasihati jika kita melakukan kesalahan. Disinilah terlihat peran penting sebuah mentoring.

            Adapun dalil yang mendukung tentang pentingnya mentoring terdapat dalam Al-qur’an, tepatnya pada Surah Al-ashr ayat 1-3.

Allah berfirman: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al ‘Ashr [103]:1-3).

Disebutkan dalam Surah Al-ashr ayat 1-3 tersebut bahwa syarat dan poin terpenting agar kita menjadi orang yang beruntung adalah:

  1. Beriman
  2. Beramal shaleh
  3. Saling manasihati dalam kebaikan
  4. Saling menasihati dalam kesabaran.

Jika dianalisis lebih dalam, keempat poin di atas sangatlah mencerminkan sebuah esensi dari program mentoring. Dimana dalam mentoring, akan terjadi kegiatan saling menasihati antara mentor dengan mentee maupun antara mentee dengan mentee.

            Gagasan “Supermen” sendiri merupakan sebuah inovasi dari program mentoring. Dalam ‘Supermen” ini akan menjadikan kegiatan mentoring menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh para menteenya. Metode dalam Super Mentoring yang saya ajukan adalah :

  • Fun

Dalam mempelajari sesuatu tidak serta merta haruslah secara formal atau serius. Hal ini pula harus diterapkan dalam kegiatan mentoring. Biasanya, seorang mentor belum bisa membawa suasana mentoring menjadi mengasyikan. Untuk itu, perlu diciptakan sebuah suasana yang mengasyikan bagi para mentee.

  • Nyaman

Kenyamanan perlu ditumbuhkan dalam sebuah mentoring. Jika seorang mentee sudah nyaman dengan mentornya, akan menghasilkan suasana yang harmonis. Selain itu akan terbentuk sebuah kegiatan mentoring yang dirindukan.

  • Sesuai karakter mentee

Seorang mentor haruslah peka terhadap karakter menteenya. Jangan memaksakan sebuah materi yang sulit untuk dicerna dan dipahami oleh para mentee. Sampaikanlah sebuah materi kepada mentee melalui bahasa yang setara dengan usia mereka. Hal ini akan bermanfaat untuk menarik perhatian dari para mentee terhadap materi yang akan kita sampaikan.

  • Modern

Perkembangan zaman yang begitu pesat ini janganlah kita jauhi. Justru, dengan semakin modernya zaman ini akan menambah khazanah keilmuan dan wawasan kita. Terutama, kita dapat menggunakan sebuah pendekatan kepada para mentee dengan cara yang modern. Dalam hal ini adalah dengan mengamati apa yang sedang mereka gandrungi dan sukai, kemudian diterapkan dalam proses kegiatan mentoring.

  • Tidak Membosankan

Alasan yang cukup dominan dari para mentee ketika mereka enggan untuk pergi menghadiri kegiatan mentoring adalah karena para mentor belum berhasil memberikan kesan yang asyik terhadap mentoring sehingga suasana menjadi membosankan. Maka diperlukan sebuah strategi dari para mentor untuk menciptakan suasana mentoring yang tidak membosankan. Salah satunya adalah dengan tidak melulu memberikan materi yang berat.

  • Cermat dalam Memilih Tempat

Sebagian besar para mentor menggunakan lingkungan masjid yang berada di kampus sebagai tempat untuk dilaksanakannya kegiatan mentoring. Sangat jarang mentor yang berani mengadakan kegiatan mentoring di sebuah tempat makan, tempat nongkrong, taman, atau pun tempat lain yang notabene sangat tidak ada kaitannya dengan kegiatan mentoring. Mengapa hal ini diperlukan? Karena guna menarik ketertarikan dari para mentee agar menghadiri kegiatan mentoring ini. Namun yang perlu diingat, meskipun tempatnya bukan di lingkungan masjid, tetap harus bisa menyampaikan sebuah materi yang dikemas dengan baik dan tersampaikan kepada para mentee.

            Dari pemaparan di atas, terlihat jelas bahwa tujuan super mentoring adalah agar para mentee memperoleh pemahaman tentang Islam dan bersemangat untuk beribadah kepada Allah dengan benar. Untuk mencapai itu perlu sebuah strategi dan metode yang cermat dalam menjalankan kegiatan mentoring.

            Dengan mengikuti kegiatan super mentoring, kita akan memiliki :

  1. Kedewasaan Ilmu
  2. Kedewasaan Bisnis
  3. Kedewasaan Psikologis
  4. Kedewasaan ber-Islam

Intinya, dengan super mentoring, kita akan lebih cepat mengalami sebuah kedewasaan, mengenali potensi kemanusiaan yang ada dalam diri kita, hingga menata hidup kita menjadi lebih baik, bukan hanya untuk kita sendiri, tapi juga untuk orang lain dan lingkungan sekitar kita.

            Super mentoring ini akan menjadikan sebuah mentoring menjadi tidak seperti biasanya. Hal ini dapat dicermati pada argumen saya sebelumnya. Dengan adanya super mentoring ini akan menjadi sebuah langkah strategis untuk membentuk moral generasi muda yang tangguh. Mengapa bisa demikian? Karena metode yang diterapkan dalam kegiatan super mentoring ini sangat positif, kreatif, dan efektif. Sehingga para pemuda akan bersemangat untuk mempelajari agama Islam. Selain itu, mentornya pun bersahabat dengan para mentee. Artinya, para mentee akan terus tertarik dan bersemangat dalam mengikuti sebuah mentoring. Hasil akhirnya, mentee tersebut akan berani untuk mendaftarkan diri menjadi seorang mentor dan siap berkontribusi dalam mensyiarkan agama Islam lebih luas lagi kepada orang lain. Singkatnya, dengan proses super mentoring ini akan membentuk moral generasi muda yang tangguh yang nantinya mereka siap berkontribusi untuk bangsa dan agama. Tantangan dan hambatan globalisasi yang ada tidak akan menggoyahkan prinsip, moral, dan pemikiran mereka.

Inti dari gagasan Super Mentoring ini adalah :

  1. Super Mentoring memiliki strategi dan metode tertentu untuk menarik minat para mentee agar tetap mengikuti kegiatan mentoring.
  2. Super Mentoring menjadikan suasana kegiatan mentoring menjadi tidak seperti biasanya yang tercap “membosankan.”
  3. Super Mentoring hadir sebagai solusi tepat untuk merekrut calon-calon mentor baru yang berkarakter dan berkepribadian Islami yang baik.
  4. Super Mentoring hadir sebagai langkah strategis untuk membentuk moral generasi muda yang tangguh sekaligus untuk meningkatkan eksistensi kader dakwah Islam di era globalisasi.
  5. Super Mentoring hadir sebagai media bagi para pemuda pejuang Islam untuk mempertahankan eksistensi Islam di era globalisasi sekaligus sebagai bentuk kontribusi generasi muda untuk bangsa dan agama dalam mempertahankan peradaban Islam.

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Moral Generasi Bangsa yang Semakin Memprihatinkan

Posted on Updated on

MORAL GENERASI BANGSA YANG SEMAKIN MEMPRIHATINKAN

A. Pendahuluan
Berbicara soal moral, terlebih dahulu kita harus mengetahui apa makna dari moral. Istilah moral berasal dari bahasa Latin yakni “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Sebagai modal bangsa tentu para pemuda diwajibkan untuk memiliki moral dan etika yang baik. Ilmu serta akhlaq yang terpuji sangatlah penting sebagai bekal untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Di tangan mereka masa depan bangsa ini ditentukan, namun sangat disayangkan jika saat ini moral para generasi muda yang menjadi harapan pun mulai memprihatinkan. Dapat dilihat dari banyaknya kasus penyimpangan yang dilakukan oleh para remaja dan pemuda. Banyak sekali ditemukan kasus-kasus yang dilakukan oleh pemuda-pemuda kita, caontohnya seperti mabuk-mabukan, judi, gengster, pergaulan bebas, dan masih banyak yang lainnya. Jika hal ini terus dibiarkan, bagaimanakah nasib bangsa kita kelak?
Kita ketahui, jika Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, dengan penganut agama islam terbanyak pula. Tentu sebagian negara lain akan beranggapan jika Indonesia adalah negara yang kuat karena memiliki penduduk yang berkualitas. Apalagi Islam adalah sebuah agama yang paling berpengaruh. Islam mengajarkan dan menuntun manusia untuk berperilaku dan berbuat kebaikan, serta menjauhkan diri dari hal-hal yang buruk. Semuanya sudah jelas tertera di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi pedoman utama bagi semua kaum muslimin di dunia. Islam yang selalu mengajarkan kebaikan dan kebenaran, seharusnya dapat menghasilkan generasi yang hebat. Namun lemahnya iman pemuda saat ini menjadi kendala utama yang membuat mereka mudah terjerumus untuk melakukan penyimpangan. Tak heran banyak sekali kalangan dari non islam yang ingin menghancurkan dan memecah belah pemuda kita.

B. Contoh Kasus Penyimpangan
Berikut beberapa contoh sederhana yang dapat dilihat dari lingungan sekitar atau dari banyaknya kasus yang ada.
1. Penyimpangan dalam keluarga
Disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 23 dan 24 yang berbunyi :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku di waktu kecil’.” (QS. Al-Isra : 23-24)
Dari potongan ayat di atas kita dapat mengetahui, jika kita harus berbakti, menghormati, serta merendahkan diri dihadapan orang tua, sehingga dapat terjalin hubungan yang harmonis dalam sebuah keluarga. Namun saat ini banyak sekali anak-anak yang durhaka kepada orang tua. Dapat dilihat dari beberapa pemberitaan media massa tentang seorang anak yang melaporkan orang tuanya sendiri kepada polisi hanya karena masalah sepele. Seorang anak lebih mementingkan urusan kesenangannya bersama kawan-kawan di luar dari pada berbakti dan mengutamakan kebahagiaan kedua orang tuanya sendiri. Memaksakan kehendak yang diinginkan jika tidak, mereka mengancam akan pergi, bunuh diri, atau semacamnya. Jika seorang anak sudah berani membentak, mencaci, bahkan mengancam orang tuanya sendiri maka bisa dipastikan jika anak tersebut tak bermoral, lemah iman dan rendah akhlaqnya. Seperti inikah modal penerus bangsa masa depan, yang tak bisa menghargai keluarga dan justru menjatuhkan keluarganya sendiri?
2. Penyimpangan dalam Lingkungan Masyarakat
Lingkungan merupakan bagian penting pula dalam pembentukan moral seorang anak. Dari lingkungan sekitar setiap anak belajar bersosialisasi, mengamati segala bentuk perubahan, perbedaan, serta keadaan di sekelilingnya. Lalu penyimpangan apa yang sering terjadi di dalam lingkungan?
Sekarang ini banyak sekali ditemukan tempat-tempat maksiat. Seperti tempat perjudian, lokalisasi, dan hampir dengan mudah kita bisa menemukan tempat yang menyediakan minuman keras. Bisa dipastikan banyak sekali para pemuda yang akan terjerumus kedalamnya. Sekarang ini anak-anak SMA maupun mahasiswa, mulai terbiasa dengan mengkonsumsi miras, seakan sudah menjadi hal yang umum dan biasa. Dalam surat al-Maidah ayat 90-91 yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), judi, berhala, dan mengundi nasib adalah najis yang merupakan perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan perbuatan itu).”
Ayat di atas menjelaskan, jika minuman keras, berjudi, menyembah selain Allah, dan mengundi nasib merupakan perbuatan yang Allah benci. Hanya dari perjudian dapat menimbulkan banyak sekali madhorot. Perkelahian antar sesama, pencurian, hilangnya akal sehat, perzinaan, memiskinkan keadaan, dan lain sebagainya. Bahkan salah satu sahabat Nabi yakni Usman RA mengatakan jika minuman keras adalah induk dari segala perbuatan keji.
Rasulullah SAW bersabda: “Ada 4 golongan manusia yang tidak dapat mencium bau surga, padahal baunya bisa tercium dari jarak (perjalanan) 500 tahun, yaitu:
1) Orang kikir
2) Orang yang suka menyebut-nyebut shadaqohnya
3) Orang yang selalu minum minuman keras
4) Orang yang durhaka kepada orang tuanya.
Selain itu Ibnu Mas’ud RA menyebutkan ada 10 pihak yang akan mendapatkan madhorot dari minuman keras, diantaranya :
1) Orang yang memerasnya.
2) Orang yang meminta diperaskan.
3) Orang yang memberikan.
4) Orang yang meminumnya.
5) Orang yang menjual.
6) Orang yang membeli.
7) Orang yang membawakannya.
8) Orang yang dibawakan.
9) Orang yang menjadikan tempat (toko) menanamnya.
10) Orang yang menjualkannya.

3. Penyimpangan dalam Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat untuk menuntut ilmu, di dalam sekolah anak dapat mempelajari apa yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun di lingkungan bermainnya. Seorang anak akan menghabiskan sebagian waktunya untuk sekolah. Mereka dapat menemukan banyak teman dengan bermacam-macam karakter yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini jika tidak diikuti dengan proses seleksi yang baik, akan membawa dampak yang negatif bagi seorang individu seorang anak. Dari teman, seorang anak akan sangat mudah terpengaruhi. Belakangan ini banyak sekali terjadi penyimpangan yang terjadi di dalam area sekolah, seperti perkelahian antar teman, tawuran, penindasan terhadap yang lemah, pelecehan seksual, bahkan sampai pembunuhan. Sebuah hadits meriwayatkan
“Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka ia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehiduoan akhirat maka itupun harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus dengan ilmu. (HR. Thabrani).”
Dari hadist di atas jelas menerangkan pentingnya ilmu untuk menjalani kehidupan baik di dunia maupun di akhirat dan sekolah adalah salah satu sarana untuk mendapatkan ilmu. Setiap pemimpin maupun yang dipimpin, ataupun setiap individu yang memimpin dirinya sendiri wajib memiliki ilmu serta pengetahuan yang luas. Namun semakin hari semakin banyak saja kasus penyimpangan yang justru terjadi di dalam lingkungan sekolah, yang seharusnya dijadikan tempat untuk mendapatkan ilmu. Dalam sebuah hadits Bukhari meriwayatkan :
“Perumpamaan apa yang aku bawa dari petunjuk dan ilmu adalah seperti air hujan yang banyak yang menyirami bumi, maka di antara bumi tersebut terdapat tanah yang subur, menyerap air lalu menumbuhkan rumput dan ilalang yang banyak. Dan di antaranya terdapat tanah yang kering yang dapat menahan air maka Allah memberikan manfaat kepada manusia dengannya sehingga mereka bisa minum darinya, mengairi tanaman dengannya dan bercocok tanam dengan airnya. Dan air hujan itu pun ada juga yang turun kepada tanah/lembah yang tandus, tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput-rumputan. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan orang yang mengambil manfaat dengan apa yang aku bawa, maka ia mengetahui dan mengajarkan ilmunya kepada yang lainnya, dan perumpamaan orang yang tidak perhatian sama sekali dengan ilmu tersebut dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.”
Sehingga setiap pemuda harus memiliki ilmu, tanpa ilmu ia seperti terobang-ambing oleh perkembangan jaman yang semakin keras dan menuntut kemajuan. Seseorang yang tak berilmu hanya akan diperbudak oleh kebodohannya sendiri, sehingga ia akan sangat mudah untuk terjerumus dalam hal-hal negatif.

C. Faktor-faktor yang Menyebabkan terjadinya Penyimpangan
1. Kurangnya peran keluarga dalam tumbuh kembang seorang anak.
Keluarga merupakan bagian terpenting dari pembentukan moral dan akhlaq seorang anak. Kurangnya perhatian, kasih sayang serta pendidikan di dalam keluarga akan memberi dampak yang sangat buruk bagi anak. Orang tua yang terlalu sibuk dapat membuat seorang anak merasa kekurangan kasih sayang sehingga si anak akan mencari kesenangannya di luar lingkungan keluarga. Si anak akan merasa nyaman dan percaya kepada teman-temannya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Jika orang tua memiliki sikap masa bodoh dan tidak dapat mengawasi sepenuhnya bagaimana pergaulan anak di luar rumah, bagaimana teman-teman bergaulnya serta bagaimana lingkungan bermainnya. Maka besar kemungkinan si anak akan mendapatkan banyak pengaruh negatif dari luar. Ia akan melakukan banyak penyimpangan-penyimpangan sesuai perkembangan waktu, seperti mengonsumsi narkoba, seks bebas, kebut-kebutan, menjadi brandal atau pun mabuk-mabukan.
Selain kurangnya pengawasan, keluarga yang kurang harmonis juga dapat menjadi kendala terbentuknya moral yang tidak baik. Seorang anak yang sering melihat pertengkaran di dalam rumahnya akan membuat perkembangan psikologisnya terganggu, biasanya dia akan tumbuh menjadi seorang anak yang membrontak, keras dan mudah depresi. Banyak anak yang bermasalah dengan hidupnya karena tinggal dalam keluarga broken home, hingga banyak dari mereka memutuskan untuk bunuh diri atau hidup di dunia luar yang keras dan kejam.
2. Lingkungan yang tak sehat
Kita hidup dalam sebuah lingkungan bermasyarakat. Lingkungan akan mempengaruhi pembentukan karakter seorang anak. Lingkungan yang sehat dan baik tentu akan memberi dampak positif bagi seorang anak. Dari lingkungan mereka akan banyak belajar, jika yang dilihatnya setiap hari adalah orang-orang yang suka mabuk-mabukan, berjudi, ataupun berzina. Maka akan menutup kemungkinan kelak ia dewasa akan berperilaku sama seperti apa yang telah ia lihat sebelumnya. Pilihlah lingkungan yang baik demi masa depan perkembangan anak.
3. Pemilihan teman
Dalam bermain seorang anak juga harus dituntut untuk bisa memilah mana teman yang baik dan mana yang akan membawa dampak buruk baginya. Teman yang baik senantiasa akan mengingatkannya dalam hal-hal baik, begitu pula sebaliknya. Jika seorang anak berkawan dengan orang yang salah, maka dia akan terus diajak untuk bersikap, bertindak dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan temannya. Di sini peran keluarga juga kembali dibutuhkan untuk memberikan pengertian kepada seorang anak. Mana yang baik dan mana yang buruk untuknya.
4. Kurangnya pendidikan
Di sini pendidikan dibagi menjadi dua jenis, pendidikan umum dan pendidikan agama. Pertama kurangnya pendidikan umum yang diterimanya dalam masa belajar serta pada saat pencarian jati diri juga dapat mempengaruhi perilaku seorang anak. Kebanyakan seorang anak yang hanya lulusan SD atau SMP akan mudah dalam mengambil keputusan, mudah terpengaruhi, mudah percaya dan tak bisa berpikir jauh kedepan. Hingga saat mereka dewasa pun mereka akan kesusahan untuk menyesuaikan terhadap perkembangan jaman. Sampai saat ini rendahnya pendidikan menjadi faktor terjadinya tindak kejahatan di Indonesia. Contohnya pencurian, premanisme, perampokan, perjudian dan lain sebagainya.
Kedua pendidikan agama, orang tua juga harus mampu mengajarkan tentang ilmu agama untuk anak-anaknya. Penanaman ilmu agama sangatlah penting demi menciptakan generasi yang hebat. Sebisa mungkin sejak dini, bahkan dalam kandungan sekali pun seorang anak sudah diperkenalkan tentang agama. Kurangnya pemahaman agama juga berdapak buruk pada si anak saat dewasa nanti. Lemahnya iman serta aqidah seseorangan akan membuatnya mudah terjerumus dalam hal-hal maksiat. Mereka tak tau mana yang benar dan mana yang dilarang dalam agama. Mereka akan berbuat sesuka hati tanpa memperdulikan rasa takut kepada Allah serta balasan apa yang bisa diterima kelak di akhirat, dalam pikirian mereka hanya mencari tahu bagaimana mendapatkan kesenangan dunia semata. Padahal tanpa agama sia-sialah hidup seseorang selama di dunia. Pepatah mengatakan “Barang siapa yang hanya mengejar urusan dunia, maka ia tak bisa mendapatkan kesenangan akhirat dan barang siapa yang mengejar urusan akhirat maka kesenangan dunia pun dia dapatkan.”
5. Kurangnya panutan hidup
Tidak adanya panutan hidup yang baik juga menjadi salah satu faktor terjadinya penyimpangan. Selain orang tua, pemuda juga butuh panutan atau idola yang baik. Apalagi masa muda ialah masa dimana mereka akan menemukan sosok baru sebagai idola, segala bentuk yang mereka lihat akan mereka tiru. Namun banyak sekali generasi muda yang salah dalam menjadikan panutan mereka. Sekarang ini banyak sekali yang mengidolakan artis baik dalam negeri maupun dari mancanegara. Mereka begitu mengagung-agungkan idola mereka, yang kebanyakan memiliki gaya hidup tak sehat. Ikut berpakainnya yang tak senonoh, hilangnya batasan antara laki-laki dengan perempuan, hidup bebas, dan lain sebagainya. Mereka rela meninggalkan kewajibannya sebagai umat beragama hanya untuk menonton konser atau memilih untuk berdesak-desakkan demi melihat idolanya itu, dan mereka akan menganggap acara-acara religius itu sangat membosankan. Jika hal tersebut di biarkan maka hidup mereka akan semakin tak terarah dan tenggelam dalam urusan duniawi saja.
6. Media sosial/Jejaring sosial yang tak sehat.
Siapa yang tak mengenal tentang media sosial, saat ini kita bisa menemukan beragam media sosial yang beragam.mulai dari facebook, twitter, instagram, you tube, dan lain-lain. Semua itu akan terus mengalami kemajuan sesuai perkembangan jaman, namun media sosial yang tak digunakan dengan baik juga dapat membuat rusaknya moral generasi muda. Belakangan ini banyak sekali ditemukannya penyimpangan yang disebabkan oleh media sosial terutama jejari sosial. Mulai dari kasus penipuan, pelecehan seksual, sampai penculikan. Seorang anak yang masih dalam masa pengawasan atau dalam masa pencarian jati diri harus mendapat bimbingan dari orang tua. Bahkan saat ini banyak sekali situs porno yang dapat dengan mudah di temukan dari internet. Website yang harusnya dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi pun disalah gunakan untuk perdagangan wanita, untuk menunjang bisnis haram seperti lokalisasi online. Selain itu tak sedikit pula game online yang menjadi kegemaran para remaja menyuguhi game-game yang tak senonoh, dan sangat mudah untuk merusak moral pemuda bangsa. Sangat disayangkan jika ada seorang anak yang hanya menghabiskan waktunya untuk melakukan aktifitas-aktifitas seperti itu.

D. Solusi
Adapun solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah banyaknya terjadi penyimpangan diantaranya :
1. Orang tua harus bisa memaksimalkan perannya dalam membina, mendidik, serta membentuk karakter seorang anak. Orang tua harus mampu menjadi panutan yang baik sehingga anak tau mana yang baik dan mana yang buruk. Selain itu penuhilah hak-hak seorang anak sesuai dengan kebutuhannya, seperti kasih sayang, perhatian, dan kebahagiaan. Jangan sampai seorang anak mencari kebahagiaannya sendiri di luar rumah, karena hal tersebut akan sangat mempengaruhi pola hidupnya kelak. Dan perlu diketahui jika orang tua adalah cerminan seorang anak, orang tua yang baik akan menghasilkan generasa yang baik, begitu pula sebaliknya. Orang tua yang tak bisa menjadi panutan baik akan menghasillkan generasi yang sama sepertinya.
2. Pendidikan sangatlah penting untuk menciptakan generasi yang hebat, selain pengetahuan umum seorang anak juga harus mendapatkan bekal ilmu agama yang cukup sehingga ia tidak mudah terpengaruh dalam pergaulan yang tak sehat. Moral remaja yang rusak cenderung disebabkan oleh pembentukan mental yang kosong. Ia tak memiliki pegangan hidup, serta landasan agama yang kuat. Seerorang yang berakhlaq mulia, pasti akan mampu menjadi pemimpin yang baik. Dia tidak akan melupakan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidupnya. Sehingga ilmu agama sangatlah penting untuk diajarkan sedini mungkin kepada seorang anak. Seseorang yang berakhlaq dapat menyelamatkan hidupnya sendiri serta orang-orang disekelilingnya dari bahaya fitnah setan yang selalu menjerumuskan anak-anak adam untuk berbuat maksiat.
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk, maka ia akan mendapatkan pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebanyak dosa orang yang mengikutinya itu tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka” Hadits Riwayat Muslim.
3. Pilihlah lingkungan tempat tinggal yang sehat untuk membentuk karakter seseorang yang sehat pula. Selain mendapatkan contoh yang baik dari orang tua, anak juga butuh panutan yang baik dari lingkungannya. Karena apabila seseorang bergaul di lingkungan yang baik, maka akan timbul kepribadian yang baik. Apabila seseorang bergaul dalam kondisi lingkungan yang kurang baik, maka akan timbul kepribadian yang kurang baik juga.
4. Berhati-hatilah dalam memilih teman bergaul, karena biasanya seorang anak akan sangat mudah terpengaruhi oleh temannya sendiri, hal tersebut akan berdampak pada pembentukan etika, moral, dan akhlaq.
5. Manfaatkan media masa dengan sebaik mungkin, baik dari media cetak maupun media elektronik terutama yang berhubungan dengan media sosial serta internet. Selain itu pilihlah tontonan yang berkualitas dan mendidik.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Enggan Belajar Berujung Kerusakan

Posted on Updated on

Kini semangat anak muda untuk mempelajari agama telah pudar. Semangatnya kalah dengan di kala kanak-kanak dulu yang setiap hari setia menghadiri majelis TPA di masjid kampung.

 

Hari menjelang sore, panas matahari mulai berganti hangat. Anak-anak berbaju koko lengkap dengan peci berlarian saling berkejar-kejaran. Tujuan akhir mereka adalah sebuah masjid yang berdiri gagah di tengah-tengah kampung. Tidak salah lagi, mereka adalah anak-anak Teman Pembelajaran Alquran (TPA) yang setiap sore setia memenuhi masjid dengan lantunan doa dan tilawah Alquran.

 

Semakin sore suara riuh di dalam masjid semakin menjadi-jadi. Ada yang berlarian, ada yang berteriak, dan ada yang menangis sampai sejadi-jadinya. Diantara mereka pun ada yang tetap khusyuk dengan pensilnya menyalin bentuk huruf-huruf arab sambil melenggak-lenggok. Namun, satu hal yang menjadi persamaan diantara mereka semua, yaitu semangat untuk belajar agama tanpa paksaan, bahkan mereka melakukannya dengan riang gembira.

 

Melihat tingkah laku anak-anak TPA seperti itu menghadirkan nostalgia tersendiri bagi kita. Dulu di saat kecil kita juga merasakan kegembiraan yang sama seperti mereka. Mengaji, mendengar cerita, belajar berwudhu, sampai berbuka bersama kita lakukan dengan amat gembira. Bahkan setiap sore kita selalu menanti teman-teman di depan rumah untuk berangkat bersama-sama sambil bercanda dan berlarian. Namun, semua itu kini hanya menjadi kenangan masa kecil semata.

 

Pernahkah timbul di dalam hati kita perasaan malu sementara otak kita memutar kembali kenangan saat menjadi anak TPA? Memang sebuah pertanyaan yang aneh, mengapa kita harus malu? Bukankah seharusnya kita bangga karena masa kecil kita gunakan untuk belajar agama? Namun, mengapa hanya di masa kecil saja kita belajar?

 

Berkaca kembali pada masa kecil kita sebagai anak TPA, kemanakah semangat belajar itu pergi? Semangat untuk setiap hari mengaji dan belajar berbagai ilmu agama sudah menguap dari diri kita semenjak menjadi remaja. Memang benar TPA hanya untuk anak-anak kecil saja yang masih belajar mengaji dan berwudhu. Namun, apakah belajar agama sudah tidak perlu dan tidak harus untuk yang sudah tidak anak-anak lagi?

 

Sejak “lulus” dari TPA kita semakin jauh dari pendidikan agama. Apa yang kita sebut semangat itu sudah benar-benar hilang dari diri kita. Semangat untuk menimba ilmu agama lebih telah sirna dari jiwa kita. Berbicara kerusakan moral tak perlu jauh-jauh, kenyataan hilangnya semangat ini juga bisa kita katakan sebagai kerusakan moral. Kerusakan moral berupa kesombongan kita yang seakan berkata, “Aku sudah pandai! Tidak perlu lagi belajar agama seperti anak-anak TPA.” Kita terlalu sombong dan gengsi untuk belajar agama.

 

Mengapa kita harus terus belajar agama? Apakah kita harus kembali lagi duduk lesehan di masjid sambil mengaji dan bernyanyi seperti anak-anak TPA itu? Pertanyaan ini mungkin akan timbul di benak kita untuk menyatakan keberatan kembali belajar agama. Kita mungkin juga sudah merasa bisa dan cukup dengan bekal ilmu agama yang didapat sewaktu menjadi “santri TPA”. Apalagi ditambah dengan pelajaran agama di sekolah hingga SMA membuat kita semakin merasa memiliki cukup ilmu dan pengetahuan agama. Namun, apakah semua itu benar-benar sudah cukup?

 

Kesombongan telah menutup mata kita, telah membuat kita merasa puas dengan segala keterbatasan ilmu agama. Benar bila kita sudah bisa melaksanakan shalat, puasa, sudah mengetahui berbagai macam dosa, berbagai macam amal kebaikan, dan lain sebagainya. Namun, belajar agama bukanlah sekedar membawa kita dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Lebih dari itu, belajar agama menjadi sebuah pengingat bagi diri kita dan akan membawa kita dalam keadaan selalu terjaga. Karena kodrat manusia untuk selalu salah dan lupa maka harus selalu diingatkan supaya tidak terlalu lama dalam keadaaan tersebut.

 

Apabila alasan kita tidak lebih belajar agama adalah merasa cukup dengan ilmu agama yang sudah didapat maka itu sekali lagi jelas sebuah kesombongan. Karena realitas menunjukkan betapa kita membutuhkan ilmu agama lebih dari yang sudah kita dapatkan. Terlihat dari cara shalat kita yang masih salah-salah, bacaan Alquran kita yang masih saja tidak ada kemajuan, dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi, apakah kita sudah benar-benar memahami ayat-ayat Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW dengan benar? Sungguh tidak pantas bagi kita untuk berlaku sombong.

 

Kita akan malu bila mengetahui semangat belajar agama para pemuda yang sudah mendahului kita. Sebut saja Imam Asy-syafii yang hafal Alquran pada usia tujuh tahun, menghafal berbagai kitab, hingga belajar kepada berbagai guru di bermacam tempat1. Tentu kita sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding beliau yang menghabiskan masa mudanya untuk belajar agama. Sementara kita masih sibuk dengan berbagai macam alasan untuk tidak belajar agama.

 

Setelah mengetahui berbagai realita kesombongan kita menolak belajar agama, mari bersama-sama kita merenung. Kita merenungkan kembali alasan yang membuat kita begitu jumawa mengesampingkan belajar agama. Padahal jelas bila ditengok dalam diri kita begitu banyak ruang kosong yang perlu diisi dengan ilmu agama. Kita sangat membutuhkan ilmu agama entah disadari maupun tidak.

 

Seperti yang sudah dijelaskan di paragraf-paragraf sebelumnya, kita sangat membutuhkan ilmu agama dalam kehidupan. Ilmu yang akan memperbaiki cara beribadah yang masih salah-salah, pemahaman kita akan ketauhidan, dan tingkah laku kita sehari-hari. Keberadaan agama sangat membantu dalam membimbing manusia ke arah yang lebih baik. Namun, agama harus dipelajari untuk mendapatkan semua bimbingan itu.

 

Lantas, sebenarnya apakah yang membuat kita begitu menjauh dari belajar agama? Bila dapat kita mencari dan menyederhanakan, maka kita akan mendapatkan dua jawaban. Dua hal yang menjadi alasan kita menjauh tersebut adalah kemalasan dan disorientasi. Tentu tidak menutup berbagai alasan lain yang masih memungkinkan. Namun, dua hal tersebut telah mewakili berbagai jawaban atas apa alasan kita menjauh dari belajar agama.

 

Malas, sebuah kata sederhana namun mampu merusak banyak hal. Banyak hal yang telah direncanakan dapat rusak dan gagal karena satu kata ini. Berbagai macam alasan pun dirangkai demi memuja kemalasan yang telah merambat dalam diri. Malas pun menjadi induk bala dari berbagai kerusakan, termasuk di dalamnya menjadi penghalang niat untuk belajar agama.

 

Setiap kali ada kesempatan untuk belajar agama melalui apapun malas selalu menghalangi diri kita. Di saat ada kajian agama di masjid kita berkelit dengan alasan lelah seharian berkegiatan. Di saat ada kesempatan untuk membaca buku agama kita mengelak sudah mengantuk. Berbagai alasan lain pun ikut tersusun rapi demi menolak dengan halus berbagai ajakan dan kesempatan untuk belajar agama. Benar-benar kita telah memuja kemalasan dalam diri kita.

 

Kemalasan telah melenakan diri kita dari kewajiban dan kebutuhan belajar agama. Kemalasan pun telah membuat kita “kreatif” menyusun berbagai alasan untuk tidak belajar agama. Lebih parah lagi bila alasan itu disusun dengan hal lain yang dibuat lebih tinggi dari belajar agama. Kita memposisikan belajar agama di bawah kewajiban lainnya yang entah benar-benar lebih penting maupun tidak.

 

“Besok kapan-kapan saja ya, aku mau belajar untuk ujian besok,” sebuah jawaban yang mungkin pernah terlontarkan dari lisan kita kala menolak ajakan mengikuti kajian agama. Sekilas terlihat benar dan sah-sah saja, tetapi sebenarnya bila dilihat lebih dalam hal ini termasuk disorientasi. Sebuah keadaan kita kacau kiblat dan arah, keadaan kita salah .memposisikan prioritas dalam hidup kita. Disorientasi kadang samar terlihat tetapi telah benar-benar merusak diri kita.

 

Menengok kembali kewajiban dan kebutuhan belajar agama yang begitu besar tidaklah bijaksana bila menempatkan belajar agama di bawah. Namun, kita belum benar-benar memahami kedudukan belajar agama yang seharusnya di atas tersebut. Kita masih panjang angan-angan untuk dunia sehingga waktu, tenaga, hingga biaya banyak kita nafkahkan untuk keduniaan. Belajar agama yang kita anggap tidak begitu penting untuk segala angan-angan dan “mimpi” kita kesampingkan begitu saja. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada generasi muda harapan bangsa, terlebih bagi generasi muda muslim.

 

Generasi muda sangat diharapkan demi masa depan bangsa yang lebih baik. Maka, harus segera dicari solusi atas permasalahan di atas. Solusi kreatif sangatlah dibutuhkan melihat begitu pentingnya ilmu agama untuk generasi muda. Apabila belajar agama telah dikesampingkan, maka akan merembet ke berbagai kerusakan moral lain yang lebih besar dan berbahaya. Solusi untuk membuat generasi muda kembali belajar agama benar-benar sangat dibutuhkan.

 

Bermula dari masalah yang bersumber dari kemalasan maka solusi utama berasal dari diri pribadi. Malas yang asalnya dari diri pribadi generasi muda harus dihilangkan. Masing-masing pribadi generasi muda harus memahami kembali kewajiban dan kebutuhan dirinya akan belajar agama. Pemahaman ini pun harus ditanamkan secara mendalam agar rasa malas tersebut dapat dihilangkan dari jiwa generasi muda. Tentu poin penting terletak pada masing-masing individu generasi muda apakah mereka mau menerimanya atau tidak.

 

Demi menanamkan pemahaman betapa pentingnya belajar agama diperlukan juga cara-cara yang kreatif. Generasi muda sekarang enggan mengikuti apa yang mereka anggap ketinggalan zaman. Mereka hanya akan mengikuti apa yang disebut trend dan apa yang populer di masa kini. Di sisi lain, mereka juga akan mengikuti apa yang baru dan menarik bagi mereka untuk diikuti. Dakwah kreatif dan menarik dapat menjadi solusi yang tepat menangani permasalahan ini.

 

Selama ini banyak dakwah yang masih menggunakan cara-cara konvensional seperti forum kajian, buku-buku, dan sejenisnya. Model dakwah semacam ini memang efektif apabila melihat tujuannya untuk menyebarkan kebenaran. Namun yang menjadi masalah adalah objek dakwah yang masih sempit dan itu-itu melulu. Hanya para aktivis dan orang-orang tua lah yang mengikuti model dakwah semacam ini. Bagaimana dengan anak muda? Tentunya akan enggan mengikuti model dakwah yang masih “kuno” semacam ini.

 

Kreasi dan inovasi diperlukan untuk membawa dakwah ke bentuk yang lebih menarik. Hal ini bertujuan memperluas jangkauan objek dawah hingga ke berbagai usia terutama anak muda. Dakwah kreatif bisa dimulai dengan hal sederhana seperti tweet-tweet singkat dengan kata-kata nan memikat. Bisa juga dengan karya-karya grafis yang menarik dengan pesan-pesan sederhana namun  mengena. Baru setelah itu dimasukkan ajakan-ajakan untuk mendalami lebih dalam melalui artikel, buku, hingga kajian maupun diskusi keagamaan.

 

Dakwah kreatif dapat dilaksanakan semua pihak baik lembaga dakwah maupun pribadi. Lembaga dakwah di sekolah, kampus, hingga lingkungan masyarakat harus terus memutar otak dan inovasi demi menelurkan berbagai model dakwah yang memikat. Dengan ini, rasa malas untuk belajar agama di kalangan anak muda dapat berkurang sedikit semi sedikit dan berubah menjadi kemauan diri untuk memperdalam agama. Karena bekal ilmu agama inilah yang nantinya akan membawa kepada keberhasilan dan kebaikan moral generasi muda.

 

End Notes :

  1. Baca “Masa Kecil Imam asy-Syafii dan Semangatnya Menuntut Ilmu Agama” dalam http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2011/10/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan.html#ixzz3OrH26x3y

 

muslimedianews.com

cyberdakwah.com

piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Generasi Lintas Zaman Miskin Perlindungan

Posted on Updated on

Gua kosong yang bergema

Masalah dekadensi moral generasi muda adalah topik yang amat renyah untuk dijadikan obrolan para orang dewasa. Opini-opini yang keluar dari mulut-mulut masyarakat selalu senada, menggemakan suara bahwa moral pemuda masa kini amat bobrok. Decak kekecewaan dan gelengan kepala pun menjadi ekspresi yang umum tatkala problem ini menguak di media-media dan mengalir di masyarakat dari mulut ke mulut.

Ibarat sebuah gua yang kosong, adanya suara gema menandakan kosongnya ruang di dalamnya. Sehingga apabila satu orang berbicara di dalam gua, akan timbul banyak suara gema yang serupa. Demikian juga perbincangan masalah kemerosotan moral yang santer di telinga, namun minim upaya penyelesaiannya.

 

Dilema… dilema…

Ribuan kasus yang merefleksikan rusaknya moral remaja yang mungkin tidak akan cukup jika dibahas di postingan ini. Mulai dari yang kecil dan mudah dijumpai, misalnya mencontek. Kecurangan yang sudah menjadi tradisi di lingkungan belajar ini seringkali dibiarkan oleh guru yang kurang tegas. Di Ujian Nasional pun sudah bukan hal aneh bila aksi contek menyontek dilakukan secara massal, bahkan sampai melibatkan guru dan kepala sekolah sebagaimana hasil survei yang dilakukan Pusat Psikologi Terapan Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dahulu, para siswa dan guru masih menghargai nilai-nilai kejujuran, namun sekarang nilai praktis dan efisien lebih dikedepankan. Sekolah yang diharapkan dapat menempa tunas-tunas bangsa agar menjadi generasi unggul kemungkinan malah menjadi pencetak koruptor-koruptor masa depan. Naudzubillah…

Beranjak dari sekolah, perilaku pemuda di luar juga memprihatinkan. Waktu dihabiskan untuk nongkrong sambil merokok dan pacaran, bukannya belajar untuk masa depan. Hobi tawuran, saling adu kekuatan, bukannya bersaing berebut prestasi. Pornografi pun kini sudah menjalar sampai ke siswa SD, bahkan persentasenya sangat mengejutkan. Sebanyak 68% siswa SD sudah mengakses pornografi! Tak ayal, Indonesia menjadi negara peringkat ketiga pengakses situs porno di dunia.

 

Efek domino

Terjadinya kemerosotan moral generasi muda saat ini merupakan dilema yang menyerupai efek domino. Faktor generasi sebelumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter generasi masa kini di samping pengaruh-pengaruh eksternal lain seperti pergaulan, teknologi, globalisasi, dan sebagainya.

Apabila dibandingkan dengan generasi masa lalu, moral remaja sekarang perbedaannya terlihat sangat mencolok. Dari segi kesopanan terlihat jelas bagaimana cara remaja bersikap terhadap orang yang lebih tua. Selain itu pergaulan semakin bebas dan tidak terkontrol, sehingga kenakalan remaja menjadi hobi yang sering dilakukan. Bahkan di tingkat yang lebih parah, berawal dari kenakalan dapat berujung pada penyalahgunaan narkoba, seks bebas, hingga kriminalitas!

Gambar 1. Tawuran pelajar
Gambar 2. Kenakalan remaja

Sekarang pertanyaannya, apakah penurunan moral yang dialami pemuda adalah murni kesalahan mereka sendiri? Jika mengacu pada teori awal bahwa karakter pemuda dipengaruhi oleh generasi sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa bobroknya moral remaja tidak lepas dari peran orang-orang dewasa. Orang dewasa sebagai orang tua seharusnya mampu memberi kasih sayang dan melindungi anak dari pengaruh negatif. Orang dewasa sebagai pemimpin seharusnya mampu memberi teladan yang baik, bukan mencontohkan untuk korupsi. Orang dewasa sebagai elemen masyarakat seharusnya memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan moral anak, jangan malah berjudi, mabuk, dan mengandalkan kekerasan.

Orang dewasa sebagai orang tua seharusnya mampu memberi kasih sayang.

 

Orang dewasa sebagai pemimpin seharusnya mampu memberi teladan.

 

Orang dewasa sebagai elemen masyarakat seharusnya memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan moral.

Pemerintah? Lagi-lagi pemerintah yang kebijakannya selalu ditunggu untuk menangani masalah ini. Sebenarnya kita tidak perlu menunggu langkah pemerintah. Inisiatif masyarakat, baik dari kalangan orangtua, pendidik, hingga aktivis sudah seharusnya mendobrak penantian kebijakan pemerintah yang selalu lamban. Lagipula pemerintah tidak memiliki tangan yang cukup panjang untuk menjangkau anak-anak muda secara langsung. Justru pendekatan melalui orangtualah yang lebih efektif karena orang tua yang mengamati langsung perilaku pemuda, dan orang tua pula yang bertanggung jawab menjaga moral mereka.

Kembali lagi pada efek domino penurunan moral generasi muda. Jatuhnya kepingan domino adalah akibat dorongan dari domino di belakangnya. Jatuhnya moral generasi muda saat ini disebabkan oleh jatuhnya moral generasi sebelumnya. Generasi muda kan meneladani generasi tua, bila generasi tua-nya korupsi, bagaimana nanti generasi muda?

 

Generasi lintas zaman sebagai korban

Generasi muda yang ada saat ini ibarat korban peralihan zaman. Mereka tumbuh melintasi abad 20 menuju abad 21 dimana globalisasi berlangsung cepat didukung teknologi modern. Pemuda di era sekarang mendapat cobaan berat karena banyak sekali setan-setan dalam bentuk kenikmatan duniawi yang menggoda mereka. Misalnya perangkat komunikasi handphone yang memberi mereka akses mudah menuju pornografi. Di era lampau, adakah perangkat seperti itu? Media sosial yang menyebabkan kecanduan, hingga mereka lupa waktu dan melalaikan sholat. Di era lampau, adakah media seperti itu? Orang tua pun kini begitu permisif, membebaskan anak berkeliaran di mall-mall, menghamburkan uang demi kesenangan sesaat, sementara mereka sibuk sendiri dengan urusan pekerjaan masing-masing, mengejar dunia, lupa bahwa kunci akhirat mereka, yaitu anak mereka, belum lancar mengaji. Saking sibuknya orang tua, hingga Si anak mencari kasih sayang dari pacar, mencari perlindungan dari geng, mencari ketenangan dari narkoba. Jadi, sekali lagi penulis tegaskan, apa yang dihadapi pemuda saat ini berbeda dengan apa yang dihadapi generasi sebelumnya.

Gambar 3. Generasi muda rawan godaan

Sungguh tidak adil kalau pemuda sebagai korban disalahkan atas semua ini. Memang benar, memasuki fase remaja menandakan bahwa pemuda sudah baligh, sudah mengerti mana yang baik, mana yang buruk. Namun lagi-lagi karena banyaknya setan yang menggoda mereka. Ditambah lagi, benteng iman yang mereka miliki tidak cukup kuat menahan godaan dunia.

Banyak orang tua yang tidak menanamkan fondasi Islam kepada anaknya sejak kecil. Berapa banyak orang tua sekarang yang memasukkan anaknya ke TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an)? Kebanyakan anak-anak malah banyak dipaksa les privat dan kursus bahasa Inggris daripada diajarkan mengenal Allah dan mempelajari kitab suci. Lantas, siapa yang salah kalau akhlak dan moral remaja rusak serta menyimpang jauh dari tuntunan agama?

 

Perkokoh benteng!

Kini masalah diperparah oleh sikap apatis orangtua terhadap dekadensi moral yang melanda anak-anak mereka. Lemahnya pengawasan diperparah jauhnya jarak antara anak remaja dengan orangtuanya. Umumnya pada masa remaja keterikatan terhadap teman sebaya sangat kuat sehingga mulai menjauh dari orang tua karena merasa orang tua kurang memahami dirinya (Rohayati, 2011). Disitulah orang tua ditantang untuk tetap dekat dengan buah hati, menemaninya menyeberangi masa peralihan menuju kedewasaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang tidak memadai, meliputi rendahnya pengawasan terhadap remaja, dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga utama yang menyebabkan munculnya kenakalan remaja. Oleh karena itu remaja sebaiknya jangan terlalu bebas melakukan apa pun yang mereka suka tanpa pengawasan orangtua. Komunikasi harus terjalin erat antara orang tua dan anak. Minimal, orang tua tahu kemana anaknya pergi, apa yang ia lakukan, serta membekalinya dengan nasihat-nasihat. Komunikasi menjadi sangat penting sebagai wujud perhatian dari orang tua. Sudibyo Alimoeso, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN, mengatakan bahwa seks bebas disebabkan karena hubungan komunikasi antara anak dan orang tua yang buruk. Melalui komunikasi, orang tua dapat menanamkan norma-norma budaya, susila, dan agama sebagai pegangan baginya dalam bergaul.

Apabila remaja memiliki benteng kuat berupa pengawasan orang tua yang menjaga mereka dari luar, serta iman yang menjaga mereka dari dalam, insya Allah anak akan kebal dari segala serangan penghancur moral.

Kesimpulannya, kunci untuk memecahkan masalah penurunan moral remaja ada di tangan orang tua. Faktor eksternal seperti globalisasi, teknologi, dan pergaulan dapat ditangkis dengan perlindungan dan pengawasan orang tua. Namun bukan berarti orang tua harus bersikap over protektif dengan membatasi pergaulan dan mengabaikan keinginan anak, tetapi dengan komunikasi yang baik dan hubungan keluarga yang erat. Perlindungan dari dalam berupa penanaman nilai keagamaan juga penting agar remaja memiliki mata hati yang terbuka akan nilai-nilai baik dan buruk sehingga jika berada jauh dari pengawasan orang tua, mereka memiliki tameng di dalam diri yang menjaga mereka dari faktor-faktor perusak moral.

 Solusi dekadensi moral => benteng luar + benteng dalam

 

Daftar Pustaka

Anonim. 2014. Survei UPI: Kecurangan UN Libatkan Guru dan Kepala Sekolah. [Tersedia di:  http://sp.beritasatu.com/home/survei-upi-kecurangan-un-libatkan-guru-dan-kepala-sekolah/42791]

Koesoema A, Doni. 2009. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta: Grasindo.

Rohayati, Iceu. 2011. Program Bimbingan Teman Sebaya untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa. Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Santrock, John W. 2003. Adoslescence. (diterjemahkan oleh: Shinto B, Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.

Setyadi, Arief. 2014. Ini Pemicu Maraknya Seks Bebas di Kalangan Remaja. [Tersedia di: http://news.okezone.com/read/2014/12/23/337/1082801/ini-pemicu-maraknya-seks-bebas-di-kalangan-remaja]

Zubaidah, Neneng. 2013. 68 Persen Siswa SD Sudah Akses Konten Pornografi. [Tersedia di: http://nasional.sindonews.com/read/801494/15/68-persen-siswa-sd-sudah-akses-konten-pornografi-1383484034]

 

Sumber gambar

Gambar 1:

http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg

Gambar 2:

https://bnnkgarut.files.wordpress.com/2012/08/remaja.jpg

Gambar 3:

https://img1.etsystatic.com/033/1/8067064/il_340x270.519995145_ma9q.jpg

 

 

Link Acuan

Please like & share:

[Karya KBM3] Penguatan Keluarga Sebagai Pondasi Perbaikan Moral Generasi Muda

Posted on Updated on

Suatu ketika saya mendapati salah seorang teman saya tidak masuk sekolah. Sudah beberapa hari dia absen, tak ada izin, tak ada kabar. Ada beberapa teman yang rumahnya dekat dengannya mengatakan kalau dia sedang sakit. Tapi tak biasanya seperti itu, teman yang pendiam dan setiap harinya mengenakan jilbab itu tak mengirimkan kabarnya pada teman-teman dan sekolah.

Setelah lebih dari tiga hari, tak saya sangka, muncul desas-desus yang membuat kuping gatal dan tak mengenakkan hati saya. Bagaimana tidak, dia termasuk teman dekat saya, yang saya tahu dia anak baik-baik. Tapi, bagaimana mungkin dia hamil di luar nikah? Saat usianya masih muda, bahkan masih sekolah?!

Dan yang membuat saya sedih, ternyata desas-desus itu benar adanya. Ya, teman saya itu memang hamil di luar nikah dengan tetangganya. Dia diam saja, tak menceritakan hal itu pada siapapun hingga akhirnya kandungannya terus membesar dan menampakkan faktanya pada orang-orang di sekitarnya.

Cerita nyata itu sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih memakai seragam putih abu-abu.

Degradasi Moral Remaja

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh kasus nyata atas kerusakan moral remaja yang terjadi di sekitar kita. Tidak hanya sekarang, tetapi bahkan beberapa tahun yang lalu hal itu sudah terjadi. Mulai dari menyontek saat ujian, membolos sekolah, merokok, bullying pada teman, berani pada orangtua atau guru, sampai hamil di luar nikah.

Bedanya, sekarang degradasi moral yang terjadi pada remaja Indonesia kian menjadi-jadi. Kita tentu sudah sering menyaksikan atau membaca berita di media massa tentang berbagai kerusakan moral tersebut. Hampir setiap hari berita semacam itu tersaji di hadapan kita.

Akses informasi secara global yang kian mudah didapatkan semakin membuka celah bagi para remaja untuk melakukan berbagai tindakan di luar batas. Tersedianya perangkat teknologi informasi dan kemudahan akses internet dalam era globalisasi seperti sekarang ini, tak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab utama degradasi moral remaja.

Contoh sederhananya adalah, adanya handphone mempermudah para remaja melakukan kontak dengan lawan jenis yang bisa mengakibatkan hubungan lebih lanjut. Kemudian adanya internet mempermudah mereka mendapatkan informasi dan contoh pornografi yang nyata (misalnya dari tayangan di Youtube).

Akan tetapi, tentu kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya atas degradasi moral remaja pada era globalisasi yang kian bebas. “Serangan” dari luar memang bertubi-tubi. Baik berasal dari efek kemajuan teknologi, pergaulan di sekolah, ataupun pengaruh lingkungan di sekitarnya. Tetapi satu hal yang tak boleh dilupakan, kerusakan moral remaja bahkan sangat bisa terjadi akibat permasalahan yang berasal dari rumah.

Berawal dari Rumah                                   

Rumah, adalah lingkungan pertama seorang manusia sejak ia lahir. Dari rumah ia mengenal ibu bapaknya, lalu anggota keluarganya. Dari rumah ia mendapatkan pendidikan yang pertama sebelum ia mengenal dunia luar.

Pada kasus teman saya di atas, diketahui bahwa teman saya itu termasuk anak yang pendiam. Dia pun kurang terbuka pada kedua orangtuanya. Setiap hari dia di rumah hanya dengan adiknya, sedangkan kedua orangtuanya bekerja. Kurangnya kuantitas dan kualitas pertemuan antara orangtua dan anak-anaknya tersebut menjadikan adanya jurang pemisah di antara mereka. Komunikasi pun terbatas. Hingga masalah besar seperti yang dialami teman saya itu pun tak berani diungkapkan pada kedua orangtuanya.

Aib itu mungkin tak akan terjadi jika hubungan orangtua dan anak tak berjarak. Anak biasa terbuka pada orangtua, sebaliknya orangtua selalu membangun komunikasi dengan anak. Sehingga anak tak ragu atau takut untuk membicarakan hal atau masalah apapun yang dialaminya. Anak terbiasa “curhat” pada orangtuanya. Anak pun akan mudah mematuhi perintah ataupun nasehat-nasehat dari orangtuanya.

Sebuah keluarga yang kering tanpa adanya komunikasi yang hangat di antara para anggota keluarganya akan menjadikan rumah yang ditempatinya tak nyaman. Hal itu dapat menimbulkan anak mencari lingkungan lain yang lebih nyaman di luar rumah. Pada kasus-kasus tertentu, ketika anak sedang bermasalah, ia akan mudah terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang tak bermoral.

Sehingga tak jarang kerusakan moral remaja berawal dari kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Kehidupan anak-anak tak terpantau dengan baik oleh orangtuanya. Hingga akibatnya anak bisa berbuat semaunya, mencari kesenangan yang tak bertanggung jawab, berbohong, membolos sekolah, menyontek, tawuran, melakukan pelecehan seksual, dan sebagainya.

 

Contoh akibat broken home:

 

Penguatan Keluarga

Saya setuju sekali dengan pendapat salah seorang Guru Besar ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya yang juga merupakan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Bapak Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid, pada sebuah seminar parenting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Dalam makalah yang berjudul “Penguatan Keluarga dalam Pendidikan di Abad Digital” beliau menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang memperkuat keluarga dan masyarakat, bukan melemahkannya. Esensinya adalah, bahwa penguatan keluarga menjadi sangat penting untuk mendidik anak-anak berperilaku positif.

Karena, di era yang semakin modern seperti saat ini, tampaknya masyarakat Indonesia banyak yang berkiblat ke dunia Barat, di mana masing-masing laki-laki dan perempuan sebagai orangtua lebih mementingkan karir di luar rumah dan kurang perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Hal ini menjadi ironis, karena mereka sukses di dunia kerja tetapi mengabaikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak secara psikis. Anak-anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

Anak-anak korban broken home:

Rumah hanya dijadikan semacam terminal bagi anggota keluarganya. Hanya sebagai tempat singgah untuk istirahat atau tidur, tak lebih dari setengah hari. Sehingga tak ada ruang untuk bercengkerama dan berbagi masalah bersama-sama. Akibatnya, seringkali bermunculan perilaku-perilaku negatif sebagai bentuk pelampiasan kurangnya kasih sayang orangtua.

Telah banyak contoh kasus broken home dalam masyarakat Barat akibat dari siklus hidup sehari-hari masyarakat industrial seperti itu. Keluarga yang hancur dan anak-anak yang menjadi korbannya.

Maka, sebenarnya peran orangtua sangat penting bagi pembentukan moral anak-anaknya. Orangtua harus bisa membangun pondasi yang kuat bagi moral anak-anaknya sejak kecil. Sehingga ketika anak menginjak masa remaja, dia sudah siap untuk menerima tantangan yang begitu hebat dari lingkungan luarnya. Berkaitan dengan pembentukan moral yang baik, menurut saya sejak kecil anak-anak setidaknya harus dibekali dengan:

  • Pendidikan agama, seperti bagi seorang muslim mencakup pendidikan syari’at Islam dan akhlak yang baik. Hal ini jelas mutlak harus diberikan, karena menyangkut pertanggungjawaban dengan Allah SWT.
  • Pendidikan norma-norma dalam masyarakat, yang menyangkut aturan-aturan baik tertulis atau tidak tertulis dalam masyarakat dan negara. Karena moral seseorang pasti juga berkaitan dengan urusan norma-norma dalam masyarakat, seperti norma hukum, kesusilaan, dan sebagainya.
  • Pendidikan etika, mengenai nilai-nilai baik-buruk yang menyangkut tata krama (menyesuaikan dengan adat-istiadat di daerahnya masing-masing).

Dalam pendidikan di keluarga ini, peran ibu sangatlah penting. Karena seperti kita ketahui, ibu adalah sekolah (pendidik) yang pertama dan utama, dia adalah sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Itulah tugas mulia seorang ibu, mendidik anak-anaknya hingga kelak menjadi orang yang shalih/shalihah, bermoral dan berakhlak mulia.

Seorang pujangga termasyur dari Mesir, Ahmad Syauqi berkata:

Ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya (dengan baik), maka engkau menyiapkan sebuah generasi yang berkualitas tinggi.

Begitu pula dengan syair Hafizh Ibrahim:

“Seorang ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum”.

Moral Generasi Muda Sebagai Modal Bangsa

Tak dapat dipungkiri, masa depan bangsa adalah bergantung pada pundak para generasi muda masa kini. Kita tak bisa berharap negara akan maju secara lahir batin jika moral para pemudanya bobrok. Jika karakter negatif telah dimiliki oleh para pemuda, bisa dipastikan masa depan bangsa akan rusak di tangan mereka. Jika karakter negatif telah melekat pada mereka, untuk menjadi baik di masa depan sangatlah sulit. Maka, moral generasi muda harus dipersiapkan sebaik mungkin sebagai modal bagi kemajuan bangsa di kemudian hari.

Hendaklah kita ingat firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 9 yang artinya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Berawal dari pendidikan yang baik di lingkungan keluarga, moral anak akan terbentuk dengan baik pula. Karakter-karakter positif yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan baik sejak kecil akan tertanam dengan kuat, sehingga kita bisa berharap di masa mudanya karakter-karakter itu tetap melekat pada dirinya hingga dewasa nanti.

Tentu saja, menjaga dan merawat karakter-karakter atau moral yang baik itu sungguh tak mudah. Perlu keistiqamahan dari pihak keluarga (orangtua) untuk menjaganya. Selain itu menjaga moral baik adalah kerja bersama antara keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat, dan instansi-instansi terkait seperti pihak kepolisian dan lain-lain.

Pelanggaran norma-norma dalam masyarakat oleh para pemuda harus diberikan sanksi yang tegas dan mendidik, yang bertujuan meluruskan dan memberikan pengalaman demi kebaikan mereka sendiri. Jadi, bila di sekitar kita ada peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, sudah seharusnya kita berani menegur mereka dengan cara yang baik, bukan mendiamkannya saja.

Kesimpulannya, selain penguatan keluarga adalah yang utama, perbaikan moral generasi muda adalah tugas kita bersama. Sebagai orangtua kita wajib mengawal mereka, kita tak bisa “pasrah bongkokan” (menyerahkan sepenuhnya) pendidikan anak-anak kita pada sekolah. Begitupun, kita tak boleh hanya menyalahkan lingkungan apabila kerusakan moral mulai menerpa anak-anak kita. Sebagai orangtua kita wajib pula mengontrol setiap kegiatan anak baik di dalam atau di luar rumah. Dan benteng terakhir, adalah doa. Doa yang tulus dari orangtua untuk kebaikan anak-anaknya, insya Allah akan memuluskan jalan mereka untuk sukses di dunia dan akhirat.

Saya sebagai orangtua khususnya sebagai ibu, sangat berharap moral generasi muda di Indonesia bisa membaik dari waktu ke waktu. Memang, melihat kemajuan dunia di abad digital seperti sekarang ini harapan itu tampak bagai fatamorgana. Tapi bila para orangtua khususnya para ibu mau memulainya dari rumah mereka masing-masing, insya Allah harapan saya bisa terwujud kelak di kemudian hari. Aamiin.

Info mengenai dunia Islam bisa mengunjungi:

Please like & share:

[Karya KBM3] Generasi Muda Di Lingkaran Dekadensi Moral

Posted on Updated on

Oleh: Yudianto.

 

Generasi muda dipercaya dan diharapkan menjadi sosok pelopor perubahan kehidupn yang lebih baik di masa mendatang. Kepada mereka jugalah  nilai-nilai mulia kehidupan ditanamkan, dengan harapan agar terus dilestarikan, terus berkesinambungan. Sungguh, di tangan merekalah nasib masyarakat, bangsa dan negara ini dipertaruhkan.

Akan tetapi, dalam realitas kehidupan, generasi muda tidaklah begitu mudah memenuhi harapan tersebut. Mengingat, keberadaannya sering menjadi bahan ekploitasi dari pihak lain, yang  mengabaikan begitu saja kepentingan mereka.

Terlebih lagi, generasi muda menghadapi   ancaman lunturnya moralitas mereka, yang mampu membikin kerdil pemikiran dan  rusak ahlaknya. Sehingga mereka yang tidak bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama bahkan bernegara.

Lalu, fenomena apakah yang merujuk terjadinya dekadensi moral di kalang generasi muda? Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan agar efeknya tidak meluas?

 

Ragam Fenomena

Sesungguhnya banyak sekali fenomena terjadinya dekadensi moral di kalangan generasi muda. Di antaranya yang cukup menonjol adalah :

  1. Keranjingan Pornografi.

Generasi muda keranjingan pornografi, bukanlah ada pada tahun-tahun terakhir ini saja, Fenomena ini telah muncul 2-3 dekade lalu, bahkan mungkin lebih awal lagi. Saat itu, materi pornografi masih relative sulit didapat, kecuali mengetahui jalur-jalur distribusi yang cukup ‘rahasia’. Itupun dengan format yang cukup spesifik semisal cerita stensilan Enny Arrow, novel petualangan Nick Carter, majalah ex. Luar negeri ataupun film seronok pengumbar nafsu sahwat dalam kaset video Betamax. Tentu saja peredarannya pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dalam lingkungan komunitas yang relatif terbatas.

Sekarang ini, dalam keterbukaan informasi di era internet kondisi jauh berbeda. Generasi muda yang keranjingan pornografi jumlahnya makin massif. Maklum materi pornografi dengan terlalu mudahnya diakses oleh siapapun, termasuk para newbie. Hanya mengetikkan satu kata, plus beberapa klik, maka segudang konten pornografi bisa dinikmati dengan sepuas hati.

Kondisi itu makin parah, ketika para orang tua membekali anak-anaknya dengan ponsel berfasilitas pemutar multimedia. Entah karena tidak peduli ataukah tidak engerti bahwa posel tersebut bisa disalahkan gunakan untuk akses konten pornografi dari kamar tidur anak-anak mereka

Padahal, dengan menikmati konten pornografi. Rangsangan seksual seseorang akan meningkat. Fantasi seseoramg bisa liar dan tak terkendali. Bila demikian keadaannya, mereka dengan mudah bisa terjerumus pada kebiasaan buruk untuk melakukan pemuasan diri. Misalnya lewat perilaku sex swalayan, yakni melakukan onani atau masturbasi.

Seperti halnya kejadian yang menimpa seorang anak yang duduk dibangku SMA, secara tak terduga kepergok oleh ibunya sedang melakukan onani. Kontan sang ibu marah besar dan mendamprat habis anaknya. Sang ibu pun kaget luar biasa begitu memeriksa isi memory card di ponsel anaknya banyak ditemukan file video berlabel Matematika bab 1,2,3, 4 dan seterusnya. Ketika dibuka isinya berbagai adegan ranjang yang sangat vulgar.

Lalu, apakah hanya generasi muda yang punya gadged atau laptop saja yang jadi korban sebagai pecandu pornografi? Ternyata, juga tidak.  Berdasarkan hasil pengamatan, banyak para pelajar SMP/SMA yang pergi ke warnet dengan alasan menyelesaikan tugas sekolah. Sebagian di antara mereka, ternyata menyempatkan diri  pula untuk  browsing ke beragam situs porno. Yang paling mengejutkan pelakunya bukan Cuma pelajar laki-laki saja, pelajar perempuan pun cukup banyak.  Bahkan sebagian lagi, saat bolos sekolah, malah berada di bilik warnet menyalurkan hobi mereka.

  1. Menganut pergaulan bebas

Pergaulan bebas adalah model gaya hidup seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain  dengan tidak lagi mematuhi atau norma-norma social dan agama, sehingga mereka merasa bebas melakukan segala sesuatu asalkan dilakukan secara sukarela atau tanpa paksaan. Pola hidup ini sangat permisif terhadap terjadinya hubungan seksual di luar nikah. Hidup gaya suka-suka ini telah menjeremuskan banyak generasi muda dalam kehidupan yang membolehkan hubungan seks dengan gonta-ganti pasangan tanpa ikatan sacral apapun. Perempuan muda yang terlibat pergaulan bebas ini seringkali memperoleh sebutan pereks (perempuan eksperiman). Maklum kesedian mereka untuk berhubungan seks seringkali dilakukan bukan atas dasar pemberian uang semata.

Benar sekali, pergaulan bebas sesungguhnya masalah social yang sudah sejak lama terjadi dan berulang terjadi di era generasi berikutnya.  Masih segar diingatan kita, tahun delapan puluhan, dunia dihebohkan dengan merebaknya gaya hidup samen leven yang mengacu pada hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan sah yang agamis. Juga mencuatnya kampanye Children of God, yang memiliki gaya hidup yang hampir serupa.

Paham pergaulan bebas semacam itu  juga sudah diadopsi sebagai gaya hidup oleh sebagian mahasiswa di tanah air. Memang mereka tidak pernah mendekrarasikan diri. Akan tetapi, bila diamati gaya hidup kesehariannya, mereka  ada indikasi kuat mereka adalah para pendukung samen leven. Tidak percaya?

Coba saja amati kehidupan kos-kosan mahasiswa, terutama sekali yang tidak ada induk semangnya. Kita Akan dengan mudah menemukan praktek-praktek pacaran dengan segala variasinya yang mengarah pada pola pergaulan bebas.

Di sisi lain, generasi muda yang keranjingan pornografi seakan memperoleh “tempat” yang nyaman dengan gaya hidup pergaulan bebas ini. Mereka dengan mudah memperoleh peluang  mempraktekkan apa yang mereka tonton dengan pasangan mereka sendiri. Tak heranlah, bila hasrat seks keduanya memuncak, tempat-tempat sepi, kamar kost, kamar losmen/hotel, mobil pribadi, ruang karaoke, supermini theater dan bilik-bilik warnet menjadi tempat favorit melakukan penetrasi.  Dengan perilaku pergaualan bebas di kalangan generasi muda yang sedemikian akut, sedikit bersikap sembrono saja, bisa berakibat  hamil di luar nikah!

  1. Doyan Miras dan narkoba.

Generasi muda telah dihadapkan, pada kenyataan pahit akibat lingkungan sosial yang menjermuskan ke lembah kehinaan. Mereka pertama kali mengenal miras ataupun narkoba, seringkali karena rasa penasaran dan sikap ingin mencoba saja. Ada pula yang didorong demi pembuktian diri ataupun agar tak terisolir di sebuah kelompok pergaulan.

Ada kasus, seorang pelajar yang duduk di kelas 3 SMP yang nota bene kesehariannya bertabiat lurus-lurus saja, suatu ketika diketahui sedang keadaan mabuk oleh orang tuanya. Bola matanya yang memerah, bau mulut beraroma alcohol, jalan agak sempoyongan dan bicara yang cenderung tak terkontrol. Tersimpulkan, mabuk akibat minum miras. “Lho kok bisa?” ungkap orang tua pelajar tersebut penuh keheranan. Usut punya usut, ternyata pelajar tersebut  telah mengkonsumsi miras sejak 4 bulan terakhir. Pertama kali dikenalkan minuman keras oleh salah seorang mahasiswa yang kost di rumah tersebut, saat pesta miras berlangsung. Celakanya,  pesta miras itu dilakukan di salah satu kamar kost, rumahnya sendiri.

Dari kasus factual di atas, memberi pelajaran kepada kita, bahwa kewaspadaan terhadap narkona maupun miras harus selalu dicanangkan. Sumber penyebaran miras atau narkoba tidak selalu berasal dari lingkungan luar, tetapi bisa berasal dari lingkungan dimana kita sehari-hari bertempat tinggal!

Begitu mencoba sekali, generasi muda akan dengan mudah untuk mengulangi dan mengulangi, sehingga menjadi kecanduan. Celakanya, pada tahap ini seringkali miras ataupun narkoba dipakai sebagai bentk pelarian diri dalam mengatasi berbagai persoalan  dalam kehidupan ini.

Masalah punggunaan miras dan narkoba  menjadi masalah yang sangat krusial. Karena tidak hanya membahayakan kesehatan generasi muda, tetapi juga akan merampok masa depan mereka yang gemilang.

Benar, sesungguhnya gaya hidup bermiras ria atau bernarkotik ria hanya akan terwujud bila seseorang memiliki cukup uang. Karena itu jika seseorang sudah kecanduan, kebetulan dia tidak memiliki uang, maka bisa menstimulir seseorang untuk memperoleh uang dengan cara–cara criminal, semisal dengan melakukan tindakan pencurian dan pengompasan (meminta uang secara).

Paling tidak seperti apa yang dialami seorang pemuda tetangga desa yang tertangkap tangan mencuri di sebuah kios dalam pasar.  Setelah diusut, ternyata berbagai hasil pencurian yang dilakukannya sebelumnya, justru hanya digunakan untuk pesta miras bersama teman-temannya.

  1. Merebaknya Perilaku Vandalis

Perilaku vandalis adalah perilaku yang cenderung bengal, tidak bertangung jawab, terkadang dipenuhi sikap emosional yang menafikan pikiran jernih, mengabaikan nilai-nilai kehidupan yang mulia dan norma masyarakat.

Format perilaku vandalis di antaranya melakukan perusakan fasilitas umum. Melakukan aksi grafitis / corat coret pada bangunan atau property yang dimiliki masyarakat. Melakukan perkelahian antar kelompok. Juga tindak kekerasan kepada pihak lain secara tak bertangung jawab. Bahkan dalam beberapa kasus, juga mengarah pada aksi criminal jalanan, termasuk pemalakkan dan pencongkelan kaca spion kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Tindak vandalis  yang dilakukan generasi muda, seringkali menjadi-jadi karena dapat dukungan dari anggota kelompok yang lain.  Hal ini setidaknya pernah dialami penulis saat remaja, beberapa tahun lalu, tatkala mau nonton sebuah acara di Surabaya dengan naik kereta api. Mengingat, kami – gerombolan anak muda yang rata-rata berpenampilan dekil dan berkantong pas-pasan dalam jumlah ratusan – maka dengan pongah berani naik KA tanpa bayar karcis, nongkrong di atas atap sambil bernyanyi-nyanyi penuh keriangan layaknya para pejuang yang berangkat ke medan laga. Bahkan berani “menguasai” gerbong  dengan menutup pintu dari dalam, melarang penumpang lain masuk gerbong. Serta yang paling konyol, melempari beberapa stasiun yang terlewati dengan bebatuan tanpa memiliki rasa bersalah sedikitpun.

Tindak vandalis juga disuburkan oleh sikap kebanggaan picik terhadap kelompokya atas kelompok lain. Tidak sedikit kejadian pengeroyokan siswa sekolah lantaran pertikaian yang tanpa ujung pangkal yang jelas musababnya. Hal inilah yang sering mengakibatkn tindakan brutal yang berkelanjutan dan kadang mengakibatkan korban luka dan korban jiwa berjatuhan.

Bahkan di salah satu SMA Negeri, seorang anak dipukuli sekawanan pelajar lain yang masih satu sekolah,  gara-gara dirinya memasang stiker bergambar logo /identitas kelompok dari sekolah lain di  sepeda motornya. Dirinya diminta untuk melepas stiker, tetapi permintaan itu ditolaknya.

 

Perpektif Islam

Melihat beragamnya fenomena dekadensi moral  yang terjadi di kalangan generasi muda, terasa miris sekali. Terlebih bila melihat ada kemungkinan relasional di antara berbagai fenomena di atas. Munculnya suatu fenomena akan diikuti fenomena yang lain. Bila demikian, tentu akan jauh lebih sulit mengurai akar permasalah terjadinya dekadensi moral dikalangan generasi muda.

Sungguh ancaman meluasnya dekadensi moral di kalangan generasi muda, memang sudah didepan mata. Semakin massif sifatnya, maka dampaknya juga makin sulit diprediksi. Yang pasti, ada bahaya luar biasa bagi kehidupan masyarakat, bila masalah ini tak tertangani dengan lebih baik lagi.  Sendi-sendi kehidupan sosial akan rusak, keteraturan masyarakat juga akan terganggu.

Dalam ajaran Islam sendiri sesungguh banyak sekali dalil-dalil Alquran dan Al Hadits yang bisa dipakai pijakan untuk menyikapi merebaknya dekadensi moral di kalangan generasi muda demgan lebih jernih.

Sebagian di antaranya adalah :

Al Israa 32  Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Al  baqorah 11 Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Al baqarah 12 Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

 

Perlu langkah Sinergis

Dalam rangka menangulangi bahaya dekadensi moral dilingkungan generasi muda, minimal ada empat pihak yang harus dilibat untuk mengurai permasalahan ini. Mereka adalah keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat.

Lewat langkah yang sinergis di antara empat komponen di atas, diharapkan ada strategi dan taktik yang cukup efektig mengatasi problema social ini. Terlebih, kita cukup memahami tak ada satu obat yang bisa mengatasi semua masalah, jadi tetap dibutuhkan pendekatan yang cukup spesifik dalam upaya mengurai dan mencari akar permasalahan ini.

Karena itulah, di bawah ini ada beberapa pokok pikiran yang bisa dijadikan alternative upaya mengatasi merebaknya dekadensi moral di lingkungan generasi muda. Diantaranya adalah:

Keluarga harus secara kontinyu memberikan support pemikiran agar generasi muda tidak terjebak dalam lingkaran dekadensi moral. Langkah itu dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap ekses-ekses dari  yang ditimbulkannya. Terutama sekali yang terkait dengan hilangnya kesempatan meraih  depan yang gemilang.

Keterbukaan komunikasi antar anggota keluarga, antar anak dan orang tua layak terus dibina. Hal tersebut jelas akan menjadi salah satu kunci utama dalam menjauhkan generasi muda dari ancaman dekedensi moral.  Melalui keterbukaan itu, diharapkan masalah-masalah yang “secret” dan terkadang berbau ambivalen  bagi generasi muda, bisa didiskusikan secara jernih, tanpa rasa takut dan sungkan dan yang paling penting, tanpa rasa merasa dihakimi. Dengan demikian, segala macam persoalan yang menyakut generasi muda, bisa dipecahkan jauh lebih dini dan akurat.

Penanaman nilai-nilai agama secara intensif dalam kehidupan keseharian akan memberikan benteng yang cukup kokoh agar kehidupan generasi muda  tak tergerus informasi yang menyesatkan dan mengakibatkan kerusakan moral.

Pemantauan aktifitas anak di luar harus selalu dilakukan, agar keluarga jauh lebih antisipatif saat anak memaski zona-zona merah dalam pergaulan. Ditemukannya para pelajar yang sering mengunjungi panti pijat plus-plus atapun lokalisasi WTS, bisa jadi merupakan indicator lemahnya pantauan orang tua terhadap aktifitas anak di luar rumah.

Proses pendampingan orang tua, amat diperlukan terutama apabila anak sudah memiliki pacar. Perl ditanamkan tata cara berpacaran yang sehat. Jangan sampai saat pacar mereka dating, orang tua justru meninggalkan mereka sendiri berdua. Karena ini juga akan menjadi pintu masuk terjadinya perbuatan yang tidak senonoh  terjadi justru di dalam rumah sendiri.

Yang juga penting adalah perlu di tanamkan kosep diri  anak secara benar dengan cara memahamkan eksistensi diri pribadi anak yang dikaitkan dengan dan peranan mereka dalam lingkungan. Hal ini pantas ditandas, bahwa dengan konsep diri yang benar setidaknya generasi muda sudah tahu benar yang  mesti dikerjakan, apa yang boleh maupun yang tak boleh dilakukan.

Bila salah dalam memahami konsep diri, maka perilaku yang dijalankan juga cenderung menyimpang dari norma-norma yang di anut masyarakat. Tak heranlah—seperti yang dilansir surat kabar nasioanl — akibat konsep diri yang salah, maka ada seorang gadis  siswa smk yang rela menjual diri hanya karena ingin memiliki hp baru. Audubilaahimindalik

Dalam lingkup sekolah, penyadaran arti penting kehidupan pelajar yang bersih, jauh dari ancaman dekadensi moral, layak terus dan terus dikumandangkan. Baik lewat berbagai kegiatan co-kurikuler ataupun ekstra kurikuler. Metode diskusi dan brainstromming layak digunakan demi mengefektifkan hasil konkret. Pemberdayaan unit kegiatan cinta alam, pramuka, pengembangan nalar, kerohanian dan sebagainya bisa diisikan dan diformat ulang untuk mencegah dekadensi moral agar tidak lebih meluas lagi di kalangan mereka.

Peningkatan peran Bimbingan Penyuluhan untuk ikut bertanggung jawab mengatasi persoalan para pelajar. Baik yang terkait upaya pencapaian prestasi akademik. Ataupun terkait dengan proses tumbuh kembangnya para pelajar menjadi pribadi yang mandiri dan mumpuni dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam kehidupannya.pe

Pemerintah memiliki peran sangat strategis, terutama dalam pembuatan dan penerapan perundangan yang terkait langsung dengan berbagai upaya pencegahan dekadensi moral dan penanggulangan dampak yang ditimbulkan dalam masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Diantaranya, kebijakan sensor situs porno, implemtasi UU yang menyangkut pornografi, Penerapan Perda tentang “warnet aman” dsb.

Masyarakat sebagai kekuatan yang mampu medeteksi secara dini terjadinya berbagai bentuk dekadensi moral di kalangan generasi muda, layak ambil peran yang lebih besar. Kordinasi dengan pihak pemerintah dan supporting kebijakan perintah, jauh akan lebih efektif dalam menanggulangi efek merebaknya dekadensi moral. Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat, juga diharapkan makin mengintensifkan perannya dalam bidang monitoring, sehinggga kesejahteraan social bisa dicapai dengan lebih cepat.

 

Harapan

Nah, andai saja semua pihak bergandeng tangan, seia- sekata dalam menyikapi merebaknya dekadensi moral di kalangan generasi muda, tentu saja  dampaknya bisa di minimalisir secara efektif. Semoga Allah SWT Mengabulkan.

 

www.muslimmedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Pemakluman Lingkungan yang ‘ Kebablasan’

Posted on Updated on

” Ah gak apa-apa, masih muda kok. Nanti juga kalau waktunya dapat hidayah dia bakalan pakai jilbab sendiri. Hidayah kan sendiri-sendiri “

Acap Kali saya sedih mendengar komentar seperti diatas, terlebih jika itu keluar dari mulut orang-orang terdekat saya. Ingin rasanya saya lantas menjelaskan apa-apa yang seharusnya kita lakukan dalam versi pemahaman saya, tapi selalu urung. Saya menyadari, saya ini tipikal orang yang keras jika sudah membicarakan hal prinsip – terlebih tentang tuntunan hidup menurut Qur’an dan Sunnah – saya biasanya akan terus berusaha menjelaskan, tapi sekarang saya mulai diam. Saya diam sebab saya sudah bingung harus bicara bagaimana lagi.

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (*) ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

(*) Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Dari ayat tersebut diatas, kita lihat bahwa Allah memerintahkan kaum perempuan untuk menutup aurat dengan baik. Allah sendiri yang mengatakan dalam firmannya, dimana ayat tersebut adalah perintah yang sangat tegas dan wajib dilakukan bagi perempuan yang beriman. Darimana kita tau bahwa ayat tersebut adalah ayat yang tegas ? Jawabannya ada pada ayat di bawah ini :

An-Nurr (1) : (ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan didalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya

Ayat pembuka dari surat An-nurr diatas tegas menjelaskan bahwa hukum wajib untuk mengikuti perintah yang kemudian termaktub di ayat selanjutnya dalam surat tersebut. Salah satu perintahnya adalah tentang perintah menutupi aurat -pun sudah diatur cara untuk menutupi aurat pada kaum perempuan -yang jika tidak dilaksanakan maka akan mendapatkan dosa yang berat.

Perintah menutup aurat adalah perintah yang diturunkan sebagai bukti kasih sayang Allah pada kaum perempuan. Sebagai bukti betapa Allah memuliakan kaum perempuan dengan perintahnya tersebut. Bahkan Di ayat yang saya contohkan diawal ( Al-ahzab : 59 ) Allah menyertakan keterangan bahwa salah satu tujuan Allah memerintahkan hal tersebut adalah supaya mereka tidak di ganggu. Dan apa yang Allah katakan adalah kebenaran yang paling benar. Yang paling hakiki.

Contoh gampangnya saja kita lihat, perbedaan perempuan yang menutup aurat dengan yang tidak menutup aurat adalah saat diganggu Pria iseng misalnya. Kita akan emndapati siulan atau bahkan omongan tidak senonoh jika para lelaki nakal menganggu perempuan yang tidak menutup aurat. Tapi kita coba lihat pada perempuan yang menutup Aurat, mungkin godaang dan gangguan itu tetap akan ada namun datang dalam bentuk yang sangat baik. Celetukan godaan itu paling hanya di sekitar ” Assalamualaikum “ Atau ” Mau kemana bu Hajjah ?” . Cob, bahkan kenakalan dan keisengan yang mendatangi pun dalam bentuk doa yang baik, salam yang baik. Maka adalah benar perintah Allah untuk menutupi aurat bagi kaum perempuan bukanlah sebagai pembatas dirinya tapi justru sebagai gerbang kebebasannya.

Banyak teman saya khawatir akan terbatas aktivitasnya jika mereka mengenakan Hijab. Mereka Khawatir nantinya akan jadi sulit bergerak sebab terhalang Jilbabnya, mereka akan jadi tidak modis karna tidak bisa mengenakan pakaian yang bergaya ini itu, mereka akan kepanasan sebab seluruh tubuhnya tertutup kain. Seperti contoh obrolan saya dengan seorang kawan yang akan saya kutip dengan dialog dibawah ini :

Teman ( T ) : ” Nanti kalo pakai Jilbab aku jadi gak leluasa bergerak. Gak bisa ikut kegiatan ini itu.

Saya ( S ) : ” Masa iya? Kok aku melihat justru yang membuka Aurat itu yang gak leluasa yah. aku sering lihat di angkutan umum mereka sibuk membenahi pakaian mereka yang terbuka, menutupinya dengan tas atau jaket. Sementara yang berjilbab, duduk tenang dan santai saja. Aku juga sering lihat loh, banyak perempuan-perempuan yang tetap santai berjalan di terik matahari tanpa takut kena panasnya dan gak lari-larian karna takut hitam. Pakaian mereka yang tertutup sudah cukup untuk melindungi kulit mereka.

(T) : Wah, nanti aku gak cantik lagi deh kalo pake Jilbab. Kulit putih aku ketutupan, rambut aku yang indah panjang dan berkilauan di sembunyikan. Ngapain coba capek-capek keramas dan luluran kalo gak ada yang lihat?

(S) : Wah, Justru Menutup aurat akan menjaga usahamu itu. Udah capek-capek luluran terus mau kamu biarin kulit kamu itu kena debu di jalan, kena matahari gitu aja? Tutupin dong. Udah mahal-mahal kesalon buat perawatan rambut nanti acak adut lagi kena angin di jalan. Lagi pula, Allah memang sengaja melindungi tubuh perempuan dari pandangan yang bukan Mahromnya. Mereka gak punya hak apapun untuk melihat tubuh kamu.

(T) : Gak pake Jilbab aja udah panas banget, gimana pake jilbab? Gak kuat deh.

(S) : Hukum menutup aurat itu wajib. Tidak melakukannya berdosa sama seperti kamu tidak sholat. Dan hukumannya adalah api neraka. Kalo kamu aja merasa gak sanggup menanggung panas matahari, maka api neraka panasnya jauh lebih dahsyat dibanding itu.

Seringkali saya berusaha meluruskan, bahwa menutup aurat bukan saja tentang hidayah pribadi. Tapi sudah kewajiban. Bahwa menunggu hidayah datang tanpa berusaha, sama artinya seperti menunggu Godot. Sulit dan tidak akan pernah terwujud. Tidak akan ada yang tau sampai kapan usia kita di dunia, dan kematian adalah batas yang samar dibalik semua usaha kita. Lakukan sekarang atau kita akan menyesal.

Kewajiban yang saya bicarakan ini bukan cuma isapan jempol. Sudah saya contohkan bahwa Allah menurunkan perintah tentang hal ini dan mewajibkannya di awal surat An-Nurr diatas. Dan mari kita tengok apa ayat yang mengatakan tentang perintah menutup aurat bagi kaum perempuan tersebut :

An Nurr ( 31 ) : Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) (*) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

(*) Yang Biasa tampak Mengandung pengertian Wajah dan telapak tangan. Hal ini ada pada HAdist Rasulullah yang dituturkan oleh Aisyah Ra : ” Suatu ketika datanglah anak perempuan dari saudaraku seibu dari ayah ‘Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tetapi tiba-tiba Rasulullah saw. masuk seraya membuang mukanya. Aku pun berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung.” Beliau kemudian bersabda, “Apabila seorang wanita telah balig, ia tidak boleh menampakkan anggota badannya kecuali wajahnya dan ini.” Ia berkata demikian sambil menggenggam pergelangan tangannya sendiri dan dibiarkannya genggaman telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya). (HR Ath-Thabari).

Nah, penjelasan diatas artinya sudah pasti bahwa menutup aurat bukan lagi tentang cultur Arab, hidayah atau bahkan sekedar fashion semata. Tapi adalah kewajiban. Dan hal itu haruslah di paksakan. Seperti halnya sholat, melakukan kewajiban menutup aurat ( Berhijab ) harus melalui paksaan yang keras. Terutama jika perempuan tersebut sudah akil baligh. Sebuah paksaan akan membuat individu akhirnya menggunakan, setelah menggunakan dia akan belajar untuk terbiasa, lantas setelah menjadi kebiasaan dia akan menerima keadaan itu dengan ikhlas, dan akhirnya keihklasan akan menciptakan cinta di dalam keadaan itu. Disitulah hidayah muncul, dia datang saat ikhlas dan cinta sudah terpatri didalamnya. Dan hanya 1:1000 manusia yang Allah beri hidayah tanpa perlu paksaan. Bahkan perubahan drastis yang muncul dari seseorang yang menurut kita tanpa paksaan pun adalah hidayah dari Allah dalam bentuk paksaan cara Allah. seorang yang mendadak berhijab adakalanya telah melihat, mendengat atau bahkan mengalami sendiri suatu kejadian yang menyadarkannya. Biasanya itu berupa teguran, azab atau musibah dari Allah. Wallahualam.

Lantas, setelah seharusnya paksaan itu terjadi pada perempuan-perempuan disekitar kita, kita menjadi takut untuk melalaikannya. Juga para lelakinya. Sebab sepemahaman saya yang dangkal ini, bahwa kaum pria itu bertanggung jawab atas 4 perempuan dalam hidupnya. Yaitu : Ibunya, Istrinya, saudara perempuannya dan Anak perempuannya. Maka dari itu, sebagai perempuan yang berfikir, artinya apapun yang kita lakukan di dunia ini kelak nanti bukan hanya kita sendiri yang menanggungnya, tapi juga 4 pria di sekitar kita yaitu : Ayah kita, Suami kita, anak lelaki kita dan saudara lelaki kita. Andaikata kita tidak berhijab, maka kita tidak hanya berdosa sendirian, tapi juga menyeret ke empatnya dalam kubangan dosa yang sama. Naudzubillah.

Ada sahabat saya yang mengatakan, bahwa berhijab itu haruslah siap lahir dan bathin. Tidak bisa dipaksakan dan harus dari hati. Tidak masalah tidak menutup aurat secara fisik, asalkan hatinya sudah berhijab.

Itu adalah frasa klise buat saya. Saya akui, kita memang tidak bisa saklek dalam mengutarakan pendapat. Tapi, kelemahan kita dalam menyampaikan syiar agama, terlalu menghindari konflik dan takut terjadi benturan jika menyampaikan dengan tepat, adalah sarana ampuh syetan untuk masuk dan menggoda syiar kita. Saat kita memaklumi adanya kewajaran belum berhijab sebab belum siap, asalkan pribadi yang bersangkutan tetap beribadah sesuai syariat islam ( Sholat, zakat, dsb ) adalah salah satu sebab mengapa akhirnya banyak dari kaum perempuan yang tetap percaya diri membuka auratnya di depan yang bukam mahromnya. Pemakluman itu adalah hal yang tanpa kita sadari sudah melenakan kita semua.

Sadar ataupun tidak setiap kali kita melakukan shalat 5 waktu kita senantiasa bersumpah kepada Allah SWT, “La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. “ Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah” kalimat sumpah dan janji kepada Allah untukmentaati perintah Nya dan Menjauhi larangan Nya senantiasa kita ucapkan di dalam shalat. Dan jika kita tidak menutup aurat, maka sumpah dan janji kita pada Allah saat sholat adalah palsu. sebab menutup aurat adalah perintah Allah untuk perempuan muslimah. Dan seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka.

Tentunya jangan khawatir, sebab Allah Dalam surat An Nurr ( 31 ) hanya memerintahkan kewajiban menutup aurat bagi mereka kaum perempuan yang beriman. Maka bagi yang tidak beriman pada Allah, tidak perlu pusing dan takut untuk membuka aurat. Silahkan membuka aurat, sebab setelah itu Allah tidak akan menganggapmu beriman.

ada hal lucu yang pernah diajarkan ibu saya dahulu tentang menutup aurat. Karna saat itu saya masih kecil, ibu saya menggunakan contoh makanan sebagai penggambarannya. Namun justru karna mudah dipahami itulah akhirnya saya memutuskan untuk berhijab.

Ibarat makanan, perempuan berhijab dan tidak berhijab adalah makanan yang terbuka dan tertutup. Kita akan mendapati makanan yang terbuka dijual di pinggir jalan, dengan harga murah dan terkenan banyak debu. Pembeli pun akan dengan entengnya mencomot dari satu ke lainnya untuk memilih mana yang akan akhirnya mereka beli. Misalnya pisang goreng yang dijual di pinggir jalan. Entah sudah berapa tangan pembeli yang menyentuhnya, lalu urung membeli dan memilih pisang goreng yang lain. Entah sudah berapa banyak debu yang menempel di pisang goreng tersebut, dan harganya sangat murah. Siapapun bisa membelinya. Lalu makanan yang tertutup, dibungkus rapi dengan plastik, akan disimpan dengan manis di etalase. Siapapun tidak berani menyentuhnya, apalagi membukanya. Dilihat boleh di sentuh jangan, sebab siapapun yang menyentuhnya haruslah membelinya. Tidak ada satu butir debu pun yang bisa hinggap, ia akan terlindung dari panasnya matahari dengan kualitas rasa yang tetap sempurna. Bahkan, yang membelipun bukan orang sembarangan. Dengan harga yang pasti lebih mahal, hanya mereka yang telah mapan saja yang mampu membelinya. Hanya mereka yang berfikir untuk sehat saja yang akan menjadi pemiliknya. Mereka yang pelit, akan sayang membeli makanan mahal jika ada yang murah. Sementara begitu banyak debu yang jelas akan menjadi biang penyakit di tubuh pembeli.

Masih tentang makanan, jika kita cukup berhijab dalam hati saja apakah makan juga bisa dalam hati saja? Ibadah -termasuk didalamnya adalah berhijab- adalah tentang luar dan dalam, fisik dan psikis, lahir dan bathin. Apakah jika kita lapar maka kita akan kenyang jika hanya makan di dalam hati saja? Maka itu, hati memang harus berhijab, namun fisik lebih penting lagi. Tidak hanya fisik yang perlu ditutupi, namun hati juga.

Banyak yang mengatakan, bahwa ada perempuan yang berhijab namun hatinya busuk. Tapi ada pula perempuan yang tidak berhijab tapi berhati baik. Bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah yang menutupi auratnya. Dan andaikata dia memiliki hati yang buruk, paling tidak dia sudah menjalankan perintah Allah dan menunaikan kewajibannya. Tinggal membenahi hatinya saja. Jangan sudah buruk hati, tidak berhijab pula. Tapi sebaliknya, jika tidak berhijab tapi hatinya baik, saya justru mempertanyakan kebaikan hatinya. Sungguhkan ia memang baik hati? lalu mengapa ia tidak melaksanakan kewajibannya pada yang memilikinya, Allah Ta’alla.

Selayaknya, kita harus membiasakan diri untuk terus menegur keluarga terdekat kita yang belum berhijab, kerabat kita dan orang disekitar kita. Kebaikan akan melingkupi kita jika bergaul dengan orang-orang yang mencintai dan mematuhi perintah Allah. Mulailah untuk memperkenalkan keindahan hijab dengan cara yang menyenangkan, dengan bahasa yang mudah diterima, dengan sikap yang akan menarik hati mereka untuk mengikuti kita berhijab. Bagaimanapun segalanya bermula dari kesadaran masing-masing individu, termasuk diri kita sendiri.

Segalanya memang harus dimulai dari diri sendiri. Apakah kita sudah berhijab? Apakah keluarga terdekat kita sudah menutup aura? Apakah keluarga besar kita masih ada yang tidak dari klasifikasi perempuan beriman karna masih mempertahankan dunia dan tidak berhijab? Segalanya harus dimulai dari diri kita sendiri. Namun sadarkah, jika saja semua berfikiran sama, bahwa berhijab adalah tanggung jawab kita bersama maka niscaya seluruh wanita muslim di dunia ini akan menjadi muslimah yang taat pada syariat Allah. Tanpa keraguan. Maka dari itu, kitalah yang harus menghentikan pemakluman itu, terus dorong sekeliling kita untuk berhijab. Terus semangati mereka untuk menutup auratnya dengan baik. Hanya itulah persembahan terbaik kita pada Allah yang maha penyayang. Subhanallah.

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Dibilang Moralnya Merosot, Inilah Pendapat Saya Sebagai Salah Satu Pemuda Yang Kecanduan Internet

Posted on Updated on

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa – Aduh, lagi-lagi kita generasi muda yang kena. Di pundak kita sudah disuruh memanggul beratnya nasib masa depan negara, mungkin beratnya setara dengan dosanya. Sekarang di era globalisasi di mana kaum muda yang mayoritas aktif mengaksesnya dengan teknologi, selalu diwanti-wanti berulang kali sampai telinga budeg. Sesekali berlagak pura-pura tidak mendengar seperti pelawak Haji Bolot sepertinya ide bagus untuk menghadapinya.

Wanto-wanto, eh maksudnya wanti-wanti yang sering saya dengar sampai saya sangat hafal (mengalahkan hafalan doa qunut) sekalipun tidak pernah berniat menghafalkannya adalah wanto-wanti dilarang kebarat-baratan. Kita tau bahwa dalam globalisasi, budaya mereka lah yang paling kuat pengaruhnya melebihi boyband dan girlband serta drama Korea yang kalau kita menontonnya dengan khusyu’ dan berjamaah bisa sampai menangis bawang bombay yang diimport langsung dari India. Kenapa bukan nangis ginseng saja sekalian.

Apa salahnya sih budaya barat? Mereka kalau antri tertib, sedangkan kita antri beli tiket nonton sepak bola saja bisa merusak pagar, apalagi antri sembako dan daging qurban? nyawa bisa melayang. Mereka penyayang binatang sampai-sampai diperbolehkan naik dan tidur di atas kasurnya, sedangkan kita justru sebaliknya, memperlakukan manusia seperti binatang. Mereka pintar dan work hard play hard, sedangkan kita waktu muda play hard setelah tua baru ngoyo work hard. Jelasnya, negara mereka maju dan bukankah Indonesia bermimpi ingin maju setara dengan mereka bahkan kalau bisa melebihinya?

Memang sih ada sisi kurang baiknya dari mereka, seperti: Suka minuman keras bahkan usia di bawah 21 colong-colongan membelinya di toko yang dijaga lumayan ketat. Tapi bukankah kita lebih edan dari itu, suka oplos*n diaduk dengan lotion anti nyamuk berbagai merk yang kalau boleh saya tuliskan tanpa sensor yaitu Autan, Saripuspa, Lavenda dan sebagainya? Pantas saja kalau diminum menyebabkan mulut keluar busa putih seperti mau nyuci pakaian dan nyawanya diculik oleh makhluk asing bernama Izrail untuk dilempar ke neraka yang paling dalam kemudian keesokan harinya masuk berita di TV yang berlogo ikan terbang. Mereka melakukan s*ks bebas dan kemana-mana bawa balon pembungkus kelam*n dengan cara diselipkan dikantong kecil khusus yang terletak disebelah kanan pada celana Jeansnya buat persiapan/jaga-jaga. Tapi bukankah kita lebih parah yaitu cuma beralaskan koran bekas dan jika membuahkan hasil, bayinya dibuang hidup-hidup di sungai atau semak-semak sampai-sampai beritanya mendunia dan sukses membuat warga Palestina iri karena mereka kekurangan anak-anak sedangkan kita justru dibuang sembrono begitu.

Tentang mereka suka pakaian mini yang biasa disindir dengan kalimat kurang bahan, saya tidak tau apakah itu hal buruk atau bukan. Mereka memakainya kalau musim panas sedangkan musim dingin pakaiannya lebih tertutup. Mereka berpakaian terbuka seperti itu sekaligus untuk berjemur untuk mendapatkan kulit yang agak gelap karena asalnya memang kulit mereka terlalu putih cenderung kemerahan berbintik-bintik seperti anak babi yang baru lahir dan menurut mereka termasuk saya kulit seperti itu menjijikan. Yang jelas cowok-cowok di sana sudah kebal mata. Pada celana bagian paha atas tidak akan terasa menjadi agak sempit karena reaksi biologis yang disebabkan hanya melihat ketiak. Mungkin sama seperti ketika saya melihat wanita Irian Jaya dengan pakaian tradisionalnya. Salahkah pakaian adat Irian Jaya? Saya tidak tau, saya cuma tau fungsi dasar pakaian selain buat menghangatkan badan saat musim dingin tapi juga untuk melindungi kulit dari gangguan gigitan binatang kecil seperti semut yang genit, nyamuk yang nakal, ataupun kutu yang seharusnya bersarang di kepala singa yang gondrong dan model potongan rambut yang khas ala raja hutan itu. Jadi pakaian semakin tertutup seharusnya semakin bagus. Fungsi tambahan lainnya buat kesopanan dan keindahan di depan publik. Silakan tentukan sendiri gaya pakaian anda berdasarkan kondisi dan aturan budaya setempat serta tuntunan agama masing-masing. Jadi seandainya ada cewek ABG alay Indonesia, cabe-cabean, kimcil atau apalah sebutannya, meniru berpakaian minim kemudian melewati gerombolan cowok-cowok hingga berhasil membuat jakun mereka naik turun karena menelan air liur sebagai bentuk pencegahan dasar supaya tidak ngiler, adalah salah besar. Jangan salahkan cowok terong-terongan tersebut menjadi mes*m dan melakukan hal yang tidak diinginkan (khusus terong-terongan, kalau cowok yang sudah dewasa seharusnya sudah bisa menahan dan mengontrol diri). Lagian ngapain sih jenis kulit Indonesia mau dijemur juga, ingin gosong seperti singkong bakar? Kalau ingin meniru mbok ya pilih-pilih yang sesuai dengan kondisi dan keadaan di sini. (maaf ya paragraf tentang pakaian ini jadi panjang seperti emak-emak yang sedang ngomel memarahi anaknya yang moralnya sedang merosot).

Jadi menurut saya budaya barat tidak sepenuhnya jelek, budaya timur tidak sepenuhnya bagus, budaya timur tengah tidak sepenuhnya kolot, dan budaya luar angkasa kalau memang benar adanya alien tidak sepenuhnya paling canggih. Kita semua generasi muda dari negara manapun sama, sama-sama sedang ditugasi untuk berjuang memajukan bangsa dan negara masing-masing. Dan mungkin juga sama-sama sedang ‘difitnah’ oleh generasi tua sebagai generasi yang moralnya sedang merosot bahkan nyungsep bagaikan anak gendut yang kepalanya jatuh lebih dulu waktu meluncur pada mainan perosotan di sekolahan Playgroup.

Hal yang membedakan cuma persepsi saja, orang barat menganggap orang timur sebagai orang terbelakang sedangkan orang timur menganggap orang barat sebagai orang yang terlalu bebas. Padahal keduanya ada nilai plus minusnya. Nah di era globalisasi inilah kesempatan kita untuk mengenal budaya mereka, mengambil nilai positifnya dari mereka untuk menggantikan sisi jelek pada diri kita yang memang sudah seharusnya dibuang ke Bantar Gebang. Bukan malah saling menjelek-jelekan. Globalisasi merupakan persaingan, siapa yang mempunyai kemampuan dan kualitas terbaik akan menang. Mengalahkan lawan dengan menjelek-jelekan bukan cara yang elegan, apalagi jika orang yang menjelek-jelekan ternyata lebih jelek.

MENGHADAPI AFTA DAN GLOBALISASI YANG NYATA
Membahas AFTA sebetulnya hal yang cukup sulit buat saya. Mungkin karena sekian CC ukuran otak saya lebih kecil di bawah rata-rata. Seandainya saya belum terlanjur menulis sebanyak di atas, lebih baik saya hentikan saja. Tapi sudah kepalang tanggung dan dari pada saya main internet cuma upload foto selfie dan dicaption dengan hashtag yang banyak terus klik ‘like’ sendiri seperti kebiasaan alay-alay lainnya yang lebih mirip haus perhatian dan minta diperhatikan, lebih baik saya lanjutkan menulis saja. LANJUTKAN !!!

Saya mendengar AFTA sudah dari dulu bahkan sebelum Presiden Pak Dhe Jokowi “lahir”. Sayangnya yang saya dengar hanya sedikit saja. Gosip dari bisik-bisik tetangga saya yang hobinya arisan uang bukan brondong, mengatakan AFTA sebetulnya mau diperlakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun, biasalah mundur. Nah di tahun 2015 ini, masih dari narasumber tetangga saya tapi kali ini bukan yang suka arisan melainkan yang mengaku kenal dekat dengan Koh Ahok, mengatakan AFTA mau benar-benar diberlakukan.

AFTA adalah kependekan dari Asean Free Trade Area atau Perdagangan Bebas Area Asean. Keuntungannya kita bisa jual-beli barang dari sesama negara anggota Asean dengan bebas pajak. Ingat ya, maksudnya adalah bebas pajak bukan bebas jual-beli barang terlarang apalagi jual diri. Aturan perdagangan sehat tetap ada dan memang harus ada. Di balik keuntungannya ada juga tantangannya, yaitu kita akan bersaing ketat dengan negara berpendidikan lebih tinggi, seperti misalnya Singapura yang mayoritas muka ceweknya sangat imut cenderung unyu-unyu dan Malaysia yang bahasanya hampir mirip dengan bahasa kita atau mungkin bahkan lebih “lucu” selucu kartun favorit saya, Upin Ipin. Apakah kita sudah siap dan sanggup?

Sanggup gak sanggup bagaimanapun harus dihadapi karena itu adalah kenyataan yang sudah tampak di depan mata bukan seperti di acara Dunia Lain nya TransTV yang kalau sudah tidak sanggup melihat penampakan bisa melambaikan tangan ke kamera dan kemudian tim akan mendatangi pemain untuk menghentikan permainan. Soal persiapan, bagaimana mau siap bersaing dalam dunia yang membutuhkan kecerdasan dan mental kuat seperti baja yang tahan dibanting kalau menyelesaikan masalah dalam diri berupa kerusakan moral seperti mes*m, bertikai, mab*k, sak*w dan sebagainya saja belum becus? Jangan-jangan sebelum peluit persaingan ditiup kita sudah keok dan dilibas duluan seperti sapi dan mesin penggilingan dalam pabrik bumbu masak Royco.

Selain akan berdampak dalam bidang ekonomi, AFTA pasti akan mempengaruhi bidang sosial, budaya, dan mungkin bahkan ideologi juga. Dengan diberlakukan AFTA otomatis kita bebas sekolah atau kerja di negara sesama anggota AFTA lainnya. Begitu juga sebaliknya, banyak orang dari luar negeri yang mempunyai budaya beda dengan kita akan kerja di sini. Globalisasi yang sebelumnya dalam dunia maya, sekarang makin tampak dalam dunia nyata. “Wow emejing…emejing”, begitulah kata yang sering diucapkan Om Tukul Arwana kalau bawain acara Bukan Empat Mata untuk menyatakan kagum. Kondisi seperti itu mungkin kita akan banyak bertemu dan berteman dengan orang asing yang berasal dari negara entah berantah. Saran saya pintar-pintar saja bergaul. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kalau ingin meniru budaya dan kebiasaan mereka, pilih-pilihlah yang positif dan yang cocok untuk diterapkan sebagai jati diri bangsa Indonesia. Soalnya kalau tidak cocok dan tetap dipaksakan, bisa-bisa kita dituduh moralnya merosot entah ke mana mungkin salah alamat dan budaya luar yang kita tiru langsung dijudge jelek. Padahal kan selebay itu.

HAL-HAL YANG BIASA DITUDUH SEBAGAI PENYEBAB MEROSOTNYA MORAL GENERASI MUDA
Saya pernah baca seseartikel di Wikipedia yang menyatakan bahwa moral termasuk produk budaya dan agama. Seandainya ada orang yang berperilaku bertentangan dengan budaya dan agama setempat maka bisa dikatakan amoral. Internet merupakan sarana yang bisa untuk mengakses segala informasi mulai dari barat sampai timur, deisme sampai satanisme, hal yang seharusnya privat dan rahasia sampai akhirnya diblenjeti oleh wikileaks yang memang punya hobi bongkar-bongkar, sehingga internet sering dijadikan tersangka utama dalam kasus kemerosotan moral.

Saya sebagai salah satu orang yang termasuk kecanduan internet karena kadang-kadang rela mengurangi jatah tidur hanya untuk browsing gak jelas, menyatakan tidak setuju kalau ada orang yang menyalahkan internet (yaelah, ketidaksetujuan saya pilingan karena sudah terlalu cinta dan bergantung pada internet. Biasalah, cinta membuat orang buta meski sering di PHP). Beberapa alasan saya untuk tidak menyalahkan internet iyalah:

1. Jauh sebelum internet ada, memang sudah banyak orang bej*d seperti misalnya Firaun- orang yang kisahnya abadi sepanjang peradaban.
2. Jauh sebelum adanya internet dan p*rn*grafi di dalamnya, sudah ada kaum yang melakukan penyimpangan s*eksual hingga menyebabkan kaum tersebut dilaknat dengan bencana.
3. Saya pernah baca sejarah nusantara katanya sudah dari jaman kerajaan dulu pemuda suka mab*k-mab*kan, minum t*ak, m*dat, dan melec*hkan lawan jenis dengan menganggap perempuan hanyalah barang. Mereka tetap saja ajep-ajep menikmati sisi gelapnya kehidupan meski minumnya cuma pakai gelas bambu diterangi lampu minyak apalagi boro-boro diiringi musik DJ.
4. Waktu saya googling mencari foto-foto sejarah Indonesia, saya menemukan beberapa foto wanita bali jaman dahulu. Dalam foto yang masih hitam putih dan diambil sebelum Indonesia merdeka tersebut, para wanita berpakaian dengan kain cuma menutup bagian pinggang kebawah. Sedangkan bagian atasnya terbuka. Kalau mau berpakaian “benar versi sekarang” bukankah sebaiknya kain tersebut ditarik ke atas untuk menutupi dada dan membiarkan bagian lutut kebawah yang terbuka?

Dari alasan-alasan yang sudah saya tuliskan diatas, masihkah menyalahkan internet sebagai penyebab utama kemerosotan moral?

Benda mati tak berdosa lainnya yang sering dituduh sebagai penyebab kemerosotan moral kedua ialah televisi. Saya sendiri juga bingung kepada keponakan saya yang masih sekolah. Sewaktu sekolah dibubarkan lebih awal gara-gara guru kelasnya kena musibah ibunya meninggal dunia, keponakan saya di rumah menghabiskan waktu dengan menonton TV gonta-ganti dua chanel. Chanel pertama film FTV remaja yang temanya tentang cinta dan adegannya pacaran tapi dengan setting background sekolahan. Gaya hidupnya hedonis. Pemain ceweknya berdandan…Oh Em Ji, hello…menor cetar membahana maksimal bingitz mengalahkan glamornya Princess Teteh Syahrini. Sedangkan cowoknya gak mau kalah, memamerkan mobil sport mewahnya yang berhasil membuat saya iri. Chanel kedua iyalah pertunjukan musik yang disiarkan tiap pagi secara live dan penontonnya adalah cabe-cabean dan terong-terongan dengan jogetan khasnya yaitu gaya cuci-cuci jemur-jemur (ituloh, jogetan sambil berdiri tangan disamping memperagakan seperti sedang ngucek cucian kemudian setelah itu tangan dikedepankan seperti sedang jemur pakaian, dan mulut teriak eee….aaa.. Sudah paham belum? Kalau belum memang lebih baik gak usah paham sekalian saja). Gila, acara begituan di jam kerja dan target penontonnya usia produktif. Padahal dalam acara tersebut penyanyinya adalah sekuter (selebritis kurang terkenal) yang memanfaatkan aji mumpung karena namanya agak terkenal sebagai pemain sinetron. Teman saya saja dengan sok taunya bilang bahwa sebagian dari mereka cuma lipsinc. Meski cuma sok tau, saya perhatikan ada benarnya juga. Masa’ penyanyi ajimumpung dan baru, bisa nyanyi sambil joget enerjik melebihi Agnes Monica dan meski nafas sudah kelihatan banget ngos-ngosan serta megang mic nya kesana-kesini sudah tidak stabil, tapi suara lagunya tetap mulus tanpa fals? Pokoknya kalau dipikir-pikir gak worth bangetlah nonton begituan di jam segitu…

Sebagai orang awam dan menghadapi acara TV yang seperti itu, hal yang bisa kita lakukan hanyalah memahami bahwa televisi hanyalah ladang bisnis. Dimana ada acara TV yang booming, banyak penonton dan mendapat rating tinggi pasti pihak TV akan membuat acara sejenis secara jor-joran dan tidak memperdulikan apakah acara tersebut banyak manfaat atau tidak. Seperti kemarin waktu acara komedi ngetrend, akhirnya banyak pula acara komedi yang bermunculan bahkan ditiru stasiun TV lainnya. Sekarang acara India ngetrend, akhirnya banyak TV TV lain yang ikut menayangkan film India bahkan ada loh salah satu stasiun TV yang memboyong pemain India-nya untuk datang ke sini.

Setelah memahami seperti itu, langkah selanjutnya adalah jangan tonton acara TV yang kita anggap tidak ada manfaatnya, kalau perlu ajak adik dan teman-teman untuk tidak menontonnya. Lama-kelamaan acara tersebut pasti akan berkurang penontonnya, ratingnya menurun, tidak ada iklan yang mau sponsori, akhirnya meredup dan pihak TV akan mengganti dengan acara yang lain. Intinya televisi hanya mengikuti pasar saja kok.

PENYEBAB UTAMA KEMEROSOTAN MORAL DAN SOLUSINYA
Di atas saya sudah katakan bahwa internet tidak ada salahnya karena seperti yang kemarin pagi, rabu (14/1) Mamah Dedeh bilang dalam acara tausiyah di Indosiar yang penontonnya kalau mau mengajukan pertanyaan selalu bilang, “Curhat dong mah, iya dong…” bahwa internat dan facebook hanyalah seperti pisau. Apakah pisau tersebut buat masak, membunuh orang atau bahkan buat bunuh diri tergantung tuannya.

Saya yakin setiap manusia sebetulnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk kecuali kalau memang manusia tersebut mempunyai kelainan jiwa. Hanya saja biasanya manusia kalau diibaratkan di film-film, kalau sedang galau atau kepepet dari dalam kepalanya sebelah kiri akan muncul sesosok makhluk ghaib berjubah hitam, bawa tongkat, dan bertanduk merah menghasut kita untuk berbuat perbuatan yang tidak baik. Selang beberapa detik baru muncul makhluk ghaib lainnya berwarna putih di sebelah kanan yang melarang kita untuk mengikuti hasutannya.

Menurut saya, makhluk ghaib warna hitam yang memang tempat bersemayamnya dalam diri kita itu lah yang menyebabkan moral kita menjadi jelek. Solusinya? Saya sendiri bingung apa solusinya. Mungkin pendidikan kepribadian sejak dini dari orang tua dan agama ampuh dan bisa diandalkan untuk dijadikan jalan keluarnya. Soalnya kedua ajaran itulah yang langsung mendidik jiwa kita sebagai manusia. Sudah ah, saya capek ngetik soalnya tidak bisa ngetik pakai 10 jari. Bisanya ngetik pakai 2 jari telunjuk dan itupun kadang-kadang keder tombol huruf a dimana.

Begitulah menurut pendapat saya tentang penyebab kemerosotan moral dan solusinya dalam rangka menghadapi era globalisasi. Intinya lebih baik kita memperkuat ketahanan diri dari godaan nafsu yang berasal dari luar dan memperdalam agama saja. Tidak perlu menjudge budaya orang lain jelek apalagi menuduh benda mati yang tak berdosa.

Catatan: Mohon maaf kepada sejumlah tokoh besar dan artis yang namanya sengaja saya sebut seperti Pak Presiden Joko Widodo, Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Mamah Dedeh, H.Bolot, Agnes Monica, Tukul Arwana, Syahrini, dan sejumlah nama stasiun televisi + program acara, serta sejumlah merk produk. Maksud saya hanyalah untuk membuat bahasan tulisan saya menjadi terasa ringan dan berharap para pemuda-pemudi, baik yang belum atau sudah terlanjur menjadi cabe-cabean dan terong-terongan mau membacanya sampai habis.

Please like & share: