Nominator 10 Terbaik

Nominator 10 Karya Terbaik Kontes Blog Muslim Ke-3

Posted on Updated on

Pengumuman Nominator 10 Karya Terbaik

Kontes Blog Muslim Ke-3

DAFTAR KARYA KONTES BLOG MUSLIM KE-3
Kandidat 10 Karya Terbaik
No Urut Judul Tanggal Terbit Penulis
1 Moral Remaja Sekarang dan Islam 11-Dec-14 alfasemua
2 Tawaran Revolusi Kurikulum Pendidikan “Pesantren Friendly” 28-Dec-14 Ahmad Budairi
3 Penyimpangan Moral Remaja, Penyebab, dan Solusinya 04-Jan-15 herupurnomo
4 Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia 14-Jan-15 Nur Adila Qibtiyah
5 Pemuda Antara Kenyataan dan Harapan: Perilaku Kerusakan Moral Pemuda Masa Kini 14-Jan-15 Rizky Chairani
6 Urgensi Pendidikan Moral, Pendekatan Agama dan Keluarga, dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia 16-Jan-15 Yose Rizal Triarto
7 Dibilang Moralnya Merosot, Inilah Pendapat Saya Sebagai Salah Satu Pemuda Yang Kecanduan Internet 16-Jan-15 waluyo
8 Pemakluman Lingkungan yang ‘ Kebablasan’ 20-Jan-15 Rahmi Isriana
9 Penguatan Keluarga Sebagai Pondasi Perbaikan Moral Generasi Muda 21-Jan-15 Diah Kusumastuti
10 Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita! 21-Jan-15 supangkat

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita!

Posted on Updated on

Assalamu’alaikum sahabat, tidak terasa kita telah berada pada awal tahun 2015 ini. Dan tak terasa pula, kita telah melewati tahun demi tahun dengan banyak hal. Di sepanjang tahun 2014 kemarin, hal yang pasti kita alami adalah hal yang baik dan hal buruk. Jika kita mendapat kebaikan, maka kita akan bersenang. Tapi jika mendapat keburukan, maka kita akan bersedih dan terkadang merana.

Datangnya kebaikan atau keburukan kepada kita, tidak melulu soal takdir. Terkadang, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita lakukan. Ya, apa yang kita panen, adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dan pastinya, ketika kita menanam kebaikan, maka buah kebaikanlah yang akan kita petik. Namun celakanya, jika bibit keburukan yang kita tanam, maka buah keburukan pula yang akan kita rasakan.

Salah atau benar pada kita adalah hal yang manusiawi. Contohnya termasuk salah dalam menanam keburukan tadi. Namun akhir-akhir ini, kita tidak menyadari bahwa porsi kesalahan yang kita lakukan adalah lebih besar dibanding kebaikan yang kita kerjakan. Dan terkadang kita pun tidak menyadari jika kita sedang melakukan kesalahan-kesalahan besar.

Salah satu kesalahan besar kita sebagai manusia yang bermoral adalah, bersikap acuh tak acuh terhadap kerusakan moral-moral generasi penerus kita sendiri. Dan bahkan kita bersikap acuh pula terhadap “mereka” yang menjadi penyebab rusaknya moral bangsa tersebut.

Mereka berkeliaran di sekitar kita, kita malah cuek-cuek bebek. Mereka meracuni anak-anak, saudara dan keluarga kita, kita juga masih saja tak peduli. Ketika mereka telah membunuh orang-orang kita, barulah kita mulai menyesal. Tapi, tetap saja dengan penyesalan yang sesaat. Sesaat di sini dalam artian hanya menyesal saat itu juga, dan hanya mengecam “mereka” saat itu juga. Tapi setelah itu, kita menjadi bebek kembali.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka kita juga akan mereka jadikan sebagai target berikutnya. Bukan hanya saya ataupun Anda, tapi semuanya termasuk saudara dan keluarga kita tercinta. Dan akibatnya dapat dipastikan “mereka” akan membinasakan kita!. Itu bisa saja terjadi jika kita tidak segera bertindak.

Pertanyaan besar yang pertama adalah siapakah mereka?

Tak lain dan tak bukan mereka adalah minuman keras dan keluarganya yang sama-sama haram. Merekalah yang telah membunuh karakter bangsa dan merubahnya dengan karakter jahiliah kembali, yang identik dengan khamr. Naudzu billah..

Telah banyak kerugian yang ditimbulkan akibat minuman-minuman haram tersebut. Dan kerugian terbesarnya adalah runtuhnya moral serta ahlak anak-anak ibu pertiwi, yang mereka semua adalah keluarga besar kita sendiri.

Selepas penjajahan yang dilakukan belanda, aset terbesar yang dimiliki bangsa ini adalah ahlak baik dari penghuninya. Dengan ahlak yang baik, menjadikan bangsa ini bisa bersatu dari ujung papua sampai ujung sumatra. Dengan demikian, persatuan itu merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir para penjajah dari tanah ini.

Namun sayang sungguh sayang, senjata persatuan tersebut mulai dirusak oleh berbagai minuman yang haram. Bagaimana tidak, dekadensi moral akibat miras telah membuat banyak benih-benih perpecahan di sana-sini. Contohnya: tawuran antar pelajar, antar kampung, antar suku, agama atau kelompok-kelompok tertentu. Yang pasti benih-benih perpecahan tersebut akan tumbuh besar jika tidak segera dibasmi.

Berita perkelahian, pembunuhan, serta perlakuan kriminal lainnya, seolah menjadi santapan kita di pagi, siang, sore dan malam hari. Itu semua akibat apa? Ya akibat ulah buruk dari miras yang telah mencuci otak peminumnya hingga seperti binatang.

Minuman keras tidak bisa dipandang sepele lagi. Sebab minuman setan itu telah memberikan kerugian besar terhadap bangsa ini. Bahkan belakangan banyak nyawa melayang akibat miras oplosan. Astaghfiruwlah..

Masih diperjual belikannya miras, tentu akan membuat semakin banyak lagi yang akan menjadi pecandunya. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa miras telah menjadi minuman faforit bagi banyak kalangan dan profesi. Dari orang kaya sampai orang miskin, muda atau tua, bahkan wanita pun kini banyak yang menenggak miras. PNS, aparat keamanan, kepala desa, pelajar dan para pejabatnya pun banyak yang menjadi budak dari minuman haram ini. Dengan demikian, akibat yang ditimbulkan pastilah semakin besar lagi.

Kini, kita telah dikelilingi oleh miras, dan orang-orang yang suka terhadap miras-miras itu. Dan bisa jadi, miras telah masuk kedalam lingkungan keluarga kita.

Saya tidak ingin mengambil contoh dari siapa-siapa. Saya hanya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa adik pertama saya telah menjadi korban dari buruknya miras. Sebenarnya sangat malu saya menceritakannya di sini. Tapi untuk meyakinkan kepada Anda bahwa dampak dari miras sangatlah buruk, maka saya rela membuka aib ini.

Sedikit saya ceritakan bahwa dulu adik saya itu sama seperti adik-adik saya yang lainnya. Bisa dibilang ia adalah anak yang baik, paling tidak untuk orang seisi rumah ini. Tapi semuanya berubah ketika ia telah mengenal yang namanya miras. Perubahan yang terjadi sangatlah drastis hingga ia berubah total menjadi anak yang “jahat”. Saya berani mengatakan ia “jahat”, karena ia telah berani membangkang kepada kedua orang tua saya.

Apapun yang orang tua saya katakan, ia tidak peduli. Ia menjadi acuh tak acuh semau-maunya sendiri. Tidak punya tata krama lagi, dan tidak pernah bersikap sopan santun kepada semua orang di rumah ini. Bicaranya menjadi kasar kepada siapa pun. Mudah tersinggung, dan sering sekali marah jika ada sedikit saja yang menyinggungnya. Semua harus sangat berhati-hati ketika akan bicara dengannya. Tapi, dia sendiri tidak mau berfikir terlebih dahulu jika ia akan bicara.

Ketika ia marah, kata-kata kotor adalah hal yang biasa ia ucapkan kepada kami, termasuk kepada orang tua saya. Bahkan lebih parahnya lagi, ia pernah akan menebas bapak saya dengan parang, dan pernah pula akan membanting meja ke muka ibu saya. Ia sering cekcok dan berselisih kepada banyak orang. Tidak kakak-kakaknya, adik-adiknya, orang tuanya, sepupunya, malahan kakeknya yang sudah tua pun ia pernah musuhi. Apa lagi orang lain, sering sekali ia terlibat perkelahian.

Adik saya itu ketika mabuk, pasti marah-marah saat pulang. Semua orang menjadi cemas dan hawatir dengan kelakuannya. Apa lagi ibu saya yang menderita jantung lemah, sering sekali sakit setelah adik saya mengamuk. Sekarang adik saya itu ibarat beban berat bagi keluarga, dan bagi kedua orang tua saya. Tidak mau bekerja, apa lagi ibadah. Padahal dulunya ia sering ke masjid dan ke surau. Tapi kini hanya keluyuran kerjanya.

Sering minta uang kepada orang tua, tapi tidak mau sedikit pun membantu orang tua untuk bekerja. Di rumah hanya tidur, bangun siang langsung makan, setelah itu keluyuran lagi siang dan malam. Semua orang di rumah ini merasa tidak nyaman lagi tinggal jika masih bersama dia. Tapi apalah daya, bagaimana pun dia juga bagian dari keluarga ini.

Segala upaya telah kami lakukan untuk menjadikannya orang baik kembali. Termasuk menasehati, membujuk, dan mengajaknya ke tempat-tempat kebaikan seperti ke Masjid dan Surau. Tapi, itu semua seolah tidak ada gunanya.

Nasehat orang tua, bagaikan api yang masuk di telinganya, yang iapun harus mengeluarkan lagi api itu melalui mulutnya. Demi Allah ibu saya sangat sedih, sangat susah atas sikap adik saya itu. Ibu saya sampai sering menangis dibuatnya. Dan sampai sekarang ia tetap belum berubah. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berahir.

Sebenarnya saya sangat sedih. Tapi orang tua saya jauh lebih sedih dan menderita. Di usia yang sudah tua, selain harus memberi makan kepada 5 orang anak, mereka juga harus menanggung rasa sakit yang sering terjadi akibat ulah adik saya itu.

Belum lagi rasa malu, yang tidak tau lagi harus disimpan di mana. Yang jelas, miras sangat merugikan. Tidak hanya bagi peminumnya, tapi juga bagi orang-orang yang tidak pernah menyentuhnya.

Sahabat, adik saya hanyalah sedikit cerita dari kerusakan moral yang ditimbulkan oleh miras. Di luar sana, pastilah banyak kisah-kisah nyata lainnya yang lebih buruk lagi.

Dalam kasus ini, saya juga tidak mau menyalahkan sepenuhnya kepada adik saya, mengapa ia sampai meminum miras. Karena jika saya logikakan selain dari bujukan teman, ya karena miras itu masih ada. Coba kalau tidak ada, apa mungkin ia masih meminumnya?

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah miras, ya kita harus berantas dari akar-akarnya. Akarnya di mana? Pabrik-pabrik, produsen, serta pengimpor miras; Itulah akarnya. Jika mereka tidak ada, maka tidak akan ada juga yang menjual miras. Otomatis tidak ada pula yang akan mengkonsumsinya bukan?

Tapi jangan salah paham dulu. Pabrik dan produsen yang saya maksud ini bukan pabrik alkohol lo ya, karena pabrik alkohol itu untuk keperluan medis. Sedangkan yang saya maksud adalah, pabrik miras yang telah mencampur alkohol dan bahan-bahan lainnya untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

Nah, kemudian bagaimana cara memberantas pabriknya? Inilah caranya…

1. Persatuan dari Masyarakat

Untuk memberantas pabrik miras, memang bukanlah hal mudah. Kita juga tidak bisa seenaknya begitu saja melakukannya sendiri. Ini negara hukum, jadi main hakim sendiri adalah hal yang melanggar hukum. Dan tentu, jika melanggar kita bisa duduk berkeringat di meja hijau setelah itu.

Oleh karenanya hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah bersatu. Ya, bersatu untuk menyuarakan “TIDAK UNTUK MIRAS“. Bersatu untuk menyuarakan TUTUP PABRIK-PABRIK MIRAS, dan adili para produsen, distributor serta penjual yang masih melanggar.

Suara tersebut bisa kita wujudkan melalui tulisan di internet, seperti yang saya lakukan kali ini. Kita bisa meramaikan jagat internet dengan tulisan-tulisan tentang bahaya miras, dan juga ajakan untuk sama-sama menolak beredarnya miras di Negara ini.

Kita bisa menyebarkan tulisan-tulisan itu di forum-forum, dan juga ke berbagai media sosial agar banyak yang membacanya, dan agar semakin banyak yang sadar bahwa miras adalah minuman yang merugikan. Selain itu diharapkan juga agar pemerintah terbuka pikirannya, bahwa mayoritas rakyat tidak menginginkan miras lagi.

Bukan hanya di internet saja, tapi kita bisa melakukan demo damai di jalan-jalan untuk menentang berdirinya pabrik miras. Baik pabrik kecil atau pun yang besar, semuanya harus dihapus sampai ke sudut negeri ini. Untuk mewujudkan itu, sekali lagi dibutuhkan persatuan yang kuat dari rakyat kita.

2. Desak pemerintah untuk membuat undang-undang anti miras yang jelas

Selama ini, masih diproduksi dan diedarkannya minuman beralkohol adalah akibat dari ketidakjelasan hukum yang mengatur tentang miras tersebut. Hukum-hukum yang dibuat tidak tegas sehingga produsen dan penjual masih saja beraksi.

Lihatlah “Keppres No 3 tahun 1997” tentang miras. Pada Bab III tentang produksi peredaran dan penjualan, Bag 1 menyebutkan, “Produksi minuman beralkohol di dalam negeri hanya dapat diselenggarakan berdasarkan izin menteri perindustrian dan perdagangan…dst”

Wah, berarti bagi yang mengantongi izin, bisa memproduksi miras ya? Dan dengan izin itu, berarti malah akan mempertahankan pabrik miras kan? (sambil garuk-garuk kepala)

Pada pasal 4 bagian 1 “Dilarang mengedarkan dan atau menjual minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 2 di tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu lainnya yang ditetapkan oleh gubernur kepala daerah tingkat I setelah mendengar pertimbangan bupati/wali kota madya kepala daerah tingkat II”.

“Horee.. berarti kalau saya ingin minum, ya langsung aja ke tempat yang telah disebutin pak presiden. Dijamin aman kok.. 😉 (kata pecandu yang kegirangan)

Sahabat, lihatlah sepenggal keputusan-keputusan lucu yang dibuat tersebut. Makanya jangan bertanya-tanya lagi, mengapa sampai sekarang miras masih ada. Bahkan “Perpres No 74 tahun 2013” pun tidak banyak mengalami perubahan.

Kalau produsen oplosan kecil-kecilan digrebek habis-habisan, mengapa produsen minuman alkohol besar tidak? Apakah cuman masalah izin?

Padahal, efek buruknya pun kurang lebih sama. Lha wong sama-sama dari alkohol, ya jelas sama-sama memabukkan. Ingat, berapa pun kandungan alkoholnya, tetap saja kalau haram walau setetes tetap haram!!!

Oleh karena itu agar miras dapat diberantas, kita harus meminta kepada pemerintah untuk memberantasnya. Dan untuk itu, kita harus mendesak pemerintah agar bertindak tegas terhadap permasalahan miras, dengan membuat undang-undang yang tegas pula.

Tentu, untuk mewujudkan semua itu kita harus menanamkan poin pertama, yaitu persatuan dari masyarakat. Saya yakin, jika mayoritas rakyat menolak miras, maka pemerintah akan mengabulkan keinginan kita.

Sahabat, saya ingatkan lagi bahwa sampai saat ini telah banyak nyawa melayang akibat miras. Sudah terbukti bahwa miras telah mencicil rakyat ini satu demi satu, hingga banyak menimbulkan kehancuran.

Jika seperti ini terus, apakah negara ini bisa menjadi maju kalau generasi muda yang menjadi ujung tombak di masa depan telah dibuat tumpul? Sepertinya masih sangat jauh impian dan harapan kita.

Bahkan, jika perpecahan dan kerusuhan akibat miras masih terus terjadi, maka dihawatirkan Indonesia Raya, bisa saja lenyap dari peta dunia ini. Dan setelah itu, nasib kita semua pasti akan menjadi terpuruk.

Sahabat, jawablah dengan tegas pertanyaan terakhir ini. Apakah kita yang akan memberantas miras, atau menunggu miras yang akan membinasakan kita? Pilihlah jawabannya, dan berikan jawaban tegas Anda melalui komentar. Wassalam…

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Referensi :

1. KEPPRES NOMOR 3 TAHUN 1997
TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL : http://hukum.unsrat.ac.id/pres/keppres_3_1997.htm

2. Miras sampah Masyarakat : http://helmijuni.blogspot.com/2013/05/miras-sampah-masyarakat.html

Please like & share:

[Karya KBM3] Penguatan Keluarga Sebagai Pondasi Perbaikan Moral Generasi Muda

Posted on Updated on

Suatu ketika saya mendapati salah seorang teman saya tidak masuk sekolah. Sudah beberapa hari dia absen, tak ada izin, tak ada kabar. Ada beberapa teman yang rumahnya dekat dengannya mengatakan kalau dia sedang sakit. Tapi tak biasanya seperti itu, teman yang pendiam dan setiap harinya mengenakan jilbab itu tak mengirimkan kabarnya pada teman-teman dan sekolah.

Setelah lebih dari tiga hari, tak saya sangka, muncul desas-desus yang membuat kuping gatal dan tak mengenakkan hati saya. Bagaimana tidak, dia termasuk teman dekat saya, yang saya tahu dia anak baik-baik. Tapi, bagaimana mungkin dia hamil di luar nikah? Saat usianya masih muda, bahkan masih sekolah?!

Dan yang membuat saya sedih, ternyata desas-desus itu benar adanya. Ya, teman saya itu memang hamil di luar nikah dengan tetangganya. Dia diam saja, tak menceritakan hal itu pada siapapun hingga akhirnya kandungannya terus membesar dan menampakkan faktanya pada orang-orang di sekitarnya.

Cerita nyata itu sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih memakai seragam putih abu-abu.

Degradasi Moral Remaja

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh kasus nyata atas kerusakan moral remaja yang terjadi di sekitar kita. Tidak hanya sekarang, tetapi bahkan beberapa tahun yang lalu hal itu sudah terjadi. Mulai dari menyontek saat ujian, membolos sekolah, merokok, bullying pada teman, berani pada orangtua atau guru, sampai hamil di luar nikah.

Bedanya, sekarang degradasi moral yang terjadi pada remaja Indonesia kian menjadi-jadi. Kita tentu sudah sering menyaksikan atau membaca berita di media massa tentang berbagai kerusakan moral tersebut. Hampir setiap hari berita semacam itu tersaji di hadapan kita.

Akses informasi secara global yang kian mudah didapatkan semakin membuka celah bagi para remaja untuk melakukan berbagai tindakan di luar batas. Tersedianya perangkat teknologi informasi dan kemudahan akses internet dalam era globalisasi seperti sekarang ini, tak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab utama degradasi moral remaja.

Contoh sederhananya adalah, adanya handphone mempermudah para remaja melakukan kontak dengan lawan jenis yang bisa mengakibatkan hubungan lebih lanjut. Kemudian adanya internet mempermudah mereka mendapatkan informasi dan contoh pornografi yang nyata (misalnya dari tayangan di Youtube).

Akan tetapi, tentu kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya atas degradasi moral remaja pada era globalisasi yang kian bebas. “Serangan” dari luar memang bertubi-tubi. Baik berasal dari efek kemajuan teknologi, pergaulan di sekolah, ataupun pengaruh lingkungan di sekitarnya. Tetapi satu hal yang tak boleh dilupakan, kerusakan moral remaja bahkan sangat bisa terjadi akibat permasalahan yang berasal dari rumah.

Berawal dari Rumah                                   

Rumah, adalah lingkungan pertama seorang manusia sejak ia lahir. Dari rumah ia mengenal ibu bapaknya, lalu anggota keluarganya. Dari rumah ia mendapatkan pendidikan yang pertama sebelum ia mengenal dunia luar.

Pada kasus teman saya di atas, diketahui bahwa teman saya itu termasuk anak yang pendiam. Dia pun kurang terbuka pada kedua orangtuanya. Setiap hari dia di rumah hanya dengan adiknya, sedangkan kedua orangtuanya bekerja. Kurangnya kuantitas dan kualitas pertemuan antara orangtua dan anak-anaknya tersebut menjadikan adanya jurang pemisah di antara mereka. Komunikasi pun terbatas. Hingga masalah besar seperti yang dialami teman saya itu pun tak berani diungkapkan pada kedua orangtuanya.

Aib itu mungkin tak akan terjadi jika hubungan orangtua dan anak tak berjarak. Anak biasa terbuka pada orangtua, sebaliknya orangtua selalu membangun komunikasi dengan anak. Sehingga anak tak ragu atau takut untuk membicarakan hal atau masalah apapun yang dialaminya. Anak terbiasa “curhat” pada orangtuanya. Anak pun akan mudah mematuhi perintah ataupun nasehat-nasehat dari orangtuanya.

Sebuah keluarga yang kering tanpa adanya komunikasi yang hangat di antara para anggota keluarganya akan menjadikan rumah yang ditempatinya tak nyaman. Hal itu dapat menimbulkan anak mencari lingkungan lain yang lebih nyaman di luar rumah. Pada kasus-kasus tertentu, ketika anak sedang bermasalah, ia akan mudah terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang tak bermoral.

Sehingga tak jarang kerusakan moral remaja berawal dari kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Kehidupan anak-anak tak terpantau dengan baik oleh orangtuanya. Hingga akibatnya anak bisa berbuat semaunya, mencari kesenangan yang tak bertanggung jawab, berbohong, membolos sekolah, menyontek, tawuran, melakukan pelecehan seksual, dan sebagainya.

 

Contoh akibat broken home:

 

Penguatan Keluarga

Saya setuju sekali dengan pendapat salah seorang Guru Besar ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya yang juga merupakan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Bapak Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid, pada sebuah seminar parenting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Dalam makalah yang berjudul “Penguatan Keluarga dalam Pendidikan di Abad Digital” beliau menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang memperkuat keluarga dan masyarakat, bukan melemahkannya. Esensinya adalah, bahwa penguatan keluarga menjadi sangat penting untuk mendidik anak-anak berperilaku positif.

Karena, di era yang semakin modern seperti saat ini, tampaknya masyarakat Indonesia banyak yang berkiblat ke dunia Barat, di mana masing-masing laki-laki dan perempuan sebagai orangtua lebih mementingkan karir di luar rumah dan kurang perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Hal ini menjadi ironis, karena mereka sukses di dunia kerja tetapi mengabaikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak secara psikis. Anak-anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

Anak-anak korban broken home:

Rumah hanya dijadikan semacam terminal bagi anggota keluarganya. Hanya sebagai tempat singgah untuk istirahat atau tidur, tak lebih dari setengah hari. Sehingga tak ada ruang untuk bercengkerama dan berbagi masalah bersama-sama. Akibatnya, seringkali bermunculan perilaku-perilaku negatif sebagai bentuk pelampiasan kurangnya kasih sayang orangtua.

Telah banyak contoh kasus broken home dalam masyarakat Barat akibat dari siklus hidup sehari-hari masyarakat industrial seperti itu. Keluarga yang hancur dan anak-anak yang menjadi korbannya.

Maka, sebenarnya peran orangtua sangat penting bagi pembentukan moral anak-anaknya. Orangtua harus bisa membangun pondasi yang kuat bagi moral anak-anaknya sejak kecil. Sehingga ketika anak menginjak masa remaja, dia sudah siap untuk menerima tantangan yang begitu hebat dari lingkungan luarnya. Berkaitan dengan pembentukan moral yang baik, menurut saya sejak kecil anak-anak setidaknya harus dibekali dengan:

  • Pendidikan agama, seperti bagi seorang muslim mencakup pendidikan syari’at Islam dan akhlak yang baik. Hal ini jelas mutlak harus diberikan, karena menyangkut pertanggungjawaban dengan Allah SWT.
  • Pendidikan norma-norma dalam masyarakat, yang menyangkut aturan-aturan baik tertulis atau tidak tertulis dalam masyarakat dan negara. Karena moral seseorang pasti juga berkaitan dengan urusan norma-norma dalam masyarakat, seperti norma hukum, kesusilaan, dan sebagainya.
  • Pendidikan etika, mengenai nilai-nilai baik-buruk yang menyangkut tata krama (menyesuaikan dengan adat-istiadat di daerahnya masing-masing).

Dalam pendidikan di keluarga ini, peran ibu sangatlah penting. Karena seperti kita ketahui, ibu adalah sekolah (pendidik) yang pertama dan utama, dia adalah sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Itulah tugas mulia seorang ibu, mendidik anak-anaknya hingga kelak menjadi orang yang shalih/shalihah, bermoral dan berakhlak mulia.

Seorang pujangga termasyur dari Mesir, Ahmad Syauqi berkata:

Ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya (dengan baik), maka engkau menyiapkan sebuah generasi yang berkualitas tinggi.

Begitu pula dengan syair Hafizh Ibrahim:

“Seorang ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum”.

Moral Generasi Muda Sebagai Modal Bangsa

Tak dapat dipungkiri, masa depan bangsa adalah bergantung pada pundak para generasi muda masa kini. Kita tak bisa berharap negara akan maju secara lahir batin jika moral para pemudanya bobrok. Jika karakter negatif telah dimiliki oleh para pemuda, bisa dipastikan masa depan bangsa akan rusak di tangan mereka. Jika karakter negatif telah melekat pada mereka, untuk menjadi baik di masa depan sangatlah sulit. Maka, moral generasi muda harus dipersiapkan sebaik mungkin sebagai modal bagi kemajuan bangsa di kemudian hari.

Hendaklah kita ingat firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 9 yang artinya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Berawal dari pendidikan yang baik di lingkungan keluarga, moral anak akan terbentuk dengan baik pula. Karakter-karakter positif yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan baik sejak kecil akan tertanam dengan kuat, sehingga kita bisa berharap di masa mudanya karakter-karakter itu tetap melekat pada dirinya hingga dewasa nanti.

Tentu saja, menjaga dan merawat karakter-karakter atau moral yang baik itu sungguh tak mudah. Perlu keistiqamahan dari pihak keluarga (orangtua) untuk menjaganya. Selain itu menjaga moral baik adalah kerja bersama antara keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat, dan instansi-instansi terkait seperti pihak kepolisian dan lain-lain.

Pelanggaran norma-norma dalam masyarakat oleh para pemuda harus diberikan sanksi yang tegas dan mendidik, yang bertujuan meluruskan dan memberikan pengalaman demi kebaikan mereka sendiri. Jadi, bila di sekitar kita ada peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, sudah seharusnya kita berani menegur mereka dengan cara yang baik, bukan mendiamkannya saja.

Kesimpulannya, selain penguatan keluarga adalah yang utama, perbaikan moral generasi muda adalah tugas kita bersama. Sebagai orangtua kita wajib mengawal mereka, kita tak bisa “pasrah bongkokan” (menyerahkan sepenuhnya) pendidikan anak-anak kita pada sekolah. Begitupun, kita tak boleh hanya menyalahkan lingkungan apabila kerusakan moral mulai menerpa anak-anak kita. Sebagai orangtua kita wajib pula mengontrol setiap kegiatan anak baik di dalam atau di luar rumah. Dan benteng terakhir, adalah doa. Doa yang tulus dari orangtua untuk kebaikan anak-anaknya, insya Allah akan memuluskan jalan mereka untuk sukses di dunia dan akhirat.

Saya sebagai orangtua khususnya sebagai ibu, sangat berharap moral generasi muda di Indonesia bisa membaik dari waktu ke waktu. Memang, melihat kemajuan dunia di abad digital seperti sekarang ini harapan itu tampak bagai fatamorgana. Tapi bila para orangtua khususnya para ibu mau memulainya dari rumah mereka masing-masing, insya Allah harapan saya bisa terwujud kelak di kemudian hari. Aamiin.

Info mengenai dunia Islam bisa mengunjungi:

Please like & share:

[Karya KBM3] Pemakluman Lingkungan yang ‘ Kebablasan’

Posted on Updated on

” Ah gak apa-apa, masih muda kok. Nanti juga kalau waktunya dapat hidayah dia bakalan pakai jilbab sendiri. Hidayah kan sendiri-sendiri “

Acap Kali saya sedih mendengar komentar seperti diatas, terlebih jika itu keluar dari mulut orang-orang terdekat saya. Ingin rasanya saya lantas menjelaskan apa-apa yang seharusnya kita lakukan dalam versi pemahaman saya, tapi selalu urung. Saya menyadari, saya ini tipikal orang yang keras jika sudah membicarakan hal prinsip – terlebih tentang tuntunan hidup menurut Qur’an dan Sunnah – saya biasanya akan terus berusaha menjelaskan, tapi sekarang saya mulai diam. Saya diam sebab saya sudah bingung harus bicara bagaimana lagi.

QS. Al-Ahzab: 59, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya (*) ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

(*) Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Dari ayat tersebut diatas, kita lihat bahwa Allah memerintahkan kaum perempuan untuk menutup aurat dengan baik. Allah sendiri yang mengatakan dalam firmannya, dimana ayat tersebut adalah perintah yang sangat tegas dan wajib dilakukan bagi perempuan yang beriman. Darimana kita tau bahwa ayat tersebut adalah ayat yang tegas ? Jawabannya ada pada ayat di bawah ini :

An-Nurr (1) : (ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan didalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya

Ayat pembuka dari surat An-nurr diatas tegas menjelaskan bahwa hukum wajib untuk mengikuti perintah yang kemudian termaktub di ayat selanjutnya dalam surat tersebut. Salah satu perintahnya adalah tentang perintah menutupi aurat -pun sudah diatur cara untuk menutupi aurat pada kaum perempuan -yang jika tidak dilaksanakan maka akan mendapatkan dosa yang berat.

Perintah menutup aurat adalah perintah yang diturunkan sebagai bukti kasih sayang Allah pada kaum perempuan. Sebagai bukti betapa Allah memuliakan kaum perempuan dengan perintahnya tersebut. Bahkan Di ayat yang saya contohkan diawal ( Al-ahzab : 59 ) Allah menyertakan keterangan bahwa salah satu tujuan Allah memerintahkan hal tersebut adalah supaya mereka tidak di ganggu. Dan apa yang Allah katakan adalah kebenaran yang paling benar. Yang paling hakiki.

Contoh gampangnya saja kita lihat, perbedaan perempuan yang menutup aurat dengan yang tidak menutup aurat adalah saat diganggu Pria iseng misalnya. Kita akan emndapati siulan atau bahkan omongan tidak senonoh jika para lelaki nakal menganggu perempuan yang tidak menutup aurat. Tapi kita coba lihat pada perempuan yang menutup Aurat, mungkin godaang dan gangguan itu tetap akan ada namun datang dalam bentuk yang sangat baik. Celetukan godaan itu paling hanya di sekitar ” Assalamualaikum “ Atau ” Mau kemana bu Hajjah ?” . Cob, bahkan kenakalan dan keisengan yang mendatangi pun dalam bentuk doa yang baik, salam yang baik. Maka adalah benar perintah Allah untuk menutupi aurat bagi kaum perempuan bukanlah sebagai pembatas dirinya tapi justru sebagai gerbang kebebasannya.

Banyak teman saya khawatir akan terbatas aktivitasnya jika mereka mengenakan Hijab. Mereka Khawatir nantinya akan jadi sulit bergerak sebab terhalang Jilbabnya, mereka akan jadi tidak modis karna tidak bisa mengenakan pakaian yang bergaya ini itu, mereka akan kepanasan sebab seluruh tubuhnya tertutup kain. Seperti contoh obrolan saya dengan seorang kawan yang akan saya kutip dengan dialog dibawah ini :

Teman ( T ) : ” Nanti kalo pakai Jilbab aku jadi gak leluasa bergerak. Gak bisa ikut kegiatan ini itu.

Saya ( S ) : ” Masa iya? Kok aku melihat justru yang membuka Aurat itu yang gak leluasa yah. aku sering lihat di angkutan umum mereka sibuk membenahi pakaian mereka yang terbuka, menutupinya dengan tas atau jaket. Sementara yang berjilbab, duduk tenang dan santai saja. Aku juga sering lihat loh, banyak perempuan-perempuan yang tetap santai berjalan di terik matahari tanpa takut kena panasnya dan gak lari-larian karna takut hitam. Pakaian mereka yang tertutup sudah cukup untuk melindungi kulit mereka.

(T) : Wah, nanti aku gak cantik lagi deh kalo pake Jilbab. Kulit putih aku ketutupan, rambut aku yang indah panjang dan berkilauan di sembunyikan. Ngapain coba capek-capek keramas dan luluran kalo gak ada yang lihat?

(S) : Wah, Justru Menutup aurat akan menjaga usahamu itu. Udah capek-capek luluran terus mau kamu biarin kulit kamu itu kena debu di jalan, kena matahari gitu aja? Tutupin dong. Udah mahal-mahal kesalon buat perawatan rambut nanti acak adut lagi kena angin di jalan. Lagi pula, Allah memang sengaja melindungi tubuh perempuan dari pandangan yang bukan Mahromnya. Mereka gak punya hak apapun untuk melihat tubuh kamu.

(T) : Gak pake Jilbab aja udah panas banget, gimana pake jilbab? Gak kuat deh.

(S) : Hukum menutup aurat itu wajib. Tidak melakukannya berdosa sama seperti kamu tidak sholat. Dan hukumannya adalah api neraka. Kalo kamu aja merasa gak sanggup menanggung panas matahari, maka api neraka panasnya jauh lebih dahsyat dibanding itu.

Seringkali saya berusaha meluruskan, bahwa menutup aurat bukan saja tentang hidayah pribadi. Tapi sudah kewajiban. Bahwa menunggu hidayah datang tanpa berusaha, sama artinya seperti menunggu Godot. Sulit dan tidak akan pernah terwujud. Tidak akan ada yang tau sampai kapan usia kita di dunia, dan kematian adalah batas yang samar dibalik semua usaha kita. Lakukan sekarang atau kita akan menyesal.

Kewajiban yang saya bicarakan ini bukan cuma isapan jempol. Sudah saya contohkan bahwa Allah menurunkan perintah tentang hal ini dan mewajibkannya di awal surat An-Nurr diatas. Dan mari kita tengok apa ayat yang mengatakan tentang perintah menutup aurat bagi kaum perempuan tersebut :

An Nurr ( 31 ) : Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) (*) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

(*) Yang Biasa tampak Mengandung pengertian Wajah dan telapak tangan. Hal ini ada pada HAdist Rasulullah yang dituturkan oleh Aisyah Ra : ” Suatu ketika datanglah anak perempuan dari saudaraku seibu dari ayah ‘Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tetapi tiba-tiba Rasulullah saw. masuk seraya membuang mukanya. Aku pun berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung.” Beliau kemudian bersabda, “Apabila seorang wanita telah balig, ia tidak boleh menampakkan anggota badannya kecuali wajahnya dan ini.” Ia berkata demikian sambil menggenggam pergelangan tangannya sendiri dan dibiarkannya genggaman telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya). (HR Ath-Thabari).

Nah, penjelasan diatas artinya sudah pasti bahwa menutup aurat bukan lagi tentang cultur Arab, hidayah atau bahkan sekedar fashion semata. Tapi adalah kewajiban. Dan hal itu haruslah di paksakan. Seperti halnya sholat, melakukan kewajiban menutup aurat ( Berhijab ) harus melalui paksaan yang keras. Terutama jika perempuan tersebut sudah akil baligh. Sebuah paksaan akan membuat individu akhirnya menggunakan, setelah menggunakan dia akan belajar untuk terbiasa, lantas setelah menjadi kebiasaan dia akan menerima keadaan itu dengan ikhlas, dan akhirnya keihklasan akan menciptakan cinta di dalam keadaan itu. Disitulah hidayah muncul, dia datang saat ikhlas dan cinta sudah terpatri didalamnya. Dan hanya 1:1000 manusia yang Allah beri hidayah tanpa perlu paksaan. Bahkan perubahan drastis yang muncul dari seseorang yang menurut kita tanpa paksaan pun adalah hidayah dari Allah dalam bentuk paksaan cara Allah. seorang yang mendadak berhijab adakalanya telah melihat, mendengat atau bahkan mengalami sendiri suatu kejadian yang menyadarkannya. Biasanya itu berupa teguran, azab atau musibah dari Allah. Wallahualam.

Lantas, setelah seharusnya paksaan itu terjadi pada perempuan-perempuan disekitar kita, kita menjadi takut untuk melalaikannya. Juga para lelakinya. Sebab sepemahaman saya yang dangkal ini, bahwa kaum pria itu bertanggung jawab atas 4 perempuan dalam hidupnya. Yaitu : Ibunya, Istrinya, saudara perempuannya dan Anak perempuannya. Maka dari itu, sebagai perempuan yang berfikir, artinya apapun yang kita lakukan di dunia ini kelak nanti bukan hanya kita sendiri yang menanggungnya, tapi juga 4 pria di sekitar kita yaitu : Ayah kita, Suami kita, anak lelaki kita dan saudara lelaki kita. Andaikata kita tidak berhijab, maka kita tidak hanya berdosa sendirian, tapi juga menyeret ke empatnya dalam kubangan dosa yang sama. Naudzubillah.

Ada sahabat saya yang mengatakan, bahwa berhijab itu haruslah siap lahir dan bathin. Tidak bisa dipaksakan dan harus dari hati. Tidak masalah tidak menutup aurat secara fisik, asalkan hatinya sudah berhijab.

Itu adalah frasa klise buat saya. Saya akui, kita memang tidak bisa saklek dalam mengutarakan pendapat. Tapi, kelemahan kita dalam menyampaikan syiar agama, terlalu menghindari konflik dan takut terjadi benturan jika menyampaikan dengan tepat, adalah sarana ampuh syetan untuk masuk dan menggoda syiar kita. Saat kita memaklumi adanya kewajaran belum berhijab sebab belum siap, asalkan pribadi yang bersangkutan tetap beribadah sesuai syariat islam ( Sholat, zakat, dsb ) adalah salah satu sebab mengapa akhirnya banyak dari kaum perempuan yang tetap percaya diri membuka auratnya di depan yang bukam mahromnya. Pemakluman itu adalah hal yang tanpa kita sadari sudah melenakan kita semua.

Sadar ataupun tidak setiap kali kita melakukan shalat 5 waktu kita senantiasa bersumpah kepada Allah SWT, “La syarikallahuwabidzalika ummirtuwa anna minal muslimin. “ Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah” kalimat sumpah dan janji kepada Allah untukmentaati perintah Nya dan Menjauhi larangan Nya senantiasa kita ucapkan di dalam shalat. Dan jika kita tidak menutup aurat, maka sumpah dan janji kita pada Allah saat sholat adalah palsu. sebab menutup aurat adalah perintah Allah untuk perempuan muslimah. Dan seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya di dalam neraka.

Tentunya jangan khawatir, sebab Allah Dalam surat An Nurr ( 31 ) hanya memerintahkan kewajiban menutup aurat bagi mereka kaum perempuan yang beriman. Maka bagi yang tidak beriman pada Allah, tidak perlu pusing dan takut untuk membuka aurat. Silahkan membuka aurat, sebab setelah itu Allah tidak akan menganggapmu beriman.

ada hal lucu yang pernah diajarkan ibu saya dahulu tentang menutup aurat. Karna saat itu saya masih kecil, ibu saya menggunakan contoh makanan sebagai penggambarannya. Namun justru karna mudah dipahami itulah akhirnya saya memutuskan untuk berhijab.

Ibarat makanan, perempuan berhijab dan tidak berhijab adalah makanan yang terbuka dan tertutup. Kita akan mendapati makanan yang terbuka dijual di pinggir jalan, dengan harga murah dan terkenan banyak debu. Pembeli pun akan dengan entengnya mencomot dari satu ke lainnya untuk memilih mana yang akan akhirnya mereka beli. Misalnya pisang goreng yang dijual di pinggir jalan. Entah sudah berapa tangan pembeli yang menyentuhnya, lalu urung membeli dan memilih pisang goreng yang lain. Entah sudah berapa banyak debu yang menempel di pisang goreng tersebut, dan harganya sangat murah. Siapapun bisa membelinya. Lalu makanan yang tertutup, dibungkus rapi dengan plastik, akan disimpan dengan manis di etalase. Siapapun tidak berani menyentuhnya, apalagi membukanya. Dilihat boleh di sentuh jangan, sebab siapapun yang menyentuhnya haruslah membelinya. Tidak ada satu butir debu pun yang bisa hinggap, ia akan terlindung dari panasnya matahari dengan kualitas rasa yang tetap sempurna. Bahkan, yang membelipun bukan orang sembarangan. Dengan harga yang pasti lebih mahal, hanya mereka yang telah mapan saja yang mampu membelinya. Hanya mereka yang berfikir untuk sehat saja yang akan menjadi pemiliknya. Mereka yang pelit, akan sayang membeli makanan mahal jika ada yang murah. Sementara begitu banyak debu yang jelas akan menjadi biang penyakit di tubuh pembeli.

Masih tentang makanan, jika kita cukup berhijab dalam hati saja apakah makan juga bisa dalam hati saja? Ibadah -termasuk didalamnya adalah berhijab- adalah tentang luar dan dalam, fisik dan psikis, lahir dan bathin. Apakah jika kita lapar maka kita akan kenyang jika hanya makan di dalam hati saja? Maka itu, hati memang harus berhijab, namun fisik lebih penting lagi. Tidak hanya fisik yang perlu ditutupi, namun hati juga.

Banyak yang mengatakan, bahwa ada perempuan yang berhijab namun hatinya busuk. Tapi ada pula perempuan yang tidak berhijab tapi berhati baik. Bahwa sebaik-baiknya perempuan adalah yang menutupi auratnya. Dan andaikata dia memiliki hati yang buruk, paling tidak dia sudah menjalankan perintah Allah dan menunaikan kewajibannya. Tinggal membenahi hatinya saja. Jangan sudah buruk hati, tidak berhijab pula. Tapi sebaliknya, jika tidak berhijab tapi hatinya baik, saya justru mempertanyakan kebaikan hatinya. Sungguhkan ia memang baik hati? lalu mengapa ia tidak melaksanakan kewajibannya pada yang memilikinya, Allah Ta’alla.

Selayaknya, kita harus membiasakan diri untuk terus menegur keluarga terdekat kita yang belum berhijab, kerabat kita dan orang disekitar kita. Kebaikan akan melingkupi kita jika bergaul dengan orang-orang yang mencintai dan mematuhi perintah Allah. Mulailah untuk memperkenalkan keindahan hijab dengan cara yang menyenangkan, dengan bahasa yang mudah diterima, dengan sikap yang akan menarik hati mereka untuk mengikuti kita berhijab. Bagaimanapun segalanya bermula dari kesadaran masing-masing individu, termasuk diri kita sendiri.

Segalanya memang harus dimulai dari diri sendiri. Apakah kita sudah berhijab? Apakah keluarga terdekat kita sudah menutup aura? Apakah keluarga besar kita masih ada yang tidak dari klasifikasi perempuan beriman karna masih mempertahankan dunia dan tidak berhijab? Segalanya harus dimulai dari diri kita sendiri. Namun sadarkah, jika saja semua berfikiran sama, bahwa berhijab adalah tanggung jawab kita bersama maka niscaya seluruh wanita muslim di dunia ini akan menjadi muslimah yang taat pada syariat Allah. Tanpa keraguan. Maka dari itu, kitalah yang harus menghentikan pemakluman itu, terus dorong sekeliling kita untuk berhijab. Terus semangati mereka untuk menutup auratnya dengan baik. Hanya itulah persembahan terbaik kita pada Allah yang maha penyayang. Subhanallah.

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Dibilang Moralnya Merosot, Inilah Pendapat Saya Sebagai Salah Satu Pemuda Yang Kecanduan Internet

Posted on Updated on

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa – Aduh, lagi-lagi kita generasi muda yang kena. Di pundak kita sudah disuruh memanggul beratnya nasib masa depan negara, mungkin beratnya setara dengan dosanya. Sekarang di era globalisasi di mana kaum muda yang mayoritas aktif mengaksesnya dengan teknologi, selalu diwanti-wanti berulang kali sampai telinga budeg. Sesekali berlagak pura-pura tidak mendengar seperti pelawak Haji Bolot sepertinya ide bagus untuk menghadapinya.

Wanto-wanto, eh maksudnya wanti-wanti yang sering saya dengar sampai saya sangat hafal (mengalahkan hafalan doa qunut) sekalipun tidak pernah berniat menghafalkannya adalah wanto-wanti dilarang kebarat-baratan. Kita tau bahwa dalam globalisasi, budaya mereka lah yang paling kuat pengaruhnya melebihi boyband dan girlband serta drama Korea yang kalau kita menontonnya dengan khusyu’ dan berjamaah bisa sampai menangis bawang bombay yang diimport langsung dari India. Kenapa bukan nangis ginseng saja sekalian.

Apa salahnya sih budaya barat? Mereka kalau antri tertib, sedangkan kita antri beli tiket nonton sepak bola saja bisa merusak pagar, apalagi antri sembako dan daging qurban? nyawa bisa melayang. Mereka penyayang binatang sampai-sampai diperbolehkan naik dan tidur di atas kasurnya, sedangkan kita justru sebaliknya, memperlakukan manusia seperti binatang. Mereka pintar dan work hard play hard, sedangkan kita waktu muda play hard setelah tua baru ngoyo work hard. Jelasnya, negara mereka maju dan bukankah Indonesia bermimpi ingin maju setara dengan mereka bahkan kalau bisa melebihinya?

Memang sih ada sisi kurang baiknya dari mereka, seperti: Suka minuman keras bahkan usia di bawah 21 colong-colongan membelinya di toko yang dijaga lumayan ketat. Tapi bukankah kita lebih edan dari itu, suka oplos*n diaduk dengan lotion anti nyamuk berbagai merk yang kalau boleh saya tuliskan tanpa sensor yaitu Autan, Saripuspa, Lavenda dan sebagainya? Pantas saja kalau diminum menyebabkan mulut keluar busa putih seperti mau nyuci pakaian dan nyawanya diculik oleh makhluk asing bernama Izrail untuk dilempar ke neraka yang paling dalam kemudian keesokan harinya masuk berita di TV yang berlogo ikan terbang. Mereka melakukan s*ks bebas dan kemana-mana bawa balon pembungkus kelam*n dengan cara diselipkan dikantong kecil khusus yang terletak disebelah kanan pada celana Jeansnya buat persiapan/jaga-jaga. Tapi bukankah kita lebih parah yaitu cuma beralaskan koran bekas dan jika membuahkan hasil, bayinya dibuang hidup-hidup di sungai atau semak-semak sampai-sampai beritanya mendunia dan sukses membuat warga Palestina iri karena mereka kekurangan anak-anak sedangkan kita justru dibuang sembrono begitu.

Tentang mereka suka pakaian mini yang biasa disindir dengan kalimat kurang bahan, saya tidak tau apakah itu hal buruk atau bukan. Mereka memakainya kalau musim panas sedangkan musim dingin pakaiannya lebih tertutup. Mereka berpakaian terbuka seperti itu sekaligus untuk berjemur untuk mendapatkan kulit yang agak gelap karena asalnya memang kulit mereka terlalu putih cenderung kemerahan berbintik-bintik seperti anak babi yang baru lahir dan menurut mereka termasuk saya kulit seperti itu menjijikan. Yang jelas cowok-cowok di sana sudah kebal mata. Pada celana bagian paha atas tidak akan terasa menjadi agak sempit karena reaksi biologis yang disebabkan hanya melihat ketiak. Mungkin sama seperti ketika saya melihat wanita Irian Jaya dengan pakaian tradisionalnya. Salahkah pakaian adat Irian Jaya? Saya tidak tau, saya cuma tau fungsi dasar pakaian selain buat menghangatkan badan saat musim dingin tapi juga untuk melindungi kulit dari gangguan gigitan binatang kecil seperti semut yang genit, nyamuk yang nakal, ataupun kutu yang seharusnya bersarang di kepala singa yang gondrong dan model potongan rambut yang khas ala raja hutan itu. Jadi pakaian semakin tertutup seharusnya semakin bagus. Fungsi tambahan lainnya buat kesopanan dan keindahan di depan publik. Silakan tentukan sendiri gaya pakaian anda berdasarkan kondisi dan aturan budaya setempat serta tuntunan agama masing-masing. Jadi seandainya ada cewek ABG alay Indonesia, cabe-cabean, kimcil atau apalah sebutannya, meniru berpakaian minim kemudian melewati gerombolan cowok-cowok hingga berhasil membuat jakun mereka naik turun karena menelan air liur sebagai bentuk pencegahan dasar supaya tidak ngiler, adalah salah besar. Jangan salahkan cowok terong-terongan tersebut menjadi mes*m dan melakukan hal yang tidak diinginkan (khusus terong-terongan, kalau cowok yang sudah dewasa seharusnya sudah bisa menahan dan mengontrol diri). Lagian ngapain sih jenis kulit Indonesia mau dijemur juga, ingin gosong seperti singkong bakar? Kalau ingin meniru mbok ya pilih-pilih yang sesuai dengan kondisi dan keadaan di sini. (maaf ya paragraf tentang pakaian ini jadi panjang seperti emak-emak yang sedang ngomel memarahi anaknya yang moralnya sedang merosot).

Jadi menurut saya budaya barat tidak sepenuhnya jelek, budaya timur tidak sepenuhnya bagus, budaya timur tengah tidak sepenuhnya kolot, dan budaya luar angkasa kalau memang benar adanya alien tidak sepenuhnya paling canggih. Kita semua generasi muda dari negara manapun sama, sama-sama sedang ditugasi untuk berjuang memajukan bangsa dan negara masing-masing. Dan mungkin juga sama-sama sedang ‘difitnah’ oleh generasi tua sebagai generasi yang moralnya sedang merosot bahkan nyungsep bagaikan anak gendut yang kepalanya jatuh lebih dulu waktu meluncur pada mainan perosotan di sekolahan Playgroup.

Hal yang membedakan cuma persepsi saja, orang barat menganggap orang timur sebagai orang terbelakang sedangkan orang timur menganggap orang barat sebagai orang yang terlalu bebas. Padahal keduanya ada nilai plus minusnya. Nah di era globalisasi inilah kesempatan kita untuk mengenal budaya mereka, mengambil nilai positifnya dari mereka untuk menggantikan sisi jelek pada diri kita yang memang sudah seharusnya dibuang ke Bantar Gebang. Bukan malah saling menjelek-jelekan. Globalisasi merupakan persaingan, siapa yang mempunyai kemampuan dan kualitas terbaik akan menang. Mengalahkan lawan dengan menjelek-jelekan bukan cara yang elegan, apalagi jika orang yang menjelek-jelekan ternyata lebih jelek.

MENGHADAPI AFTA DAN GLOBALISASI YANG NYATA
Membahas AFTA sebetulnya hal yang cukup sulit buat saya. Mungkin karena sekian CC ukuran otak saya lebih kecil di bawah rata-rata. Seandainya saya belum terlanjur menulis sebanyak di atas, lebih baik saya hentikan saja. Tapi sudah kepalang tanggung dan dari pada saya main internet cuma upload foto selfie dan dicaption dengan hashtag yang banyak terus klik ‘like’ sendiri seperti kebiasaan alay-alay lainnya yang lebih mirip haus perhatian dan minta diperhatikan, lebih baik saya lanjutkan menulis saja. LANJUTKAN !!!

Saya mendengar AFTA sudah dari dulu bahkan sebelum Presiden Pak Dhe Jokowi “lahir”. Sayangnya yang saya dengar hanya sedikit saja. Gosip dari bisik-bisik tetangga saya yang hobinya arisan uang bukan brondong, mengatakan AFTA sebetulnya mau diperlakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun, biasalah mundur. Nah di tahun 2015 ini, masih dari narasumber tetangga saya tapi kali ini bukan yang suka arisan melainkan yang mengaku kenal dekat dengan Koh Ahok, mengatakan AFTA mau benar-benar diberlakukan.

AFTA adalah kependekan dari Asean Free Trade Area atau Perdagangan Bebas Area Asean. Keuntungannya kita bisa jual-beli barang dari sesama negara anggota Asean dengan bebas pajak. Ingat ya, maksudnya adalah bebas pajak bukan bebas jual-beli barang terlarang apalagi jual diri. Aturan perdagangan sehat tetap ada dan memang harus ada. Di balik keuntungannya ada juga tantangannya, yaitu kita akan bersaing ketat dengan negara berpendidikan lebih tinggi, seperti misalnya Singapura yang mayoritas muka ceweknya sangat imut cenderung unyu-unyu dan Malaysia yang bahasanya hampir mirip dengan bahasa kita atau mungkin bahkan lebih “lucu” selucu kartun favorit saya, Upin Ipin. Apakah kita sudah siap dan sanggup?

Sanggup gak sanggup bagaimanapun harus dihadapi karena itu adalah kenyataan yang sudah tampak di depan mata bukan seperti di acara Dunia Lain nya TransTV yang kalau sudah tidak sanggup melihat penampakan bisa melambaikan tangan ke kamera dan kemudian tim akan mendatangi pemain untuk menghentikan permainan. Soal persiapan, bagaimana mau siap bersaing dalam dunia yang membutuhkan kecerdasan dan mental kuat seperti baja yang tahan dibanting kalau menyelesaikan masalah dalam diri berupa kerusakan moral seperti mes*m, bertikai, mab*k, sak*w dan sebagainya saja belum becus? Jangan-jangan sebelum peluit persaingan ditiup kita sudah keok dan dilibas duluan seperti sapi dan mesin penggilingan dalam pabrik bumbu masak Royco.

Selain akan berdampak dalam bidang ekonomi, AFTA pasti akan mempengaruhi bidang sosial, budaya, dan mungkin bahkan ideologi juga. Dengan diberlakukan AFTA otomatis kita bebas sekolah atau kerja di negara sesama anggota AFTA lainnya. Begitu juga sebaliknya, banyak orang dari luar negeri yang mempunyai budaya beda dengan kita akan kerja di sini. Globalisasi yang sebelumnya dalam dunia maya, sekarang makin tampak dalam dunia nyata. “Wow emejing…emejing”, begitulah kata yang sering diucapkan Om Tukul Arwana kalau bawain acara Bukan Empat Mata untuk menyatakan kagum. Kondisi seperti itu mungkin kita akan banyak bertemu dan berteman dengan orang asing yang berasal dari negara entah berantah. Saran saya pintar-pintar saja bergaul. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kalau ingin meniru budaya dan kebiasaan mereka, pilih-pilihlah yang positif dan yang cocok untuk diterapkan sebagai jati diri bangsa Indonesia. Soalnya kalau tidak cocok dan tetap dipaksakan, bisa-bisa kita dituduh moralnya merosot entah ke mana mungkin salah alamat dan budaya luar yang kita tiru langsung dijudge jelek. Padahal kan selebay itu.

HAL-HAL YANG BIASA DITUDUH SEBAGAI PENYEBAB MEROSOTNYA MORAL GENERASI MUDA
Saya pernah baca seseartikel di Wikipedia yang menyatakan bahwa moral termasuk produk budaya dan agama. Seandainya ada orang yang berperilaku bertentangan dengan budaya dan agama setempat maka bisa dikatakan amoral. Internet merupakan sarana yang bisa untuk mengakses segala informasi mulai dari barat sampai timur, deisme sampai satanisme, hal yang seharusnya privat dan rahasia sampai akhirnya diblenjeti oleh wikileaks yang memang punya hobi bongkar-bongkar, sehingga internet sering dijadikan tersangka utama dalam kasus kemerosotan moral.

Saya sebagai salah satu orang yang termasuk kecanduan internet karena kadang-kadang rela mengurangi jatah tidur hanya untuk browsing gak jelas, menyatakan tidak setuju kalau ada orang yang menyalahkan internet (yaelah, ketidaksetujuan saya pilingan karena sudah terlalu cinta dan bergantung pada internet. Biasalah, cinta membuat orang buta meski sering di PHP). Beberapa alasan saya untuk tidak menyalahkan internet iyalah:

1. Jauh sebelum internet ada, memang sudah banyak orang bej*d seperti misalnya Firaun- orang yang kisahnya abadi sepanjang peradaban.
2. Jauh sebelum adanya internet dan p*rn*grafi di dalamnya, sudah ada kaum yang melakukan penyimpangan s*eksual hingga menyebabkan kaum tersebut dilaknat dengan bencana.
3. Saya pernah baca sejarah nusantara katanya sudah dari jaman kerajaan dulu pemuda suka mab*k-mab*kan, minum t*ak, m*dat, dan melec*hkan lawan jenis dengan menganggap perempuan hanyalah barang. Mereka tetap saja ajep-ajep menikmati sisi gelapnya kehidupan meski minumnya cuma pakai gelas bambu diterangi lampu minyak apalagi boro-boro diiringi musik DJ.
4. Waktu saya googling mencari foto-foto sejarah Indonesia, saya menemukan beberapa foto wanita bali jaman dahulu. Dalam foto yang masih hitam putih dan diambil sebelum Indonesia merdeka tersebut, para wanita berpakaian dengan kain cuma menutup bagian pinggang kebawah. Sedangkan bagian atasnya terbuka. Kalau mau berpakaian “benar versi sekarang” bukankah sebaiknya kain tersebut ditarik ke atas untuk menutupi dada dan membiarkan bagian lutut kebawah yang terbuka?

Dari alasan-alasan yang sudah saya tuliskan diatas, masihkah menyalahkan internet sebagai penyebab utama kemerosotan moral?

Benda mati tak berdosa lainnya yang sering dituduh sebagai penyebab kemerosotan moral kedua ialah televisi. Saya sendiri juga bingung kepada keponakan saya yang masih sekolah. Sewaktu sekolah dibubarkan lebih awal gara-gara guru kelasnya kena musibah ibunya meninggal dunia, keponakan saya di rumah menghabiskan waktu dengan menonton TV gonta-ganti dua chanel. Chanel pertama film FTV remaja yang temanya tentang cinta dan adegannya pacaran tapi dengan setting background sekolahan. Gaya hidupnya hedonis. Pemain ceweknya berdandan…Oh Em Ji, hello…menor cetar membahana maksimal bingitz mengalahkan glamornya Princess Teteh Syahrini. Sedangkan cowoknya gak mau kalah, memamerkan mobil sport mewahnya yang berhasil membuat saya iri. Chanel kedua iyalah pertunjukan musik yang disiarkan tiap pagi secara live dan penontonnya adalah cabe-cabean dan terong-terongan dengan jogetan khasnya yaitu gaya cuci-cuci jemur-jemur (ituloh, jogetan sambil berdiri tangan disamping memperagakan seperti sedang ngucek cucian kemudian setelah itu tangan dikedepankan seperti sedang jemur pakaian, dan mulut teriak eee….aaa.. Sudah paham belum? Kalau belum memang lebih baik gak usah paham sekalian saja). Gila, acara begituan di jam kerja dan target penontonnya usia produktif. Padahal dalam acara tersebut penyanyinya adalah sekuter (selebritis kurang terkenal) yang memanfaatkan aji mumpung karena namanya agak terkenal sebagai pemain sinetron. Teman saya saja dengan sok taunya bilang bahwa sebagian dari mereka cuma lipsinc. Meski cuma sok tau, saya perhatikan ada benarnya juga. Masa’ penyanyi ajimumpung dan baru, bisa nyanyi sambil joget enerjik melebihi Agnes Monica dan meski nafas sudah kelihatan banget ngos-ngosan serta megang mic nya kesana-kesini sudah tidak stabil, tapi suara lagunya tetap mulus tanpa fals? Pokoknya kalau dipikir-pikir gak worth bangetlah nonton begituan di jam segitu…

Sebagai orang awam dan menghadapi acara TV yang seperti itu, hal yang bisa kita lakukan hanyalah memahami bahwa televisi hanyalah ladang bisnis. Dimana ada acara TV yang booming, banyak penonton dan mendapat rating tinggi pasti pihak TV akan membuat acara sejenis secara jor-joran dan tidak memperdulikan apakah acara tersebut banyak manfaat atau tidak. Seperti kemarin waktu acara komedi ngetrend, akhirnya banyak pula acara komedi yang bermunculan bahkan ditiru stasiun TV lainnya. Sekarang acara India ngetrend, akhirnya banyak TV TV lain yang ikut menayangkan film India bahkan ada loh salah satu stasiun TV yang memboyong pemain India-nya untuk datang ke sini.

Setelah memahami seperti itu, langkah selanjutnya adalah jangan tonton acara TV yang kita anggap tidak ada manfaatnya, kalau perlu ajak adik dan teman-teman untuk tidak menontonnya. Lama-kelamaan acara tersebut pasti akan berkurang penontonnya, ratingnya menurun, tidak ada iklan yang mau sponsori, akhirnya meredup dan pihak TV akan mengganti dengan acara yang lain. Intinya televisi hanya mengikuti pasar saja kok.

PENYEBAB UTAMA KEMEROSOTAN MORAL DAN SOLUSINYA
Di atas saya sudah katakan bahwa internet tidak ada salahnya karena seperti yang kemarin pagi, rabu (14/1) Mamah Dedeh bilang dalam acara tausiyah di Indosiar yang penontonnya kalau mau mengajukan pertanyaan selalu bilang, “Curhat dong mah, iya dong…” bahwa internat dan facebook hanyalah seperti pisau. Apakah pisau tersebut buat masak, membunuh orang atau bahkan buat bunuh diri tergantung tuannya.

Saya yakin setiap manusia sebetulnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk kecuali kalau memang manusia tersebut mempunyai kelainan jiwa. Hanya saja biasanya manusia kalau diibaratkan di film-film, kalau sedang galau atau kepepet dari dalam kepalanya sebelah kiri akan muncul sesosok makhluk ghaib berjubah hitam, bawa tongkat, dan bertanduk merah menghasut kita untuk berbuat perbuatan yang tidak baik. Selang beberapa detik baru muncul makhluk ghaib lainnya berwarna putih di sebelah kanan yang melarang kita untuk mengikuti hasutannya.

Menurut saya, makhluk ghaib warna hitam yang memang tempat bersemayamnya dalam diri kita itu lah yang menyebabkan moral kita menjadi jelek. Solusinya? Saya sendiri bingung apa solusinya. Mungkin pendidikan kepribadian sejak dini dari orang tua dan agama ampuh dan bisa diandalkan untuk dijadikan jalan keluarnya. Soalnya kedua ajaran itulah yang langsung mendidik jiwa kita sebagai manusia. Sudah ah, saya capek ngetik soalnya tidak bisa ngetik pakai 10 jari. Bisanya ngetik pakai 2 jari telunjuk dan itupun kadang-kadang keder tombol huruf a dimana.

Begitulah menurut pendapat saya tentang penyebab kemerosotan moral dan solusinya dalam rangka menghadapi era globalisasi. Intinya lebih baik kita memperkuat ketahanan diri dari godaan nafsu yang berasal dari luar dan memperdalam agama saja. Tidak perlu menjudge budaya orang lain jelek apalagi menuduh benda mati yang tak berdosa.

Catatan: Mohon maaf kepada sejumlah tokoh besar dan artis yang namanya sengaja saya sebut seperti Pak Presiden Joko Widodo, Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Mamah Dedeh, H.Bolot, Agnes Monica, Tukul Arwana, Syahrini, dan sejumlah nama stasiun televisi + program acara, serta sejumlah merk produk. Maksud saya hanyalah untuk membuat bahasan tulisan saya menjadi terasa ringan dan berharap para pemuda-pemudi, baik yang belum atau sudah terlanjur menjadi cabe-cabean dan terong-terongan mau membacanya sampai habis.

Please like & share:

[Karya KBM3] Urgensi Pendidikan Moral, Pendekatan Agama dan Keluarga, dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia

Posted on Updated on

Bertakwalah engkau kepada Allah.
Bayangkan akhirat dalam kalbumu.
Jadikanlah bayangan kematian berada di pelupuk matamu.
Jadilah orang yang malu kepada Allah.
Jauhilah larangan-larangan-Nya dan kerjakanlah kewajiban-kewajiban-Nya.
Tetaplah konsisten bersama kebenaran di manapun engkau berada.
Sekali-kali janganlah meremehkan nikmat yang diberikan Allah untukmu walaupun kecil.
Sambutlah ia dengan rasa syukur.
~Wasiat Imam Syafi’i~

 

ABSTRAK
Perkembangan zaman mengharuskan generasi muda untuk melakukan rekonstruksi pemikiran yang ideal pada zamannya. Seiring dengan perkembangan zaman yang terus berpacu dengan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pada berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut menuntut bermacam-macam kemudahan untuk dapat memperoleh kebutuhan-kebutuhan manusia. Maka, tercetuslah alat-alat atau benda yang pada hakikatnya dipergunakan dalam memenuhi kebutuhan manusia yang bermacam-macam, tak terkecuali dalam bidang informasi. Salah satu teknologi informasi yang paling marak digunakan saat ini adalah internet.

Dikarenakan sebagai subjek utama penggerak suatu bangsa dan sebagai potret bagaimana peradaban di suatu negara, generasi muda dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi yang semakin global dengan tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang kurang positif, serta dengan tidak meninggalkan nilai budaya, moralitas, dan nilai kebangsaan yang telah tertanam pada diri generasi muda. Nilai budaya, moralitas, dan nlai kebangsaan merupakan elemen yang tidak boleh luntur dari kepribadian generasi muda untuk mewujudkan sebuah bangsa yang terhormat.

Garis-garis Besar Haluan Negara telah menggariskan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan titik tolak dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional di masa yang akan datang sangat tergantung dari kualitas manusia pada masa kini. Sumber daya manusia yang akan datang adalah generasi muda masa kini. Hal ini berarti bahwa membina generasi muda masa kini merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia bagi pembangunan di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai pembinaan generasi muda adalah berbicara mengenai pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu upaya dalam mengembangkan kepribadian dan modal utama suatu bangsa.

Undang-undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga pihak inilah mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membina generasi muda melalui upaya pendidikan.

Pada era globalisasi dewasa ini masalah moral yang terjadi jauh lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan masalah-masalah moral yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Isu-isu moral di kalangan generasi muda seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, perjudian dan lain-lainnya, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum diatasi secara tuntas.

Dari uraian tersebut di atas bagaimanakah upaya membangun karakter generasi muda di era globalisasi ini, dan sampai sejauh mana pengaruh pendidikan moral terhadap karakter generasi muda?

Tujuan penulisan ini untuk mengetahui: (1) contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat, (2) usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait.

Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam membangun karakter generasi di era globalisasi sebagai modal bangsa dewasa ini antara lain adalah: (1) moral generasi muda sangatlah perlu untuk dibenahi, (2) diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap melalui pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna, (4) orang tua dan keluarga sedini mungkin perlu menanamkan kesadaran kepada anak tentang pentingnya nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter.

Kata Kunci: Indonesia Mercusuar Dunia, Kontes blog muslim, Lomba blog, Urgensi Pendidikan Moral Pendekatan Agama dan Keluarga dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia, Final, Membangun Karakter, Perspektif

 

A. PENDAHULUAN
A.1. LATAR BELAKANG
Redja Mudyahardjo (2002) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peran dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pula sikap tindakan yang dimaksud mencakup hubungan dengan Allah, sesama manusia (termasuk dirinya sendiri) dan dengan alam atau lingkungan (Muslim Nurdin, 1995).

Jadi, pendidikan akhlak adalah usaha sadar untuk memberikan bimbingan, arahan terhadap sistem nilai yang ada dalam kehidupan manusia yakni sistem nilai yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, alam dan lingkungan.

Garis-garis besar Haluan Negara telah menggariskan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan titik tolak dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional di masa yang akan datang sangat tergantung dari kualitas manusia yang dikembangkan pada masa kini. Sumber daya manusia yang akan datang adalah anak-anak dan generasi muda masa kini. Hal ini berarti bahwa membina anak-anak masa kini nmerupakan upaya pengembangan sumber daya manusia bagi pembangunan di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai pembinaan anak adalah berbicara mengenai pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu upaya sadar dalam mengembangkan kepribadian suatu bangsa.

Undang-undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga. dan masyarakat. Ketiga pihak inilah mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membina anak melalui upaya pendidikan. Dalam dunia pendidikan yang menjadi fokus perhatian adalah peserta didik, baik itu di TK, SD, SMP, SMA maupun di Perguruan Tinggi. Menurut Edi Subkhan, mahasiswa Program Pascasarjana, S2 Universitas Negeri Jakarta dalam http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/23/mari-membangun-karakter-bangsa-melalui-olah-pikir-olah-hati-olah-raga-olah-rasa-dan-karsa/ dinyatakan bahwa mencetak siswa yang berkarakter lebih penting daripada hanya sekedar pintar. Menurut Wardani (2008) dalam makalahnya yang berjudul Pendidikan sebagai Wahana Pembentukan Karakter Bangsa Harapan dan Tantangan, dinyatakan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan untuk mengembangkan kepribadian atau akhlak peserta didik sesuai dengan cita-cita luhur pendidikan nasional.

Pada era globalisasi dewasa ini masalah moral yang terjadi jauh lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan masalah-masalah moral yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, perjudian dan lain-lainnya, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum diatasi secara tuntas.

A.2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan yang perlu dijawab, yaitu:
1. Apa sajakah contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat?
2. Bagaimanakah usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait?

A.3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini untuk mengetahui:
1. Contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat.
2. Usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait.

 

B. PEMBAHASAN
B.1. CONTOH PERISTIWA KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Sudah menjadi wacana umum, bahwa dekadensi moral yang terjadi pada kawula muda telah mencapai titik mengkhawatirkan. Terjadinya pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan oleh para muda-mudi merupakan masalah terpenting bangsa ini dalam rangka perbaikan sumber daya manusianya. Karena, ketika sebuah etika sosial masyarakat tidak diindahkan lagi oleh kaum muda, maka laju lokomotif perbaikan bangsa dan negara akan mengalami hambatan.

Beberapa contoh dekadensi moral:
1. Tawuran
Sering sekali kita mendengar kasus tawuran antar pelajar, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Hal itu seakan sudah menjadi kebiasaan di kalangan remaja kita. Bahkan ironisnya persoalan yang memicu terjadinya kontak fisik itu adalah hal-hal yang sangat remeh. Misalnya, karena minta rokok dan tidak diberi, atau karena ketersinggungan yang hanya bersifat dugaan semata. Hal-hal semacam itu berpotensi sekali untuk menyulut api bentrokan antar pelajar. Kontak fisik seolah menjadi solusi satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Mereka tidak lagi memikirkan akibat yang akan diderita oleh berbagai pihak. Bahkan mereka tidak menghiraukan lagi kalau tindakan mereka itu akan menimbulkan kerugian yang sangat besar; baik bagi diri sendiri,keluarga, ataupun sosial.

2. Miras Dan Narkoba
Dari dua juta pecandu narkoba dan obat-obat berbahaya (narkoba), 90 persen adalah generasi muda, termasuk 25.000 mahasiswa. Karena itu, narkoba menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa. Alwi Nurdin, Kepala Kanwil Depdiknas DKI mengatakan, ‘Sebanyak 1.015 siswa di 166 SMU di Yogyakarta selama tahun 1999/2000 terlibat tindak penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan narkoba. Sedangkan 700 siswa sisanya ditindak dengan pembinaan agar jera, dan tidak mempengaruhi teman lain yang belum terkena sebagai pengguna narkoba. Para siswa penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta-Utara (Jakut) sebanyak 248 orang dari 26 SMU, Jakarta-Pusat atau Jakpus (109) di 12 SMU, Jakarta-Barat atau Jakbar (167) di 32 SMU, Jakarta-Timur atau Jaktim (305) di 43 SMU dan Jakarta-Selatan atau Jaksel (186) di 40 SMU’ (Kompas, 05 Februari 2001).

Negara kita sedang mengalami ancaman badai yang sangat mengkhawatirkan. Peredaran minuman keras (miras) dan narkoba pun semakin hari semakin mengarah pada peningkatan yang signifikan. Tidak jarang kita baca, dengar, atau lihat dalam beberapa media cetak dan elektronik tentang tindak kriminal yang bersumber dari penggunaan kedua jenis barang di atas. Kurva peningkatan peredaran miras dan narkoba itu tidak terlepas dari dampak negatif semakin mengguritanya tempat-tempat hiburan malam yang tersaji manis di hampir sudut kota-kota besar. Bahkan ironisnya, peredaran itu sekarang tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu, namun sudah merebah kepada anak-anak yang dikategorikan masih di bawah umur.

3. Pergaulan Bebas (pornografi dan pornoaksi)
Seiring dengan derasnya arus globalisasi, yang menjadikan dunia ini semakin sempit, maka di waktu yang sama hal itu akan membawa sebuah konsekwensi; baik positif atapun negatif. Kita tidak akan membicarakan mengenai konsekwensi positif dari globalisasi saat ini. Karena hal itu tidak akan membahayakan rusaknya moral generasi muda. Namun yang menjadi perhatian kita adalah efek atau dampak negatif yang dibawa oleh arus globalisasi itu sendiri yang mengakibatkan merosotnya moral para remaja saat ini.

Di antara sekian banyak indikator akan rusaknya moral generasi suatu bangsa adalah semakin legalnya tempat-tempat hiburan malam yang menjerumuskan anak bangsa ke jurang hitam. Bahkan bukan merupakan hal yang tabu lagi di era sekarang ini, hubungan antar muda-mudi yang selalu diakhiri dengan hubungan layaknya suami-isteri atas landasan cinta dan suka sama suka. Sebuah fenomena yang sangat menyedihkan tentunya ketika perilaku semacam itu juga ikut disemarakkan oleh para muda-mudi yang terdidik di sebuah instansi berbasis agama. Namun itulah fenomena sosial yang harus kita hadapi di era yang semakin bebas dan arus yang semakin global ini.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, akan semakin memudahkan para remaja untuk mengakses hal-hal yang mendukung terciptanya suasana yang serba bebas. Hal-hal yang dahulu di anggap tabu dan masih terbatas pada kalangan tertentu, kini seakan sudah menjadi konsumsi publik yang dapat diakses di mana saja. Sebagai contoh konkrit adalah merebaknya situs-situs berbau pornografi dapat dengan mudah dikonsumsi oleh para pengguna internet. Memang di satu sisi tidak bisa dinafikan, bahwa internet memberikan kontribusi besar dalam perkembangan moral dan intelektual. Akan tetapi dalam waktu yang sama, internet juga dapat menghancurkan moral, intelektual dan mental generasi sebuah negara. berdasarkan penelitian tim KPJ (Klinik Pasutri Jakarta) saja, hampir 100 persen remaja anak SMA, sudah melihat media-media porno, baik itu dari situs internet, VCD, atau buku-buku porno lainnya (Harian Pikiran Rakyat, Minggu 06 juni 2004).

B.2. PENYEBAB KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Dalam pengamatan penulis, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya dekadensi moral ini, antara lain: Pertama, lemahnya perhatian orang tua terhadap perkembangan kebutuhan fisik dan psikis anak. Hal ini bisa disebabkan karena terjadinya ketidakharmonisan keluarga (broken home), orang tua sibuk kerja, sikap acuh tak acuh terhadap perkembangan anaknya, dan lemahnya kontrol dari orang tua misalnya kurangnya pendampingan pada saat menonton TV, terlalu banyak bermain game, internet, dan aktivitas harian lainnya.

Kedua, pengaruh media massa dan lingkungan. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, yang tidak disertai kontrol budaya yang beradab turut menjerumuskan generasi muda pada hal-hal yang negatif. Banyak informasi dan tayangan-tayangan yang negatif mudah diakses oleh generasi muda yang sebenarnya tidak pantas untuk usia mereka. Praktik pornografi, pornoaksi yang sudah terang-terangan hingga di tempat umum, merebaknya tempat-tempat maksiat berkedok karaoke, cafe, serta munculnya fenomena baru game porno tiga dimensi, dimana dalam game tersebut anak-anak secara fulgar bisa malihat adegan mesum yang dimainkan oleh tokoh-tokoh tiga dimensi, dan perilaku asusila lainnya semakin memperparah moral generasi muda.

Ketiga, pengaruh negatif dari arus globalisasi. Pengaruh budaya cinta materi secara berlebihan (materialistik), hidup boros (konsumeristik), sikap senang dengan kenikmatan hidup sesaat (hedonistik), dan pemisahan kehidupan duniawi dari nilai-nilai agama (sekularistik), telah menggejala di masyarakat muslim tidak hanya di daerah perkotaan tapi telah menjalar sampai ke desa-desa. Nafsu-nafsu duniawi tersebut juga memiliki andil kuat terhadap munculnya berbagai bentuk penyimpangan perilaku yang menghalalkan segala cara, sehingga terjadi krisis moral secara meluas yang jauh dari nilai-nilai dan tradisi budaya luhur yang santun dan beradab.

Keempat, dangkalnya pengetahuan agama dan hilangnya tokoh panutan. Semakin acuh tak acuhnya tanggung jawab orangtua, lingkungan masyarakat, pemangku adat, para pejabat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru seringkali dilecehkan. Tontonan telah menjadi tuntunan, sementara yang seharusnya menjadi tuntunan justru menjadi tontonan yang disepelekan.

Kelima, Krisis Uswatun Hasanah. Salah satu hal yang penting dilakukan oleh semua pihak dalam membangun generasi khoira ummah adalah adanya uswatun hasanah atau keteladanan. Dewasa ini kita mengalami krisis keteladanan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, maupun pejabat dan pemimpin-peminpin bangsa.

Krisis uswatun hasanah yang dialami bangsa Indonesia, menjadi sumbu pemicu bagi pertahanan moralitas bangsa yang sewaktu-waktu akan menjadi bom waktu peradaban bangsa. Nilai-nilai budi pekerti yang telah diajarkan dan ditanamkan dengan susah payah oleh dunia pendidikan, dengan serta merta dibantahkan oleh perilaku-perilaku masyarakat dan pemimpin negeri yang tidak mencerminkan akhlaqul karimah.

Krisis uswatun hasanah yang dialami bangsa Indonesia, menjadi sumbu pemicu bagi pertahanan moralitas bangsa yang sewaktu-waktu akan menjadi bom waktu peradaban bangsa.

Kesuritauladanan yang baik (uswatun hasanah) terhadap generasi muda sangat penting dan harus segera dibudayakan kembali dalam masyarakat kita. Mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh artis, dunia pendidikan, hingga para pemimpin bangsa harus proaktif andil bagian dalam hal ini.

Pentingnya membangun karakter (character building). Pendidikan di Indonesia banyak dikritik belum mampu membangun karakter peserta didik menjadi pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur (akhlaqul karimah) dengan maksimal. Pendidikan masih sekedar melakukan proses penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) yang kering dari nilai-nilai budi pekerti dan belum banyak mengarah pada penyampaian nilai-nilai budi pekerti (transfer of value). Lebih jauh lagi, pendidikan masih belum diarahkan untuk merubah pola pikir peserta didik menjadi manusia seutuhnya (transform of mindset).

Ironisnya, kondisi ini juga telah menjalar pada lembaga pendidikan Islam (madrasah) sebagai basis pendidikan agama. Dewasa ini kita masih sering menjumpai perilaku dan karakteristik peserta didik yang kurang menunjukkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pendidikan Agama Islam itu sendiri, disebabkan oleh lemahnya implementasi nilai-nilai agama dan budi pekerti yang diajarkan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Idealnya, pendidikan bukan hanya sekedar menyajikan mata pelajaran agama di dalam kurikulumnya saja, tetapi yang lebih penting adalah mengimplementasikan perwujudan dari nilai-nilai keagamaan didalam totalitas kehidupan peserta didik di dalam maupun di luar sekolah/madrasah melalui berbagai pembiasaan perilaku terpuji.

Pada dasarnya metode Pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode pendidikan memungkinkan dapat membuka hati manusia untuk menerima petunjuk Ilahi dan konsep-konsep peradaban Islam.

Oleh karena itu masyarakat juga memiliki tanggung jawab secara sosial terhadap masa depan generasi muda kita. Diantara upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan melakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini baik melalui pendidikan formal di madrasah, pondok pesantren maupun pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Alqur’an, Madrasah Diniyah, Majlis Ta’lim, dan sebagainya, serta membangun tradisi keteladanan (uswatun hasanah) dalam setiap aktivitas keseharian.

Hal yang tidak kalah penting juga dilakukan oleh para orang tua adalah senantiasa memberikan perhatian yang penuh pada setiap aktivitas anak-anaknya, termasuk selektif dalam memilihkan informasi dan teknologi, senantiasa mengontrol buah hatinya untuk tidak salah dalam memilih komunitas (teman bergaul), turut menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan jasmani dan rohani remaja ke arah yang lebih baik, memberikan informasi yang konstruktif, membimbingnya dan memberikan pemahaman keagamaan sesuai dengan pertumbuhan kejiwaan sejak dini, sehingga tercipta generasi remaja mengetahui tanggung jawabnya sebagai abdi (hamba) dan juga sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Untuk membangun masyarakat yang berperadaban tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, guru, kyai, ulama saja, tetapi ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, GP. Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU juga memiliki peran yang sangat strategis dalam melakukan kontrol sosial dan pembinaan generasi muslim, melalui berbagai aktivitas sosial keagamaan turut berperan dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang khoiro ummah.

Generasi Khoira Ummah masa depan yang diharapkan di era globalisasi ini adalah generasi yang lahir dengan budaya luhur (tamaddun), dijiwai oleh nilai-nilai tauhid yang kokoh, kreatif dan dinamik, memiliki wawasan ilmu yang tinggi, berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain adalah generasi ulama yang intelek dan intelektual yang alim.

Betapa besarnya pengaruh generasi muda terhadap maju-mundurnya sebuah bangsa, kualitas generasi muda sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah bangsa. Manakala generasi mudanya tidak bermoral, maka akan menghancurkan peradaban suatu bangsa. Demikian juga sebaliknya, apabila generasi mudanya maju, berkualitas, berakhlaqul karimah, maka akan tercipta bangsa yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafuur (Yusuf Hasyim dalam Urgensi Character Building Upaya Dini Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda, http://bloganesurgaane.blogspot.com/2013/12/urgensi-character-building-upaya-).

B.3. PENGERTIAN MORALITAS DAN KARAKTER
Moralitas berasal dari kata dasar “moral” dan kata “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Kata “mores” yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores”. Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya. Secara etimologi, moral dapat diartikan sebagai berikut :
a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan kebiasaan yang berlaku pada kelompok tertentu,
b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain ajaran tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam etika.

Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma, aturan-aturan yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan tindakan manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak manusia. kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana sebenarnya tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk.

Moralitas yang secara leksikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu asas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat.

Secara terminologi, moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan aliran-aliran yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Dari pengertian-pengertian tersebut, disimpulkan bahwa moralitas adalah suatu ketentuan-ketentuan kesusilaan yang mengikat perilaku sosial manusia untuk terwujudnya dinamisasi kehidupan di dunia, kaidah (norma-norma) itu ditetapkan berdasarkan konsensus kolektif, yang pada dasarnya moral diterangkan berdasarkan akal sehat yang objektif.

Karakter berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Menghilangkan ukiran sama saja dengan menghilangkan benda yang diukir itu, karena ukiran melekat dan menyatu dengan bendanya.

Wardani (2008) menyatakan bahwa karakter itu merupakan ciri khas seseorang, dan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu.

Hamid, M (2008) bahwa karakter merupakan sikap mendasar, khas, dan unik yang mencerminkan hubungan timbal balik dengan suatu kecakapan terbaik seseorang dalam pekerjaan atau keadaan.

Abdullah Munir (2010) menyatakan bahwa sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan disebut sebagai karakter.

Tapi pada kenyataannya kita sering mendapati seorang anak yang di usia kecilnya rajin beribadah, hidup teratur, disiplin dan selalu berprestasi di sekolahnya, serta patuh terhadap orang tuanya. Namun setelah sekian lama kita bertemu kembali dengannya di usia dewasa, kita tidak melihat lagi sifat-sifat yang telah melekat yang pernah melekat di usia kecilnya. Sebaliknya, kita melihat bahwa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah tidak memiliki sifat seperti dulu di usia kecilnya, tidak pernah mengerjakan solat, dia seorang pemabuk, dan hidupnya tidak teratur. Hal ini terjadi nampaknya perjalanan hidup telah mengubah semua sifat baiknya itu.

Sebaliknya, banyak juga kita temui orang yang di usia mudanya memiliki sifat-sifat yang buruk, tapi dengan adanya nasihat yang terus menerus orang tersebut dapat berubah, tapi hanya sesaat saja. Pada suatu saat orang tersebut kembali dengan sifat-sifat buruknya. Inilah karakter, melekat kuat dan sulit untuk diubah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter seseorang itu tidak dapat dirubah. Namun demikian, kondisi lingkungan atau perjalanan hidup seseorang dapat membentuk karakter untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.

B.4. PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL
Kata moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat. C. Asri Budiningsih (2008) berpendapat bahwa penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk.

Semakin menurunnya moral di kalangan remaja, kita sebagai pendidik merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab mencari solusinya agar dekadensi moral generasi muda bangsa Indonesia yang kita cintai ini tidak berkepanjangan. Mari kita bekerjasama untuk membenahi akhlak anak-anak bangsa kita.

Banyak orang berpandangan bahwa menurunnya di kalangan remaja akibat kurang berhasilnya dunia pendidikan di era globalisasi dewasa ini. Itu semua tidak benar. Pendidikan moral tidak hanya selama di lingkungan sekolah, melainkan di lingkungan keluargalah awal pendidikan moral terhadap anak mulai ditanamkan. Mulyani S dkk. (2007) menyatakan bahwa anak-anak akan mengidentifikasi dirinya dengan ibu atau ayahnya serta orang lain yang dekat dengannya. Dasar pendidikan agama yang kokoh jika ditanamkam pada anak sedini mungkin akan membentuk karakter penuh kasih dan peduli terhadap sesama. Hal ini bisa terjadi karena setiap agama pasti akan memberikan pelajaran budi pekerti dan akhlak mulia.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga sangat berperan dalam pembentukan moral anak.

Di bidang pendidikan sekolah, terjadinya penyimpangan-penyimpangan moral peserta didik tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidikan agama, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh pengajar di sekolah. Guru bahasa, guru olah raga, guru IPA seyogyanya turut bertanggung jawab dalam membentuk moralitas peserta didik.

Sigit Dwi K. (2007) Menyatakan bahwa Pendidikan moral di sekolah diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik

Sumber daya manusia yang akan datang adalah generasi muda masa kini. Berbicara mengenai pendidikan moral di Indonesia, maka pemerintah zaman Orde Baru, pendidikan moral dikaitkan dengan nilai-nilai dasar Pancasila. Hal ini dimaksudkan bahwa sebagai dasar negara, maka kedudukan Pancasila merupakan landasan dan falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara. Karena itu, pendidikan moral ditanamkan pada peserta didik melalui pemberian mata pelajaran yang diberi nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pentingnya pendidikan moral ini, sehingga ia menjadi mata pelajaran istimewa di samping mata pelajaran pendidikan agama. Pada waktu itu apabila peserta didik memperoleh nilai rendah pada kedua mata pelajaran tersebut, menjadi bahan pertimbangan apakah seseorang naik atau tinggal kelas. Bahkan proses penilaian atas mata pelajaran khusus pendidikan moral ini, tidak hanya dilihat dari aspek kognitif semata. Sebaliknya, tingkah laku peserta didik dengan berbagai standar nilai yang telah ditetapkan menjadi indikator penentu. Pada waktu itu guru agama dan guru PMP pun sangat dihormati karena dianggap sebagai penentu nasib para peserta didik. Tapi masa reformasi sekarang kedua mata pelajaran yang dahulu dianggap maha penting, kini tampak kurang menjadi prioritas serta menjadi korban kebijakan kurikulum.

Menghadapi krisis moral yang sedang melanda bangsa ini, maka sudah seharusnya Pendidikan mengambil peranan sebagai benteng moral bangsa. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak yang mana akan bertumbuh menjadi generasi muda.

UU Sisdiknas juga dituliskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral dan pembangunan karakter bangsa. Pendidikan moral merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita. Untuk itu dunia pendidikan harus mampu menjadi motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan moral bangsa, sehingga setiap peserta didik mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi NKRI dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Moral itu sendiri berasal dari bahasa Latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan atau kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai (1) prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. (2) kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. (http://www.nu.or.id) dalam Urgensi Pendidikan Moral, oleh Cipto Wardoyo.

Pendidikan moral sebagai bagian dari pendidikan nilai di sekolah, yang membantu peserta didik mengenal, menyadari pentingnya, nilai-nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan perilakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat. Nilai moral mendasari prinsip dan norma hidup baik yang memandu sikap dan perilaku manusia sebagai pedoman dalam hidupnya. Kita semua tentu mengetahui, kualitas hidup seseorang ditentukan oleh nilai-nilai, dan termasuk di dalamnya yaitu nilai moral.

Watak dan kepribadian seseorang dibentuk oleh nilai-nilai yang dipilih, diusahakan, dalam setiap tindakan-tindakannya. Dalam upaya pengenalan dan penyadaran pentingnya penghayatan nilai-nilai moral, pendidikan moral memuat unsur penyampaian pengetahuan moral kepada generasi muda, serta pengembangan pengetahuan moral yang sudah ada padanya.

Pendidikan moral yang ada di sekolah maupun di masyarakat saat ini seolah terkesan hanya menginformasikan teori-teori dan pengetahuan konsep moral kepada peserta didik, sehingga pendidikan moral yang ada saat ini belum mampu membuat perubahan perilaku pada peserta didik. Hal ini ditunjukkan semakin maraknya isu-isu moral yang negatip di kalangan generasi muda dewasa ini.

B.5. PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA DAN KELUARGA
Perbincangan tentang dekadensi moral di kalangan remaja, adalah menu keseharian yang sering kita dengar, bahkan secara nyata kita lihat serta rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya “degradasi akhlak” di kalangan remaja tersebut, tanpa harus menggeneralisir persoalan, tampaknya arah perbincangan yang lebih santun sekarang bukan lagi mempersoalkan sebab dan musababnya, tetapi solusi untuk mengatasinya menjadi hal yang lebih baik untuk dibicarakan.

Zulkifli L. (2000) menyatakan bahwa remaja dan generasi muda diidentifikasi sebagai masa strum and drang (goncang), masa-masa pencarian identitas diri lewat prinsip eksplorasi yang memang menjadi ciri khas mereka (Yudo Purwoko, 2001). Remaja dalam konteks ini sedang mengembangkan persepsi diri (sense of Individual identity), yaitu untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan “siapakah saya?” dan “kemanakah saya akan pergi?” Mencari identitas diri menyakup memutuskan apa yang penting dan patut dikerjakan serta memformulasikan standar tindakan dirinya (perilaku) dan perilaku orang lain.

Sangat tepat jika dikatakan bahwa masa remaja merupakan masa transisi, mereka belum siap untuk mengikuti adanya perubahan, sehingga pada masa kegoncangan ini remaja akan lebih mudah terpengaruh dengan pergaulan atau kehidupan di lingkungannya (Zakiyah Darajat, 1996). Remaja juga bisa dikatakan merupakan masa strum and stress, yaitu sebagai periode yang berada dalam situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa sehingga pengalaman sosial selama remaja dapat mengarahkannya untuk menginternalisasi sifat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya (Syamsu Yusuf, 2000).

Seorang remaja yang mampu memahami dirinya, peran-perannya dan makna hidup beragama, maka dia akan menemukan jatidirinya, dalam arti ia akan memiliki kepribadian yang sehat, tetapi sebaliknya apabila gagal, maka dia akan mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion) (Ibid, hlm. 188). Suasana kebingungan inilah yang mengakibatkan remaja depresi sehingga ia tidak bisa lagi mengontrol emosinya dan menyalurkannya kepada tindakan-tindakan kriminal atau sering disebut “juvenile delinavency” (A. Supratikna, 2000).

Untuk itulah, dalam kondisi seperti itu remaja yang merupakan generasi penerus kaum tua harus bisa memfilter budaya maupun pengaruh yang datang dari luar, yang mana pada era modern ini sangat dipengaruhi oleh perubahan yang sangat pesat yang membawa kemajuan sekaligus kegelisahan yang sangat mendalam, karena perubahan tersebut kalau tidak diimbangi dengan moral yang baik akan menimbulkan pertanyaan yang besar tentang moral. Sehingga dengan landasan moral yang baik akan bisa memilah antara yang baik dengan kurang baik atau yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Untuk membekali remaja agar tidak memilih jalan yang buruk, sangat baik sekali remaja ditanami adanya akhlakul karimah (etika Islam) yang sesuai dengan ajaran agama Islam, sehingga akan berhasil bagi remaja dalam menjalani kehidupan baik di dunia ini dan nantinya di akhirat. Nilai-nilai akhlakul karimah adalah salah satu standar nilai untuk mengukur adanya pelanggaran etis ataupun tidak adanya pelanggaran, dan dari sudut lain interpretasi nilai-nilai akhlakul karimah (mulia) adalah salah satu standar nilai untuk mengukur adanya pelanggaran etis ataupun tidak adanya pelanggaran, dan dari sudut lain interpretasi nilai-nilai akhlakul karimah dimaksudkan untuk membina kembali anak-anak “delinavent” juga sebagai upaya penanggulangannya.

Membicarakan masalah remaja tentunya tidak bisa melepaskan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), karena IPNU sebagai “anak” dari Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisai yang terlahir dan dilahirkan untuk menjadi wadah bagi pendidikan anak remaja yang ada dalam lingkungan NU, yang tentunya merupakan wahana untuk menjadikan generasi muda atau remaja yang berkualitas sekaligus mempunyai akhlak yang baik.

IPNU lahir 24 Februari 1954/20 Jumadil Akhir 1373 H di Semarang. Kelahirannya dilatarbelakangi keinginan dari kalangan pendidikan yang ada dalam NU (Ma’arif NU) untuk memberikan wadah bagi pelajar-pelajar NU. Pendirinya antara lain M. Sufyan Cholil (Mahasiswa UGM), H. Musthofa (Solo) dan Abdul Ghony Farida (Semarang), sedangkan M. Tholchah Mansoer sebagai ketua umum yang pertama (Mujtahidur Ridho, SZ, 2003).

Di samping itu, untuk mengakomodir remaja putri akhirnya juga lahir Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Malang pada 2 Maret 1955/8 Rajab 1373 H. IPPNU lahir sebagai bentuk akomodasi terhadap keinginan pelajar putri dikalangan Nahdliyin yang memerlukan wadah tersendiri yang terpisah dari IPNU, ketua umumnya yang pertama adalah Umroh Mahfudloh Wahib (PW IPPNU Jawa Tengah, dalam Bunga Rampai Materi Penganggotaan, TOT, LAKUT, LAKMUD, MAKESTA).

Rentang waktu yang panjang dari dua organisi remaja yang bernaung di bawah NU tersebut, dengan melewati beberapa era dari Orde Lama, Orde Baru serta reformasi tampaknya menjadikan kedua organisai tersebut mempunyai kepekaan terhadap peran apa yang paling tepat yang disesuaikan dengan zamannya. Oleh karena itu IPNU-IPPNU dalam konteks modern seperti sekarang ini, dengan segala bentuk dekadensi moral yang dialami remaja, karena pengaruh globalisasi adalah satu wadah yang sangat tepat untuk membina remaja agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang kurang baik.

Dengan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang ada dalam tubuh IPNU-IPPNU yang salah satu diantaranya adalah pendidikan akhlakul karimah (mulia) dapat membantu remaja untuk bisa menemukan jatidirinya (identitas diri), dengan tanpa meninggalkan norma-norma atau nilai-nilai moral dan akhlak.

Begitu juga yang terjadi pada pendidikan agama yang seharusnya mengambil peran sentral dalam membangun karakter masyarakat dalam kehidupan nyata. Ajaran agama yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid) dan etika (akhlaq) sering disempitkan hanya kesusilaan belaka dan dalam sikap hidup. Padahal ketiga unsur itulah yang menjadi modal penting dalam kehidupan bermasyarakat para pemeluknya di era yang semakin modern.

Menghadapi dunia yang semakin modern, pendidikan Islam harus mampu menyesuaikan diri. Dua hal yang saling terkait dalam pendidikan Islam saat ini adalah pembaharuan (tajdid) dan modernisasi (al-hadasah).

Dalam pembaharuan pendidikan Islam ajaran-ajaran formal harus lebih diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik dengan ajaran-ajaran agama mereka. Adapun yang diubah adalah cara-cara penyampaiannya sehingga ia akan mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Adapun modernisasi pendidikan Islam menuntut umat Islam untuk menjawab tantangan modernisasi.

Sementara mengenai pendidikan nasional, Gus Dur menilai pendidikan nasional terlalu mengikuti paham positivisme. Akibatnya, membuat lembaga pendidikan terpisah dari masyarakat karena mengedepankan skill dan mengabaikan aspek moralitas. Gus Dur mencontohkan para ilmuwan Jerman yang mau bekerja di bawah Hitler hanya mencari keuntungan materi belaka. Karena tidak adanya standar moralitas maka Jerman yang pada waktu itu mempunyai motto “Jerman ada di atas segala-galanya” kemudian menjajah negara lain yang berakhir dengan Perang Dunia II.

Oleh karena itu, pendidikan nasional harus dicarikan paradigma baru yang benar. Untuk mencari hal tersebut, Gus Dur mengingatkan pada pergulatan dua pemikiran yang selama ini sulit untuk disatukan, yaitu Populisme dan Elitisme. Populisme mendekatkan pendidikan kepada rakyat sehingga orientasinya untuk rakyat. Sementara elitisme berpandangan bahwa rakyat tidak tahu apa-apa, hanya kaum elite yang mempunyai ketrampilanlah yang dapat menentukan nasib suatu bangsa. Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi karena bertentangan dengan demokrasi (Gus Dur dalam Pendidikan Moralitas dan Karakter Orang Indonesia menurut Gus Dur, Warta Madani 2013, http://www.wartamadani.com/2013/05/pendidikan-moralitas-dan-karakter-orang.html).

Pentingnya pendidikan agama dan keluarga. Direktur Pascasarjana Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Dr. H. Arwani Syaerozi, MA menegaskan bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, telah memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan nasional, terutama dalam mengawal moral.

“Tidak diragukan, pesantren menjadi benteng terakhir penjaga moralitas generasi muda,” tegas Doktor Maqasid Syari’ah dan Problematika Kemanusiaan lulusan Universitas Mohammed V Maroko pada sambutan stadium general dengan tema “Kontribusi Pesantren Dalam Pendidikan Nasional” di Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon 23 November 2014.

Senada dengan Arwani Syaerozi, narasumber stadium general tersebut, Dr. H. Mashudi, M.Ag juga menekankan pembahasan pada efek negatif yang timbul akibat tidak ada keseriusan dalam mengawal akhlak.

“Kalau generasi muda tidak dibekali dengan budi pekerti, maka di kemudian hari tidak menutup kemungkinan akan menjadi pemimpin yang korup dan tidak berkarakter,” kata Asisten Direktur Pascasarjana Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara ini.

Sementara Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag menganggap sistem pengajian kitab kuning merupakan salah satu ciri khas dan keunikan pendidikan pesantren. Sistem ini akan menjembatani hubungan intelektual generasi muda dengan para ulama pendahulu yang telah memberikan dedikasi terhadap kemajuan pendidikan.

“Kita harus bangga dengan sistem pendidikan pesantren, khususnya yang mampu menyelaraskan substansi kitab kuning dengan realitas di mayarakat, yang mampu menyingkronkan duniawi dan ukhrowi,” kata Wakil Rektor I UNISNU Jepara ini.

Sementara sesepuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, KH Makhtum Hannan, mengatakan syukur ata dimulainya perkuliahan angkatan kedua pendidikan kader ulama Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin. “Insya allah pesantren mampu mencetak generasi muslim yang unggul,” katanya (NU Online 2014, dalam Pesantren Penjaga Akhlak Generasi Muda).

Demikian pula dengan keluarga. Kaum ibu merupakan penentu dalam memperbaiki moral masyarakat yang sudah rusak. Dalam hal ini kalangan ibu aktivis majelis taklim sangat berperan aktif memperbaiki moral bagi generasi mendatang.

Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumatera Barat Darmis Darwis mengungkap perihal ini pada pengajian rutin Majelis Taklim Nagari Kuraitaji di Surau Korong Kampung Tangah, Kuraitaji kecamatan Nan Sabaris kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (13/12) sore.

Ia menaruh harapan besar pada kaum ibu aktivis majelis taklim dalam memperbaiki moral generasi muda. Majelis taklim ibu-ibu sangat berperan. Karena, sebagian besar dari kaum laki-laki menghabiskan waktu di lepau-lepau, baik yang hanya maota, maupun main koa (berjudi).

“Negeri ini akan baik, jika kaum ibunya juga baik. Karena generasi yang baik terlahir dari didikan ibu yang baik pula,” kata Darwis di hadapan sedikitnya 200 hadirin.

Darwis menyayangkan kota Padang yang masuk dalam 10 besar kasus HIV/AIDS. Bahkan hampir 90 % anak sekolah meninggalkan shalat. Ini membuktikan orang tua tidak lagi mengontrol kedisiplinan anaknya.

Darwis yang juga memimpin Majelis Zikir Al-Inabah membawa pantun, dulu tonggak listrik dari besi, kini tonggak listrik dari beton. Dulu magrib mengaji, kini magrib menonton (tivi) (NU Online 2013 dalam Majelis Taklim Ibu, Harapan Moral Generasi Muda ).

B.6. PENTINGNYA PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI TEPAT GUNA
Pada hakikatnya, setiap manusia menginginkan adanya perubahan dalam setiap konteks kehidupan bermasyarakat. Pada prinsipnya, setiap perkembangan dan kemajuan dalam segi apapun baik adanya jika berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari sekian banyak bidang yang ada dan berpacu untuk kemajuan salah satunya adalah bidang teknologi yang menghadirkan perubahan dan kemajuan untuk selanjutnya digunakan oleh manusia. Beragam teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia untuk bebas memilih apa yang diinginkan.

Teknologi merupakan salah satu unsur-unsur utama dari kebudayaan, sehingga antara teknologi dan budaya saling berpengaruh. Teknologi selalu berkembang dari zaman ke zaman. Di zaman globalisasi saat ini, kemajuan teknologi terutama teknologi informasi sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat.

Seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Terlebih Teknologi informasi yang membawa berbagai informasi dan segala macam bentuk ideologi, pendapat, maupun segala hal yang ditujukan dari suatu informasi yang terkait.

Generasi muda mempunyai perspektif yang utama dalam hal ini. Karena generasi muda merupakan peletak dasar kebudayaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dan berkelanjutan saat yang tua telah digantikan dengan yang muda.

Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi maka akan berpengaruh terhadap budaya generasi muda bangsa kita. Globalisasi telah membawa kemajuan teknologi informasi dan mengubah beberapa kebudayaan yang sudah kita miliki.
Dipandang dari adat ke-Timurannya, kebudayaan Indonesia sangat berbeda dengan kebudayaan yang ada di Barat, rata-rata orang timur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun-temurun. Nilai-nilai budaya yang secara turun-temurun yang dimaksud disini adalah bahasa daerah, upacara- upacara adat daerah, kitab-kitab kuno, serta tradisi-tradisi lainnya. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, generasi-generasi penerus bangsa lebih memilih budaya-budaya instan yang lebih mudah dan lebih ringan.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, manusia medapatkan berbagai kemudahan dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Melalui teknologi, kita dapat melestarikan kebudayaan Indonesia ke mata dunia.

Akan tetapi teknologi juga dapat memberikan pengaruh negatif salah satunya adalah bergesernya nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Pada mulanya teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Dengan menggunakan teknologi informasi yang semakin canggih, generasi muda dapat memperoleh informasi dan mengenal budaya-budaya luar akan tetapi mereka cenderung melupakan budaya asli bangsa. Oleh sebab itu, dalam menggunakan teknologi informasi, generasi muda harus memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak mengakibatkan dampak negatif.

Dengan adanya teknologi informasi juga membawa dampak positif terhadap budaya generasi muda, antara lain:
1. Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet.
2. Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui teknologi yang tersedia.
3. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Dalam bidang teknologi masyarakat dapat menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam teknologi tersebut.
4. Tekanan dan kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi semakin globalnya informasi tersebar, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.
5. Menghemat waktu dan biaya dalam melakukan berbagai aktivitas.

B.7. MEMBANGUN KARAKTER GENERASI MUDA DI ERA GLOBALISASI
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan remaja. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak generasi muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam cara berpakaian, selera makan. Yang lebih memprihatinkan adalah pergaulan bebas antar remaja. Seperti yang diberitakan oleh Triono pemerhati masalah remaja dan Staf Pengajar FISIP UMPTB Menggala, menyatakan bahwa sebanyak 28,8 persen remaja Bandar Lampung melakukan seks bebas sehingga membuat mereka berpotensi terserang human immunodeficiency virus (HIV).

Pada Era globalisasi dewasa ini dekadensi moral tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, namun banyak terjadi pula di kalangan orang dewasa. Hal ini tidak bisa kita pungkiri lagi, ternyata di negeri tercinta yang berdasarkan Pancasila ini telah menodai nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri. Hal ini terbukti semakin maraknya korupsi hampir di setiap departemen yang ada di negeri kita ini.

Untuk menumbuhkan karakter positip pada remaja dan generasi muda, orang tua perlu mengenalkan pada mereka tokoh-tokoh atau pahlawan yang bisa mereka jadikan idola. Usaha menumbuhkan karakter positip pada anak dapat dimulai sedini mungkin, misalnya melalui mendongeng atau dengan contoh lain.

Dalam dunia pendidikan, para guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral perlu mengupayakan peningkatan kemampuan siswa yang berkaitan dengan moral, misalnya melalui pemberian tugas, diskusi kelompok, atau bermain peran tentang seorang pahlawan atau sebaliknya, serta mencari contoh-contoh seorang pahlawan yang sesuai dengan idola mereka. Guru hendaknya menanggapi dengan serius segala persoalan moral dalam bentuk apapun, agar merangsang proses pemikiran mereka tentang pentingnya moral. C. Asri Budiningsih berpendapat bahwa salah satu upaya untuk mengatasi masalah-masalah moral di kalangan remaja adalah mengembangkan teori-teori dan model-model atau strategi pembelajaran moral yang berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya. Penulis sependapat dengan Budiningsih. Hal ini akan memudahkan pemahaman siswa terhadap kualitas moral seseorang, karena karakteristik siswa merupakan kemampuan awal yang telah dimiliki siswa untuk kepentingan pembelajaran moral termasuk pemahaman moral dan tindakan moral yang tercermin pada peran sosialnya.

Uraian tersebut di atas senada dengan pendapat Prof Wardani bahwa karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu. Dalam hal ini para guru di sekolah dan orang tua harus saling mengisi untuk menumbuhkan karakter positip pada anak melalui pembelajaran yang berkaitan dengan pendidikan agama sehingga generasi mendatang bangsa kita menjadi bangsa yang beriman berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia.

 

C. PENUTUP
C.1. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam membangun karakter generasi muda sebaai modal bangsa di era globalisasi dewasa ini antara lain adalah: (1) moral generasi muda sangatlah perlu untuk dibenahi, (2) diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi melalui pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna, (4) orang tua dan keluarga sedini mungkin perlu menanamkan kesadaran kepada anak tentang pentingnya pentingnya nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter.

C.2. SARAN
Untuk membangun karakter peserta didik diawali dari peran orang tua dan keluarga, guru pendidik, dan masyarakat/lingkungan. Orangtua dan keluargalah yang pertama kali akan memiliki peluang paling besar dalam pembentukan karakter anak. Orang tua di sini tidak hanya orang tua kandung, namun orang-orang dewasa yang berada di sekeliling anak dan memberikan peran yang berarti dalam kehidupan anak. Keluarga di sini tidak hanya orang-orang yang memiliki hubungan darah saja namun juga orang-orang terdekat yang memiliki kepedulian dan kedekatan erat dalam satu tempat tinggal/hidup bersama. Untuk itu diperlukan kepedulian dan saling mendukung dari seluruh anggota keluarga, guru pendidik, dan masyarakat/lingkungan untuk hal-hal yang baik bagi perkembangan anak, remaja, maupun generasi muda sebagai modal bangsa Indonesia itu sendiri.

Hal ini menjadi pelajaran bagi segenap elemen bangsa bahwa kepedulian akan generasi muda adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Menjadi teladan hidup dan berdakwah teduh pada generasi muda Indonesia saat ini dengan memulai banyak membaca, meluruskan niat, makin mendekatkan diri dan meminta pertolongan kapada-Nya sesungguhnya adalah panggilan untuk kita bersama.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-3 PPM ASWAJA “Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa”.

Kontes Blog Muslim ke-3 PPM ASWAJA “Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa”. Sumber: http://kontesblogmuslim.com/

 

DAFTAR PUSTAKA
REFERENSI CETAK:
[1]. Asri Budiningsih. 2008. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta
[2]. A. Supratikna. 2000. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius
[3]. Dwi,K, Sigit. 2007. Pentingnya Pendidikan Moral bagi anak Sekolah Dasar. Dinamika Pendidikan
[4]. Mujtahidur Ridho, SZ. 2003. Reinventing IPNU : Mengayuh Sampan di Perkampungan Global. Yogyakarta: El-Kuts
[5]. Munir, A. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI
[6]. Muslim Nurdin. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta, 1995
[7]. M. Hamid. 2008. Peran serta Guru Profesional dalam Turut Membentuk karakter bangsa Melalui Jalur Pendidikan Nonformal dan Informal. Jakarta: disajikan dalam Seminar nasional
[8]. PW IPPNU Jawa Tengah. Bunga Rampai Materi Penganggotaan. TOT, LAKUT, LAKMUD, MAKESTA.
[9]. Redja Mudyahardjo. 2002. Pengantar Pendidikan, Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
[10]. Sumantri, Mulyani. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Penerbit Universitas Tebuka
[11]. Syamsu Yusuf. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya
[12]. Wardani. 2008. Pendidikan sebagai Wahana Pembentukan Karakter Bangsa. Jakarta: disajikan dalam Seminar nasional
[13]. Zakiyah Darajat. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang
[14]. Zulkifli L. 2000. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya

REFERENSI ONLINE:
[1]. Pendidikan Moralitas dan Karakter Orang Indonesia menurut Gus Dur dalam http://www.wartamadani.com/2013/05/pendidikan-moralitas-dan-karakter-orang.html
[2]. Pesantren Penjaga Akhlak Generasi Muda dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,46-id,55938-lang,id-c,pesantren-t,Pesantren+Penjaga+Akhlak+Generasi+Muda-.phpx
[3]. Majelis Taklim Ibu, Harapan Moral Generasi Muda dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,48751-lang,id-c,daerah-t,Majelis+Taklim+Ibu++Harapan+Moral+Generasi+Muda-.phpx
[4]. Peran Guru Ideal dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam http://www.wartamadani.com/2013/11/peran-guru-ideal-dalam-pembelajaran.html
[5]. Urgensi Character Building Upaya Dini Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda dalam http://bloganesurgaane.blogspot.com/2013/12/urgensi-character-building-upaya-dini.html
[6]. Nilai Budaya, Moralitas, dan Nilai Kebangsaan Generasi Muda Menghadapi Perkembangan Teknologi Informasi dalam http://mchalidon.blogspot.com/2013/04/karya-ilmiah-nilai-budaya-moralitas-dan.html
[7]. Pemuda dan Dekadensi Moral dalam https://nu2jelajah.wordpress.com/pemuda-dan-dekadensi-moral/
[8]. Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Moral dalam http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fkip201020.pdf

REFERENSI PENDUKUNG:
[1]. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
[2]. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
[3]. www.piss-ktb.com – Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah KTB Berbagi Informasi Melalui Media FB

Please like & share:

[Karya KBM3] Pemuda Antara Kenyataan dan Harapan: Perilaku Kerusakan Moral Pemuda Masa Kini

Posted on Updated on

PENDAHULUAN
Era Globalisasi dan modernisasi membawa pemuda dan masyarakat tergerus oleh zaman. Kita bersyukur jika yang di ambil adalah sisi positif nya, jika malah sebaliknya ini yang mengkhawatirkan. Keadaan umat saat ini bisa dilihat realita nya didalam kehidupan sehari-hari. Tidak sesuai lagi dengan ajaran islam dan para pemudanya juga asing bahkan mungkin telah jauh dari islam itu sendiri. Kekhawatiran akan umat apalagi pemuda, penerus lagi pelurus bangsa membawa saya untuk ikut berpartisipasi dalam kepenulisan ini.
Setiap zaman selalu memiliki tantangan masing-masing. Jika pada zaman penjajahan tantangan generasi muda adalah menentang penjajahan dan merebut kemerdekaan. Maka seiring dengan globalisasi dan modernisasi yang menuntut adanya sebuah rekonstrusi peran pemuda sebagai tulang punggung kelangsungan sebuah bangsa. Jika pembinaan dan orientasi pemuda kurang mendapatkan sorotan elemen bangsa, maka ekses negatif yang lahir mondialisasi gaya hidup, budaya, sosial, dan cara pandang pemuda sebagai generasi bangsa perlu di waspadai.
Globalisasi dan modernisasi yang melahirkan imitasi budaya dikalangan muda, lewat asumsi mereka (pemuda) kini bahwa mereka lebih bangga dengan identitas semu atau kultur imitasi yang mereka sandang dalam kesehariannya. Pada akhirnya identitas yang sebenarnya pada generasi muda khusus kalangan muslim yang seharusnya berorientasi kepada alquran dan sunnah pun kini tiada. Berkaca pada hari ini banyak sekali penyimpangan dan perilaku negatif yang dilakukan generasi muda hari ini. Padahal generasi muda adalah bagian dari masyarakat, yang kini telah kehilangan perannya di tengah-tengah umat. Masalah utama pemuda usia remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka megalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar juga jika dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini.
Saat ini generasi muda ataupun kalangan dewasa telah kehilangan rasa malu untuk berbuat hal negatif di tengah-tengah masyarakat. Tak sedikit yang mempertontonkan kemesraan dimuka umum bak sejoli yang sedang di mabuk cinta. Padahal mereka tak menyadari tengah dalam perangkap syaitan yang membutakan mereka untuk masuk kedalam lubang kemaksiatan. Para pemuda juga tak sedikit yang melakukan tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Bukan menjadi cerminan pelajar dan mahasiswa yang baik malah tawuran dan yang lebih parahnya lagi merusak fasilitas sekolah dan kampus. Memakai narkoba dan masih banyak lagi. Jika tadi adalah penyimpangan yang kita lihat diluar bagaimana jika kita melihat pada instansi terkecil dalam hidup kita tapi menjadi ujung tombak pembentukan karakter apalagi kalau bukan keluarga. Banyak sekali anak yang melawan orang tua, bahkan banyak pemberitaan di media seorang anak yang membunuh orang tuanya karena tidak diberikan uang .
baru-baru ini juga tersiar kabar seorang anak yang menggugat ibu kandung nya sendiri. Jika dijabarkan sungguh banyak sekali penyimpangan yang telah dilakukan. Ini membuktikan moral generasi muda telah bobrok dan memprihatinkan. Ketika arus globalisasi dan modernisasi tidak bisa kita hadapi dengan cermat bagaimana dengan era pasar global yang akan dihadapi, tentu sangat mengancam ketahanan tembok moralitas bangsa. Maka, dari itu kita akan membahas contoh peristiwa kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat, penyebab kerusakan moral, dan juga usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut.

A. CONTOH PERISTIWA KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Dibawah ini kita akan membahas peristiwa kerusakan moral dikalangan remaja dan pemuda di masyarakat. Walaupun tidak secara keseluruhan tapi dibawah ini adalah peristiwa yang sering dilakukan oleh remaja dan pemuda saat ini apalagi dilingkungan penulis.
1. Mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang
Pengertian narkoba
Istilah narkoba dalam konteks hukum islam, tidak di sebutkan secara langsung dalam alquran maupun dalam sunnah. Dalam alquran hanya menyebutkan istilah khamr. Tetapi karena dalam teori ilmu Ushul fiqih, bila suatu hukum belum ditentukan status hukumnya, maka bisa diselesaikan melalui metode qiyas(analogi hukum).
Secara terminologi khamr adalah:
‘’bahwa khamr(minuman keras) menurut pengrtian syara’ dan bahasa arab adalah nama untuk setiap yang menutup akal dan menghilangkanya, khususnya zat yang digunakan untuk minuman keras terkadang terbuat dari anggur dan zat lainnya.’’
Khamr dalam istilah hukum nasionalnya adalah minuman keras atu minuman yang mengandung alkohol.
Berdasarkan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap sesuatu yang memabukkan dan merusak akal pikiran termasuk kategori khamr, baik yang terbuat dari anggur, kurma, dan lainnya termasuk dalamnya narkoba. Sedangkan pengertian narkoba secara terminologis adalah setiap zat yang apabila dikonsumsi akan merusak fisik dan akal, bahkan terkadang membuat orang menjadi gila atau mabuk. Hal yang demikian juga dilarang oleh undang-undang seperti: ganja, opium, morfin, heroin, kokain dan kat.
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2006, menyatakan bahwa pelajar dan mahasiswa tidak bebas resiko penyalahgunaan narkoba. Diantara 100 pelajar dan mahasiswa rata-rata 8 pernah pakai dan 5 dalam setahun terakhir pakai narkoba. Penyalahgunaan sudah terjadi di SLTP. Diantara 100 pelajar SLTP, rata-rata 4 dalam setahun terakhir pakai narkoba. angka pernah pakai lebih tinggi dua kali lipat pada mahasiswa (12%) dibanding pelajar SLTP (6%). Kemudian, sekitar 40% penyalahgunaan di SLTA dan separuhnya di akademi/PT mengaku pernah atau setahun ini memakai ganja.
Bagaimana jika bicara sekarang di tahun 2014 dan sebentar lagi akan menuju 2015, tidak dapat dipungkiri tingkat pemakaian obat-obat terlarang meningkat. Di lingkunagn penulis saja, sudah tersiar kabar bahwa para pemuda di daerah ini tidak sedikit yang memakai narkoba dan sangat memprihatinkan nya lagi mereka juga mengkontaminasi anak-anak di lingkungan tersebut untuk memakai nya. Dengan memberikan nya secara gratis di awal, setelah dipakai dan ketagihan sudah bisa di pastikan anak tersebut akan menggunakan segala cara untuk membelinya. Bahkan saya pernah melihat anak yang masih duduk di bangku SD sudah merokok dengan santainya tanpa rasa bersalah apalagi takut dan itu terlihat langsung oleh saya. Karena ketika itu mereka merokok lewat dari rumah saya. Bagaimana yang ditingkat SMP dan SMA? Takutnya mereka telah memakai barang haram tersebut. Nauzubillah. Kemudian, kenapa saya bilang bahwa kawasan atau lingkungan rumah saya ini telah terkontaminasi oleh barang haram tersebut, karena saya melihat gaya-gaya pemuda disini sama sekali tak bergairah untuk hidup dan tak jarang mereka keluar larut malam untuk hal yang tidak penting. Karena pemakaian narkoba ini membuat mereka bertindak lebih parah lagi. Apalagi kalau bukan mencuri, sudah mereka tidak bekerja bagaimana bisa memebeli barang haram tersebut. Jalan pintas nya adalah mencuri. Dan sudah sering sekali pencuri ini tertangkap oleh warga. Saya juga pernah melihat mereka datang ketempat-tempat gelap. Kalau di fikir-fikir apa yang dilakukan mereka disana?.

2. Seks Pra Nikah yang Menyebakan Kehamilan pada Remaja
Remaja memasuki usia subur dan produktif. Artinya, secara fisiologis mereka telah mencapai kematangan organ-organ reproduksi, baik remaja laki-laki maupun remaja wanita. Kematangan organ-organ reprodusi tersebut mendorong individu untuk melakukan hubungan sosial baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Mereka berupaya mengembangkan diri melalui pergaulan, dengan membentuk teman sebaya. Pergaulan bebas yang tak terkendali secara normatif dan etika-moral antar remaja yang berlainan jenis, akan berakibat adanya hubungan seksual diluar nikah. Pacaran dengan bermesra-mesra dan akhirnya kelewat batas dengan melakukan hal yang dilarang agama.
Islam sudah mengatur antara laki-laki dan perempuan. Bahkan islam mengatakan untuk tidak mendekati zina apalagi melakukan zina sudah jelas-jelas adalah perbuatan dosa besar, jika ingin melakukan hubungan suami istri itu dilakukan setelah menikah secara resmi. Firman Allah swt:
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
Artinya :Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. QS. Al-Israa’ (17) Ayat 32
Tapi, fakta dilapangan membuktikan banyak sekali wanita-wanita di usia muda yang telah hamil dan para wanita itu belum menikah. Dan akhirnya karena mau enak nya saja, anak dalam kandungan lah yang di korban kan dengan cara di menggugurkan kandungan atau lebih di kenal dengan istilah aborsi.
Menurut survey yang dilakukan oleh BNN pada tahun 2007, dengan mensurvey 100 pelajar ditemui bahwa praktek seks pranikah sudah terjadi pada pelajar SLTP. Praktek seks pranikah ini linear dengan praktek pemakaian narkoba oleh mereka.
Di dalam lingkungan sekitar. Terkhusus lingkungan penulis, bukan bermaksud untuk membuka aib, tapi sebagai pemuda dan masyarakat yang cerdas sudah selayak kita berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam seks pra nikah dan memikirkan dampak buruk yang akan ditimbulkan bukan hanya pada diri kita sendiri tetapi juga merugikan orang lain. Di daerah saya, sudah ada beberapa wanita yang melakukan seks diluar nikah dan akhirnya harus dinikahkan secepatnya oleh laki-laki tersebut, padahal saat itu ia masih duduk di bangku SLTA. Mau tidak mau ia harus berhenti sekolah. Kemudian, banyak sekali kasus seks pranikah yang saya temui yang mereka rata-rata masih duduk di bangku sekolah, akhirnya dinikahkanlah oleh orang tua nya agar tidak malu dengan tetangga dan keluarga besar, namun pada akhirnya lagi-lagi mereka harus putus sekolah. Seks pranikah tidak hanya mendapatkan dosa dari Allah, tapi juga membuat malu keluarga besar, harus putus sekolah karena perut yang terus-menerus membesar dan bisa jadi mereka harus menutup impian mereka karena mau tidak mau harus mengurus dan menjaga anak. Sudah malu dihadapan manusia juga lebih malu lagi di hadapan Allah. Semoga kita terhindar dari hal ini.

3. Berjudi
Siapa yang tak kenal hal satu ini, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas sekali pun tahu judi. Orang yang tenggelam didalam dunia perjudian beranggapan bahwa dengan judi ia bisa menjadi orang yang kaya raya dari hasil judi itu, padahal tak sedikit pun hasil dari judi itu membawa keberkahan bagi diri nya sendiri dan keluarganya. Jangan anggap sepele dengan yang satu ini. Jika anda memberikan nafkah untuk istri anda dengan cara yang haram salah satunya judi. Di hari kemudian bisa-bisa kelakuan dan tingkah laku anak anda akan menjadi buruk dan ia bisa saja melawan dan durhaka pada anda. Hal ini terjadi karena apa yang ada di dalam perut anak tersebut bukan makanan yang halal dan berkah. Dilingkungan penulis, banyak sekali mulai dari anak-anak, pemuda bahkan orang tua yang berprofesi cukup dihormati sekali pun berjudi. Anak-anak sering sekali bermain judi melalui playstation, jadi ada beberapa orang yang bermain playstation di rental PS dengan memainkan permainan sepakbola, mereka taruhan dengan uang dan menjagokan masing-masing club yang mainkan. Club sepakbola yang menang maka menang pula lah anak tadi yang menjagokan club tersebut. Kemudian para remaja sering sekali bermain judi melalui permainan internet dan taruhan(berjudi) bola. Misalnya, club sepakbola A dan B sedang tayang di TV mereka pun bertaruh siapa yang akan menang. Sama hal nya dengan judi yang dilakukan anak-anak tadi tapi media yang digunakan saja yang berbeda. Kemudian dikalangan orang dewasa, banyak sekali orang dewasa di kedai kopi bermain kartu domino dengan menggunakan uang. Siapa yang menang maka dialah yang mendapatkan uangnya. Dan masih banyak lagi kasus perjudian yang terjadi di berbagai kalangan. Apalagi sekarang lagi ngetrend bermain judi melalui permainan internet dengan nama permainan “penalty fever’’.

4. Tawuran Antar Mahasiswa
Mahasiswa adalah agent of change alias agen perubahan. Mahasiswa adalah kelompok pemuda, dan jelas pemuda pasti masih sehat dan kuat. Mahasiswa/I merupakan pemuda-pemudi berintelektual yang memiliki pengetahuan lebih dari yang lain. Jadi mahasiswa adalah calon-calon pemimpin dimasa yang akan datang. Apa yang terjadi jika agen perubahan malah bertindak anarkis dengan melakukan tawuran sesama mahasiswa. Bukankah mereka sama-sama agen perubahan?. Ini juga yang terjadi di lingkungan yang dirasakan oleh penulis. Bukan antar universitas, lebih parahnya lagi antar fakultas yang masih di dalam satu universitas. Layak nya saudara yang menerkam saudaranya sendiri. Hal ini terjadi karena hal yang sepele padahal. Berawal dari ejek-ejekan yang terjadi dari fakultas satu akhirnya fakultas yang satu lagi merasa tidak senang. Akhirnya tindakan buruk lah yang dilakukan mereka dengan tawuran dan membuat kerusuhan dikampus. Hal ini sampai masuk ke media cetak. Bukankah ini membuat kerugian banyak pihak? Mulai dari diri sendiri, orang tua dan universitas. Dan pada akhirnya pun pihak universitas memyelesaikan urusana ini. Mereka pun di bawa kepada rektor secara langsung.

Di lingkungan penulis, masih banyak lagi kerusakan moral yang terjadi, banyak anak-anak remaja yang durhaka pada orang tuanya, remaja yang bermesraan dimuka umum, pergi dugem, perilaku konsumtif, tidak menutup aurat, cabut dari sekolah dan masih banyak lagi. Semoga kita terhindar dari kerusakan moral dan dapat membenahi lingkungan kita dan diri kita sendiri. Berikut adalah video kerusakan moral pemuda di masa kini:

B. PENYEBAB KERUSAKAN MORAL

a. Remaja tidak mengetahui siapa dan untuk apa dirinya diciptakan didunia.
b. Remaja tidak mengetahui mana perbuatan yang baik untuk dilakukan dan mana perbuatan yang harus dihindari sehingga mudah dipengaruhi oleh hal yang tidak baik juga.
c. Remaja tidak menyadari siapa teladan dalam kehidupannya
d. Tidak mawas diri atau berhati-hati dalam bergaul
e. Lembaga keluarga mengabaikan tugasnya
f. Keluarga dan perceraian keluarga yang mengakibatkan perilaku negatif pada anak. Serta orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, tidak memberikan pengetahuan agama dan kontrol keluarga yang kurang baik pada anak.
g. Kurang nya penerapan disiplin orang tua pada anak
h. Kemiskinan dan kekerasan pada anak
i. Tinggal jauh dari orang tua dan mengikuti teman sepermainan yang kurang baik
j. Ketidak optimalan institusi-institusi pendidikan dalam menjalankan perannya
k. Lingkungan atau komunitas yang tidak baik
l. Tindakan hukum yang kurang tegas pada perilaku negatif seperti pemakai narkoba, berjudi dan melakukan perbuatan seks diluar nikah. Bahkan apabila seseorang melakukan seks diluar nikah dan mereka atas dasar suka sama suka tidak dikenakan sanksi dan tidak ada hukum yang mengaturnya dinegara ini.
m. Suguhan media yang menjejali remaja dengan hal-hal yang bisa merangsang libido seks
n. Lemahnya kontrol masyarakat

C.USULAN UNTUK PERBAIKAN ATAS KERUSAKAN MORAL

a. Lembaga keluarga

1. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dikenal oleh seorang anak seharusnya mengetahui apa peranannya. Sebagai orang tua sudah selayaknya seorang anak sedari dini diberikan pendidikan mengenai hal keagamaan sehingga ketika sudah dewasa anak sudah tau dan berfikir ulang untuk melakukan hal yang menyimpang.
2. Orang tua memberitahu mana perbuatan yang positif yang boleh dilakukan dan mana perbuatan negatif yang dilarang.
3. Walaupun orang tua sibuk, setidaknya anak harus diberikan perhatian setiap harinya. Walaupun sebuah keluarga bergelimangan harta sebenarnya yang dibutuhkan anak hanya perhatian dan kasih sayang dari orang tua
4. Memberikan pengetahuan tentang seks pada anak. Bagi kebanyakan orang tua membicarakan seks kepada anak adalah hal yang tabu, padahal seks bukanlah sesuatu yang porno. Pengetahuan tentang seks, bahwa seseorang yang melakukan seks diluar nikah akan menimbulkan hal yang negatif dan pastinya berdosa. Ini adalah hal yang penting. Sehingga anak tahu melakukan hubungan seks hanya dengan orang yang halal baginya.
5. Tidak memanjakan anak secara berlebihan. Jadi, ketika orang tua tidak mampu membelikannya anak tidak memberontak dan melakukan hal negatif.

b. Lembaga pendidikan

1. Lembaga pendidikan mengetahui peranannya dalam mendidik dan membentuk karakter siswa dan siswi denga baik. Bukan malah sebaliknya, banyak kasuu pelecehan seksual yang terjadi di sekolah.
2. Seharusnya di sekolah ada mata pelajaran mengenai akhlak dan moral. Di sekolah-sekolah agama saja jam pelajaran untuk mata pelajaran akidah akhlak sedikit sekali. Bagaimana mau berakhlak jika kita tidak menyadari mata pelajaran akhlak lah yang penting tapi malah disepelekan.
3. Sekolah sering melakukan kegiatan atau acara positif baik di dalam maupun diluar sekolah. Misalnya: kegiatan menanam seribu pohon, kunjungan ke panti asuhan, kunjungan ke pabrik-pabrik, membuat acara maulid nabi dan isra’ mi’raj, dsb. Ini akan menambah pengetahuan umum dan agama.
4. Guru dan juga staff meberikan teladan atau contoh yang baik kepada siswa dan siswi nya.
5. Sekolah menanamkan cinta pada agama nya yaitu islam. Misalnya, sekolah menerapkan sholat zuhur berjamaah di sekolah, membuat duha time atau waktu untuk sholat duha, sebelum dan sesudah belajar doa bersama dsb.
6. Bertindak tegas kepada mahasiswa yang melakukan kerusakan fasilitas kampus dan tawuran.

c. Lembaga masyarakat

1. Peran kepala desa seharusnya lebih tegas lagi terhadap tindakan kriminal dan perilaku negatif di daerahnya. Bahkan jika perlu dibuat peraturan untuk wilayah setempat agar masyarakat tidak macam-macam untuk berjudi, seks diluar nikah, narkoba dll.
2. Masyarakat harus memilki jiwa saling peduli satu sama lain. Jadi, jangan menjadi masyarakat yang acuh tak acuh.

d. Lembaga hukum
1. Memberikan hukuman tegas kepada para pemakai narkoba dan obat-obat terlarang begitu pula dengan judi dan perilaku kriminal lainnya.

e. Media massa
1. Menyiarkan siaran yang berbobot
2. Tidak menyiarkan hal yang mengandung kekerasan dan seksual
3. Mengikuti kode etik penyiaran yang telah di tetapkan

Menurut Nalland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya pada saat memasuki usia remaja, yakni :
a. Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan berbicara
b. Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu dini akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c. Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru, mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek kepribadiannya.
d. Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat anak yang benar.
Selain itu peranan sekolah sangatlah membantu dalam membentuk karakter anak karena dengan adanya sekolah maka pendidikan yang tidak dapat di rumah akan mereka dapatkan di dalam sekolah. Sekolah mempunyai fungsi sebagai pembina dan pendidikan moral. Sekolah hendaknya mengusahakan lapangan bagi tercapainya pertumbuhan pengembangan mental dan moral pesertadidik. Dengan demikian sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental, moral, dan sosial serta segala aspek kepribadiaan dapat berjalan dengan baik. Dalam sebuah sekolahan harus mempunyai metode dan strategi yang efektif dalam pelaksanaannya selain itu pendidikan agama hendaknya dilakukan secara intensif berkesinambungan, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Menurut Pidarta (2007:170), sejak dini anak-anak perlu dididik berpikir kritis. Kemampuan untuk mempertimbangkan secara bebas dikembangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi kesempatan mengamati, melaksanakan, menghayati dan menilai kebudayaan itu. Cara ini membuat anak tidak menerima begitu saja suatu kebudayaan melainkan melalui pemahaman dan perasaan dikala berada dalam kandungan budaya itu, yang akhirnya menimbulkan penilaian menerima, merevisi, atau menolak budaya itu. Pendidikan seperti ini membuat anak-anak terbiasa dengan pemikiran yang terbuka dan lentur.
Dibutuhkan strategi yang benar-benar bagus dalam mewujudkan pendidikan moral yang efektif dan aplikatif. Beberapa diantaranya adalah:
a. Pendidikan dapat di lakukan dengan memantapkan pelaksanan pendidikan agama.
b. Pendidikan agama harus dirubah dari metode pengajaran menjadi pendidikan agama agar dapat belaja sopan santun.
c. Pendidikan moral harus dilaksanakan secara integraed, yaitu dengan melibatkan semua pihak yang bersangkutan baik keluarga, sekolahan, masyarakat agar kemrosotan moral dapat di minimalisir keberadaannya.
Adapun peran masyarakat yang dapat membantu mengatasi problematika pergaulan pelajar yang terjadi saat ini salah satunya yaitu dengan mengadakan penyuluhan mengenai dampak yang akan ditimbulkan jika para pelajar terjerumus pada pergaulan yang menyimpang seperti menggunakan obat-obatan terlarang, minum-minuman keras sampai pada pergaulan bebas. Sehingga diharapkan, para pelajar dapat lebih membentengi diri agar tidak terjebak pada pergaulan yang mungkin nantinya dapat merugikan dirinya sendiri.
( https://fellypun.wordpress.com/lkpp/penyimpangan-pergaulan-pelajar/)

D.PENUTUP
Moral generasi muda sebagai modal bangsa. Bagaimana bisa generasi muda yang menjadi harapan bangsa kedepan memiliki moral yang bobrok, mulai dari memakai narkoba dan obat-obatan terlarang, melakukan hubungan seks pranikah yang menyebabkan hamil, berjudi dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa dll. Kita tidak bisa berdiam diri menutup mata dan telinga seolah tak melihat dan mendengar padahal semua itu ada di sekitar kita. Kedepan kita akan meghadapi AFTA, jika kita tidak siap untuk bersaing maka hancurlah kita. Maka dari itu marilah kita sama-sama memperbaiki diri kita sendiri, saudara-saudara kita, keluarga dekat dan teman kita. Jadi, pribadi yang lebih peduli itu tidak salah kan? Apalagi atas nama agama dan bangsa kita kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Mardani, Dr. 2008. PENYALAHGUNAAN NARKOBA: Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Pidana Nasional. Jakarta: PT Raja Grafindo.
[2] Dewanata, Pandu dan Chavchay Syaifullah. 2008. Rekonstruksi Pemuda. Jakarta: Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga.
[3] Ridha, Dr. Akram. Manajemen Gejolak: Panduan Ampuh Orangtua Mengelola Gejolak Remaja. Bandung: Syamiil Cipta Media.
[4] https://fellypun.wordpress.com/lkpp/penyimpangan-pergaulan-pelajar/

• www.muslimedianews.com
• www.cyberdakwah.com
• www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia

Posted on Updated on

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Tiada ungkapan kata yang layak diucapkan setiap menerima kenikmatan dari Allah SWT. Kecuali ucapan rasa syukur Alhamdulillahi robbil a’lamin. Salah satu kenikmatan terbesarnya adalah kesempatan dalam menuntut ilmu dalam keadaan sehat,islam,iman, dan ihsan. Sehingga pada kesempatan kali ini, saya dapat menghadirkan sebuat goresan pena dengan judul “Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia, Studi Analisis Etnografi pada Tradisi di Daerah Lamongan, Jawa Timur”.

Tak terlupa, salawat serta salam terlantun kepada idaman hati umat islam, Nabi Muhammad SAW. Suri teladan yang baik bagi umatnya. Penyempurna akhlaq seluruh umat. Semoga beliau berkenan memberikan syafa’atnya kelak pada akhir zaman. Aamiin.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, Aamiin…

Ketika mengetahui kontes blog muslim ini, sebagai seorang muslim saya berbangga hati. Di tengah penyalahgunaan media sosial, ternyata masih terdapat ruang dalam berdakwah. Goresan pena saya ini hanya setetes air di lautan yang masih perlu banyak perbaikan. Meski demikian semoga bermanfaat bagi sesama. Khususnya bagi para perempuan dan calon ibu pencetak generasi islami selanjutnya. Aamiin

 

Mukadimah

Berbicara masalah remaja, memang tidak akan ada habisnya. Dalam definisi masyarakat awam, remaja biasa diartikan dengan usia muda kurang lebih 11-24 tahun dan belum menikah. Oleh karena itu, sebelumnya mari kita simak definisi remaja menurut pakarnya. Menurut Csikzentimihalyi dan Larson (Sarwono, 2002) menyatakan bahwa remaja adalah restrukturisasi kesadaran. Artinya, masa remaja merupakan masa penyempurnaan dari perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya. Puncak perkembangan jiwa tersebut ditandai dengan adanya proses dari kondisi entropy ke kondisi negentropy. Entropy adalah keadaan kesadaran manusia belum tersusun rapi. Meskipun seseorang telah memiliki banyak pengetahuan, perasaan dan lain-lain, namun hal tersebut belum saling terkait dengan baik. Negentropy adalah keadaan kesadaran tersusun dengan baik , sehingga pengetahuan yang dimiliki seseorang saling terkait, yang akhirnya mengakibatkan orang yang bersangkutan merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas, sehingga bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

Berdasar ulasan di muka, dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan sebuah masa restrukturalisasi kesadaran manusia pada usia 11-24 tahun. Sedangkan pertanyaan yang muncul saat ini adalah, bagaimana kondisi remaja Indonesia saat ini? Sudahkah mencapai restrukturalisasi kesadaran sebagai remaja generasi penerus bangsa? Bagaimana kondisi remaja yang sebagian besar adalah beragama islam? Sudahkan menemukan jati diri sebagai seorang muslim?

Dilansir dari IndonesiaRayaNews.com, Deputi Bidang KBKR; dr. Julianto Witjaksono AS., MGO., Sp.O.G., K.FER, dalam diskusi mingguan BKKB, di Jakarta, Rabu (20/3/2013) mengungkapkan bahwa satu dari dua remaja 50 persennya beresiko pernah melakukan hubungan itim. Terlebih lagi, angka kehamilan anak diluar nikah juga mengalami peningkatan, untuk tahun 2012 pihaknya mencatatat 4,8 persen kehamilan terjadi pada anak usia 10 hingga 11 tahun. Hal tersebut diperkuat oleh SURYA Online, KediriKetua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU Khofifah Indah Parawansa sangat prihatin dengan data angka kehamilan anak-anak dan remaja di luar nikah yang semakin mencemaskan. Berdasarkan data 2013, angka kehamilan di luar nikah para generasi penerus itu telah mencapai jutaan. “Selama 2013, anak-anak usia 10 – 11 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 – 19 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 2,2 juta,” ungkap Khofifah Indah Parawansa pada pengajian umum puncak hari lahir Muslimat NU ke 68 yang berlangsung di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kota Kediri, Minggu (8/6/2014). Jumlah itu belum termasuk angka remaja yang hamil usia 12 – 14 tahun yang tidak terdata.

 

Sungguh miris saudaraku, sebagai seorang perempuan menjerit hati ini.

Di tengah arus globalisasi, tuntutan hidup hedonis semakin menjadi-jadi. Berdasarkan data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012, Indonesia tercatat sebagai negara paling konsumtif nomor empat se-Asia-Pasifik. Sugguh gaya hidup foya-foya yang memprihatinkan. Di saat saudara kita di Palestina merasakan kesakitan atas penindasan kaum Israel. Hujan pelor, pistol, bahkan bom sudah menjadi hidangan setiap harinya. Tidakkah terdengar suara tangis mereka yang berlumuran darah meminta pertolongan kepada sesama saudara muslimnya? Tidakkah kita merasakan setiap kesakitan atasnya? Lantas bagaimana dengan nasib generasi Indonesia 2025 dalam bonus demografi mendatang? Belum lagi tuntutan persaingan AFTA, MEA, dan ASEAN Community? Akankah generasi muslim bangsa ini kehilangan jati diri?

 

Peran Generasi Perempuan Indonesia

Ir. Soekarno yang terkenal sebagai bapak proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia berkata “ beri aku seribu orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku satu pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia. Dalam hal ini, begitu penting peran pemuda telah dikemukakan oleh pendahulu kita. Akankah sebagai seorang pemuda, apalagi sebagai seorang perempuan dapat menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran? Islam rahmatan lil a’lamin menjawab dalam sebuah hadits nabi :

Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Hal tersebut pun diperkuat oleh maqalah yang menyatakah bahwasanya:

“wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka negara akan rusak pula”.

 

Berdasar hadits dan maqalah tersebut, sudah jelas bahwa dunia dan negara bergantung pada kaum perempuan. Kaum perempuan berperan sebagai pengokoh dan pengindah akhlaq generasi selanjutnya. Hal ini disebabkan, dalam rahim seorang perempuan akan lahir generasi-generasi hebat selanjutnya. Sehingga dapat dikatakan peran perempuan sebagai seorang ibu sangatlah penting.

 

Di sisi lain, kecenderungan merendahkan perempuan telah lahir sejak zaman jahiliyah. Kebiasaan jahiliyah untuk membunuh bayi perempuan merupakan hal yang marak terjadi. Perempuan dianggap manusia kelas dua dan tidak mempunyai hak. Sampai akhirnya islam rahmatan lil ‘alamin datang dengan kebenaran dan keadilan. Islam yang berpedoman pada Al-Quran dengan bijak menjelaskan kedudukan perempuan. Mari kita renungkan ayat berikut:

“ Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35) 

 

Berdasar rujukan surah Al-Ahzab 35 tersebut, disebutkan secara setara laki-laki dan perempuan yang memenuhi syarat dari firman Alloh yaitu: muslim-mukmin, taat,jujur,sabar, khusuk,bersedekah, berpuasa, dan menyebut nama Alloh maka Allah menyediakan pahala yang besar. Tidak terdapat perbedaan imbalan / pahala yang akan diberikan oleh Allah SWT terhadap hamba-Nya. Allah tidak membedakan laki-laki maupun perempuan.

Berdasar ayat tersebut, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan kebaikan dan memperoleh pahala. Hal di muka menyatakan dengan jelas bahwa peran perempuan begitulah penting sebagai penentu kebaikan dunia.

 

Asal Usul Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki di Lamongan Jawa Timur

Tradisi perempuan meminang laki-laki sebelum melangsungkan pernikahan sudah cukup lama berlangsung di Lamongan. Tradisi itu dinilai tidak lazim,karena bertolak belakang dengan tradisi yang umum terjadi,yaitu kaum laki-laki yang meminang kaum perempuan. Lebih mengherankan lagi tradisi tidak diketahui sejak kapan dianut dan dilaksanakan masyarakat, hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kabid seni budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan,Suyari menjelasakn bahwa tradisi yang tidak diketahui mulai dilakukan masyarakat sejak kapan tersebut, diduga berhubungan dengan sejarah salah satu leluhur Kabupaten Lamongan bernama Mbah Sabilan dalam riwayat Panji Laras dan Panji Liris (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006).

Dalam sumber lain disebutkan bahwa :

Cerita tentang Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi puteri Adipati Wirosobo yang meminang Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris putera Raden Panji Puspokusumo Bupati ketiga Lamongan ini, dianggap sebagai cerita yang mempengaruhi adanya tradisi perempuan meminang laki-laki, dan juga sebagai legitiminasi atau pengesahan adanya tradisi perempuan meminang laki-laki di Lamongan (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006)

 

Dalam riwayat Panji Laras dan Panji Liris diceritakan bahwa kedua jejaka tersebut mempunyai ketampanan dan pesona. Sehingga membuat putri Andarsari dan Andanwangi terpikat terlebih dahulu kepada Panji Laras dan Panji Liris. Akan tetapi, Putri Andansari dan Andanwangi belum memeluk islam. Sehingga Panji Laras dan Panji Liris ingin menyiarkan islam dengan cara memberikan syarat pernikahan. Syarat tersebut adalah kedua putri tersebut harus membawa sendiri genuk dari batu (tempat air—lambang dari wudhu)  dan tikar dari batu (lambang sajadah) dari daerahnya menuju ke Wirasaba. Akan tetapi, Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Betis kedua putri tersebut dipenuhi rambut yang lebat dan hitam. Sehingga membuat takut Panji Laras dan Panji Liris ketika melihatnya. Akhirnya Panji Laras dan Panji Liris kabur meninggalkan kedua putri tersebut.

Berdasar pemaparan di muka dapat diambil simpulan bahwa asal usul tradisi perempuan meminang laki-laki di daerah Lamongan Jawa Timur berasal dari cerita putri Andansari dan Andanwangi putri dari Adipati Wirasaba yang ingin meminang putra dari Raden Panji Puspa Kusuma yaitu Panji Laras dan Panji Liris. Tradisi ini juga merupakan kisah syiar agama islam di daerah Wirasaba (sekarang daerah Kertosono perbatasan Jombang-Nganjuk) yang dilakukan oleh Raden Panji Laras dan Panji Liris.

 

Nilai Sosial Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki dalam Masyarakat

Masyarakat sekitar Lamongan—nenek moyang/leluhur secara konvensional telah melakukan legitimasi cerita Panji Laras dan Panji Liris sebagai asal usul tradisi perempuan meminang laki-laki. Legitimasi tersebut mengarahkan masyarakat pada suatu tindakan/tingkah laku tertentu, yaitu suatu kebiasaan perempuan meminang laki-laki. Kebiasaan ini pun dianggap wajar/lazim di daerah Lamongan. Di sebelas kecamatan di daerah Lamongan—JawaTimur,yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembangbahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagian kecamatan kota masih melakukan tradisi tersebut. Tradisi ini pun dilakukan masyarakat—nenek moyang/leluhur sebagai upaya untuk meningkatkan strata sosial dan menjunjung nilai-nilai sosial. Hal ini sesuai dengan pemaparan berikut :

Jalan ini ditempuh para leluhur Lamongan agar masyarakat menganggap sah tradisi perempuan meminang laki-laki, karena sesuai dengan adat kebiasaan bangsawan. Dan masyarakat menganggap bahwa bila dapat meniru gaya hidup bangsawan kerajaan akan disegani anggota masyarakat lainnya, yang berarti akan menaikan , harga dirinya (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006)

 

Berdasar pemaparan di muka dapat diambil simpulan bahwa nilai sosial masyarakat di daerah Lamongan, Jawa Timur  dalam menanggapi tradisi perempuan meminang laki-laki terletak pada pengakuan/legitimasi masyarakat terhadap tradisi perempuan meminang laki-laki. Tradisi unik ini pun, diakui dan dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar. Legitimasi ini diperkuat dengan realisasi sebuah kebiasaan perempuan meminang laki-laki di daerah Lamongan Jawa Timur.

 

Hukum Perempuan Meminang Laki-Laki dalam Syariat Islam

Dijelaskan oleh seorang agamawan di Tuban (Kiai Haji Ashari), “ pada prinsipnya perempuan menentukan pasangannya/ perempuan meminang laki-laki tidak melanggar hukum Islam. Bahkan dalam beberapa kisah Rasulullah terdapat peristiwa yang mengungkapkan bahwa kaum perempuan seperti juga laki-laki mempunyai hak untuk menentukan pasangan hidupnya. Dalam masalah pinangan, Islam juga memperbolehkan pihak perempuan menawarkan diri untuk dinikahi oleh seorang laki-laki yang menurutnya akan mampu membawa kebahagiaan dunia akhirat (dalam jurnal Tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia,2011:16)

Hal tersebut dapat dilihat dalam pernikahan agung Rasulullah dengan Sayyidatina Khadijah. Khadijah sang saudagar kaya raya berinisiatif menawarkan pernikahan kepada Rasulullah setelah mengetahui kemuliaan dan keagungan akhlak Rasulullah. Dalam buku Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi berjudul Kumpulan Hadist Shahih Bukhari Muslim dikisahkan:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku? lalu anak wanita Anas pun berkomentar, Alangkah sedikitnya rasa malunya.. Anas berkata, Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau. (HR. Bukhari 4726). Bukhari membuat hadits ini di  dalam bab “Perempuan menawarkan dirinya kepada laki-laki yang saleh”.

Berdasar hadits tersebut, terdapat dalil yang menunjukkan diperbolehkan perempuan menawarkan dirinya kepada orang yang diharapkan berkahnya. Dan di dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah antara lain bahwa: orang yang ingin kawin dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya itu tidak tercela, karena mungkin saja keinginan tersebut akan mendapatkan sambutan yang positif, kecuali jika menurut adat yang berlaku yang demikian itu pasti ditolak, seperti seorang rakyat jelata hendak meminang putri raja atau saudara perempuannya; dan seorang perempuan yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya juga tidak tercela, lebih-lebih jika dengan tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin karena kelebihan laki-laki yang hendak dilamarnya, atau karena suatu keinginan yang apabila didiamkan saja akan menyebabkannya terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang.

Meskipun Islam memperbolehkan perempuan meminang laki-laki, akan tetapi Islam sangat memuliakan kaum perempuan dengan mewajibkan lakilaki menyerahkan mahar (mas kawin). Dalam hal ini Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin, tetapi atas permintaan pihak perempuan yang disepakati  kedua belah pihak dan meurut kadar kemampuan. Namun Islam lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya. Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah Saw bersabda, ”Sebaik-baiknya mahar adalah yang paling ringan.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Majah, lihat Shahih Al-Jami’us Shaghir 3279).

Fakta mengungkap bahwa tradisi perempuan meminang atau inisiatif perempuan dalam menentukan pasangan hidupnya, merupakan gambaran bahwa kaum perempuan di Lamongan telah memiliki hak untuk memilih pasangan.

Menyimak tradisi perempuan meminang di Lamongan, adalah suatu yang sangat menarik, sekalipun pada awal proses pembentukkan rumah tangga pihak perempuan yang mengambil inisiatif, namun pada proses atau tahap berikutnya berlangsung sebagaimana tradisi Jawa.  Demikian pula tahap-tahap berikutnya menjelang hari H sampai dengan pelaksanaan ijab  kabul, semuanya dilaksanakan dengan merujuk kepada adat istiadat Jawa (timur) dan syariat Islam.

Berdasar pemaparan di muka dapat disimpulkan bahwa hukum perempuan meminang laki-laki diperbolehkan selama tidak melanggar syariat islam. Meminang hendaknya dilakukan dengan cara yang baik. Meskipun begitu, mahar tetap diberikan oleh pihak laki-laki. Dan yang lebih penting, laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Perempuan sebagai istri wajib patuh kepada perintah laki-laki sebagai suami. Selama perintah tersebut tidak melanggar syariat islam.

 

Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia dengan Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki)

Pada umumnya, meminang dilakukan oleh laki-laki kepada pihak perempuan. Akan tetapi, di daerah Lamongan, Jawa Timur meminang dilakukan oleh pihak perempuan kepada laki-laki. Mari kita renungkan apakah manfaat jika perempuan meminang laki-laki?

  1. Jika perempuan meminang laki-laki, maka yang berhak memiliki hak pilih adalah perempuan.

Ketika perempuan mempunyai hak prerogatif dalam memilih, maka laki-laki tidak akan seenaknya saja merendahkan perempuan. Hal ini dimaksudkan agar laki-laki juga merasakan penolakan maupun penerimaan. Sehingga tidak hanya perempuan yang dituntut berstatus perawan, akan tetapi laki-laki juga dituntut sebagai perjaka.

  1. Jika perempuan meminang laki-laki, maka perempuan bisa memilih laki-laki yang baik menurutnya.

Pada umumnya, jika laki-laki meminang perempuan maka laki-laki akan memilih perempuan. Dan laki-laki akan merasa memiliki perempuan. Sehingga kebanyakan persoalan rumah tangga, misalnya KDRT dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki merasa sebagai pemilik perempuan. Sehingga seenak saja memperlakukan perempuan. Namun, ketika perempuan memilih laki-laki dan yakin bahwa laki-laki tersebut baik untuk dirinya. Maka, perempuan sebagai istri juga akan merasa memiliki suaminya. Sehingga persoalan rumah tangga seperti KDRT, minimal dapat dikurangi. Jika tetap terjadi KDRT, setidaknya perempuan tidak akan menyesal menikah dengan suaminya karena suaminya adalah pilihannya sendiri.

  1. Upaya revitalisasi akhlaq generasi perempuan dengan tradisi perempuan meminang laki-laki ini, juga sebagai upaya preventif terhadap masuknya kebudayaan barat. Kebiasaan perempuan barat yang suka memilih pasangannya sendiri,kebiasaan bergonta ganti pasangan/ pacar, bahkan kebiasaan tinggal bersama dengan lawan jenis tanpa status pernikahan. Hal tersebut biasanya dilakukan agar hasrat ingin memiliki dari segi psikis bisa terpenuhi. Alangkah bijaknya sebelum kebudayaan asing tersebut masuk tanpa filterasi yang baik, para perempuan Indonesia sudah memiliki budaya dengan syariat dan hukum yang jelas. Sehingga tidak akan ada pihak yang dirugikan demi menjaga kesucian generasi perempuan Indonesia.

Mari kita renungkan, apabila perempuan berani menolak jika disentuh,diraba, dan sejenisnya oleh laki-laki. Maka hal tersebut, akan menjadi awal untuk pencegahan hubungan intim sebelum menikah. Jika perempuan berani mengatakan “ sekarang bukan era untuk dilihat, diraba, diterawang tapi sekarang adalah waktunya menikah jika memang mencintaiku”. Subhanallah sungguh indah, jika perempuan berani menyuarakan penolakan terhadap kemaksiatan.

 

Konklusi

Keberanian perempuan untuk MEMILIH menyuarakan penolakan dan penerimaan menjadi sumber kekuatan revolusi akhlaq. Hal tersebut menjadi awal keputusan kaum perempuan. Keputusan untuk menerima atau menolak kemaksiatan. Hal ini menjadi penentuan kaum perempuan, tetap ingin menjadi kaum kelas dua dengan selalu mengatakan “iya” atau berani mengambil keputusan dengan mengatakan “ tidak” pada maksiat. Memang terlihat sederhana, awal yang hanya dimulai dengan mengatakan “iya” atau “tidak”. Langkah awal yang menentukan pijakan selanjutnya, dan pijakan selanjutnya yang menentukan hasil akhir.

 

Semoga Bermanfaat

 

Daftar Rujukan

http://lampost.co/berita/indonesia-termasuk-negara-paling-konsumtif diakses pada 8 Januari 2015 pukul 01:40 WIB

http://www.IndonesiaRayaNews.com diakses pada 6 Januari 2015 pukul 21:47 WIB

http://www.psychoshare.com/file-104/psikologi-remaja/definisi-remaja.html diakses pada 8 Januari 2015 pukul 20:07 WIB

http://www.SURYA Online, KEDIRI  diakses pada 6 Januari 2015 pukul 21:47 WIB

Sarwono, 2002. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo

Spradley, James P.  1997.  Metode Etnografi.  Yogyakarta:  Tiara Wacana Yogya.

Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. 2014. Kumpulan Hadist Shahih Bukhari Muslim. Solo: Insan Kamil

Tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.2011.Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta:Diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto.2006.Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan. Jalan Menur Pumpungan 32 Surabaya

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Penyimpangan Moral Remaja, Penyebab, dan Solusinya

Posted on Updated on

PENDAHULUAN

Berbagai gejala yang melibatkan perilaku remaja akhir-akhir ini tampak menonjol di masyarakat. Remaja dengan segala sifat dan sistem nilai tidak jarang memuncukan perilaku-perilaku yang ditanggapi masyarakat yang tidak seharusnya diperbuat oleh remaja. Perilaku-perilaku tersebut tampak baik dalam bentuk kenakalan biasa maupun perilaku yang menjurus tindak kriminal. Masyarakatpun secara langsung ataupun tidak langsung menjadi gelisah menghadapi gejala tersebut (Hadisaputro, 2004). Belum lagi ancaman yang muncul dari media seperti tayangan kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Sejauh ini kekhawatiran terbesar yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan adalah tindak kekerasan yang dilakukan anak-anak muda, dan itu sudah merupakan keadaan gawat yang perlu segera diatasi, namun demikian ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu usia pelaku tindak kriminalitas semakin lama semakin muda (Borba, 2008).  Hal ini menunjukkan adanya  penyimpangan moral pada generasi remaja.

Masalah moral adalah suatu masalah yang menjadi perhatian orang dimana saja, baik dalam masyarakat yang telah maju, maupun dalam masyarakat yang masih terbelakang. Karena kerusakan moral seseorang mengganggu ketenteraman yang lain. Jika dalam suatu masyarakat banyak yang rusak moralnya, maka akan goncanglah keadaan masyarakat itu. Jika kita tinjau keadaan masyarakat di Indonesia terutama di kota-kota besar sekarang ini akan kita dapati bahwa moral sebagian anggota masyarakat telah rusak atau mulai merosot. Dimana kita lihat, kepentingan umum tidak lagi menjadi nomor satu, akan tetapi kepentingan dan keuntungan pribadilah yang menonjol pada banyak orang (Komariah, 2011).

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain : minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, seks bebas dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS (Rauf cit. Sulistianingsih, 2010)

Adanya penyimpangan moral remaja ini mendorong penulis untuk memaparkan tentang penyimpangan moral remaja saat ini, penyebabnya, dan solusinya yangng diperoleh dari berbagai sumber pustaka. Penulis juga mengharapkan adanya manfaat bagi penulis  dan para pembaca sekalian.

 MORAL DAN PENYIMPANGAN MORAL

Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur, maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya. Memang, moral sangat penting bagi suatu masyarakat, bangsa dan umat. Kalau moral rusak, ketenteraman dan kehormatan bangsa itu akan hilang. Oleh karena itu, untuk memelihara kelangsungan hidup sebagai bangsa yang terhormat, maka perlu sekali memperhatikan pendidikan moral, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat (Komariah, 2011).

Moral melibatkan pemikiran, perasaan dan tingkah laku yang sesuai Ataupun sebaliknya pada pandangan masyarakat. Ia mempunyai kaitan dengan hubungan intrapersonal dan interpersonal manusia. Dimensi interpersonal berkaitan dengan aktivitas individu yang tidak melibatkan orang lain. Manakala, interpersonal pula berkaitan dengan hubungan dengan orang lain (Madoan dan Ahmad, 2004).

Moral berasal dari bahasa latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, perilaku, dan adat istiadat dalam kehidupan (Hurlock, 1990).  Rogers (1977) mengartikan moral sebagai pedoman salah atau benar bagi perilaku seseorang yang ditentukan oleh masyarakat.  Allen (1980) mengartikan moral sebagai pola perilaku, prinsip‐prinsip, konsep dan aturan‐aturan yang digunakan individu atau kelompok yang berkaitan dengan baik dan buruk. Moral menurut Piaget (1976) adalah kebiasaan seseorang untuk berperilaku lebih baik atau buruk dalam memikirkan masalah ‐masalah sosial terutama dalam tindakan moral.

Moral akibat pengaruh faktor-faktor tertentu dapat menyimpang.  Kartono (2007) memberi definisi yang cukup panjang, penyimpangan moral adalah kondisi individu yang hidupnya delingment (nakal, jahat), yang senantiasa melakukan penyimpangan perilaku dan bertingkah laku asosial atau antisosial dan amoral. Ciri-ciri orang yang mengalami defisiensi moral cenderung psikotis dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan, sikapnya dingin, beku, tanpa afeksi, emosinya labil, munafik, jahat, sangat egoistis, self centered, dan tidak menghargai orang lain. Tingkah laku orang yang mengalami defisiensi moral selalu salah dan jahat (misconduct), sering melakukan penyimpangan perilaku, bisa berupa menindas, suka berkelahi, mencuri, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan sebagainya. Ia selalu melanggar hukum, norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Penyimpangan moral remaja biasanya diwujudkan dalam bentuk kenakalan. Santrock (2003) menjelaskan kenakalan remaja berdasarkan tingkah laku, yaitu;

a. Tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai

-nilai norma- norma dalam  masyarakat. Contoh: berkata kasar pada guru, orang tua.

b.Tindakan pelangga ran ringan seperti ; membolos sekolah, kabur pada jam mata pelajaran tertentu dll.

c.  Tindakan pelanggaran berat yang merujuk pada semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja, seperti; mencuri, seks pranikah, menggunakan obat-obatan terlarang.

PENYIMPANGAN MORAL PADA REMAJA SAAT INI

Beraneka ragam tingkah laku atau perbuatan remaja yang menyimpang dari moral sering menimbulkan kegelisahan dan permasalah terhadap orang lain. Penyimpangan moral tersebut dapat berwujud sebagai kenakalan atau kejahatan. Berikut di bawah ini adalah beberapa contoh dari penyimpangan –peyimpangan moral pada remaja yang sering terjadi dan muncul dalam media-media pemberitaan.

1.      Perkosaan

Perkosaan (rape) berasal dari bahasa latin raperen yang berarti mencuri, memaksa,merampas, atau membawa pergi (Haryanto, 1997). Perkosaan adalah suatu usaha untuk melampiaskan nafsu seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan  dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum (Wignjosoebroto, 1997).

Sejak tahun 2012 hingga 2014 bulan Juli, kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta orang dengan rician per tahun kasus aborsi 750 ribu per tahun atau 7 ribu dalam sehari dan 30 persen pelakunya adalah remaja SMP dan SMA. Fenomena tingginya remaja melakukan aborsi karena akibat perkosaan dan hubungan suka sama suka (Ardiantofani, 2014). Dalam Republika.co.id (Sadewo, 2014), Indonesia Police Watch (IPW) melihat kecenderungan  meningkatnya angka perkosaan di Indonesia tahun ini.  Menurut Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, meski belum memiliki angka pasti untuk tahun ini, namun kecenderungan tersebut telah terlihat. Tahun 2013 setiap bulan tiga sampai empat kasus perkosaan di seluruh indonesia. Tahun 2014, empat hingga enam setiap bulan. Tercatat, hingga 50 persen pelaku perkosaan adalah anak berusia di bawah 20 tahun. Sebagian dari para remaja memperkosa teman perempuannya.

2.      Tawuran

Istilan tawuran sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar sekolah, yang akhir-akhir ini sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi. Kekerasan dengan cara tawuran sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakukan oleh para remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkis, premanis, dan rimbanis. Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian atau tawuran itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung (Julianti, 2013).

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus (Setyawan, 2014).

3.      Pergaulan Bebas

Dewasa ini pergaulan bebas yang mengarah pada perilaku sex pra nikah (berkencan, berpegangan tangan, mencium pipi, berpelukan, mencium bibir, memegang buah dada di atas baju, memegang buah dada di balik baju, memegang alat kelamin di atas baju, memegang alat kelamin di bawah celana, dan melakukan senggama) sudah menjadi sesuatu yang biasa, padahal hal tersebut tidak boleh terjadi (Samino, 2012).

Perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja berawal dari munculnya “ chemistry” (ketertarikan) terhadap lawan jenis sebagai dampak dari perkembangan seksual yang dialami. Ketertarikan tersebut mengundang remaja untuk menjalin suatu hubungan romantis, dimana dalam hubungan romantis tersebut remaja mulai mengembangkan bentuk-bentuk perilaku seksual sejalan dengan meningkatnya dorongan seksual remaja yang menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami oleh remaja (Andayani dan Setiawan, 2005).

Perubahan sosial mulai terlihat dalam persepsi masyarakat yang pada mulanya menyakini seks sebagai sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang tidak sakral lagi, maka saat ini seks sudah secara umum meluas di permukaan masyarakat. Ditambah dengan adanya budaya permisifitas seksual pada generasi muda tergambar dari pelaku pacaran yang semakin membuka kesempatan untuk melakukan tindakan-tindakan seksual juga adanya kebebasan seks yang sedang marak saat ini telah melanda kehidupan masyarakat yang belum melakukan perkawinan. Bahkan aktivitas seks pranikah tersebut banyak terjadi di kalangan remaja dan pelajar yang sedang mengalami proses pembudayaan dengan menghayati nilai-nilai ilmiah (Salisa, 2010).

Dalam kehidupannya, remaja tidak akan pernah lepas dari apa yang dinamakan “percintaan”. Hampir seluruh remaja di dunia, termasuk Indonesia, mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan tersebut, yakni dengan apa yang biasa disebut “pacaran”. Pacaran merupakan hal yang sudah lazim di kalangan remaja saat ini. Cara mereka mengisi pacaran pun bermacam-macam, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa yang tidak diterima karena telah melanggar ketentuan norma yang ada. Salah satu cara yang paling tidak diterima di masyarakat adalah seks bebas (Karmila, 2011).

Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam melakukan hubungan sesual bebas di kalangan remaja adalah sebagai berikut : 1)Kehamilan Remaja. Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan masalah kehamilan remaja adalah: (a) Masalah keadaan reproduksi. Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting di kalangan remaja-remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaliknya mempunyai kesehatan prima sehingga dapat menurunkan generasi (b)  Masalah psikologis pada ke hamilan remaja. Remaja yang hamil diluar nikah menghadapi masalah psikologis, yaitu rasa takut kecewa, menyesal, malu dan rendah diri terhadap kehamilannya. Sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan jalan menggugurkan kandungan (aborsi), (c) Masalah sosial dan ekonomi keluarga; (1).Penghasilan yang terbatas, (2).Putus sekolah, sehingga pendidikan menjadi terlantar (3) Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan, dan (c) Dampak kebidanan pada kehamilan remaja. Penyulit kehamilan pada remaja tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara umur 25 sampai 35 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matang alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu perkembangan dan pertumbuhan janin. sehingga memudahkan terjadi ( (1) Keguguran , (2).Persalinan premature, berat badan lahir rendah (BBLR) dan (3)Mudah terjadi infeksi, (4).Anemia pada kehamilan, ( 5) Keracunan kehamilan, dan (6) Kematian ibu yang tinggi (Manuaba, 1999)

 4.      Penggunaan Narkoba

Globalisasi dan modernisasi tidak dapat dipungkiri lagi telah mendatangkan keuntungan bagi manusia. Arus informasi yang masuk ke negeri ini semakin sulit dibendung. Dampak negatifnya, banyak remaja yang terjerumus mengikuti budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, misalnya seks pranikah dan maraknya penyalahgunaan Narkoba (Primatantari dan Kahono, Unknown Time).

Pengguna narkoba biasanya dimulai dengan coba-coba yang bertujuan sekedar memenuhi rasa ingin tahu remaja, namun sering keinginan untuk mencoba ini menjadi tingkat ketergantungan. Tingkat pengguna narkoba sendiri dapat dibagi menjadi (1) pemakai coba-coba, pemakaian sosial (hanya untuk bersenang-senang), (2) pemakaian situasional (pemakaian pada saat tegang, sedih, kecewa dan lain-lain), (3) penyalahgunaan (pengunaan yang sudah bersifat patologis) dan (4) tahap yang lebih lanjut atau

Ketergantungan (kesulitan untuk menghentikan pemakaian) (Wahyurini dan Ma’shum cit. Widianingsih dan  Widyarini, 2009).

Sejak 2010 sampai 2013 tercatat ada peningkatan jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi tersangka kasus narkoba. Pada 2010 tercatat ada 531 tersangka narkotika, jumlah itu meningkat menjadi 605 pada 2011. Setahun kemudian, terdapat 695 tersangka narkotika, dan tercatat 1.121 tersangka pada 2013. Kecenderungan yang sama juga terlihat pada data tersangka narkoba berstatus mahasiswa. Pada 2010, terdata ada 515  tersangka, dan terus naik menjadi 607 tersangka pada 2011. Setahun kemudian, tercatat 709 tersangka, dan 857 tersangka di tahun 2013. Sebagian besar pelajar dan mahasiswa yang terjerat UU Narkotika, merupakan konsumen atau pengguna.  Pada 2011 BNN juga melakukan survei nasional perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Dari penelitian di 16 provinsi di tanah air,  ditemukan 2,6 persen siswa SLTP sederajat pernah menggunakan narkoba, dan 4,7 persen siswa SMA terdata pernah memakai barang haram itu. Sementara untuk perguruan tinggi, ada 7,7 persen mahasiswa yang pernah mencoba narkoba (Tryas, 2014).

Tren penyalahgunaan narkoba saat ini didominasi ganja, sabu-sabu, ekstasi, heroin, kokain, dan obat-obatan Daftar G. Sepanjang 2012, BNN sudah 12 kali memusnahkan narkoba. Total yang telah dimusnahkan sebanyak 28.062 gram sabu-sabu, 44.389 gram ganja, 10.116 gram heroin, dan 3.103 butir ekstasi. Sebagian besar penyalahguna narkoba ialah remaja berpendidikan tinggi. Berdasarkan data BNN, sedikitnya 15 ribu orang setiap tahun mati akibat penyalahgunaan narkoba dan kerugian negara mencapai Rp50 triliun per tahun. Pecandu heroin dan morfin yang menggunakan jarum suntik itu berpotensi besar terkena penyakit hepatitis B dan hepatitis C bahkan tertular virus HIV-AIDS. (Holisah, 2014).

 5.      Menyontek

Menyontek merupakan tindak kecurangan dalam tes, melalui pemanfaatan informasi yang berasal dari luar secara tidak sah (Sujana dan Wulan, 1994). Perilaku menyontek harus dihilangkan, karena hal tersebut sama artinya dengan tindakan kriminal mencuri hak milik orang lain. Namun nyatanya perilaku menyontek semakin mengalami peningkatan (McCabe, 2001). Perilaku menyontek telah merambah ke berbagai penjuru, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tak hanya dilakukan oleh siswa maupun mahasiswa yang berprestasi rendah, tetapi juga siswa serta mahasiswa yang berprestasi tinggi pernah melakukannya. Sebagaimana survey yang dilakukan oleh Who’s Who Among American High School Student, menunjukkan bahwa mahasiswa terpandai mengakui pernah menyontek, untuk mempertahankan prestasinya (Parsons dalam Mujahidah, 2009).

Pusat Psikologi Terapan Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan survei online atas pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2004-2013. Ditemukan bahwa kecurangan UN terjadi secara massal lewat aksi mencontek, serta melibatkan peran tim sukses yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas.  Psikolog UPI Ifa Hanifah Misbach memaparkan, total responden dalam survei UN adalah 597 orang yang berasal dari 68 kota dan 89 kabupaten di 25 provinsi. Survei dilakukan secara online untuk mengurangi bias data. Sebab, tim psikologi UPI sudah beberapa kali melakukan survei langsung ke sekolah namun sering ditolak oleh kepala sekolah dan ada intervensi dari guru saat mengisi survei. Responden berasal dari sekolah negeri (77%) dan sekolah swasta (20%). Para responden mengikuti UN antara tahun 2004-2013.  Dari hasil survei, 75% responden mengaku pernah menyaksikan kecurangan dalam UN. Jenis kecurangan terbanyak yang diakui adalah mencontek massal lewat pesan singkat (sms), grup chat, kertas contekan, atau kode bahasa tubuh. Ada pula modus jual beli bocoran soal dan peran dari tim sukses (guru, sekolah, pengawas) atau pihak lain (bimbingan belajar dan joki).  Dalam survei juga terungkap sebagian besar responden tidak melakukan apa pun saat melihat aksi kecurangan. Sedangkan, sisanya ikut melakukan kecurangan atau sekadar sebagai pengamat. Responden yang melaporkan kecurangan hanya sedikit sekali (3%).  Ada doktrin dari sekolah bahwa kita masuk sekolah sama-sama dan keluar harus sama-sama. Ini akhirnya menjadikan anak yang jujur malah dimusuhi dan tidak dapat kawan (Anonim, 2013).

6.      Mabuk-mabukan

Pergaulan remaja juga berpotensi menimbulkan keresahan sosial karena  tidak sedikit para remaja yang terlibat pergaulan negatif mabuk-mabukan. Tindakan ini selain mengganggu ketertiban sosial juga sangat merugikan kesehatan mereka sendiri (Surbakti, 2009).

https://www.youtube.com/watch?v=3igSVYTwyNU

Diberitakan dalam bangka.tribunnews.com, pada tanggal 18 April 2014 remaja mabuk menggunakan lem dan minuman keras (miras) jenis arak telah meresahkan masyarakat.  Segerombolan remaja  sering minum-minuman keras di Jalan Pattimura, Desa Air Saga, Tanjungpan dan nekat menjebol pagar kawat milik warga (Setyanto, 2014). Di media online lain yaitu news.detik.com diberitakan dua remaja mabuk menghina polisi dan mengeluarkan kata-kata kotor di depan Polsek Sleman. Sempat terjadi kejar-kejaran dengan polisi, lalu keduanya tertangkap. Satu di antaranya ditembak karena melawan. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu tanggal 15 November 2014 sekitar pukul 03.00 WIB dengan TKP jalan Cimpling, Cebongan, Jumeneng, Kecamatan Mlati, Sleman (Kurniawan, 2014).

7.      Membolos

Membolos sekolah adalah perbuatan yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang bermanfaat (Mahmudi, 2014). Membolos adalah budaya yang umum di Indonesia. Orang dewasa pun melakukannya. Penulis pernah melihat sendiri para PNS jajan di warung angkringan saat jam kerja. Belanja di pasar juga saat jam kerja. Dan hal inilah juga ditiru olahe remaja kita. Penulis juga pernah melihat para siswa SMA jajan/nongkrong di angkringan saat jam sekolah. Makan dan minum di warung burjo saat jam sekolah. Sungguh kebiasaan yang jelek yang harus dihapus.

FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN MORAL

1. Media Internet

Kebebasan media dan pers yang menyertai era globalisasi, diantaranya menyebabkan materi-materi seks kian mudah didapatkan dan beredar di masyarakat. Media komunikasi internet yang bebas sensor menjadi lahan subur bagi perkembangan materi-materi seks, terutama yang berbau porno. Kemudahan dan fasilitas seperti yang disediakan internet pun menjadikan sajian-sajian seksual di internet sangat variatif. Internet tidak hanya menampilkan materi seks porno dalam bentuk gambar-gambar diam saja, tetapi ada juga yang menampilkan gambar bergerak len gkap dengan suaranya, potongan video klip dengan durasi pendek sampai yang panjang (Purwono cit. Rahmawati et al., 2002).

Ironisnya adalah sesuatu yang baik itu biasanya sulit untuk diterima demikian sebaliknya sesuatu yang buruk dan menyesatkan biasanya sangat mudah diadopsi oleh remaja, hal ini termasuk informasi tentang seksual tanpa batas. Tidak sedikit informasi yang diperoleh remaja disalahartikan sehingga menimbulkan berbagai perilaku menyimpang yang akibatnya tidak saja merugikan remaja itu sendiri, tetapi juga dapat merugikan orang lain, seperti melakukan hubungan seks dengan pacar tanpa memperhitungkan akibat yang timbul, yaitu kehamilan, penyakit menular seksual dan tercorengnya kehormatan keluarga (Setiawan dan Nurdiyah, 2008).

Sajian situs porno di internet selain memperlihatkan gambar-gambar wanita telanjang, ternyata juga menayangkan video hubungan seksual, paedophilia (foto telanjang anak-anak), hebephilia (foto telanjang remaja) dan paraphilia (materi seks “menyimpang”); termasuk di antaranya gambar-gambar sadomasochism (perilaku seks dengan siksaan fisik), perilaku sodomi, urinasi (perilaku seks dengan urin), defekasi (perilaku seks dengan feses) dan perilaku seks dengan hewan (Elmer-Dewitt cit. Rahmawati et al., 2002).

Perilaku kenakalan pada remaja yang dipengaruhi oleh media internet antara lain adalah : (a) Perkelahian sebagai akibat dari kecanduan game online yang bertema kekerasan, peperangan, terorisme; (b) Perkataan yang kotor, kasar, tidak senonoh, saling mengejek antar teman yang bermula dari penulisan “status” di facebook atau twitter dan jejaring sosial lainnya; (c) Penipuan, melalui media internet rentan sekali penipuan dengan memasang iklan-iklan jual beli barang dengan harga murah; (d) Pemalsuan identitas, melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter, friendster dan lain-lain dengan menemukan teman yang baru dikenalnya sehingga memudahkan untuk menipu dan dapat menghindar dari tanggung jawab jika melakukan tindakan merugikan orang lain; (e) Penculikan, seringkali terjadi penculikan gadis remaja karena berkenalan dengan temannya di facebook untuk bertemu di dunia nyata sehingga membawa kabur gadis remaja tersebut; (f) Perbuatan asusila, seperti perkosaan, pencabulan, sex bebas, sebagai akibat dari melihat gambar/ video porno di internet; (g) Membolos sekolah, karena begadang kecanduan game online sampai larut malam bahkan sampai pagi; dan (h) Berbohong pada orang tua, karena kecanduan internet membutuhkan biaya untuk ke warnet atau membeli pulsa modem (Budhyati, 2012).

Di Indonesia, pornografi telah menjadi hal yang sangat umum karena sangat mudah diakses oleh setiap  kalangan usia. Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang pornografi, juga mencatat rekor sebagai Negara kedua setelah Rusia yang paling rentan pornografi terhadap anak-anak (BKKBN cit. Samino, 2012). Menurut Anttoney General’s Final Report on Pornography konsumen utama pornografi adalah remaja laki-laki berusia 12 sampai 17 tahun. Dampaknya adalah makin aktifnya perilaku seksual pranikah yang disertai ketidaktahuan yang pada gilirannya bisa membahayakan kesehatan reproduksi remaja (Wirawan cit. Samino, 2012).

Kemajuan teknologi informasi, dan kebebasan untuk mendapat informasi tidak dapat dibendung, dan hal itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang positif bagi kemajuan kehidupan manusia, seperti dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan secara luas. Namun juga ada dampak negatifnya dari teknologi informasi jika disalahgunakan, seperti secara bebas siswa remaja mengakses informasi; menonton atau membaca gambar atau tulisan porno. Gambar atau tulisan yang mengandung ponografi, cenderung meningkatkan ransangan seksual seseorang dan membuatnya tergoda untuk mencoba segala hal yang berkaitan dengan seks, dan hal itu merupakan informasi yang menarik namun sesat (Hilman, 2005)

 2. Media Televisi/ Media Massa

Kemungkinan terjadi pergeseran nilai–nilai moral yang terjadi di masyarakat, dapat disebabkan oleh proses belajar sosial tersebut. Meskipun demikian, perilaku kejahatan seksual seperti juga seluruh perilaku kejahatan lainnya, merupakan perilaku yang dianggap melanggar norma sosial, sehingga harus dihindari oleh setiap individu (Santosa dan Zulfa, 2001).

Beragam tanggapan yang diberikan khalayak terhadap tayangan program di televisi. Ada yang memberikan tanggapan positif, tanggapan negative atau biasa -biasa saja. Terdapat tiga dimensi efek komunikasi massa yaitu (1) Efek kognitif ; meliputi peningkatan kesadaran, proses belajar dan tambahan pengetahuan. (2) Efek afektif ; berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap dan (3) Efek konatif berkaitan dengan tingkah laku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut caratertentu (Winkel, 1989).

Pengaruh televisi terhadap sistem komunikasi tidak pernah lepas dari pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut Prof. Dr. R. Mar’at acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan bagi para penontonnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh psikologis dari televisi itu sendiri, di mana televisi seakan-akan menghipnotis pemirsa, sehingga mereka telah hanyut dalam keterlibatan akan kisah atau peristiwa yang disajikan oleh televisi (Effendy, 2002).

Nugroho (2000) mengatakan bahwa televisi mempengaruhi kalangan anak-anak dan remaja. Mereka mulai tertarik dan mencerna apa yang ditampilkan televisi sejak umur dua tahun. Mereka menganggap apa yang tampil di layar kaca itu adalah kebenaran yang senyatanya. Bahkan mereka belum bisa membedakan antara mana kenyataan yang sesungguhnya dan mana tayangan yang hanya fiksi semata. Tidak semua anak –anak dan remaja ini mendapat bimbingan hingga mereka berkembang secara utuh dewasa. Lewat televisi, mereka menerima apa yang ditayangkan sebagai norma sosial dan mereka mengintegrasikannya dalam pola perilaku ketika berhubungan dengan orang lain.

 3. Lingkungan Pergaulan Yang Buruk

Mulyadi (1997) mengemukakan bahwa anak-anak sebagai generasi yang unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan yang subur yang sengaja diciptakan untuk itu sehingga dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar dapat tumbuh dan berkembang kepribadiannya secara wajar, yang juga nantinya akan memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh dengan optimal.

Pengalaman seksual yang menyenangkan selama pacaran akan menyebabkan sepasang kekasih menganggap bahwa perilaku seksual sebagai suatu hal yang menyenangkan untuk dilakukan dengan pasangannya karena perilaku seksual mereka anggap sebagai perilaku yang normal dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Kebanyakan remaja tidak ingin dianggap sebagai anak kecil tetapi akan lebih bangga bila dianggap sudah dewasa, sehingga dalam beberapa pendapat menyebutkan bahwa perilaku seksual dianggap sebagai simbol status kedewasaan dan mereka sebagai bagian dari komunitas orang dewasa merasa telah mempunyai hak untuk melakukan perilaku tersebut (Hurlock, 1999).

Lingkungan masyarakat dimana anak itu dibesarkan ikut ambil peranan dalam membentuk kepribadian anak selanjutnya. Anak yang berkembang di lingkungan alam pedesaan memiliki kepribadian yang berbeda dengan anak yang tumbuh berkembang di lingkungan masyarakat kota yang penuh kesibukan dan kebisingan yang seolah saling tak menghiraukan antara anggota masyarakat yang satu dengan lainnya. Demikian halnya anak yang dibesarkan di lingkungan masyarakat yang sangat agamis tentu akan berbeda bila dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di lingkungan masyarakat yang sangat tidak memperdulikan masalah-masalah norma-norma agama (Tepas Ahmad Heryawan, 2008).

Dikatakan oleh (Eitzen, 1986) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.

 4. Pendidikan Agama Yang Rendah

Sikap tidak permisif terhadap hubungan seksual pranikah dapat dilihat dari aktifitas keagaaman dan religiusitas (Rice, 1990).

Pendidikan agama dalam keluarga sangat penting untuk membentuk anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal itu merupakan sumbangan bagi pembangunan bangsa dan Negara (Tepas Ahmad Heryawan, 2008).

Pemahaman agama yang baik akan menumbuhkan perilaku yang baik. Remaja memerlukan kemampuan pemecahan masalah yang baik, sehingga remaja mampu menyelesaikan masalah mereka dengan efektif (Aini, 2011).

Menurut Darajat (1997) bahwa religiusitas dapat memberikan jalan keluar kepada individu untuk mendapatkan rasa aman, berani, dan tidak cemas dalam menghadapi permasalahan yang melingkupi kehidupannya. Agama Islam sendiri mengajarkan bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah maka seseorang akan mendapatkan ketenangan hidup lahir dan batin serta dapat mengontrol perilakunya Menurut Paloutzian (1996) bahwa tingkat personal agama secara fungsional memberikan makna pada berbagai peristiwa yang dihadapinya atau memberikan bimbingan moral bagaimana seharusnya ia bertindak ditengah‐tengah manusia.

 5. Kondisi Keluarga dan Pola Asuh Orang Tua

Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, biasanya memiliki latar belakang keluarga yang harmonis, menghargai pendapat anak dan hangat. Hal ini disebabkan karena anak yang berasal dari keluarga yang harmonis akan mampu mempersepsi bahwa rumah mereka sebagai suatu tempat yang membahagiakan karena semakin sedikit masalah antara orangtua, maka semakin sedikit masalah yang dihadapi anak, dan begitu juga sebaliknya. Jika anak mampu mempersepsi bahwa keluarganya berantakan atau kurang harmonis maka ia akan terbebani dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orangtuanya tersebut. Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi perilaku kenakalan pada remaja adalah konsep diri yang merupakan pandangan atau keyakinan diri terhadap keseluruhan diri, baik yang menyangkut kelebihan maupun kekurangan diri, sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap keseluruhan perilaku yang ditampilkan (Soekanto, 1987).

Pengabaian orangtua terhadap naknya meberikan andil yang besar dalam mucul perilaku kenakalan remaja. Gunarsa (2004) membagi sikap pengabaian orangtua terhdap anak menjadi lima jenis.

a.       Pengabaian fisik (physical neglect) : meliputi kegagalan dalam memenuhi kebutuhan atas makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang memadai.

b.      Pengabaian emosional (emotional neglect) : meliputi perhatian, perawatan, kasih saying, dan afeksi yang tidak memadai dari orang tua, atau kegagalan untuk memenuhi kebutuhan remaja akan penerimaan, persetujuan, dan persahabatan.

c.       Pengabaian intelektual (intellectual neglect) : termasuk di dalamnya kegagalan untuk memberikan pengalaman yang menstimulasi intelek remaja, membiarkan remaja membolos sekolah tanpa alasan apa pun, dan semacamnya.

d.      Pengabdian social (social neglect) : meliputi pengawasan yang tidak memadai atas aktivitas social remaja, kurangnya perhatian dengan siapa remaja bergaul, atau karena gagal mengajarkan atau mensosialisasikan kepad remaja mengenai bagaimana bergaul secara baik dengan orang lain.

e.       Pengabaian moral (moral neglect) : kegagalan dalam memberikan contoh moral atau pendidikan moral yang positif kepada remaja.

Menurut Thoha cit. Graciani (2011) mengemukakan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak . Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian anak mempunyai pengaruh yang besar. Jika pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan baik maka mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa. Orang tua dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga dipengaruhi oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai pola pengasuhan  tertentu.

Penelitian oleh Kumpfer tahun 1998 (Watters cit. Kristanto, 2014) menunjukan bahwa di dalam keluarga terdapat faktor resiko spesifik dan non-spesifik tentang bagaimana keluarga dalam hal ini dapat memberikan ruang atau celah terhadap resiko masalah narkoba. Faktor resiko spesifik tersebut mencakup: (1) penjelasan tentang obat-obatan terhadap remaja atau anak, (2) memberikan contoh negatif secara tidak langsung, (3) sikap orang tua terhadap obat dan keberadaan obat. Faktor-faktor tersebut memberikan langkah-langkah kepada orang tua untuk bisa melakukan pencegahan terhadap resiko penggunaan narkoba terhadap anak. Faktor non-spesifik terhadap masalah narkoba meliputi: (1) terjadinya disfungsi  dalam keluarga dan konflik dalam keluarga, (2) konflik antar orang tua, (3) masalah perekonomian keluarga atau orang tua yang kurang mampu (4) penjelasan orang tua mengenai stress, (5) penyakit psikologis keluarga, (6) penelantaran dan kekerasan. Faktor-faktor non-spesifik tersebut dapat menjadi alasan atau penyebab remaja menggunakan narkoba.

6. Kecerdasan Emosi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kenakalan yang dilakukan oleh remaja, misalnya tumbuh dalam keluarga yang berantakan, kemiskinan dan lain sebagainya. Namun ada peran yang dilakukan oleh keterampilan atau kecerdasan emosional yang melebihi kekuatan keluarga dan ekonomi, dan peran itu sangat penting dalam menentukan sejauh mana remaja atau seorang anak tidak dipengaruhi oleh kekerasan atau sejauh mana mereka menemukan inti ketahanan guna menanggung kekerasan (Goleman, 2000).

Kecerdasan emoisonal adalah kemampuan seseorang untuk  mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain (Goleman, 2007).

Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalamn dalam memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak sukses disekolah dan dalam berhubungan dengan rekan-rekan sebaya serta akan terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang, kenakalan, kekerasan serta seks tidak aman (Gottman, 2001).

 7. Perspektif Islam

Dalam perspektif segala macam tindakan yang melanggar norma agama adalah tindakan kemaksiatan. Setiap penyimpangan moral adalah  kemaksiatan. Penyimpangan moral yang dilakukan akhir-akhri ini termasuk juga dalam kemaksiatan. Faktor pendidikan agama oleh orang tua, lingkungan dan juga sumber penghasilan menjadi pengaurh utama dalam mewujudkan kebaikan akhlak. Sebagaimana disbeutkan dalam hadits-hadits berikut :

a.      Faktor Orangtua

Orangtua mendapat tanggung jawab untuk membentuk sifat serta karakter anaknya menjadi keturunan yang shalih dan shalihah. Sehingga baik buruknya seorang anak sangat erat hubungannya dengan pendidikan yang diberikan orangtuanya. Apakah ia akan menjadi seorang muslim yang baik, ataukah menjadi pengikut agama Yahudi dan Nasrani, atau tidak mengenal agama sama sekali, karena pada umumnya seorang anak sangat terpengaruh dengan orangtua sebagai orang dekatnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan di atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

(HR. Al-Bukhari no. 1384 dan Muslim no. 2658 dari hadits Abu Hurairah)

b.      Faktor Lingkungan/ Teman

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

Dalam sebuah hadits:

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.”

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah  melalui dua jalur periwayatan, oleh Al-Imam Ahmad (2/303, 334) Abu Dawud (no. 4812), At-Tirmidzi (no. 2484), Al-Hakim (4/171), Ath-Thayalisi (no. 2107), Al-Qudha’i (dalam Al-Musnad no. 187).

Hadist tentang permisalan teman :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

“ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

c.       Faktor Sumber Penghasilan

Hadits Makanan haram mempengaruhi do’a

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Hadits Kedua

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan d antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

SOLUSI PENYIMPANGAN MORAL

Pertama.  Untuk solusi Tawuran yaitu a) Melarang segala macam bentuk ospek yang berisi perploncoan (kekerasan dan pembodohan). Ospek harus berisi pencerahan yang mengarahkan siswa baru menjadi lebih semangat berilmu dan menjadi orang cerdas. Perploncoan yang diselenggarakan di luar sekolah (yang biasanya diadakan oleh senior dan alumni) harus dibubarkan paksa dan setiap siswa yang terlibat harus dihukum. Jika ada ancaman kekerasan dari senior dan alumni kepada siswa baru untuk ikut perploncoan, maka mereka harus diadukan ke kepolisian; b)  Jadwalkan agenda silaturahim antar sekolah. Saling berkunjung satu sama lain. Terutama sekolah yang pernah tawuran. Pertemukan seluruh siswanya. Jalin komunikasi. Saling berbagi informasi kegiatan di sekolah masing-masing. Dengan silaturahim akan terjalin rasa persaudaraan; c) Aktifkan dengan serius kegiatan ekstra kurikuler, seperti keagamaan (ROHIS, ROHKRIS, ROHHIN, ROHBUD, dsb.), KIR, PMR, Pencinta Alam, Bela Diri, Teater, Olah Raga, Musik, Film, dan lain-lain. Dengan berbagai aktivitas ekskul yang positif, tentu para pelajar tidak akan “kurang kerjaan”. Waktu mereka akan habis untuk hal-hal yang berguna. Bukan untuk nongkrong; d) Ubah mindset dan bentuklah opini bahwa tawuran pelajar bukanlah “kenakalan remaja”, tetapi “perbuatan kriminal”. Setiap pelajar yang terlibat, terlebih lagi para provokator dan aktor intelektualnya, harus ditangkap dan diperlakukan sama dengan para kriminal. Kenakan sanksi pidana plus denda sekian juta rupiah. Kalau tidak sanggup bayar denda, tambah lagi hukuman kurungannya. Provokator dan aktor intelektual serta pembunuh harus mendapatkan hukuman paling berat. Ini supaya ada efek jera. Sehingga semua pelajar akan berpikir seribu kali kalau mau tawuran;

Kedua. Selain melakukan kerjasama dengan instansi, guru juga melakukan kerjasama dengan masyarakat dilingkungan sekolah. Dalam mendidik sekian banyak siswa dengan keberagaman sifat dan karakter dan dengan jumlah guru yang terbatas tentunya guru tidak dapat melakukannya sendiri, dengan kata lain guru juga membutuhkan bantuan dari masyarakat sekitar untuk dapat membantu memantau siswa ketika siswa berada di luar lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan guru, dengan cara memberikan peringatan atau langsung melaporkannya kepada pihak sekolah

Ketiga. Selain dengan pihak kepolisian juga melakukan kerjasama dengan BNN yaitu berupa penyuluhan tentang bahaya narkoba dan dilanjutkan dengan tes urin.

Keempat. Yang terpenting  adalah pendidikan agama. Iman adalah benteng terkuat ketika remaja mendapat infiltrasi dari luar berupa pengaruh-pengaruh buruk. Adapun yang bisa dilakukan: a) Keluarga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.  Orangtua yang tidak menegrti tentang agama sebaiknta tidak malu untuk mengikuti pengajian. Karena malu atau gengsi adalah penghalang ilmu. Orangtua dan anak bersama-sama sepekan sekali atau dua kali dalam sepekan mengikuti kajian-kajian Islam (Contoh ; di Kota Yogyakarta, seminggu penuh ada kajian Islam Umum). Ada dua manfaat yang dapat diperoleh yaitu terjamin keharmonisan dan komunikasi yang baik dan anak, kedua menambah ilmu agama; b)  Mendatangkan seorang Ustadz yang kompeten di bidangnya ke rumah. Misalnya bisa baca kitab kuning. Seorang Hafidz. Bisa Bahasa Arab. Kemudian mengadakan pengajian membahas kitab masalah penyucian jiwa seperti Kitab Riyadush Sholihin atau membahas masalah dosa (Al Kabair)

Kelima. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Sepekan sekali mengadakan pengajian dengan mengundang seorang Ustadz yang kompeten di bidangnya. Bukan Ustadz pelawak. Bukan orang yang jago pidato kemudian terkenal sebagai Ustadz. Pilihlah dari lulusan yang jelas (Saudi, LIPIA, Mesir, Yaman, Sudan, dan lainnya). Atau dari Pondok Tertentu. Dengan membahas Kitab Kuning secara bertahap sesuai mad’u atau audience . Kajian dilakukan secara kontinu dan merupakan program wajib bagi para siswa.

Keenam. Usahakan para orangtua untuk mencarikan nafkah halal kepada anaknya. Karena harta haram juga mempengaruhi perilaku anak.

Ketujuh. Filterisasi media internet dengan DNS Nawala untuk memblok situs porno. Sementara untuk televisi, gunakan layanan TV satelit atau TV kabel yang berupa program-program Islami. Kita bisa menfilter dan menyetting tayang program yang sesuai dengan Islam.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

DAFTAR PUSTAKA

Allen, D. E. 1980. Social Psychologyas A Social Process. Wodworten Publishing Company.

California.

 

Anonim. 2013. Survei UPI: Kecurangan UN Libatkan Guru dan Kepala Sekolah.

 

Ardiantofani, C. 2014. 30 Persen Kasus Aborsi di Jatim Pelakunya Remaja. http://surabayanews.co.id/2014/08/18/3745/30-persen-kasus-aborsi-di-jatim-pelakunya-remaja.html. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Borba, M. 2008.  Membangun Kecerdasan Moral : Tujuh Kebijakan Utama agar Anak Bermoral Tinggi. Gramedia Pustaka Utama.  Jakarta.

 

Budhyati, A. B. 2012. Pengaruh Internet terhadap Kenakalan Remaja. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III. http://repository.akprind.ac.id/sites/files/conference-proceedings/2012/mz_15451.pdf. Diakses tanggal 1 Januari 2015.

 

Hadisaputro, P. 2004. Studi Tentang Makna Penyimpangan Perilaku Di Kalangan  Remaja.  Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3. No. 3 : 9-18.

 

Haryanto. 1997. Dampak Sosio-Psikologis Korban Tindak Perkosaan terhadap Wanita. Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

 

Hilman A .M. 2005. Mengana Anak Kita Perla Pendidikan Seksualitas.  HDA Publishers. Bandung.

 

Holisah, L. 2014. 2014 adalah tahun penyelematan pengguna narkoba.  http://www.dakwatuna.com/2014/02/20/46558/2014-adalah-tahun-penyelamatan-pengguna-narkoba/#ixzz3LOHEU2f7. Diakses tanggal 9  Desember 2014.

 

http://sp.beritasatu.com/home/survei-upi-kecurangan-un-libatkan-guru-dan-kepala-sekolah/42791. Diakses tanggal 9 November 2014.

 

Hurlock, E. B. 1990. Perkembangan Anak. Erlangga. Jakarta.

 

Julianti. 2013. Internalisasi Nilai Toleransi melalui Model Telling Story pada Pembelajaran Pkn untuk Mengatasi Masalah Tawuran (Studi Kasus Tawuran Pelajar Sekolah Menengah di Sukabumi). Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 14 No. 1 :  1-12.

 

Karmila, M. 2011. Kecemasan dan Dampak dari Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa. Skripsi. Program Studi  Psikologi. Fakultas Kedokteran. UNS. Surakarta.

 

Komariah, K. S. 2011. Model Pendidikan Nilai Moral bagi Para Remaja Menurut Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim Vol. 9 No. 1  : 45-54.

 

Kurniawan, B. 2014. Remaja Mabuk ini Hina Polisi lalu Kabur Akhirnya Dikejar dan Didor. http://news.detik.com/read/2014/10/16/174257/2721015/10/2-remaja-mabuk-ini-hina-polisi-lalu-kabur-akhirnya-dikejar-dan-didor. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Manuaba,  I. B.  1999. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.

 

Mulyadi, S. 1997. Anakku, Sahabatku dan Guruku. Erlangga. Jakarta.

 

Piaget, J. 1976. Psychology and Education. Hadder and Staunghton. London.

 

Primatantari,  V. A. dan G. B. Kahono.  Unknown Time. Efektifitas Kampanye Anti Penyalahgunaan Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja akan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba (Studi Terhadap Remaja di Kelurahan Sukaraja Kecamatan Teluk Betung Selatan , Kota Bandar Lampung ). Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 2: 93-97.

 

Rice, P. F. 1990. The Adolesence : development relation culture . 6th edition. Boston : Allyn and Bacon, inc.

 

Rogers, D. 1977. The Psychology of Adolescence. Prentice Hall .Englewood Cliff. NewJersey.

 

Sadewo, J. 2014. Angka Perkosaan Cenderung Meningkat. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/10/13/ndddjo-angka-perkosaan-cenderung-meningkat. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Salisa, A. 2010. Perilaku Seks Pranikah di Kalangan Remaja (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Perilaku Seks Pranikah Di Kalangan Remaja Kota Surakarta). Skripsi. Jurusan Sosiologi. Fakultas Isipol. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

 

Samino. 2012.  Analisis Perilaku Sex Remaja SMAN 14 Bandar Lampung 2011.   Jurnal Dunia Kesmas Vol 1. Nor 4 : 175-183.

 

Setiawan, R. dan S. Nurhidayah. 2008. Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks PraNikah. Jurnal Soul  Vol. 1  No. 2 : 60-72.

 

Setyanto, A. A. 2014. Remaja Mabuk-Mabukan  Mulai Resahkan Warga di Belitung. http://bangka.tribunnews.com/2014/04/20/remaja-mabuk-mabukan-mulai-resahkan-warga-di-belitung. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Setyawan, D. 2014. TAWURAN PELAJAR MEMPRIHATINKAN DUNIA PENDIDIKAN. http://www.kpai.go.id/artikel/tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan/. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

Sulistianingsih,  A. 2010. Hubungan Lingkungan Pergaulan dan Tingkat Pengetahuan tentang

Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Seks Bebas pada Remaja. Skripsi.  Fakultas Kedokteran. UNS. Surakarta.

Tryas. 2014. 22 Persen Pengguna Narkoba Kalangan Pelajar. http://www.harianterbit.com/read/2014/09/13/8219/18/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-Kalangan-Pelajar. diakses  tanggal 9 Desember 2014.

Widianingsih, R. dan  M. M.  R.  Widyarini. 2009. Dukungan Orangtua dan Penyesuaian Diri Remaja Mantan Pengguna Narkoba.  Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1 : 10-15.

Wignjosoebroto, S. 1997. “Kejahatan Perkosaan Telaah Teoritik dari Sudut Tinjau Ilmu-Ilmu Sosial, alam Eko Prasetyo dan Suparman Marzuki, ed. Perempuan dalam Wacana Perkosaan , Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Yogyakarta.

Please like & share:

[Karya KBM3] Tawaran Revolusi Kurikulum Pendidikan “Pesantren Friendly”

Posted on Updated on

Salatiga | 27 Desember 2014

Pengertian Kurikulum

Menurut Wikipedia, pengertian kurikulum adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan (Wikipedia, 2014).

Sedangkan pengertian kurikulum menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Deskripsi Masalah

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ # فَاِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَرَنِ يَقْتَدِى
جا تاكون سوڠكا ووڠ سجي تاكونا كنچاني # كرنا سأتمني كونچا مانوت كڠ ڠنچاني

Syair di atas bisa dijadikan pedoman dalam melihat fenomena sosial yang tengah berlangsung di sekitar kita. Sebagaimana istilah Zoon Politicon yang telah mashur di kalangan akademisi, syair tersebut juga memberikan isyarat bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan berkelompok. Hanya saja syair di atas memberikan penjelasan yang lebih rinci, yaitu berkelompok berdasarkan karakternya masing-masing.

Syair di atas bisa dijelaskan ke dalam sebuah ilustrasi berikut: Seseorang yang suka menonton bola pergi ke warung kopi, di sana ada beberapa kelompok orang yang sedang ngopi. Salah satu kelompok hobi menonton bola, kelompok lain hobi main kartu. Maka, yang kemungkinan dipilih adalah kelompok yang hobi menonton bola.

Karakter ibarat magnet yang memiliki gaya tarik terhadap pemiliknya. Orang yang hobi mabuk-mabukan akan cenderung berkumpul dengan pemabuk, orang yang hobi otak-atik blog akan suka berkumpul dengan para Blogger, orang yang berfaham Aswaja akan berkumpul dengan orang yang sefaham dengannya.

Lalu apa hubungannya karakter dengan kurikulum pendidikan?

Kurikulum pendidikan nasional yang diberlakukan selama ini cenderung menitikberatkan pada ranah kognitif. Meskipun pada rumusan kurikulum disertakan embel-embel pendidikan karakter, namun pada pelaksanaannya, guru-guru banyak yang mengabaikan masalah karakter. Hal ini bisa dilihat dari standar yang digunakan untuk kenaikan kelas cenderung mengacu pada nilai kognitif saja. Meskipun siswa memiliki karakter buruk, jika nilai kognitifnya bagus akan sulit untuk dibiarkan tidak naik kelas. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis di beberapa sekolah.

Ketika kurikulum yang diberlakukan cenderung memaksa anak didik untuk mengasah daya kognisi sebagai acuan pendidikan nasional, maka siswa dan orang tua siswa akan berlomba-lomba memenuhi tuntutan tersebut. Hal ini bisa dilihat banyaknya siswa yang mengikuti program bimbel yang tersebar di seantero Nusantara. Hal yang demikian ini, cenderung mengabaikan karakter.

Siswa-siswi yang memiliki pola pikir kognitif oriented akan berkumpul dengan siswa dan siswi yang memiliki pola pikir yang sama. Dia akan canggung apabila berkumpul dengan siswa-siswi yang memiliki karakter oriented sebagaimana yang diajarkan di dunia pesantren.

Siswa-siswi yang dididik dengan pola kognitif oriented akan tumbuh menjadi pribadi yang serba mengandalkan logika. Hal ini pernah terjadi pada sekumpulan mahasiswa yang mengandalkan logika dalam memaknai tawadlu’ dan barokah. Mereka menganggap bahwa tidak ada hubungan antara barokah dari tawadlu’ kepada guru terhadap pencapaian hasil study. Pada akhirnya, mereka menganggap bahwa kitab Ta’limul Muta’alim sangat tidak rasional dan tidak bisa dijadikan acuan dalam menuntut ilmu.

Pola pendidikan kognitif oriented bisa membuat siswa mengalami degradasi moral apabila siswa tersebut tidak mendapatkan pendidikan agama yang cukup di luar satuan pendidikan tempat dia menuntut ilmu.

Masalah Sosial

Seiring berkembangnya dunia pendidikan, saat ini tersedia banyak lembaga pendidikan yang berlomba-lomba meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai inovasinya. Disamping pendidikan formal yang di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Departemen Agama, ada lembaga non formal yang ikut menyemarakkan hiruk pikuk dunia pendidikan. Ditambah lagi kontribusi para Blogger yang ikut menyumbangkan beragam literasi yang bisa diakses secara mudah dan murah. hal ini menambah gairah semangat pendidikan di Indonesia.

Kemunculan inovasi-inovasi pendidikan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, namun juga menimbulkan dampak negatif. Diantaranya adalah:

  1. Komersialisasi Pendidikan, hal ini biasa dilakukan oleh beberapa oknum pengelola lembaga pendidikan ataupun lembaga bimbel yang memiliki karakter provit oriented
  2. Monopoli pendidikan, inovasi pendidikan juga membawa dampak pada adanya monopoli pendidikan. Pengelola pendidikan yang tidak memiliki karakter pesantren cenderung berusaha memonopoli pendidikan dengan aturan-aturan yang kaku dan memaksa peserta didik.
  3. Penyempitan makna pendidikan, meskipun secara umum, kita bisa melihat perbedaan orang yang miliki pendidikan dengan orang yang tidak memiliki pendidikan, namun pada kenyataannya, orang yang dianggap berpendidikan adalah orang yang menempuh pendidikan pada jalur formal saja. Jalur pesantren belum begitu diakui oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Degradasi Moral

Pacaran
Pemuda pacaran di Taman Bendosari – Salatiga | @radarsemarang

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pendidikan yang memiliki pola kognitif oriented cenderung mengabaikan karakter. Pengabaian pada sisi pendidikan karakter tersebut mengakibatkan timbulya degradasi moral. Diantaranya degradasi moral yang terjadi adalah:

  1. Terjadinya sex bebas, hal ini sekan sudah menjadi rahasia umum. Pemuda-pemudi pacaran adalah hal yang dianggap biasa oleh masyarakat. Bahkan! Di kurikulum 2013 ada materi khusus membahas masalah etika berpacaran Padahal, pacaran sangat berpotensi menimbulkan terjadinya sex pra nikah.
  2. Mabuk-mabukan. Beberapa anak-anak usia sekolah biasa melakukan mabuk-mabukkan, bahkan saat jam sekolah masih berlangsung.
  3. Hilangnya rasa hormat kepada guru. Setelah menjamurnya berbagai perangkat sosial media, anak-anak didik cenderung kehilangan rasa hormatnya kepada guru. Mereka sering berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang biasa digunakan dengan teman-temannya.

Sebenarnya masih banyak hal mengenai degradasi moral para pemuda di sekitar lingkungan tempat tinggal penulis. Namun, kita tak perlu mencari kesalahan lebih banyak kalau tidak bisa mencari solusinya. Jadi, beberapa masalah yang ditimbulkan dari penerapan kurikulum berpola kognitif oriented hanya disampaikan sebagian. Selanjutnya pembahasan mengenai Tawaran Revolusi Pendidikan Nasional.

Kerangka Kurikulum “Pesantren Friendly”

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِفَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Masalah yang perlu dibenahi terlebih dahulu oleh bangsa Indonesia adalah masalah moral. Untuk membenahi masalah tersebut, kita memerlukan ahlinya. Pakar ataupun ahli di bidang moral bukanlah seorang sarjana, magister, ataupun profesor lulusan dari pendidikan formal yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara intens. Tidak! Bukan mereka. Namun, beliaulah yang bisa memahai ruhani anak didik.

Sebagaimana yang pernah didawuhkan oleh Syaikina  Abdullah Faqih (Langitan – Allah Yarham), bahwa tugas pendidik yang pokok adalah menjadi syaikut ta’lim, syaikhut tarbiyyah, dan syaikhut tartiyah. Jika para pendidik di Indonesia dapat menerapkan ketiganya, Insya Allah pendidikan moral akan terlaksana dengan baik.

Rumusan Kurikulum “Pesantren Friendly”

Ngaji
Ngaji kitab kuning
  1. Materi pelajaran dipecah menjadi dua bagian, yaitu pelajaran umum dan agama.
  2. Pelajaran umum diserahkan pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah, guru pendidikan umum diambil dari sekolah formal
  3. Pendidikan agama diserahkan kepada pesantren, guru agama diambil dari pesantren. Guru agama minimal lulusan Wustho di pondok pesantren meskipun tidak memiliki ijazah formal.
  4. Rancangan kurikulum lebih lengkap harus dirapatkan oleh pemerintah dengan jajaran dewan pesantren

Sekian tulisan ini saya buat. apabila ada kekurangan dan kesalahan, saya mohon maaf.

 

Referensi: wikipedia.org

sumberahli.com

Sumber gambar:

radarsemarang.com

Please like & share: