Karya KBM1: Aku Yang Lupa

Posted on

Penulis: Reza Siianeukbunda       @Eza_AB

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-2

Tulisan ini murni saya coba untuk diikut sertakan dalam kontes blog yang bertema : Muslim Anti Korupsi. Saya menambahkan judul yaitu “Aku Yang Lupa”.

 

Tikus Sorban

 

Alkisah. Didalam suatu perkampungan muslim, tinggallah seorang Lelaki paruh baya yang bekerja disebuah Rumah Besar sebagai tukang kebun namun memiliki hati yang sangat baik dan juga seorang Penganut Islam yang benar. Sorban di kepala selalu ia kenakan saat ia bekerja meskipun itu telah usang. Sang majikan yang kaya raya ini akhirnya pada suatu hari bertanya pada Abdullah :

 

Majikan : “Wahai Abdullah, bisa kah kamu datang kepadaku ? ada yang ingin aku bicarakan!”

Abdullah : “Baik Tuan, saya selesaikan tugas saya dahulu Tuan.”

Majikan : “Sudah, lupakan saja itu sejenak. Saya hanya ingin berbicara kepadamu!”

Abdullah : “Baiklah Tuan”

 

Bergegas Abdullah datang menghampiri Majikannya sembari berkata :

 

Abdullah : “Maaf Tuan, apa yang hendak anda bicarakan Tuan ? Adakah kekurangan saya sehingga saya engkau panggil ya Tuan ?”

Majikan : (sambil Tertawa) “Hahaha. Tidak Abdullah! Sejak saya bertemu kamu, saya selalu heran mengapa kamu selalu menggunakan sorban ? Bukankah itu sorban yang usang ? Apakah Upah yang saya berikan padamu tidak cukup membantumu membelikan sebuah sorban yang lebih Indah dan Putih ?”

Abdullah : “Tidak Tuan. Karna yang saya miliki ini merupakan peninggalan Ibu saya. Hanya ini harta yang ia wariskan kepada saya Tuan. Beliau berpesan jika saya kaya nanti sorban ini yang tetap harus saya kenakan. Begitu juga saya dengar Aswaja dari Ustad di Masjid kita”

Majikan : “Baiklah jika begitu. Semoga saja seperti itu”

 

Hari demi hari, Bulan demi bulan dan Tahun demi tahun sehingga datang satu hari dimana Majikan mengajak Abdullah untuk ikut politik yang diadakan oleh Raja yang mempunyai negeri yang tak jauh dari perkampungan tempat Abdullah menetap.

 

Abdullah : “Tidak Tuan. Saya tidak bisa menjadi seperti itu. Saya belum mahir dalam berpolitik”

Majikan : “sudahlah. dengan ke ramah tamahan mu itu, aku yakin kamu pasti bisa. Kamu hanya perlu yakin kalau kamu bisa memimpin negri ini.”

 

Abdullah dengan tekat yang kuat setelah dorongan daripada Majikannya mulai memberanikan diri unjuk gigi dalam mengikuti pemilihan Mentri Raja tersebut. Selang bulan demi bulan Abdullah yang rendah hati ini giat mengikuti politik tersebut. Namun pekerjaannya sebagai tukang kebun tidaklah ia tinggalkan sehingga menjadi nilai lebih dari masyarakat yang memilihnya.

 

Akhirnya tiba hari dimana pemilihan Mentri Raja tersebut dimulai. Dari pagi hingga menjelang siang ratusan warga sudah mendengar orasi dari para calon Mentri Raja dan mulai memberikan suara sehingga sore pada saat pengumuman pemilihan Mentri Raja tersebut diumbarkan kepada seluruh khalayak yang ikut serta dan hasilnya diketahui bahwa Abdullah seorang paruh baya yang hari-hari bekerja sebagai tukang kebun muncul sebagai nama yang dipilih terbanyak oleh masyarakat tersebut. Dan Raja langsung mengenakan baju yang akan dikenakan oleh Mentri Raja yang baru ini.

 

Tahun pertama masa pemerintahan Mentri Raja Abdullah, warga mengakui prestasinya diseluruh pelosok juga sangat mengakui kemakmuran yang dilakukan oleh Mentri Raja ini. Beberapa proyek besar diikutinya sungguh memiliki hasil yang memuaskan.

Waktu demi waktu ternyata sesuatu mulai merubah sesosok Mentri yang bernama Abdullah ini. Setelah memiliki pengawal dan istana, ia sudah mulai mementingkan diri pribadi daripada masyarakat yang pernah memilihnya. Seperti kacang lupa pada kulitnya, mungkin ini sebuah kiasan yang cocok dengan Abdullah. Seiring waktu yang telah membuatnya memiliki harta yang segudang, ia mulai meninggalkan sorban usang yang dikenakan tersebut. Salah seorang pengawal sempat mencoba memberanikan diri bertanya kepada Abdullah :

Pengawal : “Tuan, hari ini engkau terlihat berbeda”
Abdullah : “itulah saya pengawal. Saya telah melepaskan yang memberatkan kepala saya sejak saya miskin dulu!”
Pengawal : “Mengapa engkau lepaskan ya tuanku ? bukankah dulu itu yang selalu kau banggakan?”
Abdullah : “Sudahlah. Ini urusan saya bukan urusan kamu hai pengawal. Kalau kamu tidak ingin bekerja lagi dengan saya, pulanglah kamu ke negri asalmu”
Pengawal : “Tidak tuan. Saya tetap akan mengabdi kepadamu Tuan!”
Abdullah : “Baguslah kalau kamu sadar!”

Keangkuhan atas prestasinya yang terus meningkat kini terlihat dihati masyarakat. Banyak rakyat mulai sengsara atas sifat yang telah menjadi-jadi. Sampai ada proyek pembangunan tembok sebuah perkampungan, ia jadikan alat untuk menimbun kekayaan yang dia miliki saat ini. Warga yang tau namun tidak berani mengakui kesalahan Abdullah kepada Raja karna pengawal Abdullah langsung menghakimi warga jika mengadu hal tersebut kepada Raja.

Hal itu terus terjadi dengan proyek-proyek yang diberikan kepada Abdullah. Raja yang sudah tua tentunya tidak tau akan hal ini. Sampai suatu hari seorang pemuda yang tak lain adalah anak majikannya dahulu mengetahui hal ini dan berkata kepada Ayahnya :

Pemuda : “Ayah. Sesuatu telah terjadi”
Ayah : “Apa itu anakku ? katakanlah kepadaku !”
Pemuda : “Ingatkah engkau ayah akan seseorang yang pernah bekerja kepada kita dahulu ?”
Ayah : “Apakah itu Mentri Abdullah yanjg kau maksud anakku ?”
Pemuda : “Ayah benar. Ia kini telah berubah. Sorban yang ia banggakan sewaktu ia bekerja dengan kita kini telah ia lepaskan dan banyak proyek-proyek yang ia tangani banyak ia ambil untungnya. Dan saat aku bertanya kepada masyarakat yang bekerja didalam proyeknya, mereka sudah banyak yang mengalami kesengsaraan.”
Ayah : “wahai anakku! Jika itu memang terjadi, ajaklah aku untuk bertemu dengan Abdullah.”
Pemuda : “Baiklah ayahku. Ikutlah ke Istana Abdullah”

Keesokan harinya mereka berdua melakukan perjalanan menemui tukang kebun yang mereka banggakan itu. Namun, pada saat mereka sudah tiba di depan istana, penjaga bertanya :

Penjaga : “Anda siapa tuan ? dan apa yang anda lakukan disini ?”
Pemuda : “Saya dan ayah saya ingin bertemu dengan tuan anda wahai pengaja. Katakan saja kami adalah majikan tempat ia bekerja dulu!”
Penjaga : (langsung mengambil telepon dan menghubungi Abdullah) “Ia baik tuan. Akan saya sampaikan” (seraya menutup telpon dan berkata kepada Pemuda) “Tuanku menerima kalian sebagai tamunya. Mari ikuti saya”

Pemuda dan Ayahnya langsung mengikuti langkah penjaga yang mengantarkan mereka kepada ruang tempat dimana Abdullah sering mengadakan rapat penting. Saat mereka duduk, terdengarlah suara dari belakang mereka :

“Apakah kau terkejut Tuan Abu ? Inilah hasil kerja kerasku selama ini.” gumam Abdullah. Seraya itu juga mereka menoreh ke belakang dan Abu majikannya Abdullah dulu berkata :

“Aku tidak terkejut dengan kekuatanmu dalam bekerja. yang aku terkejut adlah sikapmu yang telah berubah ditambah sorban yang dulu kau banggakan sudah tak kau kenakan lagi. Ada apa wahai Abdullah ?”

Abdullah : “Ini bukan urusanmu Tuan Abu! Aku yang sudah besar ini, sudah tidak perlu sorban busuk yang usang itu”.
Abu : “bukankah itu pesan ibumu wahai Abdullah?”
Abdullah : (dengan nada marah) “sudah, pulang saja kau Abu. Aku tak ingin mendegar celotehmu!”. (Sambil berteriak)  “Pengawal, Pengawal, ambil dan seret mereka!. saya ingin beristirahat. “
Abu : “Baik Abdullah. Saya akan pergi tanpa perlu kau seret seperti ini. Tapi ingatlah! Sorban itu yang membuatmu menjadi seperti ini dan sifat keramah tamahanmu!”

Mendengar perkataan itu, Abu dan anaknya langsung pergi meninggalkan Abdullah. Mereka kembali ke asalnya. Namun diperjalanan Abu berkata kepada anaknya : “Wahai anakku, Aku bersedih hati saat mendengar Abdullah yang sudah berubah. Ia melupakan sorban dan mulai melakukan tindakan mengambil yang bukan haknya itu membuatku kecewa. Ini semua salahku mengajaknya untuk ikut berpolitik. Aku kira ia benar seseorang yang patut dibanggakan”. sang anak menjawab : “Ini bukan salahmu wahai ayahku. Hanya saja Tahta dan Harta yang sudah menggelapkan hatinya sehingga ia berani berbuat seperti itu.”

Hari demi hari perbuatan Abdullah sudah semakin menjadi. Namun saat ini sudah mulai terdengar di Istana Raja. Spontan Raja terkaget saat mendengar hal tersebut. Sehingga Raja melakukan rapat tertutup dengan Mentri lainnya untuk melakukan Tes demi melihat langsung bagaimana sistem yang dikerjakan Abdullah tersebut. Dan tibalah rapat besar yang Abdullah pada saat itu tidak tau kalau rapat itu adalah kesengajaan Raja untuk memberikan tugas besar membangun Perumahan untuk keluarga pengawal Raja yang baru dibelakang Istana Raja. Raja juga sengaja menunjuk Abdullah sebagai ketua pelaksana kegiatan tersebut. Alih-alih seorang professional, ia menerima tanpa mengetahui apa yang direncanakan oleh Raja dan Mentri lainnya kepadanya.

Hari pelaksanaan tugas yang dibebankan kepada Abdullah kini dimulai. Seperti biasa, Abdullah segera menggunakan strategi yang biasa ia gunakan. Pekerja yang biasa bekerja sama dengan Abdullah mulai diajak untuk mengambil setengah dari anggaran yang diperlukan untuk membangun perumahan itu. Sayangnya kali ini salah seorang pekerja yang ia ajak adalah suruhan raja untuk memata-matai pergerakan Abdullah. Dan saat itu juga ketika rapat strategi, konsep pekerja Abdullah diambil oleh salah seorang mata-mata Raja. Tanpa diketahui oleh Abdullah, Raja datang mencoba menghampiri Abdullah seolah ingin melihat perkembangan kinerja Abdullah sebagai salah satu mentri kepercayaan Raja. Saat Raja bertanya mengenai anggaran proyek itu, ternyata Abdullah memperlihatkan anggaran palsu yang sudah ia rencanakan mengelabui Raja. Raja yang sudah mengetahui itu langsung menyuruh pengawalnya untuk menangkap Abdullah. Seraya itu juga abdullah berkata :

“Ada apa ini ? Apa yang engkau lakukan kepadaku Raja?”

Raja langsung menyuruh pengawal membawa Abdullah dan beberapa pekerja pengikutnya untuk dibawa ke pengadilan Raja.

Satu hari kemudian, tiba dimana sidang Abdullah dan hakim yang sudah siap sedia untuk menuntut Abdullah atas tuduhan yang terbukti ia lakukan. Abdullah pertama mengelak. Namun ketika ia mendapat bukti nyata ia kini tidak dapat mengelak dan mengakui kesalahannya. Bak nasi yang sudah menjadi bubur, ia tak dapat berbuat apa-apa hanya menunggu hukuman mati yang akan dilaksanakannya beberapa hari lagi.

Kini, disela-sela menunggu hari eksekusi untuk Abdullah, ia hanya bisa menanti diam dipenjara. Namun, hal aneh terjadi ketika malam Abdullah selalu bermimpi ia bertemu dengan kakek-kakek yang memakai sorban putih yang selalu tersenyum saat melihat Abdullah. Ketika Abdullah selalu ingin mendekat, kakek itu selalu pergi dan menjatuhkan sorban putih. Mimpi itu terus kian menjadi dan akhirnya Abdullah terbangun ditengah malam terakhirnya, ia baru sadar bahwa kakek didalam mimpinya itu adalah malaikat yang mengantarkan sorban putih miliknya yang telah lama ia buang. Dan yang anehnya adalah, sorban miliknya itu ada disamping ia merebahkan badannya ketika ia terlelap tidur. Langsung saja Abdullah menangis dan berdoa kepada Allah untuk meminta maaf sambil mengenakan sorban usangnya itu.

Hari eksekusipun tiba dan waktunya Abdullah mengikuti proses eksekusi terhadap tindakan korupsinya itu. Saat ditanyai apa hal terakhir yang ingin dikatakan, ia menjawab kepada semua masyarakat yang melihatnya :
“Hal yang ingin aku katakan adalah tolong maafkan aku atas perbuatanku mengambil hak-hak kalian. Dan aku memberikan Istanaku untuk kalian tinggal wahai wargaku yang pernah memilihku menjadi mentri. Dan sampaikan kepada majikanku dulu, aku baru sadar, kalau sorban inilah yang menjagaku. Beliau benar, aku adalah orang yang lupa akan janjiku kepada ibuku untuk memakai sorban ini.”

Dan eksekusi dimulai, Abdullah tetap menjalani proses itu. Kepalanya dipenggal dan dikubur dikuburan tak jauh dari Istana Raja.

Teman-teman MUSIKANEGRI. MasyaAllah. Allah saja pernah berkata bahwa didalam hak yang kita dapati saja ada hak orang lain yang wajib kita berikan bukan mengambil hak orang tersebut. Itu adalah ganjaran untuk orang-orang yang durhaka kepada Allah.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *