Karya KBM1: Apakah Kita Juga Seorang Koruptor?

Posted on

Penulis: Nazri Z. Syah   @zriekudo

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-13

Siapa yang kini masih percaya? Ketika seorang pejabat negara hingga kelurahan bisa bersih dari korupsi. Siapa yang sekarang mampu menjamin? Saat seseorang mendapat kesempatan untuk menggelapkan uang dengan jumlah yang banyak atau hanya sedikit, ia masih bisa bertahan untuk tetap menjaga kepercayaannya. Sangat sulit, sudah menjadi petaka besar di negeri ini. Bahkan bocah kecil saja sudah mempraktekkan virus korupsi ini saat dimintai membagikan sebungkus permen ke teman-teman di sekolah. Lantas, apakah ini adalah hal yang biasa?

Tentu saja kita semua tidak ingin praktek korupsi itu menjadi benar-benar abadi di negeri ini. Tapi mari kita bercermin sebelum menyalahkan orang, memberantas perlakuannya, hingga berteriak sekencang-kencangnya untuk aksi hukum mati untuk para koruptor. Maksud saya, apakah kita sudah benar-benar bebas dari perbuatan kotor itu?

Bayangkan ketika Anda ingin menjadi salah satu pegawai di perusahaan ternama, lalu seseorang datang menawarkan Anda jaminan bisa langsung bekerja di sana dengan bantuannya. Tidak perlu saya mengatakan bayaran yang mahal, karena Anda akan merasa berat dan akan langsung menarik garis merah bahwa ia adalah koruptor. Saya cukup menawarkan upah Rp.10.000, Anda akan menjadi salah satu karyawan. Bagaimana? Saya yakin Anda pasti menerima tawaran itu. Karena hanya membayar Rp.10.000 untuk modal Anda menjadi karyawan dengan gaji bulanan jutaan rupiah.

Sekarang, coba Anda tanyakan pada hati kita sendiri. Pernahkah kita terlibat dalam korupsi? Baik itu saat membayar pajak, melamar pekerjaan, mendaftarkan anak di sekolah unggul, atau bahkan saat Anda membagikan jatah makanan pada anak, istri, suami, teman atau orang tua. Mencuri dan korupsi berada di tempat yang sama, sama-sama mengambil hak orang lain. Lalu apa yang Anda lakukan ketika mengendarai motor di jalan, saat itu Anda terburu-buru dan mengambil jalan yang bukan hak Anda melintas. Misalnya mengunakan jalur sebelah kanan yang seharusnya digunakan oleh pengguna jalan yang berlawan arah dengan Anda.

Apa Anda tahu? Bahwa korupsi dapat menghapus rasa malu pada sejatinya manusia dan juga bisa menggelapkan akal sehat. Apakah Anda menyadari? Bahwa pelaku korupsi itu jarang mengakui dirinya koruptor. Malah banyak yang menganggap sepele dengan mengaitkan korupsi itu hanya bisa dilakukan oleh pejabat, atau orang mempunyai kedudukan tinggi. Saudaraku, korupsi bukan hanya memainkan uang yang jumlahnya miliyaran atau trilyunan rupiah. Korupsi itu bisa menciptakan koruptor dengan angka Rp 0, sekalipun. Ia muncul di ruang tamu kita, ruang tengah, dapur, kamar mandi, bahkan di atas kasur Anda berbaring.

Mungkin kita bisa sedikit menyalahkan negara kita sendiri. Kenapa hukum korupsi dibeda-bedakan dengan mencuri. Padahal secara tindakan, hal itu sama sekali tidak berbeda. Hanya saja, masyarakat kita menilai korupsi itu lebih berkelas. Sedih sekali, saat kita lupakan kasus Soeharto, Akbar Tanjung, Hansip komplek, pedagang kaki lima, tukang parkir jalanan, Pak Lurah, supir angkutan, pilot, pegawai negeri dan kita sendiri. Seperti apa alat yang bisa mencegah sindrom korupsi? Hanya satu, yaitu tanamkan dalam dari kita nilai-nilai keislaman yang kuat. Jadikanlah diri kita sebagai seorang muslim yang hanya takut kepada Allah, dan percaya akan enam perkara. Percayalah wahai saudaraku, ini sangat sederhana.

Takdir dan rejeki sudah ditentukan oleh Allah, hidup hanya sementara, semua pasti akan mati, azab Allah sangat teramat perih dan terompet jawaban akan hadir, tentu pasti akan hadir.

 

Kita tunjukan diri kita sebagai seorang Muslim sejati yang Anti Korupsi, dan Ahlussunnah Wal Jama’ah (Ahwaja)  adalah sebenar-benarnya Islam.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *