Karya KBM1: Aswaja Anti Korupsi

Posted on

Penulis: Harry Supandi @harry_supandi

Predikat: Pemenang Hadiah Juara Ke-2

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (ASWAJA) merupakan ajaran yang mengikuti semua yang telah di contohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya
Kata al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin (Khalifah Abu Bakar RA, ‘Umar bin Khattabb RA, ‘Utsman bin ‘Affan RAdan ‘Ali bin Abi Thalib RA) yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat pada mereka semua).
“Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti al-jama’ah”. (Hadits riwayat Timidzi, dan di shahihkan oleh Hakim dan al-Dzahabi).
Karena itu, sebenarnya Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan-diamalkan oleh para sahabat. Ketika Rasulullah SAW menerangkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, dengan tegas Nabi SAW menyatakan bahwa yang benar adalah mereka yang tetap berpedoman pada apa saja yang diperbuat oleh Nabi SAW dan para sahabatnya pada waktu itu (ma ana ‘alaihi al-yaum wa ashabi).

MUSLIM ASWAJA ANTI KORUPSI

ASWAJA sangat tegas mengharamkan korupsi dalam bentuk apapun ( ghulul/menyembunyikan, gratifikasi/Hadiah,Risywah ( suap ), Suht ( memperoleh Harta Haram ), Khana ( khianat/tidak bisa memegang janji/penyalahgunaan kewenangan / Amanat yang telah diberikan) dan Syariqo ( mencuri barang ).

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”
(Q.S. Al Imran [3] : 161)
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui.”
(Q.S. Al Baqarah [2] : 188)

Dua ayat di atas memang tidak secara spesifik berbicara tentang tindak pidana korupsi, tetapi menjelaskan tentang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan, seperti yang terjadi pada tindak pidana korupsi. Korupsi pada hakikatnya juga mengambil harta orang lain dengan berbagai cara yang tidak dibenarkan. Ayat pertama menjelaskan salah satu contoh mengambil harta orang lain tanpa hak, yaitu penggelapan harta rampasan perang. Kalau diamati kasus-kasus korupsi yang diberitakan oleh berbagai media, maka penggelapan adalah sebagai salah satu dari bentuk korupsi. Ayat ini menjelaskan betapa buruknya perbuatan ini, dengan menyatakan bahwa perbuatan itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang nabi yang mempunyai kepribadian yang mulia, bersifat amanah dan terpelihara dari berbuat yang buruk. Kemudian buruknya perbuatan ini dipertegas dengan hukuman yang ditetapkan Allah bagi pelaku penggelapan nanti di hari kiamat. Mereka akan dipermalukan dengan memanggul barang yang mereka gelapkan itu, agar perbuatan yang dahulu mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi itu diketahui oleh orang banyak , sehingga aibnya terbuka, yang membuat semakin pedihnya azab. Kemudian Allah menegaskan bahwa tidak ada satu perbuatanpun yang akan luput dari pembalasan.
Selanjutnya, pada ayat yang kedua dijelaskan larangan memakan harta orang lain secara batil. Larangan ini menunjukkan pada hukum haram. Artinya, haram memakan/mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan syari’at, seperti riba, risywah/suap/gratifikasi, penggelapan, korupsi, pencurian, perampokan, penipuan dan lain sebagainya. Kemudian Allah secara khusus menyebutkan tentang (larangan) penyuapan terhadap hakim, agar hakim memutus dengan tidak adil, yaitu memenangkan pihak yang menyuap
Kata kunci dalam ayat ini adalah yaghul (al-ghal,al-ghuluul), berarti khianat. Pengertian asalnya adalah mengambil sesuatu dengan cara sembunyi-sembunyi (penggelapan/korupsi, pencurian). Kata ini banyak dipakai untuk penggelapan atau pengkhianatan terkait harta rampasan perang sebelum dibagikan. Tetapi, sebenarnya menurut bahasa kata ini dipakai untuk pengkhianatan secara umum.
Di awal ayat ini Allah menegaskan bahwa tidaklah mungkin seorang Nabi, yang Allah telah memelihara mereka dari segala perilaku tidak terpuji (ma’shuum), berkhianat dalam urusan harta rampasan perang, seperti yang dikhawatirkan oleh segolongan pasukan pemanah pada perang Uhud yang melanggar perintah Nabi Saw, dengan meninggalkan posisi mereka, ketika melihat tanda-tanda kekalahan pasukan musuh di awal-awal peperangan, karena khawatir tidak akan mendapatkan harta rampasan perang, karena akan dimonopoli oleh pasukan lain yang ada di depan kalau mereka tidak mengambilnya sendiri. Terkait hal ini diriwayatkan bahwa Rasul menegur mereka dengan mengatakan, “Apakah kalian mengira kami akan berkhianat dan tidak akan membagi-bagikan ghanimah kepada kalian?”
Dengan demikian, awal ayat ini menjawab keragu-raguan segolongan sahabat Nabi dan sekaligus memberi penegasan bahwa: Dalam keadaan bagaimanapun tidak mungkin seorang Nabi manapun berkhianat, termasuk dalam pembagian harta rampasan perang, karena salah satu sifat mutlak nabi itu adalah amanah. Karena Nabi adalah contoh teladan utama bagi umatnya, maka umatnya pun semestinya tidak wajar melakukan pengkhianatan, berupa penggelapan, korupsi, risywah dan lain sebagainya.
Dalam lanjutan ayat dijelaskan akibat hukum bagi para pengkhianat yang melakukan penggelapan/korupsi, yaitu:

Siapa saja yang melakukan penggelapan, pada hari kiamat akan datang dengan membawa apa yang digelapkan/dikorupsinya itu. Ulama berbeda pendapat dalam memahami hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang khutbah nabi yang menjelaskan hukuman akhirat yang akan diterima oleh orang yang melakukan penggelapan/korupsi dengan dipermalukan di hadapan Allah, yaitu dengan memikul barang yang digelapkannya, seperti unta, kuda, pakaian, emas dan perak. Dalam keadaan sulit itu, mereka berteriak minta tolong kepada Rasul dengan mengatakan: “Ya Rasulullah tolonglah aku!” Aku (Rasul) akan menjawab: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan Allah untukmu, karena aku telah menyampaikan kepadamu (tentang haramnya perbuatan itu).” Ada yang memahaminya dalam arti hakikat, bahwa mereka benar-benar memikul barang-barang yang digelapkan atau dikorupsinya. Orang itu sangat malu dan tersiksa dengan beban yang dipikulnya itu, karena semua mata tertuju kepadanya. Dan ada yang memahaminya sebagai suatu perumpamaan, dalam arti bahwa para pelaku akan membawa dosa akibat perbuatannya itu, seperti orang yang memikul barang-barang yang digelapkannya, sehingga ia sangat kepayahan, dan tidak seorangpun mau menolongnya. Lalu ia menuju orang yang diharapkan bisa menolongnya, dalam hal ini Rasul, tetapi perkiraannya salah, karena Rasulpun tidak mau menolongnya. Sementara itu, Abu Muslim al-Asfihani mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-Ityaan/ya’tiy pada ayat ini adalah, bahwa Allah mengetahui benar perbuatan mereka dan akan menyingkapkan lebar-lebar. Artinya, walaupun perbuatan penggelapan dan seumpamanya itu dilakukan dengan sangat tersembunyi, sehingga mungkin tidak seorangpun yang tahu, tetapi itu akan diketahui oleh Allah. Kelak, di hari kiamat Allah akan menampakkan perbuatan itu kepada pelakunya.

Kemudian setiap diri akan diberi balasan terhadap apa yang dikerjakannya dengan (pembalasan) yang setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. Pembicaraan mengenai pembalasan ini bersifat umum untuk semua perbuatan, walaupun konteks pembicaraan di awal terkait dengan pelaku penggelapan. Hal ini merupakan penegasan pembalasan itu adalah pasti untuk semua perbuatan dosa yang dilakukan, baik kecil maupun besar, seperti yang dinyatakan oleh firman Allah dalam Q.S. Al Kahfi (18) : 49.

Janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain secara batil. Artinya mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak diizinkan oleh aturan syari’at. Di dalam ayat ini digunakan lafaz amwaalakum/harta kamu. Ini menurut para mufassir mengandung beberapa makna, yaitu; bahwa pada dasarnya umat adalah satu dalam menjalin kerja sama, dan harta itu diperoleh dari hasil interaksi antara satu dengan yang lain. Di samping itu harta itu juga semestinya memiliki fungsi sosial, dimana sebagian dari yang dimiliki oleh seseorang adalah juga merupakan milik orang lain. Dengan demikian, menghormati harta orang lain pada hakikatnya menghormati harta sendiri. Begitu juga sebaliknya.
Larangan di dalam ayat ini adalah memakan harta orang lain dengan cara batil. Menurut Ali Ash-Shaabuuni, yang dimaksud al-baathil secara terminologi adalah, harta yang haram, seperti harta yang didapat dengan jalan merampok, mencuri, berjudi dan riba. Sementara itu al-Maraghi menyebutkan bahwa yang termasuk kepada al-baathil itu adalah riba, risywah/suap/gratifikasi, harta zakat yang diambil oleh orang yang tidak berhak, hasil penjualan jimat dan seumpamanya, gashab manfaat, misalnya mempekerjakan orang tanpa diberi upah, atau memberi upah yang tidak pantas, penipuan dan pemerasan, upah melakukan ibadah.
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa seseorang dilarang mencari kekayaan dan penghidupan dengan cara-cara yang dilarang oleh syari’at, karena hal itu akan merugikan orang lain.
Dan janganlah kamu menyuap/menyogok hakim atau dengan memberikan keterangan yang palsu dengan maksud bisa menguasai harta yang bukan milikmu. Artinya, janganlah kamu meminta bantuan hakim untuk mengambil harta orang lain dengan cara batil, karena perbuatan itu hukumnya haram dan berdosa.
Larangan membawa perkara harta ini kepada hakim itu adalah karena tujuannya tidak benar, yaitu agar bisa mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, seperti berbohong, sumpah dan kesaksian palsu, dan lain sebagainya. Padahal kamu (hatimu) tahu dan sadar betul bahwa perbuatanmu itu adalah salah dan berdosa. Meminta bantuan hakim untuk mendapatkan pembenaran formal, tidak akan mengubah hukum di sisi Allah, karena putusan hakim, pada dasarnya sama sekali tidak bisa mengubah yang haram jadi halal atau sebaliknya. Hakim hanya bisa memberikan keputusan berdasarkan fakta-fakta lahiriah yang ada di persidangan. Bila hakim memutuskan seseorang menang di pengadilan berdasarkan fakta di persidangan, sedangkan sebenarnya itu bukan haknya, maka putusan pengadilan tidak bisa menghalalkan yang haram itu. Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan beberapa perawi lain dari Ummu Salamah, disebutkan bahwa ketika dua orang yang bersengketa tentang satu objek harta datang kepada Nabi, Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian; dan kalian mengadukan sesuatu kepada saya. Boleh jadi salah seorang di antara kalian lebih pintar dalam memberikan argumentasi dari yang lain, lalu aku memutus sesuai dengan keterangan yang aku dengar. Siapa yang aku putuskan baginya sesuatu dari hak saudaranya, lalu ia mengambilnya, berarti aku telah memberikan kepadanya sepotong api neraka.” Mendengarkan penjelasan Nabi ini, maka kedua orang itu menangis, lalu yang satu berkata kepada saudaranya: “Kepunyaanku terserah kepada temanku ini.” Kemudian Rasul berkata kepada keduanya: “Pergilah kalian, capailah tujuan dengan cara yang benar. Lakukanlah undian, dan sesudah itu hendaklah kalian saling memaafkan.”
Ayat dan hadits ini, menjadi panduan yang berharga bagi orang yang beriman dalam masalah hukum yang menyangkut hak/harta, menjadi siapapun dia, apakah hakim, pembela, penggugat, ataupun tergugat. Para hakim dituntut memutus secara benar, jangan pernah mau disogok dan ditekan, para pembela jangan hanya berfikir yang penting kliennya menang, para penggugat dan tergugat, jangan pernah mau menggugat dan mengambil yang bukan haknya.

Kesimpulan
▪ Korupsi adalah salah satu bentuk dari memakan/mengambil harta orang lain dengan cara batil yang diharamkan oleh Islam. Karena itu pelakunya akan mendapatkan hukuman di dunia dan diakhirat. Di akhirat nanti para koruptor akan dipertontonkan memanggul barang hasil korupsinya, tidak seorangpun bisa menolongnya.
▪ Seorang muslim semestinya tidak akan melakukan korupsi, karena perbuatan itu merupakan khianat, lawan dari amanah–yang seharusnya menjadi sifat yang melekat dengan seorang muslim–. Selain itu, di dalam dua sumber ajaran Islam telah dijelaskan keburukan perbuatan korupsi itu dan hukuman yang diancamkan kepada pelaku dalam kehidupan di dunia ataupun di akhirat.
▪ Maraknya korupsi di negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam adalah sesuatu yang sangat memprihatinkan dan harus segera diberantas. Semua pihak harus berpartisipasi untuk pemberantasan ini.
▪ Memahami dan mengamalkan ajaran Islam adalah jalan keluar dari persoalan ini, karena apabila setiap muslim betul-betul yakin akan ajaran agamanya tentu ia akan mematuhinya dan takut melanggarnya.
Hakim yang paling jujur dan tidak bisa disuap di dunia ini adalah hati nurani. Nabi memerintahkan kita minta fatwa kepada hati nurani (istafti qalbak). Karena itu, setiap kita harus bertanya kepada hati nurani masing-masing. Apabila hati kita tenang melakukan sesuatu dan kita tidak takut orang lain tahu tandanya perbuatan itu baik. Tetapi jika hati kita was-was dan takut/khawatir kalau ada yang tahu, tandanya itu tidak baik. Bagi yang telah terlanjur, bertaubatlah. Mohon ampun kepada Allah, dan kembalikanlah hak orang yang berpindah kepada kita dengan cara yang tidak benar.

Artikel terkait :

Media dakwah Islam terdepan

MARI PERBAIKI BERSAMA [ MENGATASI KORUPSI ]
Korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok. Korupsi berawal dari ketidakjujuran, menyembunyikan, penyimpangan, ketidaksesuaian dengan prosedur ataupun memperoleh sesuatu yang bukan haknya.

Bagi seorang pedagang, korupsi berupa memberatkan timbangan ( Q.S Al Mutoffifin ), bagi seorang guru korupsi bisa berupa ketidaksesuaian pada waktu mengajar, bagi seorang siswa korupsi bisa berupa menyontek, membolos, bahkan berbohong pada guru, bagi seorang karyawan korupsi berupa bermalas-malasan saat bekerja, memperpanjang waktu istirahat, lembur yang tidak efektif, sedangkan bagi seorang Pejabat, Korupsi biasanya berupa penyalahgunaan Dana APBD/APBN, Penerimaan Suap, Penerimaan Gratifikasi, dll.

BAGAIMANA CARA MENGATASI KORUPSI..??

1. PENERAPAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA BAGI SISWA

Pendidikan Karakter Bangsa bagi siswa adalah langkah tepat yang untuk diterapkan dalam menanamkan Akhlaq, perilaku atau sikap yang baik dan berkarakter bangsa. Remaja dan Pemuda adalah generasi bangsa yang akan meneruskan perjuangan negeri ini, sudah sepantasnya mendapatkan pendidikan Karakter Bangsa.

Kita harus sadari bahwa korupsi diawali dengan ketidakjujuran pada saat dibangku sekolah. Prinsip menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai ternyata dialami saat sekolah yaitu keinginan mendapatkan nilai yang bagus walau caranya dengan menyontek teman, membawa kertas contekan, dsb. Hal ini Jelas bahwa telah menjadi budaya siswa pada saat ujian. Mereka takut jika Nilainya jelek / tidak naik kelas, Tetapi tidak takut kepada Allah atas perbuatan curangnya tersebut. Sadarlah, Bahwa Hal ini adalah “Menipu Diri Sendiri” dan merupakan pelaku “Korupsi”.

Harus diyakini, bahwa siswa yang gemar menyontek biasanya banyak menemui kesulitan pada saat Fase pasca kelulusan. Hilangnya rasa Percaya Diri, Selalu mengandalkan Orang lain, tidak kreatif, pasif, Minder, Bahkan dia merasa bahwa dirinya tidak bisa bersaing dengan orang lain pada saat melamar pekerjaan. Sungguh Sangat menyedihkan jika hal ini terjadi pada anak didik kita.
18 PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA :

1. Religius
a. Pengertian
Religius adalah Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan selalu hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
b. Makna
Nilai religius ini harus kita terapkan pada diri kita dan peserta didik, agar dalam kehidupan sehari-hari sikap dan kelakuan kita tetap berlandaskan pada agama yang kita anut serta dapat menjunjung tinggi rasa toleransi dengan penganut agama lain serta dapat menghasilkan kehidupan yang harmonis dan rukun.
c. Contoh
Kita selaku umat muslim senantiasa melakukan hal yang diperintahkan agama, seperti melaksanakan solat, memberi zakat, melaksanakan saum, dll. Serta menjauhi apa yang dilarang oleh agama, seperti mencuri, berzina, mabuk, berbohong, dll.
2. Jujur
a. Pengertian
Jujur adalah Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan perbuatan.
b. Makna
Nilai jujur ini sangat berpengaruh terhadap hubungan social. Karena sikap jujur akan membangun hubungan kepercayaan seseorang terhadap kita. Apabila seseorang sudah percaya pada kita, maka mudah untuk kita membangun kerjasama dengannya.
c. Contoh
Kita sebagai mahasiswa apabila berlaku dan bersikap jujur dalam kehidupan sehari-hari tentunya akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain, baik dari teman atau dosen. Sehingga mudah bagi kita untuk bekerjasama dengan orang lain. Dan kita senantiasa diberikan kepercayaan sebuah pekerjaan yang penting karena sikap jujur kita.

3. Toleransi
a. Pengertian
Toleransi adalah Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
b. Makna
Nilai toleransi ini menjunjung tinggi rasa tenggang rasa antar sesama agama, suku, etnis, dll demi keberlangsungan kehidupan yang harmonis dan rukun.
c. Contoh
Apabila ada teman kita yang bukan dari etnis kita atau suku yang sama dengan kita, janganlah kita mengucilkannya. Senantiasa kita harus bersahabat dengan siapapun dan saling toleransi. Hal itu akan membantu kita untuk membangun sebuah kehidupan yang tentram.
4. Disiplin
a. Pengertian
Disiplin adalah Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh terhadap berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku.
b. Makna
Nilai disiplin ini merupakan sikap patuh kita terhadap peraturan atau aturan yang berlaku di lingkungan sekitar kita.
c. Contoh
Sebagai mahasiswa yang memberlakukan nilai kedisiplinan yang tinggi, sebaiknya kita sehari-hari datang tepat waktu ke kampus, kemudian mengerjakan tugas dengan baik dan mengumpulkannya tepat waktu.
5. Kerja Keras
a. Pengertian
Kerja keras adalah Perilaku yang menunjukan upaya sungguh- sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
b. Makna
Nilai kerja keras ini mengandung arti usaha kita dalam mencapai suatu tujuan atau pencapaian suatu pekerjaan yang diharapkan hasilnya baik dan memuaskan.
c. Contoh
Dalam menghadapi ulangan atau tes, untuk mendapatkan nilai yang maksimal dan memuaskan perlu melakukan kerja keras untuk mendapatkan keinginan tersebut, yakni dengan belajar yang tekun.
6. Kreatif
a. Pengertian
Kreatif adalah Cara berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
b. Makna
Nilai kreatif ini mengandung arti pengungkapan ide-ide kita terhadap suatu cara atau suatu pekerjaan yang menghasilkan inovasi baru.
c. Contoh
Seorang guru harus memiliki sifat kreatif untuk membantunya dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik. Kreatif dalam strategi pembelajaran yang digunakan, atau metode pembelajaran, atau cara ia mengajar, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
7. Mandiri
a. Pengertian
Mandiri adalah Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas- tugas.
b. Makna
Nilai mandiri ini menunjukkan perbuatan dan sikap seseorang dalam mengerjakan sesuatu tidak tergantung pada bantuan orang lain. Akan tetapi bergantung pada kemampuan diri sendiri.
c. Contoh
Apabila seorang mahasiswa diberikan tugas, hendaklah dikerjakan sendiri tanpa harus menunggu bantuan dari orang lain.
8. Demokratis
a. Pengertian
Demokratis adalah Cara berpikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

b. Makna
Nilai demokratis ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena akan menghasilkan keseimbangan antara hak dan kewajiban seorang individu dengan individu lain.
c. Contoh
Dalam pemilihan ketua kelompok dapat dilakukan dengan cara demokrasi, yaitu memilih beberapa calon untuk dipilih menjadi ketua dari suara pemilih yang terbanyak.
9. Rasa Ingin Tahu
a. Pengertian
Rasa ingin tahu adalah Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat dan didengar.
b. Makna
Nilai rasa ingin tahu ini merupakan cerminan keaktifan seseorang dalam mempelajari sesuatu untuk menambah pengetahuan atau pemahaman seseorang.
c. Contoh
Sebelum melaksanakan pembelajaran, seorang mahasiswa yang memiliki rasa ingin tahu akan mempelajari materi yang akan diajarkan sehingga dalam pembelajaran nanti ia hanya mendiskusikannya saja dengan teman-teman atau dosennya.
10. Semangat Kebangsaan
a. Pengertian
Semangat kebangsaan adalah Cara berpikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan diri dan kelompoknya.
b. Makna
Nilai ini sangat menjunjung tinggi rasa cinta pada tanah air serta menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
c. Contoh
Seorang pelajar rela menjadi seorang TNI dengan tujuan untuk menjaga wilayah-wilayah di Indonesia.
11. Cinta Tanah Air
a. Pengertian
Cinta tanah air adalah Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan rasa kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
b. Makna
Nilai ini tidak jauh berbeda dengan nilai semangat kebangsaan. Nilai ini lebih mementinkan kepentingan negara dibandingkan kepentingan kelompok atau pribadi.
c. Contoh
Kita dapat menerapkan cinta tanah air kita dengan cara membuat prestasi dalam berbagai bidang akademik atau olahraga demi membanggakan negara.
12. Menghargai Prestasi
a. Pengertian
Menghargai prestasi adalah Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
b. Makna
Nilai ini perlu kita terapkan dalam kehidupan akademik kita, karena dengan menghargai prestasi kita dapat memotivasi diri sendiri dan orang lain agar dapat maju dan berkembang.
c. Contoh
Apabila kita melihat teman kita mendapatkan prestasi, kita sebaiknya memberi selamat dan berusaha untuk bisa seperti dirinya.
13. Bersahabat/Komunikatif
Bersahabat adalah Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya- upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Maka, Saya menghimbau kepada seluruh Siswa “JANGAN BIASAKAN MENYONTEK, KARENA AKAN MERUSAK AKHLAQ DAN JIWA KITA, PERCAYALAH PADA DIRI SENDIRI, DAN BERPEGANG TEGUHLAH KEPADA SYARIAT ISLAM, BERTAQWALAH KEPADA ALLAH, NISCAYA ALLAH SWT AKAN MEMBERIKAN JALAN KELUAR DARI SETIAP PERMASALAHAN ”

2. PEJABAT DIANJURKAN BERPUASA SENIN – KAMIS.

Puasa merupakan Benteng Diri akan Segala Hawa Nafsu. Baik nafsu Syahwat, Amarah, Serakah, Gila kedudukan, Gila Harta dsb. Puasa ibarat Sekolah yang dapat meluluskan Seseorang kepada Derajad Taqwa. Dengan Berpuasa akan sangat mendekatkan Manusia kepada Allah swt, sehingga orang yang berpuasa akan merasa Malu jika harus berbohong kepada Allah. Tidak akan makan/minum di siang hari walaupun ditempat yang sepi, didalam Goa, di kamar, atau dimanapun. Mereka Malu kepada Allah swt karena mereka merasa Allah Maha Melihat dan selalu memperhatikannya.

Dengan berpuasa, Pejabat akan merasa terbiasa untuk menahan diri, tidak mengambil harta yang bukan haknya, bersikap Qonaah ( merasa cukup ) sehingga tidak seperti “GURITA” ( Dengan Tangannya yang banyak bisa ambil apa saja yang dia suka ). Dan diharapkan para pejabat Konsisten antara Kata dan perbuatannya, tidak seperti “KEPITING” ( Matanya melihat ke depan, tetapi berjalannya Malah ke samping / inilah gambaran orang munafik ). Namun Kita bisa belajar dari seekor “KUPU-KUPU” ( Berawal dari seekor ulat yang menjijikkan dan dijauhi oleh makhluk lain, sehingga membuat Ulat itu berdoa memohon kepada Allah swt agar bisa disukai sesamanya. akhirnya Ulat tsb menjalankan Puasa menahan diri, sehingga menjadi kepompong dan terjadilah proses Metamorfosis menjadi Seekor “Kupu-Kupu” yang disukai karena keindahan sayapnya bahkan disukai oleh anak-kecil ) .

Kita bisa belajar dari apa yang ada disekeliling kita. Bahwa Allah Swt memberikan petunjuk kepada kita semua untuk ber-Tafakur ( berfikir, Merenung, Memahami Ayat-ayat Allah ) di muka bumi dan di langit.

3. PEMERINTAH MENGELUARKAN HUKUMAN SEBERAT MUNGKIN BAGI PARA KORUPTOR.

Amanah yang diberikan Pemerintah kepada pada Pejabat seharusnya dipegang teguh dan dilaksanakan sesuai dengan Prosedur atau aturan yang ada. Banyak sekali kasus korupsi di negara kita yang seakan-akan sudah menjadi hal biasa, tidak ada rasa Malu, tidak ada rasa takut pada Allah, tidak ada rasa menyesal, malah masih bisa tersenyum ketika wartawan mewawancarainya di media. Sungguh Sangat ironis dan menyedihkan. Jika Sudah demikian, Pemerintah harus menindak tegas para koruptor dengan hukuman yang seberat-beratnya, prinsipnya agar memberikan efek jera dan tidak timbul lagi koruptor-koruptor lain. mereka akan berpikir seribu kali untuk melakukan korupsi.

Artikel Terkait :
INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

BAHAYA / HUKUMAN PERBUATAN GHULUL (KORUPSI)
Dari ‘Adiy bin ‘Amirah Al Kindi radhiyallâhu’ anhu berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَكَتَمَنَا مِخْيَطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ))، قَالَ: فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مِنْ الْأَنْصَارِ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ اقْبَلْ عَنِّي عَمَلَكَ، قَالَ: ((وَمَا لَكَ؟))، قَالَ: سَمِعْتُكَ تَقُولُ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: ((وَأَنَا أَقُولُهُ الْآنَ، مَنْ اسْتَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ فَلْيَجِئْ بِقَلِيلِهِ وَكَثِيرِهِ فَمَا أُوتِيَ مِنْهُ أَخَذَ وَمَا نُهِيَ عَنْهُ انْتَهَى))
“Barangsiapa di antara kalian yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan),
lalu dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum atau lebih dari itu,
maka itu adalah ghulul (belenggu, harta korupsi) yang akan dia bawa pada hari kiamat”.
(‘Adiy) berkata : Maka ada seorang lelaki hitam dari Anshar berdiri menghadap Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,
seolah-olah aku melihatnya, lalu dia berkata,”Wahai Rasûlullâh, copotlah jabatanku yang engkau tugaskan.”
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya,”Ada apa gerangan?”
Dia menjawab,”Aku mendengar engkau berkata demikian dan demikian (maksudnya perkataan di atas, Pen.).”
Beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun berkata,”Aku katakan sekarang, (bahwa) barangsiapa di antara kalian
yang kami tugaskan untuk suatu pekerjaan (urusan), maka hendaklah dia membawa (seluruh hasilnya),
sedikit maupun banyak.
Kemudian, apa yang diberikan kepadanya, maka dia (boleh) mengambilnya.
Sedangkan apa yang dilarang, maka tidak boleh.”

Pelaku ghulul (korupsi) akan dibelenggu, atau ia akan membawa hasil korupsinya pada hari Kiamat, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat ke-161 surat Ali Imran dan hadits ‘Adiy bin ‘Amirah radhiyallâhu’ anhu di atas. Dan dalam hadits Abu Humaid as Sa’idi radhiyallâhu’ anhu, Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((… وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يَأْخُذُ أَحَدٌ مِنْهُ شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى رَقَبَتِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا لَهُ رُغَاءٌ أَوْ بَقَرَةً لَهَا خُوَارٌ أَوْ شَاةً تَيْعَرُ …))
“Demi (Allâh), yang jiwaku berada di tanganNya. Tidaklah seseorang mengambil sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jjika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara..

Perbuatan korupsi menjadi penyebab kehinaan dan siksa api neraka pada hari Kiamat.
Dalam hadits Ubadah bin ash Shamit radhiyallâhu’ anhu, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((… فَإِنَّ الْغُلُولَ عَارٌ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشَنَارٌ وَنَارٌ))
“…(karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya

Allâh tidak menerima shadaqah seseorang dari harta ghulul (korupsi), sebagaimana dalam sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

((لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ))
“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan shadaqah tidak diterima dari harta ghulul (korupsi)”

Harta hasil korupsi adalah haram, sehingga ia menjadi salah satu penyebab yang dapat menghalangi terkabulnya do’a, sebagaimana dipahami dari sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam :

((أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ))
“Wahai manusia, sesungguhnya Allâh itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allâh memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Allâh perintahkan kepada para rasul. Allâh berfirman,”Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dia (Allâh) juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rizkikan kepada kamu,” kemudian beliau (Rasûlullâh) shallallâhu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang lama bersafar, berpakaian kusut dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): “Ya Rabb…, ya Rabb…,” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Maka, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”

Orang yang mati dalam keadaan membawa harta ghulul (korupsi), ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga.
Hal itu dapat dipahami dari sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

((مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ))
“Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang

Artikel Terkait :
INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

HUKUM SYARI’AT TENTANG KORUPSI
Sangat jelas, perbuatan korupsi dilarang oleh syari’at, baik dalam Kitabullâh (al Qur`an) maupun hadits-hadits Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

Di dalam Kitabullâh, di antaranya adalah firman Allâh Ta’âla :
“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang).Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu),maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …(Qs. Ali Imran/3: 161)

Dalam ayat tersebut Allâh Ta’âla mengeluarkan pernyataan bahwa, semua nabi Allâh terbebas dari sifat khianat, di antaranya dalam urusan rampasan perang.
Menurut penjelasan Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhu, ayat ini diturunkan pada saat (setelah) perang Badar, orang-orang kehilangan sepotong kain tebal hasil rampasan perang. Lalu sebagian mereka, yakni kaum munafik mengatakan, bahwa mungkin Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengambilnya. Maka Allâh Ta’âla menurunkan ayat ini untuk menunjukkan jika Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam terbebas dari tuduhan tersebut.

Ibnu Katsir rahimahullâh menambahkan, pernyataan dalam ayat tersebut merupakan pensucian diri Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari segala bentuk khianat dalam penunaian amanah, pembagian rampasan perang, maupun dalam urusan lainnya Hal itu, karena berkhianat dalam urusan apapun merupakan perbuatan dosa besar. Semua nabi Allâh ma’shum (terjaga) dari perbuatan seperti itu.
Mengenai besarnya dosa perbuatan ini, dapat kita pahami dari ancaman yang terdapat dalam ayat di atas, yaitu ketika Allâh mengatakan : “Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang itu), maka pada hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu …”

Ibnu Katsir rahimahullâh mengatakan,”Di dalamnya terdapat ancaman yang amat keras.”Selain itu, perbuatan korupsi (ghulul) ini termasuk dalam kategori memakan harta manusia dengan cara batil yang diharamkan Allâh Ta’âla, sebagaimana dalam firmanNya:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil,dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa,padahal kamu mengetahui” (Qs. al Baqarah/2:188)

Juga firmanNya :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…”(Qs. an Nisâ`/4 : 29)

Adapun larangan berbuat ghulul (korupsi) yang datang dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka hadits-hadits yang menunjukkan larangan ini sangat banyak, di antaranya hadits dari ‘Adiy bin ‘Amirah radhiyallâhu’ anhu dan hadits Buraidah radhiyallâhu’ anhu di atas.

Artikel Terkait :

INFO& BELAJAR ISLAM TERKINI

WASPADALAH….PELUANG TERJADI KORUPSI
Setiap tugas apapun, terutama yang berurusan dengan harta, seperti seorang yang mendapat amanah memegang perbendaharaan negara, penjaga baitul mâl atau yang lainnya, terdapat peluang bagi seseorang yang berniat buruk untuk melakukan ghulul (korupsi), padahal dia sudah memperoleh upah yang telah ditetapkan untuknya
Telah disebutkan dalam hadits yang telah lalu, yaitu sabda Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, yang artinya : Barangsiapa yang kami tugaskan dengan suatu pekerjaan, lalu kami tetapkan imbalan (gaji) untuknya, maka apa yang dia ambil di luar itu adalah harta ghulul (korupsi).

Ketika pengumpulan zakat mâl (harta)

Seseorang yang diberi tugas mengumpulkan zakat mâl oleh seorang pemimpin negeri, jika tidak jujur, sangat mungkin ia mengambil sesuatu dari hasil (zakat mâl) yang telah dikumpulkannya, dan tidak menyerahkannya kepada pemimpin yang menugaskannya. Atau dia mengaku yang dia ambil adalah sesuatu yang dihadiahkan kepadanya. Peristiwa semacam ini pernah terjadi pada masa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan beliau memperingatkan dengan keras kepada petugas yang mendapat amanah mengumpulkan zakat mâl tersebut dengan mengatakan:
((أَفَلَا قَعَدْتَ فِي بَيْتِ أَبِيكَ وَأُمِّكَ فَنَظَرْتَ أَيُهْدَى لَكَ أَمْ لَا))
“Tidakkah kamu duduk saja di rumah bapak-ibumu, lalu lihatlah, apakah kamu akan diberi hadiah (oleh orang lain) atau tidak?”
Kemudian pada malam harinya selepas shalat Isya’ Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berceramah (untuk memperingatkan perbuatan ghulul kepada khalayak). Di antara isi penjelasan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan :
((فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَغُلُّ أَحَدُكُمْ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ إِنْ كَانَ بَعِيرًا جَاءَ بِهِ لَهُ رُغَاءٌ وَإِنْ كَانَتْ بَقَرَةً جَاءَ بِهَا لَهَا خُوَارٌ وَإِنْ كَانَتْ شَاةً جَاءَ بِهَا تَيْعَرُ))
“(Maka) Demi (Allâh), yang jiwa Muhammad berada di tanganNya. Tidaklah seseorang dari kalian mengambil (mengkorupsi) sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara…
Hadiah untuk petugas, dengan tanpa sepengetahuan dan izin pemimpin atau yang menugaskannya
Dalam hal ini, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
((هَدَايَا الْعُمَّالِ غُلُولٌ))
“Hadiah untuk para petugas adalah ghulul”.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *