Karya KBM1: Cermin Bening dari Orang-orang Kecil itu

Posted on

Penulis: Munawir Syam       @munawirsyams

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-12

Sebagai wujud tanggung jawabnya sebagai pemimpin, Umar bin Khattab sering blusukan menemui rakyatnya untuk mengetahui secara langsung kondisi rakyat yang dipimpinnya. Suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab ditemani Abdullah bin Dinar berjalan bersama dari Madinah menuju Makkah. di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang pemuda pengembala kambing, timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji kejujuran pemuda tersebut, maka Umar mendekatinya seraya bertanya. “Sungguh banyak kambing yang kamu pelihara, maukah kamu menjualnya satu ekor kepadaku?” Kata Umar.

Mendengar tawaran Umar, sang pengembala itu menjawab: “”Kambing-kambing ini bukanlah milik saya, tetapi milik majikan saya. Saya hanyalah seorang budak dan pengembala yang mengambil upah saja.”

Umar bin Khattab berkata lagi, ”Katakan saja nanti pada tuanmu, kambing itu dimakan serigala.”

Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, ”Fa ainallah?”… ”Fa ainallah?” Anak itu mengulang-ulang jawabannya. Yang artinya dimana Allah? dimana Allah?

Seketika Umar bin Khattab menangis haru dan memeluk anak itu, Umar pasti bangga memiliki rakyat yang takut dan taat kepada Allah. Dia hanya seorang hamba sahaya dan pengembala kambing, dia tidak mengeyam pendidikan yang tinggi, tetapi dia bisa menguasai nafsunya untuk tidak berpaling dari ajaran agama disaat godaan dunia menghampirinya.

Kejujuran serupa pernah ditemui Umar bin Khattab pada diri seorang gadis penjual susu, orang-orang kecil dengan kepribadian yang luar bisa, patut untuk dijadikan teladan.

>>>

Tahun lalu, ditengah carut marutnya kondisi negeri ini karena ulah sejumlah pihak yang menjadikan dirinya rendah karena korupsi yang dilakukannya, kita mendapat sebuah kabar yang begitu menyejukkan, seorang office boy di salah satu bank syariah menemukan uang 100 juta di tong sampah, uang 100 juta bagi office boy yang bernama Agus Chaeruddin bukanlah uang sedikit, tapi iman yang dimilikinya mengajaknya untuk mengembalikan uang tersebut ke bank tempatnya bekerja. Tentunya kabar itu seperti siraman air dingin di tengah panas kerontang, di tengah krisis moral yang tengah melanda negeri ini, saat korupsi mulai menggurita bagai virus berbahaya, korupsi menggerogoti semua kalangan, mulai dari RT hingga pejabat negara, korupsi menjadi budaya untuk memperkaya diri lewat jalan pintas.

“Saya inget wejangan orang tua. Jangan mencuri, orang jujur tak akan ketuker. Kalau intan dikubur di sebuah tanah tetap akan menjadi intan,” Luar biasa, kata itu keluar dari mulut seorang office boy. Kejadian itu sangat menyentuh dan menyita perhatian banyak orang. Agus Chaeruddin mendapat banyak apresiasi karena memang kejujuran itu sudah langka di negeri ini.

Dia bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi, Agus hanya lulusan SMEA dan tidak meneruskan kuliah untuk meringankan beban orang tuanya. Memang menjadi pribadi yang jujur tidak membutuhkan sekolah yang tinggi, jujur itu lahir dari hati yang bersih. Lihatlah negeri ini, siapa yang melakukan korupsi? Mereka yang mempunyai jabatan, yang dengan ilmunya dia membodohi masyarakat yang dipimpinnya. Itulah potret buram negeri kita saat ini.

>>>

Korupsi bukanlah lagi hal langka di negeri ini, bahkan anak ingusan pun mulai fasih dengan kata korupsi dan koruptor. Korupsi pekerjaan hina dina yang dilakukan oleh orang yang rasa malunya sudah tercabut. Tuntutan dunia telah melunturkan fitrahnya, kejujuran terlepas dari dirinya. Ironis memang, negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia dinodai oleh prilaku menjijikkan bernama korupsi. Kenapa korupsi jadi menggurita dan tidak ada habisnya di negeri ini? Apakah karena hukum di negeri ini yang tumpul? Hukum akan bertaji jika pelakunya adalah orang kecil, sedang hukum akan tumpul jika pelakunya adalah seorang bangsawan dan punya jabatan.

Seorang laki-laki bernama Muhammad SAW mengingatkan kepada kita bahwa salah satu sebab kehancuran suatu kaum adalah ketika hukum yang ditegakkan tidak adil, hukum yang tegas kepada rakyat kecil tapi tidak tegas kepada bangsawan. Lelaki mulia itu menegaskan bahwa jika Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan dipotong tangannya. Sepertinya inilah yang hilang di negeri kita.

Tentunya kisah Nenek Minah masih lekat dalam ingatan kita, nenek jompo yang mencuri tiga buah buah kakao atau kasus seorang remaja yang mencuri sandal, lihatlah begitu cepat hukum bertindak, sedangkan mereka yang mencuri milyaran uang negara masih bisa berlenggang seperti artis. Semua kasus pencurian harus diproses secara hukum sekecil apapun itu, karena pencurian bukan dilihat dari nilainya tetapi perbuatannya. Namun jika hukum memperlakukan orang kecil dan orang besar secara tidak adil, maka itu tidak akan membuat jera para koruptor, karena mereka bisa membeli hukum.

Juga masih jelas di ingatan kita, bagaimana seorang tersangka korupsi menyulap sel tahanannya menjadi istana dengan fasilitas mewah layaknya rumah sendiri. Atau penjara yang menjadi tempat transaksi narkoba. Efek jera apa yang bisa didapat oleh para tersangka jika mereka mendapatkan syurganya di dalam penjara?

>>>>

Bercermin kepada pengembala kambing di zaman Umar, seorang anak muda yang tidak mengenyam pendidikan yang layak sebagaimana anak seusianya pada saat itu, namun ilmu yang secuil dan iman yang dimilikinya bisa mengokohkan kejujurannya. Bagaimana dengan generasi bangsa saat ini? Mereka mengenyam pendidikan yang cukup memadai, apakah mereka bisa berprilaku sama dengan seorang budak pengembala kambing yang tidak sekolah di zaman Umar itu?

Pendidikan karakter sangat penting bagi generasi bangsa sejak dini, namun melihat kondisi bangsa saat ini, pendidikan karakter diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa.

Sejak dini, seorang guru tidak boleh mendidik siswanya untuk tidak jujur. Misalnya ketika sedang menghadapi ujian, seorang guru tidak boleh membantu siswanya dengan memberikan kunci jawaban hanya karena takut tingkat kelulusan di sekolahnya rendah. Itu mengajari siswa untuk berbuat curang, dan celakanya jika hal itu dibawa sampai mereka menduduki sebuah jabatan.

>>>

Wajar jika kita cemas dengan kondisi negeri kita yang amburadul karena kasus korupsi yang menjerat pejabat negara, mereka yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyatnya ternyata tidak bisa diandalkan, mereka yang diharap menjadi pahlawan untuk rakyatnya ternyata mencekik rakyatnya. Namun di tengah kecemasan itu, kita tetap punya harapan bahwa di Indonesia ini masih sangat banyak orang baik, mereka membenci korupsi. Kita tidak boleh putus asa dalam memperbaiki negeri ini, lakukan apa yang bisa kita lakukan, terus kembangkan prestasi dan potensi diri untuk melakukan yang terbaik. Yah! Kita tidak boleh kehilangan harapan, cinta dan semangat kerja, karena dengan itulah kita bisa merubah negeri ini ke arah yang lebih baik.

Kita yakin di antara pejabat negara kita, masih ada diantara mereka yang mencontohi Umar bin Khattab atau Umar bin Abdul Aziz. Dua orang itu adalah cermin pemimpin yang ideal, alangkah bahagianya Indonesia jika mempunyai pemimpin seperti mereka.

Mari bersama kita perangi korupsi, Indonesia macam apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita jika korupsi masih menjadi budaya. Apakah kita akan mewariskan Indonesia yang penuh luka-luka karena kebejatan moral?

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *