Karya KBM1: Kasus Korupsi Di Indonesia Menodai Sucinya Nama Islam

Posted on

Penulis: Waluyo @waluyo_rsd

Predikat: Pemenang Hadiah Terfavorit Ke-2

Tinggihnya kasus korupsi yang terjadi di Negara Indonesia mau tidak mau ikut menodai sucinya nama agama islam juga. Bagaimana tidak coba, Indonesia adalah negara dengan penduduk penganut agama islam yang jumlahnya paling banyak di dunia. Sudah pasti kebanyakan orang awam akan melihat akhlak Bangsa Indonesia adalah cerminan dari keyakinan dari agama yang dianutnya tersebut.

Padahal secara perhitungan kita bisa bilang, karena mayoritas penduduk negeri ini adalah muslim, maka secara otomatis yang memangku jabatan di negara ini adalah mayoritas muslim juga, dan bila para pemangku jabatan tersebut banyak yang melakukan tindakan korupsi, sudah pasti tentu oknumnya juga mayoritas muslim.

Saya kasih perbandingannya: misal di negara X penduduknya mayoritas non-muslim, otomatis para pejabatnya adalah non-muslim, bila terjadi kasus korupsi,,, ya pelakunya non-muslim juga dong.

Jadi di sini saya kurang setuju bila ada yang mengatakan bahwa banyaknya kasus korupsi di Indonesia dikarenakan agama islam kurang benar untuk menangani urusan korupsi. (Biasanya yang suka mengeluarkan statement ini adalah non-muslim yang suka debat di grup / forum-forum bebas di internet.)

Tapi apa daya, fakta-fakta yang terjadi di lapangan memang sangat memalukan dan merusak citra muslim. Khususnya di Indonesia, ada koruptor yang kesehariannya kelihatan alim taat beragama, ada koruptor yang memakai hijab, ada koruptor muallaf, ada koruptor yang justru dari Partai Islam, bahkan yang lebih lucu lagi ada koruptor yang memiliki gelar di depan namanya HAJI. Dan bila mereka dalam menjalankan aksinya secara bersama-sama, istilah yang digunakan untuk menyebutnya pun menjadi KORUPSI BERJAMAAH ckckck…

Kasus Korupsi Di Seluruh Dunia, Negara Islam Vs. Sekuler

Kalau melihat bukti dari sumber sini, negara yang memperoleh peringkat bersih dari korupsi adalah negara yang non-muslim (sekuler). Lima besar negara-negara terbersih dari korupsi sejagat di tempati oleh Finlandia, Islandia, Singapura, New Zealand, dan Denmark.

Sedangkan dari negara-negara agama tidak ada satupun yang berhasil masuk dalam peringkat sepuluh besar. Libya dan Iran cuma di peringkat 105. Sedangkan Arab Saudi diperingkat 70. Indonesia sendiri jeblok diperingkat 130.

Lagi-lagi bertambah satu lagi bukti yang seakan-akan menyatakan bahwa islam itu kurang becus menangani kasus korupsi bila dibanding dengan negara sekuler.

Ok, sebenarnya sejauh apa dan bagaimana sih pandangan islam tentang kasus ini kok negara islam bisa banyak yang korupsinya?

Pandangan Islam Tentang Korupsi

Perlu diketahui sebelumnya bahwa antara Islam dan Muslim itu beda pengertiannya. Islam adalah nama agama yang isinya aturan-aturan dan lain sebagainya, sedangkan Muslim adalah orang yang menganut agama islam.

Jadi yang kuasa untuk melaksanakan korupsi atau tidak itu adalah tindakan orang muslim. Sedangkan dalam aturan islam sendiri sebetulnya dengan tegas telah melarang perbuatan itu. Gak percaya? Berikut adalah bukti-buktinya:

#1. Firman Allah SWT Dalam Surat An-Nisa Ayat 58

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Memang Allah tidak langsung melarang korupsi dengan ayat ini, akan tetapi jika disimak makna “korupsi” yaitu melakukan pengkhianatan terhadap amanah rakyat (publik), dan Rasulullah Muhammad S.A.W juga bersabda dalam sebuah hadist, yang maknanya lebih kurang sbb. “amanah akan dimintai pertanggung jawaban tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti”.

#2. Firman Allah Dalam Surat An-Nisa Ayat 29

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu [287]; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Disamping itu, istilah “korupsi” sering diterjemahkan sebagai “tindakan memakan harta (hak) orang lain secara melawan hukum (bathil).

#3. H.R. Bukhari
Berikan hak-hak rakyat, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap penguasa mengenai hak-hak rakyat.

#4. H.R. Al-Hakim
Allah memberi laknat kepada pemberi suap, penerima suap dan perantara diantara keduanya.

Dengan demikian jelaslah dalam ajaran agama islam bahwa yang namanya tindakan korupsi dan suap-menyuap adalah HARAM dan sama sekali dilarang dan mendapat ancaman yang sangat berat nantinya di yaumil akhir bagi pelakunya.

Tidak hanya di situ saja. Dalam kisah pada masa khalifah, ada juga kok pemimpin muslim yang beber-bener menjalani hukum islam yang sangat patut untuk dijadikan teladan jiwa kemimpinannya, Beliau adalah Umar Bin Aziz.

Kisah-Kisah Pemimpin Muslim Umar bin Abdul Aziz Yang Patut Diteladani
#1. Umar Bin Abdul Aziz Anti Nepotisme.
Pada suatu hari Umar ditunjuk untuk menjadi khalifah menggantikan saudaranya. Penunjukkan itu didasarkan pada surat wasiat yang dibuat oleh saudaranya, yang merupakan Khalifah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Aziz.

Nama Umar kemudian diumumkan sebagai khalifah baru. Tetapi, Umar kemudian menolak pembaiatan dirinya. “Saudara-saudara sekalian, sekarang saya batalkan pembaiatan ini, dan silakan memilih sendiri siapa yang kalian anggap pantas menjadi Khalifah,” ucap dia.

Umar berniat mengembalikan cara pengangkatan khalifah sesuai dengan cara yang diajarkan Rasulullah, yaitu dengan pemilihan, bukan diwariskan secara turun temurun di satu generasi saja. Namun demikian, sebagian besar rakyat tetap memilih Umar menjabat sebagai Khalifah. Akhirnya Umar tidak bisa menolak keinginan rakyat untuk memintanya menjadi khalifah.

#2. Umar Bin Abdul Aziz Menolak Fasilitas Kendaraan Dinas Kekhalifahan.
Setelah Umar resmi diangkat menjadi khalifah, kemudian beliau dikasih seekor kuda guna untuk kendaraan dalam menjalankan tugas kekhalifahannya.

Namun Umar menolak dan tetap menggunakan kuda pribadinya. Bahkan Umar justru menyuruh kuda dinasnya untuk dijual kemudian uangnya untuk kas baitul mal.

#3. Umar Bin Aziz Tidak Korupsi Waktu.
Pengangatan Umar adalah tepat bersamaan dengan waktu pemakaman Khalifah Sulaiman. Karena ngantuk dari semalaman belum tidur gara-gara mengurus proses pemakaman, Khalifah Umar pulang ke rumah bermaksud ingin istirahat sebentar.

Tiba-tiba anak Umar, Abdul Malik menegurnya, “Apakah engkau akan beristirahat sebelum hak orang-orang yang didzalimi dikembalikan?”

Umar menjawab, ” saya ingin tidur sebentar dan setelah tiba waktu dzuhur nanti, saya akan berjamaah dengan orang-orang dan akan saya kembalikan hak orang-orang yang telah didzalimi,” kata Umar.

“Apakah ada yang dapat menjamin bahwa engkau masih hidup hingga waktu dzuhur tiba, wahai Amirul Mukminin?” tanya Abdul Malik lagi.

Mendengar perkataan putranya, Umar kemudian bangkit dari tempat tidurnya. Rasa kantuknya hilang seketika karena peringatan dari putranya kemudian kembali ke istana untuk bekerja kembali.

#4. Umar Tidak Menggunakan Fasilitas Negara Untuk Keperluan Pribadi.
Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz terlihat sibuk merampungkan sejumlah tugas di ruang kerja istananya. Tak dinyana, putranya masuk ruangan dan hendak membericarakan sesuatu.

”Untuk urusan apa putraku datang ke sini: urusan negarakah atau keluargakah?” tanya Umar.
”Urusan keluarga, ayahanda,” jawab si anak.
Tiba-tiba Umar mematikan lampu penerang di atas mejanya. Seketika suasana menjadi gelap.
”Kenapa ayah memadamkan lampu itu?” tanya putranya merasa heran.

”Putraku, lampu yang sedang ayah pakai bekerja ini milik negara. Minyak yang digunakan juga dibeli dengan uang negara. Sementara perkara yang akan kita bahas adalah urusan keluarga,” jelas Umar.

************************

Sangat sulit memang untuk menemukan seorang pemimpin seperti Beliau di zaman sekarang. Apalagi di Indonesia yang kasus korupsinya seperti sudah mengakar dan membudaya.

Lantas apa dan bagaimana dong untuk mengatasi korupsi di Indonesia yang sudah sedemikian parahnya.

Solusi Untuk Indonesia

Mari Perbaiki Bersama
Menurut saya, dalam hal ini Indonesia itu terbagi dalam tiga golongan:
▪ Golongan pertama adalah golongan yang patuh pada agama dan takut dengan Allah.
Golongan ini bisa dipastikan tidak akan melakukan korupsi karena sudah tau bahwa Allah selalu mengawasi dan bila itu terjadi akan mendapat dosa dan balasan yang sangat berat di akherat kelak. Masalahnya adalah golongan ini jumlahnya sangat sedikit sekali.


▪ Golongan kedua adalah golongan yang tidak patuh pada agama dan tidak begitu takut pada Allah ( karena mungkin cuma islam KTP, ateis atau agnostik ) tapi sadar akan hukum negara. Golongan ini tidak mau korupsi karena dia tau bahwa korupsi itu merampas hak orang lain, tidak bermoral. Golongan ini tidak mau menyuap karena dia sadar bahwa dengan suapan akan mengakibatkan tidak optimalnya hukum berjalan yang kemudian akan mengakibatkan keadaan menjadi kacau. Golongan ini saya perkirakan juga sangat sedikit sekali jumlahnya.
▪ Golongan yang terakhir adalah golongan yang tidak patuh pada agama dan tidak takut pada Allah serta tidak pula sadar hukum. Golongan ini lah yang mempunyai potensi untuk melakukan tindakan korupsi. Kabar buruknya adalah golongan ini sangat banyak jumlahnya.
Untuk menangani tiga golongan tersebut sekaligus, ada dua cara yang harus dilakukan secara bersamaan. Yaitu: Tingkatkan Ketegasan Hukum Negara pada koruptor dan cara yang satunya adalah dengan Pendekatan Agama, ini mengingat juga bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cukup religius dan merupakan populasi muslim terbesar di dunia.

1. Meningkatkan Ketegasan Hukum Negara / Law Enforcement
Bisa dibilang korupsi itu adalah sebuah kriminal besar karena menyangkut kerugian orang lain bahkan negara. Sudah sepantasnya lah pemerintah memberikan hukuman yang sangat berat untuk kasus ini. Sebuah hukuman yang bisa membuat efek jera pada pelakunya, hukuman yang bisa membuat takut untuk mencobanya.

Sejauh sepengetahuan saya, dalam islam hukuman bagi pencuri adalah potong tangan. Sedangkan hukuman bagi koruptor adalah berdasarkan keputusan hakim. Jadi apabila jumlah korupsinya sedikit, hukumannya akan lebih ringan. Namun, bila jumlah korupsinya banyak, hakim boleh memberikan hukuman mati sekalian. Meskipun Indonesia bukan negara islam, tapi ayo dong tegakkan hukum setegak-tegaknya jangan mau kalah sama negara sekuler.

2. Pendekatan Agama
1. Memang benar bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah seperti kita mampir minum saja, hanya sebentar dan yang penting kehidupan kita di akherat sana yang sifatnya kekal. Namun perlu diketahui juga, untuk mencapai tujuan akherat sana ( surga ), kuncinya adalah di dunia ini. Dunia ini adalah tempat kita mencari bekal untuk hidup di sana.

2. Sudah sepantasnya kita sebagai Muslim Aswaja ( Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ) yang taat pada agama Islam harus mencontoh akhlak Umar Bin Abdul Aziz seperti kisah di atas. Bahwa kehidupan beragama itu tidak melulu cuma ibadah vertikal kepada sang pencipta, Tapi sebenarnya Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat sesuatu yang baik pada sesama manusia dan pada lingkungan, Habluminallah dan Habluminannas. Artinya kita sebagai Muslim harus juga peduli dan peka akan isu korupsi sebagai sesuatu yang melanggar agama yang harus diperangi bersama.

3. Mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, anak, dan keluarga kita bangun karakter dan kesadaran Takut Kepada Allah. Bahwa senantiasa Allah mengawasi kita, sekecil apapun perbuatan kita akan diperhitungkan di akherat kelak.

Pengalaman Saya Pribadi Yang berhubungan Langsung Dengan Praktek Korupsi Dan Suap-Menyuap
Sebenarnya efek kerugian dari korupsi dan suap-menyuap itu bisa dirasakan secara langsung di dunia ini tanpa harus menunggu hari penghitungan di akherat kelak.
Meskipun saya perantau dan tiap Idul Fitri pasti pulang kampung untuk silahturrahmi dengan orang tua dan sanak saudara, tapi KTP saya sudah KTP Jakarta. Jadi setiap ada pemilihan Presiden, Gubernur dan pemilihan lainnya aku tercatat sebagai warga Jakarta.

Namun entah bagaimana ceritanya waktu pemilihan Kepala Desa di kampungku kemarin aku bisa mendapatkan undangan pencoblosan. Karena rumah salah satu calon KADES dekat dengan rumahku dan dia teman baik bapakku, serta para tim suksesnya adalah teman-temanku, aku di telpon untuk pulang setidaknya pada hari H-nya dengan iming-iming ganti ongkos pulang-pergi sebanyak 3 kali lipat.

Ternyata benar sesampainya di rumah, tim sukses langsung menyodori saya beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah sambil berucap dengan sangat sopan minta tolong diterima dan bersedia nyoblos calon si A. Awalnya saya ragu menerimanya, tapi berhubung tim sukses masih saudara dekat saya dan bapak juga berbisik, “Sudah terima saja dari pada kamu kelihatan sok suci dan kelihatan tidak mendukung si A justru mendukung Si B, ntar saudara dan tetangga-tetangga malah memusuhi kamu.” akhirnya saya terima juga dengan terpaksa dan duitnya tidak saya gunakan sepenuhnya untuk kepentingan pribadi.

Di kampung saya antara pemilihan Presiden dengan pemilihan Kepala Desa itu lebih ramai dan lebih disenangi pemilihan Kepala Desa. Suasananya benar-benar pesta rakyat. Di hari-hari kampanye Kedua calon ( kebetulan pada waktu itu cuma dua ) bersaing dan berlomba-lomba merebut hati warga dengan mengadakan pesta makan, minum dan rokok gratis di rumah masing-masing calon hampir tiap malam. Warganya entah itu tua, muda, lelaki, perempuan semua bebas untuk menikmatinya bahkan dilayani dengan baik.

Di hari H-nya yang seharusnya sudah hari tenang justru lebih parah lagi. Pagi-pagi sekali sebelum warga berangkat ke lapangan desa untuk mencoblos, terjadi serangan fajar. Kedua calon sama-sama membagikan sogokan berupa amplop berisi uang sebesar lima puluh ribu rupiah. Bagi warga yang kelihatan tidak fanatik dan netral kemungkinan bisa mendapatkan dua amplop, dari sana-sini calon A dan calon B. Bahkan undangan pencoblosan pun bisa diperjual-belikan, harganya mahal tergantung penawaran.

Usai penghitungan suara, calon si A kalah. Entah karena setres atau apa, seorang tim sukses menceritakan kepada saya dan membongkar sebuah rahasia. Sebenanya gaji seorang kepala desa di kampung kita itu sangat sedikit, hanya dikasih beberapa hektar sawah milik desa dan bila masa jabatannya berakhir sawah tersebut harus dikembalikan lagi untuk dikasih ke kepala desa yang baru. Kalau dihitung-hitung gajinya itu tidak cukup untuk mengembalikan semua modal yang sudah dikeluarkan pada saat kampanye. Namun nanti kepala desa tersebut menyiasatinya dengan korupsi. Bila ada bantuan dari pemerintah pusat, bantuan tersebut tidak disalurkan sepenuhnya kepada warga tapi sebagian dikorup. Nah loh siapa yang rugi ? Semuanya !!!
▪ Untuk calon yang kalah jelas rugi besar.
▪ Untuk warga, sogokan lima puluh ribu itu tidak sebanding dengan masa jabatan Kepala Desa selama 8 tahun ( masa jabatan Kepala Desa di kampung saya 8 tahun ). Bayangkan saja, selama itu berapa banyak bantuan dari pemerintah pusat yang akan dikorup? Raskin, BLT, dll. Belum lagi kalau ada warga yang ingin bikin KTP atau surat apapun yang mengharuskan minta tanda tangan dari Kepala Desa. Kalau gak ada “uang rokok” pasti akan dilama-lamain.
▪ Untuk calon yang menang, lagi sibuk memikirkan cara korupsi untuk balik modal eh ada segerombolan warga demo menagih janji-janji pada saat kampanye. Korupsi dengan niatan untuk balikin modal pun itu sudah terhitung dosa !!!
Begitulah sedikit tentang pengetahuan, opini dan pengalaman saya tentang Anti Korupsi. Apabila ada salah kata, saya mohon maaf dan mohon bersedia untuk mengoreksi di kolom komentar di bawah ini. Terimakasih.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *