Karya KBM1: Korupsi… Oh, Korupsi… Nasibmu Kini

Posted on

Penulis: Hayatika Ukiyanus      @QuikQuit

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-5

Alkisah di suatu negeri, raja hendak mengadakan perayaan kerajaan. Seluruh rakyat diwajibkan memberikan sebelanga susu sebagai minuman pada acara jamuan. Banyak  rakyat yang tidak rela, namun karena itu titah sang raja tak seorang pun berani menentangnya.

Pada hari yang ditentukan, pada punggawa raja menyiapkan sebuah gentong raksasa. Gentong itu ditelakkan di taman depan istana. Setiap rakyat yang menjadi warga negeri tersebut harus memasukkan sebelanga susu ke dalam gentong raksasa itu. Para punggawa istana juga mendata agar tidak ada rakyat yang tidak membawa belangga susu.

Ternyata ada seorang rakyat yang ingin berbuat curang. Dia tidak rela memberikan susu sebagai minuman di pesta perayaan kerajaan. Dia berniat mengisi belanga miliknya dengan air biasa. Dia berpikir bahwa susu segentong raksasa tidak akan berpengaruh jika hanya dicampur sebelanga air miliknya. Mulailah dia membawa belanga berisi air ke tempat gentong raksasa di taman istana. Para punggawa tidak akan tau karena belanga terbuat dari tanah liat yang tidak tembus pandang. Seorang rakyat tersebut langsung memasukkan air ke gentong raksasa, lalu bersegera pulang.

Setelah mengecek bahwa setiap warga telah memasukkan susu ke gentong raksasa, para punggawa menutup gentong tersebut. Keesokan harinya para punggawa hendak memberikan gentong raksasa kepada pelayan dapur istana untuk disiapkan sebagai jamuan pesta. Tapi mereka sangat terkejut saat membuka penutupnya. Para punggawa dan pelayan istana itu tercengang melihat isi gentong raksasa. Bukan air susu yang ada dalam gentong tersebut, melainkan air tawar bening yang sama dengan air kolam istana.

Syahdan, tidak hanya satu orang yang berbuat curang dengan mengisi belanganya dengan air tawar, tapi setiap rakyat melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama berpikir bahwa satu belanga air tawar tidak akan mempengaruhi segentong raksasa susu. Dan mereka berpikir dirinya akan terlepas dari kesahalan karena orang banyak lah yang akan menutupi kesalahannya.

**

Kisah tersebut adalah cerita yang pernah saya baca saat masih kanak-kanak. Pesan moralnya jelas, bahwa kerusakan yang besar bisa jadi diawali dari perilaku kita yang kecil. Bahayanya kita merasa aman dari kesalahan yang kita anggap kecil tersebut. Atau kita merasa kesalahan yang sengaja kita lakukan tidak akan berpengaruh apa-apa; tidak akan berpengaruh pada kehidupan kita apalagi kehidupan banyak orang.

Apa pengaruhnya mengambil keuntungan sekian ratus milyar dari dana negara yang APBNnya mencapai ribuan trilyun?? Seperti juga apa pengaruhnya menerima uang seratus ribu dari calon kepala daerah sedang dana kampanye mereka ratusan juta? Lalu pemikiran ini tidak hanya berhenti pada satu orang melainkan menjadi wabah pada setiap orang. Maka lihatlah pelaku kasus korupsi korupsi jumlahnya bertambah setiap hari. Bahkan jika foto mereka yang sudah terbukti korupsi dan dinyatakan bersalah di jajar di lembaran kertas, jumlahnya bisa menyaingi jumlah foto caleg DPD pada pemilu 2004. Belum lagi mereka yang masih bsa menutupi kejahatan korupsinya.

Padahal kita ingat bagaimana kisah masa kecil seorang ulama besar Asy Syafi’i, saat ibunya meninggalkan beliau sendiri di beranda rumah. Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang saat itu masih bayi lalu menangis. Seorang tetangga yang iba melihat Syafi’i kecil menangis serta merta menyusuinya. Mengetahui bayinya disusui orang lain, ibu imam Syafi’i segera merebut anaknya dan membawa kedalam rumah. Ibu sang imam mengguncang-guncangkan dan mengocok perut anaknya dengan keras hingga semua cairan di perutnya muntah keluar. Seorang keluarga mempertanyakan apa yang dilakukannya, lalu si ibu menjawab: “Aku hanya khawatir perempuan tadi memakan makanan yang subhat kemudian air susunya terminum oleh anakku.” Subahanallah!

Pertanyaannya: apa pengaruh susu dari perempuan yang memakan makanan subhat bagi kehidupan sang anak?  (Namun paling tidak kita punya gambaran bagaimana seorang ibu menjaga makanan yang sampai ke perut anaknya sehingga si anak tumbuh sebagai penghafal Al Quran pada usia tujuh tahun).

Kembali pada bahasan kita bahwa sesuatu yang besar tidak bisa lepas dari pengaruh sesuatu yang kecil. Begitupun pada fenomena korupsi yang semakin menggurita. Dan seyogyanya kita tidak perlu tercengang dengan ulah pejabat A yang melakukan tindakan korupsi senilai sepuluh milyar, pejabat B dengan nilai enam trilyun, pejabat C dengan jumlah yang lebih besar dan sebagainya. Yang seharusnya ditelaah tidak melulu dari nominal yang mereka gelapkan atau jumlah potensi kerugian negara, tapi dari perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai aturan. Hemat saya, jumlah itu menyesuaikan dimana seseorang itu berada, semakin besar dia dikelilingi pusaran uang semakin besar pula jumlah nominal yang bisa dia dapatkan. Perbedaannya seseorang mau melakukannya atau tidak.

Tentu saja tindakan korupsi itu bisa dilakukan setiap orang. Tak peduli seorang pejabat negara, pejabat daerah, atau masyarakat biasa. Korupsi bukan lagi dominasi orang-orang pemegang kekuasaan atau pemangku jabatan tertentu. Ini tentang kesadaran perilaku, sebuah kontruksi mental.

Saya contohkan pada pensubsidian BBM (Bahan Bakar Minyak, bukan BlackBerry Mesenger  ^_^ ), pengurangan/pengalihan subsidi BBM disinyalir selain bakal semakin melumpuhkan perekonomian rakyat kecil juga berpotensi menjadi ‘kue’ yang lebih besar di kalangan mafia anggaran. Maka bagaimanapun masyarakat diedukasi tentang dampak positif pengalihan subsidi ini, mereka akan mengeluarkan statemen: “ujung-ujungnya pasti dikorupsi.” Apakah statemen ini salah? Tidak juga, karena mungkin statemen itu benar. Tapi yang butuh dicermati, saat BBM mendapat subsidi dari dana negara apakah tidak ada perilaku korupsi? Lihat dimana bus dimodifikasi sebagai wadah penampung BBM bersubsidi lalu dijual dengan harga non-subsidi. Lihat ketika penjual bensin eceran menahan barang dagangannya beberapa hari sebelum harga bensin resmi dinaikkan sehingga bensin menjadi barang langka di pasaran. Lihat bagaimana pemilik mobil-mobil high-class  ‘memaksa diri’ turut menghabiskan dana negara dengan menjejalkan premium bersubsidi yang sejatinya diperuntukkan bagi masyarakat menengah kebawah ke mesin mobilnya.

So, siapa mereka?  Pejabat pemerintah? Anggota DPR? Kepala Daerah? Bukan! Mereka tidak harus pejabat di pemerintahan, tidak harus punya wewenang pengelolaan anggaran negara, mereka sama seperti kita, dan bisa jadi mereka adalah diri kita sendiri.

Contoh lain pada subsidi dana pendidikan. Pemangkasan dana bantuan sekolah dari seratus juta menjadi sekian puluh juta tentu merupakan perilaku keji yang tidak bertanggung jawab oleh pejabat Kementrian Pendidikan yang berwenang. Itu jelas sebagai tindak pidana korupsi. Tapi bagaimana dengan penyalahgunaan dana operasional oleh oknum-oknum di sekolah-sekolah daerah? Jika seorang guru mengisi absen kegiatan pelatihan hanya untuk mendapatkan uang akomodasi lalu pergi meninggalkan tempat, apakah tu bukan wujud korupsi?

Menghadapi perilaku korupsi yang sudah sedemikian meluas, sedemikian mengakar, dan sedemikian rumit, banyak pakar yang kemudian mewacanakan perubahan sistem, baik sistem pemerintahan, sistem administrasi, sistem pengawasan, dan berbagai sistem yang lain. Bagi saya, perubahan yang paling utama, sangat urgent, dan harus segera dilakukan adalah perbaikan mental. Karena sistem hanyalah sebuah medium, dan mental adalah mesin yang menggerakkan perilaku manusia.

Setiap dari kita yang harus merekontruksi pemikiran bahwa hal kecil yang kita lakukan akan berpengaruh besar pada kehidupan kita dan kehidupan banyak orang. Tidak peduli berapapun nominal dan keuntungan yang kita dapatkan yang tidak semestinya atau melalui jalan yang salah akan menjadi bumerang di waktu yang akan datang. Dan kita harus rela menghapus pernyataan “jika aku tidak ambil pun akan diambil orang lain” dari mental kita, karena sama seperti sikap buruk sikap baik pun berpotensi menyebar pada orang lain. Toh walaupun orang lain masih melakukan korupsi saat kita memilih menahan diri, kita tidak akan rugi.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula” (QS. 99 : 7-8).

Semoga kita umat muslim termasuk orang-orang yang terlindungi dari perilaku-perilaku korupsi sekecil apapun dan dimanapun kita berada.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *