Karya KBM1: Malu Jadi Benalu, Malu Korupsi Melulu

Posted on Updated on

Penulis: M. Ridsal Yahfin Hsb @RidsalYH

Predikat: Juara Hiburan Ke-20

  “Profesional tanpa akhlak, seperti manusia cerdas intelektual, bodoh secara moral. Itu bukanlah hal lumrah.” Pikirku, “loh kenapa bisa begitu?” Itulah yang terpikirku saat membaca buku yang membahas korupsi.Korupsi yang telah menjadi penyakit bangsa ini telah berubah menjadi budaya. Banyak orang beragama dalam bidangnya namun ikut terlibat korupsi, hal ini bisa terjadi disebabkan kurangnya moral bangsa.

Mereka yang berjuang untuk menghapus budaya ini selalu kandas di ujungnya disebabkan banyaknya orang licik yang ingin menjatuhkan mereka. Hal ini membuat hidup semakin tidak moralis, hingga muncul anggapan “curang yang menang, jujur pasti hancur!” Naudzubillahi mindzalik.

Hanya karena anggapan inilah bangsa kita semakin terpuruk. Peraturan-peraturan yang dibuat untuk menekan korupsi tidak mampu untuk menghancurkannya, malahan semakin menjadi-jadi dan membuat rantai baru terus bermunculan yang disebabkan sedikit sekali yang menegakkan keadilan.

Pemerintah yang berurusan dengan korupsi tidak terhitung lagi jumlahnya yang terlihat seperti permainan. Begitu juga dengan hakim yang berurusan dengan mereka. Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai kaum muslimin?

 

Budayakan Malu

Penyakit tujuh kata “korupsi” yang telah mewabah harus dituntaskan. Kita yang sebagai “khairuh ummah” yang telah diberi Al-Qur’an dan Sunnah Nabi harus bisa menghadapinya di negeri tercinta ini. Karena seorang yang mengaku islam haruslah melekatkan ilmu dalam jiwanya, sebab ilmu yang dapat menjaga seorang muslim selama hidup di dunia. Namun bukan berarti hanya ilmu saja tetapi moral juga, salah satunya dengan sikap malu.

Sikap malu memegang peranan penting dalam pembentukan karakter moral, yang menjadi salah satu tujuan dasar Islam, “innama bu’istu liutammima makarimal akhlak”, (sesungguhnya aku (Nabi Muhammad SAW) diutus untuk memperbaiki akhlak manusia).

Artinya seorang muslim sangat malu terhadap Allah, Rasulullah, dan terhadap dirinya sendiri jika melakukan perbuatan buruk. Bahkan dalam Islam “malu” juga menjadi landasan keimanan pribadi seorang muslim, dalam sebuah sunnah nabi dikatakan “malu itu sebagian dari iman”

Namun apa yang terjadi? Banyak yang tidak malu melakukan korupsi. Seolah-olah bila diterbukti korupsi, jawabannya pasti senyum itupun tunggu terbukti korupsi. Seolah-olah mereka seperti sudah tidak punya urat malu lagi.

Tindakan seperti ini harus diberantas secepatnya, karena apabila dibiarkan terus-menerus akan menjadi bibit-bibit kelanjutan korupsi. Oleh karena itu sudah saatnya melakukan budaya malu sekaligus kerja keras dan cerdas sehingga menjadi orang yang profesional dan bermoral. Nabi Muhammad sendiri mengatakan dalam sunnahnya “Allah mencintai seorang mukmin yang bekerja”, yang berarti kita harus bekerja keras juga untuk menghentikannya.

Akan tetapi, bukan berarti yang hanya kaum muslim saja yang bisa menghentikan korupsi. Orang non muslim maupun atheis bisa juga menghentikannya. Ada ungkapan orang arab yang mengatakan, “Allah pasti akan menolong orang yang berilmu, jujur, dan adil walaupun kafir. Akan tetapi, Allah tidak akan menolong orang-orang yang bodoh, pembohong, dan zalim walaupun mereka mengaku Islam!”

Karena itu, marilah kita terus berjuang untuk menghentikannya walaupun sedikit orang yang melakukannya. Sebagaimana sabda Rasulullah mengenai orang asing:

“Sesungguhnya agama islam itu pada mulanya dalam keadaan asing dan akan kembali ke keadaan asing pula sebagaimana pada mulanya, karenanya, berbahagialah bagi orang asing.” Nabi ditanyai orang, “siapakah orang-orang asing itu?” Beliau menjawab, “mereka yang menghidupkan sunnahku pada saat manusia mematikannya.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

  Nah, inilah artikel saya mengenai muslim anti korupsi. jangan lupa kunjungi website info dan belajar islam terkini di sini, Add juga facebooknya di sini, dan terakhir follow twitternya @ppmAswaja serta twitter saya @RidsalYH biar makin akrab 🙂

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *