Karya KBM1: Menuju Generasi Muslim Anti KORUPSI

Posted on

Penulis: Fitri Mutmainnah      @hyunrikhj

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-6

Korupsi… mungkin kata ini tak asing lagi ditelinga kita bahkan telah menjadi santapan penglihatan dan pendengaran kita setiap hari.  Tindakan korupsi ini telah mengakar dan tumbuh berkembang di negara kita dan yang lebih miris dan menyedihkan  lagi kebanyakan dari pelaku korupsi ini merupakan kaum muslim yang notabenenya melarang perbuatan tersebut karena merupakan perilaku tercela.

 

Koruptor sama halnya dengan pencuri, namun kata koruptor lebih terkenal untuk kalangan elit/pejabat. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh transparency.org, sebuah badan independen dari 146 negara, tercatat data 10 besar negara yang dinyatakan sebagai negara terkorup dan Indonesia berada  dalam peringkat ke-5 negara terkorup sedangkan dalam tingkat  Asia-Pasifik negara kita berada dalam peringkat pertama. Nyatanya hasil survey tersebut sangat menyedihkan jika kita selami. Mengapa demikian? Kita tahu bersama indonesia merupakan salah satu negara muslim terbesar di dunia, namun apa yang terjadi malah sebaliknya indonesia menjadi salah satu negara terkorup di dunia bahkan menjadi no. 1 di asia pasifk.. na’udzubillahi min dzalik.

 

Lantas apa yang menyebabkan  hal itu semua bisa terjadi? apa ini semua salah dari pemerintah  yang acuh tak acuh dalam mengatasinya atau pribadi itu sendiri yang  pura-pura tidak tahu selalu mencuri uang yang bukan haknya??  Lalu solusi apa yang dapat kita lakukan untuk menghasilkan generasi anti korupsi?? Sungguh ini merupakan pertanyaan yang  besar buat  kita sebagai bangsa  indonesia  yang mayoritas warganya kaum muslim.

 

Sebagai pribadi alangkah bijaknya bila sebelum menyalahkan orang lain kita dapat terlebih dahulu berkaca seperti apa pribadi kita, kita tidak bisa menaruh kesalahan sepenuhnya kepada pemerintah. Sebab tindakan korupsi merupakan suatu tindakan yang berasal dari pribadi itu sendiri bukan dari pemerintahnya.

 

Jika melihat pemimpin kita saat ini, sangat jauh berbeda dengan para pemimpin terdahulu. Mengapa demikian?? Jawabannya adalah para pemimpin dahulu mengerti dan paham atas amanah yang mereka diberikan, apapun tindakan yg mereka lakukan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan AsSunnah, mereka tahu segala apa yang mereka lakukan di dunia akn dipertanggungjawabkan di Akhirat kelak.

 

Lalu bagamana dengan pemimpin kita saat ini?? Sungguh setetes airpun tak sampai jika dibandingkan dengan para pemimpin terdahulu Ini disebabkan pemimpin kita saat ini sangat jauh dan tidak lagi berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Amanah yang diberikan  tidak lebih dari sebuah kesempatan untuk memperkaya diri mereka, tak peduli dengan masyarakatnya. Ibadah tidak lebih dari  pengguguran dari sebuah kewajiban yang harusnya menjadi kebutuhan seorang muslim. Dan inilah indikasi  bahwa bangsa kita telah jauh dari pedoman hidupnya yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Di dalam Al-Quran telah jelas pelarangan sifat khianat dalam surah  Al-Anfal ayat 27, Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”

 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda  “Tidak sempurna agama seseorang, kalau dia tidak bisa menjaga dan memelihara “amanah”.

Menjadi Pemimpin Berarti Menjalankan Amanah. Dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban kelak.

 

Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ألا كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته فالإمام الاعظم الذي على الناس راع وهو مسؤول عن رعيته والرجل راع على أهل بيته وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية على أهل بيت زوجها وولده وهي مسؤولة عنهم وعبد الرجل راع على مال سيده وهو مسؤول عنه ألا فكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته

artinya:

Abdullah bin Umar r.a. berkata bahwa Rasulullah, SAW telah bersabda, “Ketahuilah: kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya. Pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya tentang rakyat yang dipimmpinnya. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya tentang keluarga yang dipimpinnya. Isteri adalah pemelihara rumah suami dan anak-anaknya. Budak adalah pemelihara harta tuannya dan ia bertanggung jawab mengenai hal itu. Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan dituntut (diminta pertanggungjawaban) tentang hal yang dipimpinnya.”

 

Membahas masalah ini, saya terkenang oleh sebuah pemimpin di masa lampau yang berhasil menciptakan kesejahteraan untuk masyarakatnya. Ialah sosok Umar Bin Abdul aziz bin Marwan bin Hakam, yang dilahirkan pada tahun 61 H dari rahim seorang perempuan bernama Laila Binti ‘Asim bin Umar bin Khattab RA. Seorang pemimpin yang berakhlak mulia yang rela menahan laparnya demi memenuhi kebutuhan masyaraktnya. Predikat Kemewahan dibuang dalam kehidupannya. Harta-hartanya dibawanya ke baitulmal kemudian beliau hidup seperti rakyat biasa Aset pemerintahan digunakan seperlunya saja, diluar dari masalah kedinasan beliau tidak memakai aset pemerintah. Keadilan dan  kesejahteraan  merata dan tidak ada yang mau  menerima sedekah karena hidup mereka menjadi makmur. Sebelum diangkat menjadi Khalifah, kekayaannya berjumlah 400 ribu dinar. Setelah wafat, kekayaannya justru berkurang sehingga hanya menjadi 400 dinar.

 

walaupun beliau memerintah hanya 2 tahun lamanya namun beliau telah mampu mengubah sistem pemerintahan ke arah yang diridlai Allah SWT. Subhanallah  sungguh cerita yang sangat mengagungkan.

 

Benarlah  adanya perkataan Rasulullah jika kita merujuk pada masa kekkhalifahan umar bin abdul aziz yaitu : “apabila pemegang amanah ini dapat melaksanakan amanahnya dengan baik, maka dunia akan damai dan sejahtera.

 

Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan arus korupsi ini dan menghasilkan generasi muslim anti korupsi. 

 

1.      Kembali kepada Al-qur’an dan As-Sunnah

Tentu Solusi utamanya kembali berpegang teguh pada Al-Quran dan  As Sunnah sebagai pedoman dalam bertindak dalam menjalani hidup ini. Selalu menghadirkan rasa takut bahwa pengawasan Allah selalu meliputi kehidupan kita.

 

2.      Memperbaiki diri sendiri

untuk melakukan perbaikan tidak serta merta langsung merujuk pada negara tersebut melainkan dimulai dari diri pribadi sendiri. Maka langkah pertama yang harus di lakukan adalah membersihkan diri sendiri. Menjauhkan diri dari tindakan korupsi sekecil apa pun, karena dari yang kecil itu lama-lama menjadi besar.

 

3.      Memperbaiki ahkak dalam keluarga

Menanamkan budaya antikorupsi sejak dari lini terkecil  yang baik kepada . Orang tua yang korupsi, pasti akan menghasilkan anak-anak berakhlak buruk karena diberi makan dari hasil korupsi. Bangunan yang baik ialah bangunan  yang mempunyai pondasi yang kokoh dan  kuat. Begitupula jika kita ingin menghasilkan generasi yang baik jauh dari korup maka hal pertama yang harus dilakukan  sebagai orang tua adalah memperbaiki akhlak kita sesuai dengan tuntunan  Al-Quran dan As-Sunnah. Maka Insya Allah dengan izinNya kita dapat mencapai predikat muslim anti korupsi.

 

4.      Berkaca pada Pemimpin-pemimpin jujur

Menjadikan pemimpin-pemimpin jujur sebagai suri teladan untuk dicontoh perilaku mereka dalam keseharian contohnya khalifah Umar bin Abdul Aziz.

 

    5.    Hukuman

Kembali kepada Al-qur’an berarti kembali pada hukum-hukum Allah. Dalam Al-Qur’an telah jelas menjelaskan bahwa pelaku pencuri akan dihukum Qisos hukuman potong jari/tangan agar dapat memberikan efek jera.  Hukuman untuk pencuri sudah pasti korupsi.

 

Saya ingin mengutip sebuah hadist “  Dari Abu Barzah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Tidak akan bergeser kedua kaki anak adam pada hari kiamat  sebelum ditanya tentang 4 perkara:

Tentang Umurnya untuk apa dia habiskan?

Masa mudanya untuk apa ia gunakan?

Hartanya darimana ia peroleh & kemana ia belanjakan?

Dan ilmu apa yang telah ia amalkan?

( HR. Tirmidzi)

 

Semoga dari solusi diatas dapat membuahkan generasi-generasi muslim anti korupsi yang selalu menghadirkan rasa khauf  pada Rabbnya dalam setiap detik nafasnya.

 

——–Selamat Mencoba ———-

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *