Karya KBM1: Menyemai Bibit, Menumbuhkan Karakter

Posted on

Penulis: Totok      @Thoie

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-7

Korupsi: Bibit yang disemai

Korupsi  bagi  bangsa  kita  menjelma  menjadi  musuh  bersama  yang  harus  diberantas keberadaannya. Sebuah  lembaga  bernama  KPK  (Komisi  Pemberantasan  Korupsi) menjadi wasilah  bagi  upaya  segenap  elemen bangsa untuk  dapat menghapuskan  praktik haram ini dari tanah air tercinta. Satu per satu musuh dalam selimut yang mengatasnamakan ‘perwakilan’ dan ‘abdi’ rakyat pun merasakan akibat dari perbuatan lalai mereka. Mereka harus rela melepas semua kejayaan yang telah lama dirintis hanya karena ‘khilaf’ dan gelap mata dengan kekuasaan dan harta. Karena perbuatan yang mereka lakukan, popularitas mereka meningkat dengan pesat dalam waktu sekejap. Namun sayangnya, ketenaran yang didapatkan bukan merupakan buah dari hasil karya produktif yang mereka persembahkan untuk bangsa Indonesia, melainkan sebuah aib yang mencoreng nama baik pribadi dan keluarga atas hasil kerja koruptif mereka.
Korupsi  bisa  diibaratkan  seperti  kematian.  Siapapun,  kapanpun,  dan  dimanapun seseorang  dapat  melakukannya.  Perbuatan  haram  ini  bisa  dilakukan  oleh  semua  orang  dari berbagai kalangan, baik muda maupun tua, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, bahkan muslim atau  non-muslim,  dan  tak  jarang  dilakukan  oleh  tokoh  agama  dan  orang-orang  yang berpendidikan tinggi. Mengapa semua kalangan dapat berbuat korup? Jawabannya ialah karena terdapat akses untuk dapat melakukannya. Jalan yang tersedia berkolaborasi dengan niat dan hasrat yang sudah terpendam dalam hati seseorang sehingga tertuang dalam aksi nyata yang amat merugikan orang banyak.
Pada hakikatnya, korupsi merupakan sebuah perbuatan yang berawal dari penambahan hak bagi pribadi kita di luar dari hak yang seharusnya kita dapatkan. Oleh sebab itu, dapat dilihat antara hasil yang hendak dicapai akan mengalami sinkronisasi dengan cara yang dilakukan pula. Seseorang yang hendak melakukan korupsi dalam sebuah proyek pembangunan infrasturktur di suatu daerah misalnya, ia akan melakukan tahapan-tahapan yang menghalalkan segala cara untuk dapat meraih keuntungan pribadi dari proyek tersebut. Biasanya ia melakukan lobby dengan pejabat  yang  bertanggungjawab  atas  proyek  tersebut. Tak jarang proses tawar-menawar antar kedua belah pihak terjadi dengan berbagai mahar yang disyaratkan pejabat ‘korup’ tersebut dan harus dipenuhi oleh pemilik kepentingan dalam proyek tersebut.
Dalam skala kecil, seringkali praktik korupsi ini kita acuhkan dan bahkan terkesan adanya pembiaran. Seringkali kita berpikir bahwa dampak dari perbuatan kecil yang kita lakukan tidak akan berimbas apapun, kalaupun ada tidak lebih besar dari perbuatan tersebut. Namun bila ditelisik lebih mendalam, hal ini yang merupakan pangkal dari berbagai perbuatan korup  yang jelas merugikan orang lain.
Ibarat menyemai bibit agar tumbuh menjadi sebuah tanaman, kita pun menyemai potensi untuk melakukan perbuatan korup yang terus terpelihara dan terjaga kelestariannya di dalam diri kita. Agar menjadi tanaman yang subur, tentu bibit yang disemai juga harus melihat kondisi eksternalnya, seperti keadaan tanah, cuaca, dan hama yang mengganggu. Apabila lingkungan eksternalnya tidak mendukung bibit tersebut untuk tumbuh menjadi tanaman, maka matilah bibit yang kita tanam. Begitu juga dengan bibit korupsi yang berupa potensi yang terpelihara di dalam diri. Potensi tersebut terus tumbuh mengikuti berbagai perkembangan yang ada di lingkungan sekitar. Apabila lingkungan dari seseorang mendukung untuk melakukan perilaku koruptif, maka dapat dipastikan perilaku tersebut akan tumbuh subur dan dapat dikatakan sistemik. Namun, apabila lingkungan sekitar tidak mendukung untuk berperilaku korup, maka potensi buruk yang sudah tersemai di dalam diri seseorang tersebut dapat diminimalisir bahkan dapat dihilangkan.

Pembentukan Karakter Muslim anti-Korupsi

Sebagai agama dengan jumlah pemeluk mayoritas di Indonesia, Islam semestinya memberikan jalan keluar atas maraknya tindak pidana korupsi di negeri ini. Dengan misi rahmatan lil ‘alamiin, Islam diarahkan untuk menjadi ujung tombak terciptanya masyarakat yang jujur, adil, dan sejahtera. Banyak hal  yang bisa dijadikan  rujukan dalam bertindak sebagai seorang  muslim  untuk  mencapai  misi  tersebut. Islam  di  dalam  Al-Qur’an memang  tidak menjelaskan secara spesifik mengenai korupsi dan pencegahannya. Akan tetapi, dengan prinsip moralitas dan etika, Islam sangat menjunjung tinggi segala sesuatu yang berdasarkan tujuan untuk kemaslahatan ummat. Hal ini disebabkan karena korupsi memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat secara keseluruhan.
Sebagai seorang muslim, karakter keislaman kita tidaklah hanya sebatas ibadah yang bersifat ritual. Menjadi muslim yang berkarakter juga bisa dilihat pada nilai-nilai sosial kemasyarakatan yang menuntut adanya transparansi dan kejujuran. Selanjutnya, integritas sebagai seorang muslim pun dipertaruhkan tatkala harus berhadapan langsung dengan realitas lingkungan yang penuh dengan intrik. Ritual ibadah secara vertikal (kepada Allah) akan terlihat efeknya  tatkala  seorang  muslim  berinteraksi  dengan  lingkungan  sosialnya. Apabila  ia  dapat menerapkan idealisme sebagai muslim dalam realitas sosial yang ada, maka proses pembentukan karakter yang dilakukan dalam kepribadiannya dapat dikatakan berhasil. Apabila telah berhasil membentuk kepribadian sebagai muslim, tentu ia akan taat pada hukum Allah, hukum negara, dan jenis hukum lain di lingkungan sekitarnya.
Memang tidak mudah untuk menjadi seorang muslim yang memiliki karakter. Berbagai tantangan dan kebutuhan hidup senantiasa mendorong seorang muslim untuk mengesampingkan aturan Allah. Namun, hal tersebut jelas bukan sesuatu yang tidak ada solusinya. Ada beberapa jalan keluar untuk mencoba menjadi muslim yang bersih, jujur, dan berakhlak mulia.

1.  Batasan dalam ukuran kekerabatan dan persahabatan

Ukuran kekerabatan dan persahabatan seseorang sering melewati batas. Biasanya dilakukan dengan menggunakan barang atau fasilitas milik teman dekatnya tanpa seizin dan sepengetahuan pemiliknya karena merasa sudah terbiasa hidup bersama. Ini adalah solidaritas  yang salah dipersepsikan. Apabila terus dipertahankan dalam sebuah hubungan kekerabatan, maka akan berdampak buruk bagi masing-masing individu secara moral dan akhlak. Ibarat menyemai bibit, hubungan tersebut telah melindungi caloncalon pemakan hak orang lain yang bermotif kekeluargaan dan persahabatan. Sedekat apapun  kita  dengan  seseorang,  semestinya  terdapat pula batasan-batasan yang mengandung nilai-nilai moral dan etika.

2.  Hindari pikiran profit oriented

Dalam dunia usaha memang hal ini dianjurkan. Akan tetapi, apabila diterapkan dalam setiap instrumen yang mendukung kehidupan kita bisa menjadi sebuah boomerang. Hal tersebut bisa dilihat dari beberapa kasus korupsi yang melibatkan para pejabat di negara kita ini. Jabatan strategis yang dimiliki menjadi batu loncatan untuk meraih  keuntungan  sebesar-besarnya, baik individual maupun kelompok. Yang patut disoroti pula ialah kebanyakan dari  mereka adalah seorang muslim. Namun, karakter keislamannya tidak terdapat di dalam diri mereka karena sudah asyik bermain dalam “lingkaran setan”. Mereka paham Islam secara konseptual. Namun, secara praktik mereka harus mengesampingkan semua konsep Islam yang sudah lama dipelajari karena tergiur dengan jabatan dan uang.

3.  Senantiasa tepat waktu

Hal ini biasa dianggap sepele oleh kita sebagai seorang muslim dalam kehidupan keseharian kita. Selama ini, korupsi lebih diidentikkan dengan uang dan barang. Akan tetapi  yang  bisa  menjadi  tolak  ukur  sederhana  namun  fundamental  ialah  waktu. Mengulur-ulur waktu bahkan hampir menjadi budaya di setiap organisasi dan institusi (bahkan yang bercorak Islam). Tentu budaya seperti ini bukan merupakan budaya yang tidak baik  bagi  kemajuan  bangsa  kita. Sudah semestinya budaya tepat waktu menjadi bagian dalam keseharian kita. Menghindarkan diri dari sikap leha-leha, terlalu santai, dan menganggap semuanya dengan  remeh, merupakan kunci bagi perkembagan dan kemajuan bangsa kita ke depan. Melalui Islam, ajaran untuk tepat waktu bisa kita telaah melalui shalat wajib lima waktu. Semua waktu shalat  sudah ditentukan waktunya dan tidak boleh ada yang mengurangi apalagi melebihkan (tanpa ada udzur syar’i). Bagi seorang muslim, ajaran ini bisa menjadi bahan pembelajaran untuk membentuk pribadi yang berkarakter yang menghindarkan diri dari perbuatan koruptif.

Kesimpulan

Dengan berbagai permasalahan korupsi di negeri kita ini, sudah semestinya kita introspeksi diri. Sebagai muslim hendaknya tidak hanya sekedar identitas, assesoris, dan ibadah ritual belaka. Akan tetapi sudah saatnya menjadi muslim yang berkarakter tangguh dan kuat akan godaan duniawi yang bukan hak pribadi kita. Prinsip-prinsip berhubungan sosial dengan sesama manusia hendaknya mengenal batasan antara yang hak dan yang bathil. Hendaknya memisahkan wilayah atau tempat mencari keuntungan dengan wilayah atau tempat melakukan sebuah pengabdian. Dan yang tidak kalah penting ialah jangan menganggap sepele perbuatan yang dapat menyebabkan  kemunduran  bagi  diri  kita,  contoh  kecilnya ialah  mengulur-ulur  waktu. Bersegeralah untuk melakukan sebuah kebaikan, meskipun kecil nilainya di hadapan manusia. Dengan demikian, ketangguhan mental akan tumbuh dalam diri seorang muslim dengan bibit yang dipupuk hal-hal positif tersebut. Dan Insya Allah di masa yang akan datang, Indonesia bisa lepas dari penyakit yang meresahkan semua kalangan, yaitu korupsi.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *