Karya KBM1: Merajalelanya Korupsi, Islam Bertindak

Posted on Updated on




Penulis: Wahdiyat Salim      @sk_mate

Predikat: Pemenang Hadiah Hiburan Ke-1

Korupsi (Gholul merupakan bentuk korupsi yang sangat popular di masa Rasulullah saw.) adalah penggelapan harta public atau mengambil barang atau hak yang bukan miliknya yang berarti itu melanggar syari’at islam,  Indonesia  adalah negara tertinggi ke tiga yang memiliki kasus korupsi yang  di lakukan oleh para pemimpin-pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya, pada dasarnya pemimpin tersebut adalah orang-orang yang bisa di katakan sangat pintar akan tetapi sebagian  dari para pemimpin  tersebut tidak  banyak mengerti  tentang  syari’at-syari’at islam atau hukum-hukum yang terkandung dalam alqur’an dan al hadist. Dalam hadist di jelaskanحَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ عَلَيْهِمْ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِIbn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (buchary, muslim).Bahwasannya setiap manusia adalah seorang pemimpin, yang disesuaikan pada keadaan atau posisi manusianya dan akan di mintai pertanggung jawaban atas ke pemimpinanannya. Sepertihalnya para pemimpin Negara baik presiden,gubenur,bupati,kepala desa bahkan perangkat desa seperti ketua rukun tetangga (RT) sebagai kepala Negara yang bertanggung jawab atas rakyat yang di pimpinnya. Pada dasarnya setiap manusia adalah  pemimpin yang harus memikul tanggung jawab, sekurang-kurangnya terhadap dirinya sendiri.

Tanggung jawab seorang pemimpin rakyat  yang dimaksudkan bukan semata-mata melaksakan tugas saja setelah itu selesai tanpa memperhatikan dampak yang di pimpinnya, akan tetapi juga harus membawa masyarakat menuju kesejahteraan, perdamaian dan juga kemslahatan hidup. Bisa di implementasikan pada cerita seorang pengembala yang mengembala peliharaan hewannya yaitu seekor kambing, di mana pengambala tersebut merawat kambing tersebut yang tiap harinya di carikan makan dan di mandikan sekiranya kambing tersebut badannya kelihatan kotor, yang di lakukan pengambala tersebut hanyalah  untuk mencapai kesejahteraan hewan peliharannya. Perlu di ingat, bahwa manusia berbeda dengan hewan, manusia mempunyai akal fikiran dan juga budi pekerti yang di berikan allah SAW untuk mengembala dirinya sendiri.

Adanya penjelasan di atas, mengapa di Negara kita, Negara Indonesia para pemimpinnya banyak melakukan pelanggaran atas kepemimpinannya, contohnya saja pemimpin melakukan korupsi, kasus seperti itu adalah bentuk tidak tanggung jawabnya atas kepemimpinannya yang sebelumnya sudah di beri ke percayaan atas kepemimpinannya untuk memimpin rakyatnya. Hal seperti itu sangatlah tidak memberikan kesejahteraan yang dipimpinnya, apa lagi terhadap rakyat yang sekiranya kurang mampu.

Hadis-hadis tentang ghulul berikut dinilai mewakili kajian tematik tentang korupsi. Hadis pertama terdapat dalam shahih Bukhari, kitab al-Jihad wa al-sair, nomor 2845:

Ali ibn Abdillah telah menceritakan hadis kepada kami. Sufyan telah menceritakan kepada kami. Dari Amr, dari Salim ibn Abi Al-Ja’di, dari Abdullah ibn Umar berkata: bahwa pada rombongan Rasulullah saw. .. Ada seorang bernama Kirkirah yang mati di medan perang. Rasulullah saw. bersabda: “dia masuk neraka”. Para sahabat pun bergegas pergi menyelidiki perbekalan perangnya. Mereka mendapatkan mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. (H.R Bukhari).

Hadis kedua dalam Shahih Muslim, kitab al-Iman, Nomor 165:

Zuhair ibn Harb talah menceritakan hadis kepadaku, Hasyim ibn Al-Qasim telah menceritakan hadis kepada kami, Iqrimah ibn Amr telah menceritakan hadis kepada kami. Ia berkata simak al Hanafi Abu Zumail telah bercerita kepadaku. Ia berkata Abdullah ibn Abbas telah menceritakan kepadaku. Umar ibn Al-Khattab menceritakan kepadaku bahwa ia berkata: ketika terjadi perang Khaibar beberapa sahabat Nabi berkata: “si Fulan mati syahid, si Fulan mati syahid. Hingga mereka berpapasan dengan seseorang. Mereka pun berkata: si Fulan mati syahid. Kemudian

Rasulullah saw. bersabda: Tidak begitu. Sungguh aku melihatnya di dalam neraka karena burdah (selimut atau aba’ah) mantel yang ia korup dari harta rampasan perang. Lalu Rasulullah saw. berkata: Wahai ibn al-Khattab, berangkatlah dan sampaikan kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga selain orang-orang yang beriman.” Maka aku keluar dan menyerukan kepada manusia: ingatlah, sesungguhnya tidak masuk surga selain orang-orang yang beriman”. (H.R. Muslim).

Dua hadis di atas menjelaskan tentang peristiwa ghulul/korupsi di medan perang khaibar. Seorang pejuang yang gagah berani dan kemudian mati di medan perang, belum dapat dijamin bahwa ia syahid dan masuk surga. Ternyata setelah diinvestigasi (dilacak) secara cermat dan jujur, orang tersebut terlibat ghulul, mengambil selimut atau mantel dan itu menjadikannya mati sia-sia, kemudian masuk neraka. Dalam konteks kekinian, seorang pejabat atau pegawai publik (terkait urusan orang banyak) yang telah berjuang mati-matian dalam tugasnya, tetapi jika ditemukan kasus-kasus terkait “ketidakbersihan”, kecurangan, penyalahgunaan jabatan, korupsi dan suap maka citra yang selama ini dibangun menjadi tercemar dan nasibnya pun terancam neraka dalam arti yang luas.

Banyak sekali kasus korupsi atau suap yang menimpa pejabat publik Indonesia mulai dari kasus-kasus kecil hingga kasus besar. Beberapa tindakan berikut dapat dikategorikan sebagai ghulul, misalnya: pejabat/ pegawai yang menggunakan fasilitas negara/publik untuk kepentingan

pribadi atau kelompoknya, pejabat pengadaan barang yang me-mark up (menggelembungkan) biaya pembelian dari yang seharusnya, pegawai parkir yang tidak menyerahkan seluruh pendapatan parkir kepada yang berwenang, petugas pajak yang kongkalikong dengan wajib pajak dan mengajari bagaimana memperkecil tagihan pajak sembari menerima “hadiah” dari wajib pajak tersebut, pejabat yang tidak mengembalikan sarana dinas (kendaraan, rumah dan lain-lain) setelah tidak menjabat lagi. Bahkan, sering kali diberitakan seorang pejabat/pegawai ketika masih menjabat dikenal bersih, ternyata setelah berakhir masa tugas, diketahui telah menggelapkan kekayaan negara atau publik.

www.nu.or.id

 

 

tiap sesuatu yang diperoleh dengan cara tidak benar itu haram. Seperti mencuri, merampas, mengambil tanpa hak atau menggunakan tanpa ijin. Dan sesuatu yang haram tidak akan membawa kebaikan. Jika dimakan akan tumbuh menjadi tenaga dan fikiran jahat. Jika tumbuh menjadi daging akan menjadi bahan bakar api neraka.
Kullu lakhmin nabata min kharoomin fannaaru aulaa bihi
Artinya: Tiap daging yang tumbuh dari barang haram maka nerakalah yang lebih patut baginya. (HR. at-Tirmidzi)

 

Bisa kita lihat atau kita dengar berita tentang kasus korupsi tidak hanya satu atau dua saja yang melakukan tindakan korupsi,akan tetapi banyak sekali para pemimpin Negara yang melakukan koropsi, dan sebagaian besar mereka yang melakukan korupsi adalah beragama islam. Sebenarnya apa yang ada di fikiran para koruptor-koruptor tersebut………????. Untuk itu kita sebagai orang islam yang berhaluan ahlusunnah wal jama’ah harus bisa mencegah kasus yang melanggar syari’at islam, setidaknya bisa memberikan pelajaran bisa berupa seminar tentang kasus tersebut dari penyebab,dampak,hukuman,dan penyegahan terhadap tindakan korupsi kepada orang islam khususnya para generasi muda ahlusunnah wal jama’ah atau nahdhotul ulama’. Sebenarnya sudah sering kita ketahui seminar-seminar tentang kenegaraan contohnya seperti merajalelanya korupsi di Negara kita ini. Saya sendiri pernah menjumpai kegiatan seminar tentang korupsi yang di adakan oleh pemuda NU (nahdhotul ulama’) yaitu IPNU (ikatan pelajar putra nahdhotul ulama’) dan IPPNU (ikatan pelajar putri nahdhotul ulama’).

 

 

 

1.Penyebab terjadinya korupsi:

a.   Ingin memperkaya diri (to be rich)

Kurang atau tidak menerima apa adanya yang telah di berikan allah SAW kepada umatnya di sebut juga tidak qona’ah.

Ayat tentang “Mensyukuri Nikmat”

Artinya :Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim:7)

Arti ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SAW telah memperingatkan kita semua  untuk mensyukuri nikmat Allah, tanpa kita sadari bahwa Allah telah memberi kita nikmat yang tak terkira, contohnya saja kita diberi kenikmatan berupa rasa kantuk, Nah dengan kita mempunyai rasa kantuk kita akan tau kapan waktunya mengistirahatkan tubuh kita. Sebaliknya, jika mengingkari nikmat yang di berikan Allah SAW akan di adzab oleh Allah yang sangat pedih. Sudah pasti para koruptor tidak bisa mensyukuri nikmat allah dan selalu kurang dengan apa yng telah di milikinya.

 

 

b.   Ingin mengejar jabatan tertinggi

Dengan ambisi yang sangat tinggi,keiinginan para koroptor menghalalkan berbagai cara untuk bisa mencapai jabatan yang diinginkan,dengan cara mengkeruk uang Negara. Bisa jadi uangnya bisa di buat kampanye pada pemilihan umum.

c.    Menuruti kebutuhan keluarga dengan nilai yang cukup tinggi(selalu mementingkan keluarga dari pada rakyatnya )

Biasanya para koruptor selalu mementingkan keluaragnya (utamanya istri or suaminya) tanpa memperhatikan rakyatnya, uang Negara yang semestinya di peruntukkan untuk rakyat malah di pergunakan untuk keluarganya yang sekiranya itu adalah bernilai tinggi. Tindakan seperti itu akan sangat menyengsarakan rakyat yang di pimpinnya.

d.  kurangnya           IMTAQ (iman dan taqwa)

pribahasa mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu akan lumpur”.pada dasarnya para koruptor mempunyai banyak ilmu,akan tetapi dia tidak memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, sehingga dia bisa di kalahkan oleh nafsu yang tinggi, seperti pribahasa di atas bahwasannya orang yang hanya memilki ilmu saja tanpa di dasari syari’at agama islam maka orang tersebut akan di butakan oleh nafsu.
www.nu.or.id

 

 

SALAH SATU CONTOH TINDAK KORUPTOR

 

KASUS FATHANAH

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan kepada Ahmad Fathanah. Putusan itu dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (4/11/2013) malam.

“Memutuskan pidana 14 tahun dan denda 1 miliar dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar dengan mengganti kurungan 6 bulan penjara,” ujar Ketua Majelis Hakim Nawawi Pomolango.

Hakim menilai Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1 KUHPidana. Juga terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan kedua, Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Fathanah dianggap terbukti menerima uang Rp 1,3 miliar dari Direktur PT Indoguna Utama terkait kepengurusan kuota impor daging sapi. Hakim menjelaskan, Fathanah awalnya mempertemukan teman dekatnya yang merupakan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi dan Direktur Utama PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman.

Dalam pertemuan itu, Maria meminta Luthfi membantu memuluskan agar Menteri Pertanian Suswono memberikan rekomendasi agar PT Indoguna Utama mendapat tambahan kuota daging sapi sebanyak 8.000 ton.

Luthfi kemudian menyanggupi akan mempertemukan Maria dengan Suswono. Kemudian Fathanah meminta agar disediakan akomodasi untuk pertemuan di Medan. Atas permintaan Fathanah, Maria memberikan Rp 300 juta.

Fathanah juga menelepon Luthfi untuk menanyakan kapan akan mempertemukan Maria dan Suswono. Fathanah menyampaikan bahwa Maria akan memberikan fee sebesar Rp 5.000 per kilogram daging apabila berhasil memberikan tambahan kuota sebanyak 8.000 ton sehingga total fee yang akan diterima Rp 40 miliar.

Selain telah menerima Rp 300 juta, Fathanah juga telah menerima Rp 1 miliar dari Maria untuk kelancaran pengurusan penambahan kuota impor daging sapi.

Hakim Djoko Subagyo menambahkan bahwa Fathanah terbukti melakukan perbuatan tindak pidana korupsi bersama Luthfi selaku penyelenggara negara.

Pencucian uang

Fathanah terbukti membayarkan, mentransfer, membelanjakan, dan menukarkan mata uang dengan menggunakan dua rekeningnya dan uang tunai dengan seluruh transaksi mencapai Rp 38,709 miliar pada Januari 2011-2013.

Namun, Fathanah tidak terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang sebagaimana dakwaan ketiga, Pasal 5 UU nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam memutuskan perkara ini terjadi dissenting opinion atau berbeda pendapat antara dua hakim anggota. Hakim menilai jaksa Penuntut Umum KPK tidak berwenang menuntut pencucian uang.

Vonis Fathanah lebih rendah dari tuntutan Jaksa yaitu 17,5 tahun dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan penjara untuk tindak pidana. Sementara itu, dalam kasus tindak pidana pencucian uang, Fathanah didenda Rp 1 miliar subsider 1 tahun 6 bulan kurungan.

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *