Karya KBM2: Dakwah Brilian Sunan Kalijaga

Posted on

Penulis: Prima @nisaprimaa

Predikat : Terfavorit Ke-3

Ketika saya masih kecil, sekitar umur 8-9 tahun, saya dibelikan sebuah buku oleh bapak, yang berjudul “Kisah Walisongo, Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa”. Ya, waktu itu sedang senggang karena liburan sekolah. Jujur, saya sudah lupa sama sekali buku itu beli di mana. Yang saya ingat, saya memilih sendiri buku itu. Tadinya saya memilih buku cerita biasa, tetapi atas rekomendasi bapak, akhirnya saya memilih buku tersebut.

Di sini, saya membaca kisah Sembilan Wali Songo yang merupakan tokoh-tokoh hebat yang sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Dari kesembilan tokoh tersebut, salah satu yang paling menarik perhatian saya adalah kisah tentang Sunan Kalijaga yang juga merupakan murid dari tokoh Wali Songo yang lain, Sunan Bonang. Mau tahu bagaimana menariknya kisah mengenai Sunan Kalijaga? Yuk, kita simak sama-sama! 🙂

1. Pertolongan Rahasia
Menurut buku Babat Tanah Jawa, nama asli beliau adalah Raden Said atau Jaka Setiya. Orang menyebutnya sebagai Sunan Kalijaga. Raden Said adalah putra seorang Adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta. Menurut catatan silsilah, Raden Said ini merupakan keturunan Adipati Tuban yang pertama, yaitu Rangga Lawe atau Aria Adikara yang kemudian berputra Aria Teja I yang berputra Aria Teja II, berputra Aria Teja III, berputra Raden Tumenggung Wilatikta, ayah Raden Said.
Aria Teja I dan II ini masih memeluk agama Hindu, sedangkan Aria Teja III dan Raden Tumenggung Wilatikta sudah memeluk agama Islam. Maka sudah selayaknya jika sejak kecil Raden Said sudah mendapat gemblengan dan didikan ilmu-ilmu Islam oleh orang tua beliau yang menyerahkannya kepada guru agama Kadipaten.
Sedari kecil, Raden Said ini sudah terlihat bahwa dia adalah calon yang berjiwa luhur. Dia adalah seorang yang selalu taat kepada agama dan berbakti kepada kedua orang tua serta kepada orang-orang lemah. Dia mempunyai sifat dan sikap yang welas asih.
Maka dari itulah beliau merasa iba dan tak sampai hati melihat rakyatnya banyak yang menderita. Memang pada masa itu, Majapahit sedang mengalami kemunduran akibat perang saudara yang berlarut-larut. Sifat para pembesar banyak yang tidak normal lagi, sehingga banyak dari mereka yang memanfaatkan kesempitan pemerintahan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.
Rakyat yang sudah banyak menjadi korban, masih juga diperas dengan pembayaran pajak yang sangat tinggi. padahal penyetoran ke pemerintah pusat tidaklah seberapa. Bahkan seringkali pajak upeti tersebut tertahan di rumah pejabat itu sendiri. Apalagi sewaktu musim kemarau panjang, tentu saja tidak ada hasil panen, maka betapa rakyat jelata sewaktu itu semakin menderita. Raden Said tahu persis akan situasi dan kondisi rakyat di kala itu karena beliau lebih suka bergaul dengan masyarakat kebanyakan, walaupun beliau seorang putra bangsawan.
Pada suatu hari, Raden Said mengajukan pertanyaan kepada Ramandanya tentang keadaan rakyat Tuban, dengan maksud agar Ramandanya mau berbuat sesuatu untuk menghilangkan penderitaan rakyat. Rupanya, apa yang diaturkan oleh Raden Said itu bertentangan dengan hati nurani Ramandanya. Merah padam wajah Ramandanya menahan amarah, seraya berkata, “Said, kamu masih kanak-kanak, jangan terlalu mencampuri urusan kepemerintahan! Ketahuilah…. Bahwa Ramandamu ini hanyalah pejabat bawahan, tidak dapat menolak tugas yang dibebankan!”
Raden Said memaklumi perasaan ayahnya, maka beliau pun tidak berani berkata-kata lagi. Sesaat kemudian, Raden Said menunduk dan meminta diri dari hadapan Ramandanya yang masih tampak kesal.
Setiap malam, Raden Said biasanya memanfaatkan waktu dengan membaca Al Quran di rumah. Namun, setelah percakapan dengan Ramandanya, beliau Nampak sering keluar rumah. Saat-saat itulah beliau menyibukkan diri membongkar gudang kadipaten untuk mengambil bahan makanan dan dibagi-bagikan kepada rakyat yang dirasanya pantas untuk diberi bagian. Dengan cara diam-diam pada malam hari itulah Raden Said menaruh bahan makanan di muka pintu depan rumah-rumah rakyat. Demikianlah siasat Raden said sehingga rakyat tidak pernah tahu siapa orang yang menaruh bahan makanan di muka pintu rumah mereka. Hal ini tentu saja membuat rakyat menjadi terkejut sekaligus juga merasa senang karena mereka memang membutuhkan barang-barang tersebut.
2. Raden Said Diusir Orang Tuanya
Malam-malam berikutnya, seperti biasa Raden Said tetap melaksanakan kegiatannya mengambil barang-barang gudang untuk dibagi-bagikan kepada fakir dan miskin. Penjaga gudang kadipaten menjadi terkejut dan heran, setelah mengetahui barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat Kerajaan Majapahit setiap hari semakin berkurang, padahal tidak pernah diambil.
Penjaga gudang itu berpendapat, mungkin ada pencuri yang tidak diketahui masuk ke gudang itu. Dia berencana melaporkan kejadian itu kepada sang adipati, tetapi masih berpikir dua kali. Jangan-jangan malah dia sendiri yang malah tertuduh sebagai pencurinya, karena tidak ada bukti siapa pencurinya.
Pada suatu malam dengan sengaja penjaga gudang mengintai dari kejauhan untuk mengetahui siapa gerangan si pencuri tersebut. Penjaga gudang itu sangat terkejut setelah tahu bahwa si pencuri adalah putra Adipati sendiri, yaitu Raden Said.
Awalnya penjaga gudang itu merasa kebingungan, tetapi apa boleh buat, daripada dia sendiri yang mendapat hukuman dari Adipati, maka terpaksa dia menangkap Raden Said.
Raden Said beserta barang-barang bukti yang dibawanya, dihadapkan kepada Adipati. Tentu saja sang Adipati sangat marah melihat anaknya mencoreng nama keluarga dengan perbuatan yang tidak semestinya dilakukan. Raden Said mendapat hukuman cambuk dengan rotan sebanyak seratus kali di kedua tangannya.
Setelah bebas dari hukuman, Raden Said masih juga belum kapok. Kegiatannya malam hari tersebut dilanjutkannya di luar lingkungan istana kadipaten. Beliau berpakaian serba hitam dan memakai topeng khusus di wajahnya, lalu merampok orang-orang kaya di kadipaten. Yang menjadi incarannya adalah orang kaya bakhil dan pejabat yang curang.
Hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada fakir miskin. Dan tidak seberapa lama berjalan, akhirnya kegiatan Raden Said diketahui oleh seorang pimpinan perampok lain. Maka pimpinan perampok itu meniru Raden Said dalam berpakain serba hitam dan bertopeng persis miik Raden Said.
Pada suatu malam terdengar jeritan para penduduka yang rumahnya didatangi kawanan perampok. Mendengar suara jeritan itu, dengan cepat Raden Said meloncat mendatangi tempat kejadian tersebut dengan maksud untuk menolong. Melihat kedatangan Raden Said yang bertopeng, kawan perampok segera bertebaran melarikan diri.
Ketika Raden Said mendobrak pintu sebuah rumah, di satu kamar nampak seorang berpakaian seperti dirinya dan bertopeng yang serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya ia baru saja selesai memperkosa seorang gadis di dalam kamar itu.
Sebelum Raden Said bergerak untuk menangkapnya, pimpinan perampok itupun sudah lebih dahulu kabur. Saat itu pula pemuda dari kampong lain mengepung rumah tersebut dan gadis yang diperkosa perampok tadi telah bangkit dan memegang tangan Raden Said dengan eratnya. Raden Said yang sedang dalam kebingungan itu ditangkap oleh pemuda dan dibawa ke rumah kepala desa setempat.
Setelah mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, kepala desa tiba-tiba bengong karena terkejut dan tidak percaya. Ternyata perampok itu adalah Raden Said putra adipati junjungannya sendiri. Seketika itu pula masyarakat menjadi rebut karena perampok dan pemerkosa itu putra adipatinya sendiri.
Kepala desa menjadi serba salah, terpaksa menutup-nutupi cela junjungannya. Tanpa diketahui masyarakat, kepala desa itu membawa Raden Said ke istana kadipaten. Mengetahui hal itu, Adipati menjadi lebih marah kepada Raden Said, anaknya sendiri. Dia tidak boleh kembali ke istana kadipaten sebelum dapat menggetarkan dinding-dinding istana kadipaten dengan ayat-ayat Al Quran yang sering dibacanya.
Mendengar kata-kata orang tuanya, Raden Said hatinya menjadi hancur luluh karena harus menerima akibat yang tak pernah disangka-sangkanya. Dengan wajah menunduk, Raden Said meninggalkan istana Kadipaten Tuban dan pergi mengembara tanpa arah tujuan.
3. Bertemunya Raden Said dengan Sunan Bonang
Raden Said yang diusir oleh orang tuanya itu kini terus berjalan dan berjalan mengembara sehingga pada akhirnya sampai di hutan Jati Wangi. Di hutan itulah beliau memutuskan untuk tinggal dan meneruskan kegiatannya yaitu merampok para hartawan yang kikir dan hasil rampokan tersebut tidak dimakan atau untuk bersenang-senang, melainkan dibagi-bagikan kepada fakir miskin di desa sekitar hutan itu.
Selama melaksanakan perbuatannya tersebut, Raden Said (Brandal Lokajaya) melihat seorang lelaki tua berjubah putih sedang berjalan dengan tongkat di hutan yang dikuasainya. Orang tua bertongkat itu adalah Sunan Bonang. Sedangkan Raden Said sendiri belum mengetahui tentang Sunan Bonang. Karena itulah, Raden Said bertekad untuk menjadikan Sunan Bonang sebagai mangsanya. Raden Said dibuat penasaran dengan gagang tongkatnya yang Nampak berkilauan. Dalam hati, Raden Said yakin bahwa gagang tongkat itu pasti terbuat dari emas.
Setelah orang berjubah putih itu semakin dekat jalannya, dengan kepandaian ilmu silat Raden Saidmelompat menghalangi perjalanannya seraya berkata, “Hai orang tua Bangka! Kalau engkau masih sayang nyawamu, serahkanlah tongkat itu kepadaku!”
Orang berjubah putih itu tersenyum arif dan ramah tamah. Dengan suara lembut, dia berkata, ”Anak muda, bergunakah tongkat ini bagimu, sehingga Engkau nampaknya sungguh-sungguh memintanya?”
“Tentu saja berguna bagiku,” sahut Raden Said.
“Untuk apa orang semuda dirimu akan menggunakan tongkat?,” tanya orang berjubah putih.
Raden Said menyahut dengan geram, “Hai orang tua jangan banyak berbelit! Cepat serahkan saja tongkatmu yang bergagang emas itu, agar dapat segera kujual dan uangnya kubagi-bagikan kepada fakir miskin.”
Mendengar perkataan Raden Said itu, orang berjubah putih alias Sunan Bonang tadi menjawab, “ Niatmu memang baik sekali, Engkau hendak menolong orang-orang fakir miskin. Tetapi sayang sekali jalan yang Engkau tempuh sangat bertentangan dengan kebaikan niatmu itu sendiri. Kalau benar-benar Engkau ingin menolong fakir miskin, janganlah bersedekah dari hasil yang haram. Karena Allah tidak akan menerima sedekah seseorang dari hasil yang haram, maka sia-sialah amal kebaikanmu itu.”
Lain halnya dengan Raden Said yang mata, hati, dan angan-angannya sudah terpaku oleh gemerlapnya emas, ucapan-ucapan Sunan Bonang yang berupa nasihat itu sama sekali tidak menyentuh jiwanya.
Karena itulah tiba-tiba saja Raden Said segera merebut tongkat tadi dan Sunan Bonang pun jatuh tersungkur ke tanah. Dengan seksama, Raden Said mengamati tongkat itu. Gagang tongkat yang tadinya tampak terbuat dari emas, ternyata berubah sebagaimana aslinya yaitu hanya kayu biasa.
Pelan-pelan Sunan Bonang bangun dari tempatnya terjatuh. Dengan menitikkan air mata, ia berdiri kembali setelah dibantu oleh Raden Said. Raden Said tertegun keheranan dan tiba-tiba berkata, “Jangan khawatir Pak Tua, ini tongkatmu kukembalikan.”
“Saya tidak menangisi tongkat yang Engkau ambil itu, tetapi lihatlah di genggaman tanganku ini terdapat makhluk Allah yang tak bersalah berupa rumput,” jawab Sunan Bonang sambil menunjukkan rumput dalam genggamannya. “Aku menyesal dan merasa berdosa, tanpa sengaja berbuat dzalim karena mencabut rumput ini dengan sia-sia, kecuali kuperuntukkan makanan ternak, akan terbebas dari dosa,” tambahnya.
Rupanya Raden Said mulai menyadari. Dia mendengarkan ucapan-ucapan Sunan Bonang dengan menundukkan kepala.
“Kenapa Engkau berlaku sekejam ini terhadap sesama?,” Tanya Sunan Bonang lagi.
“Maafkan aku Pak Tua, semua itu kulakukan karena menginginkan harta dan kubagi-bagikan kepada fakir miskin,” sahut Raden Said.
“Kalau benar-benar demikian keinginanmu, itulah harta halal dan ambillah semuanya!,” ujar Sunan Bonang sambil menunjuk ke sebuah pohon aren di dekatnya.
Seketika itu juga, batang, daun, dan buah aren tadi berubah menjadi emas. Semuanya tampak gemerlap keemas-emasan.
Melihat itu, Raden Said tercengang, kemudian mendekati dan memanjatnya. Baru sampai di pertengahan dia memanjat, tiba-tiba buah-buah aren yang berwujud emas itupun berguguran mengenai kepalanya. Raden Said pun terjatuh dan tak sadarkan diri.
Sesaat setelah Raden Said sadar dari pingsannya, barulah ia mengerti bahwa orang berjubah putih yang baru saja dihadapinya itu bukannya orang sembarangan, melainkan orang berilmu tinggi dari golongan ulama’ atau Waliyullah.
Saat itu pula Raden Said berubah ingin berguru kepadanya. Pandangannya tertuju di sekitar tempat itu. Namun, orang tua yang berjubah putih tadi sudah tidak nampak lagi. Maka dari itulah Raden Said segera bangkit dan kebingungan berusaha untuk mencari di mana orang itu berada. Tak lama kemudian dari kejauhan nampaklah orang berjubah putih tadi dalam keadaan berjalan dengan tenangnya.
Dengan susah payah dan napas yang kembang kempis, Raden Said baru dapat menyusul Sunan Bonang ketika sampai di tepian sungai. Di hadapan Sunan Bonang, Raden Said bertekuk lutut seraya memohon maaf dan menyatakan ingin menjadi muridnya.
“Menjadi muridku?,” Tanya Sunan Bonang. “Apa yang dapat kau harapkan dariku? Apakah Engkau hanya ingin belajar menciptakan emas?”
“Tidak, saya benar-benar ingin belajar dan memperdalam ilmu-ilmu agama kepada Tuan,” jawab Raden Said.
Sunan Bonang terdiam sambil menatap wajah Raden Said untuk mengetahui kebenarannya dan kemudian menarik napas panjang. “Baiklah. Kalau Engkau sungguh-sungguh tungguilah tongkatku ini sampai aku kembali kesini,” kata Sunan Bonang seraya menancapkan tongkatnya di tepi sungai itu.
Raden Said menyatakan kesanggupannya, dan Sunan Bonang pun melanjutkan perjalanannya. Raden Said yang duduk bersila menghadap tongkat itu. Kedua matanya terebelalak keheranan karena menyaksikan Sunan Bonang menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air seolah-olah berjalan di atas tanah saja. Melihat semua kenyataan itu, Raden Said semakin mantap tekadnya untuk berguru kepada Sunan Bonang.
Pada satu riwayat diceritakan bahwa Sunan Bonang terlupa kepada Raden Said yang sedang menunggui tongkatnya di tepi sungai itu. Setelah beberapa bulan kemudian, Sunan Bonang baru teringat kembali pada Raden Said. Maka Sunan Bonang pun ingin segera memastikan apakah Raden Said benar-benar setia menunggu tongkatnya atau tidak.
Sunan Bonang terkejut menyaksikan hal yang tak pernah disangka-sangkanya itu. Ternyata Raden Said benar-benar setia menunggui tongkatnya. Karena sudah berbulan-bulan, bahkan ada yang mengatakan bertahun-tahun, Raden Said duduk bersila seperti bersemedi, sampai banyak akar semak belukar yang menjalari tubuhnya.
Karena tidak dapat dibangunkan dengan cara biasa, maka Sunan Bonang mengumandangkan adzan di telinga Raden Said. Setelah Raden Said terbangun, kemudian ia dibawa ke tempat tinggal Sunan Bonang di Tuban.
Di sanalah Raden Said digembleng dan diberi berbagai macam ilmu pengetahuan agama oleh Sunan Bonang. Dengan kesungguhan yang didorong keluhuran cita-citanya, akhirnya Raden Said dapat mewarisi seluruh ilmu dari Sunan Bonang.
Setelah dianggap cukup belajar di situ, Raden Said dianjurkan oleh Sunan Bonang agar meneruskan pelajarannya ke Sunan Ampel. Lalu kemudian dilanjutkan belajar lagi kepada Syaikh Sutabaris di Palembang.
Dengan demikian, akhirnya Raden Said meraih keberhasilan yang memuaskan. Beliau menjadi ulama besar dan termasuk anggota Wali Sanga. Di dalam Wali Sanga, beliau banyak disebut “Sunan Kalijaga” artinya orang yang menjaga kali (Jawa: sungai).
-o-o-o-
Setelah membaca kisah tentang Sunan Kalijaga ini saya kagum dengan pengaruh beliau yang sangat luar biasa di tanah Jawa. Beliau adalah ulama jenius yang strategi dakwahnya sangat matang supaya benar-benar diterima masyarakat Jawa. Beliau merupakan salah satu anggota Wali Songo yang lihai dalam menyelami kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, beliau sangat akrab dengan orang di segala lapisan masyarakat, dari kalangan atas sampai kalangan rakyat jelata. Tak hanya itu, beliau juga lebih suka memposisikan diri sebagai rakyat jelata yang ditunjukkan dengan pakaian yang sederhana daripada jubah.
Beliau juga merupakan orang yang amat merakyat baik dari pergaulan sehari-hari maupun dari cara berdakwahnya. Jika sebagian besar para wali berdakwah dengan mengajar di pondok pesantren yang mereka dirikan sendiri, maka Sunan Kalijaga lebih suka berdakwah dengan berkeliling ke daerah-daerah. Oleh karena itu, beliau terkenal dengan nama Syaikh Malaya yang berarti mubaligh yang menyiarkan agama dengan cara mengembara.
Beliau benar-benar memanfaatkan kegemaran masyarakat sebagai media dakwahnya, antara lain wayang kulit, tembang, dan gamelan. Kesenian tersebut diisi dengan muatan Islam sehingga lebih mengena di masyarakat dan memudahkannya untuk mengajak mereka untuk masuk ke agama Islam. Dari daerah satu ke daerah lainnya, Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan kesenian wayang kulit dengan mengenalkan dirinya dengan memakai nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat, beliau memperkenalkan diri sebagai Ki Sida Brangti. Di daerah Tegal, beliau terkenal dengan julukan Ki Dalang Bengkok sedangkan di Purbalingga, masyarakat memanggilnya Ki Dalang Kumendung. Ini merupakan siasat Sunan Kalijaga, supaya lebih dekat dengan masyarakat sebagai bagian dari mereka.
Dalam berdakwah, beliau tidak serta-merta menentang kepercayaan lama dan adat istiadat masyarakat. Beliau melakukan pendekatan kepada masyarakat awam dengan cara yang halus sehingga dengan senang hati mereka menerima kehadirannya. Kesenian masyarakat yang dimanfaatkan sebagai alat berdakwan ternyata membawa keberhasilan dakwah Sunan Kalijaga. Masyarakat Jawa saat itu hampir seluruhnya bisa menerima dakwahnya untuk dapat mengenal Islam.
Beliau adalah mubaligh sekaligus ahli seni, ahli filsafat, sekaligus budayawan yang memiliki peran penting dalam membangun peradaban negeri Indonesia sampai saat ini. Beliau menciptakan berbagai macam karya dan kesenian Islami yang sampai sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat dan bahkan sudah diakui sebagai warisan budaya Indonesia, seperti:
1. Dalam seni berpakaian, beliau adalah orang pertama yang merupakan pencipta baju taqwa yang kemudian disempurnakan oleh Sultan Agung dengan destar menyamping dan dilengkapi dengan rangkaian keris dan lain sebagainya. Sampai sekarang baju ini masih tetap digemari oleh masyarakat tanah Jawa.
2. Dalam seni suara, beliau adalah pencipta tembang Dandang Gula dan Dang Gula Semarangan.
3. Beliau lah yang menciptakan seni ukir bermotif dedaunan berbeda dengan jaman sebelumnya di mana seni ukir hanya bermotifkan manusia dan binatang saja. Kemudian beliau juga menciptakan gayor (tempat penggantungan gamelan, dan bentuk ornament lainnya yang sekarang mendapat julukan sebagai seni ukir nasional.
4. Beliau merupakan orang yang pertama kali mempunyai gagasan untuk menciptakan bedug di masjid untuk memanggil orang untuk salat berjamaah.

5. Beliau adalah pemrakarsa Grebeg Maulud, yang pada mulanya terlaksana saat pengajian akbar yang diselenggarakan para wali di masjid Demak untuk memperingati Maulud Nabi S.A.W.

6. Sunan Kalijagalah yang menciptakan Gong Sekaten, yang berarti Gong Syahadataini, yang bermakna Dua Kalimat Syahadat. Gong Sekaten ini mempunyai falsafah di mana suara setiap alat gamelan yang menyatu diartikan: “Di sana…, di sini…., di situ mumpung masih ada waktu, yaitu mumpung masih diberi kesempatan hidup, berkumpullah dan cepat-cepat masuk agama Islam, kalau sudah mati biar tidak termasuk orang yang merugi.”
7. Bentuk wayang sebelum Sunan Kalijaga adalah bergambar manusia. Karena gambar tersebut haram hukumnya, maka Sunan Kalijaga membuat kreasi baru. Bentuk wayang diubah mirip karikatur, digambar dan diukir pada kulit binatang. Satu lukisan untuk satu wayang, sedangkan di jaman sebelumnya, satu lukisan untuk satu adegan.

Karena beliau sangat banyak peranannya dalam dunia dakwah di tanah Jawa ini, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa beliau adalah salah satu ulama besar yang pernah ada. Beliau selalu memikirkan strategi dakwah yang pas untuk dikenalkan ke masyarakat sehingga mereka mau menerimanya dengan baik. Hal ini menjadi contoh yang baik bagi ulama-ulama masa kini untuk memikirkan bagaimana cara dakwah yang brilian namun tepat agar masyarakat jaman sekarang mau menerimanya. Beliau merupakan sosok teladan bagi umat Islam di Jawa agar tetap merendah, menolong sesama manusia yang membutuhkan dengan ikhlas, dan terus berkarya demi kemajuan bangsa. Yuk, sebagai generasi muda Islam, mari kita senantiasa melestarikan karya-karya beliau sehingga tidak punah tergerus jaman dan bisa menjadikan negara ini menjadi Indonesia Mercusuar Dunia terutama dalam hal dakwah Islam. Semoga dengan karya beliau yang tetap terjaga akan membuat umat Islam di Jawa selalu istiqomah menjadi golongan Ahlussunnah wal jamaah. Dan, semoga beliau selalu dalam lindungan Allah, dan semoga hasil-hasil karyanya tetap menjadi amal jariyah. Amin.

keywords: Ahlussunnah wal jamaah, Walisongo, Indonesia Mercusuar Dunia
sumber:
Syamsuri, Baidlowi. 1995. Kisah WaliSongo, Penyebaran Agama Islam di Tanah Jawa. Surabaya: Appollo.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *