Karya KBM2: Dakwah Bukan Dagang Kata dan Wajah

Posted on

Penulis: Rauhiyatul @jay_Bq

Predikat : Terfavorit Ke-6

Kata dakwah, tidaklah asing ditelinga muslim. Secara etimologis, kata dakwah bisa disimpulkan dengan arti memanggil. Sedangkan secara terminologis bisa dimaknai sebagai usaha mengajak manusia, walaupun tidak seagama dengan cara yang bijaksana, sesuai dengan tata cara dan ajaran islam, agar tercipta kehidupan yang teratur, damai dan sejahtera.

Jika berbicara tentang dakwah, maka yang pertama kali teringat adalah dakwahnya Rasulullah SAW dalam syiar agama islam. Sejarah meriwayatkan bagaimana Rasulullah SAW menyampaikan ajaran islam dengan dakwah yang begitu santun namun tegas. Karenanya lah islam mampu diterima dengan baik dalam hati yang dipenuhi rahmat.

sumber foto disini

Setelah Rasulullah dan para sahabat tiada, perjuangan dakwah islam kemudian dilanjutkan oleh wali Allah. Karena tiada lagi nabi sesudah Rasulullah Muhammad SAW, maka Wali adalah pewaris para nabi.

Sejarah penyebaran islam di tanah Jawa, juga tidak lepas dari peran para wali. Sekian dari wali yang andilnya dalam menyebar cikal bakal islam, adalah para wali songo. Mereka sukses dengan kesabaran luar biasa berdakwah di bumi nusantara.

sumber foto disini

Bukan hal yang mudah, membawa ajaran islam dalam masyarakat yang sudah punya budaya. Namun para wali adalah pakar yang menjelaskan makna dakwah. Mereka menanamkan pengertian kata dakwah dalam setiap kata, tindakan bahkan pikiran. Islam yang damai pun mampu membaur dalam tatanan masyarakat yang sudah begitu kental pengaruh hindu-budha.

Sebagai riwayat dalam hikayat Sunan Muria dan Sunan Drajat dalam berdakwah, yaitu melalui pendekatan seni lokal. Salah satunya adalah seni suluk. Petuah dan wejangan akhlakul karimah disisipi dalam bait-bait yang di dendangkan. Tekhnik dakwah secara langsung juga menjadi pilihan beberapa Sunan, namun tidak meninggalkan prinsip kebersahajaan dalam berdakwah.

Perjuangan Wali Songo membumikan agama Allah di tanah Jawa, kini menjadi sejarah yang melegenda. Peninggalan-peninggalan bersejarah seperti Menara Kudus dan Masjid Agung Demak menjadi pengingat, pernah ada orang-orang mulia di tanah Jawa, yang berjuang dengan kesabaran luar biasa, untuk menyebarkan islam.

sumber foto disini
Jika ada yang mengatakan, bahwa kemampuan se luar biasa para wali sembilan dalam berdakwah, sulit bisa disamai da’i yang hanya manusia biasa, rasanya keliru. Sejak awal islam datang, ajaran islam menanamkan dengan tegas tentang akhlak. Bagaimana mendidik manusia bersikap sebaik-baiknya terhadap diri, sekitar dan kepada penciptanya.

Dalam al-qur’an di surah An-Nahl ayat 125, Allah berfirman yang artinya, Serulah manusia kepada Tuhanmu dengan jalan yang baik dan bantahlah dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat ini ditegaskan anjuran berdakwah, menyeru dengan jalan kebaikan. Penuh hikmah. Artinya berdakwah dengan cara-cara yang dianggap bijaksana. Pendakwah mestinya bisa menyesuaikan diri dengan orang yang di dakwahinya.

Ilmu dan hikmah menjadi dua senjata tidak terpisahkan dalam hal ini. Pengajaran yang diharapkan juga adalah yang terbaik, seperti nasihat, kisah-kisah ataupun riwayat para pendahulu. Sedangkan bantahan yang baik, adalah menyangkal sebuah kekeliruan dengan sanggahan yang lembut, tidak kasar sehingga mampu menerangi hati. Perkataan ajakan ataupun bantahan seharusnya dilandasi dengan dasar yang kuat.

Tidaklah dibenarkan untuk mengkafirkan seseorang, mendahului Allah. Karena sesungguhnya tugas berdakwah hanyalah menyampaikan kemudian mengajak, seperti yang diajarkan dalam Al-qur’an. Allah adalah satu-satunya yang berhak dan tahu siapa orang yang mendapat petunjuk dan siapa yang tidak.

Bisa jadi, seseorang yang mati-matian membenci islam, tahu-tahu mendapat hidayah dan bertobat. Bahkan derajad takwanya jauh diatas muslim rata-rata, karena keinginannya mendapat pengampunan.
Dakwah dengan paksaan bukanlah yang diharapkan.

sumber foto disini
Jaman terus berganti. Berkat perjuangan pejuang islam, maka islam dengan sukses menjadi ruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tapi seyogyanya dakwah belumlah usai. Mengapa? Karena dakwah sesungguhnya terus mengikuti manusia seiring jaman. Dakwah sesungguhnya adalah partikel kehidupan yang diperlukan. Kebutuhan muslim terhadap muslim lainnya dan manusia umumnya.

Apalagi melihat perkembangan dewasa ini, dimana kebebasan yang digadang-gadang menjadi kelewatan. Kerusakan akhlak mengakar bahkan sampai ke usia kanak-kanak. Mengajak, mempertahankan dan mencegah kerusakan akhlak. Sungguh bukan tugas yang mudah.

Sebagaimana dakwahnya para wali, dakwah bukan sekedar wara-wiri di depan jamaah dengan pesona yang membuat hati klepek-klepek, terutama para ibu. Dakwah sepantasnya tidaklah dipandang dari sedapnya kata yang disusun, karisma dan wajah yang membuai. Dakwah yang diharapkan adalah dakwah yang sesungguhnya, sebagaimana di contohkan Rasulullah, sahabat dan para wali.

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya, teladan Rasulullah, sahabat dan para wali adalah contoh paling baik untuk tetap membumikan agama Allah. Meneladani segala sikap, perilaku dan perkataan yang diadopsi langsung dari Al-qur’an, adalah dakwah yang paling manjur, dan setiap muslim bisa melakukannya.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *