Karya KBM2: Mari Dakwahkan Islam

Posted on

Penulis: harry supandi @harry_supandi

Predikat : Terfavorit Ke-5

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh..

Malam ini saya mencoba menuliskan artikel mengenai Tablig Islam, dengan harapan agar bisa membuka hati kita untuk senantiasa bersyukur akan hidayah yang telah Allah berikan kepada kita terutama nikmat Iman dan Islam.

Apa Iman dan Islam itu?
Harus kita sadari bersama bahwa Agama Islam yang kita anut, bukanlah semata-mata Agama Keturunan dari orang tua kita, melainkan benar-benar Keyakinan kita Bahwa Sesungguhnya Agama disisi Allah Swt Hanyalah Islam.
Dalam surat Ali Imran dijelaskan ,
Allah ta’ala juga berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)
Ada pula yang memberi terjemahan, ” Sesungguhnya agama yang diterima atau diridhoi Allah hanyalah Islam. Ada berbagai macam tafsir, tergantung ulama atau ahli tafsir mana yang menterjemahkannya. Namun kebanyakan diartikan , ” Sesungguhnya agama yang diridhoi Allah hanyalah Islam, “.
Terlepas dari makna yang sebenarnya, bagaimanapun ayat ini menjadi pusat rujukan dan referensi umat Islam dan juga non Islam dalam melihat sumber- sumber pandangan Islam dalam memaknai toleransi beragama dan juga pandangan umat Islam terhadap keberagaman. Ayat Ini menjadi dasar keyakinan umat Islam dalam memposisikan agamanya terhadap agama lainya.
ISLAM ( berasal dari kata Aslamu – Aslim ) merupakan Agama Keselamatan. artinya Islam akan membawa kita menuju Keselamatan Baik di Dunia maupun di Akherat kelak.

Dalam Suatu hadist diceritakan Pada Suatu hari malaikat jibril datang menemui Rasulullah saw, kemudian ia berkata :
“Hai,Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,”
Malaikat jibril membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi:
“Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab,
”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”. …
( HR.MUSLIM)
Kita Bersyukur bahwa Islam masuk ke Negeri ini dan diperkenalkan oleh Para Wali yang biasa kita kenal sebagai WALISONGO.
Apa WaliSongo itu?
Walisongo adalah perintis awal dakwah Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, yang dipelopori Syeikh Maulana Malik Ibrahim. Walisongo adalah pelopor dan pemimpin dakwah Islam yang berhasil mengajak murid-murid untuk menjalankan dakwah Islam ke seluruh Nusantara sejak abad ke-14.
Walisongo yang terkenal dan Masyhur terdiri dari sembilan wali, yaitu: Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga.

Perkataan wali sendiri berasal dari bahasa Arab. Wala atau Waliya yang berarti qaraba yaitu dekat, yang berperan melanjutkan misi kenabian. Dalam Al-Qur’an istilah ini dipakai dengan pengertian kerabat, teman atau pelindung. Al-Qur’an menjelaskan: “Allah pelindung (waliyu) orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung (auliya) mereka ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. al-Baqarah: 257).

Selanjutnya kata songo menunjukkan angka hitungan Jawa yang berarti sembilan, angka bilangan magis Jawa yang diambil dari kata Ja yang memiliki nilai tiga dan wa yang bernilai enam. Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa kata songo berasal dari kata sana yang diambil dari bahasa Arab, tsana’(mulia) sepadan dengan mahmud (terpuji). Pendapat ini didukung oleh sebuah kitab yang meriwayatkan kehidupan dan hal ihwal para wali di jawa yang disusun oleh Sunan Giri II.
Ajaran yang diajarkan oleh Wali Songo adalah Islam dengan manhaj Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, dengan beraneka ragam Strategi dakwah keteladanan yang efektif sesuai peradaban masyarakat pada saat itu.

Apa Strategi Dakwah Walisongo?
Strategi dakwah yang digunakan Walisongo adalah Penerapan Strategi yang dikembangkan para sufi Sunni dalam menanamkan ajaran Islam melalui keteladanan yang baik. Aliran teologinya menggunakan teologi Asy’ariyah, sedangkan aliran sufistiknya mengarah pada ajaran para Mursyid Thariqah Wali Songo, di antara Mursyidnya adalah Al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Al-Hasani, Junaid Al-Baghdadi dan lain-lain.

Strategi yang dilakukan Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat lembu yang dihias sedemikian rupa sehingga tampil bagai pengantin itu kemudian diikat di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang berduyun-duyun menyaksikan lembu yang diperlakukan secara istimewa dan aneh itu. Sesudah mereka datang dan berkumpul di sekitar masjid, Sunan Kudus lalu menyampaikan dakwahnya. Cara ini praktis dan strategis untuk menarik minat masyarakat yang masih banyak menganut agama Hindu. Seperti diketahui, lembu merupakan binatang keramat Hindu.

Terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang keras dan gigih menentang dakwah Islamiyah, para wali menerapkan metode al-mujadalah billati hiya ahsan (berbantah-bantah dengan jalan yang sebaik-baiknya). Mereka diperlakukan secara personal, dan dihubungi secara istimewa, langsung, bertemu pribadi sambil diberikan keterangan, pemahaman dan perenungan (tadzkir) tentang Islam. Cara ini dilakukan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel ketika berdakwah kepada Pembesar Hindu dari Palembang. Berkat keramahan dan kebijaksanaan Raden Rahmat, Pembesar Hindu itu masuk Islam bersama istri dan seluruh penduduk negeri yang dipimpinnya. Strategi itu dipergunakan pula oleh Sunan Kalijaga ketika berdakwah mengajak Pembesar Hindu di Semarang. Mulanya terjadi perdebatan seru, tetapi perdebatan itu kemudian berakhir dengan rasa tunduk Sang bangsawan itu untuk masuk Islam. Kejadian mengharukan ketika bangsawan itu rela melepaskan jabatan dan rela meninggalkan harta dan keluarga untuk bergabung dalam dakwah Sunan Kalijaga.
Beberapa wali bahkan telah membuktikan diri sebagai kepala daerah seperti misalnya Sunan Giri, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kudus yang berkuasa di daerah-daerah di sekitar kediaman mereka. Kekuatan diplomasi dan kemampuan dalam berhujjah atas kekuatan pemerintahan Majapahit yang sedang berkuasa ditunjukkan oleh Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Majagung. Alhasil, Prabu Brawijaya I (Raja yang sedang berkuasa di Majapahit saat itu) memberi izin kepada mereka untuk memilih daerah-daerah yang disukai sebagai tempat tinggal. Di kawasan baru tersebut mereka diberi kebebasan mengembangkan agama, menjadi imam dan bahkan kepala daerah masyarakat setempat.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, Strategi yang digunakan oleh Walisongo dalam berdakwah ada tiga macam, yaitu:
1. Al-Hikmah (kebijaksanaan) : Al-Hikmah merupakan kemampuan dan ketepatan da’i dalam memilih, memilah dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi objektif mad’u (objek dakwah). Sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kudus.
2. Al-Mau’izha Al-Hasanah (nasihat yang baik) : memberi nasihat dengan kata-kata yang masuk ke dalam kalbu dengan penuh kasih sayang dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membongkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluh hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman. Inilah yang dilakukan oleh para wali.
3. Al-Mujadalah Billati Hiya Ahsan (berbantah-bantah dengan jalan sebaik-baiknya) : tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat. Antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati pendapat keduanya berpegang kepada kebenaran, mengakui kebenaran pihak lain dan ikhlas menerima hukuman kebenaran tersebut. sebagaimana dakwah Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga kepada Bangsawan Hindu.
Strategi-Strategi tersebut sejalan dengan Firman Allah SWT :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
(An-Nahl : 125).

Apa Jejak Walisongo?
Jejak yang ditinggalkan Walisongo itu terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan-tulisan para murid dan ahli waris Wali Songo. Baik berupa buku sejarah, nasab, silsilah, suluk, babad, manaqib dan lain-lain yang menggambarkan hakikat aliran tasawuf dan dakwah yang mereka anut dan kembangkan.

Banyak sekali Jejak Peninggalan para wali, salah satunya adalah Masjid Agung Demak – Jawa Tengah.

Masjid ini merupakan salah satu jejak sejarah penyebaran ajaran Islam di nusantara. Pada masa lampau, masjid ini diyakini sebagai tempat berkumpul dan berdiskusi para Walisongo.

Masjid Agung Demak berlokasi di Kauman – Desa Gelagah Wangi, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan masjid ini tahun 1466 hingga 1477 M.

Masjid ini terakhir mengalami renovasi pada tahun 1987 dengan bantuan dana dari APBN dan dari negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) karena mengakui keberadaan Masjid Agung Demak sebagai monumen bagi masyarakat muslim yang memiliki arsitektur unik sesuai dengan dinamika zamannya.

Bentuk bangunan atap masjid berbentuk limas ditopang 8 tiang yang disebut Saka Majapahit.Bangunan masjid terbuat dari kayu jati berukuran 31 m x 31 m dengan bagian serambi berukuran 31 m x 15 m. Atap tengahnya ditopang oleh 4 buah tiang kayu besar (soko tatal atau soko guru) yang dibuat oleh empat wali dari Wali Songo.Keseluruhan bangunan ditopang 128 soko, empat di antaranya soko guru yang menjadi penyangga utama bangunan masjid. Jumlah tiang penyangga masjid 50 buah yang terdiri dari 28 penyangga serambi dan 34 tiang penyangga tatak rambat, sedang tiang keliling sebanyak 16 buah.

Menurut kisah bahwa tiang utama dan atap sirap masjid tersebut adalah hasil karya para wali, yaitu Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Salah satu soko guru, hasil karya Sunan Kalijaga tidak terbuat dari kayu utuh sebagaimana layaknya tiang utama, melainkan dari potongan kayu (tatal) yang disusun dan diikat. Bagi masyarakat Demak dan sekitarnya terdapat cerita bahwa salah satu atap sirap Masjid Agung Demak terbuat dari intip (kerak nasi liwet) hasil buatan Sunan Kalijaga.

KISAH DAN TELADAN DAKWAH WALISONGO
1. SYEKH MAULANA MALIK IBRAHIM : KISAH BERAS DAN PASIR
Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah anggota wali songo urutan pertama. Beliau menyiarkan Islam ke tanah Jawa sambil berdagang. Bagai kunang-kunang besar yang memanggul cahaya, Maulana Malik Ibrahim datang menerangi tanah Jawa dengan Islam.
Suatu hari dalam perjalanan dakwah ke sebuah dusun yang diberkahi dengan tanah subur, Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama seorang muridnya singgah di sebuah rumah. Rumah itu milik orang kaya. Menurut desas-desus pemilik rumah itu amat kikir.
Padahal si empunya rumah adalah orang berada yang memiliki berton-ton beras. Halaman rumahnya luas. Di sana tersusun berkarung-karung beras hasil pertanian. Rupanya Syekh Maulana Malik Ibrahim ingin menemui si empunya rumah yang tak lain adalah salah seorang muridnya. Ia ingin menasihati muridnya agar meninggalkan sifat jelek itu.
Orang kaya tersebut menerima dengan ramah kunjungan Syekh Malik. Dihidangkanlah jamuan yang baik bagi Syekh Malik. Sesaat berselang, datanglah seorang pengemis, perempuan tua, ke hadapan orang kaya itu.
“Tuan, saya lapar sekali, bisakah saya minta sedikit beras,” ujar perempuan tua itu sambil melirik beras yang bertumpuk di halaman.
“Mana beras? Saya tidak punya beras, karung-karung itu bukan beras, tapi pasir,” ujar orang kaya itu.
Pengemis tua tertunduk sedih. Ia pun beranjak pergi dengan langkah gontai. Kejadian itu disaksikan langsung oleh Syekh Malik. Ternyata apa yang digunjingkan orang tentang kekikiran muridnya ini benar adanya. Syekh Malik bergumam dalam hati, dan iapun berdo’a. Pembicaraan yang sempat tertunda dilanjutkan kembali.
Tiba-tiba ramah-tamah antara murid dan guru itu terhenti dengan teriakan salah seorang pembantu orang kaya itu.
“Celaka tuan, celaka! Saya tadi mengecek beras, ternyata beras kita sudah berubah jadi pasir. Saya periksa karung lain, isinya pasir juga. Ternyata tuan, semua beras yang ada di sini telah menjadi pasir!” Pembantu itu dengan suara bergetar melaporkan.
Orang kaya itu kaget, segera ia beranjak dari duduknya, dihampirinya beras-beras yang merupakan harta kekayaannya itu. Ternyata benar, beras itu telah berubah menjadi pasir. Seketika tubuh orang kaya itu lemas. Ia pun bersimpuh menangis.
Syekh Malik lalu menghampirinya. “Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa beras yang kau miliki itu pasir, kenapa kau kini menangis?” Syekh Malik menyindir muridnya yang kikir itu.
“Maafkan saya Sunan. Saya mengaku salah. Saya berdosa!” Si murid meratap bersimpuh di kaki Syekh Malik.
Syekh Malik tersenyum, “Alamatkan maafmu kepada Allah dan pengemis tadi. Kepada merekalah permintaan maafmu seharusnya kau lakukan,” ujar Syekh Malik lagi.
Penyesalan yang dalam langsung menyergap orang kaya itu. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang telah berbuat kezaliman. Kepada Syekh Malik ia berjanji akan mengubah semua perbuatannya. Ia mohon juga agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Kekikirannya ingin ia buang jauh-jauh dan menggantinya dengan kedermawanan.
Syekh Malik kembali berdo’a, dan dengan izin Allah, beras yang telah berubah menjadi pasir itu menjadi beras kembali. Hidayah dan kekuatan yang berasal dari Allah memungkinkan kejadian itu.
Orang kaya tersebut tidak membohongi lisannya. Ia berubah menjadi dermawan, tak pernah lagi ia menolak pengemis yang datang. Bahkan ia mendirikan mushalla dan majelis pengajian serta fasilitas ibadah lainnya.
2. SUNAN GIRI

Anak-anak di Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama di pedesaan, sampai kini masih ada yang bermain jelungan, terutama ketika bulan sedang purnama. Jelungan atau Jitungan adalah sejenis permainan anak-anak, sejumlah anak dibagi dalam dua kelompok: kelompok pemburu dan kelompok yang diburu. Anak yang diburu, yang berhasil menyentuh sebatang pohon, berarti selamat dari pengejaran.
Permainan sederhana ini konon diciptakan oleh Sunan Giri, salah seorang dari walisongo, sembilan muballigh penyebar agama islam di tanah Jawa. Di balik permainan itu terselip makna yang dalam tentang ajaran tauhid dan tawakkal kepada Allah SWT untuk mencapai pegangan dalam Jelungan, yang bisa diartikan sebagai keselamatan dalam hidup, tidaklah mudah.
Pegangan itu adalah Allah sebagai satu-satunya tempat bergantung. Jika belum memegang-Nya, berarti belum tawakkal dan bertauhid kepada-Nya, karena kita akan terus diburu oleh iblis. Selain Jelungan, Sunan Giri juga menciptakan permainan anak-anak seperti Cublak-cublak Suweng, Ilir-ilir, Kendi Gerit, dan sebagainya. Permainan-permainan ini biasanya diiringi nyanyian yang mendidik anak-anak mengenal sang pencipta dan agamanya.

Lir – ilir , Instrumen Lagu Jawa

Dalam ranah yang lebih luas, Sunan Giri dikenal sebagai muballig yang banyak mendidik sejumlah kader Dai penyebar agama islam, dari tanah Jawa sampai Maluku. Bukan hanya itu, ia juga dikenal sebagai negarawan. Tata pemerintahan kerajaan Demak dirancang oleh Sunan Giri. Ia adalah penasihat Raden Patah, Sultan pertama kerajaan islam Demak.
Sunan Giri yang nama kecilnya Raden Paku alias Muhammad Ainul Yaqin, pernah mengalami peristiwa besar saat ia baru saja lahir. Ayahnya adalah Syekh Wali Lanang, alias Maulana Salam, muballigh keturunan Maulana Ishak dari Samudra Pasai, Aceh. Wali Lanang diambil menantu oleh Prabu Blambangan, belakangan ia di usir dari Istana, karena dianggap lancang karena berani mengajak sang mertua yang masih memeluk agama Hindu untuk memeluk islam.
Menjelang saat kelahirannya pada tahun 1442 M, kerajaan Blambangan di Banyuwangi dilanda malapataka kelaparan dan wabah penyakit, sehingga sang Ibu Roro Sibodi melahirkannya dalam kepedihan, begitu lahir sang bayi dituding sebagai biang keladi malapetaka. Apa boleh buat, para pejabat kerajaan Blambangan pun segera melarung sang jabang bayi merah dengan menghanyutkan di selat Bali.
Bayi mungil itu di taruh di sebuah peti kecil lalu dihanyutkan di laut lepas. Tapi berkat pertolongan Allah SWT, peti yang terombang ambing itu sama sekali tidak terbalik atau tenggelam – sampai sebuah kapal niaga yang tengah berlayar ke Bali menabraknya. Anehnya, bukan peti itu yang terpental, tapi kapal besar itulah yang hampir karam, dan peti berisi bayi itu nangkring di atas kapal.
Ajaib kapal itu tidak bisa dikemudikan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali, hingga akhirnya Nakhoda memutuskan kembali ke Gresik. Justru setelah haluan diputar kearah Gresik, kapal itu berjalan lancar dan berlayar lebih cepat. Padahal perjalanan ke arah Gresik berarti melawan arus laut. Sampai di Gresik, sang bayi diambil oleh Nyai Ageng Pinatih, saudagar kaya pemilik kapal yang kemudian mengasuhnya sebagai anak angkat, dan diberi nama Joko Samudro.
Setelah dewasa, Joko Samudro, berguru ke Ampel di Surabaya, kepada seorang kiai besar yang juga muballig, yang dikenal sebagai Sunan Ampel. Ketika itu usianya baru 11 tahun. Setelah dewasa, Joko Samudro mendapat nama baru: Sunan Giri. Ada seorang pemuda lain, yang ketika itu bersama Joko Samudro berguru di pesantren Sunan Ampel. Dibelakang hari dikenal sebagai Sunan Bonang.
Di pesantren inilah derajat kewalian Sunan Giri tampak disaksikan langsung oleh gurunya, Sunan Ampel. Suatu malam, menjelang subuh, Sunan Ampel yang tengah mengambil air wudlu menyaksikan semburat cahaya dari tempat tidur para santri. Ternyata cahaya itu memancar dari wajah Sunan Giri. Diam-diam Sunan Ampel mengikat ujung sarung Sunan Giri. Pagi harinya, dalam pengajian, tahulah Sunan Ampel bahwa santri yang bercahaya itu tiada lain adalah Joko Samudro.
Kebijaksanaan sebagai seorang yang alim juga sudah nampak saat ia masih muda. Dalam pelayaran niaga ke Kalimantan, barang dagangan Ibunya yang seharusnya dijual malah dibagi-bagikan kepada penduduk. Orang kepercayaan Nyai Pinatih, yang mendampingi Joko Samudro, tentu saja kaget. Raden, bukankah barang-barang ini seharusnya kita perdagangkan? Tanyanya heran. Joko Samudro menjawab enteng: ya, tapi saya belum melihat ibu berzakat. Saya membagikan barang ini sebagai zakat untuk membersihkan harta Ibu.
Sebaliknya Joko Samudro malah memerintahkan awak kapal mengisi sejumlah karung dengan batu dan pasir agar kapal bisa seimbang dengan beratnya muatan. Sesampainya di Gresik tentu saja Ibunya naik pitam. Tapi anehnya, sang Ibu tak menemukan batu dan pasir . karung-karung itu berubah menjadi barang dagangan yang ketika itu memang dicari di Kalimantan, seperti rotan dan rempah-rempah.
Perjalanan Joko Samudro sebagai Waliyullah sarat dengan kisah-kisah karamah. Dibelakang hari, nama besarnya sebagai Sunan Giri dan kedalaman ilmunya, mendorong Syekh Siti Jenar berguru kepadanya. Tapi permintaan itu ditolak, karena khawatir Siti Jenar akan menyalahgunakannya. Siti Jenar konon menyamar sebagai seekor burung gagak lalu masuk ke ruang pengajian Sunan Giri yang tengah mengajar santri-santrinya.
Tapi Siti Jenar masih saja gagal mengikuti pengajian karena diketahui oleh Sunan Giri. Siti Jenar lalu mengubah diri menjadi seekor cacing dan menyusup kedalam tanah tempat Sunan Giri duduk bersila. Begitulah yang terekam dalam “Walisongo”, buku berbahasa Jawa karangan R. Tanoyo, yang bercerita mengenai para wali di tanah Jawa.
Ketika kerajaan Majapahit mendekati keruntuhan, Prabu Girindrawardhana sempat terlibat konflik dengan Sunan Giri. Celakanya dua Senopatinya, Lembusuro dan Kebohardjo, gagal membunuh Sunan Giri ketika sang hendak mengambil air wudu` untuk shalat Isya`. Apa boleh buat, sang Prabu pun segera mengerahkan bala tentaranya ke Giri.
Tapi ketika pasukan Majapahit sampai di kaki bukit Giri, yang tidak terlalu jauh dari Kedaton Giri, sawah dan ladang disekitarnya berubah menjadi hutan lebat. Maka pasukan Majapahitpun terkurung selama berhari-hari tanpa bantuan logistik dari luar. Akibatnya banyak prajurit yang mati kelaparan. Itulah antara lain salah satu karomah Sunan Giri lewat doa-doanya.
Namun akhirnya Sunan Giri tidak sampai hati. Ia lalu kembali berdoa, dan tak lama kemudian mata air yang selama itu kering mendadak mengucur, sementara pepohinan pun berubah. Pasukan Majapahit pun seperti dibangkitkan semangatnya. Tapi mereka tetap saja bermaksud melanjutkan penyerbuan ke Kedaton Giri.
Dengan mata batinnya, Sunan Giri dapat mengetahui gerak gerik pasukan Majapahit, seketika ia melemparkan pena yang sedang ia gunakan untuk menulis. Tiba-tiba pena itu berubah menjadi keris yang melayang-layang menyerang pasukan tentara Majapahit. Keris itu kemudian diberi nama “Kala Munyeng”. Tak cukup dengan itu, Sunan Giri juga menyebarkan pasir yang berubah menjadi Lebah yang membuyarkan pasukan Majapahit.
Angsa dan Naga
Ada pula cerita lain. Pernah pada suatu waktu Sunan Giri ditantang oleh begawan Minta semeru untuk main tebak-tebakan. Sebelum sampai di pesantren Sunan Giri, Brahmana yang sangat sakti itu mengubur dua ekor angsa di puncak sebuah bukit. Sesampainya di pesantren Giri, sang begawan bertanya apa yang dia kubur di bukit itu.
“Dua ekor naga”, jawab Sunan Giri mantap. Begawan Mintasmeru tersenyum menang, tapi setelah keduanya naik ke puncak bukit dan menggali, ternyata dari dalam lubang itu meluncur dua ekor naga yang langsung menyerang begawan Mintasemeru. Merasa tak berkutik, Mintasemeru pun bertobat lalu memeluk agama Islam.
Keluasan ilmu Sunan Giri diakui lewat gelar yang disandangnya: Sultan Abdul Faqih, sebagai salah seorang tokoh Walisongo, ia mempunyai sejumlah santri yang dibelakang hari berhasil menjadi kyai bahkan wali. Bahkan dua anaknya mencapai gelar Sunan Giri II dan Sunan Giri III. Riwayat dan prestasinya terekam dalam naskah bertahun 1621 dan dikutip oleh ilmuwan Belanda, B. Schrieke dalam Indonesian Sociological Studies (1955).
Dalam naskah itu ketokohan dan keluasan ilmu dan pengaruh Sunan Giri disederajatkan dengan posisi seorang Paus dalam agama Katolik. Maksudnya Sunan Giri diakui sebagai ulama besar, di mana kharisma, ilmu dan karamahnya sangat luas – sekalipun pada masanya juga hidup wali-wali yang lain. Pengakuan ini setidaknya menjadi gambaran nyata bagaimana tanah Jawa, yang waktu itu dijajah oleh bangsa Portugis, sangat menghormati Sunan Giri.
Sampai saat ini jejak Sunan Giri masih bisa kita temui di Gresik Jawa Timur berupa komplek makam yang selalu ramai diziarahi. Hampir setiap hari berduyun-duyun para peziarah memenuhi komplek makam sang wali. Mereka dengan sabar antri, sebab makam Sunan Giri berada dalam sebuah ruang berpintu kecil yang hanya mampu memuat sekitar 10 – 15 orang saja. Datang dari jauh berdesakan untuk bertemu dengan sang wali yang sangat besar jasanya dalam bertabligh menyampaikan agama Allah.
KESIMPULAN :

Bahwa Penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Walisongo adalah dengan Suri Tauladan dan Akhlaq yang Baik seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Bukan dengan paksaan ataupun pemberian materi, makanan, mie instan, obat-obatan, dll dan bukan pula dengan merayu pemuda/pemudi untuk dinikahi agar bisa diajak masuk ke agamanya.

“Tidak Ada Paksaan dalam Memeluk Agama Islam”. Jadi sangat jelas bahwa Dakwah yang telah dilakukan oleh para wali bisa kita terapkan didalam Syiar dan Dakwah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

Wassalamu alaikum Warahmatullah wabarakatuh..

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *