Karya KBM2: Membaca Sejarah Walisongo; Sebuah Teladan Dakwah

Posted on

Penulis: Ziyadatul Khairoh @Zyadahkhairoh

Predikat : Juara Ke-2

Sebenarnya apakah “Dakwah” itu? Mengapa saat kamu mengetik term Dakwah di kolom search engine, muncul ratusan, ribuan, bahkan jutaan temuan yang berkaitan dengan kata “Dakwah”?

HAKIKAT DAKWAH
Secara etimologis “Da’i” adalah bentuk isim fa’il dari “da’a” yang berarti orang yang mengajak atau orang yang berdakwah. Secara terminologis “Da’i” adalah setiap muslim yang berakal, baligh dan telah mukallaf yang berkewajiban dakwah. Dengan kata lain “Da’i” adalah orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada orang lain (mad’u).

Islam sungguh tidak pernah mengajarkan dakwah secara kasar yang bahkan mengancam keutuhan umat manusia dengan pemaksaan yang egosentris. Islam adalah agama yang damai, sebagaimana metode dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah yang beliau lakukan secara halus dan perlahan dalam arti orang terdekat yang beliau sentuh hatinya. Beliau tidak serta merta mengajak secara terang-terangan, berpidato di atas mimbar mengajak masyarakat agar mau menjadikan Islam sebagai sandaran kehidupan, mengingat saat itu Islam baru tumbuh.

Dalam peperangan Rasulullah tidak pernah memulai pertumpahan darah terlebih dahulu. Kekalahan yang terjadi pada Kafir Quraisy adalah semata karena Rasulullah bersama barisan Sahabat memperjuangkan serta membela Islam secara tegas dan terhormat.

Dewasa ini banyak muslim yang gagal dalam misi dakwahnya disebabkan kurangnya pengetahuan muslim akan ilmu, akhlak, dan metode praktis dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya. Kegagalan ini tentu berdampak buruk terhadap citra muslim, bahkan citra Islam itu sendiri. Seperti maraknya aksi teror bom yang dilakukan oleh tidak sedikit umat Islam yang mengusung konsep dakwah Jihad Fi Sabilillah. Mereka terlalu dangkal menyelami Islam, sehingga bukan perdamaian dan kemaslahatan yang dicapai, akan tetapi perpecahan, kehancuran, dan penistaan terhadap agama.

Tidak hanya aksi teror, sebagian umat Islam saat ini sering kali terlibat dalam jual-beli agama. Dari persoalan politik yang mengatasnamakan Islam, memasang tarif dalam berceramah yang sudah jelas melanggar kode etik dakwah, sampai perdukunan yang menggunakan modus dakwah Islam. Semua itu telah jelas menodai wajah Islam di hadapan dunia secara luas.

Tentang kewajiban berdakwah, Allah menegaskan di dalam Alqur’an:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imran : 104),

Juga sebuah hadits Nabi:
من رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ. ( وراه صحيح مسلم)

Artinya: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan (mencegah kemungkaran dengan hati) itu adalah pertanda selemah-lemah iman” (HR. Muslim)

Setiap Muslim adalah Da’i dalam arti luas. Pada eksistensinya, terdapat tanggung jawab moral yang wajib ditunaikan, yaitu menyelamatkan saudaranya dari kemunkaran yang akan berakibat buruk terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Dakwah Islam akan berjalan dengan mulus jika Da’i ber-taslim (mengambil—jalan—selamat dengan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya) yaitu meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW secara total serta diimbangi tawakkal kepada Allah SWT.

WALISONGO

Walisongo adalah majelis dakwah yang fokus dalam rangka menyebarkan agama Islam pada abad 14 Masehi. Wilayah penting di pesisir utara Pulau Jawa yang menjadi tempat bermulanya dakwah yakni Cirebon di Jawa Barat, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur menjadi indikator penting bahwa penyebar agama Islam di tanah Jawa ini adalah orang-orang pendatang dari luar yang datang untuk berdagang sekaligus menjalankan misi utamanya, yaitu menyebarkan ajaran agama Islam. Walisongo dikatakan sebagai majelis dakwah adalah karena ia merupakan jaringan keluarga yang beranggotakan sembilan orang ulama yang diperkirakan berdarah Samarkand di Asia Tengah.

Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (2012) menyebutkan anggota Walisongo adalah: 1. Sunan Ampel. 2. Sunan Giri. 3. Sunan Bonang. 4. Sunan Kalijaga. 5. Sunan Gunung Jati. 6. Sunan Drajat. 7. Syaikh Siti Jenar. 8. Sunan Kudus. 9. Sunan Muria. 10. Raden Patah. Beragam versi yang ada sebenarnya tidak menjadi masalah karena sebenarnya para wali yang ada merupakan satu majelis keluarga dan relasi antara guru-murid. Adapun rinciannya yakni: 1. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim yang inskripsi makamnya menunjuk angka 1419 Masehi sebagai angka tahun kewafatannya) 2. Sunan Ampel atau nama asli Raden Ali Rahmatullah putera Syaikh Ibrahim as-Samarkandi. 3. Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim putera Sunan Ampel. 4. Sunan Drajat atau Raden Qasim putera Sunan Ampel. 5. Sunan Kudus putera Raden Usman Haji suami Dewi Ruhil puteri Nyai Ageng Malaka puteri Sunan Ampel atau beliau adalah cicit Sunan Ampel. 6. Sunan Giri murid Sunan Ampel, saudara seperguruan dengan Sunan Bonang. 7. Sunan Kalijaga murid Sunan Bonang. 8. Sunan Muria atau Raden Umar Said putera Sunan kalijaga. 9. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah putera Sultan Hud seorang yang berkuasa di negara Bani Israil hasil pernikahannya dari Nyai Rara Santang, seorang keturunan keraton Pajajaran. 10. Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Datuk Abdul jalil mertua Sunan kalijaga. 11. Raden Patah putera Prabu Wijaya, Raja Majapahit terakhir, murid sekaligus menantu Sunan Ampel.

ISLAM DI INDONESIA SEBELUM WALISONGO

Agama Islam sebenarnya telah berkembang jauh sebelum hadirnya jaringan dakwah Walisongo. Situs makam Fatimah Binti Maimun Bin Hibatallah di dusun Leran Gresik menjadi bukti tertua arkeologi petilasan Islam di Nusantara merujuk pada kronogram 1082 M./475 H.

Agama Islam ketika itu tidak berkembang dengan baik karena pemerintahan daerah masih dalam kendali kuat Kerajaan Majapahit sampai pada akhirnya Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran (antara tahun 1401 sampai 1405 Masehi) akibat perang saudara, perebutan kekuasaan yang sengit, dan armada yang melemah, Islam lalu menggeliat dalam kuasa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

PARA WALI DAN PRINSIP DAKWAHNYA

Islam mulai mempunyai ruang yang relatif luas di tengah melemahnya Kerajaan Majapahit kendati kondisi masyarakatnya berwatak keras, egosentris, dan memuja roh-roh leluhur mereka dengan menggunakan persembahan sesajen. Kehidupan sosio-religi yang demikian kemudian secara perlahan diislamisasi oleh Maulana Malik Ibrahim dan para wali yang lain dengan corak dakwah yang santun dan membumi.

Menggunakan prinsip dakwah al-Muhafazhah ‘ala al-Qadiim ash-Shalih wa al-Akhdu bil Jadidi al-Ashlah (Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) para wali ‘menyelami’ terlebih dahulu kepercayaan asli masyarakat Indonesia yang saat itu masih dalam kepercayaan animisme dan dinamisme; suatu kerpecayaan dengan memuja roh para leluhur dan benda-benda tua. Para wali juga melibatkan diri dalam berbagai macam praktik kebudayaan yang sangat mengakar kuat, sekalipun hal itu sudah jelas sangat berseberangan dengan syariat Islam.

Kendati demikian produk dakwah Walisongo—hingga saat ini—tak dapat dipungkiri telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang amat menghargai perbedaan, stabil di tengah goncangan krisis kemanusiaan, tidak radikal, tidak juga liberal, melainkan moderat. Dapatkah kita bayangkan, bagaimana tanpa sentuhan dakwah Walisongo di Indonesia ini? Sebuah negara yang terletak di jalur perdagangan internasional, yang tentunya mudah terpengaruh oleh beragam kepercayaan dan ideologi.

GERAKAN DAKWAH PARA WALI

Sejarah mencatat bahwa Walisongo telah menggerakkan dakwahnya di berbagai aspek dalam masyarakat ketika itu yaitu melalui politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan kesenian.

POLITIK

Sebelum melangkah lebih jauh para wali terlebih dahulu mendekati keluarga kerajaan, hal ini dilakukan agar syariat Islam lebih leluasa disampaikan menggunakan kekuasaan. Seperti Sunan Ampel yang menikahkan murid-muridnya dengan putri-putri penguasa Majapahit. Sunan Ampel sendiri menikah dengan putri Arya Teja, seorang bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembu Sura raja Surabaya ketika itu. Selain melalui pernikahan, yang dilakukan Sunan Ampel adalah menyamaratakan kelas dalam masyarakat dengan kebijakan-kebijakan politis; bahwa yang kaya harus menghargai yang miskin, yang tua menyayangi yang muda, berbagi, dan berempati, dengan tanpa menyinggung unsur SARA. Pendekatan tersebut memungkinkan dakwah Islam lebih mendapat wilayah yang luas serta perhatian besar dari masyarakat bawah.

PENDIDIKAN

Para wali juga membangun masjid sebagai pusat pendidikan dan kajian Islam. Di dalamnya dengan dipimpin para wali telah banyak berbagai macam persoalan masyarakat dapat dipecahkan dengan baik melalui aturan tegas syariat Islam. Tidak hanya itu, masyarakat kecil yang buta aksara—mengingat pada masa itu “pendidikan” hanya dapat dinikmati oleh para keluarga kerajaan—juga dapat menyentuh dunia pendidikan melalui belajar membaca Alqur’an dan aksara Jawa. Forum diskusi, konsultasi dan penyuluhan dibuka secara luas tanpa pandang bulu. Kala itu masjid umpama sebuah Search Engine yang dapat menjawab berbagai problematika masyarakat, artinya setiap persoalan yang terjadi di masyarakat selalu mendapat jawaban dan terselesaikan dengan baik setelah melakukan konsultasi musyawarah dengan para wali yang pusatnya di masjid.

Sunan Ampel yang sangat fokus pada dakwah melalui pendidikan kala itu membangun pesantren untuk tempat belajar. Pesantren yang terletak di Ampel Denta tersebut telah melahirkan wali-wali baru yang kemudian oleh Sunan Ampel dikirim ke daerah lain untuk menyebarkan agama islam, dan menjadi cikal-bakal pesantren-pesantren di tanah Jawa hingga saat ini.

EKONOMI

Para wali datang ke tanah Jawa dan mendiami pesisir pantai utara pulau Jawa dengan aktifitas utama berdagang. Perdagangan mereka yang berpegang pada prinsip ekonomi dalam syariat Islam telah menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat pribumi. Secara otomatis, setelah model perdagangan syar’i ditampilkan, masyarakat mulai giat menyejahterakan dirinya; bergerak dalam perdagangan yang sama. Di samping perdagangan para wali menyentuh sektor pertanian sebagai lahan ekonomis, terbukti dengan keahlian Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Kalijaga dalam membuat kerajinan alat-alat pertanian yang tentu sangat menyokong bagi pertanian masyarakat. Begitupun dengan Sunan Giri yang kala itu mengajarkan ilmu jual-beli terhadap masyarakat Kediri sebagai jalur dakwahnya.

SOSIAL-BUDAYA

Penanaman sikap tolong-menolong dan solidaritas sosial juga tidak luput dari perhatian para wali. Sikap fleksibel dan santun mereka terhadap siapa saja telah membuka jalan jalinan persaudaraan masyarakat menjadi luas sehingga segala persoalan tidak lagi menjadi sulit untuk diselesaikan. Sunan Drajat yang aktif dalam gerakan ini telah mewariskan keahliannya dalam tata cara membuat rumah dan membuat alat-alat yang dapat digunakan untuk memikul orang semisal Tandu. Kita pikirkan bagaimana filosofi dari keduanya!

KESENIAN

Seni sebagai alat hiburan menjadi sarana yang tidak kalah efektifnya bagi keberlangsungan dakwah Walisongo. Bahkan melalui kesenian syariat Islam dapat tersampaikan dengan menawan dan lebih membumi di tengah masyarakat. Masyarakat Jawa yang saat itu masih beragama Kapitayan (sebuah agama kuno penduduk Nusantara yang tumbuh sejak zaman Paleolithikum, Messolithikum, Megalithikum, sampai Perunggu dan Besi) serta dalam pengaruh kuat kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana mulai mengenal Islam dari Sunan Kalijaga yang “menyusupi” lakon wayang carangannya dengan ajaran Tauhid serta Akhlak-Tasawuf.

Sunan Kalijaga yang kemudian jejaknya dilanjutkan oleh Sunan Bonang juga memperkenalkan Islam kepada masyarakat melalui gubahan tembang dan permainan musik. Strategi dakwah yang kreatif ini pun menjadikan ajaran Islam semakin realistis di tengah masyarakat awam tersebut.

Di antara tembang-tembang gubahan Sunan Kalijaga yang masyhur di kalangan masyarakat Jawa adalah tembang Ilir-ilir, sebagai berikut:

Lir-ilir lir-ilir tandhure wis sumilir/ sing ijo royo-royo/ tak sengguh penganten anyar/ cah angon cah angon/ penekna blimbing kuwi/ lunyu-lunyu penekna/ kanggo mbasuh dodotiro/ dodotiro dodotiro/ kumitir bedah ing pinggir/ dondomana jlumantana/ kanggo seba mengko sore/ mumpung padhang rembulane/ mumpung jembar kalangane/ yo surako surak hore//

STRATEGI DAKWAH WALISONGO

Kesuksesan Walisongo dalam menjalankan dakwahnya bukan serta merta sukses tanpa proses panjang dan perencanaan besar dalam kerangka filosofis. Peleburan diri mereka dengan budaya dan karakter masyarakat Jawa adalah implementasi konkrit dari falsafah dasar Iqra’; wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad dalam kontemplasinya di Gua Hira. Iqra’ yang bukan saja perintah membaca tulisan, akan tetapi lebih dari itu, yakni membaca dan menganalisa alam raya dan keadaan serta situasi tertentu di sekelilingnya, telah menginspirasi seorang Muhammad untuk mengubah gaya hidup jahiliyah yang telah mengakar kuat di tanah Makkah pada gaya hidup yang lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hal tersebut kemudian diteladani oleh para wali yang hendak menyebarkan agama Islam di Nusantara. Sebenarnya banyak hal yang dapat diteladani dari konsep dakwah Walisongo, antara lain:

Lemah Lembut dan Toleransi

Dakwah adalah sesuatu yang berkenaan dengan hati dan jiwa, sebab itu ia adalah sesuatu yang sangat sensitif dan terikat dengan emosional seseorang. Para wali telah menyampaikan pesan dakwahnya dengan cara yang lemah lembut dan toleran terhadap budaya yang telah kuat mengakar di tanah jawa sehingga dapat menyentuh sanubari terdalam mereka yaitu hati dan pembenaran akalnya.

Tidak Mempersulit

Agama Islam datang dengan perangkat aturan yang ringan dan meringankan. Dalam konteks hukum syari’at seorang Da’i harus membimbing Mad’u kepada aturan hukum yang ideal, yang tidak memberatkan Mad’u dan tidak terlalu meringankannya. Oleh sebab itu dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah para wali mempermudah proses penyampaian

Bertanggung Jawab

Da’i, dalam kapasitasnya harus menerima konsekuensi atas setiap perkataan dan perbuatannya di hadapan Mad’u. Seorang Da’i tidak boleh berkata sesuatu yang tidak diketahuinya. Ia harus jujur terhadap apa saja yang belum diketahuinya. Oleh sebab itu Da’i juga harus berwawasan luas dalam merespon berbagai persoalan yang terjadi di tengah lingkungan Mad’u.
Konsep dakwah Walisongo yang telah menyentuh setiap aspek dalam masyarakat yaitu politik, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, dan kesenian menunjukkan bahwa setiap anggota dakwah bergerak di bidangnya masing-masing sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Artinya anggota dakwah yang ahli di bidang pendidikan tidak intervensi pada bidang kesenian, dan begitu seterusnya.

Menyesuaikan Kondisi Psiko-Sosial Objek Dakwah

Dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahnya, seorang Da’i harus paham terhadap gejala-gejala yang terjadi di tengah masyarakatnya. Ia harus menganalisa bahasa keadaan yang tengah disampaikan oleh Mad’u terhadap Da’i. Dalam hal ini sangat tepat jika kita bercermin pada model dakwah Raden Sahid atau Sunan Kalijaga dalam menyampaikan misi dakwahnya. Model dakwah melalui kesenian yang beliau terapkan adalah disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang ketika itu sangat menyukai kesenian berupa pertunjukan wayang, tembang, dan pantun. Dakwah ini dilakukan Sunan Kalijaga dengan kemampuan seninya agar masyarakat dengan mudah menerima pesan dakwah Islam yang hendak beliau sampaikan. Dengan meneladani metode dakwah Sunan Kalijaga kita lalu paham bahwa dalam berdakwah harus menyelami ‘dunia’ Mad’u, menyelaraskan syariat Islam dengan hal-hal yang dekat dengan Mad’u.

Mengutamakan Proses (Tahapan)

Seorang Da’i juga harus mengutamakan proses (tahapan) dalam berdakwah. Artinya tidak terburu-buru memperoleh hasil berdakwahnya. Yang pertama dilakukannya adalah mendekati Mad’u secara halus, berempati dengan setiap problem yang terjadi pada Mad’u, baru setelah itu menyampaikan pesan dakwah-praktisnya. Para wali tidak lantas mengajak masyarakat untuk berdiskusi masalah akidah. Sebab hal ini akan menggoyahkan keyakinan mereka. Yang mereka lakukan adalah merefleksikan makna syahadat dan implementasinya. Menjabarkan ide-ide mendasar dalam Islam, makna shalat, puasa, zakat, dan haji, produk ijtihad (ilmu fiqh), dst.

TANTANGAN DAKWAH DI ERA MODERN

Dewasa ini universalitas agama Islam sedang dalam tantangan besar. Umat Islam tengah diuji identitas keislamannya. Beragamnya produk budaya dalam setiap lapisan waktu telah memperumit jalan dakwah umat islam, baik dakwah di luar tubuh umat Islam maupun dakwah di dalam tubuh umat Islam sendiri. Terlebih saat zaman telah bergantung pada kepentingan kekuasaan dan teknologi, seperti saat ini.

Adapun langkah konkret berdakwah di abad millenium ini sebenarnya—secara garis besar—tidak jauh beda dengan strategi dakwah para wali terdahulu. Hanya saja cakupan dakwah saat ini jauh lebih luas. Artinya dakwah tidak semata dilakukan dalam situasi tatap muka antara Da’i dan Mad’u, tetapi dalam situasi yang tak terbatas pada dimensi ruang dan waktu; melalui berbagai macam media seperti media cetak dan media elektronik. Pengetahuan agama yang mendalam dikombinasikan dengan penguasaan teknologi akan menentukan kualitas dakwah seseorang, inilah yang menjadi catatan!

LALU…?

Pertanyaan penting, lantas mengapa dakwah para wali jauh lebih sukses daripada dakwah muslim modern—di Indonesia—saat ini? Ada satu hal yang menjadi pembeda dalam gerakan dakwah para wali dan gerakan dakwah di era modern; yaitu ukuran kemantapan niat. Tulus semata membela agama Islam karena Allah, ataukah semata dalam rangka memenuhi kepentingan pribadi?

buku-buku pendukung tulisan ini:

Munir, M. 2003. Metode Dakwah. Jakarta: Kencana.

Saputra, Wahidin. 2011. Pengantar Ilmu Dakwah. Jakarta: Rajawali Press.

Sunyoto, Agus. 2012. Atlas Walisongo. Depok: Pustaka IIMaN

Chodjim, Achmad. 2013. Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat. Jakarta: Serambi.

Baharun, Muhammad. 2012. Islam Idealitas Islam Realitas. Jakarta: Gema Insani Press.

Azra, Azyumardi.1994. Jaringan ulama: Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII: melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia. Jakarta: Mizan.

sumber foto: www.google.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *