[Karya KBM3] Amar Ma’ruf Nahi Munkar Tidak dengan “Membombardir Batin” Seseorang

Posted on Updated on

“Amar Ma’ruf Nahi Munkar” sering sekali kita mendengar kalimat ini, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa “Amar ma’ruf” adalah menghalalkan semua yang baik sedangkan “Nahi Munkar” adalah mengharamkan segala bentuk kekejian. Jauh lebih dalam dari itu M. Quraish Shihab dalam tafsirnya ketika mentafsir QS. Luqman :17, bahwa ketika seseorang menyuruh mengerjakan ma’ruf kepada orang lain itu mengandung pesan bahwa ia pun harus mengerjakannya, demikian juga ketika melarang kemungkaran juga menuntut agar yang melarang terlebih dahulu mampu mencegah dirinya dari yang telah di haramkan oleh Allah SWT. Para ulama sepakat bahwa mengajak berbuat baik dan mencegah berbuat kejahatan atau “al-Amr bi al-makruf wa al-nahyi’an al-mungkar” adalah suatu keharusan bagi setiap muslim. Hal inilah yang selalu mendasari setiap keinginan syiar bagi remaja muslim, termasuk saya pribadi. Bagi saya syiar itu bukan hanya berbicara diatas panggung atau duduk lebih tinggi di depan banyak orang, lebih dari itu saya memaknai syiar adalah teman, teman yang senantiasa saling mengingatkan, taman yang seharusnya saling menasehati, teman yang tatkala ada kesalahan tidak sungkan untuk mengatakan salah, begitulah syiar.

Ternyata pemahaman saya tentang syiar sangatlah bertolak belakang dengan beberapa teman yang saya temui disalah satu majelis ilmu yang memang berkonsentrasi untuk mengkaji keagamaan dan bahasa arab, diskusi kami biasanya diakhiri dengan perdebatan hingga berhari-hari di dunia maya, contohnya seperti tentang bahasa arab yang katanya bahasa syurga, saya tetap teguh mempertahankan argumen saya bahwa seseorang yang menguasai bahasa apapun dapat menjadi ahli syurga. Hingga pada akhirnya perdebatan kami di dunia maya diakhiri dengan kemarahannya di dunia nyata, sungguh hanya karena berbeda pendapat dia sampai marah seperti itu. Inilah arogansi berilmu yang terjadi dikalangan para akademisi, setiap kepala memiliki teorinya masing-masing dan memiliki angkuhnya tersendiri.

Tidak semua yang tergabung dalam majelis ilmu yang saya ikuti memiliki latar belakang agama, bahkan ada beberapa teman yang sering menggeleng-geleng kepala ketika mengetahui betapa “kepala batu”nya seseorang yang telah mengenyam pendidikan agama sedari kecil ketika disinggung perihal “paham”nya. Slow but sure, inilah yakin saya ketika ingin mengajak seseorang pada kebaikan, tidak akan mudah dan tidak akan cepat dan se-instan mie rebus.

وَلْتكُنِ مِنْكُمْ اُمَّةُ يَدْعُوْنَ اِلَى الخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِهُوْنَ

 Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itu lah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran :104)

dan

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“(yang artinya:) Sampaikanlah DARIKU (yakni dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam) walau hanya satu ayat 1” [HR Al-Bukhari 3/1275 no 3274]

Inilah yang sering sekali menjadi dasar ketika hendak menyampaikan ajakan kebaikan kepada teman yang notabenenya merasa belum memegang keimanan di hatinya, cara yang mereka gunakan sering saya samakan maknanya seperti “membombardir batin” seseorang dengan nasihat dan larangan ini-itu yang terkadang membuat saya mengernyitkan dahi, seperti dilarang memainkan alat musik petik, dilarang menonton konser, dilarang menggunakan celana (bagi perempuan), diwajibkan menggunakan kaos kaki dan lain sebagainya. Inilah semangat syiar remaja muslim yang menurut saya salah dan terlalu memaksakan, bukankah

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. al-Baqoroh: 256)

Bukankah dengan memaksa akan cenderung membuat mereka menjauh, bukannya mendekat?
Sering sekali ustadz dan ustadzah menceritakan suatu kisah yang pernah terjadi di majelis ilmu kami, yakni beberapa tahun yang lalu sempat ada warga negara asing yang hendak belajar perihal bahasa arab di majelis kami, dia seorang perempuan yang pastinya tidak berjilbab. Dengan sangat lantangnya semua orang hendak mengajaknya untuk menjadi seorang muslim, dengan penuh semangat hampir setiap hari WNA itu di hujani nasihat perihal “agama yang benar”, dan tak kurang dari 1 bulan akhirnya WNA itu memutuskan keluar dari majelis ilmu kami. Sungguh sayang, semangat syiar yang terlalu membabi buta. Tidak kah mereka belajar dari kisah ini?. Sudah sering saya katakan kepada mereka mengenai tata cara mereka mengajak yang cenderung memaksa itu, namun selalu saya dapati jawaban

“tidak ada yang memaksa, hanya saja lebih cepat lebih baik seseorang menyadari akan suatu kebaikan”.

Dan pada akhirnya hampir sebagian besar sasaran “bombardir batin” itu tidak bertahan dan memutuskan untuk pindah ke majelis ilmu lainnya, kembali lagi karena yang dituju adalah seorang remaja yang cenderung menjadi pemberontak dan sukar untuk dinasehati apalagi di perintah.

“Tidaklah sikap lemah lembut dalam sesuatu melainkan membuatnya indah. Dan tiadalah sikap kasar dalam sesuatu melainkan membuatnya buruk.” (HR Muslim dan Ibnu Majah)

Mengajak seorang ramaja untuk melakukan kebaikan tidaklah semudah mengajak anak TK mencium tangan gurunya, ini akan sangat sukar mengingat yang mengajak adalah remaja dan yang diajak pun seorang remaja, masing-masing memiliki ego yang besar.

 

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

 

[رواه مسلم]

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam  bersabda: “Siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.”(Riwayat Muslim)

Bukankah hadits ini telah mengisyaratkan tata cara mengajak pada kebaikan yang benar, kemungkaran memang wajib untuk dirubah dalam keadaan apapun hingga yang menyaksikan kemungkaran memanglah tidak boleh berdiam diri saja karena itu akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah atas kesaksiannya terhadap kemungkaran, kedzaliman yang terjadi, tetapi seseorang yang mengajak pada kebaikan maka wajiblah atas dirinya untuk belajar tata cara merubah kemungkaran yang baik dan benar berdasarkan sunnah Nabi.

Adapun cara yag saya lakukan adalah pertama memberikan penjelasan terlebih dahulu. Allah SWT berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taubah: 115). Yang kedua, menyampaikan nasihat. Jika masih belum berhasil maka berikanlah beberapa ancaman dan peringatan keras. dan yang terakhir jika masih belum berhasil maka mendo’akannya agar Allah SWT-lah yang membukakan pintu hatinya.

Carilah celah bukan pada kekurangan dan perbedaan mereka denganmu, tapi carilah celah dimana kamu bisa melihat dirinya ada padamu. ~Tina Sri Hartati~

 

 

 

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *