[Karya KBM3] Degradasi Moral Remaja sebagai Penerus Bangsa

Posted on Updated on

DEGRADASI MORAL REMAJA SEBAGAI PENERUS BANGSA

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi,tubuh,minat,pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. (Hurlock,1998)

Sesuai keterangan Hurlock yang di kutip dari http://konselingpejambon.blogspot.com/2012/10/agenda-kegiatan-pik-r-tentang-miras-dan.html masa remaja merupakan masa transisi yaitu suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang matang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan  ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988)di kutip dari http://guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com/.  Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Pada kisaran usia ini banyak orang yang mengatakan para remaja ini mengalami masa-masa “Labil”, kelabilan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi remaja ini di tandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa di jawab secara rasional oleh diri mereka sendiri. Memang pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul secara alamiah terkadang sering sekali mengganggu kehidupan kita sebagai remaja pemula, bahkan saya sendiri sewaktu duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama juga pernah merasa terganggu dengan pertanyaan yang secara autodidak muncul begitu saja, pertanyaan saya cukup klasik pada waktu itu yaitu tentang “siapa sebenarnya diriku ini dan apa tujuanku hidup di dunia ini ?” dan guru psikologi saya waktu itu menjawab dengan singkat “hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Jawaban itu sentak membuat saya merasa bingung dan tak bisa saya terima dengan akal sehat, bagi saya mana mungkin  menunggu jawaban yang belum pasti, saya ingin jawaban yang pasti dan sesuai dengan keinginan hati saya.

Sama  halnya dengan  remaja-remaja lain pada umumnya, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui jawaban yang pasti dan akan merasa tertantang apabila mereka di hadapkan oleh sesuatu yang baru. “ingin coba-coba” merupakan suatu bentuk pembuktian dari adanya rasa keingintahuan kuat akan jawaban terhadap pertanyaan yang telah menyelubungi diri mereka.

Kata “ingin coba-coba” terkesan memberikan nilai negative oleh kebanyakan orang terutama bagi remaja itu sendiri,  apabila  terlanjur melakukannya mereka dapat terjebak dan terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Keingintahuan yang di dasari dengan kata “coba-coba” inilah yang sering kali memperkenalkan para remaja yang biasa di sebut sebagai anak ABG  (Anak Baru Gedhe) ini mengikuti tindakan dan perbuatan teman atau orang lain yang tidak layak untuk di jadikan contoh dan panutan bagi diri mereka.

Sejatinya dapat lah kita lihat fenomena-fenomena ganjal yang sering terungkap pada sebuah media massa maupun social yang memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan social yang sering di lakukan oleh para remaja di era globalisasi ini, dari perbuatan yang masih bisa di maklumi sampai perbuatan criminal yang  melanggar hokum agama dan Negara. Perbuatan yang masih dapat di maklumi oleh sebagian orang  Seperti halnya membolos sekolah, dan kebut-kebutan di jalan raya sementara perbuatan yang melanggar norma sampai di luar batas kewajaran masyarakat seperti : menonton video porno, melakukan hubungan pra nikah atau free sex, paccaran yang berlebihan,penyalagunaan narkotika, tawuran dan membentuk kelompok geng motor.

Saat di Tanya apa yang melatar belakangi para remaja melakukan tindakan yang kurang beretika di mata masyarakat di era globalisasi semacam ini?

Banyak faktor yang melatarbelakangi kemerosotan moral remaja di zaman modern seperti sekarang ini. Seperti halnya:

  1. Factor Internal
  2. Psikologi Pribadi

 

mental remaja yang masih tergolong labil yang didukung keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan. Contoh nyata dari kasus ini adalah minum-minuman beralkohol dan pemakaian obat-obatan terlarang atau Narkotika, kebanyakan remaja mengira dengan meminum alkohol dan Narkotika dapat memberikan sensasi yang berbeda, saat mengkonsumsinya tubuh akan terasa ringan,rileks dan nyaman seketika. Tanpa mereka tau secara pasti pengaruh buruk yang telah di dapatkan setelah mengkonsumsi dua racun mematikan itu. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.  Sedangkan Menurut Smith & Anderson (dalam Fagan,2006),  kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

 

  1. Keluarga

Rasulullah bersabda:

  1. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan perilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.Begitupun dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

 

 

Factor Eksternal

  1. Lingkungan Masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana. Karena lingkungan adalah  suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.

Pengaruh lingkungan memberikan porsi tersendiri terhadap pola tingkah laku remaja, meskipun tidak serta merta  secara total langsung merubah perilakunya akan tetapi lambat laun pola tingkah laku remaja akan terbawa arus lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh dalam sebuah lingkungan masyarakatnya suka pergi ke klub malam atau diskotik dengan pakaian yang minim dan kurang beretika

  1. Teman Pergaulan

Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya. (dikutip dari: http://rururudididi.blogspot.com/ dan olahan pemikiran penulis )

Terkadang dalam dunia pergaulan remaja di era globalisasi kini sering menonjolkan adanya rasa solidaritas antar sesama anggota yang mengenal prinsip “sakit satu sakit semua” yang bermakna siapa pun yang berani menyakiti anggota kelompok mereka, maka satu kelompok berhak untuk membalasnya. Prinsip inilah yang menjadikan kelompok atau geng menjadi bringas dan bertindak semaunya hingga melanggar hukum. Contoh nyata dari kasus ini adalah terbentuknya geng motor dan tawuran remaja yang sering kali melanggar norma-norma sosial dan ketertiban umum yang ada di masyarakat daerah setempat. Kadang saking kejamnya mereka sampai membawa senjata tajam untuk melukai lawan mereka.

  1. Pengaruh Media dan Westernisasi

Kemajuan teknologi yang semakin pesat di era globalisasi seperti sekarang ini tanpa adanya filter yang memadai, memberi kemudahan bagi para remaja untuk mengakses segala macam bentuk informasi baik berupa tulisan,gambar,video maupun film secara bebas dan instan. Bukannya melarang atau membatasi perkembangan teknologi yang ada, namun adanya kecanggihan teknologi ini sering kali memberikan dampak psikologi yang kurang baik bagi para remaja untuk bisa meniru adegan-adegan tidak beretika yang pernah di lihat sebelumya pada dunia nyata. Di tambah lagi pengaruh budaya barat yang menyebabkan para generasi muda bangsa ini menjadi tidak mengenal tata krama dan sopan santun dalam berbusana. Tidak hanya itu berkembangnya faham feminisme di dunia barat mengakibatkan pola tingkah laku remaja berubah menjadi hedonisme.

 

BERIKUT ADALAH SOLUSI YANG BISA DI TERAPKAN UNTUK MENGATASI KERUSAKAN MORAL REMAJA

 

  1.       Membentuk Lingkungan yang Baik.

Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang  mempengaruhi perilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang baik (dari segi akhlak dan iman), memilih teman yang dekat dengan sang Khalik (Tuhan), menghindari tempat-tempat maksiat yang berdekatan dengan tempat tinggal. dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal yang negative akan sedikit berkurang.

 

  1. Pembinaan dalam Keluarga.

Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak terlebih lagi terhadap seorang anak perempuan, dimana dalam dunia pergaulan di zaman modern pembinaan dan penanaman nilai agama sangat di perlukan sebagai bentuk pertahanan dari godaan kerusakan akidah dan akhlaq, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad yang artinya:

-Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga. (di kutip: http://www.piss-ktb.com/2014/07/3238-nafaqoh-orang-tua-ketika-anaknya.html)

jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, tempat berlindung bagi seorang anak dalam mencurahkan semua masalah yang tengah membelitnya. Sejatinya keluarga bisa memberikan bekal pendidikan moral yang baik dan menjadi suri tauladan terbaik bagi anak mereka sebelum di lepas di lingkungan yang bebas. Memberikan contoh awal  seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

 

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, dalam sekolahlah pendidikan karakter remaja di tanamkan dengan baik. Interkasi antara seorang guru dan murid akan terjalin secara harmonis, dan dari tempat inilah pemantapan psikologi,karakter dan kepemimpinan seorang remaja akan terbentuk secara efektif melalui kegiatan sekolah ataupun ekstrakulikuler untuk penyaluran bakat dan perbaikan diri remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.

(dikutip: http://rururudididi.blogspot.com dan olahan pemikiran penulis )

 

  1. Pendalaman Agama

Dalam sendi-sendi kehidupan yang tidak hanya bisa mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) namun, Penanaman dan pendalaman nilai-nilai agama harus senantiasa di tanamkan dalam diri remaja, hal ini berhubungan dengan tindakan dan perilaku motorik remaja dalam bergaul. Apabila penanaman nilai agama lemah maka akan mudah untuk terpengaruh ke dalam dunia hitam. Penanaman nilai-nilai agama dapat di terapkan dalam segala bidang kehidupan seperti: keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Pada masa remaja dengan rentang usia 12- 18 tahun, yang kebanyakan waktu mereka di habiskan belajar dan kegiatan di sekolah, memerlukan adanya sarana untuk peningkatan iman dan taqwa (IMTAQ)  untuk membentengi diri mereka dari kemaksiatan. Yang bisa di tempuh dengan beberapa cara seperti:

  1. Aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang kerohanian agama
  2. Senantiasa mendatangi tempat ibadah atau masjid untuk menjalankan ibadah
  3. Sering melakukan kajian dalam beberapa aktivitas di sekolah.

Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS. Al-isra’ : 9
Artinya : Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (di kutip: http://kajianislammoderen.blogspot.com/2010/03/peranan-dakwah-sekolah-dalam-mengatasi.html)

Dengan memperkuat penanaman agama dalam diri seorang remaja di harapkan tidak terjerumus dalam penyimpangan sosial yang sering kali di lakukan oleh remaja di zaman modern sekarang ini.

Remaja sejatinya merupakan asset penggerak bangsa yang akan memegang tanduk kepemimpinan  negara ini  di masa yang akan datang. Sesungguhnya Allah berfirman dalam Alquran

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya: “Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yg akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Sumber: http://www.muslimedianews.com/2015/01/islam-nusantara-tuhan-menggunakan-kata.html)
menjadi seorang “Khalifah” itu lah sebutan remaja sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. Dan  itulah sebabnya para kaum muda ini mendapat tiga predikat penting yaitu sebagai agent of change, social controll, dan iron stock, sudah sepantasnya moral dan perilaku para remaja ini senantiasa di jaga demi terwujudnya suatu bangsa yang tentram,sejahtera dan bermartabat. Dimana akhlak,IMTAQ dan IPTEQ  dapat selaras dengan kehidupan, maka cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945 akan terealisasi dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110). Ayat di atas sangat jelas menyiratkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik di dunia. Karena umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya senantiasa berbuat terbaik bagi dirinya, lingkungannya, dan sesama. (dikutip dari:http://cyberdakwah.com/2013/06/menanamkan-akhlakul-karimah-pada remaja-islam/).

 

Dalam sejarah kemerdekaan negara Republik Indonesia, remaja atau pemuda telah ikut andil dalam menciptakan sebuah cita-cita bangsa, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Teks sumpah pemuda menjadi bukti eksistensi pemuda Indonesia. Demikianlah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928 dan sudah memasuki usia 86 tahun. Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa suatu bangsa menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.

Peran pemuda menduduki posisi penting dalam perkembangan suatu bangsa, merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang. Merealisasikan mimpi dan cita-cita bangsa yang belum terwujud saat ini, dan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan bermartabat sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

REFERENSI

  1. konselingpejambon.blogspot.com
  2. guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com
  3. blogspot.com/
  4. piss-ktb.com
  5. blogspot.com
  6. cyberdakwah.com
  7. muslimedianews.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *