[Karya KBM3] Dekadensi Moral di Kalangan Generasi Muda

Posted on Updated on

 

Dekadensi Moral di Kalangan Generasi Muda
(Kajian Fenomena Kemerosotan Moral Remaja dan Trigatra Tawaran Pemecahan)
Oleh: Muhammad Kridaanto

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya

dan Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.s. 16:125)

Generasi Muda
Gambar 1

Generasi muda sebagai tulang punggung penerus peradaban bangsa sedang menjadi sorotan banyak pihak. Berbagai peristiwa yang terjadi membuat mereka menjadi bahan kajian yang cukup serius dan mendapat porsi lebih dari para akademisi, intelektual, ulama maupun pemerintah untuk segera ikut berperan dalam mencari solusi, atau setidaknya upaya preventif atas kondisi yang terjadi.

Beberapa fenomena gunung es yang mulai muncul di media mengenai tawuran pelajar, pergaulan bebas di kalangan remaja, sampai tindakan kriminal seperti penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba) terus terjadi. Pengalaman penulis sendiri melihat realita beberapa teman yang akhirnya “terpaksa” nikah muda karena melakukan hubungan seks sebelum nikah. Tak jarang bermula dari aktivitas pacaran yang melampaui batas dan mudahnya akses informasi melalui media internet dimana situs dewasa dapat diakses dengan mudah menjadi penyebab kerusakan moral. Remaja usia SMP ataupun SMA yang bergelar sebagai seorang pelajar memang berada dalam fase pubertas, dimana rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencari identitas diri dan pengakuan atau perhatian dari orang-orang di sekitarnya.

Beberapa penyimpangan sosial di kalangan remaja dapat kita lihat dalam video berikut ini:

Tanpa bimbingan dan pengawasan yang baik, jalan mengekspresikan gejolak masa puber ini menjadi bumerang bagi diri mereka bahkan dapat membuat masa depan yang suram. Rasa concern kita kepada perkembangan moral generasi muda sebagai bagian mengamankan perkembangan perjalanan bangsa Indonesia.

Gambar 2
Gambar 2

 

 

Membuka Mata Hati

Muncul sebuah pertanyaan, “Apakah pelajaran mengenai moral di sekolah-sekolah telah mengalami distorsi?”

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita perlu menempatkan masalah generasi muda ini secara benar. Mendudukkan generasi muda menjadi subjek atau objek pembangunan dan relasi terhadap nilai-nilai moralitas.

Kemajuan zaman dengan laju perkembangan teknologi bagaikan sebilah pedang tajam. Generasi muda mengalami pergeseran orientasi budaya, dari periode informasi tertutup yang bersifat ekslusif memasuki periode terbuka, sehingga terlihat lebih banyak perubahan dari faktor zaman yang melingkarinya.

Kita sepakat bahwa kontinuitas perkembangan bangsa ke depan akan dipertaruhkan pada peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di era mendatang (di pundak generasi muda). Kompetisi di masa implementasi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dari konsekuensi perjanjian AFTA (ASEAN Free Trade Area) menjadi tantangan yang cukup berat.

Beberapa tahun silam kita kenal dengan kecerdasan intelektual atau IQ sangat penting dan menentukan segalanya karena menjadi persyaratan sekolah hingga bekerja, sehingga IQ menjadi patokan. Beberapa periode setelah itu muncul hasil penelitian mengenai dampak kecerdasan emosional atau EQ dan kemampuan spiritual atau SQ terhadap keberhasilan seseorang yang sering disebut IESQ. Kemampuan seseorang tidak hanya memerhatikan IQ saja,  tetapi mulai diperhatikan masalah EQ dan SQ yang dimiliki. (1) Untuk itu pula peningkatan kualitas dapat dilakukan dengan memperhatikan ketiga kecerdasan tersebut.

 

Trigatra Tawaran Pemecahan, Humanisme sebagai Doktrin Moral

Trisula
Gambar 3

Secara garis besar ada tiga aspek sebagai Trigatra Tawaran Pemecahan yang dapat menjadi pertimbangan dalam menurunkan kemerosotan moral di kalangan generasi muda:

Pertama, aspek kultural dengan menciptakan kondisi dalam lingkungan produktif di rumah dan sekolah yang sehat. Sebuah pendapat dari seorang intelektual muslim Nurcholish Madjid mengatakan bahwa “Dorongan kepada perbuatan baik itu sudah merupakan ‘bakat primordial’ manusia, bersumber dari hati nurani – yang dalam bahasa arabnya nurani bersifat nur atau terang – karena adanya fitrah manusia.” (2)

Peran kultural atau interaksi seorang remaja di dalam lingkungan keluarga dan sekolah adalah tanggung jawab dari orang-orang terdekatnya. Gagasan esensial mengenai moral lebih diperhatikan remaja melalui penglihatan secara langsung dari apa yang dilakukan orang-orang sekitarnya. Di sinilah peran keseimbangan pengetahuan antara kehidupan dunia dan akhirat harus diberikan kepada remaja melalui lisan dan keteladanan perilaku.

Kedua, aspek yuridis dibangun dari aturan-aturan legal menyangkut pembaharuan nilai moral. Sebagai contoh mengenai fungsi media (internet, televisi, dan radio). Mengarahkan media untuk menyadari tugasnya dalam partisipasi penyediaan informasi yang baik. Revivalis lembaga sensor untuk menegakkan aturan siaran-siaran yang tidak mendidik, seperti sinetron dan acara-acara hiburan. Begitu pula pemerintah memiliki tanggung jawab di bidang komunikasi dan informasi berupa pekerjaan rumah untuk menyaring bahkan menutup akses terhadap situs-situs dewasa, melakukan razia di warnet (warung internet) untuk mengetatkan pelajar yang menggunakannya sebagai tempat berbuat mesum.

Walaupun saya sepakat bahwa konsepsi mengenai hukum dan moralitas memang hanya akan membatasi manusia secara norma dan bersifat memaksa. Salah satu cara yang lebih efektif adalah mendorong prinsip kesalahan dan pertanggungjawaban secara masuk akal, sehingga kewajiban bertanggungjawab tidak dirasa sebagai paksaan.

Ketiga, aspek implisit menyangkut interpretasi metode-metode pendekatan atau penetrasi secara perlahan-lahan di dalam upaya membangun gagasan-gagasan baru moralitas. Di sini pluralitas perspektif manusia dan kontingensi esensial perlu didiskusikan. Kemajemukan dari setiap pemeluk agama dibutuhkan untuk berdialog mencari dasar nilai religius dan moral universal agar ada kesepakatan bersama yang diakui oleh tokoh-tokoh agama dengan ide kebaikan transenden. Sehingga tudingan mengenai ketidakmampuan nilai-nilai transendental dapat dibantah dengan gagasan pemikiran kreatif sesuai perkembangan zaman dari kewajiban inheren sebuah bangsa.

Dari Trigatra Tawaran Pemecahan tersebut memiliki tujuan agar generasi muda dapat memiliki kesadaran dan penuh deliberasi dalam berperilaku. Dari upaya untuk meneladani uswah hasanah kita Nabi Muhammad SAW melalui ucapan, sikap, dan perbuatan yang mencerminkan akhlak yang baik dan memberikan petunjuk sebagai seorang muslim. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din menuliskan bahwa inti ajaran agama adalah membawa manusia pada moralitas luhur (akhlaq al-karimah).

 

Penutup

Konseptualisasi pendidikan humanistik tetap memegang peran penting. Inilah yang nantinya menghasilkan sebuah kurikulum humanistik sebagai doktrin moral yang bersifat universal. Elaborasi dari artikel ini dapat dilakukan sebagai usulan untuk perbaikan atas fenomena dekadensi moral di kalangan generasi muda. Mengajak orang lain akan lebih baik dengan menggunakan kata-kata yang lembut dan penuh hikmah serta disertai dengan memberikan teladan yang baik. Trigatra tawaran pemecahan kemerosotan moral ini semoga ikut serta dalam menambah khasanah pembendaharaan atas fenomena yang terjadi di sekitar kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

 



Referensi :

  1. Widhiastuti, Hardani. Multiple Intelligence dalam Pendidikan. (16 November 2009). Suara Merdeka Online diakses tanggal 9 Januari 2014 dari http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/11/16/88252/Multiple-Intelligence-dalam-Pendidikan
  2. Madjid, Nurcholish. (1994). Pintu-Pintu Menuju Tuhan.  Jakarta: Paramadina

Daftar gambar dan video :


 

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *