[Karya KBM3] Dibilang Moralnya Merosot, Inilah Pendapat Saya Sebagai Salah Satu Pemuda Yang Kecanduan Internet

Posted on Updated on

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa – Aduh, lagi-lagi kita generasi muda yang kena. Di pundak kita sudah disuruh memanggul beratnya nasib masa depan negara, mungkin beratnya setara dengan dosanya. Sekarang di era globalisasi di mana kaum muda yang mayoritas aktif mengaksesnya dengan teknologi, selalu diwanti-wanti berulang kali sampai telinga budeg. Sesekali berlagak pura-pura tidak mendengar seperti pelawak Haji Bolot sepertinya ide bagus untuk menghadapinya.

Wanto-wanto, eh maksudnya wanti-wanti yang sering saya dengar sampai saya sangat hafal (mengalahkan hafalan doa qunut) sekalipun tidak pernah berniat menghafalkannya adalah wanto-wanti dilarang kebarat-baratan. Kita tau bahwa dalam globalisasi, budaya mereka lah yang paling kuat pengaruhnya melebihi boyband dan girlband serta drama Korea yang kalau kita menontonnya dengan khusyu’ dan berjamaah bisa sampai menangis bawang bombay yang diimport langsung dari India. Kenapa bukan nangis ginseng saja sekalian.

Apa salahnya sih budaya barat? Mereka kalau antri tertib, sedangkan kita antri beli tiket nonton sepak bola saja bisa merusak pagar, apalagi antri sembako dan daging qurban? nyawa bisa melayang. Mereka penyayang binatang sampai-sampai diperbolehkan naik dan tidur di atas kasurnya, sedangkan kita justru sebaliknya, memperlakukan manusia seperti binatang. Mereka pintar dan work hard play hard, sedangkan kita waktu muda play hard setelah tua baru ngoyo work hard. Jelasnya, negara mereka maju dan bukankah Indonesia bermimpi ingin maju setara dengan mereka bahkan kalau bisa melebihinya?

Memang sih ada sisi kurang baiknya dari mereka, seperti: Suka minuman keras bahkan usia di bawah 21 colong-colongan membelinya di toko yang dijaga lumayan ketat. Tapi bukankah kita lebih edan dari itu, suka oplos*n diaduk dengan lotion anti nyamuk berbagai merk yang kalau boleh saya tuliskan tanpa sensor yaitu Autan, Saripuspa, Lavenda dan sebagainya? Pantas saja kalau diminum menyebabkan mulut keluar busa putih seperti mau nyuci pakaian dan nyawanya diculik oleh makhluk asing bernama Izrail untuk dilempar ke neraka yang paling dalam kemudian keesokan harinya masuk berita di TV yang berlogo ikan terbang. Mereka melakukan s*ks bebas dan kemana-mana bawa balon pembungkus kelam*n dengan cara diselipkan dikantong kecil khusus yang terletak disebelah kanan pada celana Jeansnya buat persiapan/jaga-jaga. Tapi bukankah kita lebih parah yaitu cuma beralaskan koran bekas dan jika membuahkan hasil, bayinya dibuang hidup-hidup di sungai atau semak-semak sampai-sampai beritanya mendunia dan sukses membuat warga Palestina iri karena mereka kekurangan anak-anak sedangkan kita justru dibuang sembrono begitu.

Tentang mereka suka pakaian mini yang biasa disindir dengan kalimat kurang bahan, saya tidak tau apakah itu hal buruk atau bukan. Mereka memakainya kalau musim panas sedangkan musim dingin pakaiannya lebih tertutup. Mereka berpakaian terbuka seperti itu sekaligus untuk berjemur untuk mendapatkan kulit yang agak gelap karena asalnya memang kulit mereka terlalu putih cenderung kemerahan berbintik-bintik seperti anak babi yang baru lahir dan menurut mereka termasuk saya kulit seperti itu menjijikan. Yang jelas cowok-cowok di sana sudah kebal mata. Pada celana bagian paha atas tidak akan terasa menjadi agak sempit karena reaksi biologis yang disebabkan hanya melihat ketiak. Mungkin sama seperti ketika saya melihat wanita Irian Jaya dengan pakaian tradisionalnya. Salahkah pakaian adat Irian Jaya? Saya tidak tau, saya cuma tau fungsi dasar pakaian selain buat menghangatkan badan saat musim dingin tapi juga untuk melindungi kulit dari gangguan gigitan binatang kecil seperti semut yang genit, nyamuk yang nakal, ataupun kutu yang seharusnya bersarang di kepala singa yang gondrong dan model potongan rambut yang khas ala raja hutan itu. Jadi pakaian semakin tertutup seharusnya semakin bagus. Fungsi tambahan lainnya buat kesopanan dan keindahan di depan publik. Silakan tentukan sendiri gaya pakaian anda berdasarkan kondisi dan aturan budaya setempat serta tuntunan agama masing-masing. Jadi seandainya ada cewek ABG alay Indonesia, cabe-cabean, kimcil atau apalah sebutannya, meniru berpakaian minim kemudian melewati gerombolan cowok-cowok hingga berhasil membuat jakun mereka naik turun karena menelan air liur sebagai bentuk pencegahan dasar supaya tidak ngiler, adalah salah besar. Jangan salahkan cowok terong-terongan tersebut menjadi mes*m dan melakukan hal yang tidak diinginkan (khusus terong-terongan, kalau cowok yang sudah dewasa seharusnya sudah bisa menahan dan mengontrol diri). Lagian ngapain sih jenis kulit Indonesia mau dijemur juga, ingin gosong seperti singkong bakar? Kalau ingin meniru mbok ya pilih-pilih yang sesuai dengan kondisi dan keadaan di sini. (maaf ya paragraf tentang pakaian ini jadi panjang seperti emak-emak yang sedang ngomel memarahi anaknya yang moralnya sedang merosot).

Jadi menurut saya budaya barat tidak sepenuhnya jelek, budaya timur tidak sepenuhnya bagus, budaya timur tengah tidak sepenuhnya kolot, dan budaya luar angkasa kalau memang benar adanya alien tidak sepenuhnya paling canggih. Kita semua generasi muda dari negara manapun sama, sama-sama sedang ditugasi untuk berjuang memajukan bangsa dan negara masing-masing. Dan mungkin juga sama-sama sedang ‘difitnah’ oleh generasi tua sebagai generasi yang moralnya sedang merosot bahkan nyungsep bagaikan anak gendut yang kepalanya jatuh lebih dulu waktu meluncur pada mainan perosotan di sekolahan Playgroup.

Hal yang membedakan cuma persepsi saja, orang barat menganggap orang timur sebagai orang terbelakang sedangkan orang timur menganggap orang barat sebagai orang yang terlalu bebas. Padahal keduanya ada nilai plus minusnya. Nah di era globalisasi inilah kesempatan kita untuk mengenal budaya mereka, mengambil nilai positifnya dari mereka untuk menggantikan sisi jelek pada diri kita yang memang sudah seharusnya dibuang ke Bantar Gebang. Bukan malah saling menjelek-jelekan. Globalisasi merupakan persaingan, siapa yang mempunyai kemampuan dan kualitas terbaik akan menang. Mengalahkan lawan dengan menjelek-jelekan bukan cara yang elegan, apalagi jika orang yang menjelek-jelekan ternyata lebih jelek.

MENGHADAPI AFTA DAN GLOBALISASI YANG NYATA
Membahas AFTA sebetulnya hal yang cukup sulit buat saya. Mungkin karena sekian CC ukuran otak saya lebih kecil di bawah rata-rata. Seandainya saya belum terlanjur menulis sebanyak di atas, lebih baik saya hentikan saja. Tapi sudah kepalang tanggung dan dari pada saya main internet cuma upload foto selfie dan dicaption dengan hashtag yang banyak terus klik ‘like’ sendiri seperti kebiasaan alay-alay lainnya yang lebih mirip haus perhatian dan minta diperhatikan, lebih baik saya lanjutkan menulis saja. LANJUTKAN !!!

Saya mendengar AFTA sudah dari dulu bahkan sebelum Presiden Pak Dhe Jokowi “lahir”. Sayangnya yang saya dengar hanya sedikit saja. Gosip dari bisik-bisik tetangga saya yang hobinya arisan uang bukan brondong, mengatakan AFTA sebetulnya mau diperlakukan sejak tahun-tahun sebelumnya. Namun, biasalah mundur. Nah di tahun 2015 ini, masih dari narasumber tetangga saya tapi kali ini bukan yang suka arisan melainkan yang mengaku kenal dekat dengan Koh Ahok, mengatakan AFTA mau benar-benar diberlakukan.

AFTA adalah kependekan dari Asean Free Trade Area atau Perdagangan Bebas Area Asean. Keuntungannya kita bisa jual-beli barang dari sesama negara anggota Asean dengan bebas pajak. Ingat ya, maksudnya adalah bebas pajak bukan bebas jual-beli barang terlarang apalagi jual diri. Aturan perdagangan sehat tetap ada dan memang harus ada. Di balik keuntungannya ada juga tantangannya, yaitu kita akan bersaing ketat dengan negara berpendidikan lebih tinggi, seperti misalnya Singapura yang mayoritas muka ceweknya sangat imut cenderung unyu-unyu dan Malaysia yang bahasanya hampir mirip dengan bahasa kita atau mungkin bahkan lebih “lucu” selucu kartun favorit saya, Upin Ipin. Apakah kita sudah siap dan sanggup?

Sanggup gak sanggup bagaimanapun harus dihadapi karena itu adalah kenyataan yang sudah tampak di depan mata bukan seperti di acara Dunia Lain nya TransTV yang kalau sudah tidak sanggup melihat penampakan bisa melambaikan tangan ke kamera dan kemudian tim akan mendatangi pemain untuk menghentikan permainan. Soal persiapan, bagaimana mau siap bersaing dalam dunia yang membutuhkan kecerdasan dan mental kuat seperti baja yang tahan dibanting kalau menyelesaikan masalah dalam diri berupa kerusakan moral seperti mes*m, bertikai, mab*k, sak*w dan sebagainya saja belum becus? Jangan-jangan sebelum peluit persaingan ditiup kita sudah keok dan dilibas duluan seperti sapi dan mesin penggilingan dalam pabrik bumbu masak Royco.

Selain akan berdampak dalam bidang ekonomi, AFTA pasti akan mempengaruhi bidang sosial, budaya, dan mungkin bahkan ideologi juga. Dengan diberlakukan AFTA otomatis kita bebas sekolah atau kerja di negara sesama anggota AFTA lainnya. Begitu juga sebaliknya, banyak orang dari luar negeri yang mempunyai budaya beda dengan kita akan kerja di sini. Globalisasi yang sebelumnya dalam dunia maya, sekarang makin tampak dalam dunia nyata. “Wow emejing…emejing”, begitulah kata yang sering diucapkan Om Tukul Arwana kalau bawain acara Bukan Empat Mata untuk menyatakan kagum. Kondisi seperti itu mungkin kita akan banyak bertemu dan berteman dengan orang asing yang berasal dari negara entah berantah. Saran saya pintar-pintar saja bergaul. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, kalau ingin meniru budaya dan kebiasaan mereka, pilih-pilihlah yang positif dan yang cocok untuk diterapkan sebagai jati diri bangsa Indonesia. Soalnya kalau tidak cocok dan tetap dipaksakan, bisa-bisa kita dituduh moralnya merosot entah ke mana mungkin salah alamat dan budaya luar yang kita tiru langsung dijudge jelek. Padahal kan selebay itu.

HAL-HAL YANG BIASA DITUDUH SEBAGAI PENYEBAB MEROSOTNYA MORAL GENERASI MUDA
Saya pernah baca seseartikel di Wikipedia yang menyatakan bahwa moral termasuk produk budaya dan agama. Seandainya ada orang yang berperilaku bertentangan dengan budaya dan agama setempat maka bisa dikatakan amoral. Internet merupakan sarana yang bisa untuk mengakses segala informasi mulai dari barat sampai timur, deisme sampai satanisme, hal yang seharusnya privat dan rahasia sampai akhirnya diblenjeti oleh wikileaks yang memang punya hobi bongkar-bongkar, sehingga internet sering dijadikan tersangka utama dalam kasus kemerosotan moral.

Saya sebagai salah satu orang yang termasuk kecanduan internet karena kadang-kadang rela mengurangi jatah tidur hanya untuk browsing gak jelas, menyatakan tidak setuju kalau ada orang yang menyalahkan internet (yaelah, ketidaksetujuan saya pilingan karena sudah terlalu cinta dan bergantung pada internet. Biasalah, cinta membuat orang buta meski sering di PHP). Beberapa alasan saya untuk tidak menyalahkan internet iyalah:

1. Jauh sebelum internet ada, memang sudah banyak orang bej*d seperti misalnya Firaun- orang yang kisahnya abadi sepanjang peradaban.
2. Jauh sebelum adanya internet dan p*rn*grafi di dalamnya, sudah ada kaum yang melakukan penyimpangan s*eksual hingga menyebabkan kaum tersebut dilaknat dengan bencana.
3. Saya pernah baca sejarah nusantara katanya sudah dari jaman kerajaan dulu pemuda suka mab*k-mab*kan, minum t*ak, m*dat, dan melec*hkan lawan jenis dengan menganggap perempuan hanyalah barang. Mereka tetap saja ajep-ajep menikmati sisi gelapnya kehidupan meski minumnya cuma pakai gelas bambu diterangi lampu minyak apalagi boro-boro diiringi musik DJ.
4. Waktu saya googling mencari foto-foto sejarah Indonesia, saya menemukan beberapa foto wanita bali jaman dahulu. Dalam foto yang masih hitam putih dan diambil sebelum Indonesia merdeka tersebut, para wanita berpakaian dengan kain cuma menutup bagian pinggang kebawah. Sedangkan bagian atasnya terbuka. Kalau mau berpakaian “benar versi sekarang” bukankah sebaiknya kain tersebut ditarik ke atas untuk menutupi dada dan membiarkan bagian lutut kebawah yang terbuka?

Dari alasan-alasan yang sudah saya tuliskan diatas, masihkah menyalahkan internet sebagai penyebab utama kemerosotan moral?

Benda mati tak berdosa lainnya yang sering dituduh sebagai penyebab kemerosotan moral kedua ialah televisi. Saya sendiri juga bingung kepada keponakan saya yang masih sekolah. Sewaktu sekolah dibubarkan lebih awal gara-gara guru kelasnya kena musibah ibunya meninggal dunia, keponakan saya di rumah menghabiskan waktu dengan menonton TV gonta-ganti dua chanel. Chanel pertama film FTV remaja yang temanya tentang cinta dan adegannya pacaran tapi dengan setting background sekolahan. Gaya hidupnya hedonis. Pemain ceweknya berdandan…Oh Em Ji, hello…menor cetar membahana maksimal bingitz mengalahkan glamornya Princess Teteh Syahrini. Sedangkan cowoknya gak mau kalah, memamerkan mobil sport mewahnya yang berhasil membuat saya iri. Chanel kedua iyalah pertunjukan musik yang disiarkan tiap pagi secara live dan penontonnya adalah cabe-cabean dan terong-terongan dengan jogetan khasnya yaitu gaya cuci-cuci jemur-jemur (ituloh, jogetan sambil berdiri tangan disamping memperagakan seperti sedang ngucek cucian kemudian setelah itu tangan dikedepankan seperti sedang jemur pakaian, dan mulut teriak eee….aaa.. Sudah paham belum? Kalau belum memang lebih baik gak usah paham sekalian saja). Gila, acara begituan di jam kerja dan target penontonnya usia produktif. Padahal dalam acara tersebut penyanyinya adalah sekuter (selebritis kurang terkenal) yang memanfaatkan aji mumpung karena namanya agak terkenal sebagai pemain sinetron. Teman saya saja dengan sok taunya bilang bahwa sebagian dari mereka cuma lipsinc. Meski cuma sok tau, saya perhatikan ada benarnya juga. Masa’ penyanyi ajimumpung dan baru, bisa nyanyi sambil joget enerjik melebihi Agnes Monica dan meski nafas sudah kelihatan banget ngos-ngosan serta megang mic nya kesana-kesini sudah tidak stabil, tapi suara lagunya tetap mulus tanpa fals? Pokoknya kalau dipikir-pikir gak worth bangetlah nonton begituan di jam segitu…

Sebagai orang awam dan menghadapi acara TV yang seperti itu, hal yang bisa kita lakukan hanyalah memahami bahwa televisi hanyalah ladang bisnis. Dimana ada acara TV yang booming, banyak penonton dan mendapat rating tinggi pasti pihak TV akan membuat acara sejenis secara jor-joran dan tidak memperdulikan apakah acara tersebut banyak manfaat atau tidak. Seperti kemarin waktu acara komedi ngetrend, akhirnya banyak pula acara komedi yang bermunculan bahkan ditiru stasiun TV lainnya. Sekarang acara India ngetrend, akhirnya banyak TV TV lain yang ikut menayangkan film India bahkan ada loh salah satu stasiun TV yang memboyong pemain India-nya untuk datang ke sini.

Setelah memahami seperti itu, langkah selanjutnya adalah jangan tonton acara TV yang kita anggap tidak ada manfaatnya, kalau perlu ajak adik dan teman-teman untuk tidak menontonnya. Lama-kelamaan acara tersebut pasti akan berkurang penontonnya, ratingnya menurun, tidak ada iklan yang mau sponsori, akhirnya meredup dan pihak TV akan mengganti dengan acara yang lain. Intinya televisi hanya mengikuti pasar saja kok.

PENYEBAB UTAMA KEMEROSOTAN MORAL DAN SOLUSINYA
Di atas saya sudah katakan bahwa internet tidak ada salahnya karena seperti yang kemarin pagi, rabu (14/1) Mamah Dedeh bilang dalam acara tausiyah di Indosiar yang penontonnya kalau mau mengajukan pertanyaan selalu bilang, “Curhat dong mah, iya dong…” bahwa internat dan facebook hanyalah seperti pisau. Apakah pisau tersebut buat masak, membunuh orang atau bahkan buat bunuh diri tergantung tuannya.

Saya yakin setiap manusia sebetulnya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk kecuali kalau memang manusia tersebut mempunyai kelainan jiwa. Hanya saja biasanya manusia kalau diibaratkan di film-film, kalau sedang galau atau kepepet dari dalam kepalanya sebelah kiri akan muncul sesosok makhluk ghaib berjubah hitam, bawa tongkat, dan bertanduk merah menghasut kita untuk berbuat perbuatan yang tidak baik. Selang beberapa detik baru muncul makhluk ghaib lainnya berwarna putih di sebelah kanan yang melarang kita untuk mengikuti hasutannya.

Menurut saya, makhluk ghaib warna hitam yang memang tempat bersemayamnya dalam diri kita itu lah yang menyebabkan moral kita menjadi jelek. Solusinya? Saya sendiri bingung apa solusinya. Mungkin pendidikan kepribadian sejak dini dari orang tua dan agama ampuh dan bisa diandalkan untuk dijadikan jalan keluarnya. Soalnya kedua ajaran itulah yang langsung mendidik jiwa kita sebagai manusia. Sudah ah, saya capek ngetik soalnya tidak bisa ngetik pakai 10 jari. Bisanya ngetik pakai 2 jari telunjuk dan itupun kadang-kadang keder tombol huruf a dimana.

Begitulah menurut pendapat saya tentang penyebab kemerosotan moral dan solusinya dalam rangka menghadapi era globalisasi. Intinya lebih baik kita memperkuat ketahanan diri dari godaan nafsu yang berasal dari luar dan memperdalam agama saja. Tidak perlu menjudge budaya orang lain jelek apalagi menuduh benda mati yang tak berdosa.

Catatan: Mohon maaf kepada sejumlah tokoh besar dan artis yang namanya sengaja saya sebut seperti Pak Presiden Joko Widodo, Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, Mamah Dedeh, H.Bolot, Agnes Monica, Tukul Arwana, Syahrini, dan sejumlah nama stasiun televisi + program acara, serta sejumlah merk produk. Maksud saya hanyalah untuk membuat bahasan tulisan saya menjadi terasa ringan dan berharap para pemuda-pemudi, baik yang belum atau sudah terlanjur menjadi cabe-cabean dan terong-terongan mau membacanya sampai habis.

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *