[Karya KBM3] Duh, Para Remajaku Kini

Posted on Updated on

Membicarakan masalah moral pada remaja ,rasa-rasanya susah untuk menutup mata akan situasi ini. Karena disetiap lini kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pemuda juga mengambil peran dalam system yang saling terhubung antara satu dengan lainnya. Sudah banyak permasalahan yang diakibatkan oleh remaja-remaja di lingkungan sekitar maupun lingkungan secara luas. Dalam kehidupan lingkungan terdekat saja contohnya, beberapa remaja yang mulai tertular dengan efek budaya barat ataupun artis-artis yang mereka tonton. Misalnya saja anak SMA yang labelnya adalah siswa siswi MA namun justru moralnya tidak lebih baik dari siswa siswi yang sekolahnya di sekolah umum biasa, padahal pelajaran agama di kelas hanya sedikit jam saja. Contoh lebih spesifiknya lagi adalah para remaja yang berjilbab namun sebenarnya tidak. Ya tentu bisa membayangkan sendiri, mereka berjilbab namun bagian belakang rambutnya sengaja dilihatkan kepada orang lain, maupun yang poninya dikeluarkan. Entah apa tujuan mereka seperti itu, selidik punya selidik saat itu sedang booming trend untuk rebonding ataupun smoothing rambut. Jadi bisa saja berjilbab namun sebenarnya tidak ini adalah untuk memperlihatkan kepada orang-orang bahwa ternyata mereka habis melakukan rebonding pada rambutnya.

Dilihat dari contoh permasalahan tersebut dapat dilihat bahwa bisa jadi penyebab dari perilaku tidak baik mereka adalah karena percontohan dari budaya luar ataupun budaya dari artis-artis yang mereka tonton, dimana mereka senang memperlihatkan aurat rambutnya yang direbonding tersebut, namun karena tuntutan sekolah yang mengharuskan mereka menggunakan jilbab, maka mau tidak mau mereka mengambil pilhan untuk tetap memperlihatkan hasil “contekan” budaya tersebut namun tetap tanpa menghindari peraturan sekolah.

Untuk saran dari penulis atas permasalahan moral remaja diatas adalah, mungkin pendekatan pertama adalah dari keluarga karena merupakan tempat terdekat pelaku. Keluarga bisa saja memperingatkan anak-anaknya atau saudaranya ketika melihat mereka berangkat sekolah namun dengan tampilan yang seperti diatas. Peringatan kecil bisa dilakukan namun dengan intensitas yang sering, kalau perlu disertai dengan perbuatan. Selain itu sosialiasi atau penanaman agama yang lebih mendalam disekolah bisa diberikan lebih lanjut, karena meskipun mereka itu sekolah dimana jam pelajaran agamanya lebih banyak daripada sekolah lain, namun justru sifat atau moral mereka tidak mencerminkan perilaku yang baik. Sehingga guru bisa lebih memberikan pendekatan kepada siswa siswinnya lagi lebih dalam.

Lalu contoh perilaku remaja lain adalah “hidup seperti di sinetron”. Ya ada beberapa contoh dari perilaku ini, dimana remaja tersebut karena seringnya ia menonton sinetron sehingga pengaruhnya terbawa dalam kehidupannya sehari-hari. Jika pengaruh yang diberikan itu baik, maka tidak ada masalah. Namun jika pengaruh yang diberikan itu buruk, lalu apa bisa kita tidak merasa prihatin akan situasi ini? Sedikit masalah dengan laki-laki langsung nangis, langsung galau berhari-hari, ataupun melakukan sesuatu yang kurang pantas seperti menampar si laki-laki bak di sinetron-sinetron yang ditayangkan di televisi Indonesia.

Tidak lain dan tidak bukan ini merupakan salah satu efek dari tontonan televisi Indonesia yang semakin memprihatinkan ini. Kebanyakan dari tontonan tersebut tidak memperlihatkan budi pekerti yang baik, yang sesuai dengan tuntunan dalam agama Islam, namun justru sebaliknya. Menghancurkan dan bertolak belakang. Jika para remaja tidak sadar akan situasi ini, maka bisa dibayangkan akan jadi apa pemuda pemudi Indonesia tersebut. Mereka akan jadi pemuda yang lemah, dan mudah untuk dipengaruhi juga meniru sesuatu hal. Oleh karena itu, peran beberapa pihak sangat dibutuhkan, terutama pihak televisi. Penulis mohon dengan sangat bahwa sediakanlah tontonan yang sekiranya mendidik untuk anak-anak ataupun untuk remaja Indonesia. Karena anak-anak merupakan peniru ulung. Yang remaja pun, meskipun secara fisik mereka sudah besar, namun terkadang masih terdapat remaja yang susah untuk menyerap baik dan buruk suatu tontonan. Untuk keluarga juga penting dalam memberikan pendidikan pertama dirumah, dengan memperingatkan anak jika menonton hal-hal yang sekiranya tidak pantas.

Dari sekian solusi yang ada, tentu solusi utama dari semua ini adalah kembali lagi pada memberikan pemahaman agama sejak awal. Karena jika anak sudah memiliki pondasi agama yang baik dan kokoh, maka Insya Allah berbagai macam godaan buruk dari lingkungan maupun lainnnya bisa di tangkis dan difilter baik buruknya. Sehingga bisa tercipta remaja yang soleh dan solehah juga berperilaku baik dimana efeknya dapat dirasakan didalam keluarga, lingkungan masyarakat, juga terhadap Negara.

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *