[Karya KBM3] Enggan Belajar Berujung Kerusakan

Posted on Updated on

Kini semangat anak muda untuk mempelajari agama telah pudar. Semangatnya kalah dengan di kala kanak-kanak dulu yang setiap hari setia menghadiri majelis TPA di masjid kampung.

 

Hari menjelang sore, panas matahari mulai berganti hangat. Anak-anak berbaju koko lengkap dengan peci berlarian saling berkejar-kejaran. Tujuan akhir mereka adalah sebuah masjid yang berdiri gagah di tengah-tengah kampung. Tidak salah lagi, mereka adalah anak-anak Teman Pembelajaran Alquran (TPA) yang setiap sore setia memenuhi masjid dengan lantunan doa dan tilawah Alquran.

 

Semakin sore suara riuh di dalam masjid semakin menjadi-jadi. Ada yang berlarian, ada yang berteriak, dan ada yang menangis sampai sejadi-jadinya. Diantara mereka pun ada yang tetap khusyuk dengan pensilnya menyalin bentuk huruf-huruf arab sambil melenggak-lenggok. Namun, satu hal yang menjadi persamaan diantara mereka semua, yaitu semangat untuk belajar agama tanpa paksaan, bahkan mereka melakukannya dengan riang gembira.

 

Melihat tingkah laku anak-anak TPA seperti itu menghadirkan nostalgia tersendiri bagi kita. Dulu di saat kecil kita juga merasakan kegembiraan yang sama seperti mereka. Mengaji, mendengar cerita, belajar berwudhu, sampai berbuka bersama kita lakukan dengan amat gembira. Bahkan setiap sore kita selalu menanti teman-teman di depan rumah untuk berangkat bersama-sama sambil bercanda dan berlarian. Namun, semua itu kini hanya menjadi kenangan masa kecil semata.

 

Pernahkah timbul di dalam hati kita perasaan malu sementara otak kita memutar kembali kenangan saat menjadi anak TPA? Memang sebuah pertanyaan yang aneh, mengapa kita harus malu? Bukankah seharusnya kita bangga karena masa kecil kita gunakan untuk belajar agama? Namun, mengapa hanya di masa kecil saja kita belajar?

 

Berkaca kembali pada masa kecil kita sebagai anak TPA, kemanakah semangat belajar itu pergi? Semangat untuk setiap hari mengaji dan belajar berbagai ilmu agama sudah menguap dari diri kita semenjak menjadi remaja. Memang benar TPA hanya untuk anak-anak kecil saja yang masih belajar mengaji dan berwudhu. Namun, apakah belajar agama sudah tidak perlu dan tidak harus untuk yang sudah tidak anak-anak lagi?

 

Sejak “lulus” dari TPA kita semakin jauh dari pendidikan agama. Apa yang kita sebut semangat itu sudah benar-benar hilang dari diri kita. Semangat untuk menimba ilmu agama lebih telah sirna dari jiwa kita. Berbicara kerusakan moral tak perlu jauh-jauh, kenyataan hilangnya semangat ini juga bisa kita katakan sebagai kerusakan moral. Kerusakan moral berupa kesombongan kita yang seakan berkata, “Aku sudah pandai! Tidak perlu lagi belajar agama seperti anak-anak TPA.” Kita terlalu sombong dan gengsi untuk belajar agama.

 

Mengapa kita harus terus belajar agama? Apakah kita harus kembali lagi duduk lesehan di masjid sambil mengaji dan bernyanyi seperti anak-anak TPA itu? Pertanyaan ini mungkin akan timbul di benak kita untuk menyatakan keberatan kembali belajar agama. Kita mungkin juga sudah merasa bisa dan cukup dengan bekal ilmu agama yang didapat sewaktu menjadi “santri TPA”. Apalagi ditambah dengan pelajaran agama di sekolah hingga SMA membuat kita semakin merasa memiliki cukup ilmu dan pengetahuan agama. Namun, apakah semua itu benar-benar sudah cukup?

 

Kesombongan telah menutup mata kita, telah membuat kita merasa puas dengan segala keterbatasan ilmu agama. Benar bila kita sudah bisa melaksanakan shalat, puasa, sudah mengetahui berbagai macam dosa, berbagai macam amal kebaikan, dan lain sebagainya. Namun, belajar agama bukanlah sekedar membawa kita dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa. Lebih dari itu, belajar agama menjadi sebuah pengingat bagi diri kita dan akan membawa kita dalam keadaan selalu terjaga. Karena kodrat manusia untuk selalu salah dan lupa maka harus selalu diingatkan supaya tidak terlalu lama dalam keadaaan tersebut.

 

Apabila alasan kita tidak lebih belajar agama adalah merasa cukup dengan ilmu agama yang sudah didapat maka itu sekali lagi jelas sebuah kesombongan. Karena realitas menunjukkan betapa kita membutuhkan ilmu agama lebih dari yang sudah kita dapatkan. Terlihat dari cara shalat kita yang masih salah-salah, bacaan Alquran kita yang masih saja tidak ada kemajuan, dan lain sebagainya. Lebih jauh lagi, apakah kita sudah benar-benar memahami ayat-ayat Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW dengan benar? Sungguh tidak pantas bagi kita untuk berlaku sombong.

 

Kita akan malu bila mengetahui semangat belajar agama para pemuda yang sudah mendahului kita. Sebut saja Imam Asy-syafii yang hafal Alquran pada usia tujuh tahun, menghafal berbagai kitab, hingga belajar kepada berbagai guru di bermacam tempat1. Tentu kita sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding beliau yang menghabiskan masa mudanya untuk belajar agama. Sementara kita masih sibuk dengan berbagai macam alasan untuk tidak belajar agama.

 

Setelah mengetahui berbagai realita kesombongan kita menolak belajar agama, mari bersama-sama kita merenung. Kita merenungkan kembali alasan yang membuat kita begitu jumawa mengesampingkan belajar agama. Padahal jelas bila ditengok dalam diri kita begitu banyak ruang kosong yang perlu diisi dengan ilmu agama. Kita sangat membutuhkan ilmu agama entah disadari maupun tidak.

 

Seperti yang sudah dijelaskan di paragraf-paragraf sebelumnya, kita sangat membutuhkan ilmu agama dalam kehidupan. Ilmu yang akan memperbaiki cara beribadah yang masih salah-salah, pemahaman kita akan ketauhidan, dan tingkah laku kita sehari-hari. Keberadaan agama sangat membantu dalam membimbing manusia ke arah yang lebih baik. Namun, agama harus dipelajari untuk mendapatkan semua bimbingan itu.

 

Lantas, sebenarnya apakah yang membuat kita begitu menjauh dari belajar agama? Bila dapat kita mencari dan menyederhanakan, maka kita akan mendapatkan dua jawaban. Dua hal yang menjadi alasan kita menjauh tersebut adalah kemalasan dan disorientasi. Tentu tidak menutup berbagai alasan lain yang masih memungkinkan. Namun, dua hal tersebut telah mewakili berbagai jawaban atas apa alasan kita menjauh dari belajar agama.

 

Malas, sebuah kata sederhana namun mampu merusak banyak hal. Banyak hal yang telah direncanakan dapat rusak dan gagal karena satu kata ini. Berbagai macam alasan pun dirangkai demi memuja kemalasan yang telah merambat dalam diri. Malas pun menjadi induk bala dari berbagai kerusakan, termasuk di dalamnya menjadi penghalang niat untuk belajar agama.

 

Setiap kali ada kesempatan untuk belajar agama melalui apapun malas selalu menghalangi diri kita. Di saat ada kajian agama di masjid kita berkelit dengan alasan lelah seharian berkegiatan. Di saat ada kesempatan untuk membaca buku agama kita mengelak sudah mengantuk. Berbagai alasan lain pun ikut tersusun rapi demi menolak dengan halus berbagai ajakan dan kesempatan untuk belajar agama. Benar-benar kita telah memuja kemalasan dalam diri kita.

 

Kemalasan telah melenakan diri kita dari kewajiban dan kebutuhan belajar agama. Kemalasan pun telah membuat kita “kreatif” menyusun berbagai alasan untuk tidak belajar agama. Lebih parah lagi bila alasan itu disusun dengan hal lain yang dibuat lebih tinggi dari belajar agama. Kita memposisikan belajar agama di bawah kewajiban lainnya yang entah benar-benar lebih penting maupun tidak.

 

“Besok kapan-kapan saja ya, aku mau belajar untuk ujian besok,” sebuah jawaban yang mungkin pernah terlontarkan dari lisan kita kala menolak ajakan mengikuti kajian agama. Sekilas terlihat benar dan sah-sah saja, tetapi sebenarnya bila dilihat lebih dalam hal ini termasuk disorientasi. Sebuah keadaan kita kacau kiblat dan arah, keadaan kita salah .memposisikan prioritas dalam hidup kita. Disorientasi kadang samar terlihat tetapi telah benar-benar merusak diri kita.

 

Menengok kembali kewajiban dan kebutuhan belajar agama yang begitu besar tidaklah bijaksana bila menempatkan belajar agama di bawah. Namun, kita belum benar-benar memahami kedudukan belajar agama yang seharusnya di atas tersebut. Kita masih panjang angan-angan untuk dunia sehingga waktu, tenaga, hingga biaya banyak kita nafkahkan untuk keduniaan. Belajar agama yang kita anggap tidak begitu penting untuk segala angan-angan dan “mimpi” kita kesampingkan begitu saja. Hal ini seharusnya tidak terjadi pada generasi muda harapan bangsa, terlebih bagi generasi muda muslim.

 

Generasi muda sangat diharapkan demi masa depan bangsa yang lebih baik. Maka, harus segera dicari solusi atas permasalahan di atas. Solusi kreatif sangatlah dibutuhkan melihat begitu pentingnya ilmu agama untuk generasi muda. Apabila belajar agama telah dikesampingkan, maka akan merembet ke berbagai kerusakan moral lain yang lebih besar dan berbahaya. Solusi untuk membuat generasi muda kembali belajar agama benar-benar sangat dibutuhkan.

 

Bermula dari masalah yang bersumber dari kemalasan maka solusi utama berasal dari diri pribadi. Malas yang asalnya dari diri pribadi generasi muda harus dihilangkan. Masing-masing pribadi generasi muda harus memahami kembali kewajiban dan kebutuhan dirinya akan belajar agama. Pemahaman ini pun harus ditanamkan secara mendalam agar rasa malas tersebut dapat dihilangkan dari jiwa generasi muda. Tentu poin penting terletak pada masing-masing individu generasi muda apakah mereka mau menerimanya atau tidak.

 

Demi menanamkan pemahaman betapa pentingnya belajar agama diperlukan juga cara-cara yang kreatif. Generasi muda sekarang enggan mengikuti apa yang mereka anggap ketinggalan zaman. Mereka hanya akan mengikuti apa yang disebut trend dan apa yang populer di masa kini. Di sisi lain, mereka juga akan mengikuti apa yang baru dan menarik bagi mereka untuk diikuti. Dakwah kreatif dan menarik dapat menjadi solusi yang tepat menangani permasalahan ini.

 

Selama ini banyak dakwah yang masih menggunakan cara-cara konvensional seperti forum kajian, buku-buku, dan sejenisnya. Model dakwah semacam ini memang efektif apabila melihat tujuannya untuk menyebarkan kebenaran. Namun yang menjadi masalah adalah objek dakwah yang masih sempit dan itu-itu melulu. Hanya para aktivis dan orang-orang tua lah yang mengikuti model dakwah semacam ini. Bagaimana dengan anak muda? Tentunya akan enggan mengikuti model dakwah yang masih “kuno” semacam ini.

 

Kreasi dan inovasi diperlukan untuk membawa dakwah ke bentuk yang lebih menarik. Hal ini bertujuan memperluas jangkauan objek dawah hingga ke berbagai usia terutama anak muda. Dakwah kreatif bisa dimulai dengan hal sederhana seperti tweet-tweet singkat dengan kata-kata nan memikat. Bisa juga dengan karya-karya grafis yang menarik dengan pesan-pesan sederhana namun  mengena. Baru setelah itu dimasukkan ajakan-ajakan untuk mendalami lebih dalam melalui artikel, buku, hingga kajian maupun diskusi keagamaan.

 

Dakwah kreatif dapat dilaksanakan semua pihak baik lembaga dakwah maupun pribadi. Lembaga dakwah di sekolah, kampus, hingga lingkungan masyarakat harus terus memutar otak dan inovasi demi menelurkan berbagai model dakwah yang memikat. Dengan ini, rasa malas untuk belajar agama di kalangan anak muda dapat berkurang sedikit semi sedikit dan berubah menjadi kemauan diri untuk memperdalam agama. Karena bekal ilmu agama inilah yang nantinya akan membawa kepada keberhasilan dan kebaikan moral generasi muda.

 

End Notes :

  1. Baca “Masa Kecil Imam asy-Syafii dan Semangatnya Menuntut Ilmu Agama” dalam http://fatwasyafiiyah.blogspot.com/2011/10/masa-kecil-imam-asy-syafii-dan.html#ixzz3OrH26x3y

 

muslimedianews.com

cyberdakwah.com

piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *