[Karya KBM3] Generasi Muda Di Lingkaran Dekadensi Moral

Posted on Updated on

Oleh: Yudianto.

 

Generasi muda dipercaya dan diharapkan menjadi sosok pelopor perubahan kehidupn yang lebih baik di masa mendatang. Kepada mereka jugalah  nilai-nilai mulia kehidupan ditanamkan, dengan harapan agar terus dilestarikan, terus berkesinambungan. Sungguh, di tangan merekalah nasib masyarakat, bangsa dan negara ini dipertaruhkan.

Akan tetapi, dalam realitas kehidupan, generasi muda tidaklah begitu mudah memenuhi harapan tersebut. Mengingat, keberadaannya sering menjadi bahan ekploitasi dari pihak lain, yang  mengabaikan begitu saja kepentingan mereka.

Terlebih lagi, generasi muda menghadapi   ancaman lunturnya moralitas mereka, yang mampu membikin kerdil pemikiran dan  rusak ahlaknya. Sehingga mereka yang tidak bisa diandalkan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama bahkan bernegara.

Lalu, fenomena apakah yang merujuk terjadinya dekadensi moral di kalang generasi muda? Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan agar efeknya tidak meluas?

 

Ragam Fenomena

Sesungguhnya banyak sekali fenomena terjadinya dekadensi moral di kalangan generasi muda. Di antaranya yang cukup menonjol adalah :

  1. Keranjingan Pornografi.

Generasi muda keranjingan pornografi, bukanlah ada pada tahun-tahun terakhir ini saja, Fenomena ini telah muncul 2-3 dekade lalu, bahkan mungkin lebih awal lagi. Saat itu, materi pornografi masih relative sulit didapat, kecuali mengetahui jalur-jalur distribusi yang cukup ‘rahasia’. Itupun dengan format yang cukup spesifik semisal cerita stensilan Enny Arrow, novel petualangan Nick Carter, majalah ex. Luar negeri ataupun film seronok pengumbar nafsu sahwat dalam kaset video Betamax. Tentu saja peredarannya pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dalam lingkungan komunitas yang relatif terbatas.

Sekarang ini, dalam keterbukaan informasi di era internet kondisi jauh berbeda. Generasi muda yang keranjingan pornografi jumlahnya makin massif. Maklum materi pornografi dengan terlalu mudahnya diakses oleh siapapun, termasuk para newbie. Hanya mengetikkan satu kata, plus beberapa klik, maka segudang konten pornografi bisa dinikmati dengan sepuas hati.

Kondisi itu makin parah, ketika para orang tua membekali anak-anaknya dengan ponsel berfasilitas pemutar multimedia. Entah karena tidak peduli ataukah tidak engerti bahwa posel tersebut bisa disalahkan gunakan untuk akses konten pornografi dari kamar tidur anak-anak mereka

Padahal, dengan menikmati konten pornografi. Rangsangan seksual seseorang akan meningkat. Fantasi seseoramg bisa liar dan tak terkendali. Bila demikian keadaannya, mereka dengan mudah bisa terjerumus pada kebiasaan buruk untuk melakukan pemuasan diri. Misalnya lewat perilaku sex swalayan, yakni melakukan onani atau masturbasi.

Seperti halnya kejadian yang menimpa seorang anak yang duduk dibangku SMA, secara tak terduga kepergok oleh ibunya sedang melakukan onani. Kontan sang ibu marah besar dan mendamprat habis anaknya. Sang ibu pun kaget luar biasa begitu memeriksa isi memory card di ponsel anaknya banyak ditemukan file video berlabel Matematika bab 1,2,3, 4 dan seterusnya. Ketika dibuka isinya berbagai adegan ranjang yang sangat vulgar.

Lalu, apakah hanya generasi muda yang punya gadged atau laptop saja yang jadi korban sebagai pecandu pornografi? Ternyata, juga tidak.  Berdasarkan hasil pengamatan, banyak para pelajar SMP/SMA yang pergi ke warnet dengan alasan menyelesaikan tugas sekolah. Sebagian di antara mereka, ternyata menyempatkan diri  pula untuk  browsing ke beragam situs porno. Yang paling mengejutkan pelakunya bukan Cuma pelajar laki-laki saja, pelajar perempuan pun cukup banyak.  Bahkan sebagian lagi, saat bolos sekolah, malah berada di bilik warnet menyalurkan hobi mereka.

  1. Menganut pergaulan bebas

Pergaulan bebas adalah model gaya hidup seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain  dengan tidak lagi mematuhi atau norma-norma social dan agama, sehingga mereka merasa bebas melakukan segala sesuatu asalkan dilakukan secara sukarela atau tanpa paksaan. Pola hidup ini sangat permisif terhadap terjadinya hubungan seksual di luar nikah. Hidup gaya suka-suka ini telah menjeremuskan banyak generasi muda dalam kehidupan yang membolehkan hubungan seks dengan gonta-ganti pasangan tanpa ikatan sacral apapun. Perempuan muda yang terlibat pergaulan bebas ini seringkali memperoleh sebutan pereks (perempuan eksperiman). Maklum kesedian mereka untuk berhubungan seks seringkali dilakukan bukan atas dasar pemberian uang semata.

Benar sekali, pergaulan bebas sesungguhnya masalah social yang sudah sejak lama terjadi dan berulang terjadi di era generasi berikutnya.  Masih segar diingatan kita, tahun delapan puluhan, dunia dihebohkan dengan merebaknya gaya hidup samen leven yang mengacu pada hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan sah yang agamis. Juga mencuatnya kampanye Children of God, yang memiliki gaya hidup yang hampir serupa.

Paham pergaulan bebas semacam itu  juga sudah diadopsi sebagai gaya hidup oleh sebagian mahasiswa di tanah air. Memang mereka tidak pernah mendekrarasikan diri. Akan tetapi, bila diamati gaya hidup kesehariannya, mereka  ada indikasi kuat mereka adalah para pendukung samen leven. Tidak percaya?

Coba saja amati kehidupan kos-kosan mahasiswa, terutama sekali yang tidak ada induk semangnya. Kita Akan dengan mudah menemukan praktek-praktek pacaran dengan segala variasinya yang mengarah pada pola pergaulan bebas.

Di sisi lain, generasi muda yang keranjingan pornografi seakan memperoleh “tempat” yang nyaman dengan gaya hidup pergaulan bebas ini. Mereka dengan mudah memperoleh peluang  mempraktekkan apa yang mereka tonton dengan pasangan mereka sendiri. Tak heranlah, bila hasrat seks keduanya memuncak, tempat-tempat sepi, kamar kost, kamar losmen/hotel, mobil pribadi, ruang karaoke, supermini theater dan bilik-bilik warnet menjadi tempat favorit melakukan penetrasi.  Dengan perilaku pergaualan bebas di kalangan generasi muda yang sedemikian akut, sedikit bersikap sembrono saja, bisa berakibat  hamil di luar nikah!

  1. Doyan Miras dan narkoba.

Generasi muda telah dihadapkan, pada kenyataan pahit akibat lingkungan sosial yang menjermuskan ke lembah kehinaan. Mereka pertama kali mengenal miras ataupun narkoba, seringkali karena rasa penasaran dan sikap ingin mencoba saja. Ada pula yang didorong demi pembuktian diri ataupun agar tak terisolir di sebuah kelompok pergaulan.

Ada kasus, seorang pelajar yang duduk di kelas 3 SMP yang nota bene kesehariannya bertabiat lurus-lurus saja, suatu ketika diketahui sedang keadaan mabuk oleh orang tuanya. Bola matanya yang memerah, bau mulut beraroma alcohol, jalan agak sempoyongan dan bicara yang cenderung tak terkontrol. Tersimpulkan, mabuk akibat minum miras. “Lho kok bisa?” ungkap orang tua pelajar tersebut penuh keheranan. Usut punya usut, ternyata pelajar tersebut  telah mengkonsumsi miras sejak 4 bulan terakhir. Pertama kali dikenalkan minuman keras oleh salah seorang mahasiswa yang kost di rumah tersebut, saat pesta miras berlangsung. Celakanya,  pesta miras itu dilakukan di salah satu kamar kost, rumahnya sendiri.

Dari kasus factual di atas, memberi pelajaran kepada kita, bahwa kewaspadaan terhadap narkona maupun miras harus selalu dicanangkan. Sumber penyebaran miras atau narkoba tidak selalu berasal dari lingkungan luar, tetapi bisa berasal dari lingkungan dimana kita sehari-hari bertempat tinggal!

Begitu mencoba sekali, generasi muda akan dengan mudah untuk mengulangi dan mengulangi, sehingga menjadi kecanduan. Celakanya, pada tahap ini seringkali miras ataupun narkoba dipakai sebagai bentk pelarian diri dalam mengatasi berbagai persoalan  dalam kehidupan ini.

Masalah punggunaan miras dan narkoba  menjadi masalah yang sangat krusial. Karena tidak hanya membahayakan kesehatan generasi muda, tetapi juga akan merampok masa depan mereka yang gemilang.

Benar, sesungguhnya gaya hidup bermiras ria atau bernarkotik ria hanya akan terwujud bila seseorang memiliki cukup uang. Karena itu jika seseorang sudah kecanduan, kebetulan dia tidak memiliki uang, maka bisa menstimulir seseorang untuk memperoleh uang dengan cara–cara criminal, semisal dengan melakukan tindakan pencurian dan pengompasan (meminta uang secara).

Paling tidak seperti apa yang dialami seorang pemuda tetangga desa yang tertangkap tangan mencuri di sebuah kios dalam pasar.  Setelah diusut, ternyata berbagai hasil pencurian yang dilakukannya sebelumnya, justru hanya digunakan untuk pesta miras bersama teman-temannya.

  1. Merebaknya Perilaku Vandalis

Perilaku vandalis adalah perilaku yang cenderung bengal, tidak bertangung jawab, terkadang dipenuhi sikap emosional yang menafikan pikiran jernih, mengabaikan nilai-nilai kehidupan yang mulia dan norma masyarakat.

Format perilaku vandalis di antaranya melakukan perusakan fasilitas umum. Melakukan aksi grafitis / corat coret pada bangunan atau property yang dimiliki masyarakat. Melakukan perkelahian antar kelompok. Juga tindak kekerasan kepada pihak lain secara tak bertangung jawab. Bahkan dalam beberapa kasus, juga mengarah pada aksi criminal jalanan, termasuk pemalakkan dan pencongkelan kaca spion kendaraan baik roda dua maupun roda empat.

Tindak vandalis  yang dilakukan generasi muda, seringkali menjadi-jadi karena dapat dukungan dari anggota kelompok yang lain.  Hal ini setidaknya pernah dialami penulis saat remaja, beberapa tahun lalu, tatkala mau nonton sebuah acara di Surabaya dengan naik kereta api. Mengingat, kami – gerombolan anak muda yang rata-rata berpenampilan dekil dan berkantong pas-pasan dalam jumlah ratusan – maka dengan pongah berani naik KA tanpa bayar karcis, nongkrong di atas atap sambil bernyanyi-nyanyi penuh keriangan layaknya para pejuang yang berangkat ke medan laga. Bahkan berani “menguasai” gerbong  dengan menutup pintu dari dalam, melarang penumpang lain masuk gerbong. Serta yang paling konyol, melempari beberapa stasiun yang terlewati dengan bebatuan tanpa memiliki rasa bersalah sedikitpun.

Tindak vandalis juga disuburkan oleh sikap kebanggaan picik terhadap kelompokya atas kelompok lain. Tidak sedikit kejadian pengeroyokan siswa sekolah lantaran pertikaian yang tanpa ujung pangkal yang jelas musababnya. Hal inilah yang sering mengakibatkn tindakan brutal yang berkelanjutan dan kadang mengakibatkan korban luka dan korban jiwa berjatuhan.

Bahkan di salah satu SMA Negeri, seorang anak dipukuli sekawanan pelajar lain yang masih satu sekolah,  gara-gara dirinya memasang stiker bergambar logo /identitas kelompok dari sekolah lain di  sepeda motornya. Dirinya diminta untuk melepas stiker, tetapi permintaan itu ditolaknya.

 

Perpektif Islam

Melihat beragamnya fenomena dekadensi moral  yang terjadi di kalangan generasi muda, terasa miris sekali. Terlebih bila melihat ada kemungkinan relasional di antara berbagai fenomena di atas. Munculnya suatu fenomena akan diikuti fenomena yang lain. Bila demikian, tentu akan jauh lebih sulit mengurai akar permasalah terjadinya dekadensi moral dikalangan generasi muda.

Sungguh ancaman meluasnya dekadensi moral di kalangan generasi muda, memang sudah didepan mata. Semakin massif sifatnya, maka dampaknya juga makin sulit diprediksi. Yang pasti, ada bahaya luar biasa bagi kehidupan masyarakat, bila masalah ini tak tertangani dengan lebih baik lagi.  Sendi-sendi kehidupan sosial akan rusak, keteraturan masyarakat juga akan terganggu.

Dalam ajaran Islam sendiri sesungguh banyak sekali dalil-dalil Alquran dan Al Hadits yang bisa dipakai pijakan untuk menyikapi merebaknya dekadensi moral di kalangan generasi muda demgan lebih jernih.

Sebagian di antaranya adalah :

Al Israa 32  Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Al  baqorah 11 Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Al baqarah 12 Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah ditanya tentang arak dari madu. Beliau menjawab: Setiap minuman yang memabukkan adalah haram. (Shahih Muslim No.3727)

 

Perlu langkah Sinergis

Dalam rangka menangulangi bahaya dekadensi moral dilingkungan generasi muda, minimal ada empat pihak yang harus dilibat untuk mengurai permasalahan ini. Mereka adalah keluarga, sekolah, pemerintah dan masyarakat.

Lewat langkah yang sinergis di antara empat komponen di atas, diharapkan ada strategi dan taktik yang cukup efektig mengatasi problema social ini. Terlebih, kita cukup memahami tak ada satu obat yang bisa mengatasi semua masalah, jadi tetap dibutuhkan pendekatan yang cukup spesifik dalam upaya mengurai dan mencari akar permasalahan ini.

Karena itulah, di bawah ini ada beberapa pokok pikiran yang bisa dijadikan alternative upaya mengatasi merebaknya dekadensi moral di lingkungan generasi muda. Diantaranya adalah:

Keluarga harus secara kontinyu memberikan support pemikiran agar generasi muda tidak terjebak dalam lingkaran dekadensi moral. Langkah itu dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap ekses-ekses dari  yang ditimbulkannya. Terutama sekali yang terkait dengan hilangnya kesempatan meraih  depan yang gemilang.

Keterbukaan komunikasi antar anggota keluarga, antar anak dan orang tua layak terus dibina. Hal tersebut jelas akan menjadi salah satu kunci utama dalam menjauhkan generasi muda dari ancaman dekedensi moral.  Melalui keterbukaan itu, diharapkan masalah-masalah yang “secret” dan terkadang berbau ambivalen  bagi generasi muda, bisa didiskusikan secara jernih, tanpa rasa takut dan sungkan dan yang paling penting, tanpa rasa merasa dihakimi. Dengan demikian, segala macam persoalan yang menyakut generasi muda, bisa dipecahkan jauh lebih dini dan akurat.

Penanaman nilai-nilai agama secara intensif dalam kehidupan keseharian akan memberikan benteng yang cukup kokoh agar kehidupan generasi muda  tak tergerus informasi yang menyesatkan dan mengakibatkan kerusakan moral.

Pemantauan aktifitas anak di luar harus selalu dilakukan, agar keluarga jauh lebih antisipatif saat anak memaski zona-zona merah dalam pergaulan. Ditemukannya para pelajar yang sering mengunjungi panti pijat plus-plus atapun lokalisasi WTS, bisa jadi merupakan indicator lemahnya pantauan orang tua terhadap aktifitas anak di luar rumah.

Proses pendampingan orang tua, amat diperlukan terutama apabila anak sudah memiliki pacar. Perl ditanamkan tata cara berpacaran yang sehat. Jangan sampai saat pacar mereka dating, orang tua justru meninggalkan mereka sendiri berdua. Karena ini juga akan menjadi pintu masuk terjadinya perbuatan yang tidak senonoh  terjadi justru di dalam rumah sendiri.

Yang juga penting adalah perlu di tanamkan kosep diri  anak secara benar dengan cara memahamkan eksistensi diri pribadi anak yang dikaitkan dengan dan peranan mereka dalam lingkungan. Hal ini pantas ditandas, bahwa dengan konsep diri yang benar setidaknya generasi muda sudah tahu benar yang  mesti dikerjakan, apa yang boleh maupun yang tak boleh dilakukan.

Bila salah dalam memahami konsep diri, maka perilaku yang dijalankan juga cenderung menyimpang dari norma-norma yang di anut masyarakat. Tak heranlah—seperti yang dilansir surat kabar nasioanl — akibat konsep diri yang salah, maka ada seorang gadis  siswa smk yang rela menjual diri hanya karena ingin memiliki hp baru. Audubilaahimindalik

Dalam lingkup sekolah, penyadaran arti penting kehidupan pelajar yang bersih, jauh dari ancaman dekadensi moral, layak terus dan terus dikumandangkan. Baik lewat berbagai kegiatan co-kurikuler ataupun ekstra kurikuler. Metode diskusi dan brainstromming layak digunakan demi mengefektifkan hasil konkret. Pemberdayaan unit kegiatan cinta alam, pramuka, pengembangan nalar, kerohanian dan sebagainya bisa diisikan dan diformat ulang untuk mencegah dekadensi moral agar tidak lebih meluas lagi di kalangan mereka.

Peningkatan peran Bimbingan Penyuluhan untuk ikut bertanggung jawab mengatasi persoalan para pelajar. Baik yang terkait upaya pencapaian prestasi akademik. Ataupun terkait dengan proses tumbuh kembangnya para pelajar menjadi pribadi yang mandiri dan mumpuni dalam berpikir, bersikap dan bertindak dalam kehidupannya.pe

Pemerintah memiliki peran sangat strategis, terutama dalam pembuatan dan penerapan perundangan yang terkait langsung dengan berbagai upaya pencegahan dekadensi moral dan penanggulangan dampak yang ditimbulkan dalam masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Diantaranya, kebijakan sensor situs porno, implemtasi UU yang menyangkut pornografi, Penerapan Perda tentang “warnet aman” dsb.

Masyarakat sebagai kekuatan yang mampu medeteksi secara dini terjadinya berbagai bentuk dekadensi moral di kalangan generasi muda, layak ambil peran yang lebih besar. Kordinasi dengan pihak pemerintah dan supporting kebijakan perintah, jauh akan lebih efektif dalam menanggulangi efek merebaknya dekadensi moral. Berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat, juga diharapkan makin mengintensifkan perannya dalam bidang monitoring, sehinggga kesejahteraan social bisa dicapai dengan lebih cepat.

 

Harapan

Nah, andai saja semua pihak bergandeng tangan, seia- sekata dalam menyikapi merebaknya dekadensi moral di kalangan generasi muda, tentu saja  dampaknya bisa di minimalisir secara efektif. Semoga Allah SWT Mengabulkan.

 

www.muslimmedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *