[Karya KBM3] Ketika aku ditanya ‘masih gadis-kah, kamu ?’

Posted on Updated on

WHAT ???
Santai .. enggak usah serius gitu mentang-mentang judulnya ‘agak frontal’. Ketika aku ditanya ‘Masih gadis-kah kamu ?’.
*sikap*
Berkaca pada situasi yang ada di era globalisasi masa kini. Gue agak ngeri sama pergaulan anak bawang zaman sekarang.
Dulu, bentar deh ! kesannya gue tua binggo. Hmm, pada waktu itu─enggak enak bacanya─ oke, dulu, zaman gue kecil yang namanya naksir temen enggak ada tuh niat-niat bikin video panas. Boro-boro video kayak begituan, foto-foto alay aja masih pake kodak, yang di cuci lebih dulu, terus jadi klise atau negative film baru di cetak jadi selembar foto. Dan, foto-foto cuma terjadi pas kita jalan-jalan doang. Jalan-jalan juga jarang. Ini sih curhat penulis.
Tapi sekarang, ironis. Foto dimana pun jadi. Gaya gimanapun ada. Ah, masa lalu, selalu menghadirkan berbagai macam kenangan saat teringat kembali. Oke. Oke. Enggak mau bawa-bawa zaman, toh langkah selalu kedepan. Ya. Tapi gue sangat bersyukur lahir lebih dulu. Dan hidup dalam generasi 90an.
Wanita.
Wanita itu ibarat korek api (bukan korek gas)
Apabila sudah tergores, tak ada artinya lagi.
Ya. Dalam agama mana pun, gue yakin, wanita selalu dimuliakan. Dalam agama gue khususnya (Islam), banyak ayat-ayat dalam Al-quran yang menerangkan tentang wanita. Bahkan ada satu surat yang dinamakan surat An-Nisa yang artinya wanita. Betapa, Allah saja memuliakan kaum tersebut.
Ah, tapi sayang, banyak wanita yang enggak memuliakan dirinya sendiri. Setidaknya, sekadar menjaga kehormatannya. Pecah nih bahasannya.
Zaman gue SMA, sekitar tahun 2006-2009an. Gue juga mengalami masa sulit tersebut, masa dimana gue ingin mencoba segala sesuatunya. Masa yang biasanya disebut masa puber.
Gue pacaran sejak kelas dua SMP. Hubungan yang gue sebut ‘pacaran’ itu bermula dari suka ketemu, terus sering di ceng-cengin, rasa deg-deg kan pas ketemu, surat-suratan, dan ada kangen kalo enggak ketemu. Sebatas itu.
Pacaran awal gue enggak berlangsung lama. Kurang lebih sebulan. Naik ke jenjang SMA, gue pun mengulangi hal tersebut dengan orang yang berbeda. Laku ya gue, gorengan kali .. #abaikan. Di masa SMA, lebih bergidik rasanya. Gue sering dengar cerita teman-teman gue yang dengan bangga menceritakan hasil ‘kerja kerasnya’ (baca:pacaran)di malam minggu. Aduuuuh .. mauuuuuu. Asli. Itu yang gue rasain. Enggak muna, gue juga cewek normal, abege labil yang memasuki masa remaja, kepengin tau tentang banyak hal.
“Nih ya, lu pandang-pandangan. Terus, pas cowok lu udah mulai ngedekat. Lu diem, jangan menghindar. Nah, jadi deh cipokan”
“Rasanya ituh, bibir lu kayak tebel banget.”
“Susah lupainnya. Gue aja kebayang terus. Ciuman pertama.”
Itu pendapat beberapa teman gue semasa SMA. Ah, iri banget gue. Jujur sejujurnya, zaman SMA gue pengin ngerasain adegan itu. Ciuman.
Masih cerita SMA, gue pernah kepo, nanyain temen sekelas gue, begini pertanyaannya ‘lo ciuman pertama kelas berapa ? Dan setelah berapa lama pacarannya ?’. Asli. Kalo inget itu, gue ngerasa jadi manusia paling enggak tau diri, kepengin tau aja urusan orang. Tapi, jawaban mereka membuat gue bingung. Jawabannya beragam.
“Waktu SMP. Pacarannya baru dua minggu deh kayaknya.”
“Kelas dua SMP. Pas udah dua bulanan.”
“SMA kelas satu. Ngerayain satu bulanan.”
“SMA. Pas jadian.”
“Kelas satu SMP deh kayaknya, gue lupa ama yang mana.” (Ini agak ngeri)
“SMP. Udah enam bulan.”
Gue menghadapi beberapa wajah yang malu-malu buat ngejawab. Ada lagi yang lucu, beberapa teman gue tersebut bilang gini “Ay, Lewat sms aja ya jawabnya. Malu kalo ngomong langsung”. Gue angguk-angguk bego.
Ampuuun. Kalo ini tulisan sampai dibaca mereka ‘yang pernah gue ajukan pertanyaan ini’ bisa dibakar idup-idup gue. Tapi fine, identitas terjaga rapat.
Horornya. Ada beberapa juga yang jawab pertanyaan tersebut dengan bangga, senyum-senyum yang gue enggak ngerti apa maksudnya, lalu berkata “ah, Aya. Jadi pengin kan ..”. Astaga. *tepokjidat*.
Setelah mengajukan pertanyaan random tersebut. Gue berniat membuat sebuah tulisan dengan judul ‘Pentingkah Ciuman dalam Berpacaran ?’, tapi waktu itu fasilitas enggak mendukung, gue enggak punya mesin tik, komputer apalagi laptop. Blog pun gue belum ngerti. Jadi ide itu mandet di benak gue doang.
Kembali ke soal ciuman. Aseeeeh.
Disini gue sadar akan satu hal. Mereka yang menjadi penikmat cinta tersebut. Biasanya golongan remaja akan seperti ini.
Ketika putus.
♥ Enggak bisa. Gue sayang banget sama dia. Banyak kenangan yang udah gue lalui bareng dia. (narik ulur ingus dengan mata yang bengkak, dada naik turun ‘maksudnya apa ini ?’ *kan lagi nangis*)
Sayang ? Nafsu dan rasa penasaran itu diatas namakan dengan rasa sayang. Konyol. Wanita cerdas, akan berpikir lebih dulu sebelum memberikan apa-apa yang dianggapnya berharga. Kenangan ? Ciuman maksudnya ? Pelukan ? gandengan tangan .. atau .. .. sebuah penyesalan karena udah melakukan semua itu.
♥ Enggak mau. Pokoknya gue enggak mau putus. Rugi gue.
Rugi ? masih pantas bilang rugi ? Toh jelas-jelas apa pun yang terjadi dilakukan atas dasar cinta, katanya. Terus kalo udah ditinggalin ? mau minta di balikkin seperti semula ? Mana bisa ..
♥ Iya gue tau, masih banyak cowok lain. Tapi apa bisa, mereka nerima gue. Dan si bajingan itu dengan gampangnya dapetin cewek lain. Gue udah bekas.
Menyesal. Enggak mau ditinggalin. Ngerasa dirugiin, ngerasa hina. Ini untuk tingkat pacaran yang terlalu horor. Lalu pertanyaannya, siapa yang mau disalahin ? kan, kamu menjalaninya dengan kemauan sendiri. Nah, siapa yang menanggung malu kalau bukan diri kamu sendiri juga orang tua ?
♥ When our friends talk about you, all it does is just tear me down ‘Cause my heart breaks a little when I hear your name.
Itu kata Petter (BrunoMars) di lagu ‘when I was your man’. Tiap kali denger nama mantan, ngedrop. Tiap kali ada yang ngomongin doi, lemes. Lho ? Lho ? Kenapa itu ? Ya, karena ada sisa-sisa yang membekas di hati. Di jidat. Di pipi. Di bibir. Di .. di .. di .. aaah .. isi sendiri deh.
Enggak. Gue enggak ngelarang kalian buat pacaran. Toh hidup, hidup kalian. Pilihan, pilihan kalian. Enggak. Gue enggak ngerasa benar. Hanya saja, gue bercerita dengan menyaksikan sendiri apa-apa yang terjadi disekeliling gue. Dan gue juga ngerasain hal tersebut.
Dahulu kala, *memejamkan mata, mengingat masa lalu* waktu gue ada di titik terendah dan dalam keadaan yang rapuh karena sesuatu yang dinamakan ‘cinta’ gue juga nangis berhari-hari, entah apa yang ditangisin. Ngedengar semua lagu, kesannya ituh lirik buat gue. Bawaannya enggak semangat. Kesepian, kangen perhatian. Dan parahnya, runaway. Gue mencari pelarian dengan bergonta-ganti temen jalan. Enggak. Gue masih mampu bertahan dengan batasan yang gue jadiin prinsip.
Hah’ perjalanan cinta gue enggak pernah ada yang mulus. Meskipun gue enggak ngerasa dirugiin, meskipun bibir gue masih tersegel, dan gue masih perawan. Tapi hati ini, entah udah berapa kali ia menumpuk nama-nama yang hanya datang, mampir kemudian pergi. Disinilah, gue ngerasa beruntung. Karena di luar sana, banyak mereka yang senasib sama gue, namun lebih pedih batinnya. Saat itu, rentetan pertanyaan ngebuat gue berpikir “Kenapa lo nangis ? Apa yang lo sesalin ? Lo udah tidur bareng sama dia ? Lo udah di apain aja ? Sekarang gue tanya, apa yang lo tangisin ?”
Apa yang lo tangisin ?
Gue diem sejenak. Mencoba berpikir lebih luas. Berhari-hari, minggu, bulan, bahkan tahun, gue ngabisin waktu buat orang-orang yang sebenarnya enggak layak menyita waktu gue. Apa yang gue tangisin ? gue sendiri enggak tau jawabannya.
Dalam keadaan tersebut, gue pergi ke toko buku. Beruntungnya, membaca adalah bagian dalam kehidupan gue. Di toko buku itu, enggak sengaja gue menemukan sebuah buku tebal berwarna kuning emas, buku itu seolah-olah manggil gue buat membelinya. Ah, mahal banget harganya. Tapi fine, gue beli buku itu. Sebuah buku tebal seharga 105 ribu rupiah, buku berjudul La tahzan. Buku itu gue bawa kemana pun gue pergi, di dalam angkot, di stasiun dan di dalam kamar ketika sedang sendiri. Gue berhenti ngedengarin lagu-lagu mellow yang dulu gue puter tiap hari. Lagu-lagu yang akan dengan sadis membuat gue nangis bombay sampai pagi. Gue mengisi malam-malam gue dengan menyendiri, bercerita, dan menangis sejadi-jadinya. Di hadapan-Nya. Gue mengurangi kebiasaan stalker atau ngacak-ngacak social media sang mantan. Mengurangi bukan berarti berhenti, karena itu enggak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, kebiasaan, dan dengan sendirinya akan berhenti. Gue juga memilih jalan-jalan sendiri sebagai salah satu cara gue untuk move on. Memperhatikan orang-orang yang berjalan seliweran di depan gue, beranggapan ‘apa pantas gue nangis, menyesal, kalau mereka (yang enggak setiap hari ketemu nasi, kesepian tanpa keluarga) masih sanggup tersenyum’ rasanya enggak. Gue menjadikan ‘patah hati’ tersebut sebagai pengalaman paling berharga. Mendewasakan diri. Mendekatkan diri pada sang Maha cinta. Dan menjadikannya pelajaran dalam kehidupan selanjutnya. Bahkan gue berterima kasih dengan keadaan di masa lalu.
Jadi, gue juga pernah ngerasain masa-masa kayak gitu. #senyum.
Nah. Anehnya, banyak juga wanita, beberapa yang cerita langsung ke gue, di masa gue udah lulus sekolah dan bekerja. Salah satu dari mereka bilang “katanya, kalo aku enggak mau ngelakuin (baca:hubungan intim) itu sama dia, itu tandanya aku enggak sayang sama dia, terus dia marah. Makanya aku mau.” Curhatnya dengan linangan air mata yang mengalir. Gue merinding dengarnya. Untuk hal satu ini, gue enggak pernah ingin tahu. Gue cenderung cuek dengan apa-apa yang ada disekeliling gue selama itu menyangkut urusan orang lain. Tapi, mereka .. mereka dengan ikhlasnya membagi kisah tersebut kepada gue. Ya. Gue adalah orang yang senang mendengarkan. Mengenai apapun.
Harus ya ? untuk membuktikan rasa sayang, harus dengan cara tersebut ?
Mendengar hal tersebut, gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca menghubungi laki-laki yang telah memutuskan hubungan dengan wanita yang sudah ditidurinya itu, gue maki-maki sejadi-jadinya. Tapi dengar ini “Udah. Udah. Jangan marah-marah sama dia, nanti dia malah enggak mau balikan sama aku.” Oh God ! Wanita itu masih membelanya. Ya. Karena ia sudah kehilangan kehormatannya. Jadi, ia enggak malu buat ngemis-ngemis cinta dari laki-laki brengsek itu. Miris.
Tapi gue dengar, sekarang dia udah nikah dengan orang yang berbeda. Laki-laki yang mau menerimanya. Ya. Sebelumnya, ia move on ke jalan Allah. Bertaubat. Berhijab. Dan Allah pun membalasnya. Semoga ia selalu bahagia. Amin.
Enggak usah malu kalo enggak punya pacar. Enggak usah ngenes kalo malam minggu diam dirumah. Dan yang pacaran, jangan lupa daratan.
Buat gue, wanita itu ibarat berlian di lemari kaca. Enggak sembarang orang bisa megang-megang, terus enggak jadi beli. Enggak. Jangan jadi yang seperti itu, di obral, di pilah-pilih, di cemek-cemek, terus enggak dibeli. Coba liat berlian, banyak yang mengaguminya. Tapi sebatas mengelus lemari kacanya doang. Mupeng. Tapi berliannya tetap terjaga. Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang emang ingin membeli dan berhak memiliki berlian tersebut.
Aseeeeek. Kendorkan otot. Jadi tegang gini .. hhohooh.
Kata ustad Felix di bukunya #UdahPutusinAja wanita dengan masa depan cerah itu penting bagi laki-laki, tapi wanita dengan masa lalu tanpa noda itu jauh lebih penting.
Ya. Dua kalimat sederhana, namun bermakna begitu dalam. Cantik wajah itu penting buat wanita, tapi cantik akhlak akan membawa berkah. Lebih-lebih, luar dalamnya cantik. Eeeuh. Mantap.
Wanita yang sukses dalam karier itu bisa dijadikan idaman buat para lelaki, tapi wanita yang sukses menjaga kehormatan sampai ijab qabul terucap akan menjadi kado terindah bagi laki-laki.
Karena kehormatan adalah harga mati yang hanya bisa dibeli dengan sebuah pernikahan.
Aaaaah. #Senyum manis.
Jadi, katakan. “Ya. Aku masih gadis. Aku masih perawan. Aku masih tersegel.” Jika ada yang bertanya, “Masih gadis-kah kamu ?”
Tapi emang ada ya, yang bakalan nanya kayak gitu ? Aduuuuh Aya .. .. ..
“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, maka ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita. H.R. Al Bukhari, dari Abu Hurairah) www.muslimedianews.com www.cyberdakwa.com www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *