[Karya KBM3] Mari Wujudkan Generasi Muda yang Bermoral dan Berkualitas

Posted on Updated on

Miris rasanya membaca surat undangan ‎perkawinan yang sampai di tanganku. Mengapa?? ‎Bukankah harusnya ikut berbahagia? Atau jangan-‎jangan yang menikah adalah kekasih?? Jawabannya ‎TIDAK!!‎
Yang menikah ini adalah seeorang siswa, warga ‎di desaku. Terpaksa berhenti sekolah karena sesuatu ‎hal yang tak seharusnya terjadi. Ini bukan yang ‎pertama saja terjadi di desa ini, bahkan sudah sejak ‎lama, sejak aku masih anak-anak. Sekarang aku ‎sudah menamatkan bangku kuliah, bayangkan ‎sudah berapa banyak penerus-penerus bangsa ini ‎berguguran sebelum waktunya. ‎

Kenakalan remaja bukan berita yang aneh di ‎telinga masyarakat. Ini berita yang sudah sangat ‎membosankan. Teman sekelasku, sahabatku, adik-‎adik kelasku ikut terjerumus ke dalam masalah ini. ‎Pesan mereka padaku, “kamu jangan seperti aku ya, ‎menyesal”. Tahun berganti tahun, sudah 6 tahun ‎aku meninggalkan desaku sejak SMA, kini aku sudah ‎pulang kembali dan kudapati keadaan yang ‎semakin menyayat hati, keadaan yang sangat ‎disayangkan, kini semakin parah.‎
Rokok, narkoba dan seks bebas merajalela di ‎desaku. Adik-adik yang malang. Berangkat sekolah ‎yang seharusnya menuntut ilmu, di waktu istirahat ‎digunakan untuk menikmati makanan, buku ‎bacaan, bermain dengan teman-teman, tapi mereka ‎gunakan untuk merokok, menghirup lem, meminum ‎oplosan (obat yang dicampur minuman soda) dan ‎seks bebas. Bukan di sekolah, tapi di toilet masjid. ‎Bahkan sudah ada beberapa anak yang berurusan ‎dengan polisi. MasyaAllah.‎
Astaghfirullah, aku tidak dapat berkomentar ‎mengenai cerita salah satu warga yang menjadi ‎saksi. Melihat tapi tak mampu menegur. Malam hari ‎lebih parah lagi. ‎
Pergaulan bebas memank tidak dapat ‎dihindarkan, apalagi di zaman yang modern ini. ‎Tanpa dukungan lingkungan yang lebih baik, ‎kegiatan-kegiatan yang positif dan pendidikan ‎agama serta moral dari keluarga dan sekolah. Pihak ‎sekolah harus merubah system pembelajaran yang ‎seimbang antara kognektif, afektif dan psikomotor. ‎Agar para siswa mempunyai bekal hidup di ‎masyarakat, karena mereka tidak punya pedoman ‎dalam mengadopsi sesuatu yang ada di lingkungan ‎masyarakat tanpa menyaringnya terlebih dahulu. ‎Pentingnya peran serta seluruh guru dalam hal ini, ‎agar memasukkan nilai agama dan moral diseluruh ‎mata pelajaran.‎
Namun pendidikan agama di sekolah saja tidak ‎cukup untuk merubah keadaan yang marak terjadi ‎yang bukan hanya di desaku saja. Di rumah mereka ‎perlu bimbingan orang tua. Tapi bagaimana jika ‎orang tuanya saja minim pengetahuan, terutama ‎agama? Di sini menjadi peran pemerintah, perlunya ‎pemberian pengetahuan melalui pelatihan dan ‎penyuluhan kepada orang tua. Bimbingan agama ‎dan moral juga penting bagi orang tua siswa. ‎Percuma jika pendidikan agama mereka dapatkan ‎di sekolah saja, tapi di rumah orang tua hanya santai ‎saja melihat anaknya tidak beribadah, dan hanya ‎diam melihat kenakalan sang anak. ‎
Rasullullah bersabda “Setiap anak itu ‎dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka ‎bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau ‎nasrani, atau majusi (HR. Bukhori)”.‎
Lingkungan lebih banyak mengambil peran ‎dalam hal ini, menjadi faktor penyebab mengapa ‎anak-anak zaman sekarang semakin rusak. Jiwa-‎jiwa yang masih labil itu jika mendapati sesuatu hal ‎yang baru, rasa ingin tahu yang besar mendorong ‎mereka untuk mencicipi dan akhirnya terjerumus. ‎Mereka tidak mempunyai wadah untuk ‎menyalurkan bakat-bakat mereka, perlu wadah ‎yang berisi kegiatan-kegiatan yang bersifat ‎membangun diri. Perlu bimbingan rohani lewat ‎majelis-majelis dan rukiah di sekolah maupun di ‎masyarakat, perlu contoh yang baik dari para guru, ‎orang tua, masyarakat dan pemerintah, perlu buku ‎bacaan agama, perlu pengetahuan yang lebih luas, ‎perlu motivasi lewat pelatihan-pelatihan ‎kepemimpinan. Ini akan membantu anak lebih ‎terarah, lebih mampu mengontrol diri, punya ‎semangat tinggi, motivasi yang tinggi akan ‎kesuksesan mereka. Merubah mindset pikiran ‎jangka pendek tentang kehidupan membantu para ‎generasi muda untuk berfikir lebih maju. Dengan ‎memiliki jiwa kepemimpinan diharapkan para ‎generasi penerus mampu menjadi pemimpin ‎setidaknya untuk dirinya sendiri.‎
Dari Abu Hurairah t dari Rasullullah bersabda: ‎‎“Seseorang itu atas din saudaranya. Maka lihatlah ‎salah seorang diantara kalian siapa yang ditemani ‎‎(HR. Ahmad)”. Lingkungan yang baik akan ‎menghasikan generasi-generasi yang baik pula ‎akhlaknya. Jika lingkungannya buruk maka buruk ‎pula akhlaknya. ‎
Bagaimana caranya merubah pola pikir dan ‎lingkungan masyarakat yang lebih agamis dan ‎bermoral?. Jika pemuda rusak, maka rusaklah ‎bangsa, namun jika pemuda baik, baik jualah ‎bangsanya. Indonesia akan menghadapi AFTA 2015, ‎dengan keadaan generasi muda yang seperti itu, ‎sangat tidak mungkin untuk bersaing. Maka ‎pemerintah perlu berbenah, perlu menyiapkan ‎generasi muda yang beriman, bertaqwa, bermoral, ‎kreatif, disiplin, berkualitas dan berdaya saing ‎tentunya dengan jiwa seorang pemimpin. Banyak ‎langkah yang bisa ditempuh yaitu:‎
‎1.‎ Mengaktifkan organisasi kepemudaan. ‎Mewujudkan para pemuda dengan jiwa-jiwa ‎pemimpin yang berkualitas.‎
‎2.‎ Sering melakukan penyuluhan bahayanya ‎Narkoba dan Seks bebas serta melakukan tes ‎NAPZA di sekolah-sekolah untuk mendeteksi ‎penggunaan narkoba sejak dini.‎
‎3.‎ Mengadakan pelatihan-pelatihan untuk ‎menambah kualias SDM para pemuda, dengan ‎keterampilan yang didapat diharapkan para ‎pemuda lebih kreatif dan mandiri sehingga ‎mampu bersaing di AFTA 2015.‎
‎4.‎ Lebih tegas menindak lanjut kasus-kasus ‎kenakalan remaja. ‎
Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membuat ‎bangsa ini menjadi lebih baik. Mari bahu membahu ‎membangun bangsa Indonesia yang lebih baik ‎terutama untuk SDMnya.‎

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *