[Karya KBM3] Mendidik Pemuda Ala Pesantren

Posted on Updated on

“Tujuh (golongan) yang Allah naungi di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dariNya, Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ketaatan kepada Tuhannya..” HR. Muttafaq’alaihi.

Pemuda merupakan fase produktivitas sekaligus destruktif. Pemuda akan mampu berperan membangun bangsa yang makmur, sejahtera dan bermoral bila pemudanya bermoral baik, berkepribadian, mempunyai kepedulian tinggi dan semangat menggelora. Tapi sebaliknya, pemuda akan menghancurkan suatu bangsa bila pemudanya amoral, tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, dan apatis terhadap pembangunan bangsa dan negara.

Hadist di pembuka tulisan ini menandakan betapa besarnya godaan terhadap pemuda di masanya, sehingga ketaatannya pada Tuhannya diganjar dengan derajat tinggi di akhir zaman nanti. Pemuda dengan gejolak tinggi untuk menunjukkan jati dirinya di hadapan publik seringkali salah arah. Kesombongan dan keangkuhan menyebabkan malapetaka baginya yang menyebabkannya terperosok dalam dunia kekerasan (tawuran), hingar bingar dunia malam, serta mengonsumsi minuman beralkohol dan narkotika.

Di kota-kota besar sudah lama terdengar akan prilaku pemudanya yang destruktif itu, tapi kini sudah mulai merambah ke desa-desa. Hal ini dimulai sejak teknologi semakin canggih—televisi mulai memasuki desa—sejak itulah pemuda mulai menirukan informasi yang didapat dari yang ditontonnya. Mulai mencoba mencoret-coret seragam saat pelulusan sekolah, sampai hal yang sangat bejat dengan menggauli istri orang lain. Moral pemuda semakin terkikis setelah para gembong narkoba mulai merambah pasar di desa. Pemuda desa tidak lagi kumpul untuk mengaji atau tadarusan di langgar dan masjid, tapi kumpul di semak-semak hanya untuk sakau bersama. Diperparah lagi dengan lemahnya penegak hukum di desa dengan menciutnya nyali mereka ketika berhadapan dengan preman desa. Sungguh situasi yang anomali pada warga negara dalam memperoleh keadilan untuk kenyamanan hidup di negeri ini.

Sempat penulis sumringah (saat pulang kampung) ketika mendengar kabar kalau pemuda di desa sudah tidak ada lagi yang menjadi maling, tapi kemudian diperjelas oleh sumber, kalau para pemuda sudah beralih profesi menjadi pengedar narkoba. Penulis tersentak mendapat kabar yang sungguh mengerikan ini. Perasaan penulis menjadi campur aduk, bagaimanakah nasib bangsa ini kalau di desa saja sudah seperti ini? Dan dimanakah penulis akan mendidik anak di kemudian hari bila bahaya narkoba sangat dekat mengintai? Ini sangat ironis ketika dulu desa yang agamis menjadi desa yang diwabahi pemuda yang amoral, pecandu narkoba dan malah menjadi pengedarnya.

Masih banyak prilaku tidak terpuji lain pemuda yang menandakan bahwa sudah terjadi krisis moral pada pemuda di negeri ini. Seperti prilaku membuat gangster sampai membangkang pada orang tua, guru dan bahkan menyebarkan virus negatif pada pemuda-pemuda lainnya. Maka perlu adanya sinergitas antara pengelola pendidikan, pemerintah, masyarakat dan orang tua pemuda itu sendiri untuk selalu memantau dan mendidik pemuda menjadi bermoral dan berprestasi. Pendidikan ala pesantren bisa menjadi salah satu solusi untuk diterapkan, dimana para santri—yang nota bene merupakan pemuda—tunduk dan patuh pada peraturan pesantren walaupun ada sebagian kecil santri yang melanggarnya.

Menerapkan pendidikan ala pesantren yang dimaksud penulis disini bukan dengan memasukkan semua pemuda ke lembaga pesantren, tapi lebih kepada wujud pendidikan moral yang bisa diterapkan dimanapun pemuda itu berada. Pertama, pesantren mempunyai lingkungan yang steril dengan menyaring media informasi yang masuk maupun benda-benda yang sekiranya merusak moral penghuninya. Tidak sembarang media cetak bebas masuk pesantren, telah dilakukan penyaringan ketat di dalam dengan melibatkan pengurus pesantren langsung. Di lingkungan keluarga hal ini bisa dilakukan orang tua atas bacaan anaknya atau selalu mendampingi ketika menonton tayangan televisi. Sementara di sekolah ada guru dan pustakawan yang bisa mendidik dan menyajikan informasi yang edukatif pada para siswa.

Kedua, pesantren mempunyai aturan ketat yang harus ditaati oleh segenap penghuninya dengan pengurus keamanan pesantren yang bertugas mengawasi. Tentu pengurus keamanan ini patuh pada kiai (pemimpin pesantren) dalam menjalankan amanah dengan baik tanpa pilih kasih. Penegak hukum, terutama di desa, perlu mencontohnya dengan menegakkan hukum sebaik-baiknya, jangan takut pada bentuk teror yang dilakukan oknom masyarakat tertentu dalam menjalankan tugas. Amanah mesti ditanamkan dalam diri, bahwa harus dijalankan sebaik-baiknya dan yakinlah bahwa amanah itu akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Ketiga, pesantren mempunyai kegiatan yang positif yang membuat santrinya selalu berpikir positif dan tidak mempunyai waktu untuk memikirkan yang lain. Dari kegiatan-kegiatan itu pesantren menghadirkan kompetisi-kompetisi positif antar santri dengan membuat event-event lomba dan memberi penghargaan yang setimpal pada santrinya yang berprestasi. Dari sini bisa di tarik kesimpulan, waktu luang yang terlalu banyak yang dimiliki pemuda menjadi salah satu pemicu terjadinya krisis moral itu. Kecenderungan pemuda yang selalu ingin aktif bergerak akan menuju pada hal yang negatif ketika hal yang positif tidak ia dapatkan, apalagi hal yang negatif itu lebih membuatnya bahagia dan nyaman dalam menjalaninya.

Sekali lagi penulis tekankan, dari tiga ajaran di atas yang bisa dipetik dari dunia pesantren, tidak akan berjalan maksimal bila tidak ada sinergitas antara orang tua, tenaga pendidik, masyarakat, penegak hukum, tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait lainnya. Pihak lain yang perlu dilibatkan misalnya dari unsur pemerintah, seperti BNN (Badan Narkotika Nasional) dengan selalu melakukan sosialisasi sampai ke daerah-daerah akan bahaya narkoba, Kementrian Pendidikan dalam memperbaiki sistem pendidikan di negeri ini, atau Kementrian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) dalam upaya menjadikan pemuda yang punya nilai sosial tinggi, peduli pada sesama, dan menggenjot pemuda dalam meningkatkan prestasi di cabang olah raga. Maka selamatkanlah pemuda, sebelum terlambat!

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *