[Karya KBM3] Moral “Amburadul” Penerus Bangsa, Siapa Salah?

Posted on Updated on

Moral adalah perbuatan atau ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia.
Apabila yang dilakukan itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya, agama dan pendidikan. Baik buruknya nilai moral seseorang ditentukan bukan dalam konteks besaran nilai, melainkan dengan penuturan secara lifetouch terhadap masyarakat sekitar.

Dahul, Indonesia pertiwi ini adalah bangsa besar yang memiliki nama besar di sejagat raya oleh sebab tingginya budipekerti yang amat luhur dijunjung oleh para pendiri bangsa. Kala itu, moral dalam berinteraksi antar sesama sangatlah halus dan menjadi tauladan bagi seluruh unsur penduduk negeri, tidak ada batasan dalam penerapan moral mulia terhadap priyai maupun jelata, terhadap pemangku kekuasaan ataupun rakuaynya. Berkat adanya moral yang baik itu pulalah indonesia mengklaimkan diri menyandang adat ketimuran yang secara tidak langsung sesuai dengan amanah al-quran dan hadits.

Kini, era modernisasi dunia menjadikan moral baik itu seakan bagaikan kata yang amat sangat langka. Seharusnya menjaga dan meneruskan hal tersebut, justru Indonesia dihadapkan oleh para penerusnya yang haus akan kekuasaan duniawi sehingga mengesampingkan tatanan cara berinteraksi dengan baik.
Kerusakan moral yang dialami oleh bangsa sebesar Indonesia ini adalah bukan perkara yang semudah membalikkan telapak tangan dalam mengentaskannya. Sudah banyak doktrin negatif yang merasuk pada setiap deri anak bangsa, tidak mengenal usia, jabatan, kedudukan bahkan tak sama sekali mengenal ajaran leluhurnya yang amat berbudi. Indonesia telah dijajah oleh kemerosotan akhlak, indonesia telah ditindas oleh kemunduran budi pekerti, Indonesia telah dirasuki oleh krisis moral. Yang menjadikannya lebih ironis adalah dilakukan oleh penerus bangsanya sendiri bukan oleh bangsa lain. Padahal, tidak sepatutunya negara yang memiliki tagline “baldatun thoyyibatun wa rabbun gofhur” ini menjadi sedemikian mirisnya, namun kekuasaan Allah tetap lah berlaku. Tapi, apakah gerangan yang mendasari adanya krisis moral dalam kalangan penerus bangsa kita ini? Mari kita kupas bersama melalui opini pribadi saya dengan berlandaskan akal serta menukil dari beberapa pernyataan para pemerhati moral dan pemerhati lainnya.

1. Kerusakan moral oleh karena kurangnya pendidikan agama.
Agama adalah hal yang kapabilitasnya sebagai pengukur kadar iman dan taqwa setiap manusia, jika agamanya dijalankan sesuai dengan syariat yang diajarkan maka amalannya pun akan sesuai dengan moral kebathinan serta moral lahiriah. moral yang dipondsi oleh agama tidak akan mungkin menjadi produk manusia non unggulan, sebalilnya moral yang tak berazazkan oleh landasan agama, dialah yang merusak tatanan moral para penerus bangsa.
Kehausan dalam mengejar sukses duniawi tidak dibarengi dengan keseimbangan menggapai ukhrowi. Para pemuda, remaja, bahkan orang dewasa sekalipun tak pelak lepas dari pengejaran gelar, jabatan, kedudukan serta kehormatan dipandangan manusia. Dengan mengesampingkan moral dan pemikiran morall, mereka akan terus dan terus menggerus isi negeri ini dengan perbuatan yang non moraltik. Terjadi kerusuhan antar pelajar yang yak diketahui asal muasal penyebabnya, perebutan kekuasaan para parlementer yang saling mengklaim dirinya benar, bahkan yang lebih miris adalah pergaulan bebas para usia sekolah yang mengakibatkan putusnya cita-cita berjuta anak bangsa.
Usia sekolah adalah waktu yang relatif dengan sensitifitas lingkungan, jika para anak sekolah tidak dipagari dengan pendidikan agama yang kokoh, jangan lagi kita pernah berharap bahwa mereka adalah penerus bangsa yang akan sukses. Keterpurukan morall yang sering dialami oleh para usia sekolah sebenarnya masih mampu ditanggulangi oleh cepatnya respon penanggung jawaban objek tersebut. Hal yang paling utama adalah didikan, bimbingan serta teladan dari orang tua masing-masing yang kemudian bekerjasama dengan pengajaran oleh para guru dengan mendidik secara etika dan penuh moraltif sehingga pada akhirnya pemerintah selaku penanggung jawab penerus bangsa akan membantu dengan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh para penerus bangsa agar kelak bangsa ini tidak memiliki penerus yang miskin akan moral kepribadian.

Lain halnya dengan para cendekiawan negara serta dewasa, anak usia sekolah adalah masa pencarian jati diri mereka sehingga tiada yang berhak dari saiapapun untuk menjudge bahwa moral mereka hancur karena ulah mereka sendiri.
Cobalah kita merenungi sejenak tentang apa dan bagaimana para petinggi negeri dalam mencontohkan moral yang baik terhadap benih pemimpin masa depan bangsa. Apakah dengan perebutan kekuasaan kursi jabatan, ataukah dengan saling asah, saling asih serta saling asuh untun memberikan contoh yang baik? Sayangnya, egoisme para petinggi negara seakan tidak tersentuh oleh mata hati mereka, padahal mereka adalah icon dari kelengkapan suatu negara, namun apa yang mereka tontonkan kepada seluruh masyarakat termasuk anak usia sekolah adalah jauh dari segi moral agamis maupun moral prilaku. MasyaAllah.

Dengan itu dapat kita klaim bahwa bobroknya moral para penerus bangsa oleh sebab didikan “mata” yang tak terpuji dari para petinggi bangsa saat ini. Sehingga wajar lah saja penerus bangsa kita menjadi kelimpungan terhadap moral, oleh sebab sistem balas dendam kekuasaan yang masuk dalam kategori REVOLUSI MENTAL. Karena perpindahan suatu prilaki dari yang lebih tinggi menuju para penerus.

2. Tolak Ukur Moral Bangsa Dari Masa Ke Masa.
Era perjuangan adalah era dimana moral para rakyat indonesia sedang dalam keadaan moral yang paling mulia, sehingga tercapainya kemerdekaan indonesia dari tangan para penjajahan. Pada saat itu pulalah nama indonesia terangkat oleh tingginya moral luhur terhadap sesama, tiada mengenal musuh diantara mereka, bersama-sama mempertahankan moral demi kokohnya pertahanan negara. Tak dipungkiri, tokoh sekaliber Bapak Soekarno presiden pertama menjadi tauladan dalam kehidupan masyarakat indonesia saat itu bukan hanya dalam hal gelora perjuangannya, ataupun dalam hal keteguhannya mempertahankan indonesia tpai juga dalam hal moral tata krama kepada siapa saja dengan penuturan moral yang baik. Sehingga, berkat baiknya moral pemimpin indonesia pada saat itu menjadikan Indonesia negara yang ramah.

Lain masa perjuangan lain pula masa transisi kekuasaan, pada masa setelah kejayaan moral indonesia yang dicontohkan pemimpin negara ini, indonesia selanjutnya terjatuh oleh kemilau dunia sehingga adab, akhlak dan pekerti bukanlah yang paling ditonjolkan melainkan pangku kekuasaan yang memihak pada penguasa. Apakah sebabnya? Yah, kemunduran moral para penerus bangsa sudah tergambar sejak masa perpindahak kekuasaan negeri ini.

Dan saat ini serta masa esok yang akan datang sudahlah jelas keadaan moral para penerus bangsa tercinta ini. Indonesia yang tercatat sebagai penduduk muslim terbesar didunia seharusnya menjadi pusat pembelajaran ilmu serta pengamalan moral etika yang baik dalam segala hal. Tingginya angka kriminalotas tindakan korupsi adalah salah satu bukti dari buruknya moral dalam berkewarganegaraan. Bahkan, banyak kalangan yang menilai bahwa indonesia adalah lumbungnya para pemasok narkoba. Yah, narkoba. Setan satu inilah yang menjadikan anak bangsa tercabik angannya hanya karena kurangnya penerapan moral dalam keseharian pergaulannya.
Ayolah, buktikan pada dunia bahwa indonesia memiliki penerus bangsa yang berkualitas, indonesia memiliki calon pemimpin bangsa yang berintegritas, dan kita buktikan pada dunia bahwa masyarakat indonesia memiliki adab moral yang morallitas dengan keanggunan berprilaku serta berkata dan beri’tikad.

3. Siapa Yang Bertanhgung Jawab Atas Bobroknya Moral Bangsa.
Tidak akan terjadi kekrisisan moral jika penyelenggara negara benar-benar memperhatikan aspek pendidikan yang mendasar pada agama dan etika. Dalam hal ini, saya tidak mengkambing hitamkan pemerintahan. Namun, titik temu atas kelimpangan moral yang terjadi dalam diri anak bangsa adalah oleh karena beberapa kebijakan yang dikeluarkan banyak yang tidak mengutamakan dasar agama dan kesejahteraan.
Pemerintah, adalah “terdakwa” utama dengan terjadinya krisis segala bidang termasuk krisis moral dikalangan pelajar maupun masyarakat luas. Hal demikian harus kita tujukan kepada pemerintah dengan dalih negara dan seisinya adalah tanggung jawab dan hak negara dan karena negara dikelola oleh pemerintah, maka sudah sepatutnya pemerintah harus bertanggung jawab pula akan terjadinya krisis moral yang masih tetap berlanjut. Pemerintah jangan hanya mempertontonkan “dagelan” yang seolah-olah peduli terhadap rakyat namun sebaliknya hanya mementingkan satu kelompok tertentu. Masalah moral adalah masalah serius, melebihi dari perkara century, melebihi perkara hukum ITE atau bahkan melebihi sekali dari pentingnya hubungan bilateral antar negara. Indonesia akan maju dikemudian hari jika krisis moral yang menjangkit penerus banhsa dapat dibumi hanguskan dari tanah air beta ini.

Kemudian mereka yang bertanggung jawab adalah tenaga pengajar dan kedua orang tua, mengapa mereka harus bertanggung jawab? Logikanya adalah, mereka semua sebagai guru utama dalam berkembangnya pengetahuan seseorang sekaligus pembentuk moral. Karena moral yang pertama terbentuk adalah dari lingkup keluarga dan sekolah yang memiliki andil penuh dalam menggonjleng peserta didik para penerus bangsa agar jangan sampai ada lagi para penerus bangsa ini yang bobrok akan moral bermasyarakat maupun bernegara. Moral yang dibangun melalui pondasi keluarga dan tiang sekolah tidak akan sempurna jika tidak disanggah dengan pengetahuan ilmu akhlak, sehingga perlunya para orang tua dan tenaga pengajar tidak membiarkan para penerus bangsa terperosok kedalam jurang moral yang nista. Begitu beratnya salah satu tugas para orang tua dan guru-guru kita ini.
Tapi, bagaimana jika memang pada akhirnya kemerosotan moral adalaj oleh sebab kenakalan para penerus bangsa yang tidak menginginkan ketekunan dalam bergaul, keselarasan dalam bersahabat dan keseimbangan dalam menentukan sebuah akar masalah. Hal ini bisa membuat para remaja penerua bangsa berpikir secara autodidak sehingga menimbulkan penyimpangan moral yang pasti tidak diinginkan oleh siapapun. Maka dari itu, tanggung jawab besar membersihkan kemerosotan moral dari negeri ini sangatlah berliku, ditambah dengan semakin menjamurnya sesuatu yang tidak sesuai dengan stigma ketimuran yang kita anut sejak lama

4. Pemecahan Masalah Moral
Sipa sangka moral tak dapat diperbaharui, moral yang sistem kendalinya ada dalam ‘cpu’ otak manusia bisa diperbaharui dengan berbagai faktor alam dan lahiriah. Adapun cara dalam menanggulangi kemerosotan moral yang bisa kota lakukan dalam konteks berpedoman pada asas negara kita yakni hukum. Bukan cambuk, bukan hukuman penjara maupun hukuman mati yang mampu membumi hanguskan kemerosotan moral ditengah kita.

Remaja adalah menjadi penyumbang terbesar dalam hal kemerosotan moral, mengingat usia remaja adalah usianya darah muda sedang bergelora. Gengsi dan arogansi lah yang menjadikan remaja terperosok kedalam jurang keterpurukan morall, tauran, pacaran, sampai hubungan intim diluar nikah menjadi sasaran empuk jika moral mereka tidak dibina sejak saat ini. Dalam belajar pelajaran disekolah, kita sering sekali menemukan diskusi antar kelompok yang didalamnya untuk memecahkan suatu soal perkara yang diberikan oleh sang guru. Jika para remaja dijejali dengan pendidikan etika dan moral lebih dari pendidikan basis yang diterpakan disekolah, bukan hal mustahil jika mereka akan terbebas dari moral yang tak beradab.
Siapa yang mampu menjamin bahwa dia yang rajin ibadah akan memiliki moral yang baik, dan siapa pula yang bisa menjamin bahwa mereka yang suka tauran memiliki moral buruk. Sebagaimana kita tahu bahwa moral adalah perbuatan atau perkataan dan niat yang secara bersamaan dilakukan tanpa meninggalkan satu sama lainnya sehingga tercipta sebuah hasil usaha yang bisa dinilai sebagai moral baik ataupun sebaliknya. Maka dari itu, Pendidikan etika dan moral sangat dibutuhkan untuk diajarkan dalam dunia pendidikan sebagai salah satu mata pelajaran dasar layaknya matematika, kimia , fisika dan lain sebagainya.

Dengan memperbanyak kegiatan beragama dalam keseharian juga mampu mengurangi kemerosotan moral pada penerus bangsa. Dahulu, kita sering mendengar istilah Ikatan Remaja Masjid, Rohis dan lainnya. Semua itu adalah wadah para remaja dahulu dalam memerangi moral buruk, dengan bergabung di organisasi tersebut para remaja seakan menjadi pecinta sholat, pecinta pengajian dan pecinta al-quran. Kini, sangat mengkhawatirkan. Ditengah derasnya persaingan tekgnologi yang diciptakan oleh sebagian besar para yahudi menjadikan para remaja kebanyakan tidak lagi datang ke pengajian, tidak lagi rajin bersembahyang, tidak ada lagi kemeriahan dalam keorganisasian masjid-masjid yang ada. Kini yang ada adalah jenis kemerosotan moral yang memprihatinkan. Contohnya, ketika datang waktu shalat bulan adzan yang dikumandangkan apalagi bergegas ke masjid atau musholla melainkan update status di jejaring sosial seakan dia adalah remaja yang rajin shalat, padahal yang demikian adalah remaja yang rajin update waktu shalat tanpa mengerjakan shalat itu. MasyaAllah.
Kemajuan tekhnologi jangan sampai menjadi alasan merosotnya moral anak bangsa, kecanggihan tekhnologi seharusnya digunakan untuk saling memperbaiki diri, sudah sebagaimana kita mampu mengambil sisi positif dari kemajuan dunia ini. Sudah sejauh mana kita fahami makna sesungguhnya pada kecanggihan tekhnologi. Inilah mengapa kita harus membangkitkan kembali kegiatan keagamaan dalam keseharian khususnya pada tingkatan remaja usia sekolah. Pesantren kilat setiap jumat pagi, jumat bersih dan kegiatan agama lainnya yang dahulu ada untuk perbaikan moral namun sekarang hampir tergerus oleh kesalah pahaman dalam kemajuan sehingga mengakibatkan merosotnya moral penerus bangsa indonesia.

Kemudian keseimbangan budaya yang semakin terjungkal tajam, budaya bangsa sendiri seakan tidak tahu entah kemana. Namun budaya asing seakan mudah welcome terhadap para penerus bangsa. Masih ingatkah kita pada budaya sesungguhnya milik bangsa ini? Atau kita sudah “menjual”nya dengan selalu menghadirkan budaya asing dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Presiden kita saat ini mengajarkan pentingnya memperkenalkan budaya indonesia ke mancanegara melalui pidato resminya di konferensi dengan negara-negara sahabat menggunakan bahasa indonesia. Secara tidak langsung, budaya juga ikut andil dalam merosotnya moral anak bangsa, remaja pemuda-pemudi saat ini lebih senang dengan mengenakan pakaian khas barat yang mempertontonkan lekuk tubuh atau bahkan sama sekali memperlihatkan aurat kepada mereka yang bukan muhrim. Hingga sampai kepada budaya kumpul kebo yang dianut dari barat smapai kepada penerus bangsa kita. Padahal, kita memiliki badan manajemen izin dalam pemerintahan. Alangkah baiknya budaya yang tidak sesuai dengan tatanan moral bangsa ini dilarang di negeri kita tercinta indonesia, namun kembali lagi jawabnya pasti HAK ASASI MANUSIA.

Kadang atas nama hak asasi lah kebudayaan, kebijakan dan keputusan asing yang masuk kedalam indonesia dan bebas berkeliaran di indonesia. Jika kita sadari setidaknya sudah sekian banyak pelanggaran moral yang dilakukan oleh penerus bangsa adalah karena adanya kebijakan yang mengatas dasarkan hak asasi manusia.

Kesimpulannya pada empat poin diatas adalah, moral yang sekan bagaikan momok bagi bangsa manapun, karena tidak sedikit banhsa yang terkenal adalah bangsa yang moralnya luhur dan bangsa yang bermoral adalah bangsa yang mau menegakkan peraturan tanpa mengesampingkan hal apapun sehingga banhsa itu menjadi harum di mata dunia.

Sementara dengan kemerosotan moral yang saat ini sedang terjadi dalam kehidupan berbangsa, ada baiknya kita bersama-sama memperbaiki moral yang baik demi penerus bangsa yang baik pula. Jika diagram segitiga berkata untuk memulihkan moral buruk suatu bangsa adalah tingkatannya pertama yaitu PEMERINTAH kemudian pada tingkatan kedua adalah GURU dan ORANG TUA lalu pada tingkatan ketiga adalah DIRI SENDIRI , MASYARAKAT dan PERGAULAN.

Semoga apa yang saya utarakan pendapat dalam menyikapi kemerosotan moral penerus bangsa ini dapat dijadikan kebaikan apabila didalamnya memang baik dan bisa dimaklumi dan mohon dimaafkan apabila didalamnya ada hal yang kurang berkenan.

Alhamdulillahi wallahu A’lam

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *