[Karya KBM3] Moral Positif: Modal Pemuda untuk Bangun Bangsa

Posted on Updated on

Generasi muda adalah aset yang tak ternilai harganya bagi perkembangan suatu negara. Para pemuda diharakan mampu menjadi tonggak perubahan ke arah yang lebih baik. Sebab di tangan para pemuda suatu negara dapat bangkit maju dan berkembang atau malah terpuruk. Sebagaimana perkataan presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia.” Dari ungkapan ini terlihat betapa pemuda merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi masa depan suatu negara. Begitu halnya dengan pemuda Indonesia. Banyak anak-anak bangsa yang telah berhasil mencetak prestasi dan berkarya di ranah internasional. Namun, banyak juga diantara para pemuda Indonesia yang harus memupus asa karena rusaknya moral mereka.
Cukup banyak kerusakan moral yang terjadi di kalangan remaja seperti yang banyak diberitakan di berbagai media. Yang paling sering terdengar diantaranya seks bebas dan konsumsi narkoba dan minum minuman keras. Seks bebas adalah tindakan yang dilakukan remaja akibat berduaan antara laki-laki dan perempuan yang melampaui batas. Sementara konsumsi narkoba dan minuman keras akan menimbulkan efek kecanduan dan berdampak negatif bagi pemakainya serta merusak sel-sel otak dan merugikan tubuh mereka. Laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dari survei yang dilakukannya tahun 2007 di 12 kota besar di Indonesia tentang perilaku seksual remaja sungguh sangat mengerikan. 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Bahkan, 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Disisi lain, pada tahun 2002 lalu, sekitar 70% dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, antara 14-20 tahun. (http://jasirahbar.blogspot.com). Dari data tersebut, terlihat bahwa seks bebas dan konsumsi narkoba dan minum minuman keras merupakan masalah kerusakan moral yang perlu segera dicari penyebab dan solusinya.
Beberapa penyebab seks bebas dan konsumsi narkoba dan minuman keras diantaranya kurangnya pemahaman ilmu agama dan tingkat keimanan, kurangnya pengawasan dari orang tua, pengaruh lingkungan serta pengaruh media sosial. Pemahaman ilmu agama perlu ditanamkan kepada para pemuda sejak dini. Keluarga adalah madrasah pertama bagi remaja untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu yang dibutuhkannya dalam menghadapi masa-masa perkembangan diri dari anak-anak menuju dewasa. Jika nilai-nilai agama sudah tertanam kuat dalam diri seorang individu tentunya hal tersebut akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan yang baik itulah akan tercipta karakter yang positif. Karakter sebagai seorang muslim yang dengan tegas menolak hal-hal yang dapat menjerumuskannya ke dalam jurang kemaksiatan dan kubangan dosa. Ketika iman dan taqwa melekat di hati tentu akan merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak akan melakukan hal-hal yang diluar syariah islam.
Sebaliknya, para pemuda yang dididik tanpa pemahaman ilmu agama yang baik tidak akan mendapatkan pengetahuan bahwa bersentuhan fisik, berjabat tangan dan berdua-duaan dalam islam itu dilarang. Sebab tindakan berkhalwat atau berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan pernikahan akan dapat menjurus ke arah seks bebas. “Saling berkirim SMS atau bercakap via telepon adalah bentuk berzina dengan mulut, telinga, tangan yang memencet HP, dan akal yang berfantasi seksual. Walhasil, semua itu dilarang dalam islam” (Roihan, 2008). Padahal Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya perzinaan itu adalah perbuatan keji dan jalan yang amat buruk.” Sementara terkait konsumsi narkoba dan minum minuman keras Allah telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Q. S. Al-Maidah : 90).
Penyebab lain kerusakan moral pemuda adalah kurangnya pengawasan dari orang tua. Hal ini bisa terjadi pada keluarga dengan orang tua yang terlalu sibuk bekerja. Kurangnya perhatian pada anak-anak dan minimnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat menjadi sumber kerusakan moral remaja. Remaja yang tidak mendapat perhatian dari orang tuanya cenderung melakukan tindakan yang di luar batas untuk mendapatkan perhatian. Selain itu, komunikasi yang minim menyebabkan remaja kurang memahami dan tidak banyak mendapatkan informasi dari orang tua. Misalnya terkait hubungan dengan lawan jenis, terutama masalah seks. Adanya masalah keluarga atau masalah pribadi dalam diri remaja juga dapat menjadikan narkoba atau minuman keras digunakan sebagai sarana untuk lari dari masalah. Dalam hal ini remaja perlu kontrol dan pendampingan dari orang tua karena masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Peran orang tua sangatlah penting untuk terus melakukan dialog dengan anak agar remaja tersebut berhasil mengatasi beragam masalah yang dihadapi saat menginjak masa puber dengan baik.
Pengaruh lingkungan juga dapat menjadi penyebab kerusakan moral remaja. Pergaulan yang tidak ada batasnya antara laki-laki dan perempuan dapat memicu munculnya seks bebas. Pengaruh teman dan lingkungan sekitar yang kerap menampilkan adegan serupa berpotensi menjadikan remaja mencontoh perilaku tersebut. Lebih lanjut, lunturnya nilai-nilai moral dalam diri pemuda menjadikan mereka tidak merasa malu untuk melakukan perbuatan asusila ataupun hal-hal yang dapat menyebabkan tindakan yang menjurus ke arah seks bebas, seperti mengumbar aurat dengan berpakaian minim dan terbuka. Selain itu, remaja dapat terpengaruh teman untuk mengkonsumsi narkoba dan minuman keras karena adanya stigma “nggak make, nggak gaul”. Hal ini memunculkan keinginan remaja untuk diterima dalam pergaulan sehingga mengiyakan ajakan untuk mencoba hal-hal yang tak seharusnya dilakukan.
Penyebab terakhir maraknya seks bebas dan konsumsi narkoba dan minuman keras di kalangan remaja adalah pengaruh media massa. Tayangan di televisi kerap menampilkan drama percintaan remaja sehingga menciptakan khayalan dan angan-angan tentang indahnya berpacaran yang berpotensi ke arah seks bebas. Rhoma (2009) dalam bukunya mengatakan “Generasi muda yang seharusnya mampu melawan proses pembodohan ini, ternyata telah terlena dengan tayangan-tayangan tersebut. Meminjam istilah Sigmund Freud, tivi adalah ilusi yang harus dimusnahkan! Karena dia telah menawarkan janji-janji palsu yang merusak identitas generasi muda.” Ditambah lagi akses internet yang marak dipenuhi pornografi. Sejalan dengan hal ini, Rhoma (2009) memaparkan dampak negatif dari internet, yaitu mampu mengakses video, gambar, dan cerita pornografi.
Beberapa penyebab diatas dapat diatasi dengan pemahaman ilmu agama yang baik, pengawasan orang tua, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik serta mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Terkait permasalahan seks bebas, remaja perlu dibekali ilmu mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dalam islam, dikenal istilah “ghodul bashor” atau menundukkan pandangan ketika bertemu dengan lawan jenis, tidak diperbolehkannya bersentuhan fisik atau berjabat tangan, berjalan bersama apalagi berdua-duaan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Seperti yang diungkapkan dalam hadits riwayat Ahmad, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah sekali-sekali berduaan dengan perempuan yang tidak disertai mahram darinya karena sesungguhnya pihak ketiganya adalah setan.” Sementara dalam hubungannya dengan masalah narkoba dan konsumsi minuman keras tentunya pemahaman ilmu agama dan pengamalan yang baik akan menjadi senjata yang ampuh untuk menangkal pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Remaja dan pemuda dengan tingkat keimanan yang luar biasa akan merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak akan berani melakukan hal-hal yang diluar syariah islam.
Selain itu, peran orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama sangat dibutuhkan. Sebab dalam masa perkembangannya remaja mengalami apa yang dinamakan egosentrisme. Egosentrisme meningkatkan perilaku berisiko remaja karena ia merasa hal-hal buruk tidak akan terjadi padanya (Prastari, 2011). Contohnya, hamil karena seks bebas dan dihukum pidana karena menggunakan narkoba tidak akan terjadi padanya. Disini diperlukan peran orang tua untuk memberikan pendidikan, arahan dan pemahaman kepada remaja.
Pendidikan yang layak diberikan kepada para remaja antara lain pengetahuan terkait bahaya seks bebas dan efek negatif yang ditimbulkannya, seperti hamil di luar nikah yang berpotensi aborsi, terjangkit virus berbahaya karena bergonta-ganti pasangan, rasa malu dan penyesalan seumur hidup serta efek yang paling buruk adalah dosa zina dihadapan Allah SWT. Seperti yang diungkapkan oleh Prastari (2011) bahwa orang tua sebaiknya menjadi orang pertama yang dijadikan sumber informasi seputar seks dan hubungan dengan lawan jenis. Sebab, jika remaja memperoleh informasi dari sumber lain seperti teman, bahan bacaan ataupun internet akan sangat berbahaya. Teman sebayanya sama-sama tidak tahunya dengan anak remaja tersebut. Dikhawatirkan mereka akan mencoba hal-hal yang tidak seharusnya dan mencari sumber dari media lain dikhawatirkan dapat meningkatkan potensi remaja untuk berinteraksi dengan gambar ataupun akses terkait pornografi.
Lebih lanjut, orang tua dituntut untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk dapat berbagi dan mengkomunikasikan segala persoalan dengan sang remaja. Masa-masa remaja yang penuh dengan masa pencarian jati diri akan membuatnya menghadapi berbagai persoalan yang memungkinkannya untuk lari mencari solusi yang instan seperti menggunakan narkoba dan mengkonsumsi minuman keras. Diperlukan adanya dialog antara orang tua dan remaja sehingga mereka dapat terbuka terkait problematika yang tengah ia hadapi. Dengan seringnya berbincang dengan anak dan menjadi tempat curhat dalam mendiskusikan permasalahannya, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan pada anak.
Sebagai tambahan, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik perlu diperhatikan oleh para remaja. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah artikel bahwa lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi perilaku dan watak remaja. Jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk, moralnya pun akan seperti itu adanya. Sebaliknya jika ia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula (http://tekkabancin.blogspot.com). Disini terlihat bahwa jika remaja bergaul dengan teman yang tepat, mereka akan dapat terhindar dari kerusakan moral. Sebaliknya, prestasi dan kesuksesan dapat mereka raih. Salah satunya dengan mempersiapkan diri agar siap berkompetisi untuk menghadapi AFTA. Generasi muda seharusnya berpartisipasi aktif dan jangan sampai kehilangan momentum untuk terus menghasilkan kreasi, menciptakan karya dan melakukan inovasi.
Solusi yang terakhir, remaja dapat mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Sebuah artikel dalam http://tekkabancin.blogspot.com mengatakan “Dampak globalisasi teknologi memang dapat memberikan dampak positiftetapi tidak dapat di pungkiri lagi bahwa hal ini juga dapat berdampak negative bagi kerusakan moral. Perkembangan internet dan ponsel berteknologi tinggi terkadang dampaknya sangat berbahaya bila tidak di gunakan oleh orang yang tepat.” Dalam hal ini, remaja sebaiknya bijak dalam menggunakan televisi, internet dan media lainnya. Bersikap kritis dapat menjadi salah satu alat yang ampuh untuk tidak menerima sesuatu secara mentah-mentah. Pemuda harus pandai memilah informasi yang baik untuk diserap dan membuang hal-hal yang kurang baik.
Singkatnya, kerusakan moral generasi muda seperti maraknya seks bebas dan mengkonsumsi narkoba dan minuman keras dapat memberikan efek negatif bagi perkembangan negara Indonesia kedepannya. Sebab, generasi muda adalah tonggak harapan bangsa dan sumber daya yang sangat bernilai harganya. Beberapa penyebab kerusakan moral ini antara lain kurangnya pemahaman ilmu agama dan tingkat keimanan, kurangnya pengawasan dari orang tua, pengaruh lingkungan serta pengaruh media sosial. Hal-hal tersebut dapat diatasi dengan pemahaman ilmu agama yang baik, pengawasan orang tua, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik serta mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Dengan demikian generasi muda akan lebih siap untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa.

Referensi:
– Makalah fenomena kerusakan moral, dikutip tanggal 17 Januari 2015 dari http://tekkabancin.blogspot.com/2013/10/makalah-fenomena-kerusakan-moral-dan.html.
– Makalah solusi dekadansi moral pelajar, dikutip tanggal 17 Januari 2015 dari http://jasirahbar.blogspot.com.
– Prastari, A. (2011). Please deh, Mom! Yogyakarta: Leutika.
– Rhoma, R. B. (2009). Berhala itu Bernama Budaya Pop. Yogyakarta: Leutika.
– Roihan, E. (2008). Engkaukah Bidadari itu? Solo: Era Intermedia.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *