[Karya KBM3] Penguatan Keluarga Sebagai Pondasi Perbaikan Moral Generasi Muda

Posted on Updated on

Suatu ketika saya mendapati salah seorang teman saya tidak masuk sekolah. Sudah beberapa hari dia absen, tak ada izin, tak ada kabar. Ada beberapa teman yang rumahnya dekat dengannya mengatakan kalau dia sedang sakit. Tapi tak biasanya seperti itu, teman yang pendiam dan setiap harinya mengenakan jilbab itu tak mengirimkan kabarnya pada teman-teman dan sekolah.

Setelah lebih dari tiga hari, tak saya sangka, muncul desas-desus yang membuat kuping gatal dan tak mengenakkan hati saya. Bagaimana tidak, dia termasuk teman dekat saya, yang saya tahu dia anak baik-baik. Tapi, bagaimana mungkin dia hamil di luar nikah? Saat usianya masih muda, bahkan masih sekolah?!

Dan yang membuat saya sedih, ternyata desas-desus itu benar adanya. Ya, teman saya itu memang hamil di luar nikah dengan tetangganya. Dia diam saja, tak menceritakan hal itu pada siapapun hingga akhirnya kandungannya terus membesar dan menampakkan faktanya pada orang-orang di sekitarnya.

Cerita nyata itu sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika saya masih memakai seragam putih abu-abu.

Degradasi Moral Remaja

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh kasus nyata atas kerusakan moral remaja yang terjadi di sekitar kita. Tidak hanya sekarang, tetapi bahkan beberapa tahun yang lalu hal itu sudah terjadi. Mulai dari menyontek saat ujian, membolos sekolah, merokok, bullying pada teman, berani pada orangtua atau guru, sampai hamil di luar nikah.

Bedanya, sekarang degradasi moral yang terjadi pada remaja Indonesia kian menjadi-jadi. Kita tentu sudah sering menyaksikan atau membaca berita di media massa tentang berbagai kerusakan moral tersebut. Hampir setiap hari berita semacam itu tersaji di hadapan kita.

Akses informasi secara global yang kian mudah didapatkan semakin membuka celah bagi para remaja untuk melakukan berbagai tindakan di luar batas. Tersedianya perangkat teknologi informasi dan kemudahan akses internet dalam era globalisasi seperti sekarang ini, tak dapat dipungkiri menjadi salah satu penyebab utama degradasi moral remaja.

Contoh sederhananya adalah, adanya handphone mempermudah para remaja melakukan kontak dengan lawan jenis yang bisa mengakibatkan hubungan lebih lanjut. Kemudian adanya internet mempermudah mereka mendapatkan informasi dan contoh pornografi yang nyata (misalnya dari tayangan di Youtube).

Akan tetapi, tentu kita tak bisa menyalahkan sepenuhnya atas degradasi moral remaja pada era globalisasi yang kian bebas. “Serangan” dari luar memang bertubi-tubi. Baik berasal dari efek kemajuan teknologi, pergaulan di sekolah, ataupun pengaruh lingkungan di sekitarnya. Tetapi satu hal yang tak boleh dilupakan, kerusakan moral remaja bahkan sangat bisa terjadi akibat permasalahan yang berasal dari rumah.

Berawal dari Rumah                                   

Rumah, adalah lingkungan pertama seorang manusia sejak ia lahir. Dari rumah ia mengenal ibu bapaknya, lalu anggota keluarganya. Dari rumah ia mendapatkan pendidikan yang pertama sebelum ia mengenal dunia luar.

Pada kasus teman saya di atas, diketahui bahwa teman saya itu termasuk anak yang pendiam. Dia pun kurang terbuka pada kedua orangtuanya. Setiap hari dia di rumah hanya dengan adiknya, sedangkan kedua orangtuanya bekerja. Kurangnya kuantitas dan kualitas pertemuan antara orangtua dan anak-anaknya tersebut menjadikan adanya jurang pemisah di antara mereka. Komunikasi pun terbatas. Hingga masalah besar seperti yang dialami teman saya itu pun tak berani diungkapkan pada kedua orangtuanya.

Aib itu mungkin tak akan terjadi jika hubungan orangtua dan anak tak berjarak. Anak biasa terbuka pada orangtua, sebaliknya orangtua selalu membangun komunikasi dengan anak. Sehingga anak tak ragu atau takut untuk membicarakan hal atau masalah apapun yang dialaminya. Anak terbiasa “curhat” pada orangtuanya. Anak pun akan mudah mematuhi perintah ataupun nasehat-nasehat dari orangtuanya.

Sebuah keluarga yang kering tanpa adanya komunikasi yang hangat di antara para anggota keluarganya akan menjadikan rumah yang ditempatinya tak nyaman. Hal itu dapat menimbulkan anak mencari lingkungan lain yang lebih nyaman di luar rumah. Pada kasus-kasus tertentu, ketika anak sedang bermasalah, ia akan mudah terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang tak bermoral.

Sehingga tak jarang kerusakan moral remaja berawal dari kehidupan keluarga yang kurang harmonis. Kehidupan anak-anak tak terpantau dengan baik oleh orangtuanya. Hingga akibatnya anak bisa berbuat semaunya, mencari kesenangan yang tak bertanggung jawab, berbohong, membolos sekolah, menyontek, tawuran, melakukan pelecehan seksual, dan sebagainya.

 

Contoh akibat broken home:

 

Penguatan Keluarga

Saya setuju sekali dengan pendapat salah seorang Guru Besar ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya yang juga merupakan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Bapak Prof. Dr. Daniel Mohammad Rosyid, pada sebuah seminar parenting yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Dalam makalah yang berjudul “Penguatan Keluarga dalam Pendidikan di Abad Digital” beliau menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sistem pendidikan yang memperkuat keluarga dan masyarakat, bukan melemahkannya. Esensinya adalah, bahwa penguatan keluarga menjadi sangat penting untuk mendidik anak-anak berperilaku positif.

Karena, di era yang semakin modern seperti saat ini, tampaknya masyarakat Indonesia banyak yang berkiblat ke dunia Barat, di mana masing-masing laki-laki dan perempuan sebagai orangtua lebih mementingkan karir di luar rumah dan kurang perhatian terhadap perkembangan anak-anaknya. Hal ini menjadi ironis, karena mereka sukses di dunia kerja tetapi mengabaikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak secara psikis. Anak-anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

Anak-anak korban broken home:

Rumah hanya dijadikan semacam terminal bagi anggota keluarganya. Hanya sebagai tempat singgah untuk istirahat atau tidur, tak lebih dari setengah hari. Sehingga tak ada ruang untuk bercengkerama dan berbagi masalah bersama-sama. Akibatnya, seringkali bermunculan perilaku-perilaku negatif sebagai bentuk pelampiasan kurangnya kasih sayang orangtua.

Telah banyak contoh kasus broken home dalam masyarakat Barat akibat dari siklus hidup sehari-hari masyarakat industrial seperti itu. Keluarga yang hancur dan anak-anak yang menjadi korbannya.

Maka, sebenarnya peran orangtua sangat penting bagi pembentukan moral anak-anaknya. Orangtua harus bisa membangun pondasi yang kuat bagi moral anak-anaknya sejak kecil. Sehingga ketika anak menginjak masa remaja, dia sudah siap untuk menerima tantangan yang begitu hebat dari lingkungan luarnya. Berkaitan dengan pembentukan moral yang baik, menurut saya sejak kecil anak-anak setidaknya harus dibekali dengan:

  • Pendidikan agama, seperti bagi seorang muslim mencakup pendidikan syari’at Islam dan akhlak yang baik. Hal ini jelas mutlak harus diberikan, karena menyangkut pertanggungjawaban dengan Allah SWT.
  • Pendidikan norma-norma dalam masyarakat, yang menyangkut aturan-aturan baik tertulis atau tidak tertulis dalam masyarakat dan negara. Karena moral seseorang pasti juga berkaitan dengan urusan norma-norma dalam masyarakat, seperti norma hukum, kesusilaan, dan sebagainya.
  • Pendidikan etika, mengenai nilai-nilai baik-buruk yang menyangkut tata krama (menyesuaikan dengan adat-istiadat di daerahnya masing-masing).

Dalam pendidikan di keluarga ini, peran ibu sangatlah penting. Karena seperti kita ketahui, ibu adalah sekolah (pendidik) yang pertama dan utama, dia adalah sekolah terbaik bagi anak-anaknya. Itulah tugas mulia seorang ibu, mendidik anak-anaknya hingga kelak menjadi orang yang shalih/shalihah, bermoral dan berakhlak mulia.

Seorang pujangga termasyur dari Mesir, Ahmad Syauqi berkata:

Ibu adalah sekolah. Jika engkau menyiapkannya (dengan baik), maka engkau menyiapkan sebuah generasi yang berkualitas tinggi.

Begitu pula dengan syair Hafizh Ibrahim:

“Seorang ibu adalah sekolah apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan generasi yang harum”.

Moral Generasi Muda Sebagai Modal Bangsa

Tak dapat dipungkiri, masa depan bangsa adalah bergantung pada pundak para generasi muda masa kini. Kita tak bisa berharap negara akan maju secara lahir batin jika moral para pemudanya bobrok. Jika karakter negatif telah dimiliki oleh para pemuda, bisa dipastikan masa depan bangsa akan rusak di tangan mereka. Jika karakter negatif telah melekat pada mereka, untuk menjadi baik di masa depan sangatlah sulit. Maka, moral generasi muda harus dipersiapkan sebaik mungkin sebagai modal bagi kemajuan bangsa di kemudian hari.

Hendaklah kita ingat firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa’ ayat 9 yang artinya:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Berawal dari pendidikan yang baik di lingkungan keluarga, moral anak akan terbentuk dengan baik pula. Karakter-karakter positif yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan baik sejak kecil akan tertanam dengan kuat, sehingga kita bisa berharap di masa mudanya karakter-karakter itu tetap melekat pada dirinya hingga dewasa nanti.

Tentu saja, menjaga dan merawat karakter-karakter atau moral yang baik itu sungguh tak mudah. Perlu keistiqamahan dari pihak keluarga (orangtua) untuk menjaganya. Selain itu menjaga moral baik adalah kerja bersama antara keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat, dan instansi-instansi terkait seperti pihak kepolisian dan lain-lain.

Pelanggaran norma-norma dalam masyarakat oleh para pemuda harus diberikan sanksi yang tegas dan mendidik, yang bertujuan meluruskan dan memberikan pengalaman demi kebaikan mereka sendiri. Jadi, bila di sekitar kita ada peristiwa-peristiwa kenakalan remaja, sudah seharusnya kita berani menegur mereka dengan cara yang baik, bukan mendiamkannya saja.

Kesimpulannya, selain penguatan keluarga adalah yang utama, perbaikan moral generasi muda adalah tugas kita bersama. Sebagai orangtua kita wajib mengawal mereka, kita tak bisa “pasrah bongkokan” (menyerahkan sepenuhnya) pendidikan anak-anak kita pada sekolah. Begitupun, kita tak boleh hanya menyalahkan lingkungan apabila kerusakan moral mulai menerpa anak-anak kita. Sebagai orangtua kita wajib pula mengontrol setiap kegiatan anak baik di dalam atau di luar rumah. Dan benteng terakhir, adalah doa. Doa yang tulus dari orangtua untuk kebaikan anak-anaknya, insya Allah akan memuluskan jalan mereka untuk sukses di dunia dan akhirat.

Saya sebagai orangtua khususnya sebagai ibu, sangat berharap moral generasi muda di Indonesia bisa membaik dari waktu ke waktu. Memang, melihat kemajuan dunia di abad digital seperti sekarang ini harapan itu tampak bagai fatamorgana. Tapi bila para orangtua khususnya para ibu mau memulainya dari rumah mereka masing-masing, insya Allah harapan saya bisa terwujud kelak di kemudian hari. Aamiin.

Info mengenai dunia Islam bisa mengunjungi:

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *