[Karya KBM3] Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia

Posted on Updated on

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Tiada ungkapan kata yang layak diucapkan setiap menerima kenikmatan dari Allah SWT. Kecuali ucapan rasa syukur Alhamdulillahi robbil a’lamin. Salah satu kenikmatan terbesarnya adalah kesempatan dalam menuntut ilmu dalam keadaan sehat,islam,iman, dan ihsan. Sehingga pada kesempatan kali ini, saya dapat menghadirkan sebuat goresan pena dengan judul “Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki) sebagai Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia, Studi Analisis Etnografi pada Tradisi di Daerah Lamongan, Jawa Timur”.

Tak terlupa, salawat serta salam terlantun kepada idaman hati umat islam, Nabi Muhammad SAW. Suri teladan yang baik bagi umatnya. Penyempurna akhlaq seluruh umat. Semoga beliau berkenan memberikan syafa’atnya kelak pada akhir zaman. Aamiin.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, Aamiin…

Ketika mengetahui kontes blog muslim ini, sebagai seorang muslim saya berbangga hati. Di tengah penyalahgunaan media sosial, ternyata masih terdapat ruang dalam berdakwah. Goresan pena saya ini hanya setetes air di lautan yang masih perlu banyak perbaikan. Meski demikian semoga bermanfaat bagi sesama. Khususnya bagi para perempuan dan calon ibu pencetak generasi islami selanjutnya. Aamiin

 

Mukadimah

Berbicara masalah remaja, memang tidak akan ada habisnya. Dalam definisi masyarakat awam, remaja biasa diartikan dengan usia muda kurang lebih 11-24 tahun dan belum menikah. Oleh karena itu, sebelumnya mari kita simak definisi remaja menurut pakarnya. Menurut Csikzentimihalyi dan Larson (Sarwono, 2002) menyatakan bahwa remaja adalah restrukturisasi kesadaran. Artinya, masa remaja merupakan masa penyempurnaan dari perkembangan pada tahap-tahap sebelumnya. Puncak perkembangan jiwa tersebut ditandai dengan adanya proses dari kondisi entropy ke kondisi negentropy. Entropy adalah keadaan kesadaran manusia belum tersusun rapi. Meskipun seseorang telah memiliki banyak pengetahuan, perasaan dan lain-lain, namun hal tersebut belum saling terkait dengan baik. Negentropy adalah keadaan kesadaran tersusun dengan baik , sehingga pengetahuan yang dimiliki seseorang saling terkait, yang akhirnya mengakibatkan orang yang bersangkutan merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas, sehingga bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

Berdasar ulasan di muka, dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan sebuah masa restrukturalisasi kesadaran manusia pada usia 11-24 tahun. Sedangkan pertanyaan yang muncul saat ini adalah, bagaimana kondisi remaja Indonesia saat ini? Sudahkah mencapai restrukturalisasi kesadaran sebagai remaja generasi penerus bangsa? Bagaimana kondisi remaja yang sebagian besar adalah beragama islam? Sudahkan menemukan jati diri sebagai seorang muslim?

Dilansir dari IndonesiaRayaNews.com, Deputi Bidang KBKR; dr. Julianto Witjaksono AS., MGO., Sp.O.G., K.FER, dalam diskusi mingguan BKKB, di Jakarta, Rabu (20/3/2013) mengungkapkan bahwa satu dari dua remaja 50 persennya beresiko pernah melakukan hubungan itim. Terlebih lagi, angka kehamilan anak diluar nikah juga mengalami peningkatan, untuk tahun 2012 pihaknya mencatatat 4,8 persen kehamilan terjadi pada anak usia 10 hingga 11 tahun. Hal tersebut diperkuat oleh SURYA Online, KediriKetua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU Khofifah Indah Parawansa sangat prihatin dengan data angka kehamilan anak-anak dan remaja di luar nikah yang semakin mencemaskan. Berdasarkan data 2013, angka kehamilan di luar nikah para generasi penerus itu telah mencapai jutaan. “Selama 2013, anak-anak usia 10 – 11 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 600.000 kasus. Sedangkan remaja usia 15 – 19 tahun yang hamil diluar nikah mencapai 2,2 juta,” ungkap Khofifah Indah Parawansa pada pengajian umum puncak hari lahir Muslimat NU ke 68 yang berlangsung di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Kota Kediri, Minggu (8/6/2014). Jumlah itu belum termasuk angka remaja yang hamil usia 12 – 14 tahun yang tidak terdata.

 

Sungguh miris saudaraku, sebagai seorang perempuan menjerit hati ini.

Di tengah arus globalisasi, tuntutan hidup hedonis semakin menjadi-jadi. Berdasarkan data United Nation of Environment Program (UNEP) tahun 2012, Indonesia tercatat sebagai negara paling konsumtif nomor empat se-Asia-Pasifik. Sugguh gaya hidup foya-foya yang memprihatinkan. Di saat saudara kita di Palestina merasakan kesakitan atas penindasan kaum Israel. Hujan pelor, pistol, bahkan bom sudah menjadi hidangan setiap harinya. Tidakkah terdengar suara tangis mereka yang berlumuran darah meminta pertolongan kepada sesama saudara muslimnya? Tidakkah kita merasakan setiap kesakitan atasnya? Lantas bagaimana dengan nasib generasi Indonesia 2025 dalam bonus demografi mendatang? Belum lagi tuntutan persaingan AFTA, MEA, dan ASEAN Community? Akankah generasi muslim bangsa ini kehilangan jati diri?

 

Peran Generasi Perempuan Indonesia

Ir. Soekarno yang terkenal sebagai bapak proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia berkata “ beri aku seribu orang tua niscaya akan ku cabut semeru dari akarnya, beri aku satu pemuda niscaya akan ku guncangkan dunia. Dalam hal ini, begitu penting peran pemuda telah dikemukakan oleh pendahulu kita. Akankah sebagai seorang pemuda, apalagi sebagai seorang perempuan dapat menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran? Islam rahmatan lil a’lamin menjawab dalam sebuah hadits nabi :

Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Hal tersebut pun diperkuat oleh maqalah yang menyatakah bahwasanya:

“wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik maka negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka negara akan rusak pula”.

 

Berdasar hadits dan maqalah tersebut, sudah jelas bahwa dunia dan negara bergantung pada kaum perempuan. Kaum perempuan berperan sebagai pengokoh dan pengindah akhlaq generasi selanjutnya. Hal ini disebabkan, dalam rahim seorang perempuan akan lahir generasi-generasi hebat selanjutnya. Sehingga dapat dikatakan peran perempuan sebagai seorang ibu sangatlah penting.

 

Di sisi lain, kecenderungan merendahkan perempuan telah lahir sejak zaman jahiliyah. Kebiasaan jahiliyah untuk membunuh bayi perempuan merupakan hal yang marak terjadi. Perempuan dianggap manusia kelas dua dan tidak mempunyai hak. Sampai akhirnya islam rahmatan lil ‘alamin datang dengan kebenaran dan keadilan. Islam yang berpedoman pada Al-Quran dengan bijak menjelaskan kedudukan perempuan. Mari kita renungkan ayat berikut:

“ Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35) 

 

Berdasar rujukan surah Al-Ahzab 35 tersebut, disebutkan secara setara laki-laki dan perempuan yang memenuhi syarat dari firman Alloh yaitu: muslim-mukmin, taat,jujur,sabar, khusuk,bersedekah, berpuasa, dan menyebut nama Alloh maka Allah menyediakan pahala yang besar. Tidak terdapat perbedaan imbalan / pahala yang akan diberikan oleh Allah SWT terhadap hamba-Nya. Allah tidak membedakan laki-laki maupun perempuan.

Berdasar ayat tersebut, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjalankan kebaikan dan memperoleh pahala. Hal di muka menyatakan dengan jelas bahwa peran perempuan begitulah penting sebagai penentu kebaikan dunia.

 

Asal Usul Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki di Lamongan Jawa Timur

Tradisi perempuan meminang laki-laki sebelum melangsungkan pernikahan sudah cukup lama berlangsung di Lamongan. Tradisi itu dinilai tidak lazim,karena bertolak belakang dengan tradisi yang umum terjadi,yaitu kaum laki-laki yang meminang kaum perempuan. Lebih mengherankan lagi tradisi tidak diketahui sejak kapan dianut dan dilaksanakan masyarakat, hal tersebut dijelaskan sebagai berikut:

Kabid seni budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamongan,Suyari menjelasakn bahwa tradisi yang tidak diketahui mulai dilakukan masyarakat sejak kapan tersebut, diduga berhubungan dengan sejarah salah satu leluhur Kabupaten Lamongan bernama Mbah Sabilan dalam riwayat Panji Laras dan Panji Liris (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006).

Dalam sumber lain disebutkan bahwa :

Cerita tentang Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi puteri Adipati Wirosobo yang meminang Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris putera Raden Panji Puspokusumo Bupati ketiga Lamongan ini, dianggap sebagai cerita yang mempengaruhi adanya tradisi perempuan meminang laki-laki, dan juga sebagai legitiminasi atau pengesahan adanya tradisi perempuan meminang laki-laki di Lamongan (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006)

 

Dalam riwayat Panji Laras dan Panji Liris diceritakan bahwa kedua jejaka tersebut mempunyai ketampanan dan pesona. Sehingga membuat putri Andarsari dan Andanwangi terpikat terlebih dahulu kepada Panji Laras dan Panji Liris. Akan tetapi, Putri Andansari dan Andanwangi belum memeluk islam. Sehingga Panji Laras dan Panji Liris ingin menyiarkan islam dengan cara memberikan syarat pernikahan. Syarat tersebut adalah kedua putri tersebut harus membawa sendiri genuk dari batu (tempat air—lambang dari wudhu)  dan tikar dari batu (lambang sajadah) dari daerahnya menuju ke Wirasaba. Akan tetapi, Ketika akan turun dari perahu tanpa sadar kain panjang dewi Andansari dan Andanwangi tersingkap dan kelihatan betisnya. Betis kedua putri tersebut dipenuhi rambut yang lebat dan hitam. Sehingga membuat takut Panji Laras dan Panji Liris ketika melihatnya. Akhirnya Panji Laras dan Panji Liris kabur meninggalkan kedua putri tersebut.

Berdasar pemaparan di muka dapat diambil simpulan bahwa asal usul tradisi perempuan meminang laki-laki di daerah Lamongan Jawa Timur berasal dari cerita putri Andansari dan Andanwangi putri dari Adipati Wirasaba yang ingin meminang putra dari Raden Panji Puspa Kusuma yaitu Panji Laras dan Panji Liris. Tradisi ini juga merupakan kisah syiar agama islam di daerah Wirasaba (sekarang daerah Kertosono perbatasan Jombang-Nganjuk) yang dilakukan oleh Raden Panji Laras dan Panji Liris.

 

Nilai Sosial Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki dalam Masyarakat

Masyarakat sekitar Lamongan—nenek moyang/leluhur secara konvensional telah melakukan legitimasi cerita Panji Laras dan Panji Liris sebagai asal usul tradisi perempuan meminang laki-laki. Legitimasi tersebut mengarahkan masyarakat pada suatu tindakan/tingkah laku tertentu, yaitu suatu kebiasaan perempuan meminang laki-laki. Kebiasaan ini pun dianggap wajar/lazim di daerah Lamongan. Di sebelas kecamatan di daerah Lamongan—JawaTimur,yaitu: Kecamatan Mantup, Karanggeneng, Sambeng, Kembangbahu, Bluluk, Sukorame, Modo, Ngimbang, Sugio, Tikung, dan sebagian kecamatan kota masih melakukan tradisi tersebut. Tradisi ini pun dilakukan masyarakat—nenek moyang/leluhur sebagai upaya untuk meningkatkan strata sosial dan menjunjung nilai-nilai sosial. Hal ini sesuai dengan pemaparan berikut :

Jalan ini ditempuh para leluhur Lamongan agar masyarakat menganggap sah tradisi perempuan meminang laki-laki, karena sesuai dengan adat kebiasaan bangsawan. Dan masyarakat menganggap bahwa bila dapat meniru gaya hidup bangsawan kerajaan akan disegani anggota masyarakat lainnya, yang berarti akan menaikan , harga dirinya (dalam Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto. Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan, 2006)

 

Berdasar pemaparan di muka dapat diambil simpulan bahwa nilai sosial masyarakat di daerah Lamongan, Jawa Timur  dalam menanggapi tradisi perempuan meminang laki-laki terletak pada pengakuan/legitimasi masyarakat terhadap tradisi perempuan meminang laki-laki. Tradisi unik ini pun, diakui dan dijunjung tinggi oleh masyarakat sekitar. Legitimasi ini diperkuat dengan realisasi sebuah kebiasaan perempuan meminang laki-laki di daerah Lamongan Jawa Timur.

 

Hukum Perempuan Meminang Laki-Laki dalam Syariat Islam

Dijelaskan oleh seorang agamawan di Tuban (Kiai Haji Ashari), “ pada prinsipnya perempuan menentukan pasangannya/ perempuan meminang laki-laki tidak melanggar hukum Islam. Bahkan dalam beberapa kisah Rasulullah terdapat peristiwa yang mengungkapkan bahwa kaum perempuan seperti juga laki-laki mempunyai hak untuk menentukan pasangan hidupnya. Dalam masalah pinangan, Islam juga memperbolehkan pihak perempuan menawarkan diri untuk dinikahi oleh seorang laki-laki yang menurutnya akan mampu membawa kebahagiaan dunia akhirat (dalam jurnal Tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia,2011:16)

Hal tersebut dapat dilihat dalam pernikahan agung Rasulullah dengan Sayyidatina Khadijah. Khadijah sang saudagar kaya raya berinisiatif menawarkan pernikahan kepada Rasulullah setelah mengetahui kemuliaan dan keagungan akhlak Rasulullah. Dalam buku Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi berjudul Kumpulan Hadist Shahih Bukhari Muslim dikisahkan:

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku? lalu anak wanita Anas pun berkomentar, Alangkah sedikitnya rasa malunya.. Anas berkata, Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau. (HR. Bukhari 4726). Bukhari membuat hadits ini di  dalam bab “Perempuan menawarkan dirinya kepada laki-laki yang saleh”.

Berdasar hadits tersebut, terdapat dalil yang menunjukkan diperbolehkan perempuan menawarkan dirinya kepada orang yang diharapkan berkahnya. Dan di dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah antara lain bahwa: orang yang ingin kawin dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya itu tidak tercela, karena mungkin saja keinginan tersebut akan mendapatkan sambutan yang positif, kecuali jika menurut adat yang berlaku yang demikian itu pasti ditolak, seperti seorang rakyat jelata hendak meminang putri raja atau saudara perempuannya; dan seorang perempuan yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya juga tidak tercela, lebih-lebih jika dengan tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin karena kelebihan laki-laki yang hendak dilamarnya, atau karena suatu keinginan yang apabila didiamkan saja akan menyebabkannya terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang.

Meskipun Islam memperbolehkan perempuan meminang laki-laki, akan tetapi Islam sangat memuliakan kaum perempuan dengan mewajibkan lakilaki menyerahkan mahar (mas kawin). Dalam hal ini Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin, tetapi atas permintaan pihak perempuan yang disepakati  kedua belah pihak dan meurut kadar kemampuan. Namun Islam lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya. Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah Saw bersabda, ”Sebaik-baiknya mahar adalah yang paling ringan.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Majah, lihat Shahih Al-Jami’us Shaghir 3279).

Fakta mengungkap bahwa tradisi perempuan meminang atau inisiatif perempuan dalam menentukan pasangan hidupnya, merupakan gambaran bahwa kaum perempuan di Lamongan telah memiliki hak untuk memilih pasangan.

Menyimak tradisi perempuan meminang di Lamongan, adalah suatu yang sangat menarik, sekalipun pada awal proses pembentukkan rumah tangga pihak perempuan yang mengambil inisiatif, namun pada proses atau tahap berikutnya berlangsung sebagaimana tradisi Jawa.  Demikian pula tahap-tahap berikutnya menjelang hari H sampai dengan pelaksanaan ijab  kabul, semuanya dilaksanakan dengan merujuk kepada adat istiadat Jawa (timur) dan syariat Islam.

Berdasar pemaparan di muka dapat disimpulkan bahwa hukum perempuan meminang laki-laki diperbolehkan selama tidak melanggar syariat islam. Meminang hendaknya dilakukan dengan cara yang baik. Meskipun begitu, mahar tetap diberikan oleh pihak laki-laki. Dan yang lebih penting, laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Perempuan sebagai istri wajib patuh kepada perintah laki-laki sebagai suami. Selama perintah tersebut tidak melanggar syariat islam.

 

Upaya Revitalisasi Akhlaq Generasi Perempuan Indonesia dengan Pre-MiLa (Tradisi Perempuan Meminang Laki-Laki)

Pada umumnya, meminang dilakukan oleh laki-laki kepada pihak perempuan. Akan tetapi, di daerah Lamongan, Jawa Timur meminang dilakukan oleh pihak perempuan kepada laki-laki. Mari kita renungkan apakah manfaat jika perempuan meminang laki-laki?

  1. Jika perempuan meminang laki-laki, maka yang berhak memiliki hak pilih adalah perempuan.

Ketika perempuan mempunyai hak prerogatif dalam memilih, maka laki-laki tidak akan seenaknya saja merendahkan perempuan. Hal ini dimaksudkan agar laki-laki juga merasakan penolakan maupun penerimaan. Sehingga tidak hanya perempuan yang dituntut berstatus perawan, akan tetapi laki-laki juga dituntut sebagai perjaka.

  1. Jika perempuan meminang laki-laki, maka perempuan bisa memilih laki-laki yang baik menurutnya.

Pada umumnya, jika laki-laki meminang perempuan maka laki-laki akan memilih perempuan. Dan laki-laki akan merasa memiliki perempuan. Sehingga kebanyakan persoalan rumah tangga, misalnya KDRT dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Hal ini dikarenakan laki-laki merasa sebagai pemilik perempuan. Sehingga seenak saja memperlakukan perempuan. Namun, ketika perempuan memilih laki-laki dan yakin bahwa laki-laki tersebut baik untuk dirinya. Maka, perempuan sebagai istri juga akan merasa memiliki suaminya. Sehingga persoalan rumah tangga seperti KDRT, minimal dapat dikurangi. Jika tetap terjadi KDRT, setidaknya perempuan tidak akan menyesal menikah dengan suaminya karena suaminya adalah pilihannya sendiri.

  1. Upaya revitalisasi akhlaq generasi perempuan dengan tradisi perempuan meminang laki-laki ini, juga sebagai upaya preventif terhadap masuknya kebudayaan barat. Kebiasaan perempuan barat yang suka memilih pasangannya sendiri,kebiasaan bergonta ganti pasangan/ pacar, bahkan kebiasaan tinggal bersama dengan lawan jenis tanpa status pernikahan. Hal tersebut biasanya dilakukan agar hasrat ingin memiliki dari segi psikis bisa terpenuhi. Alangkah bijaknya sebelum kebudayaan asing tersebut masuk tanpa filterasi yang baik, para perempuan Indonesia sudah memiliki budaya dengan syariat dan hukum yang jelas. Sehingga tidak akan ada pihak yang dirugikan demi menjaga kesucian generasi perempuan Indonesia.

Mari kita renungkan, apabila perempuan berani menolak jika disentuh,diraba, dan sejenisnya oleh laki-laki. Maka hal tersebut, akan menjadi awal untuk pencegahan hubungan intim sebelum menikah. Jika perempuan berani mengatakan “ sekarang bukan era untuk dilihat, diraba, diterawang tapi sekarang adalah waktunya menikah jika memang mencintaiku”. Subhanallah sungguh indah, jika perempuan berani menyuarakan penolakan terhadap kemaksiatan.

 

Konklusi

Keberanian perempuan untuk MEMILIH menyuarakan penolakan dan penerimaan menjadi sumber kekuatan revolusi akhlaq. Hal tersebut menjadi awal keputusan kaum perempuan. Keputusan untuk menerima atau menolak kemaksiatan. Hal ini menjadi penentuan kaum perempuan, tetap ingin menjadi kaum kelas dua dengan selalu mengatakan “iya” atau berani mengambil keputusan dengan mengatakan “ tidak” pada maksiat. Memang terlihat sederhana, awal yang hanya dimulai dengan mengatakan “iya” atau “tidak”. Langkah awal yang menentukan pijakan selanjutnya, dan pijakan selanjutnya yang menentukan hasil akhir.

 

Semoga Bermanfaat

 

Daftar Rujukan

http://lampost.co/berita/indonesia-termasuk-negara-paling-konsumtif diakses pada 8 Januari 2015 pukul 01:40 WIB

http://www.IndonesiaRayaNews.com diakses pada 6 Januari 2015 pukul 21:47 WIB

http://www.psychoshare.com/file-104/psikologi-remaja/definisi-remaja.html diakses pada 8 Januari 2015 pukul 20:07 WIB

http://www.SURYA Online, KEDIRI  diakses pada 6 Januari 2015 pukul 21:47 WIB

Sarwono, 2002. Psikologi Remaja. Jakarta: Raja Grafindo

Spradley, James P.  1997.  Metode Etnografi.  Yogyakarta:  Tiara Wacana Yogya.

Syaikh Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. 2014. Kumpulan Hadist Shahih Bukhari Muslim. Solo: Insan Kamil

Tim Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.2011.Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta:Diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Badan Pengembangan Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Wahjudhi Dwidjowinoto.2006.Upacara Tradisi Pengantin Bekasri: Upacara Pernikahan Khas Lamongan. Pemerintah, Kabupaten Lamongan Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan. Jalan Menur Pumpungan 32 Surabaya

 

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *