[Karya KBM3] Revolusi Mental Generasi Muda Indonesia

Posted on Updated on

 Rasulullah SAW bersabda,”Saya wasiatkan para pemuda kepadamu dengan baik, sebab mereka berhati halus. Ketika Allah mengutus diriku untuk menyampaikan agama yang bijaksana ini, maka kaum mudalah yang pertama-tama menyambut saya, sedang kaum tua menentangnya.”

 

Tak bisa dipungkiri, peranan pemuda dalam membangun pondasi islam begitu berarti. Pemudalah para binaan Rasulullah yang pertama dan menjadi pelopor pergerakan islam selanjutnya. Sebut saja ada Ali bin Abi Thalib (8 tahun), Zubair bin Awwam (8 tahun), Thalhah bin Ubaidillah (12 tahun), Arqam bin Abil Arqam (12 tahun) dan lain-lain. Kaitan dengan hadis yang disebut diatas, dapat kita cermati dalam shiroh nabawiyah yang mana kebanyakan yang menyambut (seruan) Allah dan Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam adalah pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama nenek moyang mereka (menyembah berhala) dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja. Hal ini dikarenakan pemuda pada umumnya masih memiliki pola pikir yang jernih sehingga memiliki sifat mudah menerima kebenaran. Mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran sesat. Maka tak heran bahwa pemuda memiliki peranan yang cukup penting. Bahkan hingga muncul pepatah, pemuda adalah agen perubahan suatu bangsa. Karakter generasi muda bangsa itu mencerminkan masa depan bangsa tersebut.

 

Refleksi Pemuda Indonesia Masa Kini

Mari, kita sejenak berkaca pada bangsa kita, bangsa Indonesia. Miris. Sebuah kata yang terucap manakala melihat realita kondisi generasi muda bangsa ini. Jujur saja, generasi muda kita sedang mengalami degradasi moral kian akut. Tayangan dari kotak televisi yang kebanyakan tidak bemutu semakin memperparah keadaan. Banyak tayangan dan program-program televisi yang tidak mendidik. Sayangnya, Komisi Penyiaran Indonesia seperti tak berkutik, mandul. Tak ada moratorium. Jadilah arus informasi dan globalisasi yang masuk melalui berbagai media di Indonesia semakin bebas tanpa ada penyaring. Dampak globalisasi salah satunya westernisasi yang lebih banyak memberikan efek negatif bagi moral bangsa ini, sukses masuk tanpa hambatan. Akibatnya, banyak pemuda Indonesia yang tanpa rasa malu menjadikan gaya hidup orang barat yang serba terbuka menjadi gaya hidup mereka. Tak ayal banyak wanita yang mengumbar-ngumbar auratnya, seks bebas merajalela, pacaran sudah dianggap lazim, dan sebagainya. Budaya sopan santun yang menjadi ciri khas bangsa ini di masa lalu seolah-olah mulai luntur. Hilang tanpa bekas. Munculnya pepatah Islam KTP juga disinyalir untuk menggambarkan moral bangsa Indonesia saat ini yang mana mengaku islam tetapi akhlak(moral)nya tidak mencerminkan bahwa ia seorang muslim.

Salah satu contoh kerusakan moral yang menjangkit pemuda Indonesia saat ini adalah adanya geng motor. Seperti yang dilansir dalam situs tribunnews.com belum lama ini (19/01/2015), di daerah Batam keberadaan geng motor ini sangat meresahkan warga. Yang paling disayangkan adalah anggota dari geng motor ini kebanyakan diisi oleh pemuda! Anggota geng motor diisi oleh anak-anak yang masih berstatus sebagai pelajar di sekolah-sekolah yang ada di Batam. Mengerikan! Pelajar yang kelakuannya tidak mencerminkan bahwa ia seorang pelajar. Bahkan dalam aksinya, geng motor tersebut tidak segan-segan untuk melukai korban. Adapun syarat untuk menjadi anggota geng motor tersebut bagi calon anggota baru laki-laki harus dites dengan cara berkelahi atau melakukan tindak pidana lain. Parahnya, untuk calon anggota perempuan harus bersedia ditiduri oleh anggota-anggota lain. “Yang cewek digilir,” katanya. Na’udzubillah min dzalik!

Revolusi Mental Generasi Muda Indonesia

Sudah cukup bagi kita untuk bersikap apatis! Kini saatnya kita mengembangkan sikap peduli yang memang sudah seharusnya dikembangkan sejak dulu. Trend modern yang menjadikan manusia menjadi pribadi yang individualis harus disingkirkan. Budaya dari negara maju tak selamanya cocok untuk diterapkan bangsa Indonesia. Terbukti kita sudah bertahun-tahun ‘meniru’ gaya hidup bangsa asing (salah satu contohnya k-pop, budaya korea) tetapi kenyataannya negara Indonesia belum maju (masih berstatus sebagai negara berkembang) meski sejak tahun 1945 telah menyatakan diri sebagai negara merdeka. Apalah arti proklamasi kemerdekaan?!

Bangsa ini tidak akan maju jika pemudanya tidak berusaha untuk memajukannya. Mengapa pemuda? Karena pemuda adalah aset bangsa yang merupakan cerminan bangsa tersebut di masa mendatang. Oleh karena itu perbaikan bangsa harus diawali dari perbaikan moral para pemudanya. Mental para pemuda harus direvolusi bukan hanya reformasi! Revolusi mental yang paling mendasar adalah mengembalikan perilaku pemuda yang rusak moralnya menjadi pribadi yang baik melalui pendekatan agama. Jika seseorang telah sadar akan jati dirinya sebagai hamba Allah, insyaallah ia kan selalu merasa diawasi oleh Allah. Efeknya, ia akan berusaha berbuat kebaikan secara terus menerus karena merasa Allah selalu melihatnya.

Pendekatan agama untuk menjadikan para pemuda Indonesia memiliki moral yang baik diantaranya sebagai berikut:

  1. Pendidikan agama di lingkungan keluarga.

Penanaman karakter yang paling baik adalah pada masa keemasan (golden age) dengan rentang usia antara 0-6 tahun. Oleh karena itu, orangtua memiliki peranan yang sangat penting untuk menanamkan karakter yang baik pada anak-anaknya. Dengan demikian,  diharapkan para orangtua memiliki pemahaman ilmu agama yang baik agar bisa mewariskan ilmu tersebut kepada anak-anaknya. Sehingga harapannya kedepan, anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang memiliki moral yang baik, sholih dan sholihah.

Sabda Rasul SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.

(HR. Bukhari).

Sayangnya, tidak semua orangtua memiliki pemahaman ilmu agama yang baik. Maka dari itu perlu peranan di lingkungan lain untuk memasukkan nilai-nilai agama agar tercipta generasi rabbani diantaranya sekolah dan lingkungan masyarakat.

 

  1. Pendidikan agama di sekolah.

Sekolah ibarat kehidupan kedua bagi seorang anak. Kebanyakan pemuda yang berstatus sebagai pelajar bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah. Oleh karena itu pendidikan agama harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah. Akan lebih baik lagi jika para orangtua memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Karena di dalam lingkungan pesantren, anak-anak tidak hanya diberikan teori-teori agama tetapi juga dipraktekkan secara langsung nilai-nilai agama melalui keteladanan dari sang guru. Hal ini penting karena sejatinya ilmu agama untuk diamalkan bukan dihafal saja. Patut diapresiasi para pelopor berdirinya pondok pesantren di negeri ini.

 

  1. Pendidikan agama di lingkungan masyarakat

Cara menanamkan nilai-nilai agama di lingkungan masyarakat diantaranya melalui kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), pembentukan remaja masjid, diadakannya majelis taklim oleh takmir masjid atau pihak-pihak lain dan sebagainya.

 

Kesimpulannya, moral pemuda adalah modal bangsa. Bangsa ini dapat dikatakan baik jika pemudanya memiliki moral yang baik pula begitu pula sebaliknya. Mengingat moral generasi muda Indonesia yang dapat dikatakan masih kurang baik maka perlu adanya revolusi mental. Revolusi tersebut dapat dilakukan dengan efektif melalui pendekatan agama karena akhlak (moral) tidak bisa berdiri tanpa agama. Tegaknya moralitas dibangun karena pondasi agama.

 

Sumber referensi:

http://www.muslimdaily.net/artikel/pantas-mereka-takut.html

http://www.tribunnews.com/regional/2015/01/19/cewek-di-batam-harus-mau-digilir-untuk-jadi-anggota-geng-motor

http://mbfperak.tripod.com/didikanak.htm

http://cyberdakwah.com/2014/12/bangsa-ini-harus-berterimakasih-kepada-pesantren/

https://aimarusciencemania.wordpress.com/2012/02/20/pendidikan-agama-islam-di-masyarakat/

video acuan : https://www.youtube.com/watch?v=NE5Hdzoe-MM

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *