[Karya KBM3] Sekolah Berasrama: Solusi Pasti Hadapi Pernikahan Dini

Posted on

Sekolah Berasrama : Solusi Pasti Hadapi Pernikahan Dini
A. Pendahuluan
Kecanggihan teknologi yang tidak disikapi secara arif dan bijaksana oleh tangan-tangan durjana, dengan menyuguhkan suguhan tidak berkualitas telah meracuni pikiran remaja kini. Pola tingkah laku remaja menjadi liar, mengabaikan norma-norma yang ada. Salah satu contoh bentuk yang marak terjadi saat ini adalah pacaran.
Pacaran merupakan tindakan melanggar norma yang ada, terutama agama. Apapun bentuknya, pacaran adalah sesuatu yang terlarang, jika dilakukan biasanya berujung pada perzinaan. Tidak sedikit dari remaja putri kita mengalami MBA (Married by Accident) atau lebih dikenal dengan hamil diluar nikah akibat pacaran, dan tentunya berakhir pada pernikahan dini yang tidak diharapkan.
Pernihakan dini adalah gerbang menuju pemusnahan kepribadian, peningkatan kematiandan penguburan impian dan harapan. Selain itu, perkawinan dini tentu akan melahirkan generasi dengan kualitas hidup rendah. Semua itu terjadi karena ketidaksiapan orang tua dalam menjalani hidup berkeluarga. Baik ketidaksiapan mental lahir dan batin, fisik, pendidikan dan harta. Mereka melakukan ini disebabkan karena suatu keterpaksaan, sebagai tirai penutup aib keluarga.
Pernikahan dini telah menjadi penghambat negara untuk memperoleh kemajuan. Ini disebabkan pernikahan dini akan meningkatkan angka jumlah penduduk dengan kualitas rendah.Oleh karena itu dibutuhkan solusi untuk atasi pernikahan dini. Solusi tersebut adalah sekolah berasrama. Lalu, bagaimana peran sekolah berasrama dalam antisipasi pernikahan dini.
B. Remaja Kini
Elizabeth B.Harlock mendefinisikan usia remaja dan membaginya dalam tiga tingkatan yaitu: pra remaja 10-12 tahun, remaja awal 13-16 tahun, remaja akhir 17-21 tahun. Jadi umur seseorang dikategorikan remaja dari 10-21 tahun. Remaja merupakan masa transisi menuju kedewasaan, yang diwarnai dengan rasa ingin tahu yang tinggi akan setiap hal.
Rasa ingin tahu merupakan karakter yang baik. Namun jika tidak selektif akan menjadi bomerang bagi kita. Rasa ingin tahu yang tidak selektif akan membawa pelaku terjerumus dalam hal-hal berbau negatif, seperti video porno dan kekerasan, tulisan porno, gambar porno, dan lain-lain. Tentu hal ini akan mengubah pola tingkah laku remaja dalam bermasyarakat.
Pola tingkah laku remaja hasil dari ketidakselektifan dalam rasa ingin tahu adalah pengabaian norma dan nilai yang berlaku. Remaja saat ini terkesan liar dalam bertingkah laku. Sebagai contoh tindakan liar yang dulu dilarang tapi sudah menjadi kebiasaan remaja kini adalah remaja putri yang secara terang-terangan berbusana ketat dan seksi di muka umum. Kemudian,yang lebih parah remaja kini yang berani mengumbar mesra di muka umum, padahal belum terikat suatu tali pernikahan. Tanpa mereka sadari inilah penyebab utama perzinaan dan pernikahan dini yang marak terjadi di negeri ini.
Hasil kajian BKKBN mengatakan bahwa negara kita menduduki peringkat 37 sedunia sebagai negara dengan angka perkawinan dini tertinggi dan nomor 2 se-ASEAN setelah Kamboja. Ini menjadi sebuah potret betapa memprihatinkan kondisi remaja kita. Tidak hanya itu pernikahan dini merupakan gambaran rendahnya kualitas kependudukan dan menjadi fenomena tersendiri di masyarakat.
Remaja merupakan investasi besar, yang mana masa depan negara berada di genggaman tangan mereka. Sudah seharusnya berbagai pihak berupaya untuk membentuk mereka menjadi generasi emas. Remaja sepatutnya dibekali ilmu dan perhatian tinggi untuk menyongsong era penuh tantangan.Selain itu, remaja dicegah untuk melakukan pernikahan dini guna meningkatkan kualitas hidup diri sendiri, keluarga, anak dan bangsa.
C. Pernikahan Dini: Salah Siapa?
Maraknya pernikahan dini saat ini tidak dapat disalahkan sepihak saja. Seluruh pihak dan elemen turut ambil andil dalam masalah ini. Berikut beberapa pihak yang memliki kontribusi atas kasus pernikahan dini.
1. Keluarga
Keluarga merupakan media awal dari suatu proses sosialisasi, dan sebagai peletak dasar nilai dan norma untuk membentuk karakter si anak. Oleh karena itu, keluarga sangat berperan untuk memberikan pengawasan dan pengendalian yang wajar, mendidik untuk memilah mana yang baik dan buruk, memberi contoh perilaku terpuji. Akan tetapi, jika keluarga bertolak belakang dengan hal tersebut, anak akan mengalami kekecewaan dan melampiaskannya pada hal-hal yang mereka inginkan dengan mengabaikan nilai dan norma yang ada. Ingatlah kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, yang artinya sifat anak tidak jauh beda dengan orang tuanya. Maka didiklah anak dengan sebaik-baiknya.
2. Sekolah
Di lingkungan sekolah, seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum pernah ditemukan. Pendidikan formal akan mempersiapkan anak menjadi pribadi dengan kualitas yang baik. Sehingga sekolah patut memberikan segala macam pendidikan yang bermanfaaat bagi peserta didik. Terlebih pendidikan kependudukan dan reproduksi sebagai penanggulangan pernikahan dini. Apabila sekolah melenceng dari yang diharapkan, tentu yang tercetak adalah pribadi dengan karakter yang rusak dan mengancam hidup publik.
3. Lingkungan
Lingkungan memiliki kontribusi dalam membentuk kepribadian seseorang. Sehingga anak sebaiknya ditempatkan pada lingkungan yang positif. Anak yang dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama (sebagai contoh), maka akan lahirlah kepribadian yang agamis dan santun. Akan tetapi, jika anak dididik dan dibesarkan dalam lingkungan kemaksiatan,tentu terlahirlah manusia berbudi mati dan berakhlak rusak.
4. Masyarakat
Masyarakat juga ambil bagian dalam masalah ini. Saat ini banyak masyarakat yang tidak bertanggung jawab menyebarkan sesuatu yang merusak pikiran remaja, seperti video porno, majalah porno, gambar porno dan masih banyak lagi. Suguhan semacam ini jelas akan merusak pola pikir dan gerak remaja menuju kesesatan. Sebaiknya kita menyuguhkan sesuatu yang bermanfaat dan positif. Sebaik-baik orang adalah orang yang berguna bagi orang lain, bukan menjerumuskan orang lain.
Oleh karena itu, orang tua yang notabene sebagai pemilik anak harus mampu menempatkan buah hatinya kepada posisi yang baik. Orang tua seharusnya selektif dalam berbagai hal demi mencetak anak yang berkualitas. Salah satu upaya yang dapat ditempuh orang tua adalah menempatkan anaknya ke dalam sekolah berasrama.
D. Sekolah Berasrama : Solusi Pasti Hadapi Pernikahan Dini
Penempatan anak ke dalam sekolah berasrama adalah solusi pasti mengatasi masalah pernikahan dini dan remaja. Sekolah berasrama sama halnya dengan sekolah-sekolah lain. Namun peserta didik diwajibkan untuk tinggal di lingkungan sekolah, selama menempa ilmu. Sekolah berasrama ini memiliki berbagai keunggulan dibanding dengan sekolah biasa. Adapun keunggulannya sebagai berikut.
1. Perhatian Sekolah Lebih Penuh
Ketika anak ditempatkan pada sekolah berasrama, secara otomatis anak menjadi tanggung jawab sekolah. Sehingga sekolah menjadi subtituen atau pengganti orang tua sementara. Tentu peran-peran orang tua dirumah menjadi amanah bagi pihak sekolah, seperti.
a. Memberikan pengawasan dan pengendalian.
b. Mendorong agar anak dapat membedakan antara perilaku benar dan salah, baik dan buruk, pantas dan tidak pantas.
c. Memberikan contoh perilaku yang pantas dan baik bagi anak-anaknya.
Sebenarnya dengan diberlakukannya asrama ini, pihak sekolah lebih mudah melaksanakan peran orang tua sebagaimana disebutkan diatas. Ini dikarenakan pihak sekolah bertemu dengan perserta didik sehari penuh. Sehingga mereka mendapatkan kesempatan besar dalam melaksanakan peran sebagai orang tua pengganti. Berbeda dengan orang tua dirumah, mereka belum tentu bisa memiliki kesempatan besar bertemu dengan anak. Ini dapat disebabkan kesibukan anggota keluarga dan rendahnya perhatian orang tua terhadap anak. Sehingga peran orang tua tidak dapat dilaksanakan secara maksimal oleh orang tua sendiri. Sudah pasti tindakan semacam ini, sepertiyang dijelaskan sebelumnya, akan menimbulkan rasa kekecewaan pada anak, yang berujung pada pelampiasan anak dengan menghalalkan segala cara.
2. Meminimalisasi Tindakan Negatif
Sebagai pengganti peran orang tua sementara. Sudah semestinya sekolah diberi kepercayaan besar untuk menjadikan anak-anak titipan sebagai manusia yang berkualitas. Oleh sebab itu, banyak sekolah berasrama memberikan kebijakan-kebijakan untuk mencegah peserta didik melakukan hal-hal negatif. Seperti contoh.
a. Di SMA IT (Islam Terpadu) Abu Bakar, siswa diperintahkan menghafal Al-Quran selepas kegitan sekolah. Menanggapi hal tersebut para siswa melakukannnya setiap waktu luang yang dimiliki.
b. Di SMA berasrama Kesatuan Bangsa, siswa diberi tambahan waktu untuk belajar ilmu-ilmu tentang olimpiade,dan ini bersifat wajib untuk diikuti. Sehingga siswa mengisi waktu luang untuk belajar menghadapi persaingan di kejuaraan olimpiade baik tingkat regional bahkan internasional.
c. Di SMA MA Mualimin dan Mualimat, sekolah dan asrama dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan. Sehingga mereka bisa menjaga pandangan antar lawan jenis. Dan untuk mengantisipasi pikiran-pikiran negatif, seperti pacaran.
d. Pemberian hukuman yang mendidik bagi setiap siswa yang melanggar tata tertib sekolah.
Banyaknya kebijakan-kebijakan yang sekolah berasrama keluarkan berguna untuk mencegah peserta didik melakukan tindakan negatif demi terwujudnya anak berkualitas. Oleh karena itu pemilihan sekolah berasrama sangat cocok bagi orang tua yang merasa sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan anak dan keluarga.
3. Menanamkan Segala Bentuk Pendidikan Secara Mudah
Frekeunsi sekolah berasrama untuk bertemu dengan siswa yang sangat besar menjadi jembatan untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan. Nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan dalam konteks makalah ini, tentu yang berhubungan dengan pencegahan pernikahan dini, yaitu pendidikan kependudukan. Adapaun pendidikan kependudukan tersebut meliputi.
a. Pendidikan Reproduksi
Pendidikan reproduksi berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi dalam ICPD (International Conference on Population Development) adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan menyeluruh yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi. Setiap orang dijamin haknya untuk dapat memiliki kemampuan bereproduksi sesuai dengan yang diinginkan. Dengan adanya pendidikan reproduksi sistem, fungsi dan proses reproduksi akan mencapai kondisi sejahtera secara fisik, mental dan sosial. (Ditjatduk:1)
b. Pendidikan Formal
Pendidikan formal sama halnya dengan pendidikan yang diputuskan dalam kurikulum oleh pemerintah. Pendidikan formal ini bermanfaat untuk menjadi investasi masa depan anak dalam persaingan global. Dengan tingginya minat pendidikan anak akan ilmu, pasti mencegah keinginan pernikahan diusia muda. Ini disebabkan mereka akan memilih belajar untuk mematangkan dan mendewasakan pikiran daripada menikah. Keadaan seperi ini tentu membuat anak lebih siap dalam berkeluarga karena mereka telah memiliki investasi ilmu bagi dirinya dan anak yang dilahirkan, sehingga generasi yang lahir akan lebih berkualitas karena terlahir dari orang tua berkualitas.
c. Pendidikan Agama
Pendidikan agama adalah pendidikan yang memiliki kontribusi besar untuk membentuk siswa dengan akhlak yang baik. Setinggi-tingginya orang berilmu tetapi tanpa agama akan membawa ketidak seimbangan dalam diri mereka. Dengan agama yang baik akan membentuk pola tingkah laku yang baik bagi pelaku. Serta jika menjadi orang tua akan menjadi orang tua yang baik, yang mendidik anak mereka dengan nilai-nilai agama.
4. Mudah Membentuk Siswa Berkualitas
Ketika anak memasuki sekolah (pendidikan formal), maka secara resmi ia menjadi anggota kelompok formal yang terikat aturan-aturan resmi dan dihadapkan pada norma-norma yang diikuti secara teratur dengan sanksi tertentu. Norma tersebut seperti masuk tepat waktu, berseragam lengkap, waktu belajar, dan sebagainya. Dengan begitu anak akan terbiasa terdidik displin.
Disekolah-sekolah biasa aturan-atauran resmi hanya berjalan maksimal 12 jam sehari. Berbeda dengan sekolah berasrama, aturan-aturan resmi berlaku sehari penuh selama menjadi siswa. Tentu aturan ini akan berpengaruh lebih dalam didiri peserta didik. Selain itu, sekolah berasrama juga memiliki peluang besar untuk membentuk manusia berkualitas, karena lingkungan yang kondusif dan penuh dengan awasan dan perhatian akan setiap tingkah laku dari warga sekolah. Maka, dengan potensi dan keunggulan yang dimiliki sekolah berasrama dapat dijadikan solusi mebentuk siswa berkualitas.
Melihat keunggulan asrama dibanding sekolah biasa tentu menjadi alasan kuat untuk menempatkan anak-anak kita di sekolah berasrama. Sekolah berasrama akan mengemban tugas dengan penuh tanggung jawab demi terlahirnya lulusan berkualitas dan berpendidikan tinggi. Sekolah bersarama juga dapat mencegah terjadinya pernikahan dini karena aturan-aturan sekolah yang wajib ditaati seluruh warga sekolah, supaya tercapai visi bersama.oleh karena itu, sekolah berasrama adalah solusi pasti mencegah pernikahan dini.
E. Asrama Bukan Penjara
Meskipun sekolah berasarama memiliki keunggulan yang lebih dibanding dengan sekolah biasa dalam mencetak manusia berkualitas. Tetapi remaja saat ini masih merasa segan untuk sekolah berasrama. Mereka berpikiran sekolah berasrama sama halnya dengan penjara, yang memenjara kebebasan mereka, yang sarat akan hukuman sadis dan teman yang ganas. Pemikiran remaja ini adalah salah, namun ini bisa dijadikan masukan untuk meningkatkan minat remaja akan sekolah berasarama. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut.
1. Pembenahan dan penambahan fasilitas yang dimiliki menjadi lebih lengkap sesuai kebutuhan siswa. Mengingat seluruh kegiatan sehari penuh dilakukan di sekolah. Fasilitas itu seperti, areabersosial, internet, transportasi, hiburan, dan agama.
2. Pengadaan kegiatan sesuai dengan bakat dan minat siswa, supaya mereka tidak merasa kebebasan mereka terantai.
3. Memberi ruang dan waktu siswa untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain. Mengingat mereka jauh dari orang lain selain warga sekolah.
4. Memberi waktu dan ruang bagi orang tua untuk menjenguk anaknya, sebagai wujud rasa perhatian orang tua kepada anak.
Dengan begitu anak akan merasa nyaman dengan asrama. Sehingga minat remaja akan sekolah berasrama semakin tinggi.
F. Penutup
Sekolah berasrama terbukti ampuh dalam menangani masalah pernikahan dini pada remaja. Dengan menunda pernikahan, sama halnya mempersiapkan mental, fisik, pendidikan dan harta untuk kesiapan berkeluarga. Keseiapan berkeluarga berarti kesiapan mengayomi melindungi dan mendidik keluarga, terutama anak. Sehingga terlahirlah manusia berkualitas, yang berguna bagi bangsa dan pribadi.
Saat ini sekolah berasrama hanya dipegang oleh yayasan tertutama SMP/SMA. Sehingga pemerintah diharapakan dapat merealisasikan sistem ini, mengingat potensi-potensi besar yang dimiliki sekolah berasrama dalam mencetak manusia berkualitas.

Daftar Pustaka
Direktorat Pemaduan Kebijakan Pengendalian Penduduk (ditjakduk).2011. “Remaja Genre dan Perkawinan Dini”, dalam policy brief.
Hadinoto, suyono.2012. Kajian Pernikahan Dini Pada Beberapa Provinsi Di Indonesia:Dampak Overpopulation, Akar Masalah Dan Peran Kelembagaan Di Masalah Dan Peran Kelembagaan Di Daerah Pokja Analisis Dampak Sosial Ekonomi Terhadap Kependudukan. BKKBN
Indrayani, Euis dan Achmad Sjhafii.2012.”Dampak Pendidikan bagi Usia Pernikahan Dini dan Kemiskinan Keluarga”, dalam Gemari edisi 143/tahunXIII/ Desember 2012
Melianti, Yusna.2009.Pernikahan Dini dalam Prespektif Agama dan Negara.Medan :Nimed press
www.repository.library.uksw.edu/handle/123456789/2237

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *