[Karya KBM3] Tambal Pengeroposan Moral

Posted on Updated on

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya …

Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” ~Soekarno (Bung Karno)~

 

Saya mengawali tulisan ini dengan kalimat diatas bukan tanpa maksud, membaca dan mendengar kalimat yang keluar dari Presiden pertama kita tersebut telah mengerutkan alis mata saya, kalimat itu selalu terngiang di telinga saya. Itu adalah sebuah kalimat yang sangat bijak dalam menggambarkan sebuah realita, sang proklamator menempatkan kaum muda sebagai  pemegang peranan penting (modal) dalam sebuah Negara. Beliau sangat yakin bahwa maju mundurnya sebuah negara berada di tangan generasi muda. Pernyataan beliau memang bukan tanpa bukti, benarlah kejadiannya bahwa kaum muda telah memberikan andil yang sangat besar dalam pembentukan sebuah Negara yang merdeka.

Namun apakah pernyataan sang orator itu masih berlaku untuk masa kini?mungkin jika beliau masih ada didunia, beliau akan merasa prihatin, pasalnya pernyataan itu telah terdegradasi pasca merosotnya moral para generasi muda saat ini. Jika kita perhatikan, mental dan moral generasi muda zaman dulu dengan generasi muda masa kini sangat jauh berbeda. Mental generasi muda sekarang lebih santai dan seperti kapas ikut kemana angin bertiup. Moralnya pun jauh menurun akibat teracuni west style.

Banyak contoh yang dapat menjadi bukti, seperti kasus yang terjadi belakangan ini di kota saya, Sumedang. Ratusan pemuda, bahkan diantaranya ada beberapa anak dibawah umur yang mengalami keracunan pasca menenggak minuman keras oplosan. Beberapa diantaranya merenggang nyawa. Bukan seperti ini moral yang diinginkan para pejuang terdahulu, bukan pula yang diharuskan oleh agama.

Contoh lain, kasus Bullyng. Kasus pembulian ini memperlihatkan orang yang lebih kuat menindas orang yang lemah, dan kebanyakan terjadi di bangku sekolah. Bukankah ini moral yang jelek?Pada hakikatnya setiap agama, khususnya agama islam selalu mengajarkan bahwa semua manusia itu sama, diantaranya harus memiliki tenggang rasa dan rasa persaudaraan, bukan pembulian.

Contoh berikutnya, perkelahian (tawuran) yang marak terjadi antar sekolah. Kasus ini adalah contoh yang dapat dengan mudah kita temukan. Tidak menutup mata bahwa di Indonesia untuk kasus perkelahian antar sekolah ini pernah menjadi kasus yang besar. Entah dari mana awal ceritanya pasti ada saja oknum para siswa yang selalu menganggap bahwa sekolahnya pasti memiliki musuh, dan hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya tawuran. Seyogyanya para generasi muda yang sedang menimba ilmu di bangku sekolah sangat tidak pantas melakukan hal demikian. Harusnya mereka membentuk sebuah kepribadian yang bermoral, menciptakan sebuah inovasi dan memberikan yang terbaik untuk bangsa ini, mengingat mereka sedang dalam proses transfer ilmu dan proses pembentukan moral.

Contoh terakhir, pergaulan bebas dan pemerkosaan. Kedua kasus ini memiliki akar yang sama. Dewasa ini banyak kaum muda bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah, SMP maupun SMA, yang sudah terjerumus dalam pergaulan bebas. Mereka menganggap ini adalah sebuah hal yang lumrah. Tidak gaul seseorang jika dirinya hanya berkutat dengan buku dan tidak dugem. Itulah paradigma yang salah yang harus dihapuskan. Gaul bukan berarti harus foya-foya, apalagi dengan tindakan diluar sewajarnya seperti berpacaran melebihi batas, tapi untuk dikatakan gaul cukuplah seperlunya. Gaul yang melebihi batas seperti berpacaran yang tidak terkontrol akan merusak arah masa depan. Moral untuk hal ini sangat perlu dibangun. Disamping itu, gaul yang melebihi batas seperti mengenal hal-hal berbau porno akan berpengaruh kepada arah kerja otak. Pikiran akan terpenuhi oleh hal-hal negatif sehingga memicu terjadinya tindak pemerkosaan. Inilah moral yang salah, jauh dari sisi agama.

Selain keempat contoh diatas masih banyak contoh lainnya yang membuktikan bahwa moral generasi muda telah terkikis. Jika generasi muda yang merupakan tonggak penerus bangsa moralnya sudah keropos, maka bagaimana nasib bangsa ini untuk kedepannya.

Menanggapi fenomena-fenomena pengeroposan moral ini, saya memiliki beberapa masukan yang sedikitnya bila kita lakukan bersama-sama akan memberikan penambalan terhadap moral para generasi muda, berikut rinciannya :

Untuk Pembentukan

  1. Agama. Membentuk moral memang tidak semudah membentuk kepintaran, namun tidak ada yang tidak mungkin untuk itu. Untuk membentuk moral harus dibarengi dengan agama. Dengan menanamkan nilai-nilai agama akan tertanam pula moral-moral kebaikan. Disitu akan diajarkan mana yang baik dan mana yang salah.
  2. Peran orang tua. Sebagai sosialisasi pertama anak, tentunya orang tua memegang peranan penting dalam membentuk arah moral anak. Orang tua harus mampu mengajarkan nilai-nilai kebaikan, mereka harus ada saat anak membutuhkan tempat. Intinya keterbukaaan dan komunikasi yang baik harus dijalin didalam keluarga.
  3. Sekolah. Setiap hari waktu anak banyak dihabiskan di sekolah. Disinilah proses pembentukan karakter dan moral anak yang ampuh. Guru harus peka terhadap perkembangan anak didiknya, jangan sampai lengah. Semua sifat kebaikan harus diajarkan, selain ilmu tentunya.

 

Untuk Perubahan

  1. Untuk merubah moral kearah yang baik tentu ini akan lebih susah lagi. Untuk dapat merubahnya tentu harus timbul dari diri sendiri. Seperti firman Allah yang berbunyi “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11 ketika seseorang sudah berniat untuk menjadi lebih baik maka itu akan mudah, tetapi jika sebaliknya maka akan berkendala.
  2. Kembali kepada orang terdekat, orang tua, harus merangkul anaknya. Mereka harus memperbaiki komunikasi, memahami keinginan anaknya, menanyakan masalah apa yang sedang dihadapinya.
  3. Komisi moral dan Etika. Pembentukan komisi moral dan etika ini sangat perlu dan harus segera direalisasikan oleh pemerintah. Komisi moral ini bisa sebagai salah satu alat untuk merubah moral generasi muda.

Dengan keenam solusi diatas saya berpengharapan semoga moral generasi muda semakin membaik, sehingga akan tercipta generasi-generasi penerus bangsa yang berintelektual dan bermoral tentunya yang akan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik lagi.

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *