[Karya KBM3] Tawaran Revolusi Kurikulum Pendidikan “Pesantren Friendly”

Posted on Updated on

Salatiga | 27 Desember 2014

Pengertian Kurikulum

Menurut Wikipedia, pengertian kurikulum adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan (Wikipedia, 2014).

Sedangkan pengertian kurikulum menurut UU No. 20 tahun 2003 adalah sebagai berikut,

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Deskripsi Masalah

عَنِ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ # فَاِنَّ الْقَرِيْنَ بِالْمُقَرَنِ يَقْتَدِى
جا تاكون سوڠكا ووڠ سجي تاكونا كنچاني # كرنا سأتمني كونچا مانوت كڠ ڠنچاني

Syair di atas bisa dijadikan pedoman dalam melihat fenomena sosial yang tengah berlangsung di sekitar kita. Sebagaimana istilah Zoon Politicon yang telah mashur di kalangan akademisi, syair tersebut juga memberikan isyarat bahwa manusia itu mempunyai kecenderungan berkelompok. Hanya saja syair di atas memberikan penjelasan yang lebih rinci, yaitu berkelompok berdasarkan karakternya masing-masing.

Syair di atas bisa dijelaskan ke dalam sebuah ilustrasi berikut: Seseorang yang suka menonton bola pergi ke warung kopi, di sana ada beberapa kelompok orang yang sedang ngopi. Salah satu kelompok hobi menonton bola, kelompok lain hobi main kartu. Maka, yang kemungkinan dipilih adalah kelompok yang hobi menonton bola.

Karakter ibarat magnet yang memiliki gaya tarik terhadap pemiliknya. Orang yang hobi mabuk-mabukan akan cenderung berkumpul dengan pemabuk, orang yang hobi otak-atik blog akan suka berkumpul dengan para Blogger, orang yang berfaham Aswaja akan berkumpul dengan orang yang sefaham dengannya.

Lalu apa hubungannya karakter dengan kurikulum pendidikan?

Kurikulum pendidikan nasional yang diberlakukan selama ini cenderung menitikberatkan pada ranah kognitif. Meskipun pada rumusan kurikulum disertakan embel-embel pendidikan karakter, namun pada pelaksanaannya, guru-guru banyak yang mengabaikan masalah karakter. Hal ini bisa dilihat dari standar yang digunakan untuk kenaikan kelas cenderung mengacu pada nilai kognitif saja. Meskipun siswa memiliki karakter buruk, jika nilai kognitifnya bagus akan sulit untuk dibiarkan tidak naik kelas. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis di beberapa sekolah.

Ketika kurikulum yang diberlakukan cenderung memaksa anak didik untuk mengasah daya kognisi sebagai acuan pendidikan nasional, maka siswa dan orang tua siswa akan berlomba-lomba memenuhi tuntutan tersebut. Hal ini bisa dilihat banyaknya siswa yang mengikuti program bimbel yang tersebar di seantero Nusantara. Hal yang demikian ini, cenderung mengabaikan karakter.

Siswa-siswi yang memiliki pola pikir kognitif oriented akan berkumpul dengan siswa dan siswi yang memiliki pola pikir yang sama. Dia akan canggung apabila berkumpul dengan siswa-siswi yang memiliki karakter oriented sebagaimana yang diajarkan di dunia pesantren.

Siswa-siswi yang dididik dengan pola kognitif oriented akan tumbuh menjadi pribadi yang serba mengandalkan logika. Hal ini pernah terjadi pada sekumpulan mahasiswa yang mengandalkan logika dalam memaknai tawadlu’ dan barokah. Mereka menganggap bahwa tidak ada hubungan antara barokah dari tawadlu’ kepada guru terhadap pencapaian hasil study. Pada akhirnya, mereka menganggap bahwa kitab Ta’limul Muta’alim sangat tidak rasional dan tidak bisa dijadikan acuan dalam menuntut ilmu.

Pola pendidikan kognitif oriented bisa membuat siswa mengalami degradasi moral apabila siswa tersebut tidak mendapatkan pendidikan agama yang cukup di luar satuan pendidikan tempat dia menuntut ilmu.

Masalah Sosial

Seiring berkembangnya dunia pendidikan, saat ini tersedia banyak lembaga pendidikan yang berlomba-lomba meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai inovasinya. Disamping pendidikan formal yang di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Departemen Agama, ada lembaga non formal yang ikut menyemarakkan hiruk pikuk dunia pendidikan. Ditambah lagi kontribusi para Blogger yang ikut menyumbangkan beragam literasi yang bisa diakses secara mudah dan murah. hal ini menambah gairah semangat pendidikan di Indonesia.

Kemunculan inovasi-inovasi pendidikan tersebut tidak hanya membawa dampak positif, namun juga menimbulkan dampak negatif. Diantaranya adalah:

  1. Komersialisasi Pendidikan, hal ini biasa dilakukan oleh beberapa oknum pengelola lembaga pendidikan ataupun lembaga bimbel yang memiliki karakter provit oriented
  2. Monopoli pendidikan, inovasi pendidikan juga membawa dampak pada adanya monopoli pendidikan. Pengelola pendidikan yang tidak memiliki karakter pesantren cenderung berusaha memonopoli pendidikan dengan aturan-aturan yang kaku dan memaksa peserta didik.
  3. Penyempitan makna pendidikan, meskipun secara umum, kita bisa melihat perbedaan orang yang miliki pendidikan dengan orang yang tidak memiliki pendidikan, namun pada kenyataannya, orang yang dianggap berpendidikan adalah orang yang menempuh pendidikan pada jalur formal saja. Jalur pesantren belum begitu diakui oleh masyarakat dan pemerintah Indonesia.

Degradasi Moral

Pacaran
Pemuda pacaran di Taman Bendosari – Salatiga | @radarsemarang

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, pendidikan yang memiliki pola kognitif oriented cenderung mengabaikan karakter. Pengabaian pada sisi pendidikan karakter tersebut mengakibatkan timbulya degradasi moral. Diantaranya degradasi moral yang terjadi adalah:

  1. Terjadinya sex bebas, hal ini sekan sudah menjadi rahasia umum. Pemuda-pemudi pacaran adalah hal yang dianggap biasa oleh masyarakat. Bahkan! Di kurikulum 2013 ada materi khusus membahas masalah etika berpacaran Padahal, pacaran sangat berpotensi menimbulkan terjadinya sex pra nikah.
  2. Mabuk-mabukan. Beberapa anak-anak usia sekolah biasa melakukan mabuk-mabukkan, bahkan saat jam sekolah masih berlangsung.
  3. Hilangnya rasa hormat kepada guru. Setelah menjamurnya berbagai perangkat sosial media, anak-anak didik cenderung kehilangan rasa hormatnya kepada guru. Mereka sering berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang biasa digunakan dengan teman-temannya.

Sebenarnya masih banyak hal mengenai degradasi moral para pemuda di sekitar lingkungan tempat tinggal penulis. Namun, kita tak perlu mencari kesalahan lebih banyak kalau tidak bisa mencari solusinya. Jadi, beberapa masalah yang ditimbulkan dari penerapan kurikulum berpola kognitif oriented hanya disampaikan sebagian. Selanjutnya pembahasan mengenai Tawaran Revolusi Pendidikan Nasional.

Kerangka Kurikulum “Pesantren Friendly”

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِفَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BUKHARI – 6015)

Masalah yang perlu dibenahi terlebih dahulu oleh bangsa Indonesia adalah masalah moral. Untuk membenahi masalah tersebut, kita memerlukan ahlinya. Pakar ataupun ahli di bidang moral bukanlah seorang sarjana, magister, ataupun profesor lulusan dari pendidikan formal yang tak pernah mengenyam pendidikan agama secara intens. Tidak! Bukan mereka. Namun, beliaulah yang bisa memahai ruhani anak didik.

Sebagaimana yang pernah didawuhkan oleh Syaikina  Abdullah Faqih (Langitan – Allah Yarham), bahwa tugas pendidik yang pokok adalah menjadi syaikut ta’lim, syaikhut tarbiyyah, dan syaikhut tartiyah. Jika para pendidik di Indonesia dapat menerapkan ketiganya, Insya Allah pendidikan moral akan terlaksana dengan baik.

Rumusan Kurikulum “Pesantren Friendly”

Ngaji
Ngaji kitab kuning
  1. Materi pelajaran dipecah menjadi dua bagian, yaitu pelajaran umum dan agama.
  2. Pelajaran umum diserahkan pendidikan formal yang dikelola oleh pemerintah, guru pendidikan umum diambil dari sekolah formal
  3. Pendidikan agama diserahkan kepada pesantren, guru agama diambil dari pesantren. Guru agama minimal lulusan Wustho di pondok pesantren meskipun tidak memiliki ijazah formal.
  4. Rancangan kurikulum lebih lengkap harus dirapatkan oleh pemerintah dengan jajaran dewan pesantren

Sekian tulisan ini saya buat. apabila ada kekurangan dan kesalahan, saya mohon maaf.

 

Referensi: wikipedia.org

sumberahli.com

Sumber gambar:

radarsemarang.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *