[Karya KBM3] Upaya dalam Mendidik Anak Sebagai Wujud Perbaikan Moral Demi Penerus Bangsa

Posted on Updated on

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu

menjaga anak merupakan anugerah untuk setiap orang tua karena berarti mereka diamanatkan oleh yang maha pencipta untuk dapat membesarkan dan mendidik agar akhlak anak tersebut menjadi anak yang soleh ataupun solehah. Berbicara mengenai soal akhlak rasanya saling berkesinambungan dengan moral. Mengapa demikian? tentu saja ini dua hal yang saling berkaitan. Jika akhak yang terbentuk dari sang anak akhlak yang baik maka diikuti moral yang baik karena tidak mungkin apabila ada anak yang akhlaknya baik lalu moral nya tidak baik, disini saya tegaskan lagi bahwa hal itu sama sekali tidak mungkin. Selain itu perlu diketahui pula bahwa semakin bertambahnya umur sang anak berarti anak tersebut terus berproses menuju remaja atau dewasa, dimana memasuki usia antara 12-17 tahun dengan usia seperti itu mereka sedang memasuki fase-fase  mencari jati dirinya, berteman dengan lawan jenis atau bahkan sudah mempunyai rasa ketertarikan rasa terhadap lawan jenisnya, merupakan hal yang wajar terjadi dalam proses menuju remaja. Boleh saja sebagai orang tua memberi kebebasan kepada sang anak untuk berteman dengan siapa saja,  tetapi ada hal yang perlu untuk mereka ketahui bahwa pergaulan terkadang dapat membawa kebaikan atau justru malah menjerumuskan sang anak kedalam penyesalan yang tiada ujung. Jangan sampai karena salah bergaul dengan teman justru sang anak menjadi “rusak” secara moralnya.  Saya rasa pasti tidak ada orang orang tua didunia ini yang menginginkan anaknya dirusak moralnya karena sebuah pergaulan.  Di dalam kitab “Ihya’ Ulumaldin”, karya Imam al Ghozali diungkapkan bahwa:

الخلق اراة عن هيئة في الفغس وامخه عنها بصدر الانفعال سهوله ويسر من غير حاجة الفقر ورؤية

“Al-khulk ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan perimbangan” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumaldin, Vol, III:56)

Hadist yang saya kutip dari Al-Ghazali telah membantu menguraikan pengertian dari akhlak itu sendiri karena sesungguhnya akhlak saling berhubungan erat dengan moral yang ada pada remaja saat ini.

Berbicara mengenai moral saya mencoba mendefinisikan sebagai sebuah bentuk perilaku yang mencerminkan sikap yang diakibatkan oleh perilaku seseorang dalam kesehariannya baik perilaku buruk ataupun baik. Kita bisa menilai seseorang moralnya baik karena memang didalam kesehariannya dia berperilaku baik dan tidak menunjukan tanda-tanda penyimpangan. Dan begitu juga apabila kita menilai seseorang itu buruk karena dia melakukan  kenakalan atau tindakan yang dapat merugikan orang lain. kenakalan remaja yang terjadi tidak bisa disama ratakan, karena ada remaja yang hanya melakukan kenalakalan yang masih dikatakan wajar seperti pada halnya menyontek atau cabut pada jam sekolah atau hanya sekedar kelayaban dengan teman-temannya walaupun itu termaksud perbuatan yang menyimpang tetapi masih bisa untuk ditoleransi dengan sedikit hukuman yang membuat jera. Selain itu banyak kejadian diluar sana yang dapat menjadi cermin bagi remaja itu sendiri, bahwa seorang remaja di lingkungan rumahnya dia dikenal baik-baik saja justru diluar mereka seperti anak yang tidak mendapat pendidikan karena mereka merasa bahwa dunia luar adalah dunia milik mereka, disana mereka bebas melakukan apa saja sesuka hati mereka tanpa ada yang memarahi ataupun tanpa ada yang mengekang kebebasan kehidupan yang sedang dijalani. Lebih parahnya lagi apabila sang remaja tersebut masuk ke lubang prostitusi dan narkoba bisa dibayangkan bagaimana mereka menjalani kehidupan yang serba gelap-gulita hanya diiringin dengan kebahagiaan sesaat yang mereka jalani. Bagaimana mungkin generasi muda bisa memimpin bangsa dan agama apabila mereka terjerumus kedalam hal-hal yang seperti itu? Seperti peribahasa mengatakan tak ada asap kalau tak ada api, peribahasa ini pun seperti mewakili maksud dari pertanyaan tersebut, karena sesungguhnya remaja melakukan kenakalan tidak mungkin tidak ada sebabnya. Saya mencoba menguraikan beberapa penyebab remaja yang melakukan kenakalan dan terjerumus kedalam gelapnya pergaulan.

Yang pertama faktor keluarga, disini terlihat jelas bahwa yang paling utama menetukan adalah faktor keluarga yang merupakan faktor internal. Apabila suatu keadaan didalam internal baik maka keadaan eksternal nya pun akan demikian baik, usahakanlah orang tua menciptakan suasana yang menyenangkan didalam rumah dan apabila orang tua berselisih atau bertengkar berusahalah meredam rasa amarah tersebut sebisa mungkin agar tidak memicu pertengakaran yang lebih besar nantinya, karena ujung-ujungnya anak yang akan menjadi korban. Karena biasanya anak yang merasa dirinya sebagai korban broken home cenderung mencari kebahagiaan dan mencari perhatian diluar.

Yang kedua faktor lingkungan, lingkungan sebagai tempat dimana sang anak mengambil peran yang sangat penting bagi proses pembentukan dari akhlak anak itu sendiri apalagi ditambah saat dia memasuki remaja, dimana semua hal mungkin saja dilakukannya. Karena lingkungan yang baik akan membentuk akhlak anak menjadi baik dan lingkungan yang buruk akan membentuk akhlak sang anak menjadi buruk pula.

Yang ketiga faktor eksternal ( dengan siapa sang anak bergaul), orang tua harus mengetahui dengan siapa anaknya berteman, tanyakan pada anak tanpa harus memaksa sang anak untuk mengenalkan teman-temannya setidaknya orang tua tau bahwa anaknya tersebut bergaul dengan orang yang tepat jangan sampai sang anak malah bergaul dengan teman yang salah, sebagai contoh yang konkrit apabila anak tersebut bergaul dengan teman nya yang merupakan seorang perokok aktif,  mau tidak mau si anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh temannya tersebut.  Awalnya ditawarin temannya untuk merokok tetapi mencoba untuk menolak, karena rasa penasaran yang begitu besar akhirnya mulai untuk mencoba, lalu setelah mencoba lama-lama menjadi ketagihan dan akhirnya diam-diam merokok tanpa sepengetahuan orang tuanya, contoh ini menjadi rutinitas yang buruk.

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

jika ada penyebab maka ada solusi untuk menghilangkan kebiasaan kenakalan remaja setidaknya dapat mengurangi kenalakan yang berujung pada rusaknya moral remaja, saya mencoba untuk menguraikan sebagai berikut:

  1. Tanamkan pendidikan agama, karena pendidikan agama merupakan pondasi utama bagi seseorang dalam melangkahkan kaki untuk menuju hidup yang bahagia baik didunia dan di akhirat kelak. Begitu pula di dalam pergaulan yang terjadi dikalangan anak muda yang notabennya mereka masih mencari jati diri. Jika pendidikan agama sudah ditanamkan sejak dini pada sang anak insya allah kelak sang anak akan mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya.
  2. Membentuk pertahanan diri yang kuat, dengan adanya pertahanan diri yang kuat inilah remaja dapat menahan diri mereka untuk masuk kedalam kenakalan yang akan menjerumuskan dirinya, sebab jika tidak ada pertahan diri maka remaja tersebut dengan mudahnya untuk diajak kedalam hal-hal yang negatif oleh teman-temannya.
  3. Sebagai orang tua, coba ciptakan konidisi rumah yang nyaman dan tentram bagi sang anak, karena dengan kondisi rumah yang nyaman dan tentram membuat sang anak merasa bahwa orang tuanya tersebut bisa berperan sebagai teman curhat, dan secara otomatis anak akan terbuka menceritakan apa saja yang ia lakukan diluar rumah, dan memperkenalkan teman-temannya sehingga orang tua pun tidak perlu teralu khawatir dengan pergaulan anaknya karena adanya komunikasi dua arah yang baik antara anak dengan orang tua.
  4. Berilah sedikit rasa kebebasan pada anak untuk bergaul, jika anak merasa bahwa orang tuanya dapat percaya pada dirinya berarti ada tanggung jawab sang anak kepada orang tuanya atas apa yang dia lakukan dan kerjakan selain dirumah termaksud juga pergaulannya,biasanya sang anak cenderung merasa tanggung jawab atas kepercayaan yang dikasih oleh orang tuanya, sebagai cerminan saya sendiri merasakan hal yang seperti itu saya diberi kebebasan untuk bergaul oleh kedua orang tua saya, karena saya paham dan mengerti apa maksud orang tua saya memberi kebebasan bergaul kepada saya tersebut, maka secara otomatis saya menjaga amanah yang telah diberikan agar dapat menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Alhamdulillah saya mengerti bagaimana cara memilih teman bergaul yang memberi manfaat untuk diri saya dan yang tidak.

 

Semoga dikompetisi ini dapat memberi semangat untuk teman-teman pembaca dan dapat mengambil pelajaran yang baik dari tulisan saya ini.

link terkait :

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *