[Karya KBM3] Urgensi Pendidikan Moral, Pendekatan Agama dan Keluarga, dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia

Posted on Updated on

Bertakwalah engkau kepada Allah.
Bayangkan akhirat dalam kalbumu.
Jadikanlah bayangan kematian berada di pelupuk matamu.
Jadilah orang yang malu kepada Allah.
Jauhilah larangan-larangan-Nya dan kerjakanlah kewajiban-kewajiban-Nya.
Tetaplah konsisten bersama kebenaran di manapun engkau berada.
Sekali-kali janganlah meremehkan nikmat yang diberikan Allah untukmu walaupun kecil.
Sambutlah ia dengan rasa syukur.
~Wasiat Imam Syafi’i~

 

ABSTRAK
Perkembangan zaman mengharuskan generasi muda untuk melakukan rekonstruksi pemikiran yang ideal pada zamannya. Seiring dengan perkembangan zaman yang terus berpacu dengan kebutuhan-kebutuhan manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pada berbagai aspek kehidupan. Hal tersebut menuntut bermacam-macam kemudahan untuk dapat memperoleh kebutuhan-kebutuhan manusia. Maka, tercetuslah alat-alat atau benda yang pada hakikatnya dipergunakan dalam memenuhi kebutuhan manusia yang bermacam-macam, tak terkecuali dalam bidang informasi. Salah satu teknologi informasi yang paling marak digunakan saat ini adalah internet.

Dikarenakan sebagai subjek utama penggerak suatu bangsa dan sebagai potret bagaimana peradaban di suatu negara, generasi muda dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi yang semakin global dengan tidak menyalahgunakannya untuk hal-hal yang kurang positif, serta dengan tidak meninggalkan nilai budaya, moralitas, dan nilai kebangsaan yang telah tertanam pada diri generasi muda. Nilai budaya, moralitas, dan nlai kebangsaan merupakan elemen yang tidak boleh luntur dari kepribadian generasi muda untuk mewujudkan sebuah bangsa yang terhormat.

Garis-garis Besar Haluan Negara telah menggariskan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan titik tolak dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional di masa yang akan datang sangat tergantung dari kualitas manusia pada masa kini. Sumber daya manusia yang akan datang adalah generasi muda masa kini. Hal ini berarti bahwa membina generasi muda masa kini merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia bagi pembangunan di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai pembinaan generasi muda adalah berbicara mengenai pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu upaya dalam mengembangkan kepribadian dan modal utama suatu bangsa.

Undang-undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga pihak inilah mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membina generasi muda melalui upaya pendidikan.

Pada era globalisasi dewasa ini masalah moral yang terjadi jauh lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan masalah-masalah moral yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Isu-isu moral di kalangan generasi muda seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, perjudian dan lain-lainnya, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum diatasi secara tuntas.

Dari uraian tersebut di atas bagaimanakah upaya membangun karakter generasi muda di era globalisasi ini, dan sampai sejauh mana pengaruh pendidikan moral terhadap karakter generasi muda?

Tujuan penulisan ini untuk mengetahui: (1) contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat, (2) usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait.

Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam membangun karakter generasi di era globalisasi sebagai modal bangsa dewasa ini antara lain adalah: (1) moral generasi muda sangatlah perlu untuk dibenahi, (2) diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap melalui pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna, (4) orang tua dan keluarga sedini mungkin perlu menanamkan kesadaran kepada anak tentang pentingnya nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter.

Kata Kunci: Indonesia Mercusuar Dunia, Kontes blog muslim, Lomba blog, Urgensi Pendidikan Moral Pendekatan Agama dan Keluarga dan Penerapan Teknologi Informasi Tepat Guna Sebagai Upaya Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda Indonesia, Final, Membangun Karakter, Perspektif

 

A. PENDAHULUAN
A.1. LATAR BELAKANG
Redja Mudyahardjo (2002) menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat memainkan peran dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan datang.

Akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pula sikap tindakan yang dimaksud mencakup hubungan dengan Allah, sesama manusia (termasuk dirinya sendiri) dan dengan alam atau lingkungan (Muslim Nurdin, 1995).

Jadi, pendidikan akhlak adalah usaha sadar untuk memberikan bimbingan, arahan terhadap sistem nilai yang ada dalam kehidupan manusia yakni sistem nilai yang berhubungan dengan Allah, sesama manusia, alam dan lingkungan.

Garis-garis besar Haluan Negara telah menggariskan bahwa pengembangan sumber daya manusia merupakan titik tolak dari pembangunan nasional. Pembangunan nasional di masa yang akan datang sangat tergantung dari kualitas manusia yang dikembangkan pada masa kini. Sumber daya manusia yang akan datang adalah anak-anak dan generasi muda masa kini. Hal ini berarti bahwa membina anak-anak masa kini nmerupakan upaya pengembangan sumber daya manusia bagi pembangunan di masa yang akan datang.

Berbicara mengenai pembinaan anak adalah berbicara mengenai pendidikan, karena pendidikan merupakan suatu upaya sadar dalam mengembangkan kepribadian suatu bangsa.

Undang-undang No 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga. dan masyarakat. Ketiga pihak inilah mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membina anak melalui upaya pendidikan. Dalam dunia pendidikan yang menjadi fokus perhatian adalah peserta didik, baik itu di TK, SD, SMP, SMA maupun di Perguruan Tinggi. Menurut Edi Subkhan, mahasiswa Program Pascasarjana, S2 Universitas Negeri Jakarta dalam http://edukasi.kompasiana.com/2010/05/23/mari-membangun-karakter-bangsa-melalui-olah-pikir-olah-hati-olah-raga-olah-rasa-dan-karsa/ dinyatakan bahwa mencetak siswa yang berkarakter lebih penting daripada hanya sekedar pintar. Menurut Wardani (2008) dalam makalahnya yang berjudul Pendidikan sebagai Wahana Pembentukan Karakter Bangsa Harapan dan Tantangan, dinyatakan bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan untuk mengembangkan kepribadian atau akhlak peserta didik sesuai dengan cita-cita luhur pendidikan nasional.

Pada era globalisasi dewasa ini masalah moral yang terjadi jauh lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan masalah-masalah moral yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

Isu-isu moral di kalangan remaja seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang, tawuran pelajar, pornografi, perkosaan, perampasan, penipuan, pengguguran kandungan, perjudian dan lain-lainnya, sudah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum diatasi secara tuntas.

A.2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, ada beberapa permasalahan yang perlu dijawab, yaitu:
1. Apa sajakah contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat?
2. Bagaimanakah usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait?

A.3. TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan ini untuk mengetahui:
1. Contoh peristiwa dan penyebab kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat.
2. Usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut yang dapat ditujukan kepada lembaga-lembaga terkait.

 

B. PEMBAHASAN
B.1. CONTOH PERISTIWA KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Sudah menjadi wacana umum, bahwa dekadensi moral yang terjadi pada kawula muda telah mencapai titik mengkhawatirkan. Terjadinya pelanggaran norma-norma sosial yang dilakukan oleh para muda-mudi merupakan masalah terpenting bangsa ini dalam rangka perbaikan sumber daya manusianya. Karena, ketika sebuah etika sosial masyarakat tidak diindahkan lagi oleh kaum muda, maka laju lokomotif perbaikan bangsa dan negara akan mengalami hambatan.

Beberapa contoh dekadensi moral:
1. Tawuran
Sering sekali kita mendengar kasus tawuran antar pelajar, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya. Hal itu seakan sudah menjadi kebiasaan di kalangan remaja kita. Bahkan ironisnya persoalan yang memicu terjadinya kontak fisik itu adalah hal-hal yang sangat remeh. Misalnya, karena minta rokok dan tidak diberi, atau karena ketersinggungan yang hanya bersifat dugaan semata. Hal-hal semacam itu berpotensi sekali untuk menyulut api bentrokan antar pelajar. Kontak fisik seolah menjadi solusi satu-satunya untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Mereka tidak lagi memikirkan akibat yang akan diderita oleh berbagai pihak. Bahkan mereka tidak menghiraukan lagi kalau tindakan mereka itu akan menimbulkan kerugian yang sangat besar; baik bagi diri sendiri,keluarga, ataupun sosial.

2. Miras Dan Narkoba
Dari dua juta pecandu narkoba dan obat-obat berbahaya (narkoba), 90 persen adalah generasi muda, termasuk 25.000 mahasiswa. Karena itu, narkoba menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup bangsa. Alwi Nurdin, Kepala Kanwil Depdiknas DKI mengatakan, ‘Sebanyak 1.015 siswa di 166 SMU di Yogyakarta selama tahun 1999/2000 terlibat tindak penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan narkoba. Sedangkan 700 siswa sisanya ditindak dengan pembinaan agar jera, dan tidak mempengaruhi teman lain yang belum terkena sebagai pengguna narkoba. Para siswa penyalahgunaan narkoba tersebar di Jakarta-Utara (Jakut) sebanyak 248 orang dari 26 SMU, Jakarta-Pusat atau Jakpus (109) di 12 SMU, Jakarta-Barat atau Jakbar (167) di 32 SMU, Jakarta-Timur atau Jaktim (305) di 43 SMU dan Jakarta-Selatan atau Jaksel (186) di 40 SMU’ (Kompas, 05 Februari 2001).

Negara kita sedang mengalami ancaman badai yang sangat mengkhawatirkan. Peredaran minuman keras (miras) dan narkoba pun semakin hari semakin mengarah pada peningkatan yang signifikan. Tidak jarang kita baca, dengar, atau lihat dalam beberapa media cetak dan elektronik tentang tindak kriminal yang bersumber dari penggunaan kedua jenis barang di atas. Kurva peningkatan peredaran miras dan narkoba itu tidak terlepas dari dampak negatif semakin mengguritanya tempat-tempat hiburan malam yang tersaji manis di hampir sudut kota-kota besar. Bahkan ironisnya, peredaran itu sekarang tidak hanya terbatas pada kalangan tertentu, namun sudah merebah kepada anak-anak yang dikategorikan masih di bawah umur.

3. Pergaulan Bebas (pornografi dan pornoaksi)
Seiring dengan derasnya arus globalisasi, yang menjadikan dunia ini semakin sempit, maka di waktu yang sama hal itu akan membawa sebuah konsekwensi; baik positif atapun negatif. Kita tidak akan membicarakan mengenai konsekwensi positif dari globalisasi saat ini. Karena hal itu tidak akan membahayakan rusaknya moral generasi muda. Namun yang menjadi perhatian kita adalah efek atau dampak negatif yang dibawa oleh arus globalisasi itu sendiri yang mengakibatkan merosotnya moral para remaja saat ini.

Di antara sekian banyak indikator akan rusaknya moral generasi suatu bangsa adalah semakin legalnya tempat-tempat hiburan malam yang menjerumuskan anak bangsa ke jurang hitam. Bahkan bukan merupakan hal yang tabu lagi di era sekarang ini, hubungan antar muda-mudi yang selalu diakhiri dengan hubungan layaknya suami-isteri atas landasan cinta dan suka sama suka. Sebuah fenomena yang sangat menyedihkan tentunya ketika perilaku semacam itu juga ikut disemarakkan oleh para muda-mudi yang terdidik di sebuah instansi berbasis agama. Namun itulah fenomena sosial yang harus kita hadapi di era yang semakin bebas dan arus yang semakin global ini.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, akan semakin memudahkan para remaja untuk mengakses hal-hal yang mendukung terciptanya suasana yang serba bebas. Hal-hal yang dahulu di anggap tabu dan masih terbatas pada kalangan tertentu, kini seakan sudah menjadi konsumsi publik yang dapat diakses di mana saja. Sebagai contoh konkrit adalah merebaknya situs-situs berbau pornografi dapat dengan mudah dikonsumsi oleh para pengguna internet. Memang di satu sisi tidak bisa dinafikan, bahwa internet memberikan kontribusi besar dalam perkembangan moral dan intelektual. Akan tetapi dalam waktu yang sama, internet juga dapat menghancurkan moral, intelektual dan mental generasi sebuah negara. berdasarkan penelitian tim KPJ (Klinik Pasutri Jakarta) saja, hampir 100 persen remaja anak SMA, sudah melihat media-media porno, baik itu dari situs internet, VCD, atau buku-buku porno lainnya (Harian Pikiran Rakyat, Minggu 06 juni 2004).

B.2. PENYEBAB KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Dalam pengamatan penulis, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya dekadensi moral ini, antara lain: Pertama, lemahnya perhatian orang tua terhadap perkembangan kebutuhan fisik dan psikis anak. Hal ini bisa disebabkan karena terjadinya ketidakharmonisan keluarga (broken home), orang tua sibuk kerja, sikap acuh tak acuh terhadap perkembangan anaknya, dan lemahnya kontrol dari orang tua misalnya kurangnya pendampingan pada saat menonton TV, terlalu banyak bermain game, internet, dan aktivitas harian lainnya.

Kedua, pengaruh media massa dan lingkungan. Kemajuan teknologi yang begitu pesat, yang tidak disertai kontrol budaya yang beradab turut menjerumuskan generasi muda pada hal-hal yang negatif. Banyak informasi dan tayangan-tayangan yang negatif mudah diakses oleh generasi muda yang sebenarnya tidak pantas untuk usia mereka. Praktik pornografi, pornoaksi yang sudah terang-terangan hingga di tempat umum, merebaknya tempat-tempat maksiat berkedok karaoke, cafe, serta munculnya fenomena baru game porno tiga dimensi, dimana dalam game tersebut anak-anak secara fulgar bisa malihat adegan mesum yang dimainkan oleh tokoh-tokoh tiga dimensi, dan perilaku asusila lainnya semakin memperparah moral generasi muda.

Ketiga, pengaruh negatif dari arus globalisasi. Pengaruh budaya cinta materi secara berlebihan (materialistik), hidup boros (konsumeristik), sikap senang dengan kenikmatan hidup sesaat (hedonistik), dan pemisahan kehidupan duniawi dari nilai-nilai agama (sekularistik), telah menggejala di masyarakat muslim tidak hanya di daerah perkotaan tapi telah menjalar sampai ke desa-desa. Nafsu-nafsu duniawi tersebut juga memiliki andil kuat terhadap munculnya berbagai bentuk penyimpangan perilaku yang menghalalkan segala cara, sehingga terjadi krisis moral secara meluas yang jauh dari nilai-nilai dan tradisi budaya luhur yang santun dan beradab.

Keempat, dangkalnya pengetahuan agama dan hilangnya tokoh panutan. Semakin acuh tak acuhnya tanggung jawab orangtua, lingkungan masyarakat, pemangku adat, para pejabat, hilangnya wibawa ulama, bergesernya fungsi lembaga pendidikan menjadi lembaga bisnis, dan profesi guru seringkali dilecehkan. Tontonan telah menjadi tuntunan, sementara yang seharusnya menjadi tuntunan justru menjadi tontonan yang disepelekan.

Kelima, Krisis Uswatun Hasanah. Salah satu hal yang penting dilakukan oleh semua pihak dalam membangun generasi khoira ummah adalah adanya uswatun hasanah atau keteladanan. Dewasa ini kita mengalami krisis keteladanan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, maupun pejabat dan pemimpin-peminpin bangsa.

Krisis uswatun hasanah yang dialami bangsa Indonesia, menjadi sumbu pemicu bagi pertahanan moralitas bangsa yang sewaktu-waktu akan menjadi bom waktu peradaban bangsa. Nilai-nilai budi pekerti yang telah diajarkan dan ditanamkan dengan susah payah oleh dunia pendidikan, dengan serta merta dibantahkan oleh perilaku-perilaku masyarakat dan pemimpin negeri yang tidak mencerminkan akhlaqul karimah.

Krisis uswatun hasanah yang dialami bangsa Indonesia, menjadi sumbu pemicu bagi pertahanan moralitas bangsa yang sewaktu-waktu akan menjadi bom waktu peradaban bangsa.

Kesuritauladanan yang baik (uswatun hasanah) terhadap generasi muda sangat penting dan harus segera dibudayakan kembali dalam masyarakat kita. Mulai dari keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh artis, dunia pendidikan, hingga para pemimpin bangsa harus proaktif andil bagian dalam hal ini.

Pentingnya membangun karakter (character building). Pendidikan di Indonesia banyak dikritik belum mampu membangun karakter peserta didik menjadi pribadi yang unggul dan berbudi pekerti luhur (akhlaqul karimah) dengan maksimal. Pendidikan masih sekedar melakukan proses penyampaian pengetahuan (transfer of knowledge) yang kering dari nilai-nilai budi pekerti dan belum banyak mengarah pada penyampaian nilai-nilai budi pekerti (transfer of value). Lebih jauh lagi, pendidikan masih belum diarahkan untuk merubah pola pikir peserta didik menjadi manusia seutuhnya (transform of mindset).

Ironisnya, kondisi ini juga telah menjalar pada lembaga pendidikan Islam (madrasah) sebagai basis pendidikan agama. Dewasa ini kita masih sering menjumpai perilaku dan karakteristik peserta didik yang kurang menunjukkan nilai-nilai yang terkandung dalam materi pendidikan Agama Islam itu sendiri, disebabkan oleh lemahnya implementasi nilai-nilai agama dan budi pekerti yang diajarkan melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Idealnya, pendidikan bukan hanya sekedar menyajikan mata pelajaran agama di dalam kurikulumnya saja, tetapi yang lebih penting adalah mengimplementasikan perwujudan dari nilai-nilai keagamaan didalam totalitas kehidupan peserta didik di dalam maupun di luar sekolah/madrasah melalui berbagai pembiasaan perilaku terpuji.

Pada dasarnya metode Pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode pendidikan memungkinkan dapat membuka hati manusia untuk menerima petunjuk Ilahi dan konsep-konsep peradaban Islam.

Oleh karena itu masyarakat juga memiliki tanggung jawab secara sosial terhadap masa depan generasi muda kita. Diantara upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan melakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini baik melalui pendidikan formal di madrasah, pondok pesantren maupun pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Alqur’an, Madrasah Diniyah, Majlis Ta’lim, dan sebagainya, serta membangun tradisi keteladanan (uswatun hasanah) dalam setiap aktivitas keseharian.

Hal yang tidak kalah penting juga dilakukan oleh para orang tua adalah senantiasa memberikan perhatian yang penuh pada setiap aktivitas anak-anaknya, termasuk selektif dalam memilihkan informasi dan teknologi, senantiasa mengontrol buah hatinya untuk tidak salah dalam memilih komunitas (teman bergaul), turut menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan jasmani dan rohani remaja ke arah yang lebih baik, memberikan informasi yang konstruktif, membimbingnya dan memberikan pemahaman keagamaan sesuai dengan pertumbuhan kejiwaan sejak dini, sehingga tercipta generasi remaja mengetahui tanggung jawabnya sebagai abdi (hamba) dan juga sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Untuk membangun masyarakat yang berperadaban tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, guru, kyai, ulama saja, tetapi ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, GP. Ansor, Fatayat, IPNU-IPPNU juga memiliki peran yang sangat strategis dalam melakukan kontrol sosial dan pembinaan generasi muslim, melalui berbagai aktivitas sosial keagamaan turut berperan dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang khoiro ummah.

Generasi Khoira Ummah masa depan yang diharapkan di era globalisasi ini adalah generasi yang lahir dengan budaya luhur (tamaddun), dijiwai oleh nilai-nilai tauhid yang kokoh, kreatif dan dinamik, memiliki wawasan ilmu yang tinggi, berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain adalah generasi ulama yang intelek dan intelektual yang alim.

Betapa besarnya pengaruh generasi muda terhadap maju-mundurnya sebuah bangsa, kualitas generasi muda sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah bangsa. Manakala generasi mudanya tidak bermoral, maka akan menghancurkan peradaban suatu bangsa. Demikian juga sebaliknya, apabila generasi mudanya maju, berkualitas, berakhlaqul karimah, maka akan tercipta bangsa yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafuur (Yusuf Hasyim dalam Urgensi Character Building Upaya Dini Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda, http://bloganesurgaane.blogspot.com/2013/12/urgensi-character-building-upaya-).

B.3. PENGERTIAN MORALITAS DAN KARAKTER
Moralitas berasal dari kata dasar “moral” dan kata “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Kata “mores” yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores”. Moral adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain; akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya. Secara etimologi, moral dapat diartikan sebagai berikut :
a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan kebiasaan yang berlaku pada kelompok tertentu,
b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain ajaran tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam etika.

Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma, aturan-aturan yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan tindakan manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak manusia. kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana sebenarnya tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk.

Moralitas yang secara leksikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat mewujudkannya, atau suatu asas dan kaidah kesusilaan dalam hidup bermasyarakat.

Secara terminologi, moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan aliran-aliran yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Dari pengertian-pengertian tersebut, disimpulkan bahwa moralitas adalah suatu ketentuan-ketentuan kesusilaan yang mengikat perilaku sosial manusia untuk terwujudnya dinamisasi kehidupan di dunia, kaidah (norma-norma) itu ditetapkan berdasarkan konsensus kolektif, yang pada dasarnya moral diterangkan berdasarkan akal sehat yang objektif.

Karakter berasal dari bahasa Yunani charassein, yang berarti mengukir. Sifat utama ukiran adalah melekat kuat di atas benda yang diukir. Menghilangkan ukiran sama saja dengan menghilangkan benda yang diukir itu, karena ukiran melekat dan menyatu dengan bendanya.

Wardani (2008) menyatakan bahwa karakter itu merupakan ciri khas seseorang, dan karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu.

Hamid, M (2008) bahwa karakter merupakan sikap mendasar, khas, dan unik yang mencerminkan hubungan timbal balik dengan suatu kecakapan terbaik seseorang dalam pekerjaan atau keadaan.

Abdullah Munir (2010) menyatakan bahwa sebuah pola, baik itu pikiran, sikap, maupun tindakan, yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan disebut sebagai karakter.

Tapi pada kenyataannya kita sering mendapati seorang anak yang di usia kecilnya rajin beribadah, hidup teratur, disiplin dan selalu berprestasi di sekolahnya, serta patuh terhadap orang tuanya. Namun setelah sekian lama kita bertemu kembali dengannya di usia dewasa, kita tidak melihat lagi sifat-sifat yang telah melekat yang pernah melekat di usia kecilnya. Sebaliknya, kita melihat bahwa sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sudah tidak memiliki sifat seperti dulu di usia kecilnya, tidak pernah mengerjakan solat, dia seorang pemabuk, dan hidupnya tidak teratur. Hal ini terjadi nampaknya perjalanan hidup telah mengubah semua sifat baiknya itu.

Sebaliknya, banyak juga kita temui orang yang di usia mudanya memiliki sifat-sifat yang buruk, tapi dengan adanya nasihat yang terus menerus orang tersebut dapat berubah, tapi hanya sesaat saja. Pada suatu saat orang tersebut kembali dengan sifat-sifat buruknya. Inilah karakter, melekat kuat dan sulit untuk diubah.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter seseorang itu tidak dapat dirubah. Namun demikian, kondisi lingkungan atau perjalanan hidup seseorang dapat membentuk karakter untuk menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk.

B.4. PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL
Kata moral berasal dari bahasa Latin mores yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat. C. Asri Budiningsih (2008) berpendapat bahwa penalaran moral menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk.

Semakin menurunnya moral di kalangan remaja, kita sebagai pendidik merasa terpanggil untuk ikut bertanggung jawab mencari solusinya agar dekadensi moral generasi muda bangsa Indonesia yang kita cintai ini tidak berkepanjangan. Mari kita bekerjasama untuk membenahi akhlak anak-anak bangsa kita.

Banyak orang berpandangan bahwa menurunnya di kalangan remaja akibat kurang berhasilnya dunia pendidikan di era globalisasi dewasa ini. Itu semua tidak benar. Pendidikan moral tidak hanya selama di lingkungan sekolah, melainkan di lingkungan keluargalah awal pendidikan moral terhadap anak mulai ditanamkan. Mulyani S dkk. (2007) menyatakan bahwa anak-anak akan mengidentifikasi dirinya dengan ibu atau ayahnya serta orang lain yang dekat dengannya. Dasar pendidikan agama yang kokoh jika ditanamkam pada anak sedini mungkin akan membentuk karakter penuh kasih dan peduli terhadap sesama. Hal ini bisa terjadi karena setiap agama pasti akan memberikan pelajaran budi pekerti dan akhlak mulia.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga sangat berperan dalam pembentukan moral anak.

Di bidang pendidikan sekolah, terjadinya penyimpangan-penyimpangan moral peserta didik tidak hanya menjadi tanggung jawab pendidikan agama, tetapi juga merupakan tanggung jawab seluruh pengajar di sekolah. Guru bahasa, guru olah raga, guru IPA seyogyanya turut bertanggung jawab dalam membentuk moralitas peserta didik.

Sigit Dwi K. (2007) Menyatakan bahwa Pendidikan moral di sekolah diharapkan dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi personal dan sosial sehingga menjadi warga negara yang baik

Sumber daya manusia yang akan datang adalah generasi muda masa kini. Berbicara mengenai pendidikan moral di Indonesia, maka pemerintah zaman Orde Baru, pendidikan moral dikaitkan dengan nilai-nilai dasar Pancasila. Hal ini dimaksudkan bahwa sebagai dasar negara, maka kedudukan Pancasila merupakan landasan dan falsafah hidup dalam berbangsa dan bernegara. Karena itu, pendidikan moral ditanamkan pada peserta didik melalui pemberian mata pelajaran yang diberi nama Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Pentingnya pendidikan moral ini, sehingga ia menjadi mata pelajaran istimewa di samping mata pelajaran pendidikan agama. Pada waktu itu apabila peserta didik memperoleh nilai rendah pada kedua mata pelajaran tersebut, menjadi bahan pertimbangan apakah seseorang naik atau tinggal kelas. Bahkan proses penilaian atas mata pelajaran khusus pendidikan moral ini, tidak hanya dilihat dari aspek kognitif semata. Sebaliknya, tingkah laku peserta didik dengan berbagai standar nilai yang telah ditetapkan menjadi indikator penentu. Pada waktu itu guru agama dan guru PMP pun sangat dihormati karena dianggap sebagai penentu nasib para peserta didik. Tapi masa reformasi sekarang kedua mata pelajaran yang dahulu dianggap maha penting, kini tampak kurang menjadi prioritas serta menjadi korban kebijakan kurikulum.

Menghadapi krisis moral yang sedang melanda bangsa ini, maka sudah seharusnya Pendidikan mengambil peranan sebagai benteng moral bangsa. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak yang mana akan bertumbuh menjadi generasi muda.

UU Sisdiknas juga dituliskan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya pendidikan moral dan pembangunan karakter bangsa. Pendidikan moral merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita. Untuk itu dunia pendidikan harus mampu menjadi motor penggerak untuk memfasilitasi pembangunan moral bangsa, sehingga setiap peserta didik mempunyai kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan demokratis dengan tetap memperhatikan sendi-sendi NKRI dan norma-norma sosial di masyarakat yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Moral itu sendiri berasal dari bahasa Latin mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus Umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan atau kelakuan, sifat dan perangai yang dinyatakan benar, salah, baik, buruk, layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. Moral dalam istilah dipahami juga sebagai (1) prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk. (2) kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan salah. (3) ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik. (http://www.nu.or.id) dalam Urgensi Pendidikan Moral, oleh Cipto Wardoyo.

Pendidikan moral sebagai bagian dari pendidikan nilai di sekolah, yang membantu peserta didik mengenal, menyadari pentingnya, nilai-nilai moral yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan perilakunya sebagai manusia, baik secara perorangan maupun bersama-sama dalam suatu masyarakat. Nilai moral mendasari prinsip dan norma hidup baik yang memandu sikap dan perilaku manusia sebagai pedoman dalam hidupnya. Kita semua tentu mengetahui, kualitas hidup seseorang ditentukan oleh nilai-nilai, dan termasuk di dalamnya yaitu nilai moral.

Watak dan kepribadian seseorang dibentuk oleh nilai-nilai yang dipilih, diusahakan, dalam setiap tindakan-tindakannya. Dalam upaya pengenalan dan penyadaran pentingnya penghayatan nilai-nilai moral, pendidikan moral memuat unsur penyampaian pengetahuan moral kepada generasi muda, serta pengembangan pengetahuan moral yang sudah ada padanya.

Pendidikan moral yang ada di sekolah maupun di masyarakat saat ini seolah terkesan hanya menginformasikan teori-teori dan pengetahuan konsep moral kepada peserta didik, sehingga pendidikan moral yang ada saat ini belum mampu membuat perubahan perilaku pada peserta didik. Hal ini ditunjukkan semakin maraknya isu-isu moral yang negatip di kalangan generasi muda dewasa ini.

B.5. PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA DAN KELUARGA
Perbincangan tentang dekadensi moral di kalangan remaja, adalah menu keseharian yang sering kita dengar, bahkan secara nyata kita lihat serta rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya “degradasi akhlak” di kalangan remaja tersebut, tanpa harus menggeneralisir persoalan, tampaknya arah perbincangan yang lebih santun sekarang bukan lagi mempersoalkan sebab dan musababnya, tetapi solusi untuk mengatasinya menjadi hal yang lebih baik untuk dibicarakan.

Zulkifli L. (2000) menyatakan bahwa remaja dan generasi muda diidentifikasi sebagai masa strum and drang (goncang), masa-masa pencarian identitas diri lewat prinsip eksplorasi yang memang menjadi ciri khas mereka (Yudo Purwoko, 2001). Remaja dalam konteks ini sedang mengembangkan persepsi diri (sense of Individual identity), yaitu untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan “siapakah saya?” dan “kemanakah saya akan pergi?” Mencari identitas diri menyakup memutuskan apa yang penting dan patut dikerjakan serta memformulasikan standar tindakan dirinya (perilaku) dan perilaku orang lain.

Sangat tepat jika dikatakan bahwa masa remaja merupakan masa transisi, mereka belum siap untuk mengikuti adanya perubahan, sehingga pada masa kegoncangan ini remaja akan lebih mudah terpengaruh dengan pergaulan atau kehidupan di lingkungannya (Zakiyah Darajat, 1996). Remaja juga bisa dikatakan merupakan masa strum and stress, yaitu sebagai periode yang berada dalam situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa sehingga pengalaman sosial selama remaja dapat mengarahkannya untuk menginternalisasi sifat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya (Syamsu Yusuf, 2000).

Seorang remaja yang mampu memahami dirinya, peran-perannya dan makna hidup beragama, maka dia akan menemukan jatidirinya, dalam arti ia akan memiliki kepribadian yang sehat, tetapi sebaliknya apabila gagal, maka dia akan mengalami kebingungan atau kekacauan (confusion) (Ibid, hlm. 188). Suasana kebingungan inilah yang mengakibatkan remaja depresi sehingga ia tidak bisa lagi mengontrol emosinya dan menyalurkannya kepada tindakan-tindakan kriminal atau sering disebut “juvenile delinavency” (A. Supratikna, 2000).

Untuk itulah, dalam kondisi seperti itu remaja yang merupakan generasi penerus kaum tua harus bisa memfilter budaya maupun pengaruh yang datang dari luar, yang mana pada era modern ini sangat dipengaruhi oleh perubahan yang sangat pesat yang membawa kemajuan sekaligus kegelisahan yang sangat mendalam, karena perubahan tersebut kalau tidak diimbangi dengan moral yang baik akan menimbulkan pertanyaan yang besar tentang moral. Sehingga dengan landasan moral yang baik akan bisa memilah antara yang baik dengan kurang baik atau yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Untuk membekali remaja agar tidak memilih jalan yang buruk, sangat baik sekali remaja ditanami adanya akhlakul karimah (etika Islam) yang sesuai dengan ajaran agama Islam, sehingga akan berhasil bagi remaja dalam menjalani kehidupan baik di dunia ini dan nantinya di akhirat. Nilai-nilai akhlakul karimah adalah salah satu standar nilai untuk mengukur adanya pelanggaran etis ataupun tidak adanya pelanggaran, dan dari sudut lain interpretasi nilai-nilai akhlakul karimah (mulia) adalah salah satu standar nilai untuk mengukur adanya pelanggaran etis ataupun tidak adanya pelanggaran, dan dari sudut lain interpretasi nilai-nilai akhlakul karimah dimaksudkan untuk membina kembali anak-anak “delinavent” juga sebagai upaya penanggulangannya.

Membicarakan masalah remaja tentunya tidak bisa melepaskan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), karena IPNU sebagai “anak” dari Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisai yang terlahir dan dilahirkan untuk menjadi wadah bagi pendidikan anak remaja yang ada dalam lingkungan NU, yang tentunya merupakan wahana untuk menjadikan generasi muda atau remaja yang berkualitas sekaligus mempunyai akhlak yang baik.

IPNU lahir 24 Februari 1954/20 Jumadil Akhir 1373 H di Semarang. Kelahirannya dilatarbelakangi keinginan dari kalangan pendidikan yang ada dalam NU (Ma’arif NU) untuk memberikan wadah bagi pelajar-pelajar NU. Pendirinya antara lain M. Sufyan Cholil (Mahasiswa UGM), H. Musthofa (Solo) dan Abdul Ghony Farida (Semarang), sedangkan M. Tholchah Mansoer sebagai ketua umum yang pertama (Mujtahidur Ridho, SZ, 2003).

Di samping itu, untuk mengakomodir remaja putri akhirnya juga lahir Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Malang pada 2 Maret 1955/8 Rajab 1373 H. IPPNU lahir sebagai bentuk akomodasi terhadap keinginan pelajar putri dikalangan Nahdliyin yang memerlukan wadah tersendiri yang terpisah dari IPNU, ketua umumnya yang pertama adalah Umroh Mahfudloh Wahib (PW IPPNU Jawa Tengah, dalam Bunga Rampai Materi Penganggotaan, TOT, LAKUT, LAKMUD, MAKESTA).

Rentang waktu yang panjang dari dua organisi remaja yang bernaung di bawah NU tersebut, dengan melewati beberapa era dari Orde Lama, Orde Baru serta reformasi tampaknya menjadikan kedua organisai tersebut mempunyai kepekaan terhadap peran apa yang paling tepat yang disesuaikan dengan zamannya. Oleh karena itu IPNU-IPPNU dalam konteks modern seperti sekarang ini, dengan segala bentuk dekadensi moral yang dialami remaja, karena pengaruh globalisasi adalah satu wadah yang sangat tepat untuk membina remaja agar mereka tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang kurang baik.

Dengan kegiatan atau aktivitas-aktivitas yang ada dalam tubuh IPNU-IPPNU yang salah satu diantaranya adalah pendidikan akhlakul karimah (mulia) dapat membantu remaja untuk bisa menemukan jatidirinya (identitas diri), dengan tanpa meninggalkan norma-norma atau nilai-nilai moral dan akhlak.

Begitu juga yang terjadi pada pendidikan agama yang seharusnya mengambil peran sentral dalam membangun karakter masyarakat dalam kehidupan nyata. Ajaran agama yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid) dan etika (akhlaq) sering disempitkan hanya kesusilaan belaka dan dalam sikap hidup. Padahal ketiga unsur itulah yang menjadi modal penting dalam kehidupan bermasyarakat para pemeluknya di era yang semakin modern.

Menghadapi dunia yang semakin modern, pendidikan Islam harus mampu menyesuaikan diri. Dua hal yang saling terkait dalam pendidikan Islam saat ini adalah pembaharuan (tajdid) dan modernisasi (al-hadasah).

Dalam pembaharuan pendidikan Islam ajaran-ajaran formal harus lebih diutamakan, dan kaum muslimin harus dididik dengan ajaran-ajaran agama mereka. Adapun yang diubah adalah cara-cara penyampaiannya sehingga ia akan mampu memahami dan mempertahankan kebenaran. Adapun modernisasi pendidikan Islam menuntut umat Islam untuk menjawab tantangan modernisasi.

Sementara mengenai pendidikan nasional, Gus Dur menilai pendidikan nasional terlalu mengikuti paham positivisme. Akibatnya, membuat lembaga pendidikan terpisah dari masyarakat karena mengedepankan skill dan mengabaikan aspek moralitas. Gus Dur mencontohkan para ilmuwan Jerman yang mau bekerja di bawah Hitler hanya mencari keuntungan materi belaka. Karena tidak adanya standar moralitas maka Jerman yang pada waktu itu mempunyai motto “Jerman ada di atas segala-galanya” kemudian menjajah negara lain yang berakhir dengan Perang Dunia II.

Oleh karena itu, pendidikan nasional harus dicarikan paradigma baru yang benar. Untuk mencari hal tersebut, Gus Dur mengingatkan pada pergulatan dua pemikiran yang selama ini sulit untuk disatukan, yaitu Populisme dan Elitisme. Populisme mendekatkan pendidikan kepada rakyat sehingga orientasinya untuk rakyat. Sementara elitisme berpandangan bahwa rakyat tidak tahu apa-apa, hanya kaum elite yang mempunyai ketrampilanlah yang dapat menentukan nasib suatu bangsa. Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi karena bertentangan dengan demokrasi (Gus Dur dalam Pendidikan Moralitas dan Karakter Orang Indonesia menurut Gus Dur, Warta Madani 2013, http://www.wartamadani.com/2013/05/pendidikan-moralitas-dan-karakter-orang.html).

Pentingnya pendidikan agama dan keluarga. Direktur Pascasarjana Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Dr. H. Arwani Syaerozi, MA menegaskan bahwa pesantren sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, telah memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan nasional, terutama dalam mengawal moral.

“Tidak diragukan, pesantren menjadi benteng terakhir penjaga moralitas generasi muda,” tegas Doktor Maqasid Syari’ah dan Problematika Kemanusiaan lulusan Universitas Mohammed V Maroko pada sambutan stadium general dengan tema “Kontribusi Pesantren Dalam Pendidikan Nasional” di Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon 23 November 2014.

Senada dengan Arwani Syaerozi, narasumber stadium general tersebut, Dr. H. Mashudi, M.Ag juga menekankan pembahasan pada efek negatif yang timbul akibat tidak ada keseriusan dalam mengawal akhlak.

“Kalau generasi muda tidak dibekali dengan budi pekerti, maka di kemudian hari tidak menutup kemungkinan akan menjadi pemimpin yang korup dan tidak berkarakter,” kata Asisten Direktur Pascasarjana Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara ini.

Sementara Dr. H. Sa’dullah Assa’idi, M.Ag menganggap sistem pengajian kitab kuning merupakan salah satu ciri khas dan keunikan pendidikan pesantren. Sistem ini akan menjembatani hubungan intelektual generasi muda dengan para ulama pendahulu yang telah memberikan dedikasi terhadap kemajuan pendidikan.

“Kita harus bangga dengan sistem pendidikan pesantren, khususnya yang mampu menyelaraskan substansi kitab kuning dengan realitas di mayarakat, yang mampu menyingkronkan duniawi dan ukhrowi,” kata Wakil Rektor I UNISNU Jepara ini.

Sementara sesepuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, KH Makhtum Hannan, mengatakan syukur ata dimulainya perkuliahan angkatan kedua pendidikan kader ulama Ma’had Aly Al Hikamus Salafiyah Babakan Ciwaringin. “Insya allah pesantren mampu mencetak generasi muslim yang unggul,” katanya (NU Online 2014, dalam Pesantren Penjaga Akhlak Generasi Muda).

Demikian pula dengan keluarga. Kaum ibu merupakan penentu dalam memperbaiki moral masyarakat yang sudah rusak. Dalam hal ini kalangan ibu aktivis majelis taklim sangat berperan aktif memperbaiki moral bagi generasi mendatang.

Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumatera Barat Darmis Darwis mengungkap perihal ini pada pengajian rutin Majelis Taklim Nagari Kuraitaji di Surau Korong Kampung Tangah, Kuraitaji kecamatan Nan Sabaris kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (13/12) sore.

Ia menaruh harapan besar pada kaum ibu aktivis majelis taklim dalam memperbaiki moral generasi muda. Majelis taklim ibu-ibu sangat berperan. Karena, sebagian besar dari kaum laki-laki menghabiskan waktu di lepau-lepau, baik yang hanya maota, maupun main koa (berjudi).

“Negeri ini akan baik, jika kaum ibunya juga baik. Karena generasi yang baik terlahir dari didikan ibu yang baik pula,” kata Darwis di hadapan sedikitnya 200 hadirin.

Darwis menyayangkan kota Padang yang masuk dalam 10 besar kasus HIV/AIDS. Bahkan hampir 90 % anak sekolah meninggalkan shalat. Ini membuktikan orang tua tidak lagi mengontrol kedisiplinan anaknya.

Darwis yang juga memimpin Majelis Zikir Al-Inabah membawa pantun, dulu tonggak listrik dari besi, kini tonggak listrik dari beton. Dulu magrib mengaji, kini magrib menonton (tivi) (NU Online 2013 dalam Majelis Taklim Ibu, Harapan Moral Generasi Muda ).

B.6. PENTINGNYA PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI TEPAT GUNA
Pada hakikatnya, setiap manusia menginginkan adanya perubahan dalam setiap konteks kehidupan bermasyarakat. Pada prinsipnya, setiap perkembangan dan kemajuan dalam segi apapun baik adanya jika berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Dari sekian banyak bidang yang ada dan berpacu untuk kemajuan salah satunya adalah bidang teknologi yang menghadirkan perubahan dan kemajuan untuk selanjutnya digunakan oleh manusia. Beragam teknologi yang diciptakan memungkinkan manusia untuk bebas memilih apa yang diinginkan.

Teknologi merupakan salah satu unsur-unsur utama dari kebudayaan, sehingga antara teknologi dan budaya saling berpengaruh. Teknologi selalu berkembang dari zaman ke zaman. Di zaman globalisasi saat ini, kemajuan teknologi terutama teknologi informasi sangat diperlukan bagi kehidupan masyarakat.

Seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal. Terlebih Teknologi informasi yang membawa berbagai informasi dan segala macam bentuk ideologi, pendapat, maupun segala hal yang ditujukan dari suatu informasi yang terkait.

Generasi muda mempunyai perspektif yang utama dalam hal ini. Karena generasi muda merupakan peletak dasar kebudayaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dan berkelanjutan saat yang tua telah digantikan dengan yang muda.

Dengan adanya kemajuan di bidang teknologi informasi maka akan berpengaruh terhadap budaya generasi muda bangsa kita. Globalisasi telah membawa kemajuan teknologi informasi dan mengubah beberapa kebudayaan yang sudah kita miliki.
Dipandang dari adat ke-Timurannya, kebudayaan Indonesia sangat berbeda dengan kebudayaan yang ada di Barat, rata-rata orang timur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budayanya sendiri sebagai aset untuk melestarikan daerah dan budayanya secara turun-temurun. Nilai-nilai budaya yang secara turun-temurun yang dimaksud disini adalah bahasa daerah, upacara- upacara adat daerah, kitab-kitab kuno, serta tradisi-tradisi lainnya. Namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, generasi-generasi penerus bangsa lebih memilih budaya-budaya instan yang lebih mudah dan lebih ringan.

Dengan adanya perkembangan teknologi informasi, manusia medapatkan berbagai kemudahan dalam melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Melalui teknologi, kita dapat melestarikan kebudayaan Indonesia ke mata dunia.

Akan tetapi teknologi juga dapat memberikan pengaruh negatif salah satunya adalah bergesernya nilai-nilai budaya dalam masyarakat. Pada mulanya teknologi diciptakan oleh manusia untuk dapat memenuhi kebutuan manusia itu sendiri, akan tetapi pada perkembangan selanjutnya justru teknologi tersebut disalah gunakan. Dengan menggunakan teknologi informasi yang semakin canggih, generasi muda dapat memperoleh informasi dan mengenal budaya-budaya luar akan tetapi mereka cenderung melupakan budaya asli bangsa. Oleh sebab itu, dalam menggunakan teknologi informasi, generasi muda harus memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak mengakibatkan dampak negatif.

Dengan adanya teknologi informasi juga membawa dampak positif terhadap budaya generasi muda, antara lain:
1. Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet.
2. Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui teknologi yang tersedia.
3. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Dalam bidang teknologi masyarakat dapat menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam teknologi tersebut.
4. Tekanan dan kompetisi yang tajam di berbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi semakin globalnya informasi tersebar, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras.
5. Menghemat waktu dan biaya dalam melakukan berbagai aktivitas.

B.7. MEMBANGUN KARAKTER GENERASI MUDA DI ERA GLOBALISASI
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan remaja. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak generasi muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam cara berpakaian, selera makan. Yang lebih memprihatinkan adalah pergaulan bebas antar remaja. Seperti yang diberitakan oleh Triono pemerhati masalah remaja dan Staf Pengajar FISIP UMPTB Menggala, menyatakan bahwa sebanyak 28,8 persen remaja Bandar Lampung melakukan seks bebas sehingga membuat mereka berpotensi terserang human immunodeficiency virus (HIV).

Pada Era globalisasi dewasa ini dekadensi moral tidak hanya terjadi di kalangan remaja saja, namun banyak terjadi pula di kalangan orang dewasa. Hal ini tidak bisa kita pungkiri lagi, ternyata di negeri tercinta yang berdasarkan Pancasila ini telah menodai nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri. Hal ini terbukti semakin maraknya korupsi hampir di setiap departemen yang ada di negeri kita ini.

Untuk menumbuhkan karakter positip pada remaja dan generasi muda, orang tua perlu mengenalkan pada mereka tokoh-tokoh atau pahlawan yang bisa mereka jadikan idola. Usaha menumbuhkan karakter positip pada anak dapat dimulai sedini mungkin, misalnya melalui mendongeng atau dengan contoh lain.

Dalam dunia pendidikan, para guru dan perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral perlu mengupayakan peningkatan kemampuan siswa yang berkaitan dengan moral, misalnya melalui pemberian tugas, diskusi kelompok, atau bermain peran tentang seorang pahlawan atau sebaliknya, serta mencari contoh-contoh seorang pahlawan yang sesuai dengan idola mereka. Guru hendaknya menanggapi dengan serius segala persoalan moral dalam bentuk apapun, agar merangsang proses pemikiran mereka tentang pentingnya moral. C. Asri Budiningsih berpendapat bahwa salah satu upaya untuk mengatasi masalah-masalah moral di kalangan remaja adalah mengembangkan teori-teori dan model-model atau strategi pembelajaran moral yang berpijak pada karakteristik siswa dan budayanya. Penulis sependapat dengan Budiningsih. Hal ini akan memudahkan pemahaman siswa terhadap kualitas moral seseorang, karena karakteristik siswa merupakan kemampuan awal yang telah dimiliki siswa untuk kepentingan pembelajaran moral termasuk pemahaman moral dan tindakan moral yang tercermin pada peran sosialnya.

Uraian tersebut di atas senada dengan pendapat Prof Wardani bahwa karakter tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya karena karakter terbentuk dalam lingkungan sosial budaya tertentu. Dalam hal ini para guru di sekolah dan orang tua harus saling mengisi untuk menumbuhkan karakter positip pada anak melalui pembelajaran yang berkaitan dengan pendidikan agama sehingga generasi mendatang bangsa kita menjadi bangsa yang beriman berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia.

 

C. PENUTUP
C.1. KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa dalam membangun karakter generasi muda sebaai modal bangsa di era globalisasi dewasa ini antara lain adalah: (1) moral generasi muda sangatlah perlu untuk dibenahi, (2) diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi melalui pendidikan moral, pendekatan agama dan keluarga serta penerapan teknologi informasi yang tepat guna, (4) orang tua dan keluarga sedini mungkin perlu menanamkan kesadaran kepada anak tentang pentingnya pentingnya nilai-nilai kebaikan, moralitas, dan karakter.

C.2. SARAN
Untuk membangun karakter peserta didik diawali dari peran orang tua dan keluarga, guru pendidik, dan masyarakat/lingkungan. Orangtua dan keluargalah yang pertama kali akan memiliki peluang paling besar dalam pembentukan karakter anak. Orang tua di sini tidak hanya orang tua kandung, namun orang-orang dewasa yang berada di sekeliling anak dan memberikan peran yang berarti dalam kehidupan anak. Keluarga di sini tidak hanya orang-orang yang memiliki hubungan darah saja namun juga orang-orang terdekat yang memiliki kepedulian dan kedekatan erat dalam satu tempat tinggal/hidup bersama. Untuk itu diperlukan kepedulian dan saling mendukung dari seluruh anggota keluarga, guru pendidik, dan masyarakat/lingkungan untuk hal-hal yang baik bagi perkembangan anak, remaja, maupun generasi muda sebagai modal bangsa Indonesia itu sendiri.

Hal ini menjadi pelajaran bagi segenap elemen bangsa bahwa kepedulian akan generasi muda adalah tanggung jawab kita bersama. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi. Menjadi teladan hidup dan berdakwah teduh pada generasi muda Indonesia saat ini dengan memulai banyak membaca, meluruskan niat, makin mendekatkan diri dan meminta pertolongan kapada-Nya sesungguhnya adalah panggilan untuk kita bersama.

May peace be with you.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Kontes Blog Muslim Ke-3 PPM ASWAJA “Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa”.

Kontes Blog Muslim ke-3 PPM ASWAJA “Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa”. Sumber: http://kontesblogmuslim.com/

 

DAFTAR PUSTAKA
REFERENSI CETAK:
[1]. Asri Budiningsih. 2008. Pembelajaran Moral. Jakarta: PT Rineka Cipta
[2]. A. Supratikna. 2000. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius
[3]. Dwi,K, Sigit. 2007. Pentingnya Pendidikan Moral bagi anak Sekolah Dasar. Dinamika Pendidikan
[4]. Mujtahidur Ridho, SZ. 2003. Reinventing IPNU : Mengayuh Sampan di Perkampungan Global. Yogyakarta: El-Kuts
[5]. Munir, A. 2010. Pendidikan Karakter. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Maqdani, Anggota IKPI
[6]. Muslim Nurdin. 1995. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta, 1995
[7]. M. Hamid. 2008. Peran serta Guru Profesional dalam Turut Membentuk karakter bangsa Melalui Jalur Pendidikan Nonformal dan Informal. Jakarta: disajikan dalam Seminar nasional
[8]. PW IPPNU Jawa Tengah. Bunga Rampai Materi Penganggotaan. TOT, LAKUT, LAKMUD, MAKESTA.
[9]. Redja Mudyahardjo. 2002. Pengantar Pendidikan, Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
[10]. Sumantri, Mulyani. 2007. Perkembangan Peserta Didik. Penerbit Universitas Tebuka
[11]. Syamsu Yusuf. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya
[12]. Wardani. 2008. Pendidikan sebagai Wahana Pembentukan Karakter Bangsa. Jakarta: disajikan dalam Seminar nasional
[13]. Zakiyah Darajat. 1996. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang
[14]. Zulkifli L. 2000. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya

REFERENSI ONLINE:
[1]. Pendidikan Moralitas dan Karakter Orang Indonesia menurut Gus Dur dalam http://www.wartamadani.com/2013/05/pendidikan-moralitas-dan-karakter-orang.html
[2]. Pesantren Penjaga Akhlak Generasi Muda dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,46-id,55938-lang,id-c,pesantren-t,Pesantren+Penjaga+Akhlak+Generasi+Muda-.phpx
[3]. Majelis Taklim Ibu, Harapan Moral Generasi Muda dalam http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,48751-lang,id-c,daerah-t,Majelis+Taklim+Ibu++Harapan+Moral+Generasi+Muda-.phpx
[4]. Peran Guru Ideal dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam http://www.wartamadani.com/2013/11/peran-guru-ideal-dalam-pembelajaran.html
[5]. Urgensi Character Building Upaya Dini Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda dalam http://bloganesurgaane.blogspot.com/2013/12/urgensi-character-building-upaya-dini.html
[6]. Nilai Budaya, Moralitas, dan Nilai Kebangsaan Generasi Muda Menghadapi Perkembangan Teknologi Informasi dalam http://mchalidon.blogspot.com/2013/04/karya-ilmiah-nilai-budaya-moralitas-dan.html
[7]. Pemuda dan Dekadensi Moral dalam https://nu2jelajah.wordpress.com/pemuda-dan-dekadensi-moral/
[8]. Membangun Karakter Peserta Didik Melalui Pendidikan Moral dalam http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fkip201020.pdf

REFERENSI PENDUKUNG:
[1]. www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
[2]. www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
[3]. www.piss-ktb.com – Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah KTB Berbagi Informasi Melalui Media FB

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *