[Karya KBM5] Gus Dur, Sang Penakluk

Posted on Updated on

“Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal yang baik, harus dapat mengeluarkan yang terbaik dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain” – Kent Blanchard

Tak terasa telah 7 tahun berlalu semenjak kepulangan Gus Dur menghadap Sang Khalik pada Desember 2009 silam. Tapi selayaknya mercusuar, Gus Dur ibarat bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya yang selalu membantu navigasi para pengikutnya. Bahkan Gusdurian – yaitu sebutan untuk para murid, pengagum dan penerus pemikiran serta perjuangan Gus Dur – menyebutkan bahwa Gus Dur memiliki 9 nilai utama yaitu: Ketauhidan; Kemanusiaan; Keadilan; Kesetaraan; Pembebasan; Kesederhanaan; Persaudaraan; Keksatriaan; dan Kearifan lokal.

Berfokus pada nilai kemanusiaan, keadilan dan pembebasan yang dianutnya maka hal berikut menjadi bukti mengapa Gus Dur layak memiliki kandungan nilai tersebut. Hal ini berangkat dari ragam penghargaan yang diperolehnya diantaranya ketika Gus Dur dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa di Semarang pada tahun 2004 silam. Di bidang kemanusiaan, Gus Dur juga memperoleh penghargaan dari Simon Wiesenthal Center yaitu sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Gus Dur memperoleh penghargaan tersebut karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Tidak hanya itu, Gus Dur juga memperoleh Doktor Kehormatan di bidang kemanusiaan dari Universitas Netanya Israel pada tahun 2003 silam. Gus Dur benar-benar berupaya menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan membela kemanusiaan tanpa syarat.

Gus Dur (2006) mengungkapkan dalam buku yang ditulisnya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, tepatnya pada halaman 157 bahwasanya “...begitu banyak rahasia menyelimuti masa lampau kita, sehingga tidak layak jika kita bersikap congkak dengan tetap menganggap diri kita benar dan orang lain salah. Diperlukan kerendahan hati untuk melihat semua yang terjadi itu dalam perspektif perikemanusiaan, bukannya secara ideologis. Ini bertentangan dengan hakekat kehidupan bangsa kita yang demikian beragam. Kebhinekaan/keragaman justru menunjukkan kekayaan kita yang sangat besar. Karenanya kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa atas kemelut yang masih menghinggapi kehidupan bangsa kita saat ini”.

Lebih lanjut Gus Dur mengungkapkan bahwa keyakinan agama Islam mengarahkan kita agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Gus Dur yakin dan percaya bahwa pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain yaitu: “Kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Bahkan Gus Dur menginginkan agar semua ditopang dengan pelestarian akhlak yang sejatinya merupakan kesulitan terbesar yang akan dihadapi umat manusia di masa depan.

Gus Dur merupakan sosok manusia yang tidak hanya manusiawi, pun sangat mengedepankan keterbukaan, keadilan dan toleransi. Sebagaimana keinginannya menampilkan keislamannya secara terbuka, adil dan toleran. Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam petikan pidatonya ketika penutupan upacara kenegaraan di Pondok Pesantren Tebuireng menyebutkan bahwasanya: “…sebagai pejuang reformasi, Gus Dur telah mengajari kita kepada gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya kita sebagai bangsa yang beragam ini menghormati dan menghargai keadilan...”. Gus Dur kerap berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Sejujurnya Gus Dur menaruh perhatian besar terhadap isu keadilan. Buktinya dalam salah satu bukunya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, beliau membahas tentang keadilan dalam beberapa bab tersendiri. Semisal dalam bab “Islam, Negara dan Rasa Keadilan”. Gus Dur menekankan pentingnya orientasi pembangunan negara untuk kepentingan warga masyarakat/rakyat kebanyakan yang harus lebih diutamakan dan bukannya pengembangan sumber daya manusia yang tinggi maupun penguasaan teknis yang memadai bagi modernisasi. Gus Dur menjelaskan bahwa bukannya modernitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan.

Selanjutnya pada bab “Keadilan dan Rekonsiliasi”, Gus Dur menekankan pentingnya keadilan yang harus ditegakkan sebagai persyaratan utama bagi sebuah proses demokratisasi. Gus Dur meyakini bahwa kedilan harus ditegakkan di Bumi Nusantara. Pada bab “Islam dan Keadilan Sosial”, Gus Dur menekankan pentingnya digunakan ukuran kualitatif selain ukuran kuantitatif yang bersifat mikro agar berorientasi pada keadilan, kedaulatan hukum dan kepentingan rakyat banyak sebagai hal-hal makro yang juga harus diperhatikan. Bahkan dalam buku berjudul “Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” terbitan LKiS, Gus Dur dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa suatu pemerintahan selayaknya mengandung 3 unsur utama didalamnya yaitu keadilan, demokrasi dan persamaan.

Di sisi lain, nilai pembebasan yang dikedepankan oleh Gus Dur bukanlah kebebasan yang kebablasan melainkan kebebasan yang menjadi hak setiap manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada Agustus 2006 silam, Gus Dur memperoleh Tasrif Award sebagai Pejuang Kebebasan Pers. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) karena Gus Dur dianggap memiliki semangat, visi dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, semangat keberagaman dan demokrasi di tanah air Indonesia. Patut dipahami bahwa semangat pembebasan hanya dimiiki oleh mereka yang memiliki jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut dan otentik. Gus Dur mengamini hal tersebut dengan selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

Hosen (2003) dalam artikel jurnalnya menyebutkan tentang sosok Gus Dur yang merupakan “prominent figure” yang merepresentasikan Islam Tradisional. Lebih lanjut Hosen menjelaskan bahwa masa kepemerintahan Gus Dur ketika beliau menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 4 merupakan hasil dari “political game” antar elit pada saat itu. Hosen menekankan tentang pentingnya “good governance” dan aturan hukum. Lebih lanjut Hosen (2004) juga menjelaskan bahwa tantangan yang sebenarnya khususnya bagi Nadhlatul Ulama (NU) yang merupakan naungan Gus Dur ialah menggunakan ijtihad kolektif sebagai instrumen efektif untuk membuat kontribusi keislaman bersinergi dan berdampak terhadap pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, mewujudkan pembangunan berkelanjutan serta pemerintahan yang baik (good governance).

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr Kaloh (2006) bahwasanya “…Tidak cukup bagi seorang pemimpin kalau hanya bertanggung jawab sebagai pemimpin, Anda pun perlu mengajarkannya dan mendorong yang lain untuk melakukannya. Kredibilitas kepemimpinan Anda ditentukan oleh keteladanan”. Karena pada dasarnya keteladanan akan menimbulkan rasa hormat dan keyakinan. Gus Dur dirasa berhasil memberikan contoh dan teladan yang merupakan esensi penting dari suatu kepemimpinan. Keteladanan menjadi kesempatan untuk mengembangkan diri pribadi dan orang lain secara bersama-sama. Rahasianya yaitu ketika seorang pemimpin mampu menuntun, menata emosi dan menjaga serta mengatur pengikutnya maka pemimpin tersebut sebenarnya sedang berinvestasi untuk mengubah pengikutnya dengan keteladanan, menjadi model dan standar nilai bagi pengikutnya dan meninggalkan warisan nilai, nama baik dan karya hidup dalam pekerjaan, pelayanan bahkan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhirnya, saya percaya bahwa Gus Dur merupakan sosok manusia yang adil dan bebas. Manusia yang menjadi teladan dan mercusuar bagi tanah air Indonesia bahkan dunia. Gus Dur telah selesai dengan dirinya sendiri, karena dia berhasil menaklukkan ego dan segala kepentingan diri pribadi.

Sumber:

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *