[Karya KBM5] Makhluk Tradisional Makhluk Modern

Posted on

masyarakat tradisional

Biasanya seorang manusia jika dia sudah terbiasa hidup di desa sejak kecil, maka perilakunya adalah “desa”. Perilakunya berada pada ranah tradisional cenderung religius, subtansial dan menjujung solidaritas. Orang  desa, dia berpikir (tanpa sadar) apa yang dilakukannya harus memenuhi kriteria-kriteria hukum adat dan norma (setiap apa yang dilakukan mengandung arti/rasa yang dalam atau pada konteks tertentu) jika tidak maka ada “rasa” tidak “baik” dan tidak  “pantas” (ora elok) yang muncul. Mungkin itulah kenapa pusat kebudayaan kebanyakan berada di desa-desa.

Orang desa adalah orang yang kuat, mereka bisa hidup dengan cara sederhana tanpa perlu menyembah dunia material yang berlebih. Itulah sebabnya tradisional sumber kedamaian, kesederhanaan dan orientalitas. Orang tradisional sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat, istilah “sandang pangan papan” menegaskan tentang hal itu. Bagaimana bisa?

Coba selidiki mengapa kata “sandang” berada di depan kata “pangan”?  Kenapa “sandang” lebih diutamakan dari pada “pangan”. Mari kita selidiki perlahan, “Sandang” adalah bentuk bahasa jawa dari kata pakaian sedangkan “pangan”  adalah bentuk bahasa jawa dari makanan. Kenapa tidak makan dahulu baru pakaian, karena sejatinya tanpa makan kita akan kita akan mati karena kehabisan energi, sedang tanpa pakaian kita tidak akan mati.

Ternyata tidak sesimpel itu di mata masyarakat tradisional,  “sandang”  melambangkan  “harga diri”, sedang “pangan”  melambangkan “harta”, istilah itu adalah sebuah pengingat dari masyarakat tradisional untuk masyarakat tradisional itu sendiri bahwa “semahal-mahal hartamu, sekaya-kaya hartamu, harga dirimu lebih utama dari pada hartamu”. Itulah mengapa saya menyebut masyarakat tradisional sangat menjunjung martabat kemanusiaannya.

Dan tentu masih banyak lagi variabel-variabel tradisional lain yang belum sempat saya utarakan.

masyarakt modern

Berbeda dengan seorang manusia jika dia sudah terbiasa hidup di Kota sejak kecil, maka perilakunya adalah “kota”. Perilakunya berada pada ranah modern cenderung rasional, prosedural dan bersifat kompetisi. Bukan berarti di kota tidak ada unsur kebudayaan, mungkin karena di kota banyak pendatang sehingga terjadilah perpanduan kulturisasi sehingga terdapat kulturalisasi yaitu modern itu sendiri.

Orang kota dituntut bisa hidup di tengah tekanan-tekanan derasnya multikulturasi sosial. Sehingga  manusia modern harus bisa melakukan tindakan modern agar bisa bertahan hidup. Tindakan modern contohnya adalah inovasi. Di ranah modernitas, inovasi adalah sebuah keharusan, tanpa inovasi kamu bisa mati. Tanpa inovasi produkmu akan kalah bersaing dengan produk lain.

inovasi adalah kunci untuk hidup di dunia modern

Contoh nyata inovasi dewasa ini adalah bergesernya angkutan kendaraan konvensional ke ranah angkutankendaraan berbasis IT. Demikian itu adalah bentuk inovasi yang luar biasa, mengapa? lama kelamaan orang yang tetap bersikukuh pada angkutan kendaraan konvensional akan tergeser karena tidak bisa menandingi   kemudahan dari  fasilitas kendaraan berbasis IT tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi tindakan modernitas antara lain adalah mandiri, tepat waktu, profesionalisme, terencana, percaya diri,  orientasi pada Science dan Technology dan variabel-variabel modernitas yang lain.

bingung - gap - kagok - tidak terbiasa

Akan terjadi “gap”  atau  “kagok” saat seseorang yang sudah biasa di ranah modern dibawa ke arah tradisional, begitu sebaliknya akan janggal saat seseorang tradisional berada di ranah modern. Dibutuhkan suatu formula transformasi khusus yang harus didapat sesesorang saat seseorang tersebut menyeberangi jembatan modern ke tradisional dan sebaliknya.

Saya ambil contoh sederhana, kopi. Saya ajak anda jalan-jalan ke desa sebentar, kalau anda berasal dari desa, mungkin istilahnya adalah “ngopi”. Biasanya ngopi selalu ditemani oleh dua hal yaitu gorengan dan rokok. Sepengalaman saya, ngopi itu kenikmatannya bukan berdasarkan enak apa tidak kopinya, bukan enak apa tidak gorengannya dan bukan enak apa tidak rokoknya, namun lebih kepada enak apa enggak “cangkruk-annya“.  Selama cangkruk-annya enak dan nikmat maka nikmatlah ngopi itu.

Jadi pasti anda akan sedikit heran (anda yang berasal dari wilayah modern) jika melihat orang-orang akan tertawa terbahak-bahak sangat senang sekali seperti orang yang baru kejatuhan banyak durian di gubuk kopi yang sangat sederhana. Yang mana jika kita bandingkan dengan tempat yang di tempati saat itu sangat ironis sekali. Yang perlu saya tekankan adalah ngopi  di sini adalah bukan proses minum kopi bukan, tapi proses sosial, dimana suatu kelompok manusia bisa bertemu dan ngobrol santai dengan hangat kopi. Jadi orang tradisional memandang ngopi adalah di wilayah subtansial bukan prosedural. Sekali lagi jangan heran jika ada warung kopi yang tanpa atap alias dlosoran tetapi tetap ramai pengunjung, jangan heran. Sekali lagi itu adalah nilai subtansialnya. Seperti itu.

Sekali lagi saya mengingatkan bahwa akan dibutuhkan ijtihad lebih saat manusia modern memasuki wilayah tradisional begitu sebaliknya diperlukan transformasi koordinat kehidupan khusus saat manusia tradisional memasuki area modern.

Namun hal itu tidak berlaku untuk manusia yang bernama Gus Dur. Gus Dur mampu menjadi manusia tradisional dan manusia modern, tidak hanya mampu, tapi beliau juga sukses.

Buktinya …

 

gus dur sebagai manusia tradisional

Gus Dur sebagai manusia tradisional adalah beliau seorang kyai. Dari interprestasi saya kyai bukanlah orang yang muluk-muluk pintar agama. Kata kyai digunakan oleh orang Jawa untuk menghormati objek yang dirujukinya. Jadi saya tekankan sekali lagi  kata “kyai” merupakan suatu istilah budaya .

Misalnya “Kyai Slamet” itu bukan merujuk ke orang ahli agama yang bernama “Pak Slamet” bukan, “kyai Slamet” adalah istilah yang digunakan untuk nama lain dari hewan Kerbau. Contoh lainnya adalah “Kyai Sabuk Inten Nogosroso” itu merupakan sebuah keris.

Sedangkan saat kata “kyai” disandangkan pada seseorang, timbulah rasa penghormatan dari masyarakat pada orang tersebut. Kyai itu adalah seseorang yang mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Sehingga masyarakat menyebutnya kyai untuk menghormatinya, menyebutkan kyai untuk “mengajeni” orang tersebut. Jadi tidak semua orang pintar menjadi kyai, dan tidak semua orang yang kurang pintar tidak bisa menjadi kyai.

Berikut adalah rujukan  mengenei interpresasi saya terhadap kyai :

Gus Dur adalah orang manusia yang mengabdikan hidupnya untuk manusia lain,untuk bangsa Indonesia, makanya orang-orang menghormati beliau, bahkan ada orang non-islam yang mengziarahi makamnya. Ini semua adalah bukti bahwa Gus Dur dicintai oleh umat, Gus Dur seorang kyai.

gus dur manusia modern

Gus Dur sebagai manusia modern adalah beliau seorang presiden RI.

Saya trenyuh pas beliau terakhir kali meninggalkan istana negara. Beliau menggunakan kaos T-shirt sederhana dan celana pendek sederhana. Tindakan itu dinilai kontroversial sebagian kalangan, bahkan ada yang mengecam. Padahal menurut saya itu adalah bahasa lambang, seakan-akan beliau mengatakan pada Bangsa ini, “Presiden seperti saya itu ya sama kayak sampean, ya sama kayak rakyat, ga ada bedanya. “.

Karena mengapa? Pribadi saya melihat beliau atau dalam hal ini adalah pemikiran beliau,  seakan-akan beliau berkata pada Indonesia bahwa “modern dan tradisional adalah sesuatu yang satu, tidak bisa dipisahkan. Sebab Modern pada akhirnya adalah tradisional, sedangkan tradisional pada akhirnya adalah modern. .”

Saya masih ingat pada waktu itu ayah saya mengatakan pada saya bahwa beliau adalah seorang “kyai gede”. Jujur pada waktu itu saya tidak mengerti apa makna dari kata “gedhe” yang mengikuti kata “kyai”. Kata “Kyai Gedhe” sangat menancap di kepala saya sampai saat ini. Menurut saya kecil, “kyai” ya “kyai” standar definisi saya pada waktu itu orang sholeh yang sering ke Masjid menjadi imam pada saat sholat.

Dan saya semakin yakin, itulah kenapa Bapak saya menyebutnya “kyai gedhe” kyai yang bukan sembarang kyai.

www.muslimedianews.com www.arrahmah.co.id  www.moslemforall.com

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *