Kata Pengantar Buku KBM1 dari Bapak Mahfud MD

Posted on

Sambutan Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH., SU pada buku hasil Kontes Blog Muslim Ke-1:

==============================================

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Saya sungguh gembira bahwa teman-teman pengusaha muda Nahdhatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja menyelenggarakan lomba menulis artikel bertema “Muslim Anti Korupsi” sebagai bagian dari kegiatan-kegiatannya yang tentu sangat banyak. Tentu kegembiraan ini tak cukup hanya dirasakan oleh saya yang juga adalah warga NU, tetapi harus menjadi kegembiraan seluruh rakyat Indonesia. Mengapa?

Karena masalah korupsi sudah menjadi penyakit akut sekaligus kronis yang penyembuhannya tidak mudah. Korbannya adalah seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan Indonesia yang menurut Alinea I Pembukaan UUD 1945 dimaksudkan untuk melindungi Hak Asasi Manusia (peri kemanusian) dan menegakkan keadilan (peri keadilan) tidak dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia karena kehidupan bernegara kita diserang oleh penyakit ganas yang bernama korupsi itu. Karena korupsi-korupsi itu dalam faktanya banyak melibatkan pengusaha dan perusahaan maka menjadi wajar jika para pengusaha muda NU merasa terpanggil untuk memperbaiki situasi ini dengan berbagai cara karena mereka sadar akan tangungjawabnya sebagai calon pemimpin bangsa dan negara di masa depan..

Ada ancaman bagi kelangsungan bangsa dan negara kita ini jika korupsi-korupsi tak bisa dihentikan baik ancaman disintegrasi dari dalam maupun ancaman intervensi dari luar. Disintegrasi dari dalam bisa muncul karena kemarahan rakyat yang hak-haknya dirampas oleh koruptor yang berlindung di bawah kekuasaan negara sehingga bisa memancing munculnya tindakan penyempalan atau pembangkangan (disobedience). Rakyat bisa membangkang atau melakukan tindakan sendiri karena merasa pemerintahnya lemah dan tak bisa menghadapi para koruptor bahkan banyak bagiannya yang justeru menjadi koruptor itu sendiri. Intervensi dari luar biasanya mudah masuk dan mendikte pemerintahan yang di tubuhnya dipenuhi tumor-tumor korupsi. Kalau intervensi dan bibit disintegrasi bertemu di dalam suatu negara maka akan hancurlah negara itu. Naudzu billaah min dzaalik, mudah-mudahan negara kita terhindar dari itu.

Mungkin agak aneh, judul lomba karya tulis ini terfokus pada orang Islam, yakni, Muslim Anti Korupsi padahal korupsi yang terjadi menjangkau semua pemeluk agama. Tetapi saya menilai baik judul ini karena beberapa hal. Pertama, lebih dari 85% rakyat Indonesia adalah kaum muslimin (beragama Islam) sehingga dengan sendirinya koruptornmya lebih banyak yang beragama Islam. Kedua, karena lebih dari 85% rakyat Indonesia beragama Islam maka yang menjadi korban keganasan korupsi juga sebagian besar adalah orang-orang Islam. Ketiga, sebagai konsekuensi dari banyaknya jumlah pelaku dan korban korupsi yang seperti itu maka yang paling banyak dituntut melakukan perbaikan-perbaikan dan menghunus pedang un tuk berperang melawan korupsi adalah umat Islam. Jika umat Islam sadar untuk berperang melawan korupsi maka sebagian besar urusan korupsi akan terselesaikan atau kemenangan perang melawan korupsi itu akan lebih mudah dicapai. Tentunya, manfaat dari kemenangan perang atas korupsi itu nantinya bukan hanya untuk umat Islam tetapi juga untuk seluruh warga bangsa dengan segala pluralitas dan multikultaralitasnya.

 

 

Generasi muda, termasuk generasi muda NU, adalah kelompok warga negara yang tak bisa menghindar dari keharusan menerima estafeta kepemimpinan bangsa dan negara di masa depan. Menjadi wajar jika generasi muda mempersiapkan diri dan menuntut agar tongkat estafeta yang akan diterimanya itu bersih dari berbagai korupsi baik korupsi uang, politik, hukum, dan sebagainya. Generasi muda harus menerima tongkat estafeta itu dalam keadaan yang tidak terlalu buruk. Oleh sebab itu lomba menulis bertema “Muslim Anti Korupsi” haruslah dipandang sebagai bagian penting dari upaya menyerukan kaum muslimin untuk berperang melawan korupsi agar generasi muda seluruh bangsa dapat mewarisi pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara secara lebih baik dan bermartabat.

Saya mengucapkan selamat kepada Perhimpunan Pengusaha Muda Aswaja di bawah bendera NU atas kreatifitasnya yang membanggakan ini.

Wassalamu Alaikum Wr.Wb

 

 Jakarta, 27 Oktober 2013

 

Please like & share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *