anti diskotik

[Karya KBM3] Mengatasi Kebiasaan Nongkrong di Diskotik

Posted on Updated on

Zaman maju begitu cepat, dunia kini berkembang sangat pesat. Orang orang dunia timur mengetahui kebudayaan dunia barat, orang orang dunia selatan mengetahui kebudayaan orang orang dunia utara. Semua begitu berjalan cepat tentu hal ini membuat perkembangan dunia semakin maju, tapi dari perkembangan dunia ini banyak yang tidak bisa mengimbanginya. Bukannya menjadikan perkembangan ini sebagai alat untuk maju, malah terjerumus kedalam sesuatu yang salah.

Globalisasi yang kita ciptakan sendiri memang membawa dampak yang baik dan buruk untuk kita semua. Kita lihat berkat globalisasi teknologi, pengetahuan, perkembangan ekonomi semakin maju. Ternyata globalisasi juga meninggalkan jejak yang pahit bagi kita sendiri Kebudayaan negative yang tesebar banyak ditiru oleh kalangan remaja. Slah satu contohnya adalah budaya nongkrong di diskotik yang sekarang menjadi tren remaja Indonesia.

Tren diskotik memang sudah menjamur di Indonesia, terutama di ibu kota kita . tren ini mulai dilegalkan pada thaun 1970an oleh pemerintah Indonesia. Katanya main diskotik itu gaul, keren, kekinian, ngilangin stress, cari kesenangan, bahkan ada sebagian sudah jadi kebiasaan.. Tentu hal ini dulunya tidak ada dalam masyarakat kita itu terbawa dari globalisasi yang kita puja. Inilah hasil negative yang terjadi akibat globalisasi itu sendiri. Gini deh kalo yang belum tau diskotik itu apa search aja di google dengan kata kunci “diskotik”. Kamu gak akan nemuin foto – foto remaja yang lagi ngaji apalagi kasidahan, yang ada adlaah potret kebejatan moral remaja.

Kita lihat di diskotik bukan kalangan dewasa saja yang masuk kesana. Tapi fenomena sekarang ini yang terjadi adalah banyaknya kaum remaja juga yang berkecibung disana. Entah apa lah alasan mereka yang pasti sih bukan untuk melakukan shalat berjamaah tentunya. Fenomena ini mungkin sangat mengecewakan pemuda yang seharusnya menjadi ujung tombak negara, sekarang menjadi ujung tombak kemaksiatan.

Sungguh sangat disayangkan bagi golongan remaja yang seperti ini bagaimana tidak, mereka menghabiskan uang dan berfoya – foya disana bukan harga yang murah. Tidak seperti harga kalo kita jajan di PKL, bener gak sob ?. mungkin satu kali kesana sama dengan 100 kali ke pedagang kaki lima tuh. Apalagi kalau dipake sedekah lebih bagus kan tuh buat nanti tabunngan di akhirat. Saya yakin mereka bukan menggunakan uang mereka sendiri tapi menghabiskan uang yang orang tua mereka kasih. Uang yang dicari dari hasil kerja keras dan keringat orang tua mereka. Saya katakan mereka yang termasuk golongan ini adalah korban. Mereka adalah korban ketidaktahuan, dan mereka harus diingatkan dan kita bantu untuk keluar dari lingkaran setan ini. Kita harus ingatkan mereka bahwa apa yang mereka sering perbuat ini adalah salah.

Harus ada pemecahan yang efektif untuk menanggapi isu ini. Saya pikir ada cara yang baik untuk memperbaiki kerusakan moral ini. Jika dilihat kebanyakan mereka yang mendatangi diskotik atau bar atau klub malam apalah namanya itu tujuan mereka mungkin dengan nongkrong dan cari kesenanangan atau melepas penat. Caranya tidak perlu exstrim dengan menghancurkan bar atau diskotik, karena tidak mungkin itu juga melanggar hukum dong itu juga kemerosotan moral dong ? bener gak ?. selalu ada solusi damai dalam setiap permasalahan. Saya kira pemecahan nya adalah dengan mengalihkan para remaja pada kegiatan lain yang lebih positif, tidak perlu ajak mereka langsung ke pengajian. Santai aja secara bertahap yang pertama harus dilakukan adalah memisahkan mereka dengan kebiasaan mereka mendatangi diskotik.

Misalnya dengan membentuk kelompok anak muda kreatif, kelompok music, kelompok sastra, dan lain – ain. Kita perlu tau apa kebutuhan mereka apa yang mereka inginkan. Kita jangan langsung memaksa mereka untuk meninggalkan kebiasaan buruk mereka, karena akan terjadi penolakan disana. Perlahan kita buat mereka menjauh dari kebiasaan buruk mereka ini lalu setelah ada timing yang pas kita juga sambil memberi pencerahan kepada mereka. Dan yang perlu diingat juga adalah harus konsisten. Dengan metode yang sama membuat kebiasan mereka menjadi lebih baik adalah institut musik jalanan. Para founder nya berpikiran kalo para musisi jalanan dibiarkan terus begitu sementara pemerintah melarang para musisi jalanan kalau diabiarkan akan menjadi calon calon criminal. Begitu pun dengan kasus diskotik ini jika dibiarkan akan membuat mereka sendiri hancur maka dengan itu mereka harus segera diberitahu bahwa apa yang mereka lakukan ini salah. Dengan begitu insyaallah masalah ini bisa selesai dengan ijinNya.

Please like & share: