Apakah kita akan berhenti peduli

[Karya KBM3] Apakah Kita Masih Berhenti untuk Peduli ?

Posted on Updated on

Assalammu’alaikum sahabat,

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Q.S. Ar-Ra’d ayat 11

Firman Allah Swt. di atas, menunjukkan dengan sebenarnya bahwa setiap orang ataupun sebuah lingkungan masyarakat keadaannya akan selalu berubah-ubah. Tergantung kepada bagaimana lingkungan masyarakat itu berkembang. Hal itu berlaku juga kepada generasi muda kita. Disadari ataukah tidak, generasi muda saat ini memiliki kecenderungan pada kebiasaan-kebiasaan buruk.

Dari pengalaman pribadi sebagai seorang guru, dapat diambil beberapa fakta yang sangat mengerikan tentang para pemuda kita. Lebih mengerikan lagi, karena banyak dari kenyataan itu terjadi pula pada generasi tingkat sekolah dasar. Kadang sempat berfikir, ini mungkin terlalu aneh untuk menjadi kenyataan.

Fakta No.1 : Cinta adalah sebuah mainan. Pacaran jadi lumrah. Epilognya married by accident

Cinta remaja
sumber : http://www.hai-online.com

Adalah sudah jadi pemandangan biasa ketika kita melihat di taman-taman, mall-mall bahkan di lingkungan sekolah pasangan remaja di bawah umur berdua-duaan. Mereka sudah tidak malu untuk saling bermesraan di depan umum. Bahkan kadang ada juga yang sampai berani ciuman dan pelukan di lorong sekolah.

Anehnya beberapa sekolah membiarkan hal itu, seakan-akan sudah biasa melihat itu semua. Pihak sekolah bilang : “Biarlah, anak muda ini. Toh, kalau kita larang malah jadi masalah baru dengan LSM nantinya”. Bahkan ada juga guru-guru yang malah berusaha untuk memasangkan siswa-siswanya.

Anak SMA Hamil ? Biasa
Sumber : http://r-mf.blogspot.com/2013/03/kawin-sebelum-dikawinkan.html

Bagi remaja sekarang pacaran adalah hal yang wajib. Jomblo bukanlah pilihan, karena akan membuat dia menjadi korban bulliying kawan-kawannya. Masalahnya, tidak ada yang namanya pacaran sehat. Pacaran pasti akan berakhir negatif. Minimalnya ketika putus maka akan ada salah satu yang tersakiti bahkan kadang depresi. Ataupun jika hubungan itu berlanjut, mulai coba-coba seperti tontonan mereka. Ciuman, pelukan dan akhirnya hubungan seks di luar nikah. Epilognya banyak yang nikah usia muda karena si perempuan sudah hamil duluan.

Padahal bukankah Nabi Muhammad Saw. telah bersabda:

“Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat(berduaan) dengan wanita, kecuali pihak ketiganya adalah syetan” (HR. Muslim 4/1711)

Nah, pertanyaannya adalah apakah kita masih berhenti untuk peduli ? – Sementara faktanya sudah jelas nampak di depan mata kita. Dan kita masih bisa mengatasinya bukan malah mendukungnya.

Fakta No.2 : Mudah tersinggung dan cari masalah. Arena street fighter jadi tontonan biasa

Kumpulan gambar tawuran pelajar Sumber : http://menulisopini.files.wordpress.com/2014/03/tawuran.jpg

Sudah menjadi rahasia umum, dimana para pelajar dan generasi muda saat ini memiliki pengendalian emosi yang sangat buruk. Teramat sangat. Anda tahu ? Murid saya asal Jakarta pernah mengatakan sesuatu yang mencengangkan :

“Pak, di Jakarta waktu kami SMP. Tawuran tuh sudah menjadi hal yang biasa. Kita lakukan hampir setiap hari. Saat itu bahkan kami mengumpulkan uang kas di kelas, untuk membeli senjata seperti gear motor, pedang gergaji, atau minimal pisau lipat. “

Astaghfirullah, miris mengetahui hal ini. Terlebih lagi diucapkan oleh siswa kelas X SMA. Jika kita jeli, maka tidak usah jauh-jauh membahas Jakarta atau Makasar yang sudah sangat terkenal dengan “pertarungan” antar pelajarnya. Di Bandung, tepatnya tanggal 22 Desember 2014, ada pertandingan futsal antar kelas di sebuah sekolah. Ketika pertandingan mulai memanas, terjadi pelanggaran – sebuah tekel keras dari belakang. Anehnya yang emosi bukan yang sedang bertanding, penonton merangsek ke tengah lapangan. Ngamuk-ngamuk membabi buta, kata-kata kasar, ancaman, pukul-memukul terjadi di lapangan. Dan hebatnya tawuran tersebut terjadi di depan batang hidung gurunya, yang hanya bisa diam terpaku seakan-akan terpukau dengan kejadian tersebut.

Geng motor kecil sumber : http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/gang-motor-_01.jpg

Dari situ, maka dapat kita simpulkan bahwa betapa mudahnya anak-anak kita yang masih ingusan ini terpancing emosinya. Kita ketahui juga, penyakit masyarakat seperti geng motor. Banyak dari anggotanya adalah para pelajar SMP. Mereka dengan bangganya memamerkan kaos anggota seakan-akan merekalah raja dunia saat ini. Kebut sana, kebut sini, menghina dan memaki pengendara lain. Ketika di jaring oleh kepolisian, mereka akhirnya hanya bisa menangis minta dibebaskan.

Dan masih banyak lagi contoh yang lain, yang mungkin akan membuat kita lebih terkejut.

Pertanyaannya, apakah kita masih berhenti untuk peduli ? – Sementara faktanya sudah jelas nampak di depan mata kita. Dan kita masih bisa mengatasinya bukan malah mendukungnya.

Fakta No.3 : Rokok, miras, dan narkotika jadi pelarian. Agama akhirnya ditinggalkan

Inilah fakta yang paling mengerikan. Betapa tidak, ketika rokok, minuman keras dan narkotika telah menjadi “sahabat” dari generasi muda kita. Maka dapat dipastikan, kita mungkin takkan pernah mendapatkan generasi penerus yang dapat memperbaiki negeri ini ke depannya. Fakta ini, bukan isapan jempol belaka. Kepala Subdit Kesiswaan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional – Muchlis Catyo mengatakan bahwa :

 “70 persen dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, yakni berusia 14 hingga 20 tahun. Bahkan sudah menyusup ke anak usia SD”

(sumber : http://www.tempo.co/read/news/2004/07/30/05545767/70-Persen-Pecandu-Narkoba-Anak-Sekolah)

Angka yang fantastis untuk fakta bahwa anak kita telah terjangkit penyakit kecanduan narkoba. Bagaimana dengan rokok dan minuman keras ? Rokok telah menjadi trend anak muda masa kini. Sedang minuman keras, tidak sedikit pula remaja yang senang dengan barang haram ini. Termasuk remaja putri,

“Seorang remaja putri di Tasikmalaya, Jawa Barat kritis usai pesta miras oplosan bersama temannya. Korban terus menerus histeris saat mendapat perawatan di rumah sakit karena tak kuasa menahan sakit diperutnya.” Reporter Trans 7

(sumber :http://tv.detik.com/readvideo/2014/12/26/133427/141226025/061009681/remaja-putri-histeris-lalu-kritis-usai-tenggak-miras-oplosan)

Maka, apakah kita masih berhenti untuk peduli ? – Sementara faktanya sudah jelas nampak di depan mata kita. Dan kita masih dan pasti bisa mengatasinya bukan malah mendukungnya.

Pertanyaan di atas, seharusnya menyadarkan diri kita. Bahwa kita memang sudah harus peduli. Ironi jika saya, anda dan kita sampai hati tidak menyadarinya. Baik, saya rasa kita sepakat untuk peduli. Sekarang saatnya kita bahas semua yang berkait dengan fakta-fakta di atas. Pertanyaannya adalah

Apa saja faktor yang menyebabkan semua ini ?

Kenakalan remaja pada dasarnya dipicu oleh 4 hal :

1. Keluarga / Orang tua yang berantakan

“Tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.”

Haryanto, S.Pd (sumber : http://belajarpsikologi.com/kenakalan-remaja/)

Istilah anak broken home adalah yang paling tepat untuk menggambarkan remaja yang tumbuh di keluarga yag berantakan seperti ini. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak memiliki waktu untuk anaknya. Orang tua yang selalu bertengkar di depan anaknya. Orang tua yang tidak pernah peduli untuk sekedar bertanya tentang kondisi anaknya. Atau bahkan orang tua yang terlalu sayang dengan anaknya yang lain, itu semua membuat kondisi kejiwaan anak menjadi sangat buruk. Hingga mereka tumbuh dengan membenci orang tua mereka.

2. Teman dekat yang menjerumuskan

Tentang ini Rasululloh SAW. bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.”  HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa – (sumber : http://remajaislam.com/110-pilihlah-teman-dekat-yang-sholeh)

Sudah banyak kisah yang menyebutkan tentang seorang teman dekat yang justru menjerumuskan. Remaja saat ini tidak menyadari bahwa tidak sedikit dari teman dekatnya yang justru mengajak mereka untuk bermaksiat. Pernah kita mendengarkan ada seorang anak yang baik kemudian diajak oleh teman dekatnya untuk merokok. Awalnya, dia hanya mencoba satu hisap – batuk. Kemudian dia di ejek oleh temannya itu. Dia pun melanjutkannya, dan terus melanjutkannya. Akhirnya, si anak baik tersebut sekarang terkenal sebagai perokok berat.

3. Lingkungan sosial yang buruk

Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik mereka sadari maupun tidak. Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk.

Bahjatu Qulubil Abrar, 185 (sumber : http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/pengaruh-teman-bergaul.html)

Jika sebelumnya kita membahas pengaruh teman dekatnya. Maka yang ini, justru memberikan gambaran tentang pengaruh seluruh lingkungan pergaulan dari remaja. Remaja yang bergaul di lingkungan masjid, terlepas memiliki teman dekat atau tidak akan lebih baik perangainya dengan remaja yang bergaul di club malam.

 4. Diskriminatif dari seorang pendidik (guru)

Pernah satu kali selama mengajar, saya meminta murid-murid saya untuk mengeluarkan keluhan, kritik dan saran di depan kelas satu per satu. Hal itu saya lakukan karena kelas mulai tidak kondusif, seperti ada jarak pemisah antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Alangkah terkejutnya ada seorang murid yang berkata sambil terurai air mata,

“Pak, sesungguhnya kami merasa iri kepada kawan-kawan kami. Karena Bapak selalu memilih mereka, memuji mereka. Sedang kami jarang sekali mendapat perhatian dari Bapak. Kami pun ingin mendapat perhatian yang sama dari Bapak. Sebuah pengakuan terhadap hasil karya kami.”

Sederhana namun sangat menyentuh. Sejak saat itulah, saya menyadari bahwa sekecil apapun perhatian kita kepada murid maka itu akan berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Sikap memberi perhatian berlebihan atau bahkan sikap diskriminatif maka akan memancing tingkat kecemburuannya.

Bagaimana kita akan berperan ?

1. Peran sebagai orang tua

  • Berikan motivasimu ketika mereka jatuh. Jangan pernah kau biarkan anakmu merasa sendiri di dunia ini
  • Bertanyalah, karena mungkin anakmu segan untuk mengungkapkan keluh kesah ataupun kegembiraannya sebelum kau bertanya
  • Janganlah bertengkar di hadapan anak-anakmu
  • Buatlah suasana dan kondisi keluarga yang harmonis, sakinah, mawaddah dan penuh rahmat
  • Berikanlah arahan kepada anakmu tentang bagaimana dia harus melangkah dan mengambil keputusan

Ingatlah Allah Swt. berfirman :

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

“Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ? ” [An Nahl:72].

2. Peran sebagai teman

  • Saling mengingatkan dan menasihatilah dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran
  • Bersainglah dengan sehat dengan temanmu, jika memang harus maka berlombalah dalam kebaikan
  • Samakan tujuan dengan sahabatmu bahwa hidup adalah bagaimana cara kita memperbaiki diri agar mampu terus menebar manfaat bagi orang lain

3. Peran sebagai guru

  • Peka dan peduli terhadap semua siswamu
  • Perlakukanlah murid sebagai tiga tipe : sebagai anakmu, sahabatmu dan adikmu

Kesimpulannya adalah untuk merubah generasi menjadi lebih baik, jawabannya adalah ada pada diri kita sendiri. Maukah kita berubah ataukah tidak ? Karena boleh jadi generasi kita hancur akibat ulah dari ketidakpedulian kita kepada mereka.

Sadari itu wahai sahabat. Semoga Allah memberikan ketabahan menuju jalan istiqomah.

Sekian, Semoga bermanfaat.

Silencer

Almundzir.

Link terkait

Please like & share: