Final

[Karya KBM5] Cara Gus Dur Memenangkan Demokrasi Papua

Posted on

Tidak banyak yang merekam jejak KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Papua ketika ia menjabat sebagai presiden RI ke-4. Meski berkuasa sebentar, karakter humanis dan pluralisnya bisa dirasakan oleh masyarakat di sana hingga sekarang.

Adalah Pilep Jacob Semuel Karma (57), tokoh sipil Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang bersaksi atas perubahan yang dibawa Gus Dur ketika menjabat presiden. Walau hanya bertemu sekali dengan Gus Dur, sebagai tokoh politik di OPM, ia bisa membaca dan merekam arah kebijakan Gus Dur yang pro demokrasi.

Lelaki kelahiran 15 Agustus 1959 di Kabupaten Biak ini sangat berterima kasih kepada Gus Dur karena semasa jadi presiden, ia mendapatkan abolisi (penghapusan seluruh akibat penjatuhan putusan pengadilan pidana). Karma adalah salah satu nama yang mendapatkan kebebasan waktu Gus Dur presiden.

Masa penahanan Karma akibat makar sebetulnya sudah habis kala itu, namun ia masih harus menunggu keputusan dari Mahkamah Agung (MA). Ia akan masuk kembali masuk penjara jika MA sudah mengeluarkan keputusan tambahan hukuman kepadanya. “Tapi, belum turun keputusan, Gus Dur memberikan abolisi, saya dibebaskan demi hukum dan berstatus tahanan kota,” ujarnya di Jogjakarta, Senin (22/08/2016) malam.

Pada tahun 2005, Karma juga kena hukuman lagi setelah memobilisasi massa mengibarkan bendera Kejora pada 1 Desember 2014 di Lapangan Trikora, Abepura, Jayapura, dalam rangka peringatan HUT ke-43 OPM. Dituduh makar yang ke sekian, ia divonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jayapura (26/05/2005).

Di masa Gus Dur jadi presiden, apa yang dilakukan oleh Karma pada tahun 2005 itu tidak akan berbuntut panjang. Pasalnya, Gus Dur memberikan ruang bebas kepada masyarakat Papua untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora asal dipenuhi dua syarat, yakni tidak lebih besar dan tidak lebih tinggi dari bendera Merah Putih Indonesia.

Ketika itulah Karma yang merupakan PNS di Kantor Gubernur Papua itu, bebas memasang  dua bendera (Merah Putih dan Bintang Kejora) di mobil kantornya, lengkap berpakaian dinas sipil pegawai negeri serta tidak kuatir dituduh makar.

Lebih dari itu, teriak “Papua Merdeka!” pun di zaman Gus Dur mendapatkan kebebasan, “itu kita lakukan dan memang tidak ada masalah,” tutur Karma memuji kepemimpinan Gus Dur yang tidak hanya berjanji saja. Bukti yang ditunjukkan Karma adalah tidak adanya tentara atau polisi yang melarang teriakan makar itu. Ini yang tidak ditemukan di masa kepemimpinan presiden lainnya.

“Waktu itu tahanan politik OPM dan GAM dibebaskan semua. Jadi tidak ada tahanan politik,” tambah Karma melanjutkan perbincangan. Tahanan politik dibebasakan karena mereka hanya dianggap berbeda pendapat. Gus Dur tidak mempermasalahkan hal itu.

Tapi Karma juga kuatir, orang seperti Gus Dur itu secara politik akan membuat warga Papua terlalu senang. “Gila kan ini orang, kalau begini terus, saya kan tidak dapat pendukung dong di Papua,” imbuhnya.

Selain membebaskan pengibaran bendera Bintang Kejora dan tahanan politik, Gus Dur juga mengembalikan sebutan pulau dari Irian ke Papua. Dulu, terang Karma, tidak ada yang berani menyebut dirinya “aku orang Papua”. Begitu pengakuan tersebut didengar oleh aparat, bukan tidak mungkin akan terjadi represi.

Mereka yang teriakannya bernada makar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akan mendapatkan kesempatan dianiaya, dibilang antek-antek Belanda, bahkan bisa lebih fatal dari itu. “Untuk menyebut diri ‘kami orang Papua’ saja dulu kami langsung disebut separatis,” tandas Karma. Kini, putra Papua bangga menyebut dirinya sebagai orang Papua. Sekali lagi, berkat Gus Dur.

Fajar Gus Dur

Gus Dur jarang ke Papua waktu jadi presiden. Kesibukan Gus Dur mengurus keutuhan NKRI karena terjadinya konflik SARA dimana-mana, di tengah Indonesia mendapatkan tekanan luar negeri, membuatnya tidak sempat fokus mengurus Papua. Seingat Karma, tahun 2000-an Gus Dur pernah ke Papua hanya untuk melihat fajar di sana.

Namun diakui olehnya juga, karakter Gus Dur yang humanis dan pluralis tidak bisa dilupakan. Di mata orang Papua, Gus Dur dianggap sosok yang secara laku betul-betul menghargai perbedaan pendapat, sehingga represi politik di Papua pada zaman Gus Dur turun drastis. Apa yang diminta oleh masyarakat Papua diwujudkan oleh Gus Dur. Masyarakat pun merasakan hidup dalam alam demokrasi dan kebebasan berpendapat yang terjamin haknya.

Bagi sebagian pengamat, laku politik Gus Dur dianggap sembrono karena terkesan memberi angin kemerdekaan kepada Papua, sementara sebagai presiden, dia punya kewajiban menjaga keutuhan NKRI. Anggapan itu dianggap salah oleh Karma. Gus Dur baginya adalah pemimpin yang menghargai hak setiap warga di dunia, dan tidak pernah berkhianat sebagai presiden RI.

Ketika Karma menanyakan ke Gus Dur tentang tindakan apa yang diambil jika seorang aktivis Papua semacam Theys Hiyo Eluay memproklamasikan Papua Merdeka, “ingat loh, paling jauh akan saya suruh tangkap dia,” jawab Gus Dur ketika menjadi pembicara di acara Seminar Memperingati 1 Tahun Kematian Theys di Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Cawang, Kramat Jati, Jakarta Timur pada tahun 2002.

Theys Hiyo Eluay adalah Mantan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) yang didirikan Gus Dur saat menjabat sebagai presiden RI ke-4. Pada tahun 1999, Theys pernah mencetuskan Dekrit Papua Merdeka dan mengibarkan Bendera Bintang Kejora. Namun ia kemudian tewas terbunuh di dalam mobilnya setelah diculik pada 10 November 2001.

Jawaban Gus Dur yang membatasi instruksi pada kalimat “tangkap!” dan tidak menyuruh lanjut memerintahkan untuk membunuh, punya pengertian politis.

Menurut Karma, ujaran Gus Dur “tangkap!” ditafsir begini: jika Gus Dur meminta menangkap, maka akan ada blow up media internasional. Tekanan politik dunia pun datang. Jika terjadi tawar menawar politik di Papua karena penangkapan itu disorot media asing, lalu masyarakat menuntut merdeka, posisi Gus Dur sebagai presiden tidak bisa disalahkan karena secara hukum dia tidak mendukung gerakan OPM.

Di sinilah Karma menghormati cara politik demokrasi Gus Dur. Sebagai presiden, Gus Dur sadar sejarah dan taat konstitusi. “Saya seorang humanis dan seorang pluralis, jadi saya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan,” hanya itu yang pernah diucapkan Gus Dur kepada Karma. Itu juga yang membuat Gus Dur tidak mau melakukan pelanggaran kemanusiaan lakinya perintah membunuh dan menindas rakyatnya.

Hakikatnya, Gus Dur hanya ingin mengembalikan supremasi sipil ketika dia berkuasa. Dalam pemahaman itu, militer harus tunduk di bawah sipil dengan panglima tertinggi yang disebut presiden. Karena itulah, Gus Dur adalah panglima demokrasi yang sangat dihormati oleh semua warga Papua hingga kini. “Gus dur ada di setiap hati orang Papua,” ucap Karma.

Kisah seorang sahabat bernama Abdul Wahab yang berdakwah di Papua bisa dijadikan bukti bahwa jejak Gus Dur tetap ada di hati warga Papua. Kepada penulis, Kang Wahab dimudahkan bergaul dengan suku-suku di sana ketika dia mengaku sebagai warga NU santri Gus Dur.

Orang-orang Gus Dur di sana dianggap sebagai manusia bijak yang tidak akan membuat kerusakan sistem dan tatanan sosial. Karena yakin akan membawa kebaikan, Kang Wahab diberikan fasilitas gratis oleh owner sebuah hotel berbintang untuk menunjang safari dakwahnya selama di Papua. Padahal dia bukan muslim.

Kepada siapa dia harus berterima kasih, saya tidak menjawab Kang Wahab. Yang pasti, cara Gus Dur memenangkan hati orang Papua agar mereka mencintai dan menghormati hak setiap warga, bukan hanya wacana, tapi sungguh itu nyata. Gus Dur itu tokoh Indonesia cermin mercusuar dunia. Alfatihah!

www.muslimedianews.com
www.arrahmah.co.id
www.moslemforall.com

Please like & share:

[kbm5] PENGUATAN PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Posted on

Oleh : Fardan Abdul Basith

The YouTube ID of Insert video URL or ID here is invalid.

Dalam pelaksanaan hidup berkeluarga, terkadang banyak yang tak menyadari apa yang menjadi tugas dan fungsinya atau tujuan ia hidup berekeluarga, maka dari itu peran dan fungsi keluargapun menjadi bagian terpenting bagi manusia yang hidup dalam jalinan keluarga, terutama tatkala banyak penomena dijaman sekarang para remaja memilih untuk menikah dini sehingga tak mampu dipungkiri dalalm berkeluargapun masih terkesan premature, karena akibat kurangnya pengalaman yang ia dapatkan dalam perjalanan menuju pernikahan maka dari itu khidupan paska pernikahanpun tak mampu memahami alaur dan bentuk penyelesaian yang harus diambil. Sering orang menyebutpun usia muda mengarahkan pada perceraian yang sangat relative cepat dan akhirnya sebutan janda muda pun kian hari menjadi sebuah kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita, duda muda pun seolah tak menampakan jatidirinya sebagai dipihak sipencerai dan hak asuh anakpun menjadi rebuan tatkala menjadi keinginan sepihak yang tak ada jalan penyelesaiannya.
Anak dalam keluarga menjadi aspek penting pendorong dalam membangun jalinan keluarga yang harmonis alias samawa. Namun kita dapat mengambil pelajaran dalam setiap kejadian yang terjadi di-alam ini, namun bagaimana kemudian apa yang selalu berbenturan dengan fikiran kita tersebut mampu kita jadikan pelajaran untuk kehidupan panjang kita, dalam artian supaya menjadi contoh, seperti yang terdapat disekeliling kita yang terlihat dan Nampak dari kehidupan social tetangga kita, keluarga sbelah, ataupun yang kita lihat dari tayangan televisi sekalipun, lalu bagaimana agar kita dapat mengetahui dan mennyadari peran-peran keluarga dalam mendidik anak atau sanak famlinya, kita ambil contoh dalam proses sinetron yang selalu kita tonton dalam tayangan televisi, itu merupakan gambaran dari sebuah rekaman kehidupan berkeluarga. Dalam megasuh anak kadang disinetron kebanyakan menjadi naif para orang tuanya tersebut tatkala lebih memilih kariernya daripada mendidik anak-anaknya, akibatnya anak tersebut meniadakan jasa orang tuanya tatkala sudah dewasa. Yaa memang lagi-lagi kita bingung sendiri dalam mendidik anak yang dihasilkan dari embrio keluarga sendiri, disisilain kita harus hidup dengan propesionalme, dan disisi lain kita pun harus menghidupi para anak-anak kita, mari kita cek apa saja yang harus kita perhatikan dalam proses mendidik anak-anak kita, yang sangat jarang sekali disadari oleh kebanyakan keluarga.
Pendidikan bisa dikatakan penting karena mengandung banyak efek terhadap keberlangsungan hidup manusia didunia, lantas apa kemudian hal penting dalam pendidikan tersebut, almarhum Paulo Fraire yaitu salah satu tokoh filusuf pendidikan mengatakan bahwa yang terpenting dari pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi, yang disebutkan dalam bukunya yang berjudul Idiologi-Idiologi Pendidikan, maka jelaslah apabila ditanyakan siapa yang paling berperan dalam pendidikan dalam keluarga yaitu orang tualah yang bertanggung jabawab atas semuanya, karena orang tua akan terus mendorong proses memanusiakan sang anak dengan cara manusiawi dan dengan berbagai hal apapun demi kebaikan untuk para anak-anaknya.
Thomas Gordon dalam bukunya Responsible Parent (1976) memaparkan bahwa orangtualah guru utama anak. Prosesnya sejak anak dipangkuan orang tua, patut disadari oleh seluruh kalangan orang tua yang berkeluarga bahwa perbedaan antara mendidik dengan mengajar sangatlah berbeda sekali, ketia kita paham apa yang semestinya ajarkan pada anak tidak akan serta merta menjadi kesenangan anak, Karena antara peran orang tua dengan guru disekolah tatkala memberikan pengajaran pada anak lebih cendrung meneladani yang diajarkan disekolah dominasi itu tercermin dari pemahaman penulis mengenai makna dari mengajar yang lebih pada perkembangan pengetahuan dan mendidik yang mengarahkan ada perkembangan moral atau sikap sianak didik tersebut. Maka setelah itu apa yang menjadi kebutuhan keluarga akan senantiasa terpenuhi untuk mendidik anaknya karena secara maksimal dan menyeluruh keluarga tersebut setidaknya sudah memberikan penguatan terhadap anak didiknya. Sebetulnya dalam konsep krucut pendidikan para analist pendidikan mengungkapkan bahwa system pengajaran dalam pendidikan itu ada dua unsur yaitu, yang pertama adalah pedagogic learning merupakan system pengajaran untuk anak-anak yang usianya masih dibangku sekolah bila diperkirakan dari usia 6 sampai 15 tahun atau dari SD sampai SMA atau sederajat, dan pengajaran ini guru atau si pengajarlah yang dituntut untuk memberikan 70% pendidikannya kepada murid dan 30% muridlah yang harus secara sadar mencari pengetahuan sendiri. dan yang ke-dua adalah andragogig, system pengajaran ini klebih digunakan pada kalangan pelajar dewasa, seperti halnya para mahasiswa yang melnjutkan diperguruan tinggi, dan secara fase usia dewasapun bisa dilihat dari perkembangan usianya yaitu rata-rata dar usia 15-25 tahun. Maka dalam rangka turut membantu pendidikan anak orangtua memiliki waktu yang sangaat leluasa untuk memberikan pendidikan dikeluarga secara prosentasi 80% peran orang tua sangat berfungsi pada perkembangan moral anak. Dan 20% sisanya digunakan pada pengembangan pengetahuan disekolah.
Untuk membangun mental kritis anak dari sejak dini sesuai dengan perkembangannya para orang tua dapat menggunakan metode Stimulus, Respon atau (possibility, suppose, hypothesis ) disini anak tidak dibiasakan untuk menilai sesuatu yang sudah lazim, jadi bukan melihat baik atau buruk, benar atau salah, ya atau tidak dan penilaian hitam putih lainnya. Namun anak dipancing untuk menerima konsep “kemustahilan” atau penyanggahan semenatara agar si anak tersebut cerdas dan terdorong untuk mengetahui banyak hal dari sedikitnya pengetahuan, sehingga anak dengan tersendirinya mengeluarkan ide dan gagasan kreatifnya.
Bagi orang tua tak ada salahnya untuk menggugah dan menggali potensi kreatifitas anak, semisal dengan motede sederhana pemberian konten visual, Contohnya seperti anak seusia TK misalnya diberikan gambar dan teks dari Koran atau media lain dan orang tua itu mengarahkan pada anak agar mengkombinasikan antara gambar dan teks, mereka bisa diintruksikan untuk menempekan teks yang sesuai dengan gambar dibawanya, yang sudah dibuat atau dipersiapkan oleh orang tua, maka dengan tersendirinya anak tersebut akan mencoba menggali kreatifitasnya, dan kombinasi gambar tersebut bisa bersipat serius, lucu dan beberapa foto dari cerita. Perlu diketahui hal tersebut akan mengasah daya cipta, serta memperluas presepsi serta kemampuannya dalam menemukan sebuah alternatif, karena boleh jadi teknik menyetir otak seperti ini bisa diterapkan pada usia berapapun disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak, namun dengan pendekatan yang sangat “bijaksana” serta para orangtua-pun memposisikan diri sebagai mitra atau sahabat, bukan lagi seperti guru atau yang memberi perintah pada anak-anaknya yang banyak mendikte.

Profil penulis:
_
Nama : Fardan Abdul Basith
Pendidikan terakhir : Mahasiswa S1
Fakultas : Keguruan
Jurusan : Bahasa/Prodi Pendidikan Bahasa Arab
Kampus : Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung
Alamat : Jl. Raya Sukabumi Km.05 No.63 Ds.Sirnagalih Kec.Cilaku Kab.Cianjur
Hobi : Membaca dan berorganisasi
No Handphon : 089664694909/pin:

Pengalaman aBerorganisasi:
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) WK. III bidang Keagamaan Komisariat UIN Bandung
ITHLA (Persatuan Mahasiswa Bahasa Arab Se-indonesia) WK. Sekretaris III Bidang PAO
ORDA HIMAT (Organisasi Daerah “Himpunan Mahasiswa Tjiandjur) Ketua Umum Priode 2015-2016
KMM Komunitas Mahasiswa Menulis
Motto: Hold out baits to entice the enemy. Feign disorder, and crush him.

www.muslimmedianews.com

www.arrahmah.co.id,

www.moslemforall.com

Please like & share:

[Karya KBM5] Gus Dur, Sang Penakluk

Posted on Updated on

“Semua pemimpin yang berjuang untuk menghasilkan hal-hal yang baik, harus dapat mengeluarkan yang terbaik dalam dirinya dan orang lain. Kepemimpinan sejati dimulai dari dalam diri yakni melalui hati yang mau melayani, lalu keluar untuk melayani orang lain” – Kent Blanchard

Tak terasa telah 7 tahun berlalu semenjak kepulangan Gus Dur menghadap Sang Khalik pada Desember 2009 silam. Tapi selayaknya mercusuar, Gus Dur ibarat bangunan menara dengan sumber cahaya di puncaknya yang selalu membantu navigasi para pengikutnya. Bahkan Gusdurian – yaitu sebutan untuk para murid, pengagum dan penerus pemikiran serta perjuangan Gus Dur – menyebutkan bahwa Gus Dur memiliki 9 nilai utama yaitu: Ketauhidan; Kemanusiaan; Keadilan; Kesetaraan; Pembebasan; Kesederhanaan; Persaudaraan; Keksatriaan; dan Kearifan lokal.

Berfokus pada nilai kemanusiaan, keadilan dan pembebasan yang dianutnya maka hal berikut menjadi bukti mengapa Gus Dur layak memiliki kandungan nilai tersebut. Hal ini berangkat dari ragam penghargaan yang diperolehnya diantaranya ketika Gus Dur dinobatkan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa di Semarang pada tahun 2004 silam. Di bidang kemanusiaan, Gus Dur juga memperoleh penghargaan dari Simon Wiesenthal Center yaitu sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia (HAM). Gus Dur memperoleh penghargaan tersebut karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM. Tidak hanya itu, Gus Dur juga memperoleh Doktor Kehormatan di bidang kemanusiaan dari Universitas Netanya Israel pada tahun 2003 silam. Gus Dur benar-benar berupaya menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan membela kemanusiaan tanpa syarat.

Gus Dur (2006) mengungkapkan dalam buku yang ditulisnya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, tepatnya pada halaman 157 bahwasanya “...begitu banyak rahasia menyelimuti masa lampau kita, sehingga tidak layak jika kita bersikap congkak dengan tetap menganggap diri kita benar dan orang lain salah. Diperlukan kerendahan hati untuk melihat semua yang terjadi itu dalam perspektif perikemanusiaan, bukannya secara ideologis. Ini bertentangan dengan hakekat kehidupan bangsa kita yang demikian beragam. Kebhinekaan/keragaman justru menunjukkan kekayaan kita yang sangat besar. Karenanya kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa atas kemelut yang masih menghinggapi kehidupan bangsa kita saat ini”.

Lebih lanjut Gus Dur mengungkapkan bahwa keyakinan agama Islam mengarahkan kita agar menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Gus Dur yakin dan percaya bahwa pada waktunya nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang mungkin tidak dimiliki orang lain yaitu: “Kebudayaan yang tetap berorientasi melestarikan perikemanusiaan dan tetap melanjutkan misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Bahkan Gus Dur menginginkan agar semua ditopang dengan pelestarian akhlak yang sejatinya merupakan kesulitan terbesar yang akan dihadapi umat manusia di masa depan.

Gus Dur merupakan sosok manusia yang tidak hanya manusiawi, pun sangat mengedepankan keterbukaan, keadilan dan toleransi. Sebagaimana keinginannya menampilkan keislamannya secara terbuka, adil dan toleran. Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono dalam petikan pidatonya ketika penutupan upacara kenegaraan di Pondok Pesantren Tebuireng menyebutkan bahwasanya: “…sebagai pejuang reformasi, Gus Dur telah mengajari kita kepada gagasan-gagasan universal mengenai pentingnya kita sebagai bangsa yang beragam ini menghormati dan menghargai keadilan...”. Gus Dur kerap berpikir dan berjuang untuk menciptakan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Sejujurnya Gus Dur menaruh perhatian besar terhadap isu keadilan. Buktinya dalam salah satu bukunya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, beliau membahas tentang keadilan dalam beberapa bab tersendiri. Semisal dalam bab “Islam, Negara dan Rasa Keadilan”. Gus Dur menekankan pentingnya orientasi pembangunan negara untuk kepentingan warga masyarakat/rakyat kebanyakan yang harus lebih diutamakan dan bukannya pengembangan sumber daya manusia yang tinggi maupun penguasaan teknis yang memadai bagi modernisasi. Gus Dur menjelaskan bahwa bukannya modernitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan.

Selanjutnya pada bab “Keadilan dan Rekonsiliasi”, Gus Dur menekankan pentingnya keadilan yang harus ditegakkan sebagai persyaratan utama bagi sebuah proses demokratisasi. Gus Dur meyakini bahwa kedilan harus ditegakkan di Bumi Nusantara. Pada bab “Islam dan Keadilan Sosial”, Gus Dur menekankan pentingnya digunakan ukuran kualitatif selain ukuran kuantitatif yang bersifat mikro agar berorientasi pada keadilan, kedaulatan hukum dan kepentingan rakyat banyak sebagai hal-hal makro yang juga harus diperhatikan. Bahkan dalam buku berjudul “Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” terbitan LKiS, Gus Dur dalam wawancaranya mengungkapkan bahwa suatu pemerintahan selayaknya mengandung 3 unsur utama didalamnya yaitu keadilan, demokrasi dan persamaan.

Di sisi lain, nilai pembebasan yang dikedepankan oleh Gus Dur bukanlah kebebasan yang kebablasan melainkan kebebasan yang menjadi hak setiap manusia yang dapat dipertanggungjawabkan. Pada Agustus 2006 silam, Gus Dur memperoleh Tasrif Award sebagai Pejuang Kebebasan Pers. Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) karena Gus Dur dianggap memiliki semangat, visi dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, semangat keberagaman dan demokrasi di tanah air Indonesia. Patut dipahami bahwa semangat pembebasan hanya dimiiki oleh mereka yang memiliki jiwa yang merdeka, bebas dari rasa takut dan otentik. Gus Dur mengamini hal tersebut dengan selalu mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka yang mampu membebaskan dirinya dan manusia lain.

Hosen (2003) dalam artikel jurnalnya menyebutkan tentang sosok Gus Dur yang merupakan “prominent figure” yang merepresentasikan Islam Tradisional. Lebih lanjut Hosen menjelaskan bahwa masa kepemerintahan Gus Dur ketika beliau menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke – 4 merupakan hasil dari “political game” antar elit pada saat itu. Hosen menekankan tentang pentingnya “good governance” dan aturan hukum. Lebih lanjut Hosen (2004) juga menjelaskan bahwa tantangan yang sebenarnya khususnya bagi Nadhlatul Ulama (NU) yang merupakan naungan Gus Dur ialah menggunakan ijtihad kolektif sebagai instrumen efektif untuk membuat kontribusi keislaman bersinergi dan berdampak terhadap pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, mewujudkan pembangunan berkelanjutan serta pemerintahan yang baik (good governance).

Sebagaimana diungkapkan oleh Dr Kaloh (2006) bahwasanya “…Tidak cukup bagi seorang pemimpin kalau hanya bertanggung jawab sebagai pemimpin, Anda pun perlu mengajarkannya dan mendorong yang lain untuk melakukannya. Kredibilitas kepemimpinan Anda ditentukan oleh keteladanan”. Karena pada dasarnya keteladanan akan menimbulkan rasa hormat dan keyakinan. Gus Dur dirasa berhasil memberikan contoh dan teladan yang merupakan esensi penting dari suatu kepemimpinan. Keteladanan menjadi kesempatan untuk mengembangkan diri pribadi dan orang lain secara bersama-sama. Rahasianya yaitu ketika seorang pemimpin mampu menuntun, menata emosi dan menjaga serta mengatur pengikutnya maka pemimpin tersebut sebenarnya sedang berinvestasi untuk mengubah pengikutnya dengan keteladanan, menjadi model dan standar nilai bagi pengikutnya dan meninggalkan warisan nilai, nama baik dan karya hidup dalam pekerjaan, pelayanan bahkan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada akhirnya, saya percaya bahwa Gus Dur merupakan sosok manusia yang adil dan bebas. Manusia yang menjadi teladan dan mercusuar bagi tanah air Indonesia bahkan dunia. Gus Dur telah selesai dengan dirinya sendiri, karena dia berhasil menaklukkan ego dan segala kepentingan diri pribadi.

Sumber:

Please like & share:

[Karya KBM3] Penonton yang ‘baik’? Monoton

Posted on Updated on

Penonton ‘yang Baik’? Monoton.

Ami Kurnia Dayanti~ (Amikurnia18@gmail.com)

“Berpangkuh tangan atau turun tangan? Menjadi penonton atau pemain? Pilihanmu, menentukan hidupmu. Sebelum, hidupmu ditentukan oleh pilihan yang ada.

Bergerak atau tergantikan, itu harga matinya.”

Wahai para pemuda generasi mendatang, sadarkah bahwa kita tengah dijajah dengan cara halus namun menusuk? Karena sejatinya kejahatan terstruktur akan mengalahkan kebaikan yang ada.

Dewasa ini selera dan trend kaula muda bergeser menuju budaya barat. Tak menampik, perubahan ini pun juga nampak secara fisik ataupun psikis dan mental generasi muda. Mulai dari gaya berpakaian, cara bertutur sapa dan pola pikir yang sedikit-demi-sedikit berbau budaya barat. Menjamurnya trend ala korea pun juga mengambil sebagian peran dalam berbusana. Wanita yang sebaiknya terbalut busana panjang, longgar dan tebal –nontransparan, kini bak patung yang tengah dipertontonkan pada khalayak umum dengan baju minim bahan. Pria pun tak ketinggalan, alih-alih bergaya mengikuti trend, yang ada malah bergaya sesukanya dan cenderung urakan, tidak tertata rapih.

Contoh kasusnya banyak disekitar kita, banyak wanita pun dengan pria menggunakan pakaian ala barat atau menggunakan pakaian yang mirip dengan idolanya yang marak dijual di online shop, pria bertindik, wanita menggunakan celana pendek atau ketat, seperti berubahah menjadi hal yang lumrah. Inikah peran pemuda bangsa sebagai agent of change? Inikah perubahan yang dimaksud disini?

Modernisasi memang harus! Mengikuti mobilitas global yang semakin merambah itu kebutuhan. Tak ada yang melarang. Namun, seberapa kuat saringan yang ada dalam diri kita? Itulah pertanyaannya. Sebagai generasi muda, banyak yang hanya mengikuti trend ke-kini-an tanpa mengolah info yang ada. Seperti anak kecil yang selalu ‘disuapin’ ketika hendak makan. Haus akan informasi itu memang bagus, dan harus. Itulah gunanya pemuda bangsa, haus akan informasi dan ide-ide kreatif baru, kemudian menciptakan sebuah karya, itulah peran pemuda sebagai agen perubahan.

Banyak dari anak muda kini hanya menjadi penonton yang baik, duduk manis dipinggir lapangan dan menggerutui apa yang terjadi dalam area pertandingan. Sementara mereka-mereka yang terjun dilapangan membuat gebrakan-gebrakan yang mengejutkan bagi si-penonton. Haruskah selalu anak muda hanya diam dan menunggu perubahan yang terjadi tanpa melakukan apapun? Ketika hasil telah tercetak haruskan anak muda selalu menikmatinya saja tanpa ada upaya merubah?

Trend memang banyak bergeser, namun jiwa menjadi pemain tidaklah boleh surut dengan gerusan ombak globalisasi. Peran pemuda muslim yang nyata, membuat perubahan berarti, berkualitas. Karena menjadi penonton yang baik itu tidaklah baik. Peran pemerintah, instansi terkait dan juga stakeholder lainnya dibutuhkan disini. Jika banyak kaula muda yang mengganti cara berbusananya, maka keluarkan trend baru yang islami, ciptakan, cetak generasi rabbani minimal dengan busananya terlebih dahulu. Jangan hanya menikmati trend busana saat ini, tapi ambil bagian didalamnya, buat perubahan dengan ikut menciptakan trend yang lebih relevan dengan budaya islam. Kembangkan ide-ide kreatif yang fresh dengan busana islami, pengembangannya dapat dilakukan dengan menjual baju-baju tersebut dengan online, pemerintah pun sebaiknya juga ikut membantu dengan memberikan batasan produk-produk yang boleh dipasarkan, luncurkan produk kreatif yang modis namun islamis, seperti hijab modern namun tetap syar’i.

Kreatif adalah tuntutan kini, terlebih kita tengah memasuki era baru di tahun 2015 ini, ada MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Dimana benih benih kreatifitas dari anak muda sangat diperlukan untuk ikut bersaing dalam MEA, bukan hanya duduk manis menjadi penonton dan menikmati karya orang lain. Minimal, menggunakan karya sendiri untuk diri sendiri, menggunakan produk dalam negeri dan mencintainya.

Masuknya budaya barat, korea dan sebagainya memang lebih kurang telah merubah tatanan berbusana yang sudah ada. Namun, dari sana kita bisa mengembangkannya dengan ide kreatif, kita bisa menginovasikannya menjadi lebih agamis dan layak dikenakan. Bila generasi muda punya banyak ide-ide unik seperti membuat rok non transparan, rok bolak-balik, baju panjang bolak-balik, kerudung tebal dan panjang yang juga bolak-balik, kerudung penuh motif dengan warna cerah untuk menarik minat berhijab, maka ide-ide inilah yang harus dikembangkan. Dukungan dari semua pihak agar kaum muda pun mampu berkarya dan mandiri dengan menghasilkan uang sendiri dari produk-produk yang mereka ciptakan ini sangat dibutuhkan.

Pemerintah pusat atau daerah bisa ikut berpartsisipasi dengan menyediakan pasar khusus busana islami dengan syarat pemilik merupakan kaum muda yang masih produktif seperti pelajar atau mahasiswa dengan harga sewa toko yang cukup murah untuk menyokong perekonomian kaum muda. Stakeholder seperti lembaga-lembaga sosial atau instansi terkait pun mampu membantu dengan mengadakan acara-acara pertemuan kaum muda untuk saling bertemu dan bertukar ide, diskusi kecil dengan tema-tema islami terkini yang diangkat. Pameran-pameran busana islami pun juga dapat dijadikan solusi inovatif dalam menarik minat masyarakat terhadap busana islami. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda dalam menyelenggarakan ‘bulan busana islami’ di departement store di Indonesia dapat dijadikan tumpuan dalam memperkenalkan karya pemuda kepada masyarakat. Kerja sama pemerintah-instansi-pemuda lainnya dalam menyokong ekspansi penggunaan produk busana islami modern ini sa;ah satunya dengan mengadakan siaran tentang produk islami yang tengah trend saat ini di televisi, ataupun media elektronik lainnya, pun juga dengan media cetak seperti koran atau majalah juga dapat dibuatkan kolam khusus tentang busana islami trendi yang tengah populer.

Solusi solutif lainnya dalam memasyarakatkan busana islamis namun modern kepada masyarakat adalah dengan pengembangan sistem online shop yang kini banyak dipilih pemuda dalam mempromosikan produknya, dibuat sistem online shop utama untuk promo produk busana islami, dengan target pasar minimal untuk remaja -penduduk lokal. Islam Cloth Corner dalam mall atau departement store seluruh Indonesia bila mampu terapkan akan meningkatkan nama busana islami yang kini tengah tergerus arus globalisasi. Pembuatan desa islamis, dimana merupakan perkumpulan penduduk yang produktif dalam menghasilkan busana islami layaknya kampung inggris di Pare.

Apabila pemuda telah produktif, salah satunya dengan menciptakan karya-karya busana islamis modern. Produk-produk kreatif pemuda ini yang masih banyak dirintis pada level home industry, sedikit-sedikit akan meningkatkan devisa bagi negara. Lokalisasi karya busana islamis yang terus gencar dilakukan, penggunaan media sosial dalam mengencangkan publikasi produk dapat merambah ke Nasional pemasaran produknya. Terlebih saat ini sudah memasuki era baru, dengan MEA, seakan tidak ada sekat atau batasan-batasan antar negara, publikasi di internet merupakan senjata utama. Apabila produk-produk lokal pemuda sudah kuat, maka insyaAllah pemuda akan siap bersaing dalam MEA 2015. Pemuda Indonesia bukan lagi hanya seorang penonton yang baik, namun menjadi pemain yang baik dalam MEA 2015 dengan memperkenalkan produk lokal busana islami yang modern dan trendi karya pemuda bangsa. Tetap syar’i namun mampu tampil modern.

Hidup Indoensia ku! Majulah, bergeraklah wahai generasi Rabbani!

 

 

www.muslimedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] MORAL PEMUDA

Posted on Updated on

PEMUDA PEMINUM

Pada suatu hari di kota tempat tinggal saya terjadi malapetaka yang menghebohkan dunia ini yaitu banyaknya korban akibat minuman keras yang namanya oplosan,padahal sudah jelas sekali bahwa minuman oplosan sangat berbahaya sekali tetapi para pemuda di kota saya itu tidak terpengaruh dengan pemberitaan yang ada di televisi, surat kabar atau koran yang memperlihatkan banyaknya jiwa melayang akibat minuman oplosan di kota-kota lain tersebut.Hingga suatu hari terjadilah apa yang di khawatirkan bapak-bapak dan ibu-ibu serta para pemuda mesjid yang disebut dengan IRMA ( Ikatan Remaja Mesjid) adanya korban berjatuhan karena minuman keras oplosan, pemuda di kota saya tersebut apabila ada kumpul-kumpul dan ada salah satu pemuda yang suka mabuk pasti si pemuda suka mabuk itu menantang dan mengajak siapa saja yang kumpul untuk dia adu siapa yang kuat minumnya lebih banyak yang akan menang,ada lagi apabila lagi galau atau lagi ada masalah pasti larinya ke mium-minuman keras,ada yang karena terpengaruh sama pergaulan dilingkungannya,ada karena gengsi ingin dihargai oleh pemuda lainnya dan ada yang karena tidak ada kegiatan pemuda-pemuda itu minum-minuman keras banyak sekali faktor para pemuda minum-minuman keras,memang banyak jenis minuman keras sejak dulu tetapi yang namaya minuman oplosan yang sekarang ini banyak beredar.
Para pemuda mesjid yaitu IRMA (Ikatan Remaja Mesjid ) sekarang ini perlu lebih diaktifkan kembali,diberdayakan kembali,diperbanyak kegiatannya baik kegiatan dakwah maupun kegiatan kerohanian lainnya.Dibentuknya IRMA ini agar dapat mengajak para pemuda yang baik maupun yang rusak moralnya. baik yang rusak moralnya karena minuman keras maupun kerusakan moral lainnya karena kebebasan pacaran sehingga terjadinya pergaulan bebas.Jadi peran serta IRMA ini sangat penting.
Upaya pemerintah setempat di kota saya juga sangat aktif dibidang keagamaan ini untuk memperbaki kerusakan moral seperti malapetaka banyak korban akibat minuman oplosan.Peran pemerintah dalam bidang keagamaan untuk umat islam yaitu mematikan televisi diwaktu sholat magrib,dianjurkan kepada anak-anak dan bapak-bapak untuk ke mesjid untuk kegiatan mengaji Al-Qur’an, memberikan hadiah hadiah umroh bagi yang ngaji al-qur’an khatam saru bulan dan program yang lainnya.
Begitu kerusakan moral pemuda di kota saya akibat minuman keras, banyak sekali kerusakan moral tetapi yang heboh ini yaitu akibat minuman keras dengan banyaknya korban.padahal minum-monuman keras itu haram, dan banyak dampak lainnya akibat minuman keras, ada terjadi pemerkosaan karena pemerkosa tersebut minum0minuman keras sebelum melakukan pemerkosaan, ada yang jadi penjambret karena ingin minum-minuman keras dan kerusakan-kerusakan lainnya akibat dari minuman keras.
Semoga kedepan kita semua menjauh dari yang namanya minuman keras dan semoga pemuda-pemudi negara ini terbebas dari minuman keras.
www.muslimedianews.com www.cyberdakwah.com www.piss-ktb.com

S-e-l-e-s-a-i

Please like & share:

[Karya KBM3] Degradasi Moral Remaja sebagai Penerus Bangsa

Posted on Updated on

DEGRADASI MORAL REMAJA SEBAGAI PENERUS BANGSA

Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi,tubuh,minat,pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah. (Hurlock,1998)

Sesuai keterangan Hurlock yang di kutip dari http://konselingpejambon.blogspot.com/2012/10/agenda-kegiatan-pik-r-tentang-miras-dan.html masa remaja merupakan masa transisi yaitu suatu fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan yang matang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan  ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001, Monks, dkk, 2000, Muss, 1988)di kutip dari http://guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com/.  Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja. Pada kisaran usia ini banyak orang yang mengatakan para remaja ini mengalami masa-masa “Labil”, kelabilan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi remaja ini di tandai dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang masih belum bisa di jawab secara rasional oleh diri mereka sendiri. Memang pada dasarnya pertanyaan-pertanyaan yang muncul secara alamiah terkadang sering sekali mengganggu kehidupan kita sebagai remaja pemula, bahkan saya sendiri sewaktu duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama juga pernah merasa terganggu dengan pertanyaan yang secara autodidak muncul begitu saja, pertanyaan saya cukup klasik pada waktu itu yaitu tentang “siapa sebenarnya diriku ini dan apa tujuanku hidup di dunia ini ?” dan guru psikologi saya waktu itu menjawab dengan singkat “hanya waktu yang bisa menjawab pertanyaanmu itu.” Jawaban itu sentak membuat saya merasa bingung dan tak bisa saya terima dengan akal sehat, bagi saya mana mungkin  menunggu jawaban yang belum pasti, saya ingin jawaban yang pasti dan sesuai dengan keinginan hati saya.

Sama  halnya dengan  remaja-remaja lain pada umumnya, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui jawaban yang pasti dan akan merasa tertantang apabila mereka di hadapkan oleh sesuatu yang baru. “ingin coba-coba” merupakan suatu bentuk pembuktian dari adanya rasa keingintahuan kuat akan jawaban terhadap pertanyaan yang telah menyelubungi diri mereka.

Kata “ingin coba-coba” terkesan memberikan nilai negative oleh kebanyakan orang terutama bagi remaja itu sendiri,  apabila  terlanjur melakukannya mereka dapat terjebak dan terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Keingintahuan yang di dasari dengan kata “coba-coba” inilah yang sering kali memperkenalkan para remaja yang biasa di sebut sebagai anak ABG  (Anak Baru Gedhe) ini mengikuti tindakan dan perbuatan teman atau orang lain yang tidak layak untuk di jadikan contoh dan panutan bagi diri mereka.

Sejatinya dapat lah kita lihat fenomena-fenomena ganjal yang sering terungkap pada sebuah media massa maupun social yang memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan social yang sering di lakukan oleh para remaja di era globalisasi ini, dari perbuatan yang masih bisa di maklumi sampai perbuatan criminal yang  melanggar hokum agama dan Negara. Perbuatan yang masih dapat di maklumi oleh sebagian orang  Seperti halnya membolos sekolah, dan kebut-kebutan di jalan raya sementara perbuatan yang melanggar norma sampai di luar batas kewajaran masyarakat seperti : menonton video porno, melakukan hubungan pra nikah atau free sex, paccaran yang berlebihan,penyalagunaan narkotika, tawuran dan membentuk kelompok geng motor.

Saat di Tanya apa yang melatar belakangi para remaja melakukan tindakan yang kurang beretika di mata masyarakat di era globalisasi semacam ini?

Banyak faktor yang melatarbelakangi kemerosotan moral remaja di zaman modern seperti sekarang ini. Seperti halnya:

  1. Factor Internal
  2. Psikologi Pribadi

 

mental remaja yang masih tergolong labil yang didukung keingintahuan yang kuat, maka biasanya mereka cenderung melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan akibat yang akan ditimbulkan. Contoh nyata dari kasus ini adalah minum-minuman beralkohol dan pemakaian obat-obatan terlarang atau Narkotika, kebanyakan remaja mengira dengan meminum alkohol dan Narkotika dapat memberikan sensasi yang berbeda, saat mengkonsumsinya tubuh akan terasa ringan,rileks dan nyaman seketika. Tanpa mereka tau secara pasti pengaruh buruk yang telah di dapatkan setelah mengkonsumsi dua racun mematikan itu. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.  Sedangkan Menurut Smith & Anderson (dalam Fagan,2006),  kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja:

 

  1. Keluarga

Rasulullah bersabda:

  1. عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan perilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah factor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik.Begitupun dengan kerusakan moral pada remaja juga tidak terlepas dari kondisi dan suasana keluarga. Keadaan keluarga yang carut-marut dapat memberikan pengaruh yang sangat negatif bagi anak yang sedang/sudah menginjak masa remaja. Karena, ketika mereka tidak merasakan ketenangan dan kedamaian dalam lingkungan keluarganya sendiri, mereka akan mencarinya ditempat lain. Sebagai contoh; pertengkaran antara ayah dan ibu yang terjadi, secara otomatis akan memberikan pelajaran kekerasan kepada seorang anak. Bukan hanya itu, kesibukan orang tua yang sangat padat sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak adalah juga merupakan faktor penyebab moral anaknya bejat.

 

 

Factor Eksternal

  1. Lingkungan Masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat juga sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan tempat dia hidup dan berkembang. Pepatah arab mengatakan “al insan ibnu biatihi”. Lingkungan yang sudah penuh dengan tindakan-tindakan amoral, secara otomatis akan melahirkan generasi yang durjana. Karena lingkungan adalah  suatu media dimana makhluk hidup tinggal, mencari dan memiliki karakter serta fungsi yang khas yang mana terkait secara timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang mempunyai peran yang lebih kompleks dan riil.

Pengaruh lingkungan memberikan porsi tersendiri terhadap pola tingkah laku remaja, meskipun tidak serta merta  secara total langsung merubah perilakunya akan tetapi lambat laun pola tingkah laku remaja akan terbawa arus lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh dalam sebuah lingkungan masyarakatnya suka pergi ke klub malam atau diskotik dengan pakaian yang minim dan kurang beretika

  1. Teman Pergaulan

Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Pepatah arab mengatakan, yang artinya: ” dekat penjual minyak wangi, akan ikut bau wangi, sedangkan dekat pandai besi akan ikut bau asap”. Menurut beberapa psikolog, remaja itu cenderung hidup berkelompok (geng) dan selalu ingin diakui identitas kelompoknya di mata orang lain. Oleh sebab itu, sikap perilaku yang muncul diantara mereka itu sulit untuk dilihat perbedaannya. Tidak sedikit para remaja yang terjerumus ke dunia hitam, karena pengaruh teman pergaulannya. Karena takut dikucilkan dari kelompok/gengnya, maka seorang remaja cenderung menurut saja dengan segala tindak-tanduk yang sudah menjadi konsensus anggota geng tanpa berfikir lagi plus-minusnya. (dikutip dari: http://rururudididi.blogspot.com/ dan olahan pemikiran penulis )

Terkadang dalam dunia pergaulan remaja di era globalisasi kini sering menonjolkan adanya rasa solidaritas antar sesama anggota yang mengenal prinsip “sakit satu sakit semua” yang bermakna siapa pun yang berani menyakiti anggota kelompok mereka, maka satu kelompok berhak untuk membalasnya. Prinsip inilah yang menjadikan kelompok atau geng menjadi bringas dan bertindak semaunya hingga melanggar hukum. Contoh nyata dari kasus ini adalah terbentuknya geng motor dan tawuran remaja yang sering kali melanggar norma-norma sosial dan ketertiban umum yang ada di masyarakat daerah setempat. Kadang saking kejamnya mereka sampai membawa senjata tajam untuk melukai lawan mereka.

  1. Pengaruh Media dan Westernisasi

Kemajuan teknologi yang semakin pesat di era globalisasi seperti sekarang ini tanpa adanya filter yang memadai, memberi kemudahan bagi para remaja untuk mengakses segala macam bentuk informasi baik berupa tulisan,gambar,video maupun film secara bebas dan instan. Bukannya melarang atau membatasi perkembangan teknologi yang ada, namun adanya kecanggihan teknologi ini sering kali memberikan dampak psikologi yang kurang baik bagi para remaja untuk bisa meniru adegan-adegan tidak beretika yang pernah di lihat sebelumya pada dunia nyata. Di tambah lagi pengaruh budaya barat yang menyebabkan para generasi muda bangsa ini menjadi tidak mengenal tata krama dan sopan santun dalam berbusana. Tidak hanya itu berkembangnya faham feminisme di dunia barat mengakibatkan pola tingkah laku remaja berubah menjadi hedonisme.

 

BERIKUT ADALAH SOLUSI YANG BISA DI TERAPKAN UNTUK MENGATASI KERUSAKAN MORAL REMAJA

 

  1.       Membentuk Lingkungan yang Baik.

Sebagaimana disebutkan di atas lingkungan merupakan factor terpenting yang  mempengaruhi perilaku manusia, maka untuk menciptakan generasi yang baik kita harus menciptakan lingkungan yang baik dengan cara lebih banyak berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang baik (dari segi akhlak dan iman), memilih teman yang dekat dengan sang Khalik (Tuhan), menghindari tempat-tempat maksiat yang berdekatan dengan tempat tinggal. dan masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan, jika hal ini mampu kita lakukan, maka peluang bagi remaja atau anak untuk melakukan hal yang negative akan sedikit berkurang.

 

  1. Pembinaan dalam Keluarga.

Sebagaimana disebut diatas bahwa keluarga juga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak terlebih lagi terhadap seorang anak perempuan, dimana dalam dunia pergaulan di zaman modern pembinaan dan penanaman nilai agama sangat di perlukan sebagai bentuk pertahanan dari godaan kerusakan akidah dan akhlaq, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad yang artinya:

-Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga. (di kutip: http://www.piss-ktb.com/2014/07/3238-nafaqoh-orang-tua-ketika-anaknya.html)

jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, tempat berlindung bagi seorang anak dalam mencurahkan semua masalah yang tengah membelitnya. Sejatinya keluarga bisa memberikan bekal pendidikan moral yang baik dan menjadi suri tauladan terbaik bagi anak mereka sebelum di lepas di lingkungan yang bebas. Memberikan contoh awal  seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.

 

Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, dalam sekolahlah pendidikan karakter remaja di tanamkan dengan baik. Interkasi antara seorang guru dan murid akan terjalin secara harmonis, dan dari tempat inilah pemantapan psikologi,karakter dan kepemimpinan seorang remaja akan terbentuk secara efektif melalui kegiatan sekolah ataupun ekstrakulikuler untuk penyaluran bakat dan perbaikan diri remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi.

(dikutip: http://rururudididi.blogspot.com dan olahan pemikiran penulis )

 

  1. Pendalaman Agama

Dalam sendi-sendi kehidupan yang tidak hanya bisa mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) namun, Penanaman dan pendalaman nilai-nilai agama harus senantiasa di tanamkan dalam diri remaja, hal ini berhubungan dengan tindakan dan perilaku motorik remaja dalam bergaul. Apabila penanaman nilai agama lemah maka akan mudah untuk terpengaruh ke dalam dunia hitam. Penanaman nilai-nilai agama dapat di terapkan dalam segala bidang kehidupan seperti: keluarga, lingkungan tempat tinggal dan sekolah. Pada masa remaja dengan rentang usia 12- 18 tahun, yang kebanyakan waktu mereka di habiskan belajar dan kegiatan di sekolah, memerlukan adanya sarana untuk peningkatan iman dan taqwa (IMTAQ)  untuk membentengi diri mereka dari kemaksiatan. Yang bisa di tempuh dengan beberapa cara seperti:

  1. Aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidang kerohanian agama
  2. Senantiasa mendatangi tempat ibadah atau masjid untuk menjalankan ibadah
  3. Sering melakukan kajian dalam beberapa aktivitas di sekolah.

Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS. Al-isra’ : 9
Artinya : Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (di kutip: http://kajianislammoderen.blogspot.com/2010/03/peranan-dakwah-sekolah-dalam-mengatasi.html)

Dengan memperkuat penanaman agama dalam diri seorang remaja di harapkan tidak terjerumus dalam penyimpangan sosial yang sering kali di lakukan oleh remaja di zaman modern sekarang ini.

Remaja sejatinya merupakan asset penggerak bangsa yang akan memegang tanduk kepemimpinan  negara ini  di masa yang akan datang. Sesungguhnya Allah berfirman dalam Alquran

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya: “Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yg akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa-apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (Sumber: http://www.muslimedianews.com/2015/01/islam-nusantara-tuhan-menggunakan-kata.html)
menjadi seorang “Khalifah” itu lah sebutan remaja sebagai pemimpin masa depan bangsa ini. Dan  itulah sebabnya para kaum muda ini mendapat tiga predikat penting yaitu sebagai agent of change, social controll, dan iron stock, sudah sepantasnya moral dan perilaku para remaja ini senantiasa di jaga demi terwujudnya suatu bangsa yang tentram,sejahtera dan bermartabat. Dimana akhlak,IMTAQ dan IPTEQ  dapat selaras dengan kehidupan, maka cita-cita bangsa Indonesia yang tertulis dalam Undang-Undang Dasar 1945 akan terealisasi dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman :

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar”. (QS. Ali Imran: 110). Ayat di atas sangat jelas menyiratkan bahwa umat Islam adalah umat terbaik di dunia. Karena umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya senantiasa berbuat terbaik bagi dirinya, lingkungannya, dan sesama. (dikutip dari:http://cyberdakwah.com/2013/06/menanamkan-akhlakul-karimah-pada remaja-islam/).

 

Dalam sejarah kemerdekaan negara Republik Indonesia, remaja atau pemuda telah ikut andil dalam menciptakan sebuah cita-cita bangsa, yaitu memerdekakan bangsa Indonesia. Teks sumpah pemuda menjadi bukti eksistensi pemuda Indonesia. Demikianlah Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 oktober 1928 dan sudah memasuki usia 86 tahun. Sejarah nasional telah membuktikan bahwa pemuda merupakan penggerak roda sejarah yang mampu membawa suatu bangsa menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.

Peran pemuda menduduki posisi penting dalam perkembangan suatu bangsa, merekalah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini di masa yang akan datang. Merealisasikan mimpi dan cita-cita bangsa yang belum terwujud saat ini, dan membawa bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan bermartabat sesuai dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

REFERENSI

  1. konselingpejambon.blogspot.com
  2. guru-degradasimoralpemudasaatini.blogspot.com
  3. blogspot.com/
  4. piss-ktb.com
  5. blogspot.com
  6. cyberdakwah.com
  7. muslimedianews.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Jangan Hanya Salahkan Anak: Peran Orangtua dalam Aspek Moralitas Anak

Posted on Updated on

 

 

 

www.muslimedianews.com

www.cyberdakwah.com

www.piss-ktb.com

 

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Kita Yang Berantas Mereka, Atau Mereka yang Akan Binasakan Kita!

Posted on Updated on

Assalamu’alaikum sahabat, tidak terasa kita telah berada pada awal tahun 2015 ini. Dan tak terasa pula, kita telah melewati tahun demi tahun dengan banyak hal. Di sepanjang tahun 2014 kemarin, hal yang pasti kita alami adalah hal yang baik dan hal buruk. Jika kita mendapat kebaikan, maka kita akan bersenang. Tapi jika mendapat keburukan, maka kita akan bersedih dan terkadang merana.

Datangnya kebaikan atau keburukan kepada kita, tidak melulu soal takdir. Terkadang, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita lakukan. Ya, apa yang kita panen, adalah hasil dari apa yang kita tanam. Dan pastinya, ketika kita menanam kebaikan, maka buah kebaikanlah yang akan kita petik. Namun celakanya, jika bibit keburukan yang kita tanam, maka buah keburukan pula yang akan kita rasakan.

Salah atau benar pada kita adalah hal yang manusiawi. Contohnya termasuk salah dalam menanam keburukan tadi. Namun akhir-akhir ini, kita tidak menyadari bahwa porsi kesalahan yang kita lakukan adalah lebih besar dibanding kebaikan yang kita kerjakan. Dan terkadang kita pun tidak menyadari jika kita sedang melakukan kesalahan-kesalahan besar.

Salah satu kesalahan besar kita sebagai manusia yang bermoral adalah, bersikap acuh tak acuh terhadap kerusakan moral-moral generasi penerus kita sendiri. Dan bahkan kita bersikap acuh pula terhadap “mereka” yang menjadi penyebab rusaknya moral bangsa tersebut.

Mereka berkeliaran di sekitar kita, kita malah cuek-cuek bebek. Mereka meracuni anak-anak, saudara dan keluarga kita, kita juga masih saja tak peduli. Ketika mereka telah membunuh orang-orang kita, barulah kita mulai menyesal. Tapi, tetap saja dengan penyesalan yang sesaat. Sesaat di sini dalam artian hanya menyesal saat itu juga, dan hanya mengecam “mereka” saat itu juga. Tapi setelah itu, kita menjadi bebek kembali.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka kita juga akan mereka jadikan sebagai target berikutnya. Bukan hanya saya ataupun Anda, tapi semuanya termasuk saudara dan keluarga kita tercinta. Dan akibatnya dapat dipastikan “mereka” akan membinasakan kita!. Itu bisa saja terjadi jika kita tidak segera bertindak.

Pertanyaan besar yang pertama adalah siapakah mereka?

Tak lain dan tak bukan mereka adalah minuman keras dan keluarganya yang sama-sama haram. Merekalah yang telah membunuh karakter bangsa dan merubahnya dengan karakter jahiliah kembali, yang identik dengan khamr. Naudzu billah..

Telah banyak kerugian yang ditimbulkan akibat minuman-minuman haram tersebut. Dan kerugian terbesarnya adalah runtuhnya moral serta ahlak anak-anak ibu pertiwi, yang mereka semua adalah keluarga besar kita sendiri.

Selepas penjajahan yang dilakukan belanda, aset terbesar yang dimiliki bangsa ini adalah ahlak baik dari penghuninya. Dengan ahlak yang baik, menjadikan bangsa ini bisa bersatu dari ujung papua sampai ujung sumatra. Dengan demikian, persatuan itu merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir para penjajah dari tanah ini.

Namun sayang sungguh sayang, senjata persatuan tersebut mulai dirusak oleh berbagai minuman yang haram. Bagaimana tidak, dekadensi moral akibat miras telah membuat banyak benih-benih perpecahan di sana-sini. Contohnya: tawuran antar pelajar, antar kampung, antar suku, agama atau kelompok-kelompok tertentu. Yang pasti benih-benih perpecahan tersebut akan tumbuh besar jika tidak segera dibasmi.

Berita perkelahian, pembunuhan, serta perlakuan kriminal lainnya, seolah menjadi santapan kita di pagi, siang, sore dan malam hari. Itu semua akibat apa? Ya akibat ulah buruk dari miras yang telah mencuci otak peminumnya hingga seperti binatang.

Minuman keras tidak bisa dipandang sepele lagi. Sebab minuman setan itu telah memberikan kerugian besar terhadap bangsa ini. Bahkan belakangan banyak nyawa melayang akibat miras oplosan. Astaghfiruwlah..

Masih diperjual belikannya miras, tentu akan membuat semakin banyak lagi yang akan menjadi pecandunya. Tak bisa dipungkiri lagi, bahwa miras telah menjadi minuman faforit bagi banyak kalangan dan profesi. Dari orang kaya sampai orang miskin, muda atau tua, bahkan wanita pun kini banyak yang menenggak miras. PNS, aparat keamanan, kepala desa, pelajar dan para pejabatnya pun banyak yang menjadi budak dari minuman haram ini. Dengan demikian, akibat yang ditimbulkan pastilah semakin besar lagi.

Kini, kita telah dikelilingi oleh miras, dan orang-orang yang suka terhadap miras-miras itu. Dan bisa jadi, miras telah masuk kedalam lingkungan keluarga kita.

Saya tidak ingin mengambil contoh dari siapa-siapa. Saya hanya ingin memberitahukan kepada Anda, bahwa adik pertama saya telah menjadi korban dari buruknya miras. Sebenarnya sangat malu saya menceritakannya di sini. Tapi untuk meyakinkan kepada Anda bahwa dampak dari miras sangatlah buruk, maka saya rela membuka aib ini.

Sedikit saya ceritakan bahwa dulu adik saya itu sama seperti adik-adik saya yang lainnya. Bisa dibilang ia adalah anak yang baik, paling tidak untuk orang seisi rumah ini. Tapi semuanya berubah ketika ia telah mengenal yang namanya miras. Perubahan yang terjadi sangatlah drastis hingga ia berubah total menjadi anak yang “jahat”. Saya berani mengatakan ia “jahat”, karena ia telah berani membangkang kepada kedua orang tua saya.

Apapun yang orang tua saya katakan, ia tidak peduli. Ia menjadi acuh tak acuh semau-maunya sendiri. Tidak punya tata krama lagi, dan tidak pernah bersikap sopan santun kepada semua orang di rumah ini. Bicaranya menjadi kasar kepada siapa pun. Mudah tersinggung, dan sering sekali marah jika ada sedikit saja yang menyinggungnya. Semua harus sangat berhati-hati ketika akan bicara dengannya. Tapi, dia sendiri tidak mau berfikir terlebih dahulu jika ia akan bicara.

Ketika ia marah, kata-kata kotor adalah hal yang biasa ia ucapkan kepada kami, termasuk kepada orang tua saya. Bahkan lebih parahnya lagi, ia pernah akan menebas bapak saya dengan parang, dan pernah pula akan membanting meja ke muka ibu saya. Ia sering cekcok dan berselisih kepada banyak orang. Tidak kakak-kakaknya, adik-adiknya, orang tuanya, sepupunya, malahan kakeknya yang sudah tua pun ia pernah musuhi. Apa lagi orang lain, sering sekali ia terlibat perkelahian.

Adik saya itu ketika mabuk, pasti marah-marah saat pulang. Semua orang menjadi cemas dan hawatir dengan kelakuannya. Apa lagi ibu saya yang menderita jantung lemah, sering sekali sakit setelah adik saya mengamuk. Sekarang adik saya itu ibarat beban berat bagi keluarga, dan bagi kedua orang tua saya. Tidak mau bekerja, apa lagi ibadah. Padahal dulunya ia sering ke masjid dan ke surau. Tapi kini hanya keluyuran kerjanya.

Sering minta uang kepada orang tua, tapi tidak mau sedikit pun membantu orang tua untuk bekerja. Di rumah hanya tidur, bangun siang langsung makan, setelah itu keluyuran lagi siang dan malam. Semua orang di rumah ini merasa tidak nyaman lagi tinggal jika masih bersama dia. Tapi apalah daya, bagaimana pun dia juga bagian dari keluarga ini.

Segala upaya telah kami lakukan untuk menjadikannya orang baik kembali. Termasuk menasehati, membujuk, dan mengajaknya ke tempat-tempat kebaikan seperti ke Masjid dan Surau. Tapi, itu semua seolah tidak ada gunanya.

Nasehat orang tua, bagaikan api yang masuk di telinganya, yang iapun harus mengeluarkan lagi api itu melalui mulutnya. Demi Allah ibu saya sangat sedih, sangat susah atas sikap adik saya itu. Ibu saya sampai sering menangis dibuatnya. Dan sampai sekarang ia tetap belum berubah. Entah sampai kapan penderitaan ini akan berahir.

Sebenarnya saya sangat sedih. Tapi orang tua saya jauh lebih sedih dan menderita. Di usia yang sudah tua, selain harus memberi makan kepada 5 orang anak, mereka juga harus menanggung rasa sakit yang sering terjadi akibat ulah adik saya itu.

Belum lagi rasa malu, yang tidak tau lagi harus disimpan di mana. Yang jelas, miras sangat merugikan. Tidak hanya bagi peminumnya, tapi juga bagi orang-orang yang tidak pernah menyentuhnya.

Sahabat, adik saya hanyalah sedikit cerita dari kerusakan moral yang ditimbulkan oleh miras. Di luar sana, pastilah banyak kisah-kisah nyata lainnya yang lebih buruk lagi.

Dalam kasus ini, saya juga tidak mau menyalahkan sepenuhnya kepada adik saya, mengapa ia sampai meminum miras. Karena jika saya logikakan selain dari bujukan teman, ya karena miras itu masih ada. Coba kalau tidak ada, apa mungkin ia masih meminumnya?

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa untuk mengatasi masalah miras, ya kita harus berantas dari akar-akarnya. Akarnya di mana? Pabrik-pabrik, produsen, serta pengimpor miras; Itulah akarnya. Jika mereka tidak ada, maka tidak akan ada juga yang menjual miras. Otomatis tidak ada pula yang akan mengkonsumsinya bukan?

Tapi jangan salah paham dulu. Pabrik dan produsen yang saya maksud ini bukan pabrik alkohol lo ya, karena pabrik alkohol itu untuk keperluan medis. Sedangkan yang saya maksud adalah, pabrik miras yang telah mencampur alkohol dan bahan-bahan lainnya untuk dijadikan minuman yang memabukkan.

Nah, kemudian bagaimana cara memberantas pabriknya? Inilah caranya…

1. Persatuan dari Masyarakat

Untuk memberantas pabrik miras, memang bukanlah hal mudah. Kita juga tidak bisa seenaknya begitu saja melakukannya sendiri. Ini negara hukum, jadi main hakim sendiri adalah hal yang melanggar hukum. Dan tentu, jika melanggar kita bisa duduk berkeringat di meja hijau setelah itu.

Oleh karenanya hal yang mungkin bisa kita lakukan adalah bersatu. Ya, bersatu untuk menyuarakan “TIDAK UNTUK MIRAS“. Bersatu untuk menyuarakan TUTUP PABRIK-PABRIK MIRAS, dan adili para produsen, distributor serta penjual yang masih melanggar.

Suara tersebut bisa kita wujudkan melalui tulisan di internet, seperti yang saya lakukan kali ini. Kita bisa meramaikan jagat internet dengan tulisan-tulisan tentang bahaya miras, dan juga ajakan untuk sama-sama menolak beredarnya miras di Negara ini.

Kita bisa menyebarkan tulisan-tulisan itu di forum-forum, dan juga ke berbagai media sosial agar banyak yang membacanya, dan agar semakin banyak yang sadar bahwa miras adalah minuman yang merugikan. Selain itu diharapkan juga agar pemerintah terbuka pikirannya, bahwa mayoritas rakyat tidak menginginkan miras lagi.

Bukan hanya di internet saja, tapi kita bisa melakukan demo damai di jalan-jalan untuk menentang berdirinya pabrik miras. Baik pabrik kecil atau pun yang besar, semuanya harus dihapus sampai ke sudut negeri ini. Untuk mewujudkan itu, sekali lagi dibutuhkan persatuan yang kuat dari rakyat kita.

2. Desak pemerintah untuk membuat undang-undang anti miras yang jelas

Selama ini, masih diproduksi dan diedarkannya minuman beralkohol adalah akibat dari ketidakjelasan hukum yang mengatur tentang miras tersebut. Hukum-hukum yang dibuat tidak tegas sehingga produsen dan penjual masih saja beraksi.

Lihatlah “Keppres No 3 tahun 1997” tentang miras. Pada Bab III tentang produksi peredaran dan penjualan, Bag 1 menyebutkan, “Produksi minuman beralkohol di dalam negeri hanya dapat diselenggarakan berdasarkan izin menteri perindustrian dan perdagangan…dst”

Wah, berarti bagi yang mengantongi izin, bisa memproduksi miras ya? Dan dengan izin itu, berarti malah akan mempertahankan pabrik miras kan? (sambil garuk-garuk kepala)

Pada pasal 4 bagian 1 “Dilarang mengedarkan dan atau menjual minuman beralkohol sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 2 di tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu lainnya yang ditetapkan oleh gubernur kepala daerah tingkat I setelah mendengar pertimbangan bupati/wali kota madya kepala daerah tingkat II”.

“Horee.. berarti kalau saya ingin minum, ya langsung aja ke tempat yang telah disebutin pak presiden. Dijamin aman kok.. 😉 (kata pecandu yang kegirangan)

Sahabat, lihatlah sepenggal keputusan-keputusan lucu yang dibuat tersebut. Makanya jangan bertanya-tanya lagi, mengapa sampai sekarang miras masih ada. Bahkan “Perpres No 74 tahun 2013” pun tidak banyak mengalami perubahan.

Kalau produsen oplosan kecil-kecilan digrebek habis-habisan, mengapa produsen minuman alkohol besar tidak? Apakah cuman masalah izin?

Padahal, efek buruknya pun kurang lebih sama. Lha wong sama-sama dari alkohol, ya jelas sama-sama memabukkan. Ingat, berapa pun kandungan alkoholnya, tetap saja kalau haram walau setetes tetap haram!!!

Oleh karena itu agar miras dapat diberantas, kita harus meminta kepada pemerintah untuk memberantasnya. Dan untuk itu, kita harus mendesak pemerintah agar bertindak tegas terhadap permasalahan miras, dengan membuat undang-undang yang tegas pula.

Tentu, untuk mewujudkan semua itu kita harus menanamkan poin pertama, yaitu persatuan dari masyarakat. Saya yakin, jika mayoritas rakyat menolak miras, maka pemerintah akan mengabulkan keinginan kita.

Sahabat, saya ingatkan lagi bahwa sampai saat ini telah banyak nyawa melayang akibat miras. Sudah terbukti bahwa miras telah mencicil rakyat ini satu demi satu, hingga banyak menimbulkan kehancuran.

Jika seperti ini terus, apakah negara ini bisa menjadi maju kalau generasi muda yang menjadi ujung tombak di masa depan telah dibuat tumpul? Sepertinya masih sangat jauh impian dan harapan kita.

Bahkan, jika perpecahan dan kerusuhan akibat miras masih terus terjadi, maka dihawatirkan Indonesia Raya, bisa saja lenyap dari peta dunia ini. Dan setelah itu, nasib kita semua pasti akan menjadi terpuruk.

Sahabat, jawablah dengan tegas pertanyaan terakhir ini. Apakah kita yang akan memberantas miras, atau menunggu miras yang akan membinasakan kita? Pilihlah jawabannya, dan berikan jawaban tegas Anda melalui komentar. Wassalam…

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Referensi :

1. KEPPRES NOMOR 3 TAHUN 1997
TENTANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MINUMAN BERALKOHOL : http://hukum.unsrat.ac.id/pres/keppres_3_1997.htm

2. Miras sampah Masyarakat : http://helmijuni.blogspot.com/2013/05/miras-sampah-masyarakat.html

Please like & share:

[Karya KBM3] Moral Positif: Modal Pemuda untuk Bangun Bangsa

Posted on Updated on

Generasi muda adalah aset yang tak ternilai harganya bagi perkembangan suatu negara. Para pemuda diharakan mampu menjadi tonggak perubahan ke arah yang lebih baik. Sebab di tangan para pemuda suatu negara dapat bangkit maju dan berkembang atau malah terpuruk. Sebagaimana perkataan presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia.” Dari ungkapan ini terlihat betapa pemuda merupakan sumber daya yang sangat berharga bagi masa depan suatu negara. Begitu halnya dengan pemuda Indonesia. Banyak anak-anak bangsa yang telah berhasil mencetak prestasi dan berkarya di ranah internasional. Namun, banyak juga diantara para pemuda Indonesia yang harus memupus asa karena rusaknya moral mereka.
Cukup banyak kerusakan moral yang terjadi di kalangan remaja seperti yang banyak diberitakan di berbagai media. Yang paling sering terdengar diantaranya seks bebas dan konsumsi narkoba dan minum minuman keras. Seks bebas adalah tindakan yang dilakukan remaja akibat berduaan antara laki-laki dan perempuan yang melampaui batas. Sementara konsumsi narkoba dan minuman keras akan menimbulkan efek kecanduan dan berdampak negatif bagi pemakainya serta merusak sel-sel otak dan merugikan tubuh mereka. Laporan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) dari survei yang dilakukannya tahun 2007 di 12 kota besar di Indonesia tentang perilaku seksual remaja sungguh sangat mengerikan. 62,7% remaja SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Bahkan, 21,2% remaja SMA mengaku pernah melakukan aborsi. Disisi lain, pada tahun 2002 lalu, sekitar 70% dari 4 juta pecandu narkoba tercatat sebagai anak usia sekolah, antara 14-20 tahun. (http://jasirahbar.blogspot.com). Dari data tersebut, terlihat bahwa seks bebas dan konsumsi narkoba dan minum minuman keras merupakan masalah kerusakan moral yang perlu segera dicari penyebab dan solusinya.
Beberapa penyebab seks bebas dan konsumsi narkoba dan minuman keras diantaranya kurangnya pemahaman ilmu agama dan tingkat keimanan, kurangnya pengawasan dari orang tua, pengaruh lingkungan serta pengaruh media sosial. Pemahaman ilmu agama perlu ditanamkan kepada para pemuda sejak dini. Keluarga adalah madrasah pertama bagi remaja untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu yang dibutuhkannya dalam menghadapi masa-masa perkembangan diri dari anak-anak menuju dewasa. Jika nilai-nilai agama sudah tertanam kuat dalam diri seorang individu tentunya hal tersebut akan menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan yang baik itulah akan tercipta karakter yang positif. Karakter sebagai seorang muslim yang dengan tegas menolak hal-hal yang dapat menjerumuskannya ke dalam jurang kemaksiatan dan kubangan dosa. Ketika iman dan taqwa melekat di hati tentu akan merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak akan melakukan hal-hal yang diluar syariah islam.
Sebaliknya, para pemuda yang dididik tanpa pemahaman ilmu agama yang baik tidak akan mendapatkan pengetahuan bahwa bersentuhan fisik, berjabat tangan dan berdua-duaan dalam islam itu dilarang. Sebab tindakan berkhalwat atau berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang tidak memiliki ikatan pernikahan akan dapat menjurus ke arah seks bebas. “Saling berkirim SMS atau bercakap via telepon adalah bentuk berzina dengan mulut, telinga, tangan yang memencet HP, dan akal yang berfantasi seksual. Walhasil, semua itu dilarang dalam islam” (Roihan, 2008). Padahal Allah SWT berfirman Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 32: “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya perzinaan itu adalah perbuatan keji dan jalan yang amat buruk.” Sementara terkait konsumsi narkoba dan minum minuman keras Allah telah mengingatkan, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (Q. S. Al-Maidah : 90).
Penyebab lain kerusakan moral pemuda adalah kurangnya pengawasan dari orang tua. Hal ini bisa terjadi pada keluarga dengan orang tua yang terlalu sibuk bekerja. Kurangnya perhatian pada anak-anak dan minimnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat menjadi sumber kerusakan moral remaja. Remaja yang tidak mendapat perhatian dari orang tuanya cenderung melakukan tindakan yang di luar batas untuk mendapatkan perhatian. Selain itu, komunikasi yang minim menyebabkan remaja kurang memahami dan tidak banyak mendapatkan informasi dari orang tua. Misalnya terkait hubungan dengan lawan jenis, terutama masalah seks. Adanya masalah keluarga atau masalah pribadi dalam diri remaja juga dapat menjadikan narkoba atau minuman keras digunakan sebagai sarana untuk lari dari masalah. Dalam hal ini remaja perlu kontrol dan pendampingan dari orang tua karena masa remaja adalah masa-masa pencarian jati diri. Peran orang tua sangatlah penting untuk terus melakukan dialog dengan anak agar remaja tersebut berhasil mengatasi beragam masalah yang dihadapi saat menginjak masa puber dengan baik.
Pengaruh lingkungan juga dapat menjadi penyebab kerusakan moral remaja. Pergaulan yang tidak ada batasnya antara laki-laki dan perempuan dapat memicu munculnya seks bebas. Pengaruh teman dan lingkungan sekitar yang kerap menampilkan adegan serupa berpotensi menjadikan remaja mencontoh perilaku tersebut. Lebih lanjut, lunturnya nilai-nilai moral dalam diri pemuda menjadikan mereka tidak merasa malu untuk melakukan perbuatan asusila ataupun hal-hal yang dapat menyebabkan tindakan yang menjurus ke arah seks bebas, seperti mengumbar aurat dengan berpakaian minim dan terbuka. Selain itu, remaja dapat terpengaruh teman untuk mengkonsumsi narkoba dan minuman keras karena adanya stigma “nggak make, nggak gaul”. Hal ini memunculkan keinginan remaja untuk diterima dalam pergaulan sehingga mengiyakan ajakan untuk mencoba hal-hal yang tak seharusnya dilakukan.
Penyebab terakhir maraknya seks bebas dan konsumsi narkoba dan minuman keras di kalangan remaja adalah pengaruh media massa. Tayangan di televisi kerap menampilkan drama percintaan remaja sehingga menciptakan khayalan dan angan-angan tentang indahnya berpacaran yang berpotensi ke arah seks bebas. Rhoma (2009) dalam bukunya mengatakan “Generasi muda yang seharusnya mampu melawan proses pembodohan ini, ternyata telah terlena dengan tayangan-tayangan tersebut. Meminjam istilah Sigmund Freud, tivi adalah ilusi yang harus dimusnahkan! Karena dia telah menawarkan janji-janji palsu yang merusak identitas generasi muda.” Ditambah lagi akses internet yang marak dipenuhi pornografi. Sejalan dengan hal ini, Rhoma (2009) memaparkan dampak negatif dari internet, yaitu mampu mengakses video, gambar, dan cerita pornografi.
Beberapa penyebab diatas dapat diatasi dengan pemahaman ilmu agama yang baik, pengawasan orang tua, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik serta mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Terkait permasalahan seks bebas, remaja perlu dibekali ilmu mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dalam islam, dikenal istilah “ghodul bashor” atau menundukkan pandangan ketika bertemu dengan lawan jenis, tidak diperbolehkannya bersentuhan fisik atau berjabat tangan, berjalan bersama apalagi berdua-duaan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Seperti yang diungkapkan dalam hadits riwayat Ahmad, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah sekali-sekali berduaan dengan perempuan yang tidak disertai mahram darinya karena sesungguhnya pihak ketiganya adalah setan.” Sementara dalam hubungannya dengan masalah narkoba dan konsumsi minuman keras tentunya pemahaman ilmu agama dan pengamalan yang baik akan menjadi senjata yang ampuh untuk menangkal pengaruh-pengaruh negatif dari luar. Remaja dan pemuda dengan tingkat keimanan yang luar biasa akan merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga tidak akan berani melakukan hal-hal yang diluar syariah islam.
Selain itu, peran orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama sangat dibutuhkan. Sebab dalam masa perkembangannya remaja mengalami apa yang dinamakan egosentrisme. Egosentrisme meningkatkan perilaku berisiko remaja karena ia merasa hal-hal buruk tidak akan terjadi padanya (Prastari, 2011). Contohnya, hamil karena seks bebas dan dihukum pidana karena menggunakan narkoba tidak akan terjadi padanya. Disini diperlukan peran orang tua untuk memberikan pendidikan, arahan dan pemahaman kepada remaja.
Pendidikan yang layak diberikan kepada para remaja antara lain pengetahuan terkait bahaya seks bebas dan efek negatif yang ditimbulkannya, seperti hamil di luar nikah yang berpotensi aborsi, terjangkit virus berbahaya karena bergonta-ganti pasangan, rasa malu dan penyesalan seumur hidup serta efek yang paling buruk adalah dosa zina dihadapan Allah SWT. Seperti yang diungkapkan oleh Prastari (2011) bahwa orang tua sebaiknya menjadi orang pertama yang dijadikan sumber informasi seputar seks dan hubungan dengan lawan jenis. Sebab, jika remaja memperoleh informasi dari sumber lain seperti teman, bahan bacaan ataupun internet akan sangat berbahaya. Teman sebayanya sama-sama tidak tahunya dengan anak remaja tersebut. Dikhawatirkan mereka akan mencoba hal-hal yang tidak seharusnya dan mencari sumber dari media lain dikhawatirkan dapat meningkatkan potensi remaja untuk berinteraksi dengan gambar ataupun akses terkait pornografi.
Lebih lanjut, orang tua dituntut untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk dapat berbagi dan mengkomunikasikan segala persoalan dengan sang remaja. Masa-masa remaja yang penuh dengan masa pencarian jati diri akan membuatnya menghadapi berbagai persoalan yang memungkinkannya untuk lari mencari solusi yang instan seperti menggunakan narkoba dan mengkonsumsi minuman keras. Diperlukan adanya dialog antara orang tua dan remaja sehingga mereka dapat terbuka terkait problematika yang tengah ia hadapi. Dengan seringnya berbincang dengan anak dan menjadi tempat curhat dalam mendiskusikan permasalahannya, orang tua dapat menanamkan nilai-nilai positif yang ingin ditanamkan pada anak.
Sebagai tambahan, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik perlu diperhatikan oleh para remaja. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah artikel bahwa lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi perilaku dan watak remaja. Jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk, moralnya pun akan seperti itu adanya. Sebaliknya jika ia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula (http://tekkabancin.blogspot.com). Disini terlihat bahwa jika remaja bergaul dengan teman yang tepat, mereka akan dapat terhindar dari kerusakan moral. Sebaliknya, prestasi dan kesuksesan dapat mereka raih. Salah satunya dengan mempersiapkan diri agar siap berkompetisi untuk menghadapi AFTA. Generasi muda seharusnya berpartisipasi aktif dan jangan sampai kehilangan momentum untuk terus menghasilkan kreasi, menciptakan karya dan melakukan inovasi.
Solusi yang terakhir, remaja dapat mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Sebuah artikel dalam http://tekkabancin.blogspot.com mengatakan “Dampak globalisasi teknologi memang dapat memberikan dampak positiftetapi tidak dapat di pungkiri lagi bahwa hal ini juga dapat berdampak negative bagi kerusakan moral. Perkembangan internet dan ponsel berteknologi tinggi terkadang dampaknya sangat berbahaya bila tidak di gunakan oleh orang yang tepat.” Dalam hal ini, remaja sebaiknya bijak dalam menggunakan televisi, internet dan media lainnya. Bersikap kritis dapat menjadi salah satu alat yang ampuh untuk tidak menerima sesuatu secara mentah-mentah. Pemuda harus pandai memilah informasi yang baik untuk diserap dan membuang hal-hal yang kurang baik.
Singkatnya, kerusakan moral generasi muda seperti maraknya seks bebas dan mengkonsumsi narkoba dan minuman keras dapat memberikan efek negatif bagi perkembangan negara Indonesia kedepannya. Sebab, generasi muda adalah tonggak harapan bangsa dan sumber daya yang sangat bernilai harganya. Beberapa penyebab kerusakan moral ini antara lain kurangnya pemahaman ilmu agama dan tingkat keimanan, kurangnya pengawasan dari orang tua, pengaruh lingkungan serta pengaruh media sosial. Hal-hal tersebut dapat diatasi dengan pemahaman ilmu agama yang baik, pengawasan orang tua, memilih lingkungan dan teman bergaul yang baik serta mengontrol penggunaan media massa hanya untuk hal-hal yang positif. Dengan demikian generasi muda akan lebih siap untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa.

Referensi:
– Makalah fenomena kerusakan moral, dikutip tanggal 17 Januari 2015 dari http://tekkabancin.blogspot.com/2013/10/makalah-fenomena-kerusakan-moral-dan.html.
– Makalah solusi dekadansi moral pelajar, dikutip tanggal 17 Januari 2015 dari http://jasirahbar.blogspot.com.
– Prastari, A. (2011). Please deh, Mom! Yogyakarta: Leutika.
– Rhoma, R. B. (2009). Berhala itu Bernama Budaya Pop. Yogyakarta: Leutika.
– Roihan, E. (2008). Engkaukah Bidadari itu? Solo: Era Intermedia.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[KBM3] Anak Muda Sekitar Kita

Posted on Updated on

Kulit putih bersih tengah jadi idaman gadis saat ini. Dengan rambut lurus hitam mengkilat serta badan kurus langsingdan berpakaian modis dan sedikit seksi. Ya itulah tren saat ini. Tren yang diadaptasi dari pergaulan dan tentu saja dari tontonan.

Sebagian besar orang tua sudah tahu bahwa pergaulan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Lalu bagaimana dengan tontonan ?. Sudah tahukah mereka bahwa acara televisi yang anak-anak mereka tonton, juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan si anak ?. Belum tahu atau sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu karena orang tua juga suka dengan acara televisi itu?. Begitukah ?.

Hampir semua acara di televisi, khususnya sinetron, menampilkan hal-hal yang cenderung tidak mendidik. Misalkan cerita tentang anak remaja yang didalamnya hanya berisi soal cinta, patah hati, merencanakan perbuatan jahil, gaya hidup hedonisme dan lain sebagainya.Tak sedikitpun menyajikan gairah sekolah, menuntut ilmu, memilah teman, menjalin persahabatan, melakukan hal-hal yang seru bersama sahabat dengan tetap tidak meninggalkan nilai-nilai positif di dalamnya, berhubungan baik dengan keluarga, dan hal-hal positif lainnya. Ada juga sinetron bergenre dewasa, yang didalamnya hanya terdapat konflik-konflik yang terasa terlalu dibuat-buat. Minim unsur pesan. Pesan yang dirasa oleh penonton, hanya sekedar rasa sedih, jengkel, kesal, dan geregetan. Karena sebagian besar alur cerita mengumbar penderitaan yang dialami pemeran utama. Dan meminimalkan cerita bagaimana proses pemeran utama menjadi bahagia. Mengenai semangatnya yang pantang menyerah. Tentang optimis dan hal-hal positif lainnya. Ini terbalik. Alhasil, penonton akan menjadi begitu melankolis. Mendayu-dayu. Terharu biru. Inilah fakta acara yang ditayangkan oleh stasiun-stasiun tv negeri ini. Yang tentu saja memberikan dampak negatif terhadap masyarakat, terutama kalangan anak muda.

Saat ini, tanpa disadari, anak muda negeri ini sudah kehilangan jati diri. Mereka akan mengikuti tren yang tengah digandrungi oleh siapa yang mereka tonton, siapa idola mereka. Sebagaimana yang terjadi saat ini. Anak muda tengah berlomba tampil cantik ala artis korea. Hal ini tidak hanya digandrungi oleh anak muda kota saja. Anak muda desa pun melakukan hal yang sama. Ingin segera tampil cantik dengan menggunakan produk cantik instan yang tentu saja ada kandungan berbahaya di dalamnya. Namun, mereka tetap tak peduli.

Tak hanya itu. Penampilan anak muda kota juga mengadaptasi gaya penampilan artis korea dan artis barat. Begitu juga dengan anak muda desa. Mungkin bagi anak muda yang berkecukupan, mengikuti tren tentu saja tidak menjadi masalah. Tapi akan menjadi masalah bagi anak muda yang tidak berkecukupan. Mengikuti tren = melilit leher orang tua.

Namun sayangnya, derasnya arus tren yang berulang-ulang disajikan di tv dan selanjutnya juga diikuti oleh teman-temannya membuat si anak muda yang tidak berkecukupan ini menjadi memaksakan kehendaknya kepada Kepada kedua orang tua tanpa ada rasa asih di hatinya. Na’udzubillah.

Itu baru pengaruh tontonan televisi terhadap penampilan anak muda. Selanjutnya adalah mempengaruhi gaya hidup kalangan anak muda. Hari-hari mereka di sekolah, sebagian besar diisi dengan bahasan-bahasan tentang percintaan. Membicarakan kawan yang ini, guru yang itu, produk kecantikan yang ini, dan pakaian yang itu, tempat nongkrong yang di sini atau yang di situ. Hampir tak ada kalimat fokus belajar. Dan hal ini, mungkin saja akan berlanjut seusai sekolah hingga ketika berada di rumah. Kedua poin ini menggambarkan bagaimana pola pikir si anak muda yang didalamnya berisi seputar hal-hal yang memberikan kesenangan bagi mereka. Lupa dengan kewajiban. Bahkan lalai dengan hak yang telah orang tua berikan kepadanya yakni menikmati dunia pendidikan. Perasaan mereka pun lebih cenderung melankolis, memilih menyerah bahkan lari saat menghadapi hal-hal yang membuat mereka merasa tak enak. Sedikit pengetahuan dan berpikiran sempit.

Bagaimana ?. Parah bukan ?. Begitu hebatnya dampak yang ditimbulkan dari menonton acara tv yang berkualitas rendah. Lalu bagaimana ?. Adakah cara untuk mengatasinya ?.Tentu. Pasti ada solusi. Apa sajakah itu ?.

Pertama, orang tua. Jika ingin si anak berubah maka yang harus berubah terlebih dahulu adalah orang tua. Orang tua merupakan pondasi utama bagi si anak. Contoh, suri tauladan pertama dan utama bagi si anak. Orang tua harus berlaku layaknya orang tua. Kata tua yang Mengikuti kata orang bukan sekedar bermakna jumlah usia. Namun lebih mengarah kepada sifat yang dewasa dan bijaksana. Jadi begitulah seharusnya orang tua. Ia merupakan sosok yang bijaksana, dewasa, tidak egois, tidak apatis, dan mengerti serta paham dengan anaknya sendiri.

Kedua, memberlakukan dan menjalankan aturan main menonton televisi, bergaul, beribadah, serta waktu belajar kepada si anak. Jika orang tua telah berubah, menjadi orang tua sesungguhnya maka langkah selanjutnya adalah melakukan pendekatan untuk memberikan pemahaman kepada si anak. Mana hal-hal positif yang harus ia lakukan, dan hal-hal negatif yang harus ia jauhi. Berontak, sudah pasti. Namun, orang tua harus tetap konsisten dengan aturan yang mereka buat.

Ketiga, didiklah mereka sesuai dengan zamannya. Ada sebuah hadits nabi yang mengatakan “didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”. Saat ini, teknologi tengah berkembang dengan pesat. Hampir semua alat yang digunakan manusia tidak luput dari sentuhan teknologi. Salah satunya adalah smartphone yang terus saja mengalami pembaharuan teknologi dalam jangka waktu yang relatif pendek. Smartphone merupakan barang favorit anak muda. Kemanapun mereka pergi selalu membawa serta smartphone-nya. Fungsi utama smartphone adalah memberikan kemudahan memperoleh informasi, menjalin relasi, menyelesaikan beberapa masalah itu ini. Lalu bagaimana dengan anak muda ?. Apakah ia menggunakan smartphone sesuai dengan fungsinya ?.Nah, di sinilah tugas orang tua yakni menjelaskan apa fungsi smartphone yang sebenarnya. Tak sampai di situ, orang tua tetap harus memantau anaknya. Minimal sering menanyakan apa yang tengah ia lakukan dengan smartphonenya. Paling tidak si anak tahu kalau orang tua memperhatikannya. Tapi akan lebih baik lagi jika orang tua juga bisa menggunakan teknologi yang digunakan oleh si anak. Inilah salah satu makna dari hadits di atas, yakni mendidik anak sesuai zamannya, menyiratkan agar orang tua juga harus tetap terus belajar.

Ke empat, bekali anak dengan ilmu agama. Zaman semakin memprihatinkan. Dimana moral sudah terbuang. Uang menjadi idaman. Rasa peduli pun sudah berada di titik empty. Oleh sebab itu, bekalilah anak dengan ilmu agama sejak dini. Agar iman dan taqwa kepada Sang Pencipta tak pernah luput di dadanya. Agar tetap peduli terhadap sesama. Agar tetap baik budi pekertinya. Dan agar menjadi anak sholih atau sholihah. Baiklah demikian ulasan mengenai anak muda di sekitar kita. Semoga bermanfaat. Amin

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share: