Generasi Lintas Zaman Miskin Perlindungan

[Karya KBM3] Generasi Lintas Zaman Miskin Perlindungan

Posted on Updated on

Gua kosong yang bergema

Masalah dekadensi moral generasi muda adalah topik yang amat renyah untuk dijadikan obrolan para orang dewasa. Opini-opini yang keluar dari mulut-mulut masyarakat selalu senada, menggemakan suara bahwa moral pemuda masa kini amat bobrok. Decak kekecewaan dan gelengan kepala pun menjadi ekspresi yang umum tatkala problem ini menguak di media-media dan mengalir di masyarakat dari mulut ke mulut.

Ibarat sebuah gua yang kosong, adanya suara gema menandakan kosongnya ruang di dalamnya. Sehingga apabila satu orang berbicara di dalam gua, akan timbul banyak suara gema yang serupa. Demikian juga perbincangan masalah kemerosotan moral yang santer di telinga, namun minim upaya penyelesaiannya.

 

Dilema… dilema…

Ribuan kasus yang merefleksikan rusaknya moral remaja yang mungkin tidak akan cukup jika dibahas di postingan ini. Mulai dari yang kecil dan mudah dijumpai, misalnya mencontek. Kecurangan yang sudah menjadi tradisi di lingkungan belajar ini seringkali dibiarkan oleh guru yang kurang tegas. Di Ujian Nasional pun sudah bukan hal aneh bila aksi contek menyontek dilakukan secara massal, bahkan sampai melibatkan guru dan kepala sekolah sebagaimana hasil survei yang dilakukan Pusat Psikologi Terapan Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dahulu, para siswa dan guru masih menghargai nilai-nilai kejujuran, namun sekarang nilai praktis dan efisien lebih dikedepankan. Sekolah yang diharapkan dapat menempa tunas-tunas bangsa agar menjadi generasi unggul kemungkinan malah menjadi pencetak koruptor-koruptor masa depan. Naudzubillah…

Beranjak dari sekolah, perilaku pemuda di luar juga memprihatinkan. Waktu dihabiskan untuk nongkrong sambil merokok dan pacaran, bukannya belajar untuk masa depan. Hobi tawuran, saling adu kekuatan, bukannya bersaing berebut prestasi. Pornografi pun kini sudah menjalar sampai ke siswa SD, bahkan persentasenya sangat mengejutkan. Sebanyak 68% siswa SD sudah mengakses pornografi! Tak ayal, Indonesia menjadi negara peringkat ketiga pengakses situs porno di dunia.

 

Efek domino

Terjadinya kemerosotan moral generasi muda saat ini merupakan dilema yang menyerupai efek domino. Faktor generasi sebelumnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter generasi masa kini di samping pengaruh-pengaruh eksternal lain seperti pergaulan, teknologi, globalisasi, dan sebagainya.

Apabila dibandingkan dengan generasi masa lalu, moral remaja sekarang perbedaannya terlihat sangat mencolok. Dari segi kesopanan terlihat jelas bagaimana cara remaja bersikap terhadap orang yang lebih tua. Selain itu pergaulan semakin bebas dan tidak terkontrol, sehingga kenakalan remaja menjadi hobi yang sering dilakukan. Bahkan di tingkat yang lebih parah, berawal dari kenakalan dapat berujung pada penyalahgunaan narkoba, seks bebas, hingga kriminalitas!

Gambar 1. Tawuran pelajar
Gambar 2. Kenakalan remaja

Sekarang pertanyaannya, apakah penurunan moral yang dialami pemuda adalah murni kesalahan mereka sendiri? Jika mengacu pada teori awal bahwa karakter pemuda dipengaruhi oleh generasi sebelumnya, kita bisa menyimpulkan bahwa bobroknya moral remaja tidak lepas dari peran orang-orang dewasa. Orang dewasa sebagai orang tua seharusnya mampu memberi kasih sayang dan melindungi anak dari pengaruh negatif. Orang dewasa sebagai pemimpin seharusnya mampu memberi teladan yang baik, bukan mencontohkan untuk korupsi. Orang dewasa sebagai elemen masyarakat seharusnya memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan moral anak, jangan malah berjudi, mabuk, dan mengandalkan kekerasan.

Orang dewasa sebagai orang tua seharusnya mampu memberi kasih sayang.

 

Orang dewasa sebagai pemimpin seharusnya mampu memberi teladan.

 

Orang dewasa sebagai elemen masyarakat seharusnya memberikan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan moral.

Pemerintah? Lagi-lagi pemerintah yang kebijakannya selalu ditunggu untuk menangani masalah ini. Sebenarnya kita tidak perlu menunggu langkah pemerintah. Inisiatif masyarakat, baik dari kalangan orangtua, pendidik, hingga aktivis sudah seharusnya mendobrak penantian kebijakan pemerintah yang selalu lamban. Lagipula pemerintah tidak memiliki tangan yang cukup panjang untuk menjangkau anak-anak muda secara langsung. Justru pendekatan melalui orangtualah yang lebih efektif karena orang tua yang mengamati langsung perilaku pemuda, dan orang tua pula yang bertanggung jawab menjaga moral mereka.

Kembali lagi pada efek domino penurunan moral generasi muda. Jatuhnya kepingan domino adalah akibat dorongan dari domino di belakangnya. Jatuhnya moral generasi muda saat ini disebabkan oleh jatuhnya moral generasi sebelumnya. Generasi muda kan meneladani generasi tua, bila generasi tua-nya korupsi, bagaimana nanti generasi muda?

 

Generasi lintas zaman sebagai korban

Generasi muda yang ada saat ini ibarat korban peralihan zaman. Mereka tumbuh melintasi abad 20 menuju abad 21 dimana globalisasi berlangsung cepat didukung teknologi modern. Pemuda di era sekarang mendapat cobaan berat karena banyak sekali setan-setan dalam bentuk kenikmatan duniawi yang menggoda mereka. Misalnya perangkat komunikasi handphone yang memberi mereka akses mudah menuju pornografi. Di era lampau, adakah perangkat seperti itu? Media sosial yang menyebabkan kecanduan, hingga mereka lupa waktu dan melalaikan sholat. Di era lampau, adakah media seperti itu? Orang tua pun kini begitu permisif, membebaskan anak berkeliaran di mall-mall, menghamburkan uang demi kesenangan sesaat, sementara mereka sibuk sendiri dengan urusan pekerjaan masing-masing, mengejar dunia, lupa bahwa kunci akhirat mereka, yaitu anak mereka, belum lancar mengaji. Saking sibuknya orang tua, hingga Si anak mencari kasih sayang dari pacar, mencari perlindungan dari geng, mencari ketenangan dari narkoba. Jadi, sekali lagi penulis tegaskan, apa yang dihadapi pemuda saat ini berbeda dengan apa yang dihadapi generasi sebelumnya.

Gambar 3. Generasi muda rawan godaan

Sungguh tidak adil kalau pemuda sebagai korban disalahkan atas semua ini. Memang benar, memasuki fase remaja menandakan bahwa pemuda sudah baligh, sudah mengerti mana yang baik, mana yang buruk. Namun lagi-lagi karena banyaknya setan yang menggoda mereka. Ditambah lagi, benteng iman yang mereka miliki tidak cukup kuat menahan godaan dunia.

Banyak orang tua yang tidak menanamkan fondasi Islam kepada anaknya sejak kecil. Berapa banyak orang tua sekarang yang memasukkan anaknya ke TPA (Taman Pendidikan Al Qur’an)? Kebanyakan anak-anak malah banyak dipaksa les privat dan kursus bahasa Inggris daripada diajarkan mengenal Allah dan mempelajari kitab suci. Lantas, siapa yang salah kalau akhlak dan moral remaja rusak serta menyimpang jauh dari tuntunan agama?

 

Perkokoh benteng!

Kini masalah diperparah oleh sikap apatis orangtua terhadap dekadensi moral yang melanda anak-anak mereka. Lemahnya pengawasan diperparah jauhnya jarak antara anak remaja dengan orangtuanya. Umumnya pada masa remaja keterikatan terhadap teman sebaya sangat kuat sehingga mulai menjauh dari orang tua karena merasa orang tua kurang memahami dirinya (Rohayati, 2011). Disitulah orang tua ditantang untuk tetap dekat dengan buah hati, menemaninya menyeberangi masa peralihan menuju kedewasaan.

Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pengawasan orang tua yang tidak memadai, meliputi rendahnya pengawasan terhadap remaja, dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga utama yang menyebabkan munculnya kenakalan remaja. Oleh karena itu remaja sebaiknya jangan terlalu bebas melakukan apa pun yang mereka suka tanpa pengawasan orangtua. Komunikasi harus terjalin erat antara orang tua dan anak. Minimal, orang tua tahu kemana anaknya pergi, apa yang ia lakukan, serta membekalinya dengan nasihat-nasihat. Komunikasi menjadi sangat penting sebagai wujud perhatian dari orang tua. Sudibyo Alimoeso, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) BKKBN, mengatakan bahwa seks bebas disebabkan karena hubungan komunikasi antara anak dan orang tua yang buruk. Melalui komunikasi, orang tua dapat menanamkan norma-norma budaya, susila, dan agama sebagai pegangan baginya dalam bergaul.

Apabila remaja memiliki benteng kuat berupa pengawasan orang tua yang menjaga mereka dari luar, serta iman yang menjaga mereka dari dalam, insya Allah anak akan kebal dari segala serangan penghancur moral.

Kesimpulannya, kunci untuk memecahkan masalah penurunan moral remaja ada di tangan orang tua. Faktor eksternal seperti globalisasi, teknologi, dan pergaulan dapat ditangkis dengan perlindungan dan pengawasan orang tua. Namun bukan berarti orang tua harus bersikap over protektif dengan membatasi pergaulan dan mengabaikan keinginan anak, tetapi dengan komunikasi yang baik dan hubungan keluarga yang erat. Perlindungan dari dalam berupa penanaman nilai keagamaan juga penting agar remaja memiliki mata hati yang terbuka akan nilai-nilai baik dan buruk sehingga jika berada jauh dari pengawasan orang tua, mereka memiliki tameng di dalam diri yang menjaga mereka dari faktor-faktor perusak moral.

 Solusi dekadensi moral => benteng luar + benteng dalam

 

Daftar Pustaka

Anonim. 2014. Survei UPI: Kecurangan UN Libatkan Guru dan Kepala Sekolah. [Tersedia di:  http://sp.beritasatu.com/home/survei-upi-kecurangan-un-libatkan-guru-dan-kepala-sekolah/42791]

Koesoema A, Doni. 2009. Pendidik Karakter di Zaman Keblinger. Jakarta: Grasindo.

Rohayati, Iceu. 2011. Program Bimbingan Teman Sebaya untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa. Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.

Santrock, John W. 2003. Adoslescence. (diterjemahkan oleh: Shinto B, Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.

Setyadi, Arief. 2014. Ini Pemicu Maraknya Seks Bebas di Kalangan Remaja. [Tersedia di: http://news.okezone.com/read/2014/12/23/337/1082801/ini-pemicu-maraknya-seks-bebas-di-kalangan-remaja]

Zubaidah, Neneng. 2013. 68 Persen Siswa SD Sudah Akses Konten Pornografi. [Tersedia di: http://nasional.sindonews.com/read/801494/15/68-persen-siswa-sd-sudah-akses-konten-pornografi-1383484034]

 

Sumber gambar

Gambar 1:

http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg

Gambar 2:

https://bnnkgarut.files.wordpress.com/2012/08/remaja.jpg

Gambar 3:

https://img1.etsystatic.com/033/1/8067064/il_340x270.519995145_ma9q.jpg

 

 

Link Acuan

Please like & share: