guru dan perilaku remaja saat ini

[Karya KBM3] Pendidikan Islam, Guru dan Perilaku Remaja Saat Ini

Posted on Updated on

Agama yang kita pahami bukanlah agama yang sekedar mengatur kehidupan pribadi seorang manusia dengan sang pencipta, Allah Swt. Namun, kita juga meyakini bahwa islam sebagai sebuah agama juga mengatur hubungan antarsesama atau yang kerap disebut sebagai hubungan mu’amalah. Oleh sebab itu, selain mengantarkan seorang muslim menjadi pribadi yang saleh, islam juga memiliki konsep untuk mengantarkan sebuah masyarakat yang saleh, baik itu secara material maupun spiritual, jasmani maupun rohani.

Krisis pendidikan akhlak dalam dunia pendidikan saat ini semakin dirasakan masyarakat Indonesia. Pemahaman serta penerapan metode islami yang tidak optimal dalam dunia pendidikan kerap kali dikait-kaitkan oleh berbagai pihak sebagai pemicu utama krisis pendidikan tersebut. Dapat kita saksikan saat ini betapa dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat menahan kemerosotan akhlak yang terjadi.

Kasus yang sering kita jumpai pada remaja saat ini yang berkaitan dengan akhlak adalah maraknya kasus-kasus yang berbau pornografi, seks bebas, perbuatan cabul, homoseksualitas dan perilaku seks menyimpang lainnya. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang ini. Salah satunya adalah pembinaan akhlak yang kurang sesuai antara teori dan aplikasinya dilapangan. Selain itu, rendahnya moral dan akhlak para pelaku kebijakan (pemerintah) dapat juga menjadi salah satu faktor pendukung lainnya. Karena para pelaku kebijakan yang seharusnya menjadi teladan justru ikut menyumbang statistik perkembangan terkait kasus-kasus akhlak buruk, seperti korupsi, suap, penyalahgunaan wewenang, bahkan tak jarang ikut terlibat kasus pornografi pula.

Sampai saat ini masih ada yang keliru dalam memahami konsep pendidikan ditanah air, titik berat pendidikan masih saja lebih banyak pada masalah kognitif. Penentu kelulusan pun masih lebih banyak pada prestasi akademik dan kurang memperhitungkan akhlak dan budi pekerti siswa. Memang dalam kurikulum 2013 sudah banyak digembar-gemborkan tentang pendidikan karakter. Namun, apakah hal tersebut berhasil? Bahkan sebelum diujicobakan pada sekolah-sekolah secara umum. Kurikulum ini sudah ditarik kembali oleh kemendikbud. Hal ini disebabkan karena guru dan perangkat sekolahnya pun kurang memahami akan pendidikan karakter itu sendiri.

Konsep pendidikan nasional yang disusun pemerintah sebenarnya sudah menekankan pentingnya pendidikan akhlak dalam hal pembinaan moral dan budi pekerti siswa sesuai UU SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) tahun 2003. Disebutkan dalam UU SISDIKNAS pasal 3 UU. No. 20 tahun 2003 bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa.

Sebab utama dari kemunduran dunia pendidikan dan gagalnya pembentukan karakter peserta didik adalah karena tidak berhasilnya para konseptor pendidikan menekankan pendidikan akhlak di lembaga-lembaga pendidikan. Disini terlihat adanya ketidakseuaian antara teori dengan aplikasinya di lapangan. Artinya, hal tersebut diakibatkan karena tidak terimplikasinya konsep-konsep islam secara tepat kedalam dunia pendidikan, khususnya dalam hal perkembangan karakter anak didik.

Pembinaan akhlak merupakan bagian integral dan tak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Karena tujuan pendidikan dalam islam adalah menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa melalui ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai islam. Metodologi pendidikan akhlaknya pun harus diambil dari al-Qur’an dan al-Hadist. al-Qur’an dan al-Hadist inilah yang menjadi sumber pendidikan bagi umat manusia. Rasulullah juga bersabda, “sesungguhnya telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang bila kamu berpegang teguh kepadanya pasti tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan sunnahku” (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, hal yang dapat dilakukan oleh pendidik adalah dengan mengajak kembali peserta didik agar senantiasa setiap kegiatan yang dilakukannya berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadist, memang hal ini tidak mudah dan tidak semata-mata bisa dilakukan oleh pendidik. Hal ini harus di dukung kuat oleh lembaga pendidikan secara keseluruhan. Guru tak dapat bergerak sendiri apabila tak didukung oleh perangkat pendidikan lainnya (misalnya kurikulum, kepala sekolah, pemerintah, pihak tata usaha dan lain).

Yang menjadi masalah terbesar saat ini adalah jusru mengenai guru itu sendiri, bagaimana mungkin seorang guru dapat melahirkan generasi-generasi bangsa yang berakhlak baik jika gurunya sendiri mempunyai perilaku yang tak baik? Mungkin hal ini juga yang menjadi faktor merosotnya moral para remaja bangsa saat ini. Zaman sekarang, guru sudah menjadi sebuah profesi. Dan setiap profesi akan menghasilkan uang. Guru tak lagi memikirkan bagaimana cara mengajar agar ia dapat melahirkan manusia yang beriman dan bertakwa (seperti dalam UU SISDIKNAS), namun yang menjadi prioritas adalah bagaimana cara ia mengajar agar agak didiknya mendapat nilai setinggi-tingginya di raport dan ia mendapat gaji dari hasil mengajarnya. Hal ini yang sudah menjadi budaya dikalangan para pendidik kita. Kembali lagi. Aspek kognitif tetap di nomor satu kan. Dan yang lain sudah tak terperhatikan lagi. Hal seperti ini yang patut diluruskan. Oleh karena itu pendidikan harus diubah agar berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadist yang sebenarnya semua itu telah terangkum dalam pendidikan islam.

Sebagai bagian dari pendidikan nasional, pendidikan islam memiliki nilai strategis dari pembentukan karakter bangsa Indonesia. Hal ini karena islam adalah agama fitrah manusia. Sayangnya pendidikan islam ini tak begitu ‘mendapat tempat’ di dunia pendidikan kita, karena adanya paham sekularisme dalam dunia pendidikan. Yaitu suatu paham yang memisahkan antara hubungan agama dan ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Oleh karena itu pendidikan islam yang ada dalam mata pelajaran PAI (pendidikan agama islam) dan ilmu lain dipisahkan. Belum lagi jam pelajaran pendidikan agama yang rata-rata hanya 2 jam dalam seminggu. Hal ini dirasa kurang sekali. Padahal seperti yang kita tahu. Segala kehidupan kita telah diatur oleh islam. Sebab itu tak sepatutnya kita meninggalkan pendidikan islam barang sedetikpun. Segala pelajaran hendaknya dikaitkan dengan pendidikan islam.

Namun, sukses atau tidaknya suatu pendidikan dan pengajaran tetaplah beriorientasi pada sang pendidik. Tetap guru yang menjadi kunci utama, guru adalah pendidik bagi generasi masa depan, pendidik bagi siswa-siswanya, karena sehebat apapun prestasi yang diraih siswa-siswanya, pastilah semua itu bermula dari pendidikan guru kita (tentunya didorong oleh faktor keluarga dan lingkungan). Maka langkah untuk membangun generasi bangsa yang beriman dan bertakwa adalah dengan mendidik gurunya terlebih dahulu. Karena kebaikan yang ada pada guru akan berpengaruh langsung pada siswanya dan kerusakan yang ada pada guru pun akan menjadi pangkal kerusakan banyak urusan penting lainnya, termasuk kepada siswa-siswanya. Karena suatu kerusakan akan berakibat pada kerusakan hal lain dan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan. Kerusakan ibarat mata rantai yang saling terkait yang akan menimbulkan dampak besar apabila tak langsung ditangani.

Untuk mengatasi perihal guru ini, ada baiknya pemerintah untuk lebih profesional lagi dalam menyeleksi guru yang akan mendidik calon generasi bangsa ini. Buatlah program yang dapat meningkatkan kualitas guru di Indonesia. Dan apabila telah ada, mohon kiranya untuk dikritisi ulang dan direvisi lagi sehingga tujuan-tujuan program tersebut bisa benar-benar tercapai dan tepat sasaran. Dan untuk para guru yang sekarang tengah mengemban amanah untuk mendidik dan mengajar para generasi penerus bangsa, mohon agar meresapi kembali esensi dari mengajar itu untuk apa. Bahwa segala yang guru kerjakan tak semata-mata hanya berorientasi pada uang. Hanya sebagai profesi belaka. Bahwa segala yang kita kerjakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Dan sebagai seorang muslim. Aturan islam memang tak luput dari segala aktivitas kita. Oleh karena itu hendaklah pendidikan islam pun dibawa dan diaplikasikan dalam setiap pembelajaran. Dan yang terakhir mohon kiranya untung para orang tua, lingkungan dan masyarakat pada umumnya untuk turut serta mengawasi anak-anak kita, saudara, sepupu, keponakan, dan semuanya. Untuk terus bersama-sama menjaga generasi penerus bangsa agar kelak kita bisa sama-sama melihat Indonesia maju ke arah yang lebih baik dengan moral akhlak para remajanya yang tentunya lebih baik lagi. Sekian dan terimakasih. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua.

 

Please like & share: