Jangan Salahkan Kami Jika Moral Kami Bejad

[Karya KBM3] Jangan Salahkan Kami Jika Moral Kami Bejad

Posted on Updated on

Tawuran Pelajar
Tawuran Pelajar (Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg)

Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu Engkau gunakan senjata untuk memporak-porandakan bangsa tersebut. Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, Hancurkanlah Moral Generasi Muda bangsa tersebut.

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa. Ditangan merekalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa ini akan diberikan. Suka tidak suka, mau tidak mau, senang tidak senang, ditangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana mereka kelak.

Bila seperti itu adanya, sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku orang tua, guru, dan masyarakat untuk menyiapkan generasi penerus yang kuat, bermental juang tinggi, berkepribadian teguh, berwawasan kebangsaan serta yang terpenting dari itu semua adalah berakhlak mulia. Kita selaku “kaum tua” harus memberi dan menjadi contoh yang baik bagi mereka, memberikan pendidikan moral yang baik bagi mereka sehingga kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang kita idam-idamkan.

Namun bila kita sebagai “kaum tua” justru sebaliknya. Kita berikan kepada mereka contoh yang buruk, kita pertontonkan kepada mereka akhlak yang tercela. Bukan tidak mungkin mereka kelak akan jauh lebih buruk dari apa yang kita contohkan dan perlihatkan kepada mereka sekarang ini. Generasi penerus adalah sebuah kertas putih, kitalah yang akan menentukan tulisan-tulisan apa yang akan ada diatas kertas putih tersebut. Dan sudah seharusnya sebagai “kaum tua” kita wajib memberikan contoh yang baik kepada mereka.

Siswi Hamil
Siswi Hamil (Sumber: http://kaltim.tribunnews.com/foto/berita/2012/11/6/hamil.jpg)

Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tanamkanlah nilai dan moral kepada anak sedini mungkin.

Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang dimulai dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba. Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak seronok. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak seronok bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak seronok tersebut.

Bukankah sering kita jumpai para remaja putri menggunakan pakaian tidak seronok bahkan sudah menjadi tren tersendiri. Mereka tidak segan dan malu lagi untuk memakai celana hot pant, rok mini bahkan mereka dengan bangga memamerkan itu semua menggunakan motor matic keliling komplek. Bukankah mereka punya orang tua? Apakah orang tua mereka tidak tahu hal tersebut? Ya, benar mereka punya orang tua, hanya saja para orang tua malah justru menganggap yang seperti itu adalah wajar dan tren.

Remaja berpakaian tidak seronok
Remaja berpakaian tidak seronok (Sumber: http://sidaknews.com/eval45-content/uploads/2014/04/cabe-cabean-drag.jpg)

Selanjutnya, dari pakaian yang tidak seronok itu kemudian muncul fenomena berikutnya yaitu pergaulan bebas. Bukankah dengan enteng orang tua mengijinkan anaknya untuk keluar malam saat ini? Bukankah dengan mudah akan kita jumpai pada malam hari di flyover atau dijalan tembusan yang gelap para pemuda dan pemudi sedang asyik berduaan? Ya, fenomena pergaulan bebas seperti sudah menjadi wabah yang penyebarannya sulit sekali dihentikan. Dan itu semua bermula dari kurangnya pengawasan orang tua ditambah dengan acuhnya masyarakat sehingga dua suplemen ini menjadikan wabah pergaulan bebas menular dengan cepat. Jadi jangan salahkan remaja jika pakaian dan perilaku mereka tidak seronok.

Pergaulan bebas tidak melulu diartikan dengan free sex atau hamil diluar nikah. Tapi lebih dari itu, pergaulan bebas adalah memberikan kebebasan secara berlebihan dengan generasi muda sedangkan mereka tidak memiliki pemahaman tentang resiko dan bahaya atas segala tindakan yang mereka lakukan. Disinilah peran keluarga sangat penting dalam menanamkan nilai moral dan agama kepada anak-anaknya sebelum mereka diberikan kebebasan untuk menyerap nilai dan moral dari komunitasnya.

Pemuda Mabuk-Mabukan
Pemuda Mabuk-Mabukan (Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-RyVHwhHqvXY/UsXga6d0ZnI/AAAAAAAAAfo/U8fSqmczZjc/s1600/akibat-kenakalan-remaja.jpg)

Masyarakat harus memberi contoh yang baik serta peduli dengan penyimpangan perilaku generasi muda.

Selain sebagai pendidikan kedua setelah keluarga, lingkungan dan masyarakat memiliki andil yang besar dalam mendidik para generasi muda. Lunturnya nilai moral remaja tidak bisa dilepaskan dari buruknya peran serta lingkungan dan masyarakat dalam fungsi pengawasan dan pembinaan. Masyarakat yang acuh tak acuh terhadap perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan tersebut akan menjadi legitimasi dan legalitas terhadap perilaku menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ini bukan tidak mungkin akan ditiru oleh para generasi penerus mereka.

Sering kita jumpai di masyarakat dimana minuman keras dan narkoba adalah sebuah budaya. Dimana setiap kali ada hajatan atau pesta maka tidak lengkap rasanya bila tidak ada minuman keras. Bukankah perilaku dan budaya seperti itu terekam oleh para generasi penerus kita. Bukan tidak mungkin mereka akan mencontoh atau bahkan ikut serta dalam pesta minuman keras tersebut.

Beberapa hari lalu bahkan sampai sekarang ini, kita disuguhi dengan budaya mabuk yang berakhir dengan maut. Budaya dari sebuah komunitas masyarakat yang menjadikan minuman keras sebagai pelengkap pesta. Minuman keras dan mabuk yang dilumrahkan oleh masyarakat secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi mentalitas remaja dan kaum muda. Mereka setiap hari disuguhi minuman keras, diberi tontonan mabuk-mabukan secara tidak langsung akan menganggap bahwa minuman keras dan mabuk-mabukan adalah hal yang biasa. Jadi jangan salahkan pemuda jika mereka mabuk-mabukan juga.

Menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dan ideal untuk perkembangan mentalitas dan moralitas pemuda memang tidaklah mudah. Namun setidaknya jangan tunjukkan dan contohkan perilaku yang buruk dihadapan mereka. Peran serta masyarakat dalam pengawasan perilaku menyimpang di lingkungan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang moral para pemuda. Kegiatan yang positif seperti karang taruna dan remaja masjid perlu kembali digalakkan untuk mengarahkan dan mendidik mentalitas serta moralitas pemuda.

Kegembiraan Pergi Mengaji
Kegembiraan Pergi Mengaji (Sumber: http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/09/img_32581.jpeg)

Agama adalah benteng terakhir.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah benteng terakhir dalam mencegah lunturnya moralitas dan mentalitas generasi muda. Pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini dan berkesinambungan secara langsung akan membangun mental dan moral generasi muda. Generasi muda yang dididik dengan baik keagamaannya akan memiliki “rem”, setidaknya penghambat, untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, bila generasi mudah tidak ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang baik dan berkesinambungan maka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan akan semakin besar. Padahal kita semua tahu bahwa nilai-nilai keagamaan selalu mengajarkan hal baik dan selaras dengan pembangunan moralitas serta mentalitas.

Sebagai benteng terakhir, agama memang memegang peranan penting dalam mencegah degradasi moral dan mental. Untuk itu perlu peran serta tokoh agama dalam pembinaan keagamaan di lingkungan. Selain itu juga, perlu difasilitasi berbagai kegiatan sosial keagamaan yang menyasar para pemuda sebagai motor utamanya seperti Ikatan Remaja Masjid, Kelompok Pengajian Remaja, dan Karang Taruna agar generasi muda merasa diayomi dan diberikan saluran positif untuk berkumpul dan bertukar pikiran baik sesama remaja maupun remaja dan “kaum tua”. Bila remaja mendapatkan saluran yang positif serta ditanamkan nilai-nilai yang baik secara keagamaan, keadaan ini tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Ikatan Remaja Masjid
Ikatan Remaja Masjid (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_7rLlPO3eSCo/TSlPKnOK73I/AAAAAAAAAA8/NFjdpwpEq2c/s1600/26309_1303632429390_1187853443_30717108_7011455_n.jpg)

Pada akhirnya, kerusakan moral generasi muda yang terjadi sekarang ini harus dimaknai sebagai rusaknya peran orang tua, masyarakat, serta tokoh agama dalam menciptakan lingkungan perkembangan moral dan mental yang positif. Kita tidak dapat serta merta menyalahkan para generasi muda serta kenakalan mereka karena dibalik itu semua ada peran serta kita dalam mendukung terjadinya kenakalan tersebut. Kita harus lebih peduli, mengayomi, mendengar serta memberikan eksistensi kepada generasi muda untuk menyalurkan pemikiran, hobi serta minat bakat mereka selama semua itu adalah hal positif.

Sudah menjadi keharusan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada pemuda. Tidak hanya itu, pemberian sanksi sosial juga diperlukan untuk menjadi pelajaran bagi pemuda lainnya agar tidak melakukan penyimpangan yang sama. Bagaimanapun juga, sanksi sosial jauh lebih hebat dampaknya daripada sanksi hukum. Bila seluruh lapisan masyarakat aktif dalam melakukan pencegahan, diharapkan perilaku menyimpang pemuda dapat berkurang secara signifikan.

Penyaringan informasi juga perlu dilakukan agar dampak negatif era informasi dapat ditekan. Untuk itu perlu peran serta Pemerintah untuk membuat regulasi dan aturan perundang-undangan yang mampu melindungi generasi muda dalam mengakses informasi baik melalui koran, radio, televisi, handphone maupun internet. Dan kembali, pengawasan dari orang tua dan masyarakat penting untuk memastikan informasi yang diakses berdampak positif bagi perkembangan moral dan mental generasi muda.

Indonesia Berakhlak dan Maju
Indonesia Berakhlak dan Maju (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-l670IMKgozs/TeBvCNBiaVI/AAAAAAAAA-Q/SoSpCpQd4WU/s1600/1.jpg)

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa

Generasi muda (remaja dan pemuda) adalah aset utama sebuah bangsa dalam menentukan masa depannya. Rusaknya moral dan mental generasi muda berarti rusak pula suatu bangsa. Baik moral dan mental generasi muda berarti baik pula suatu bangsa. Moral dan mental generasi muda sebagai modal bangsa dalam pembangunan.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Jangan Salahkan Kami Jika Moral Kami Bejad

Posted on Updated on

Tawuran Pelajar
Tawuran Pelajar (Sumber: http://statik.tempo.co/data/2011/04/06/id_70837/70837_620.jpg)

Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, tidak perlu Engkau gunakan senjata untuk memporak-porandakan bangsa tersebut. Bila Engkau ingin menghancurkan suatu bangsa, Hancurkanlah Moral Generasi Muda bangsa tersebut.

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa. Ditangan merekalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa ini akan diberikan. Suka tidak suka, mau tidak mau, senang tidak senang, ditangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana mereka kelak.

Bila seperti itu adanya, sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku orang tua, guru, dan masyarakat untuk menyiapkan generasi penerus yang kuat, bermental juang tinggi, berkepribadian teguh, berwawasan kebangsaan serta yang terpenting dari itu semua adalah berakhlak mulia. Kita selaku “kaum tua” harus memberi dan menjadi contoh yang baik bagi mereka, memberikan pendidikan moral yang baik bagi mereka sehingga kelak mereka akan menjadi generasi penerus yang kita idam-idamkan.

Namun bila kita sebagai “kaum tua” justru sebaliknya. Kita berikan kepada mereka contoh yang buruk, kita pertontonkan kepada mereka akhlak yang tercela. Bukan tidak mungkin mereka kelak akan jauh lebih buruk dari apa yang kita contohkan dan perlihatkan kepada mereka sekarang ini. Generasi penerus adalah sebuah kertas putih, kitalah yang akan menentukan tulisan-tulisan apa yang akan ada diatas kertas putih tersebut. Dan sudah seharusnya sebagai “kaum tua” kita wajib memberikan contoh yang baik kepada mereka.

Siswi Hamil
Siswi Hamil (Sumber: http://kaltim.tribunnews.com/foto/berita/2012/11/6/hamil.jpg)

Keluarga adalah sekolah pertama dan utama, tanamkanlah nilai dan moral kepada anak sedini mungkin.

Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang dimulai dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba. Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak seronok. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak seronok bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak seronok tersebut.

Bukankah sering kita jumpai para remaja putri menggunakan pakaian tidak seronok bahkan sudah menjadi tren tersendiri. Mereka tidak segan dan malu lagi untuk memakai celana hot pant, rok mini bahkan mereka dengan bangga memamerkan itu semua menggunakan motor matic keliling komplek. Bukankah mereka punya orang tua? Apakah orang tua mereka tidak tahu hal tersebut? Ya, benar mereka punya orang tua, hanya saja para orang tua malah justru menganggap yang seperti itu adalah wajar dan tren.

Remaja berpakaian tidak seronok
Remaja berpakaian tidak seronok (Sumber: http://sidaknews.com/eval45-content/uploads/2014/04/cabe-cabean-drag.jpg)

Selanjutnya, dari pakaian yang tidak seronok itu kemudian muncul fenomena berikutnya yaitu pergaulan bebas. Bukankah dengan enteng orang tua mengijinkan anaknya untuk keluar malam saat ini? Bukankah dengan mudah akan kita jumpai pada malam hari di flyover atau dijalan tembusan yang gelap para pemuda dan pemudi sedang asyik berduaan? Ya, fenomena pergaulan bebas seperti sudah menjadi wabah yang penyebarannya sulit sekali dihentikan. Dan itu semua bermula dari kurangnya pengawasan orang tua ditambah dengan acuhnya masyarakat sehingga dua suplemen ini menjadikan wabah pergaulan bebas menular dengan cepat. Jadi jangan salahkan remaja jika pakaian dan perilaku mereka tidak seronok.

Pergaulan bebas tidak melulu diartikan dengan free sex atau hamil diluar nikah. Tapi lebih dari itu, pergaulan bebas adalah memberikan kebebasan secara berlebihan dengan generasi muda sedangkan mereka tidak memiliki pemahaman tentang resiko dan bahaya atas segala tindakan yang mereka lakukan. Disinilah peran keluarga sangat penting dalam menanamkan nilai moral dan agama kepada anak-anaknya sebelum mereka diberikan kebebasan untuk menyerap nilai dan moral dari komunitasnya.

Pemuda Mabuk-Mabukan
Pemuda Mabuk-Mabukan (Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-RyVHwhHqvXY/UsXga6d0ZnI/AAAAAAAAAfo/U8fSqmczZjc/s1600/akibat-kenakalan-remaja.jpg)

Masyarakat harus memberi contoh yang baik serta peduli dengan penyimpangan perilaku generasi muda.

Selain sebagai pendidikan kedua setelah keluarga, lingkungan dan masyarakat memiliki andil yang besar dalam mendidik para generasi muda. Lunturnya nilai moral remaja tidak bisa dilepaskan dari buruknya peran serta lingkungan dan masyarakat dalam fungsi pengawasan dan pembinaan. Masyarakat yang acuh tak acuh terhadap perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan tersebut akan menjadi legitimasi dan legalitas terhadap perilaku menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang ini bukan tidak mungkin akan ditiru oleh para generasi penerus mereka.

Sering kita jumpai di masyarakat dimana minuman keras dan narkoba adalah sebuah budaya. Dimana setiap kali ada hajatan atau pesta maka tidak lengkap rasanya bila tidak ada minuman keras. Bukankah perilaku dan budaya seperti itu terekam oleh para generasi penerus kita. Bukan tidak mungkin mereka akan mencontoh atau bahkan ikut serta dalam pesta minuman keras tersebut.

Beberapa hari lalu bahkan sampai sekarang ini, kita disuguhi dengan budaya mabuk yang berakhir dengan maut. Budaya dari sebuah komunitas masyarakat yang menjadikan minuman keras sebagai pelengkap pesta. Minuman keras dan mabuk yang dilumrahkan oleh masyarakat secara tidak langsung akan berdampak buruk bagi mentalitas remaja dan kaum muda. Mereka setiap hari disuguhi minuman keras, diberi tontonan mabuk-mabukan secara tidak langsung akan menganggap bahwa minuman keras dan mabuk-mabukan adalah hal yang biasa. Jadi jangan salahkan pemuda jika mereka mabuk-mabukan juga.

Menciptakan sebuah lingkungan yang kondusif dan ideal untuk perkembangan mentalitas dan moralitas pemuda memang tidaklah mudah. Namun setidaknya jangan tunjukkan dan contohkan perilaku yang buruk dihadapan mereka. Peran serta masyarakat dalam pengawasan perilaku menyimpang di lingkungan sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang moral para pemuda. Kegiatan yang positif seperti karang taruna dan remaja masjid perlu kembali digalakkan untuk mengarahkan dan mendidik mentalitas serta moralitas pemuda.

Kegembiraan Pergi Mengaji
Kegembiraan Pergi Mengaji (Sumber: http://www.wiranurmansyah.com/wiranurmansyahcom/wp-content/uploads/2012/09/img_32581.jpeg)

Agama adalah benteng terakhir.

Tidak dapat dipungkiri bahwa agama adalah benteng terakhir dalam mencegah lunturnya moralitas dan mentalitas generasi muda. Pendidikan agama yang ditanamkan sejak dini dan berkesinambungan secara langsung akan membangun mental dan moral generasi muda. Generasi muda yang dididik dengan baik keagamaannya akan memiliki “rem”, setidaknya penghambat, untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan. Sebaliknya, bila generasi mudah tidak ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang baik dan berkesinambungan maka kesempatan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan akan semakin besar. Padahal kita semua tahu bahwa nilai-nilai keagamaan selalu mengajarkan hal baik dan selaras dengan pembangunan moralitas serta mentalitas.

Sebagai benteng terakhir, agama memang memegang peranan penting dalam mencegah degradasi moral dan mental. Untuk itu perlu peran serta tokoh agama dalam pembinaan keagamaan di lingkungan. Selain itu juga, perlu difasilitasi berbagai kegiatan sosial keagamaan yang menyasar para pemuda sebagai motor utamanya seperti Ikatan Remaja Masjid, Kelompok Pengajian Remaja, dan Karang Taruna agar generasi muda merasa diayomi dan diberikan saluran positif untuk berkumpul dan bertukar pikiran baik sesama remaja maupun remaja dan “kaum tua”. Bila remaja mendapatkan saluran yang positif serta ditanamkan nilai-nilai yang baik secara keagamaan, keadaan ini tentu saja akan memberikan dampak positif yang luar biasa bagi remaja sebagai generasi penerus bangsa.

Ikatan Remaja Masjid
Ikatan Remaja Masjid (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/_7rLlPO3eSCo/TSlPKnOK73I/AAAAAAAAAA8/NFjdpwpEq2c/s1600/26309_1303632429390_1187853443_30717108_7011455_n.jpg)

Pada akhirnya, kerusakan moral generasi muda yang terjadi sekarang ini harus dimaknai sebagai rusaknya peran orang tua, masyarakat, serta tokoh agama dalam menciptakan lingkungan perkembangan moral dan mental yang positif. Kita tidak dapat serta merta menyalahkan para generasi muda serta kenakalan mereka karena dibalik itu semua ada peran serta kita dalam mendukung terjadinya kenakalan tersebut. Kita harus lebih peduli, mengayomi, mendengar serta memberikan eksistensi kepada generasi muda untuk menyalurkan pemikiran, hobi serta minat bakat mereka selama semua itu adalah hal positif.

Sudah menjadi keharusan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku pada pemuda. Tidak hanya itu, pemberian sanksi sosial juga diperlukan untuk menjadi pelajaran bagi pemuda lainnya agar tidak melakukan penyimpangan yang sama. Bagaimanapun juga, sanksi sosial jauh lebih hebat dampaknya daripada sanksi hukum. Bila seluruh lapisan masyarakat aktif dalam melakukan pencegahan, diharapkan perilaku menyimpang pemuda dapat berkurang secara signifikan.

Penyaringan informasi juga perlu dilakukan agar dampak negatif era informasi dapat ditekan. Untuk itu perlu peran serta Pemerintah untuk membuat regulasi dan aturan perundang-undangan yang mampu melindungi generasi muda dalam mengakses informasi baik melalui koran, radio, televisi, handphone maupun internet. Dan kembali, pengawasan dari orang tua dan masyarakat penting untuk memastikan informasi yang diakses berdampak positif bagi perkembangan moral dan mental generasi muda.

Indonesia Berakhlak dan Maju
Indonesia Berakhlak dan Maju (Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-l670IMKgozs/TeBvCNBiaVI/AAAAAAAAA-Q/SoSpCpQd4WU/s1600/1.jpg)

Moral Generasi Muda sebagai Modal Bangsa

Generasi muda (remaja dan pemuda) adalah aset utama sebuah bangsa dalam menentukan masa depannya. Rusaknya moral dan mental generasi muda berarti rusak pula suatu bangsa. Baik moral dan mental generasi muda berarti baik pula suatu bangsa. Moral dan mental generasi muda sebagai modal bangsa dalam pembangunan.

Please like & share: