Judul blog

[Karya KBM4 Video] Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda Sebagai Wujud Syukur Atas Nikmat Hidup Di Indonesia

Video Posted on Updated on

https://www.youtube.com/watch?v=42YNXMZ7_D8

Judul Video: Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda sebagai Wujud Syukur atas Nikmat Hidup di Indonesia

Pengirim Video: Muchamad Nadzir

Penjelasan Video:

Walaupun Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu

 

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat ribuan pulau. Letak Geografis yang berbeda membuat Indonesia menjadi beragam. Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu.

Kemajemukan yang ada terdiri atas keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa.Indonesia merupakan negara yang penuh rahmat. Indonesia memiliki beberapa pulau sedangkan negaranya satu, Indonesia. Berbeda dengan Jazirah Arab yang terdiri dari satu pulau tetapi mempunyai beberapa negara. Rahmat Allah cukup besar yang diturunkan di Indonesia yaitu berupa hidup merdeka damai dan rukun.

Indonesiku yang damai dan bersatu.

Kerukunan merupakan kebutuhan bersama yang tidak dapat dihindarkan di tengah perbedaan. Perbedaan yang ada bukan merupakan penghalang untuk hidup rukun dan berdampingan dalam bingkai persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan kerukunan harus selalu dijaga agar kehidupan ini bisa berjalan dengan baik.

Hidup damai, merdeka dan rukun merupakan rahmat dari Allah swt. yang disertai dengan perjuangan, peperangan, dan penderitaan. 350 tahun lebih Indonesia dijajah oleh bangsa asing. Warga Indonesia banyak yang menderita, disiksa, dan tertindas. Orangtua, Remaja, Pemuda, dan Anak-anak, mereka semua menderita.  Bahkan bangsa belanda melakukan politik adu domba agar Indonesia terpecah dan mudah dikalahkan.

Remaja dan Pemuda Harus Bersyukur

Remaja dan Pemuda zaman dahulu berbeda dengan pemuda zaman sekarang. Mereka tertindas, terjajah dan tidak bisa menikmati kehidupan layaknya remaja dan pemuda zaman sekarang. Mereka berjuang keras, berperang melawan penjajah yang dzalim untuk merebut kemerdekaan. Baju yang dipakai setiap hari hanya itu-itu saja. Makanannya pun kurang mengandung gizi.

Remaja dan pemuda sekarang hendaknya bersyukur atas rahmat Allah yang berupa hidup merdeka, damai, dan rukun. Remaja dan pemuda Indonesia bisa menikmati buah perjuangan bangsa Indonesia, hidup damai dan penuh dengan kenikmatan. Jangan sampai Allah murka dan dikembalikan lagi seperti pada masa penjajahan. Naudzubillahi min dzaalik.
Di zaman modern ini juga masih ada remaja dan pemuda yang tidak bisa menikmati hidup merdeka. Negaranya masih dijajah oleh bangsa asing. Kehidupannya penuh dengan penderitaan. Tangis dan jeritan hidangan sehari-sehari. Tempat pendidikan di hancurkan,  rumah sakit di hancurkan dan fasilitas umum pun dihancurkan menggunakan bom.

 

Peperangan di Timur Tengah

Penderitaan mereka lebih berat dari pada masa penjajahan bangsa Indonesia, karena kecanggihan alat perang menyebabkan kerusakan yang luar biasa. Perang di zaman modern, disamping perang fisik juga perang menggunakan kecanggihan teknologi. Semakin canggih teknologi, semakin besar penderitaan yang dialami oleh masyarakat. Kerusakan pun cukup parah.  Naudzubillah min dzaalik.

Negara-negara yang mengalami penderitaan tersebut adalah negera-negara yang ada di timur tengah. Diantaranya adalah Palestina, Suriah, Iraq, Yaman dan lain-lain. Penyebab berbagai peperangan yang ada di negara tersebut bervariasi. Diataranya adalah konflik agama, konflik kekuasaan, konflik perbatasan, konflik kelompok, penjajahan bangsa asing, dan lain-lain.
Jika kita menengok negara-negara yang ada di timur tengah kita akan menangis apabila mengalami kejadian-kejadian tersebut. Kehidupan di negara-negara timur tengah sangat berbanding terbalik dengan kehidupan di Indonesia yang penuh dengan kedamaian dan kerukunan. Kita tentu tidak mau jika negara kita dijajah lagi oleh negara lain. Mensyukuri anugerah Allah berupa hidup merdeka damai dan rukun adalah salah satu cara agar anugerah ini tetap terjaga.
Kontribusi Positif Remaja dan Pemuda Sebagai Wujud Syukur atas Nikmat Hidup di Indonesia
Sebagai penerus bangsa, remaja dan pemuda harus berusaha untuk menjaga kemerdekaan, kedamaian, dan kerukunan ini agar selalu terjaga. Mensyukurinya adalah langkah yang tepat agar anugerah tersebut tetap selalu terjaga. Jangan sampai Allah murka karena kita tidak mau mensyukuri nikmat yang ada.

Allah swt. berfirman : “Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Mensyukuri nikmat tidak cukup dengan hati dan bibir saja, akan tetapi harus disertai dengan tindakan yang nyata. Kontribusi positif dari remaja dan pemuda merupakan tindakan yang nyata sebagai wujud syukur atas karunia Allah swt. berupa kemerdekaan, kedamaian dan kerukunan. Dengan harapan agar Indonesia menjadi maju, berdaya saing, dan menjadi mercusuar dunia.

Adapun kontribusi positif yang perlu ditanamkan pada remaja dan pemuda Indonesia adalah sebagai berikut :

1.    Memperkaya ilmu agama
Ilmu agama adalah pondasi utama bagi terwujudnya insan yang mulia. Dengan pemahaman agama yang baik maka moral bangsa pun akan menjadi baik. Lembaga yang berperan dalam pengajaran agama adalah pondok pesantren, madrasah diniyah, TPA/TPQ dan lain-lain. Belajar ilmu agama juga bisa mengakses situs-situs islami seperti;  www.ngaji.web.id, www.piss-ktb.com, dan lain-lain.

Jangan sampai remaja dan pemuda tidak mendapatkan limu agama dalam kehidupannya. Dalam hal ini orang tua juga berperan agar anak-anaknya mendapat ilmu agama.

2.    Belajar dengan serius dan bercita-cita yang tinggi,
Indonesia membutuhkan generasi yang hebat. Generasi yang hebat tidak didapat dari generasi yang bermalas-malasan. Tugas para remaja dan pemuda adalah belajar. Belajar bisa didapatkan dari pendidikan formal (Sekolah) maupun non formal (Lembaga bimbingan belajar, keluarga, dan masyarakat).

Cita-cita merupakan akar dari kemajuan bangsa. Cita-cita yang tinggi bisa dicapai dengan belajar dengan giat. Diharapkan para remaja dan pemuda agar memiliki cita-cita yang tinggi dan meraihnya dengan belajar yang serius. Jika para remaja pemuda Indonesia memiliki cita-cita yang tinggi insyaAllah Indonesia akan maju.

3.    Mengolah sumber daya alam sebaik-baiknya,
Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah akan tetapi sumber daya manusia (SDM) nya belum bisa mengolahnya dengan baik. Banyak sumber tambang yang dikelola oleh negara asing. Remaja dan pemuda harus berupaya sekuat tenaga agar bisa mengolah SDA sendiri. Mengolah SDA agar menjadi prodouk ekspor dan tidak mengekspor dari negara lain.
4.    Berkreasi dalam bidang kuliner,
Indonesia memiliki tanah yang subur. Dengan kesuburan tanah yang tinggi Indonesia memiliki keanekaragaman hewani dan hayati baik di laut maupun di darat. Keadaan inilah yang memunculkan ide-ide kreatif di bidang kuliner. Remaja dan pemuda harus bisa mengolah agar Indonesia bisa menjadi ikon kuliner dunia dengan memunculkan kreasi-kreasi baru di bidang kuliner.

 5.    Melestarikan budaya yang positif,

Letak geografis yang berbeda-beda membuat indonesia menjadi beragam. Memiliki beragam suku, budaya, dan bahasa. Akan tetapi tidak semua budaya yang ada di Indonesia sesuai syari’ah islam. Para remaja dan pemuda harus bisa melestarikan budaya yang sesuai dengan syari’ah islam. Menjadikannya ikon bangsa Indonesia yang religius dan damai.

6.    Menguasai teknologi,
Di era globalisai negara tidak boleh ketinggalan dalam bidang teknologi. Teknologi akan mempermudah pekerjaan dan mendapatkan hasil yang lebih banyak. Kalahnya persaingan Indonesia dalam persaingan dunia salah satunya dikarenakan minimnya penggunaan teknologi yang canggih. Di Indonesia banyak yang masih menggunakan teknologi manual.
Oleh sebab itu, remaja dan pemuda sudah seharusnya bangkit untuk merombak teknologi yang ada. Mendatangkan dan menciptakan teknologi yang baru, untuk mempermudah pekerjaan dan mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan begitu Indonesia akan mempunyai daya saing di dunia internasional.
7.    Merayakan ulang tahun hari kemerdekaan dengan kegiatan yang positif,
Sering terjadi, perayaan hari kemerdekaan Indonesia dirayakan dengan kegiatan-kegiatan yang mengandung kemaksitan. Seperti; Pesta dengan mengadakan orkes melayu dan menghadirkan artis yang berpakaian minim; pesta miras; pesta seks dan lain-lain. Alasannya adalah mensyukuri nikmat kemerdekaan, akan tetapi dilaksanakan dengan tindakan maksiat.
Jika hal tersebut terus terjadi di Indonesia, keberkahan di Indonesia akan semakin berkurang dan bahkan Allah akan menghadirkan adzab jika hamba-hambanya fasiq.
Remaja dan pemuda harus bisa merubah, setidaknya mengurangi sedikit demi sedikit budaya tersebut dan menggantinya dengan kegiatan-kegiatan yang islami dan sesuai dengan syar’i. Jika kita mensyukuri kenikmatan dengan benar, Nikmat dan keberkahan di negara Indonesia akan bertambah.
8.    Berfikir dan berkarya positif.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh remaja dan pemuda dalam mensyukuri nikmat hidup merdeka, damai dan rukun. Berfikir dan bertindak positif dalam segala bidang merupakan hal yang perlu di letarikan.
Contoh dari tindakan-tindakan positif adalah bekerja dengan giat dengan pekerjaan yang halal, mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang amanah, menjadi pengusaha yang sesuai denga syariat islam, berdakwah, mengajarkan dan mengamalkan syariat islam, dan lain-lain.
Intinya, Dalam mensyukuri nikmat hidup di Indonesia yang merdeka, damai dan rukun tidak hanya dengan hati dan ucapan. Akan tetapi harus dengan tindakan-tindakan yang positif. Jika kita mensyukuri nikmat yang ada, Allah akan menambah karunianya. Akan tetapi jika kita mengkufuri nikmat yang ada, Allah akan menurunkan adzabnya.

Sekian, terima kasih. Wassalam….

 

Ditulis Oleh : Muchamad Nadzir
                          Klik this picture to wath video !
                          https://www.youtube.com/watch?v=42YNXMZ7_D8
Please like & share:

[Karya KBM3] MORAL PEMUDA

Posted on Updated on

PEMUDA PEMINUM

Pada suatu hari di kota tempat tinggal saya terjadi malapetaka yang menghebohkan dunia ini yaitu banyaknya korban akibat minuman keras yang namanya oplosan,padahal sudah jelas sekali bahwa minuman oplosan sangat berbahaya sekali tetapi para pemuda di kota saya itu tidak terpengaruh dengan pemberitaan yang ada di televisi, surat kabar atau koran yang memperlihatkan banyaknya jiwa melayang akibat minuman oplosan di kota-kota lain tersebut.Hingga suatu hari terjadilah apa yang di khawatirkan bapak-bapak dan ibu-ibu serta para pemuda mesjid yang disebut dengan IRMA ( Ikatan Remaja Mesjid) adanya korban berjatuhan karena minuman keras oplosan, pemuda di kota saya tersebut apabila ada kumpul-kumpul dan ada salah satu pemuda yang suka mabuk pasti si pemuda suka mabuk itu menantang dan mengajak siapa saja yang kumpul untuk dia adu siapa yang kuat minumnya lebih banyak yang akan menang,ada lagi apabila lagi galau atau lagi ada masalah pasti larinya ke mium-minuman keras,ada yang karena terpengaruh sama pergaulan dilingkungannya,ada karena gengsi ingin dihargai oleh pemuda lainnya dan ada yang karena tidak ada kegiatan pemuda-pemuda itu minum-minuman keras banyak sekali faktor para pemuda minum-minuman keras,memang banyak jenis minuman keras sejak dulu tetapi yang namaya minuman oplosan yang sekarang ini banyak beredar.
Para pemuda mesjid yaitu IRMA (Ikatan Remaja Mesjid ) sekarang ini perlu lebih diaktifkan kembali,diberdayakan kembali,diperbanyak kegiatannya baik kegiatan dakwah maupun kegiatan kerohanian lainnya.Dibentuknya IRMA ini agar dapat mengajak para pemuda yang baik maupun yang rusak moralnya. baik yang rusak moralnya karena minuman keras maupun kerusakan moral lainnya karena kebebasan pacaran sehingga terjadinya pergaulan bebas.Jadi peran serta IRMA ini sangat penting.
Upaya pemerintah setempat di kota saya juga sangat aktif dibidang keagamaan ini untuk memperbaki kerusakan moral seperti malapetaka banyak korban akibat minuman oplosan.Peran pemerintah dalam bidang keagamaan untuk umat islam yaitu mematikan televisi diwaktu sholat magrib,dianjurkan kepada anak-anak dan bapak-bapak untuk ke mesjid untuk kegiatan mengaji Al-Qur’an, memberikan hadiah hadiah umroh bagi yang ngaji al-qur’an khatam saru bulan dan program yang lainnya.
Begitu kerusakan moral pemuda di kota saya akibat minuman keras, banyak sekali kerusakan moral tetapi yang heboh ini yaitu akibat minuman keras dengan banyaknya korban.padahal minum-monuman keras itu haram, dan banyak dampak lainnya akibat minuman keras, ada terjadi pemerkosaan karena pemerkosa tersebut minum0minuman keras sebelum melakukan pemerkosaan, ada yang jadi penjambret karena ingin minum-minuman keras dan kerusakan-kerusakan lainnya akibat dari minuman keras.
Semoga kedepan kita semua menjauh dari yang namanya minuman keras dan semoga pemuda-pemudi negara ini terbebas dari minuman keras.
www.muslimedianews.com www.cyberdakwah.com www.piss-ktb.com

S-e-l-e-s-a-i

Please like & share:

[Karya KBM3] Masa Muda Masa yang Berapi-api

Posted on Updated on

Darah muda darahnya para remaja
Yang selalu merasa gagah
Tak pernah mau mengalah
Masa muda masa yang berapi-api
Yang maunya menang sendiri
Walau salah tak perduli
Darah muda….

Kawan, masih ingatkah dengan cuplikan lirik lagu diatas? Lagu yang hits diera tahun 80-an ini dipopularkan dan diciptakan oleh Rhoma Irama atau yang lebih akrab disapa Bang Haji. Walaupun lagu tersebut sudah sejak lama bahkan sebelum saya lahir, namun sampai saat ini lagu berjudul Darah Muda masih tetap digemari masyarakat Indonesia. Liriknya yang sederhana dan sarat dengan nasihat, menjadikan lagu ini tetap berada dihati masyarakat Indonesia kawan.
Nah kawan, sesuai dengan judul lagu tersebut kali ini saya akan membahas dunia remaja yaitu tentang Kerusakan moral remaja serta solusi dalam memperbaikinya. Setiap orang dewasa pasti pernah merasakan masa-masa remaja, bukan? Yaitu masa transisi atau peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Banyak hal yang terjadi pada masa ini, yaitu adanya perubahan baik dari segi fisik, emosi dan psikologi yang disebabkan oleh proses pematangan organ reproduksi laki-laki dan perempuan. Adanya perubahan tersebut menyebabkan anak remaja cenderung bersikap labil. Menurut Hurlock, 1980 dalam bukunya yang berjudul Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Rentang Kehidupan bahwa remaja berusaha mencari jati dirinya dan mudah sekali menerima informasi dari luar dirinya tanpa ada pemikiran lebih lanjut. Persis dengan lirik bang haji masa muda masa yang berapi-api
yang maunya menang sendiri.
Lirik lagu tersebut menunjukkan bahwa pada masa remaja terjadi perubahan pada kondisi psikologisnya dan menuntut remaja untuk berkecimpung dengan masyarakat bersama dengan lingkungan keluarga, sekolah, pekerjaan dan orang dewasa lainnya. Selain itu remaja cenderung senang meniru tentang apa yang sedang trend saat itu. Namun yang menjadi persoalan adalah terkadang hal yang ditiru tidak sesuai karena bertentangan dengan aturan, kebiasaan, adat istiadat, serta aturan agama sehingga akan menimbulkan sebuah permasalahan pada dirinya yang disebut kerusakan moral.
Kerusakan moral termasuk dalam konsep diri negatif yang membuat remaja cenderung melanggar peraturan dan norma-norma masyarakat, sehingga akhirnya terlibat dalam kenakalan remaja. Kawan, jika berbicara mengenai kerusakan moral remaja tentu tidak terlepas dari kenakalan remaja. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan moral remaja, antara lain:
A. Pengaruh daerah setempat baik di kota maupun di desa
Kawan tahukah, banyak kenakalan remaja terjadi di daerah kota jika dibandingkan di desa. Mengapa saya katakan demikian, hal ini karena saya melihat perbedaan tersebut secara langsung. Saya tinggal di salah satu kota di Kepulauan Riau, perkembangan masyarakat di kota lebih cenderung individualisme atau penurunan sosialitas antar masyarakat. Banyaknya pembangunan mall, hotel, tempat karaoke, panti pijat (refleksi), warnet dan hiburan malam di kota-kota besar ternyata justru menimbulkan polimek terhadap perkembangan remaja. Kaum remaja memanfaatkan fasilitas kota namun tidak sesuai dengan aturan dan norma-norma yang berlaku.
Remaja di kota saya sering mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan tadi untuk melakukan hal-hal negative, seperti melakukan free sex, pesta miras dan narkoba, penjualan wanita, menonton video bokep, dan mencuri. Bahkan dalam dunia pendidikan sendiri, juga ditemukan kerusakan moral remaja baik terhadap guru maupun sesama siswa, nauzdubillah.
B. Masuknya pengaruh Negara asing ke Indonesia
Maraknya gaya dan trend dari Negara-negara luar, mampu membius remaja untuk mengikuti gaya tersebut. Padahal budaya asing tersebut tidak semua sesuai dengan kepribadian remaja Indonesia. Dapat saya katakan bahwa, remaja di daerah tempat saya tinggal saat ini banyak yang meniru gaya dan trend, sebut saja akhir-akhir ini korea dan amerika. Kedua budaya ini menunjukkan kehidupan yang bebas, terutama bebas dalam bergaul. Remaja perempuan bebas menggunakan pakaian dan tak jarang pakaian mereka tidak sopan atau terlalu vulgar. Selain itu dalam bergaul lawan jenis, tidak terlihat adanya batasan antara laki-laki dan perempuan. Nah inilah yang menjadi salah satu penyebab maraknya sex bebas dikalangan remaja.
C. Kemajuan teknologi yang salah guna
Melihat majunya teknologi saat ini, tentu memudahkan masyarakat Indonesia untuk bersosialisasi. Namun permasalahannya, masyarakat terutama kaum remaja kurang bisa menempatkan porsinya. Banyak saya temukan, dalam media sosial terdapat foto-foto vulgar yang seharusnya tidak di share secara umum. Remaja juga memanfaatkan teknologi untuk mencari video-video porno bahkan yang saya temukan baru-baru ini mereka menggunakannya sebagai media taruhan.
D. Kemerosotan iman
Kawan, dari semua faktor inilah yang menjadi fondasi kita selama ini. Jika iman kita kuat dan terjaga InshaAllah bagaimanapun kondisinya kita masih mampu untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak moral. Namun jika iman kita menurun maka mudahlah pengaruh-pengaruh buruk masuk yang mampu merusak iman. Allah swt telah menjelaskan dalam Al Qur’an, yang berbunyi:

“Allah swt melarang perbuatan zina” dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)”
Melihat keadaan demikian tentu kita perlu mencari solusi yang tepat, antara lain:
A. Harus pandai memilih teman dalam bergaul.
Karena pergaulan akan sangat berpengaruh terhadap etika, moral, dan akhlak. Apabila seseorang bergaul di lingkungan yang baik, maka ia akan timbul kepribadian yang baik dan sebaliknya.
B. Peran dan perhatian dari orang tua
Terdengar sederhana namun ini menjadi penting, karena keluarga menjadi orang terdekat yang mengenal kita lebih baik. Adanya perhatian dari orang tua, menyebabkan anak remaja merasa dibimbing secara baik, jika dibandingkan tanpa perhatian.
C. Perluas wawasan
Mengapa menjadi solusi? Hal ini karena wawasan atau ilmu mampu mambawa kita untuk berfikir lebih maju dan tenang. Berbeda dengan remaja yang tidak sekolah, mereka akan terlihat anarkis dan menang sendiri.
D. Perkokoh iman
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa iman menjadi fondasi. Kokohkan diri kita dengan iman dan takwa, perbaiki dan perbanyak shalat dan puasa InshaAllah kita sebagai remaja mampu memajukan bangsa  Indonesia dengan moral dan akhlak yang baik Amin.  Sesuai dengan firman Allah swt “ Maka celakalah bagi orang-orang yang salta, (situ) orang-orang yang lalai dari shalatnya” ( QS. Al-Ma`un:4-5 ). Maka teladanilah suri tauladan Nabi Muhammad saw karena sesungguhnya  Rasulullah saw adalah manusia yang terbaik secara khalq dan khuluq.
Persembahan pantun untuk kawan sebagai generasi penerus bangsa.

Siang hari makan duren
Duren dibeli dikedai bu desi
Jika mengaku remaja keren
Buktikan dengan berbagai prestasi
Pergi berlibur ke pulau Rengat
Tempatnya indah senang terasa
Wahai remaja kobarkan semangat
Sebagai generasi penerus bangsa

Semangat kawan, mari kita berapi-api meraih prestasi karena majunya suatu bangsa tergantung pada maju dan prestasinya remaja, ganbate.

 

Please like & share:

[Karya KBM3] Pemuda Antara Kenyataan dan Harapan: Perilaku Kerusakan Moral Pemuda Masa Kini

Posted on Updated on

PENDAHULUAN
Era Globalisasi dan modernisasi membawa pemuda dan masyarakat tergerus oleh zaman. Kita bersyukur jika yang di ambil adalah sisi positif nya, jika malah sebaliknya ini yang mengkhawatirkan. Keadaan umat saat ini bisa dilihat realita nya didalam kehidupan sehari-hari. Tidak sesuai lagi dengan ajaran islam dan para pemudanya juga asing bahkan mungkin telah jauh dari islam itu sendiri. Kekhawatiran akan umat apalagi pemuda, penerus lagi pelurus bangsa membawa saya untuk ikut berpartisipasi dalam kepenulisan ini.
Setiap zaman selalu memiliki tantangan masing-masing. Jika pada zaman penjajahan tantangan generasi muda adalah menentang penjajahan dan merebut kemerdekaan. Maka seiring dengan globalisasi dan modernisasi yang menuntut adanya sebuah rekonstrusi peran pemuda sebagai tulang punggung kelangsungan sebuah bangsa. Jika pembinaan dan orientasi pemuda kurang mendapatkan sorotan elemen bangsa, maka ekses negatif yang lahir mondialisasi gaya hidup, budaya, sosial, dan cara pandang pemuda sebagai generasi bangsa perlu di waspadai.
Globalisasi dan modernisasi yang melahirkan imitasi budaya dikalangan muda, lewat asumsi mereka (pemuda) kini bahwa mereka lebih bangga dengan identitas semu atau kultur imitasi yang mereka sandang dalam kesehariannya. Pada akhirnya identitas yang sebenarnya pada generasi muda khusus kalangan muslim yang seharusnya berorientasi kepada alquran dan sunnah pun kini tiada. Berkaca pada hari ini banyak sekali penyimpangan dan perilaku negatif yang dilakukan generasi muda hari ini. Padahal generasi muda adalah bagian dari masyarakat, yang kini telah kehilangan perannya di tengah-tengah umat. Masalah utama pemuda usia remaja berawal dari pencarian jati diri. Mereka megalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar juga jika dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Hal ini merupakan masalah bagi setiap remaja di belahan dunia ini.
Saat ini generasi muda ataupun kalangan dewasa telah kehilangan rasa malu untuk berbuat hal negatif di tengah-tengah masyarakat. Tak sedikit yang mempertontonkan kemesraan dimuka umum bak sejoli yang sedang di mabuk cinta. Padahal mereka tak menyadari tengah dalam perangkap syaitan yang membutakan mereka untuk masuk kedalam lubang kemaksiatan. Para pemuda juga tak sedikit yang melakukan tawuran antar pelajar atau mahasiswa. Bukan menjadi cerminan pelajar dan mahasiswa yang baik malah tawuran dan yang lebih parahnya lagi merusak fasilitas sekolah dan kampus. Memakai narkoba dan masih banyak lagi. Jika tadi adalah penyimpangan yang kita lihat diluar bagaimana jika kita melihat pada instansi terkecil dalam hidup kita tapi menjadi ujung tombak pembentukan karakter apalagi kalau bukan keluarga. Banyak sekali anak yang melawan orang tua, bahkan banyak pemberitaan di media seorang anak yang membunuh orang tuanya karena tidak diberikan uang .
baru-baru ini juga tersiar kabar seorang anak yang menggugat ibu kandung nya sendiri. Jika dijabarkan sungguh banyak sekali penyimpangan yang telah dilakukan. Ini membuktikan moral generasi muda telah bobrok dan memprihatinkan. Ketika arus globalisasi dan modernisasi tidak bisa kita hadapi dengan cermat bagaimana dengan era pasar global yang akan dihadapi, tentu sangat mengancam ketahanan tembok moralitas bangsa. Maka, dari itu kita akan membahas contoh peristiwa kerusakan moral remaja dan pemuda di masyarakat, penyebab kerusakan moral, dan juga usulan untuk perbaikan atas kerusakan moral tersebut.

A. CONTOH PERISTIWA KERUSAKAN MORAL REMAJA DAN PEMUDA DI MASYARAKAT
Dibawah ini kita akan membahas peristiwa kerusakan moral dikalangan remaja dan pemuda di masyarakat. Walaupun tidak secara keseluruhan tapi dibawah ini adalah peristiwa yang sering dilakukan oleh remaja dan pemuda saat ini apalagi dilingkungan penulis.
1. Mengkonsumsi narkoba dan obat-obatan terlarang
Pengertian narkoba
Istilah narkoba dalam konteks hukum islam, tidak di sebutkan secara langsung dalam alquran maupun dalam sunnah. Dalam alquran hanya menyebutkan istilah khamr. Tetapi karena dalam teori ilmu Ushul fiqih, bila suatu hukum belum ditentukan status hukumnya, maka bisa diselesaikan melalui metode qiyas(analogi hukum).
Secara terminologi khamr adalah:
‘’bahwa khamr(minuman keras) menurut pengrtian syara’ dan bahasa arab adalah nama untuk setiap yang menutup akal dan menghilangkanya, khususnya zat yang digunakan untuk minuman keras terkadang terbuat dari anggur dan zat lainnya.’’
Khamr dalam istilah hukum nasionalnya adalah minuman keras atu minuman yang mengandung alkohol.
Berdasarkan definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap sesuatu yang memabukkan dan merusak akal pikiran termasuk kategori khamr, baik yang terbuat dari anggur, kurma, dan lainnya termasuk dalamnya narkoba. Sedangkan pengertian narkoba secara terminologis adalah setiap zat yang apabila dikonsumsi akan merusak fisik dan akal, bahkan terkadang membuat orang menjadi gila atau mabuk. Hal yang demikian juga dilarang oleh undang-undang seperti: ganja, opium, morfin, heroin, kokain dan kat.
Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 2006, menyatakan bahwa pelajar dan mahasiswa tidak bebas resiko penyalahgunaan narkoba. Diantara 100 pelajar dan mahasiswa rata-rata 8 pernah pakai dan 5 dalam setahun terakhir pakai narkoba. Penyalahgunaan sudah terjadi di SLTP. Diantara 100 pelajar SLTP, rata-rata 4 dalam setahun terakhir pakai narkoba. angka pernah pakai lebih tinggi dua kali lipat pada mahasiswa (12%) dibanding pelajar SLTP (6%). Kemudian, sekitar 40% penyalahgunaan di SLTA dan separuhnya di akademi/PT mengaku pernah atau setahun ini memakai ganja.
Bagaimana jika bicara sekarang di tahun 2014 dan sebentar lagi akan menuju 2015, tidak dapat dipungkiri tingkat pemakaian obat-obat terlarang meningkat. Di lingkunagn penulis saja, sudah tersiar kabar bahwa para pemuda di daerah ini tidak sedikit yang memakai narkoba dan sangat memprihatinkan nya lagi mereka juga mengkontaminasi anak-anak di lingkungan tersebut untuk memakai nya. Dengan memberikan nya secara gratis di awal, setelah dipakai dan ketagihan sudah bisa di pastikan anak tersebut akan menggunakan segala cara untuk membelinya. Bahkan saya pernah melihat anak yang masih duduk di bangku SD sudah merokok dengan santainya tanpa rasa bersalah apalagi takut dan itu terlihat langsung oleh saya. Karena ketika itu mereka merokok lewat dari rumah saya. Bagaimana yang ditingkat SMP dan SMA? Takutnya mereka telah memakai barang haram tersebut. Nauzubillah. Kemudian, kenapa saya bilang bahwa kawasan atau lingkungan rumah saya ini telah terkontaminasi oleh barang haram tersebut, karena saya melihat gaya-gaya pemuda disini sama sekali tak bergairah untuk hidup dan tak jarang mereka keluar larut malam untuk hal yang tidak penting. Karena pemakaian narkoba ini membuat mereka bertindak lebih parah lagi. Apalagi kalau bukan mencuri, sudah mereka tidak bekerja bagaimana bisa memebeli barang haram tersebut. Jalan pintas nya adalah mencuri. Dan sudah sering sekali pencuri ini tertangkap oleh warga. Saya juga pernah melihat mereka datang ketempat-tempat gelap. Kalau di fikir-fikir apa yang dilakukan mereka disana?.

2. Seks Pra Nikah yang Menyebakan Kehamilan pada Remaja
Remaja memasuki usia subur dan produktif. Artinya, secara fisiologis mereka telah mencapai kematangan organ-organ reproduksi, baik remaja laki-laki maupun remaja wanita. Kematangan organ-organ reprodusi tersebut mendorong individu untuk melakukan hubungan sosial baik dengan sesama jenis maupun dengan lawan jenis. Mereka berupaya mengembangkan diri melalui pergaulan, dengan membentuk teman sebaya. Pergaulan bebas yang tak terkendali secara normatif dan etika-moral antar remaja yang berlainan jenis, akan berakibat adanya hubungan seksual diluar nikah. Pacaran dengan bermesra-mesra dan akhirnya kelewat batas dengan melakukan hal yang dilarang agama.
Islam sudah mengatur antara laki-laki dan perempuan. Bahkan islam mengatakan untuk tidak mendekati zina apalagi melakukan zina sudah jelas-jelas adalah perbuatan dosa besar, jika ingin melakukan hubungan suami istri itu dilakukan setelah menikah secara resmi. Firman Allah swt:
وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا
Artinya :Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. QS. Al-Israa’ (17) Ayat 32
Tapi, fakta dilapangan membuktikan banyak sekali wanita-wanita di usia muda yang telah hamil dan para wanita itu belum menikah. Dan akhirnya karena mau enak nya saja, anak dalam kandungan lah yang di korban kan dengan cara di menggugurkan kandungan atau lebih di kenal dengan istilah aborsi.
Menurut survey yang dilakukan oleh BNN pada tahun 2007, dengan mensurvey 100 pelajar ditemui bahwa praktek seks pranikah sudah terjadi pada pelajar SLTP. Praktek seks pranikah ini linear dengan praktek pemakaian narkoba oleh mereka.
Di dalam lingkungan sekitar. Terkhusus lingkungan penulis, bukan bermaksud untuk membuka aib, tapi sebagai pemuda dan masyarakat yang cerdas sudah selayak kita berhati-hati agar tidak terjerumus kedalam seks pra nikah dan memikirkan dampak buruk yang akan ditimbulkan bukan hanya pada diri kita sendiri tetapi juga merugikan orang lain. Di daerah saya, sudah ada beberapa wanita yang melakukan seks diluar nikah dan akhirnya harus dinikahkan secepatnya oleh laki-laki tersebut, padahal saat itu ia masih duduk di bangku SLTA. Mau tidak mau ia harus berhenti sekolah. Kemudian, banyak sekali kasus seks pranikah yang saya temui yang mereka rata-rata masih duduk di bangku sekolah, akhirnya dinikahkanlah oleh orang tua nya agar tidak malu dengan tetangga dan keluarga besar, namun pada akhirnya lagi-lagi mereka harus putus sekolah. Seks pranikah tidak hanya mendapatkan dosa dari Allah, tapi juga membuat malu keluarga besar, harus putus sekolah karena perut yang terus-menerus membesar dan bisa jadi mereka harus menutup impian mereka karena mau tidak mau harus mengurus dan menjaga anak. Sudah malu dihadapan manusia juga lebih malu lagi di hadapan Allah. Semoga kita terhindar dari hal ini.

3. Berjudi
Siapa yang tak kenal hal satu ini, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas sekali pun tahu judi. Orang yang tenggelam didalam dunia perjudian beranggapan bahwa dengan judi ia bisa menjadi orang yang kaya raya dari hasil judi itu, padahal tak sedikit pun hasil dari judi itu membawa keberkahan bagi diri nya sendiri dan keluarganya. Jangan anggap sepele dengan yang satu ini. Jika anda memberikan nafkah untuk istri anda dengan cara yang haram salah satunya judi. Di hari kemudian bisa-bisa kelakuan dan tingkah laku anak anda akan menjadi buruk dan ia bisa saja melawan dan durhaka pada anda. Hal ini terjadi karena apa yang ada di dalam perut anak tersebut bukan makanan yang halal dan berkah. Dilingkungan penulis, banyak sekali mulai dari anak-anak, pemuda bahkan orang tua yang berprofesi cukup dihormati sekali pun berjudi. Anak-anak sering sekali bermain judi melalui playstation, jadi ada beberapa orang yang bermain playstation di rental PS dengan memainkan permainan sepakbola, mereka taruhan dengan uang dan menjagokan masing-masing club yang mainkan. Club sepakbola yang menang maka menang pula lah anak tadi yang menjagokan club tersebut. Kemudian para remaja sering sekali bermain judi melalui permainan internet dan taruhan(berjudi) bola. Misalnya, club sepakbola A dan B sedang tayang di TV mereka pun bertaruh siapa yang akan menang. Sama hal nya dengan judi yang dilakukan anak-anak tadi tapi media yang digunakan saja yang berbeda. Kemudian dikalangan orang dewasa, banyak sekali orang dewasa di kedai kopi bermain kartu domino dengan menggunakan uang. Siapa yang menang maka dialah yang mendapatkan uangnya. Dan masih banyak lagi kasus perjudian yang terjadi di berbagai kalangan. Apalagi sekarang lagi ngetrend bermain judi melalui permainan internet dengan nama permainan “penalty fever’’.

4. Tawuran Antar Mahasiswa
Mahasiswa adalah agent of change alias agen perubahan. Mahasiswa adalah kelompok pemuda, dan jelas pemuda pasti masih sehat dan kuat. Mahasiswa/I merupakan pemuda-pemudi berintelektual yang memiliki pengetahuan lebih dari yang lain. Jadi mahasiswa adalah calon-calon pemimpin dimasa yang akan datang. Apa yang terjadi jika agen perubahan malah bertindak anarkis dengan melakukan tawuran sesama mahasiswa. Bukankah mereka sama-sama agen perubahan?. Ini juga yang terjadi di lingkungan yang dirasakan oleh penulis. Bukan antar universitas, lebih parahnya lagi antar fakultas yang masih di dalam satu universitas. Layak nya saudara yang menerkam saudaranya sendiri. Hal ini terjadi karena hal yang sepele padahal. Berawal dari ejek-ejekan yang terjadi dari fakultas satu akhirnya fakultas yang satu lagi merasa tidak senang. Akhirnya tindakan buruk lah yang dilakukan mereka dengan tawuran dan membuat kerusuhan dikampus. Hal ini sampai masuk ke media cetak. Bukankah ini membuat kerugian banyak pihak? Mulai dari diri sendiri, orang tua dan universitas. Dan pada akhirnya pun pihak universitas memyelesaikan urusana ini. Mereka pun di bawa kepada rektor secara langsung.

Di lingkungan penulis, masih banyak lagi kerusakan moral yang terjadi, banyak anak-anak remaja yang durhaka pada orang tuanya, remaja yang bermesraan dimuka umum, pergi dugem, perilaku konsumtif, tidak menutup aurat, cabut dari sekolah dan masih banyak lagi. Semoga kita terhindar dari kerusakan moral dan dapat membenahi lingkungan kita dan diri kita sendiri. Berikut adalah video kerusakan moral pemuda di masa kini:

B. PENYEBAB KERUSAKAN MORAL

a. Remaja tidak mengetahui siapa dan untuk apa dirinya diciptakan didunia.
b. Remaja tidak mengetahui mana perbuatan yang baik untuk dilakukan dan mana perbuatan yang harus dihindari sehingga mudah dipengaruhi oleh hal yang tidak baik juga.
c. Remaja tidak menyadari siapa teladan dalam kehidupannya
d. Tidak mawas diri atau berhati-hati dalam bergaul
e. Lembaga keluarga mengabaikan tugasnya
f. Keluarga dan perceraian keluarga yang mengakibatkan perilaku negatif pada anak. Serta orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, tidak memberikan pengetahuan agama dan kontrol keluarga yang kurang baik pada anak.
g. Kurang nya penerapan disiplin orang tua pada anak
h. Kemiskinan dan kekerasan pada anak
i. Tinggal jauh dari orang tua dan mengikuti teman sepermainan yang kurang baik
j. Ketidak optimalan institusi-institusi pendidikan dalam menjalankan perannya
k. Lingkungan atau komunitas yang tidak baik
l. Tindakan hukum yang kurang tegas pada perilaku negatif seperti pemakai narkoba, berjudi dan melakukan perbuatan seks diluar nikah. Bahkan apabila seseorang melakukan seks diluar nikah dan mereka atas dasar suka sama suka tidak dikenakan sanksi dan tidak ada hukum yang mengaturnya dinegara ini.
m. Suguhan media yang menjejali remaja dengan hal-hal yang bisa merangsang libido seks
n. Lemahnya kontrol masyarakat

C.USULAN UNTUK PERBAIKAN ATAS KERUSAKAN MORAL

a. Lembaga keluarga

1. Keluarga sebagai lembaga pertama yang dikenal oleh seorang anak seharusnya mengetahui apa peranannya. Sebagai orang tua sudah selayaknya seorang anak sedari dini diberikan pendidikan mengenai hal keagamaan sehingga ketika sudah dewasa anak sudah tau dan berfikir ulang untuk melakukan hal yang menyimpang.
2. Orang tua memberitahu mana perbuatan yang positif yang boleh dilakukan dan mana perbuatan negatif yang dilarang.
3. Walaupun orang tua sibuk, setidaknya anak harus diberikan perhatian setiap harinya. Walaupun sebuah keluarga bergelimangan harta sebenarnya yang dibutuhkan anak hanya perhatian dan kasih sayang dari orang tua
4. Memberikan pengetahuan tentang seks pada anak. Bagi kebanyakan orang tua membicarakan seks kepada anak adalah hal yang tabu, padahal seks bukanlah sesuatu yang porno. Pengetahuan tentang seks, bahwa seseorang yang melakukan seks diluar nikah akan menimbulkan hal yang negatif dan pastinya berdosa. Ini adalah hal yang penting. Sehingga anak tahu melakukan hubungan seks hanya dengan orang yang halal baginya.
5. Tidak memanjakan anak secara berlebihan. Jadi, ketika orang tua tidak mampu membelikannya anak tidak memberontak dan melakukan hal negatif.

b. Lembaga pendidikan

1. Lembaga pendidikan mengetahui peranannya dalam mendidik dan membentuk karakter siswa dan siswi denga baik. Bukan malah sebaliknya, banyak kasuu pelecehan seksual yang terjadi di sekolah.
2. Seharusnya di sekolah ada mata pelajaran mengenai akhlak dan moral. Di sekolah-sekolah agama saja jam pelajaran untuk mata pelajaran akidah akhlak sedikit sekali. Bagaimana mau berakhlak jika kita tidak menyadari mata pelajaran akhlak lah yang penting tapi malah disepelekan.
3. Sekolah sering melakukan kegiatan atau acara positif baik di dalam maupun diluar sekolah. Misalnya: kegiatan menanam seribu pohon, kunjungan ke panti asuhan, kunjungan ke pabrik-pabrik, membuat acara maulid nabi dan isra’ mi’raj, dsb. Ini akan menambah pengetahuan umum dan agama.
4. Guru dan juga staff meberikan teladan atau contoh yang baik kepada siswa dan siswi nya.
5. Sekolah menanamkan cinta pada agama nya yaitu islam. Misalnya, sekolah menerapkan sholat zuhur berjamaah di sekolah, membuat duha time atau waktu untuk sholat duha, sebelum dan sesudah belajar doa bersama dsb.
6. Bertindak tegas kepada mahasiswa yang melakukan kerusakan fasilitas kampus dan tawuran.

c. Lembaga masyarakat

1. Peran kepala desa seharusnya lebih tegas lagi terhadap tindakan kriminal dan perilaku negatif di daerahnya. Bahkan jika perlu dibuat peraturan untuk wilayah setempat agar masyarakat tidak macam-macam untuk berjudi, seks diluar nikah, narkoba dll.
2. Masyarakat harus memilki jiwa saling peduli satu sama lain. Jadi, jangan menjadi masyarakat yang acuh tak acuh.

d. Lembaga hukum
1. Memberikan hukuman tegas kepada para pemakai narkoba dan obat-obat terlarang begitu pula dengan judi dan perilaku kriminal lainnya.

e. Media massa
1. Menyiarkan siaran yang berbobot
2. Tidak menyiarkan hal yang mengandung kekerasan dan seksual
3. Mengikuti kode etik penyiaran yang telah di tetapkan

Menurut Nalland (1998) ada beberapa sikap yang harus dimiliki orangtua terhadap anaknya pada saat memasuki usia remaja, yakni :
a. Orang tua perlu lebih fleksibel dalam bertindak dan berbicara
b. Kemandirian anak diajarkan secara bertahap dengan mempertimbangkan dan melindungi mereka dari resiko yang mungkin terjadi karena cara berfikir yang belum matang. Kebebasan yang dilakukan remaja terlalu dini akan memudahkan remaja terperangkap dalam pergaulan buruk, obat-obatan terlarang, aktifitas seksual yang tidak bertanggung jawab dll
c. Remaja perlu diberi kesempatan melakukan eksplorasi positif yang memungkinkan mereka mendapat pengalaman dan teman baru, mempelajari berbagai keterampilan yang sulit dan memperoleh pengalaman yang memberikan tantangan agar mereka dapat berkembang dalam berbagai aspek kepribadiannya.
d. Sikap orang tua yang tepat adalah sikap yang authoritative, yaitu dapat bersikap hangat, menerima, memberikan aturan dan norma serta nilai-nilai secara jelas dan bijaksana. Menyediakan waktu untuk mendengar, menjelaskan, berunding dan bisa memberikan dukungan pada pendapat anak yang benar.
Selain itu peranan sekolah sangatlah membantu dalam membentuk karakter anak karena dengan adanya sekolah maka pendidikan yang tidak dapat di rumah akan mereka dapatkan di dalam sekolah. Sekolah mempunyai fungsi sebagai pembina dan pendidikan moral. Sekolah hendaknya mengusahakan lapangan bagi tercapainya pertumbuhan pengembangan mental dan moral pesertadidik. Dengan demikian sekolah merupakan lapangan sosial bagi anak-anak, dimana pertumbuhan mental, moral, dan sosial serta segala aspek kepribadiaan dapat berjalan dengan baik. Dalam sebuah sekolahan harus mempunyai metode dan strategi yang efektif dalam pelaksanaannya selain itu pendidikan agama hendaknya dilakukan secara intensif berkesinambungan, baik dalam kelas maupun di luar kelas.
Menurut Pidarta (2007:170), sejak dini anak-anak perlu dididik berpikir kritis. Kemampuan untuk mempertimbangkan secara bebas dikembangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi kesempatan mengamati, melaksanakan, menghayati dan menilai kebudayaan itu. Cara ini membuat anak tidak menerima begitu saja suatu kebudayaan melainkan melalui pemahaman dan perasaan dikala berada dalam kandungan budaya itu, yang akhirnya menimbulkan penilaian menerima, merevisi, atau menolak budaya itu. Pendidikan seperti ini membuat anak-anak terbiasa dengan pemikiran yang terbuka dan lentur.
Dibutuhkan strategi yang benar-benar bagus dalam mewujudkan pendidikan moral yang efektif dan aplikatif. Beberapa diantaranya adalah:
a. Pendidikan dapat di lakukan dengan memantapkan pelaksanan pendidikan agama.
b. Pendidikan agama harus dirubah dari metode pengajaran menjadi pendidikan agama agar dapat belaja sopan santun.
c. Pendidikan moral harus dilaksanakan secara integraed, yaitu dengan melibatkan semua pihak yang bersangkutan baik keluarga, sekolahan, masyarakat agar kemrosotan moral dapat di minimalisir keberadaannya.
Adapun peran masyarakat yang dapat membantu mengatasi problematika pergaulan pelajar yang terjadi saat ini salah satunya yaitu dengan mengadakan penyuluhan mengenai dampak yang akan ditimbulkan jika para pelajar terjerumus pada pergaulan yang menyimpang seperti menggunakan obat-obatan terlarang, minum-minuman keras sampai pada pergaulan bebas. Sehingga diharapkan, para pelajar dapat lebih membentengi diri agar tidak terjebak pada pergaulan yang mungkin nantinya dapat merugikan dirinya sendiri.
( https://fellypun.wordpress.com/lkpp/penyimpangan-pergaulan-pelajar/)

D.PENUTUP
Moral generasi muda sebagai modal bangsa. Bagaimana bisa generasi muda yang menjadi harapan bangsa kedepan memiliki moral yang bobrok, mulai dari memakai narkoba dan obat-obatan terlarang, melakukan hubungan seks pranikah yang menyebabkan hamil, berjudi dan tawuran antar pelajar dan mahasiswa dll. Kita tidak bisa berdiam diri menutup mata dan telinga seolah tak melihat dan mendengar padahal semua itu ada di sekitar kita. Kedepan kita akan meghadapi AFTA, jika kita tidak siap untuk bersaing maka hancurlah kita. Maka dari itu marilah kita sama-sama memperbaiki diri kita sendiri, saudara-saudara kita, keluarga dekat dan teman kita. Jadi, pribadi yang lebih peduli itu tidak salah kan? Apalagi atas nama agama dan bangsa kita kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Mardani, Dr. 2008. PENYALAHGUNAAN NARKOBA: Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Pidana Nasional. Jakarta: PT Raja Grafindo.
[2] Dewanata, Pandu dan Chavchay Syaifullah. 2008. Rekonstruksi Pemuda. Jakarta: Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga.
[3] Ridha, Dr. Akram. Manajemen Gejolak: Panduan Ampuh Orangtua Mengelola Gejolak Remaja. Bandung: Syamiil Cipta Media.
[4] https://fellypun.wordpress.com/lkpp/penyimpangan-pergaulan-pelajar/

• www.muslimedianews.com
• www.cyberdakwah.com
• www.piss-ktb.com

Please like & share:

[Karya KBM3] Penyimpangan Moral Remaja, Penyebab, dan Solusinya

Posted on Updated on

PENDAHULUAN

Berbagai gejala yang melibatkan perilaku remaja akhir-akhir ini tampak menonjol di masyarakat. Remaja dengan segala sifat dan sistem nilai tidak jarang memuncukan perilaku-perilaku yang ditanggapi masyarakat yang tidak seharusnya diperbuat oleh remaja. Perilaku-perilaku tersebut tampak baik dalam bentuk kenakalan biasa maupun perilaku yang menjurus tindak kriminal. Masyarakatpun secara langsung ataupun tidak langsung menjadi gelisah menghadapi gejala tersebut (Hadisaputro, 2004). Belum lagi ancaman yang muncul dari media seperti tayangan kekerasan, pornografi dan pornoaksi. Sejauh ini kekhawatiran terbesar yang menjadi pusat perhatian banyak kalangan adalah tindak kekerasan yang dilakukan anak-anak muda, dan itu sudah merupakan keadaan gawat yang perlu segera diatasi, namun demikian ada hal lain yang lebih mengkhawatirkan yaitu usia pelaku tindak kriminalitas semakin lama semakin muda (Borba, 2008).  Hal ini menunjukkan adanya  penyimpangan moral pada generasi remaja.

Masalah moral adalah suatu masalah yang menjadi perhatian orang dimana saja, baik dalam masyarakat yang telah maju, maupun dalam masyarakat yang masih terbelakang. Karena kerusakan moral seseorang mengganggu ketenteraman yang lain. Jika dalam suatu masyarakat banyak yang rusak moralnya, maka akan goncanglah keadaan masyarakat itu. Jika kita tinjau keadaan masyarakat di Indonesia terutama di kota-kota besar sekarang ini akan kita dapati bahwa moral sebagian anggota masyarakat telah rusak atau mulai merosot. Dimana kita lihat, kepentingan umum tidak lagi menjadi nomor satu, akan tetapi kepentingan dan keuntungan pribadilah yang menonjol pada banyak orang (Komariah, 2011).

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain : minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, seks bebas dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS (Rauf cit. Sulistianingsih, 2010)

Adanya penyimpangan moral remaja ini mendorong penulis untuk memaparkan tentang penyimpangan moral remaja saat ini, penyebabnya, dan solusinya yangng diperoleh dari berbagai sumber pustaka. Penulis juga mengharapkan adanya manfaat bagi penulis  dan para pembaca sekalian.

 MORAL DAN PENYIMPANGAN MORAL

Moral sangat penting bagi tiap-tiap orang, tiap bangsa. Karena pentingnya moral tersebut ada yang mengungkapkan bahwa ukuran baik buruknya suatu bangsa tergantung kepada moral bangsa tersebut. Apabila bangsa tersebut moralnya hancur, maka akan hancurlah bangsa tersebut bersama moralnya. Memang, moral sangat penting bagi suatu masyarakat, bangsa dan umat. Kalau moral rusak, ketenteraman dan kehormatan bangsa itu akan hilang. Oleh karena itu, untuk memelihara kelangsungan hidup sebagai bangsa yang terhormat, maka perlu sekali memperhatikan pendidikan moral, baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat (Komariah, 2011).

Moral melibatkan pemikiran, perasaan dan tingkah laku yang sesuai Ataupun sebaliknya pada pandangan masyarakat. Ia mempunyai kaitan dengan hubungan intrapersonal dan interpersonal manusia. Dimensi interpersonal berkaitan dengan aktivitas individu yang tidak melibatkan orang lain. Manakala, interpersonal pula berkaitan dengan hubungan dengan orang lain (Madoan dan Ahmad, 2004).

Moral berasal dari bahasa latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, perilaku, dan adat istiadat dalam kehidupan (Hurlock, 1990).  Rogers (1977) mengartikan moral sebagai pedoman salah atau benar bagi perilaku seseorang yang ditentukan oleh masyarakat.  Allen (1980) mengartikan moral sebagai pola perilaku, prinsip‐prinsip, konsep dan aturan‐aturan yang digunakan individu atau kelompok yang berkaitan dengan baik dan buruk. Moral menurut Piaget (1976) adalah kebiasaan seseorang untuk berperilaku lebih baik atau buruk dalam memikirkan masalah ‐masalah sosial terutama dalam tindakan moral.

Moral akibat pengaruh faktor-faktor tertentu dapat menyimpang.  Kartono (2007) memberi definisi yang cukup panjang, penyimpangan moral adalah kondisi individu yang hidupnya delingment (nakal, jahat), yang senantiasa melakukan penyimpangan perilaku dan bertingkah laku asosial atau antisosial dan amoral. Ciri-ciri orang yang mengalami defisiensi moral cenderung psikotis dan mengalami regresi, dengan penyimpangan-penyimpangan relasi kemanusiaan, sikapnya dingin, beku, tanpa afeksi, emosinya labil, munafik, jahat, sangat egoistis, self centered, dan tidak menghargai orang lain. Tingkah laku orang yang mengalami defisiensi moral selalu salah dan jahat (misconduct), sering melakukan penyimpangan perilaku, bisa berupa menindas, suka berkelahi, mencuri, mengonsumsi obat-obatan terlarang, dan sebagainya. Ia selalu melanggar hukum, norma dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Penyimpangan moral remaja biasanya diwujudkan dalam bentuk kenakalan. Santrock (2003) menjelaskan kenakalan remaja berdasarkan tingkah laku, yaitu;

a. Tindakan yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial karena bertentangan dengan nilai

-nilai norma- norma dalam  masyarakat. Contoh: berkata kasar pada guru, orang tua.

b.Tindakan pelangga ran ringan seperti ; membolos sekolah, kabur pada jam mata pelajaran tertentu dll.

c.  Tindakan pelanggaran berat yang merujuk pada semua tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja, seperti; mencuri, seks pranikah, menggunakan obat-obatan terlarang.

PENYIMPANGAN MORAL PADA REMAJA SAAT INI

Beraneka ragam tingkah laku atau perbuatan remaja yang menyimpang dari moral sering menimbulkan kegelisahan dan permasalah terhadap orang lain. Penyimpangan moral tersebut dapat berwujud sebagai kenakalan atau kejahatan. Berikut di bawah ini adalah beberapa contoh dari penyimpangan –peyimpangan moral pada remaja yang sering terjadi dan muncul dalam media-media pemberitaan.

1.      Perkosaan

Perkosaan (rape) berasal dari bahasa latin raperen yang berarti mencuri, memaksa,merampas, atau membawa pergi (Haryanto, 1997). Perkosaan adalah suatu usaha untuk melampiaskan nafsu seksual yang dilakukan oleh seorang laki-laki terhadap perempuan  dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum dengan cara yang dinilai melanggar menurut moral dan hukum (Wignjosoebroto, 1997).

Sejak tahun 2012 hingga 2014 bulan Juli, kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta orang dengan rician per tahun kasus aborsi 750 ribu per tahun atau 7 ribu dalam sehari dan 30 persen pelakunya adalah remaja SMP dan SMA. Fenomena tingginya remaja melakukan aborsi karena akibat perkosaan dan hubungan suka sama suka (Ardiantofani, 2014). Dalam Republika.co.id (Sadewo, 2014), Indonesia Police Watch (IPW) melihat kecenderungan  meningkatnya angka perkosaan di Indonesia tahun ini.  Menurut Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, meski belum memiliki angka pasti untuk tahun ini, namun kecenderungan tersebut telah terlihat. Tahun 2013 setiap bulan tiga sampai empat kasus perkosaan di seluruh indonesia. Tahun 2014, empat hingga enam setiap bulan. Tercatat, hingga 50 persen pelaku perkosaan adalah anak berusia di bawah 20 tahun. Sebagian dari para remaja memperkosa teman perempuannya.

2.      Tawuran

Istilan tawuran sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar sekolah, yang akhir-akhir ini sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi. Kekerasan dengan cara tawuran sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang dilakukan oleh para remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkis, premanis, dan rimbanis. Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang terlibat dalam perkelahian atau tawuran itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara langsung (Julianti, 2013).

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus (Setyawan, 2014).

3.      Pergaulan Bebas

Dewasa ini pergaulan bebas yang mengarah pada perilaku sex pra nikah (berkencan, berpegangan tangan, mencium pipi, berpelukan, mencium bibir, memegang buah dada di atas baju, memegang buah dada di balik baju, memegang alat kelamin di atas baju, memegang alat kelamin di bawah celana, dan melakukan senggama) sudah menjadi sesuatu yang biasa, padahal hal tersebut tidak boleh terjadi (Samino, 2012).

Perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja berawal dari munculnya “ chemistry” (ketertarikan) terhadap lawan jenis sebagai dampak dari perkembangan seksual yang dialami. Ketertarikan tersebut mengundang remaja untuk menjalin suatu hubungan romantis, dimana dalam hubungan romantis tersebut remaja mulai mengembangkan bentuk-bentuk perilaku seksual sejalan dengan meningkatnya dorongan seksual remaja yang menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak mudah dipahami oleh remaja (Andayani dan Setiawan, 2005).

Perubahan sosial mulai terlihat dalam persepsi masyarakat yang pada mulanya menyakini seks sebagai sesuatu yang sakral menjadi sesuatu yang tidak sakral lagi, maka saat ini seks sudah secara umum meluas di permukaan masyarakat. Ditambah dengan adanya budaya permisifitas seksual pada generasi muda tergambar dari pelaku pacaran yang semakin membuka kesempatan untuk melakukan tindakan-tindakan seksual juga adanya kebebasan seks yang sedang marak saat ini telah melanda kehidupan masyarakat yang belum melakukan perkawinan. Bahkan aktivitas seks pranikah tersebut banyak terjadi di kalangan remaja dan pelajar yang sedang mengalami proses pembudayaan dengan menghayati nilai-nilai ilmiah (Salisa, 2010).

Dalam kehidupannya, remaja tidak akan pernah lepas dari apa yang dinamakan “percintaan”. Hampir seluruh remaja di dunia, termasuk Indonesia, mempunyai suatu budaya untuk mengekspresikan percintaan tersebut, yakni dengan apa yang biasa disebut “pacaran”. Pacaran merupakan hal yang sudah lazim di kalangan remaja saat ini. Cara mereka mengisi pacaran pun bermacam-macam, mulai dari yang biasa sampai yang luar biasa yang tidak diterima karena telah melanggar ketentuan norma yang ada. Salah satu cara yang paling tidak diterima di masyarakat adalah seks bebas (Karmila, 2011).

Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam melakukan hubungan sesual bebas di kalangan remaja adalah sebagai berikut : 1)Kehamilan Remaja. Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian sehubungan dengan masalah kehamilan remaja adalah: (a) Masalah keadaan reproduksi. Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting di kalangan remaja-remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaliknya mempunyai kesehatan prima sehingga dapat menurunkan generasi (b)  Masalah psikologis pada ke hamilan remaja. Remaja yang hamil diluar nikah menghadapi masalah psikologis, yaitu rasa takut kecewa, menyesal, malu dan rendah diri terhadap kehamilannya. Sehingga terjadi usaha untuk menghilangkan dengan jalan menggugurkan kandungan (aborsi), (c) Masalah sosial dan ekonomi keluarga; (1).Penghasilan yang terbatas, (2).Putus sekolah, sehingga pendidikan menjadi terlantar (3) Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan, dan (c) Dampak kebidanan pada kehamilan remaja. Penyulit kehamilan pada remaja tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara umur 25 sampai 35 tahun. Keadaan ini disebabkan belum matang alat reproduksi untuk hamil, sehingga dapat merugikan kesehatan ibu perkembangan dan pertumbuhan janin. sehingga memudahkan terjadi ( (1) Keguguran , (2).Persalinan premature, berat badan lahir rendah (BBLR) dan (3)Mudah terjadi infeksi, (4).Anemia pada kehamilan, ( 5) Keracunan kehamilan, dan (6) Kematian ibu yang tinggi (Manuaba, 1999)

 4.      Penggunaan Narkoba

Globalisasi dan modernisasi tidak dapat dipungkiri lagi telah mendatangkan keuntungan bagi manusia. Arus informasi yang masuk ke negeri ini semakin sulit dibendung. Dampak negatifnya, banyak remaja yang terjerumus mengikuti budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia, misalnya seks pranikah dan maraknya penyalahgunaan Narkoba (Primatantari dan Kahono, Unknown Time).

Pengguna narkoba biasanya dimulai dengan coba-coba yang bertujuan sekedar memenuhi rasa ingin tahu remaja, namun sering keinginan untuk mencoba ini menjadi tingkat ketergantungan. Tingkat pengguna narkoba sendiri dapat dibagi menjadi (1) pemakai coba-coba, pemakaian sosial (hanya untuk bersenang-senang), (2) pemakaian situasional (pemakaian pada saat tegang, sedih, kecewa dan lain-lain), (3) penyalahgunaan (pengunaan yang sudah bersifat patologis) dan (4) tahap yang lebih lanjut atau

Ketergantungan (kesulitan untuk menghentikan pemakaian) (Wahyurini dan Ma’shum cit. Widianingsih dan  Widyarini, 2009).

Sejak 2010 sampai 2013 tercatat ada peningkatan jumlah pelajar dan mahasiswa yang menjadi tersangka kasus narkoba. Pada 2010 tercatat ada 531 tersangka narkotika, jumlah itu meningkat menjadi 605 pada 2011. Setahun kemudian, terdapat 695 tersangka narkotika, dan tercatat 1.121 tersangka pada 2013. Kecenderungan yang sama juga terlihat pada data tersangka narkoba berstatus mahasiswa. Pada 2010, terdata ada 515  tersangka, dan terus naik menjadi 607 tersangka pada 2011. Setahun kemudian, tercatat 709 tersangka, dan 857 tersangka di tahun 2013. Sebagian besar pelajar dan mahasiswa yang terjerat UU Narkotika, merupakan konsumen atau pengguna.  Pada 2011 BNN juga melakukan survei nasional perkembangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba pada kelompok pelajar dan mahasiswa. Dari penelitian di 16 provinsi di tanah air,  ditemukan 2,6 persen siswa SLTP sederajat pernah menggunakan narkoba, dan 4,7 persen siswa SMA terdata pernah memakai barang haram itu. Sementara untuk perguruan tinggi, ada 7,7 persen mahasiswa yang pernah mencoba narkoba (Tryas, 2014).

Tren penyalahgunaan narkoba saat ini didominasi ganja, sabu-sabu, ekstasi, heroin, kokain, dan obat-obatan Daftar G. Sepanjang 2012, BNN sudah 12 kali memusnahkan narkoba. Total yang telah dimusnahkan sebanyak 28.062 gram sabu-sabu, 44.389 gram ganja, 10.116 gram heroin, dan 3.103 butir ekstasi. Sebagian besar penyalahguna narkoba ialah remaja berpendidikan tinggi. Berdasarkan data BNN, sedikitnya 15 ribu orang setiap tahun mati akibat penyalahgunaan narkoba dan kerugian negara mencapai Rp50 triliun per tahun. Pecandu heroin dan morfin yang menggunakan jarum suntik itu berpotensi besar terkena penyakit hepatitis B dan hepatitis C bahkan tertular virus HIV-AIDS. (Holisah, 2014).

 5.      Menyontek

Menyontek merupakan tindak kecurangan dalam tes, melalui pemanfaatan informasi yang berasal dari luar secara tidak sah (Sujana dan Wulan, 1994). Perilaku menyontek harus dihilangkan, karena hal tersebut sama artinya dengan tindakan kriminal mencuri hak milik orang lain. Namun nyatanya perilaku menyontek semakin mengalami peningkatan (McCabe, 2001). Perilaku menyontek telah merambah ke berbagai penjuru, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tak hanya dilakukan oleh siswa maupun mahasiswa yang berprestasi rendah, tetapi juga siswa serta mahasiswa yang berprestasi tinggi pernah melakukannya. Sebagaimana survey yang dilakukan oleh Who’s Who Among American High School Student, menunjukkan bahwa mahasiswa terpandai mengakui pernah menyontek, untuk mempertahankan prestasinya (Parsons dalam Mujahidah, 2009).

Pusat Psikologi Terapan Jurusan Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan survei online atas pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun 2004-2013. Ditemukan bahwa kecurangan UN terjadi secara massal lewat aksi mencontek, serta melibatkan peran tim sukses yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan pengawas.  Psikolog UPI Ifa Hanifah Misbach memaparkan, total responden dalam survei UN adalah 597 orang yang berasal dari 68 kota dan 89 kabupaten di 25 provinsi. Survei dilakukan secara online untuk mengurangi bias data. Sebab, tim psikologi UPI sudah beberapa kali melakukan survei langsung ke sekolah namun sering ditolak oleh kepala sekolah dan ada intervensi dari guru saat mengisi survei. Responden berasal dari sekolah negeri (77%) dan sekolah swasta (20%). Para responden mengikuti UN antara tahun 2004-2013.  Dari hasil survei, 75% responden mengaku pernah menyaksikan kecurangan dalam UN. Jenis kecurangan terbanyak yang diakui adalah mencontek massal lewat pesan singkat (sms), grup chat, kertas contekan, atau kode bahasa tubuh. Ada pula modus jual beli bocoran soal dan peran dari tim sukses (guru, sekolah, pengawas) atau pihak lain (bimbingan belajar dan joki).  Dalam survei juga terungkap sebagian besar responden tidak melakukan apa pun saat melihat aksi kecurangan. Sedangkan, sisanya ikut melakukan kecurangan atau sekadar sebagai pengamat. Responden yang melaporkan kecurangan hanya sedikit sekali (3%).  Ada doktrin dari sekolah bahwa kita masuk sekolah sama-sama dan keluar harus sama-sama. Ini akhirnya menjadikan anak yang jujur malah dimusuhi dan tidak dapat kawan (Anonim, 2013).

6.      Mabuk-mabukan

Pergaulan remaja juga berpotensi menimbulkan keresahan sosial karena  tidak sedikit para remaja yang terlibat pergaulan negatif mabuk-mabukan. Tindakan ini selain mengganggu ketertiban sosial juga sangat merugikan kesehatan mereka sendiri (Surbakti, 2009).

https://www.youtube.com/watch?v=3igSVYTwyNU

Diberitakan dalam bangka.tribunnews.com, pada tanggal 18 April 2014 remaja mabuk menggunakan lem dan minuman keras (miras) jenis arak telah meresahkan masyarakat.  Segerombolan remaja  sering minum-minuman keras di Jalan Pattimura, Desa Air Saga, Tanjungpan dan nekat menjebol pagar kawat milik warga (Setyanto, 2014). Di media online lain yaitu news.detik.com diberitakan dua remaja mabuk menghina polisi dan mengeluarkan kata-kata kotor di depan Polsek Sleman. Sempat terjadi kejar-kejaran dengan polisi, lalu keduanya tertangkap. Satu di antaranya ditembak karena melawan. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu tanggal 15 November 2014 sekitar pukul 03.00 WIB dengan TKP jalan Cimpling, Cebongan, Jumeneng, Kecamatan Mlati, Sleman (Kurniawan, 2014).

7.      Membolos

Membolos sekolah adalah perbuatan yang menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang bermanfaat (Mahmudi, 2014). Membolos adalah budaya yang umum di Indonesia. Orang dewasa pun melakukannya. Penulis pernah melihat sendiri para PNS jajan di warung angkringan saat jam kerja. Belanja di pasar juga saat jam kerja. Dan hal inilah juga ditiru olahe remaja kita. Penulis juga pernah melihat para siswa SMA jajan/nongkrong di angkringan saat jam sekolah. Makan dan minum di warung burjo saat jam sekolah. Sungguh kebiasaan yang jelek yang harus dihapus.

FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN MORAL

1. Media Internet

Kebebasan media dan pers yang menyertai era globalisasi, diantaranya menyebabkan materi-materi seks kian mudah didapatkan dan beredar di masyarakat. Media komunikasi internet yang bebas sensor menjadi lahan subur bagi perkembangan materi-materi seks, terutama yang berbau porno. Kemudahan dan fasilitas seperti yang disediakan internet pun menjadikan sajian-sajian seksual di internet sangat variatif. Internet tidak hanya menampilkan materi seks porno dalam bentuk gambar-gambar diam saja, tetapi ada juga yang menampilkan gambar bergerak len gkap dengan suaranya, potongan video klip dengan durasi pendek sampai yang panjang (Purwono cit. Rahmawati et al., 2002).

Ironisnya adalah sesuatu yang baik itu biasanya sulit untuk diterima demikian sebaliknya sesuatu yang buruk dan menyesatkan biasanya sangat mudah diadopsi oleh remaja, hal ini termasuk informasi tentang seksual tanpa batas. Tidak sedikit informasi yang diperoleh remaja disalahartikan sehingga menimbulkan berbagai perilaku menyimpang yang akibatnya tidak saja merugikan remaja itu sendiri, tetapi juga dapat merugikan orang lain, seperti melakukan hubungan seks dengan pacar tanpa memperhitungkan akibat yang timbul, yaitu kehamilan, penyakit menular seksual dan tercorengnya kehormatan keluarga (Setiawan dan Nurdiyah, 2008).

Sajian situs porno di internet selain memperlihatkan gambar-gambar wanita telanjang, ternyata juga menayangkan video hubungan seksual, paedophilia (foto telanjang anak-anak), hebephilia (foto telanjang remaja) dan paraphilia (materi seks “menyimpang”); termasuk di antaranya gambar-gambar sadomasochism (perilaku seks dengan siksaan fisik), perilaku sodomi, urinasi (perilaku seks dengan urin), defekasi (perilaku seks dengan feses) dan perilaku seks dengan hewan (Elmer-Dewitt cit. Rahmawati et al., 2002).

Perilaku kenakalan pada remaja yang dipengaruhi oleh media internet antara lain adalah : (a) Perkelahian sebagai akibat dari kecanduan game online yang bertema kekerasan, peperangan, terorisme; (b) Perkataan yang kotor, kasar, tidak senonoh, saling mengejek antar teman yang bermula dari penulisan “status” di facebook atau twitter dan jejaring sosial lainnya; (c) Penipuan, melalui media internet rentan sekali penipuan dengan memasang iklan-iklan jual beli barang dengan harga murah; (d) Pemalsuan identitas, melalui jejaring sosial seperti facebook, twitter, friendster dan lain-lain dengan menemukan teman yang baru dikenalnya sehingga memudahkan untuk menipu dan dapat menghindar dari tanggung jawab jika melakukan tindakan merugikan orang lain; (e) Penculikan, seringkali terjadi penculikan gadis remaja karena berkenalan dengan temannya di facebook untuk bertemu di dunia nyata sehingga membawa kabur gadis remaja tersebut; (f) Perbuatan asusila, seperti perkosaan, pencabulan, sex bebas, sebagai akibat dari melihat gambar/ video porno di internet; (g) Membolos sekolah, karena begadang kecanduan game online sampai larut malam bahkan sampai pagi; dan (h) Berbohong pada orang tua, karena kecanduan internet membutuhkan biaya untuk ke warnet atau membeli pulsa modem (Budhyati, 2012).

Di Indonesia, pornografi telah menjadi hal yang sangat umum karena sangat mudah diakses oleh setiap  kalangan usia. Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia menyatakan bahwa Indonesia selain menjadi negara tanpa aturan yang jelas tentang pornografi, juga mencatat rekor sebagai Negara kedua setelah Rusia yang paling rentan pornografi terhadap anak-anak (BKKBN cit. Samino, 2012). Menurut Anttoney General’s Final Report on Pornography konsumen utama pornografi adalah remaja laki-laki berusia 12 sampai 17 tahun. Dampaknya adalah makin aktifnya perilaku seksual pranikah yang disertai ketidaktahuan yang pada gilirannya bisa membahayakan kesehatan reproduksi remaja (Wirawan cit. Samino, 2012).

Kemajuan teknologi informasi, dan kebebasan untuk mendapat informasi tidak dapat dibendung, dan hal itu sesungguhnya merupakan sesuatu yang positif bagi kemajuan kehidupan manusia, seperti dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan secara luas. Namun juga ada dampak negatifnya dari teknologi informasi jika disalahgunakan, seperti secara bebas siswa remaja mengakses informasi; menonton atau membaca gambar atau tulisan porno. Gambar atau tulisan yang mengandung ponografi, cenderung meningkatkan ransangan seksual seseorang dan membuatnya tergoda untuk mencoba segala hal yang berkaitan dengan seks, dan hal itu merupakan informasi yang menarik namun sesat (Hilman, 2005)

 2. Media Televisi/ Media Massa

Kemungkinan terjadi pergeseran nilai–nilai moral yang terjadi di masyarakat, dapat disebabkan oleh proses belajar sosial tersebut. Meskipun demikian, perilaku kejahatan seksual seperti juga seluruh perilaku kejahatan lainnya, merupakan perilaku yang dianggap melanggar norma sosial, sehingga harus dihindari oleh setiap individu (Santosa dan Zulfa, 2001).

Beragam tanggapan yang diberikan khalayak terhadap tayangan program di televisi. Ada yang memberikan tanggapan positif, tanggapan negative atau biasa -biasa saja. Terdapat tiga dimensi efek komunikasi massa yaitu (1) Efek kognitif ; meliputi peningkatan kesadaran, proses belajar dan tambahan pengetahuan. (2) Efek afektif ; berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap dan (3) Efek konatif berkaitan dengan tingkah laku dan niat untuk melakukan sesuatu menurut caratertentu (Winkel, 1989).

Pengaruh televisi terhadap sistem komunikasi tidak pernah lepas dari pengaruh terhadap aspek-aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Menurut Prof. Dr. R. Mar’at acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi, dan perasaan bagi para penontonnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh psikologis dari televisi itu sendiri, di mana televisi seakan-akan menghipnotis pemirsa, sehingga mereka telah hanyut dalam keterlibatan akan kisah atau peristiwa yang disajikan oleh televisi (Effendy, 2002).

Nugroho (2000) mengatakan bahwa televisi mempengaruhi kalangan anak-anak dan remaja. Mereka mulai tertarik dan mencerna apa yang ditampilkan televisi sejak umur dua tahun. Mereka menganggap apa yang tampil di layar kaca itu adalah kebenaran yang senyatanya. Bahkan mereka belum bisa membedakan antara mana kenyataan yang sesungguhnya dan mana tayangan yang hanya fiksi semata. Tidak semua anak –anak dan remaja ini mendapat bimbingan hingga mereka berkembang secara utuh dewasa. Lewat televisi, mereka menerima apa yang ditayangkan sebagai norma sosial dan mereka mengintegrasikannya dalam pola perilaku ketika berhubungan dengan orang lain.

 3. Lingkungan Pergaulan Yang Buruk

Mulyadi (1997) mengemukakan bahwa anak-anak sebagai generasi yang unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka memerlukan lingkungan yang subur yang sengaja diciptakan untuk itu sehingga dapat mengarahkan dan membimbing mereka agar dapat tumbuh dan berkembang kepribadiannya secara wajar, yang juga nantinya akan memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh dengan optimal.

Pengalaman seksual yang menyenangkan selama pacaran akan menyebabkan sepasang kekasih menganggap bahwa perilaku seksual sebagai suatu hal yang menyenangkan untuk dilakukan dengan pasangannya karena perilaku seksual mereka anggap sebagai perilaku yang normal dilakukan oleh orang yang telah dewasa. Kebanyakan remaja tidak ingin dianggap sebagai anak kecil tetapi akan lebih bangga bila dianggap sudah dewasa, sehingga dalam beberapa pendapat menyebutkan bahwa perilaku seksual dianggap sebagai simbol status kedewasaan dan mereka sebagai bagian dari komunitas orang dewasa merasa telah mempunyai hak untuk melakukan perilaku tersebut (Hurlock, 1999).

Lingkungan masyarakat dimana anak itu dibesarkan ikut ambil peranan dalam membentuk kepribadian anak selanjutnya. Anak yang berkembang di lingkungan alam pedesaan memiliki kepribadian yang berbeda dengan anak yang tumbuh berkembang di lingkungan masyarakat kota yang penuh kesibukan dan kebisingan yang seolah saling tak menghiraukan antara anggota masyarakat yang satu dengan lainnya. Demikian halnya anak yang dibesarkan di lingkungan masyarakat yang sangat agamis tentu akan berbeda bila dibandingkan dengan anak yang dibesarkan di lingkungan masyarakat yang sangat tidak memperdulikan masalah-masalah norma-norma agama (Tepas Ahmad Heryawan, 2008).

Dikatakan oleh (Eitzen, 1986) bahwa seorang dapat menjadi buruk/jelek oleh karena hidup dalam lingkungan masyarakat yang buruk. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pada umumnya pada masyarakat yang mengalami gejala disorganisasi sosial, norma dan nilai sosial menjadi kehilangan kekuatan mengikat. Dengan demikian kontrol sosial menjadi lemah, sehingga memungkinkan terjadinya berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Di dalam masyarakat yang disorganisasi sosial, seringkali yang terjadi bukan sekedar ketidak pastian dan surutnya kekuatan mengikat norma sosial, tetapi lebih dari itu, perilaku menyimpang karena tidak memperoleh sanksi sosial kemudian dianggap sebagai yang biasa dan wajar.

 4. Pendidikan Agama Yang Rendah

Sikap tidak permisif terhadap hubungan seksual pranikah dapat dilihat dari aktifitas keagaaman dan religiusitas (Rice, 1990).

Pendidikan agama dalam keluarga sangat penting untuk membentuk anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dan hal itu merupakan sumbangan bagi pembangunan bangsa dan Negara (Tepas Ahmad Heryawan, 2008).

Pemahaman agama yang baik akan menumbuhkan perilaku yang baik. Remaja memerlukan kemampuan pemecahan masalah yang baik, sehingga remaja mampu menyelesaikan masalah mereka dengan efektif (Aini, 2011).

Menurut Darajat (1997) bahwa religiusitas dapat memberikan jalan keluar kepada individu untuk mendapatkan rasa aman, berani, dan tidak cemas dalam menghadapi permasalahan yang melingkupi kehidupannya. Agama Islam sendiri mengajarkan bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah maka seseorang akan mendapatkan ketenangan hidup lahir dan batin serta dapat mengontrol perilakunya Menurut Paloutzian (1996) bahwa tingkat personal agama secara fungsional memberikan makna pada berbagai peristiwa yang dihadapinya atau memberikan bimbingan moral bagaimana seharusnya ia bertindak ditengah‐tengah manusia.

 5. Kondisi Keluarga dan Pola Asuh Orang Tua

Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik di sekolah, biasanya memiliki latar belakang keluarga yang harmonis, menghargai pendapat anak dan hangat. Hal ini disebabkan karena anak yang berasal dari keluarga yang harmonis akan mampu mempersepsi bahwa rumah mereka sebagai suatu tempat yang membahagiakan karena semakin sedikit masalah antara orangtua, maka semakin sedikit masalah yang dihadapi anak, dan begitu juga sebaliknya. Jika anak mampu mempersepsi bahwa keluarganya berantakan atau kurang harmonis maka ia akan terbebani dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orangtuanya tersebut. Faktor lain yang juga ikut mempengaruhi perilaku kenakalan pada remaja adalah konsep diri yang merupakan pandangan atau keyakinan diri terhadap keseluruhan diri, baik yang menyangkut kelebihan maupun kekurangan diri, sehingga mempunyai pengaruh yang besar terhadap keseluruhan perilaku yang ditampilkan (Soekanto, 1987).

Pengabaian orangtua terhadap naknya meberikan andil yang besar dalam mucul perilaku kenakalan remaja. Gunarsa (2004) membagi sikap pengabaian orangtua terhdap anak menjadi lima jenis.

a.       Pengabaian fisik (physical neglect) : meliputi kegagalan dalam memenuhi kebutuhan atas makanan, pakaian, dan tempat tinggal yang memadai.

b.      Pengabaian emosional (emotional neglect) : meliputi perhatian, perawatan, kasih saying, dan afeksi yang tidak memadai dari orang tua, atau kegagalan untuk memenuhi kebutuhan remaja akan penerimaan, persetujuan, dan persahabatan.

c.       Pengabaian intelektual (intellectual neglect) : termasuk di dalamnya kegagalan untuk memberikan pengalaman yang menstimulasi intelek remaja, membiarkan remaja membolos sekolah tanpa alasan apa pun, dan semacamnya.

d.      Pengabdian social (social neglect) : meliputi pengawasan yang tidak memadai atas aktivitas social remaja, kurangnya perhatian dengan siapa remaja bergaul, atau karena gagal mengajarkan atau mensosialisasikan kepad remaja mengenai bagaimana bergaul secara baik dengan orang lain.

e.       Pengabaian moral (moral neglect) : kegagalan dalam memberikan contoh moral atau pendidikan moral yang positif kepada remaja.

Menurut Thoha cit. Graciani (2011) mengemukakan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak . Pengaruh keluarga dalam pembentukan dan perkembangan kepribadian anak mempunyai pengaruh yang besar. Jika pendidikan keluarga dapat berlangsung dengan baik maka mampu menumbuhkan perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa. Orang tua dalam mengasuh anaknya orang tua dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungannya. Di samping itu, orang tua juga dipengaruhi oleh sikap-sikap tertentu dalam memelihara, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya. Sikap tersebut tercermin dalam pola pengasuhan kepada anaknya yang berbeda-beda, karena orang tua mempunyai pola pengasuhan  tertentu.

Penelitian oleh Kumpfer tahun 1998 (Watters cit. Kristanto, 2014) menunjukan bahwa di dalam keluarga terdapat faktor resiko spesifik dan non-spesifik tentang bagaimana keluarga dalam hal ini dapat memberikan ruang atau celah terhadap resiko masalah narkoba. Faktor resiko spesifik tersebut mencakup: (1) penjelasan tentang obat-obatan terhadap remaja atau anak, (2) memberikan contoh negatif secara tidak langsung, (3) sikap orang tua terhadap obat dan keberadaan obat. Faktor-faktor tersebut memberikan langkah-langkah kepada orang tua untuk bisa melakukan pencegahan terhadap resiko penggunaan narkoba terhadap anak. Faktor non-spesifik terhadap masalah narkoba meliputi: (1) terjadinya disfungsi  dalam keluarga dan konflik dalam keluarga, (2) konflik antar orang tua, (3) masalah perekonomian keluarga atau orang tua yang kurang mampu (4) penjelasan orang tua mengenai stress, (5) penyakit psikologis keluarga, (6) penelantaran dan kekerasan. Faktor-faktor non-spesifik tersebut dapat menjadi alasan atau penyebab remaja menggunakan narkoba.

6. Kecerdasan Emosi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kenakalan yang dilakukan oleh remaja, misalnya tumbuh dalam keluarga yang berantakan, kemiskinan dan lain sebagainya. Namun ada peran yang dilakukan oleh keterampilan atau kecerdasan emosional yang melebihi kekuatan keluarga dan ekonomi, dan peran itu sangat penting dalam menentukan sejauh mana remaja atau seorang anak tidak dipengaruhi oleh kekerasan atau sejauh mana mereka menemukan inti ketahanan guna menanggung kekerasan (Goleman, 2000).

Kecerdasan emoisonal adalah kemampuan seseorang untuk  mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain (Goleman, 2007).

Hal positif akan diperoleh bila anak diajarkan keterampilan dasar kecerdasan emosional, secara emosional akan lebih cerdas, penuh pengertian, mudah menerima perasaan-perasaan dan lebih banyak pengalamn dalam memecahkan permasalahannya sendiri, sehingga pada saat remaja akan lebih banyak sukses disekolah dan dalam berhubungan dengan rekan-rekan sebaya serta akan terlindung dari resiko-resiko seperti obat-obat terlarang, kenakalan, kekerasan serta seks tidak aman (Gottman, 2001).

 7. Perspektif Islam

Dalam perspektif segala macam tindakan yang melanggar norma agama adalah tindakan kemaksiatan. Setiap penyimpangan moral adalah  kemaksiatan. Penyimpangan moral yang dilakukan akhir-akhri ini termasuk juga dalam kemaksiatan. Faktor pendidikan agama oleh orang tua, lingkungan dan juga sumber penghasilan menjadi pengaurh utama dalam mewujudkan kebaikan akhlak. Sebagaimana disbeutkan dalam hadits-hadits berikut :

a.      Faktor Orangtua

Orangtua mendapat tanggung jawab untuk membentuk sifat serta karakter anaknya menjadi keturunan yang shalih dan shalihah. Sehingga baik buruknya seorang anak sangat erat hubungannya dengan pendidikan yang diberikan orangtuanya. Apakah ia akan menjadi seorang muslim yang baik, ataukah menjadi pengikut agama Yahudi dan Nasrani, atau tidak mengenal agama sama sekali, karena pada umumnya seorang anak sangat terpengaruh dengan orangtua sebagai orang dekatnya. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan di atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

(HR. Al-Bukhari no. 1384 dan Muslim no. 2658 dari hadits Abu Hurairah)

b.      Faktor Lingkungan/ Teman

Dalam sebuah hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang peran dan dampak seorang teman dalam sabda beliau :

Dalam sebuah hadits:

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.”

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah  melalui dua jalur periwayatan, oleh Al-Imam Ahmad (2/303, 334) Abu Dawud (no. 4812), At-Tirmidzi (no. 2484), Al-Hakim (4/171), Ath-Thayalisi (no. 2107), Al-Qudha’i (dalam Al-Musnad no. 187).

Hadist tentang permisalan teman :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah berkata :

“ Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : orang yang berakal, memiliki akhlak yang baik, bukan orang fasik, bukan ahli bid’ah, dan bukan orang yang rakus dengan dunia” (Mukhtasar Minhajul Qashidin 2/36).

c.       Faktor Sumber Penghasilan

Hadits Makanan haram mempengaruhi do’a

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim no. 1015)

Hadits Kedua

Dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan d antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

SOLUSI PENYIMPANGAN MORAL

Pertama.  Untuk solusi Tawuran yaitu a) Melarang segala macam bentuk ospek yang berisi perploncoan (kekerasan dan pembodohan). Ospek harus berisi pencerahan yang mengarahkan siswa baru menjadi lebih semangat berilmu dan menjadi orang cerdas. Perploncoan yang diselenggarakan di luar sekolah (yang biasanya diadakan oleh senior dan alumni) harus dibubarkan paksa dan setiap siswa yang terlibat harus dihukum. Jika ada ancaman kekerasan dari senior dan alumni kepada siswa baru untuk ikut perploncoan, maka mereka harus diadukan ke kepolisian; b)  Jadwalkan agenda silaturahim antar sekolah. Saling berkunjung satu sama lain. Terutama sekolah yang pernah tawuran. Pertemukan seluruh siswanya. Jalin komunikasi. Saling berbagi informasi kegiatan di sekolah masing-masing. Dengan silaturahim akan terjalin rasa persaudaraan; c) Aktifkan dengan serius kegiatan ekstra kurikuler, seperti keagamaan (ROHIS, ROHKRIS, ROHHIN, ROHBUD, dsb.), KIR, PMR, Pencinta Alam, Bela Diri, Teater, Olah Raga, Musik, Film, dan lain-lain. Dengan berbagai aktivitas ekskul yang positif, tentu para pelajar tidak akan “kurang kerjaan”. Waktu mereka akan habis untuk hal-hal yang berguna. Bukan untuk nongkrong; d) Ubah mindset dan bentuklah opini bahwa tawuran pelajar bukanlah “kenakalan remaja”, tetapi “perbuatan kriminal”. Setiap pelajar yang terlibat, terlebih lagi para provokator dan aktor intelektualnya, harus ditangkap dan diperlakukan sama dengan para kriminal. Kenakan sanksi pidana plus denda sekian juta rupiah. Kalau tidak sanggup bayar denda, tambah lagi hukuman kurungannya. Provokator dan aktor intelektual serta pembunuh harus mendapatkan hukuman paling berat. Ini supaya ada efek jera. Sehingga semua pelajar akan berpikir seribu kali kalau mau tawuran;

Kedua. Selain melakukan kerjasama dengan instansi, guru juga melakukan kerjasama dengan masyarakat dilingkungan sekolah. Dalam mendidik sekian banyak siswa dengan keberagaman sifat dan karakter dan dengan jumlah guru yang terbatas tentunya guru tidak dapat melakukannya sendiri, dengan kata lain guru juga membutuhkan bantuan dari masyarakat sekitar untuk dapat membantu memantau siswa ketika siswa berada di luar lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan guru, dengan cara memberikan peringatan atau langsung melaporkannya kepada pihak sekolah

Ketiga. Selain dengan pihak kepolisian juga melakukan kerjasama dengan BNN yaitu berupa penyuluhan tentang bahaya narkoba dan dilanjutkan dengan tes urin.

Keempat. Yang terpenting  adalah pendidikan agama. Iman adalah benteng terkuat ketika remaja mendapat infiltrasi dari luar berupa pengaruh-pengaruh buruk. Adapun yang bisa dilakukan: a) Keluarga punya andil dalam membentuk pribadi seorang anak, jadi untuk memulai perbaikan, maka kita harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling kecil, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan. Jangan sampai ada kata-kata bohong, membaca do’a setiap malakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada keluarga dan masih banyak hal lagi yang bisa kita lakukan, memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik tetapi kita bisa lakukan itu dengan perlahan dan sabar.  Orangtua yang tidak menegrti tentang agama sebaiknta tidak malu untuk mengikuti pengajian. Karena malu atau gengsi adalah penghalang ilmu. Orangtua dan anak bersama-sama sepekan sekali atau dua kali dalam sepekan mengikuti kajian-kajian Islam (Contoh ; di Kota Yogyakarta, seminggu penuh ada kajian Islam Umum). Ada dua manfaat yang dapat diperoleh yaitu terjamin keharmonisan dan komunikasi yang baik dan anak, kedua menambah ilmu agama; b)  Mendatangkan seorang Ustadz yang kompeten di bidangnya ke rumah. Misalnya bisa baca kitab kuning. Seorang Hafidz. Bisa Bahasa Arab. Kemudian mengadakan pengajian membahas kitab masalah penyucian jiwa seperti Kitab Riyadush Sholihin atau membahas masalah dosa (Al Kabair)

Kelima. Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja, ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sekolah untuk memulai perbaikan remaja, diantaranya melakukan program mentoring pembinaan remaja lewat kegiatan keagamaan seperti rohis, sispala, patroli keamanan sekolah dan lain sebagainya,jika kita optimalisasikan komponen organisasi ini maka kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Sepekan sekali mengadakan pengajian dengan mengundang seorang Ustadz yang kompeten di bidangnya. Bukan Ustadz pelawak. Bukan orang yang jago pidato kemudian terkenal sebagai Ustadz. Pilihlah dari lulusan yang jelas (Saudi, LIPIA, Mesir, Yaman, Sudan, dan lainnya). Atau dari Pondok Tertentu. Dengan membahas Kitab Kuning secara bertahap sesuai mad’u atau audience . Kajian dilakukan secara kontinu dan merupakan program wajib bagi para siswa.

Keenam. Usahakan para orangtua untuk mencarikan nafkah halal kepada anaknya. Karena harta haram juga mempengaruhi perilaku anak.

Ketujuh. Filterisasi media internet dengan DNS Nawala untuk memblok situs porno. Sementara untuk televisi, gunakan layanan TV satelit atau TV kabel yang berupa program-program Islami. Kita bisa menfilter dan menyetting tayang program yang sesuai dengan Islam.

www.muslimedianews.com
www.cyberdakwah.com
www.piss-ktb.com

DAFTAR PUSTAKA

Allen, D. E. 1980. Social Psychologyas A Social Process. Wodworten Publishing Company.

California.

 

Anonim. 2013. Survei UPI: Kecurangan UN Libatkan Guru dan Kepala Sekolah.

 

Ardiantofani, C. 2014. 30 Persen Kasus Aborsi di Jatim Pelakunya Remaja. http://surabayanews.co.id/2014/08/18/3745/30-persen-kasus-aborsi-di-jatim-pelakunya-remaja.html. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Borba, M. 2008.  Membangun Kecerdasan Moral : Tujuh Kebijakan Utama agar Anak Bermoral Tinggi. Gramedia Pustaka Utama.  Jakarta.

 

Budhyati, A. B. 2012. Pengaruh Internet terhadap Kenakalan Remaja. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III. http://repository.akprind.ac.id/sites/files/conference-proceedings/2012/mz_15451.pdf. Diakses tanggal 1 Januari 2015.

 

Hadisaputro, P. 2004. Studi Tentang Makna Penyimpangan Perilaku Di Kalangan  Remaja.  Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 3. No. 3 : 9-18.

 

Haryanto. 1997. Dampak Sosio-Psikologis Korban Tindak Perkosaan terhadap Wanita. Pusat Studi Wanita Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

 

Hilman A .M. 2005. Mengana Anak Kita Perla Pendidikan Seksualitas.  HDA Publishers. Bandung.

 

Holisah, L. 2014. 2014 adalah tahun penyelematan pengguna narkoba.  http://www.dakwatuna.com/2014/02/20/46558/2014-adalah-tahun-penyelamatan-pengguna-narkoba/#ixzz3LOHEU2f7. Diakses tanggal 9  Desember 2014.

 

http://sp.beritasatu.com/home/survei-upi-kecurangan-un-libatkan-guru-dan-kepala-sekolah/42791. Diakses tanggal 9 November 2014.

 

Hurlock, E. B. 1990. Perkembangan Anak. Erlangga. Jakarta.

 

Julianti. 2013. Internalisasi Nilai Toleransi melalui Model Telling Story pada Pembelajaran Pkn untuk Mengatasi Masalah Tawuran (Studi Kasus Tawuran Pelajar Sekolah Menengah di Sukabumi). Jurnal Penelitian Pendidikan, Vol. 14 No. 1 :  1-12.

 

Karmila, M. 2011. Kecemasan dan Dampak dari Perilaku Seksual Pranikah pada Mahasiswa. Skripsi. Program Studi  Psikologi. Fakultas Kedokteran. UNS. Surakarta.

 

Komariah, K. S. 2011. Model Pendidikan Nilai Moral bagi Para Remaja Menurut Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam -Ta’lim Vol. 9 No. 1  : 45-54.

 

Kurniawan, B. 2014. Remaja Mabuk ini Hina Polisi lalu Kabur Akhirnya Dikejar dan Didor. http://news.detik.com/read/2014/10/16/174257/2721015/10/2-remaja-mabuk-ini-hina-polisi-lalu-kabur-akhirnya-dikejar-dan-didor. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Manuaba,  I. B.  1999. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.

 

Mulyadi, S. 1997. Anakku, Sahabatku dan Guruku. Erlangga. Jakarta.

 

Piaget, J. 1976. Psychology and Education. Hadder and Staunghton. London.

 

Primatantari,  V. A. dan G. B. Kahono.  Unknown Time. Efektifitas Kampanye Anti Penyalahgunaan Narkoba terhadap Pengetahuan dan Sikap Remaja akan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba (Studi Terhadap Remaja di Kelurahan Sukaraja Kecamatan Teluk Betung Selatan , Kota Bandar Lampung ). Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 2: 93-97.

 

Rice, P. F. 1990. The Adolesence : development relation culture . 6th edition. Boston : Allyn and Bacon, inc.

 

Rogers, D. 1977. The Psychology of Adolescence. Prentice Hall .Englewood Cliff. NewJersey.

 

Sadewo, J. 2014. Angka Perkosaan Cenderung Meningkat. http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/14/10/13/ndddjo-angka-perkosaan-cenderung-meningkat. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Salisa, A. 2010. Perilaku Seks Pranikah di Kalangan Remaja (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Perilaku Seks Pranikah Di Kalangan Remaja Kota Surakarta). Skripsi. Jurusan Sosiologi. Fakultas Isipol. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

 

Samino. 2012.  Analisis Perilaku Sex Remaja SMAN 14 Bandar Lampung 2011.   Jurnal Dunia Kesmas Vol 1. Nor 4 : 175-183.

 

Setiawan, R. dan S. Nurhidayah. 2008. Pengaruh Pacaran terhadap Perilaku Seks PraNikah. Jurnal Soul  Vol. 1  No. 2 : 60-72.

 

Setyanto, A. A. 2014. Remaja Mabuk-Mabukan  Mulai Resahkan Warga di Belitung. http://bangka.tribunnews.com/2014/04/20/remaja-mabuk-mabukan-mulai-resahkan-warga-di-belitung. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

 

Setyawan, D. 2014. TAWURAN PELAJAR MEMPRIHATINKAN DUNIA PENDIDIKAN. http://www.kpai.go.id/artikel/tawuran-pelajar-memprihatinkan-dunia-pendidikan/. Diakses tanggal 9 Desember 2014.

Sulistianingsih,  A. 2010. Hubungan Lingkungan Pergaulan dan Tingkat Pengetahuan tentang

Kesehatan Reproduksi dengan Sikap Seks Bebas pada Remaja. Skripsi.  Fakultas Kedokteran. UNS. Surakarta.

Tryas. 2014. 22 Persen Pengguna Narkoba Kalangan Pelajar. http://www.harianterbit.com/read/2014/09/13/8219/18/18/22-Persen-Pengguna-Narkoba-Kalangan-Pelajar. diakses  tanggal 9 Desember 2014.

Widianingsih, R. dan  M. M.  R.  Widyarini. 2009. Dukungan Orangtua dan Penyesuaian Diri Remaja Mantan Pengguna Narkoba.  Jurnal Psikologi Vol. 3 No. 1 : 10-15.

Wignjosoebroto, S. 1997. “Kejahatan Perkosaan Telaah Teoritik dari Sudut Tinjau Ilmu-Ilmu Sosial, alam Eko Prasetyo dan Suparman Marzuki, ed. Perempuan dalam Wacana Perkosaan , Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Yogyakarta.

Please like & share:

[Karya KBM3] Ketika aku ditanya ‘masih gadis-kah, kamu ?’

Posted on Updated on

WHAT ???
Santai .. enggak usah serius gitu mentang-mentang judulnya ‘agak frontal’. Ketika aku ditanya ‘Masih gadis-kah kamu ?’.
*sikap*
Berkaca pada situasi yang ada di era globalisasi masa kini. Gue agak ngeri sama pergaulan anak bawang zaman sekarang.
Dulu, bentar deh ! kesannya gue tua binggo. Hmm, pada waktu itu─enggak enak bacanya─ oke, dulu, zaman gue kecil yang namanya naksir temen enggak ada tuh niat-niat bikin video panas. Boro-boro video kayak begituan, foto-foto alay aja masih pake kodak, yang di cuci lebih dulu, terus jadi klise atau negative film baru di cetak jadi selembar foto. Dan, foto-foto cuma terjadi pas kita jalan-jalan doang. Jalan-jalan juga jarang. Ini sih curhat penulis.
Tapi sekarang, ironis. Foto dimana pun jadi. Gaya gimanapun ada. Ah, masa lalu, selalu menghadirkan berbagai macam kenangan saat teringat kembali. Oke. Oke. Enggak mau bawa-bawa zaman, toh langkah selalu kedepan. Ya. Tapi gue sangat bersyukur lahir lebih dulu. Dan hidup dalam generasi 90an.
Wanita.
Wanita itu ibarat korek api (bukan korek gas)
Apabila sudah tergores, tak ada artinya lagi.
Ya. Dalam agama mana pun, gue yakin, wanita selalu dimuliakan. Dalam agama gue khususnya (Islam), banyak ayat-ayat dalam Al-quran yang menerangkan tentang wanita. Bahkan ada satu surat yang dinamakan surat An-Nisa yang artinya wanita. Betapa, Allah saja memuliakan kaum tersebut.
Ah, tapi sayang, banyak wanita yang enggak memuliakan dirinya sendiri. Setidaknya, sekadar menjaga kehormatannya. Pecah nih bahasannya.
Zaman gue SMA, sekitar tahun 2006-2009an. Gue juga mengalami masa sulit tersebut, masa dimana gue ingin mencoba segala sesuatunya. Masa yang biasanya disebut masa puber.
Gue pacaran sejak kelas dua SMP. Hubungan yang gue sebut ‘pacaran’ itu bermula dari suka ketemu, terus sering di ceng-cengin, rasa deg-deg kan pas ketemu, surat-suratan, dan ada kangen kalo enggak ketemu. Sebatas itu.
Pacaran awal gue enggak berlangsung lama. Kurang lebih sebulan. Naik ke jenjang SMA, gue pun mengulangi hal tersebut dengan orang yang berbeda. Laku ya gue, gorengan kali .. #abaikan. Di masa SMA, lebih bergidik rasanya. Gue sering dengar cerita teman-teman gue yang dengan bangga menceritakan hasil ‘kerja kerasnya’ (baca:pacaran)di malam minggu. Aduuuuh .. mauuuuuu. Asli. Itu yang gue rasain. Enggak muna, gue juga cewek normal, abege labil yang memasuki masa remaja, kepengin tau tentang banyak hal.
“Nih ya, lu pandang-pandangan. Terus, pas cowok lu udah mulai ngedekat. Lu diem, jangan menghindar. Nah, jadi deh cipokan”
“Rasanya ituh, bibir lu kayak tebel banget.”
“Susah lupainnya. Gue aja kebayang terus. Ciuman pertama.”
Itu pendapat beberapa teman gue semasa SMA. Ah, iri banget gue. Jujur sejujurnya, zaman SMA gue pengin ngerasain adegan itu. Ciuman.
Masih cerita SMA, gue pernah kepo, nanyain temen sekelas gue, begini pertanyaannya ‘lo ciuman pertama kelas berapa ? Dan setelah berapa lama pacarannya ?’. Asli. Kalo inget itu, gue ngerasa jadi manusia paling enggak tau diri, kepengin tau aja urusan orang. Tapi, jawaban mereka membuat gue bingung. Jawabannya beragam.
“Waktu SMP. Pacarannya baru dua minggu deh kayaknya.”
“Kelas dua SMP. Pas udah dua bulanan.”
“SMA kelas satu. Ngerayain satu bulanan.”
“SMA. Pas jadian.”
“Kelas satu SMP deh kayaknya, gue lupa ama yang mana.” (Ini agak ngeri)
“SMP. Udah enam bulan.”
Gue menghadapi beberapa wajah yang malu-malu buat ngejawab. Ada lagi yang lucu, beberapa teman gue tersebut bilang gini “Ay, Lewat sms aja ya jawabnya. Malu kalo ngomong langsung”. Gue angguk-angguk bego.
Ampuuun. Kalo ini tulisan sampai dibaca mereka ‘yang pernah gue ajukan pertanyaan ini’ bisa dibakar idup-idup gue. Tapi fine, identitas terjaga rapat.
Horornya. Ada beberapa juga yang jawab pertanyaan tersebut dengan bangga, senyum-senyum yang gue enggak ngerti apa maksudnya, lalu berkata “ah, Aya. Jadi pengin kan ..”. Astaga. *tepokjidat*.
Setelah mengajukan pertanyaan random tersebut. Gue berniat membuat sebuah tulisan dengan judul ‘Pentingkah Ciuman dalam Berpacaran ?’, tapi waktu itu fasilitas enggak mendukung, gue enggak punya mesin tik, komputer apalagi laptop. Blog pun gue belum ngerti. Jadi ide itu mandet di benak gue doang.
Kembali ke soal ciuman. Aseeeeh.
Disini gue sadar akan satu hal. Mereka yang menjadi penikmat cinta tersebut. Biasanya golongan remaja akan seperti ini.
Ketika putus.
♥ Enggak bisa. Gue sayang banget sama dia. Banyak kenangan yang udah gue lalui bareng dia. (narik ulur ingus dengan mata yang bengkak, dada naik turun ‘maksudnya apa ini ?’ *kan lagi nangis*)
Sayang ? Nafsu dan rasa penasaran itu diatas namakan dengan rasa sayang. Konyol. Wanita cerdas, akan berpikir lebih dulu sebelum memberikan apa-apa yang dianggapnya berharga. Kenangan ? Ciuman maksudnya ? Pelukan ? gandengan tangan .. atau .. .. sebuah penyesalan karena udah melakukan semua itu.
♥ Enggak mau. Pokoknya gue enggak mau putus. Rugi gue.
Rugi ? masih pantas bilang rugi ? Toh jelas-jelas apa pun yang terjadi dilakukan atas dasar cinta, katanya. Terus kalo udah ditinggalin ? mau minta di balikkin seperti semula ? Mana bisa ..
♥ Iya gue tau, masih banyak cowok lain. Tapi apa bisa, mereka nerima gue. Dan si bajingan itu dengan gampangnya dapetin cewek lain. Gue udah bekas.
Menyesal. Enggak mau ditinggalin. Ngerasa dirugiin, ngerasa hina. Ini untuk tingkat pacaran yang terlalu horor. Lalu pertanyaannya, siapa yang mau disalahin ? kan, kamu menjalaninya dengan kemauan sendiri. Nah, siapa yang menanggung malu kalau bukan diri kamu sendiri juga orang tua ?
♥ When our friends talk about you, all it does is just tear me down ‘Cause my heart breaks a little when I hear your name.
Itu kata Petter (BrunoMars) di lagu ‘when I was your man’. Tiap kali denger nama mantan, ngedrop. Tiap kali ada yang ngomongin doi, lemes. Lho ? Lho ? Kenapa itu ? Ya, karena ada sisa-sisa yang membekas di hati. Di jidat. Di pipi. Di bibir. Di .. di .. di .. aaah .. isi sendiri deh.
Enggak. Gue enggak ngelarang kalian buat pacaran. Toh hidup, hidup kalian. Pilihan, pilihan kalian. Enggak. Gue enggak ngerasa benar. Hanya saja, gue bercerita dengan menyaksikan sendiri apa-apa yang terjadi disekeliling gue. Dan gue juga ngerasain hal tersebut.
Dahulu kala, *memejamkan mata, mengingat masa lalu* waktu gue ada di titik terendah dan dalam keadaan yang rapuh karena sesuatu yang dinamakan ‘cinta’ gue juga nangis berhari-hari, entah apa yang ditangisin. Ngedengar semua lagu, kesannya ituh lirik buat gue. Bawaannya enggak semangat. Kesepian, kangen perhatian. Dan parahnya, runaway. Gue mencari pelarian dengan bergonta-ganti temen jalan. Enggak. Gue masih mampu bertahan dengan batasan yang gue jadiin prinsip.
Hah’ perjalanan cinta gue enggak pernah ada yang mulus. Meskipun gue enggak ngerasa dirugiin, meskipun bibir gue masih tersegel, dan gue masih perawan. Tapi hati ini, entah udah berapa kali ia menumpuk nama-nama yang hanya datang, mampir kemudian pergi. Disinilah, gue ngerasa beruntung. Karena di luar sana, banyak mereka yang senasib sama gue, namun lebih pedih batinnya. Saat itu, rentetan pertanyaan ngebuat gue berpikir “Kenapa lo nangis ? Apa yang lo sesalin ? Lo udah tidur bareng sama dia ? Lo udah di apain aja ? Sekarang gue tanya, apa yang lo tangisin ?”
Apa yang lo tangisin ?
Gue diem sejenak. Mencoba berpikir lebih luas. Berhari-hari, minggu, bulan, bahkan tahun, gue ngabisin waktu buat orang-orang yang sebenarnya enggak layak menyita waktu gue. Apa yang gue tangisin ? gue sendiri enggak tau jawabannya.
Dalam keadaan tersebut, gue pergi ke toko buku. Beruntungnya, membaca adalah bagian dalam kehidupan gue. Di toko buku itu, enggak sengaja gue menemukan sebuah buku tebal berwarna kuning emas, buku itu seolah-olah manggil gue buat membelinya. Ah, mahal banget harganya. Tapi fine, gue beli buku itu. Sebuah buku tebal seharga 105 ribu rupiah, buku berjudul La tahzan. Buku itu gue bawa kemana pun gue pergi, di dalam angkot, di stasiun dan di dalam kamar ketika sedang sendiri. Gue berhenti ngedengarin lagu-lagu mellow yang dulu gue puter tiap hari. Lagu-lagu yang akan dengan sadis membuat gue nangis bombay sampai pagi. Gue mengisi malam-malam gue dengan menyendiri, bercerita, dan menangis sejadi-jadinya. Di hadapan-Nya. Gue mengurangi kebiasaan stalker atau ngacak-ngacak social media sang mantan. Mengurangi bukan berarti berhenti, karena itu enggak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, kebiasaan, dan dengan sendirinya akan berhenti. Gue juga memilih jalan-jalan sendiri sebagai salah satu cara gue untuk move on. Memperhatikan orang-orang yang berjalan seliweran di depan gue, beranggapan ‘apa pantas gue nangis, menyesal, kalau mereka (yang enggak setiap hari ketemu nasi, kesepian tanpa keluarga) masih sanggup tersenyum’ rasanya enggak. Gue menjadikan ‘patah hati’ tersebut sebagai pengalaman paling berharga. Mendewasakan diri. Mendekatkan diri pada sang Maha cinta. Dan menjadikannya pelajaran dalam kehidupan selanjutnya. Bahkan gue berterima kasih dengan keadaan di masa lalu.
Jadi, gue juga pernah ngerasain masa-masa kayak gitu. #senyum.
Nah. Anehnya, banyak juga wanita, beberapa yang cerita langsung ke gue, di masa gue udah lulus sekolah dan bekerja. Salah satu dari mereka bilang “katanya, kalo aku enggak mau ngelakuin (baca:hubungan intim) itu sama dia, itu tandanya aku enggak sayang sama dia, terus dia marah. Makanya aku mau.” Curhatnya dengan linangan air mata yang mengalir. Gue merinding dengarnya. Untuk hal satu ini, gue enggak pernah ingin tahu. Gue cenderung cuek dengan apa-apa yang ada disekeliling gue selama itu menyangkut urusan orang lain. Tapi, mereka .. mereka dengan ikhlasnya membagi kisah tersebut kepada gue. Ya. Gue adalah orang yang senang mendengarkan. Mengenai apapun.
Harus ya ? untuk membuktikan rasa sayang, harus dengan cara tersebut ?
Mendengar hal tersebut, gue dengan mata yang mulai berkaca-kaca menghubungi laki-laki yang telah memutuskan hubungan dengan wanita yang sudah ditidurinya itu, gue maki-maki sejadi-jadinya. Tapi dengar ini “Udah. Udah. Jangan marah-marah sama dia, nanti dia malah enggak mau balikan sama aku.” Oh God ! Wanita itu masih membelanya. Ya. Karena ia sudah kehilangan kehormatannya. Jadi, ia enggak malu buat ngemis-ngemis cinta dari laki-laki brengsek itu. Miris.
Tapi gue dengar, sekarang dia udah nikah dengan orang yang berbeda. Laki-laki yang mau menerimanya. Ya. Sebelumnya, ia move on ke jalan Allah. Bertaubat. Berhijab. Dan Allah pun membalasnya. Semoga ia selalu bahagia. Amin.
Enggak usah malu kalo enggak punya pacar. Enggak usah ngenes kalo malam minggu diam dirumah. Dan yang pacaran, jangan lupa daratan.
Buat gue, wanita itu ibarat berlian di lemari kaca. Enggak sembarang orang bisa megang-megang, terus enggak jadi beli. Enggak. Jangan jadi yang seperti itu, di obral, di pilah-pilih, di cemek-cemek, terus enggak dibeli. Coba liat berlian, banyak yang mengaguminya. Tapi sebatas mengelus lemari kacanya doang. Mupeng. Tapi berliannya tetap terjaga. Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang emang ingin membeli dan berhak memiliki berlian tersebut.
Aseeeeek. Kendorkan otot. Jadi tegang gini .. hhohooh.
Kata ustad Felix di bukunya #UdahPutusinAja wanita dengan masa depan cerah itu penting bagi laki-laki, tapi wanita dengan masa lalu tanpa noda itu jauh lebih penting.
Ya. Dua kalimat sederhana, namun bermakna begitu dalam. Cantik wajah itu penting buat wanita, tapi cantik akhlak akan membawa berkah. Lebih-lebih, luar dalamnya cantik. Eeeuh. Mantap.
Wanita yang sukses dalam karier itu bisa dijadikan idaman buat para lelaki, tapi wanita yang sukses menjaga kehormatan sampai ijab qabul terucap akan menjadi kado terindah bagi laki-laki.
Karena kehormatan adalah harga mati yang hanya bisa dibeli dengan sebuah pernikahan.
Aaaaah. #Senyum manis.
Jadi, katakan. “Ya. Aku masih gadis. Aku masih perawan. Aku masih tersegel.” Jika ada yang bertanya, “Masih gadis-kah kamu ?”
Tapi emang ada ya, yang bakalan nanya kayak gitu ? Aduuuuh Aya .. .. ..
“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, maka ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada para wanita. H.R. Al Bukhari, dari Abu Hurairah) www.muslimedianews.com www.cyberdakwa.com www.piss-ktb.com

Please like & share: